15/07/2014
Bocah misterius
Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung
Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-
mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak
sebayanya, menggoda anak-anak remaja
diatasnya,
dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan. Yah, bagaimana
tidak menyebalkan, anak itu
menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil
tangan kanannya memegang roti isi daging yang
tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya
memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut. Pemandangan
tersebut menjadi hal biasa bila orang-
orang kampung melihatnya bukan pada bulan
puasa!
Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan
puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar
dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja
menggoda orang yang melihatnya. Pemandangan
itu semakin bertambah tidak biasa,
karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah
itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari
biasanya. Luqman mendapat laporan dari orang-
orang kampong
mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang
bocah kecil itu menyodor-nyodor kan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia
mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut.
Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu
kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus
keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan
mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua
orang
yang akan melarangnya. Luqman memutuskan
akan menunggu kehadiran
bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini,
setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara
misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian
lusuh yang
sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul
p**a
dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga! Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu
datang lagi.
Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa
itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain
menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga.
Luqman pun lalu menegurnya.. Cuma,ya itu tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik
hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan
keluar. “Bismillah.. .” ucap Luqman dengan
kembali
mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan
mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah
jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud
semua ini. Kalau memang bocah itu “bocah
beneran” pun, ia juga akan cari keterangan, siapa
dan dari mana sesungguhnya bocah itu. Mendengar
ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun
menyentak tanggannya, menyeret dengan halus
bocah itu, dan membawanya ke rumah. Gerakan
Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya
dari orang-orang yang melihatnya. “Ada apa Tuan
melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini
kepunyaan saya?” tanya bocah itu sesampainya di
rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman
akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya
masih lekat menatap tajam pada Luqman. “Maaf
ya, itu karena kamu melakukannya di bulan puasa,” jawab Luqman dengan halus,”apalagi
kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga
berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan
haus, tapi malah menggoda orang dengan
tingkahmu
itu..” Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-
unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak
bocah
itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap
Luqman lebih tajam lagi. “Itu kan yang kalian
lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering
melakukan
hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu
mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup
dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar
bulan puasa? Bukankah kalian yang lebih sering
melupakan kami
yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-
banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang
sedang menangis? Bukankah kalian yang selalu
berobat mahal bila
sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian
mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga
kematian menjemput ajal..?! Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran
waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan
haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan
maghrib
terdengar, kalian kembali pada kerakusan
kalian…!?” Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi
kesempatan pada Luqman untuk menyela. Tiba-tiba
suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia
berkata begitu tegas dan terdengar “sangat”
menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba.
“Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya
bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan
yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya
berpuasa sepanjang siang saja. Dan ketahuilah juga,
justru Tuan dan orang-orang di
sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu
kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan ‘Idul
Fithri? Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan
dalam
mempersiapkan makanan yang luar biasa
bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian
menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan
dan ‘Idul Fithri? Tuan.., sebelas bulan kalian semua
tertawa di saat
kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun
hanya ada kepedulian yang seadanya p**a. Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah
yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa
terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa
yang
telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga
terhadap orang-orang kecil seperti kami…! Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta?
Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta
secara berlebih? Tuan.., sadarkah apa yang terjadi
bila Tuan dan orang-
orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan
melupakan kami yang semestinya diingat? Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di
sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan
harta,
tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah Tuan
akan
adanya azab Tuhan yang akan menimpa? Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih
menginjak bumi. Tuan…, jangan merasa perut kan
tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan
‘tuk setahun, jangan pernah merasa matahari
tidak
akan pernah menyatu dengan bumi kelak….” Wuahh…, entahlah apa yang ada di kepala dan hati
Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari
mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan
hebatnya, semua yang disampaikan bocah
tersebut adalah benar adanya! Hal ini menambah
keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan. Setelah berkata
pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu
saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya
terbengong-beng ong. Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang
bak ditelan bumi. Begitu sadar, Luqman berlari
mengejar ke luar rumah
hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia
edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa
dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu. Di tengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya
semua orang di ujung jalan, tapi semuanya
menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang
menunggu penasaran didepan rumahnya pun
mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah
Luqman! Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia
malah menghilang! Luqman tidak mau main-main.
Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil
sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi
irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini
bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi.
Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga,
betapa kita sering melupakan orang yang
seharusnya
kita ingat.. Yaitu mereka yang tidak berpakaian,
mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak. Bocah tadi juga
memberikan Luqman pelajaran
bahwa seharusnya mereka yang sedang berada
diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah,
jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang
bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan. Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan
terjadi bila kita terus menjejali tontonan
kemewahan,
sementara yang melihatnya sedang membungkuk
menahan lapar. Luqman berterima kasih kepada
Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman
tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati
mata
hatinya. Sekarang yang ada dipikirannya sekarang ,
entah
mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama
bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran
bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya,
kepada sebanyak-banyak nya orang. Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi
siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati.
Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir.
Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya,
selama-lamanya. Luqman rindu kalimat- kalimat pedas dan tudingan-tuding an yang memang betul adanya.
Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada
seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika
ia salah. Selamat menjalankan ibadah puasa…