Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Palu

Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Palu Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Palu, School, Jalan Soekarno Hatta, Palu.

Mungkin ada yang minat.silahkan d baca
24/05/2016

Mungkin ada yang minat.silahkan d baca

Lowongan Kerja Non CPNS - Tenaga Penyuluh Perikanan Bantu Manajemen Usaha - Kementerian Kelautan dan Perikanan Dinda Fajarwati 21.51 cpns , Non CPNS Edit Lowongan Kerja Kementerian KKP - naumira.com - Kementerian Kelautan, dan Perikanan (disingkat KKP) adalah kementerian dalam Pemerintah Indonesia y...

Siapa tau bermanfaat.
11/12/2015

Siapa tau bermanfaat.

LOWONGANKERJA15.COM - Lowongan Pekerjaan Kementerian Kelautan dan Perikanan Merupakan sebuah kementerian yang ada di pemerintahan indonesia dengan memberikan pelayanan terhadap pengembangan dan kebijakan dibidang kelautan dan perikanan diseluruh wilayah indonesia. Negara indonesia merupakan wilayah…

Teman2 ada yg minat? Silahken diliat linknya
04/09/2015

Teman2 ada yg minat? Silahken diliat linknya

LOWONGAN KERJA NON CPNS 2015 - Lowongan Kerja Terbaru tenaga pendukung Kementerian Kelautan dan Perikanan ( KKP) merupakan kementerian yang bertugas dalam membidangi urusan perikanan dan kelautan nasional di indonesia. KKP melasaknakan perumusan, kebijakan dan menyelenggarakan tugas dalam membantu p…

05/06/2014

Mahasiswa ITB Bikin Robot Ikan
______________________________


BANDUNG |— Sekelompok mahasiswa Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung angkatan 2010 membuat robot berbentuk ikan. Bernama Fista, robot itu berguna untuk mencari data-data kondisi air, seperti di tambak ikan dan kolam yang tercemar. Teknologinya akan terus dikembangkan agar sanggup "berenang" di sungai hingga lautan.

Robot Fista buatan Sainan, La Ode Arudani dan Farras Majid berbahan plastik ABS. Bobotnya 2,5 kilogram dengan panjang 55 sentimeter serta lebar hingga bentangan sirip 19 sentimeter. Berbiaya pembuatan Rp 5 juta, robot bisa dikendalikan atau bergerak sendiri. "Yang paling susah itu membuat desain badan robot, lama pembuatan selama enam bulan," kata Arudani kepada Tempo hari ini, saat pameran karya tugas akhir di acara Electrical Engineering Days di Aula Barat ITB yang digelar 3-6 Juni 2014.

Robot itu dilengkapi tiga buah servo anti air di bagian ekor untuk bergerak maju dan berbelok. Di bagian sirip ikan, ada motor penggerak yang berfungsi untuk naik dan turun robot di dalam air. Bertenaga baterai dari power bank, Fista sanggup berenang selama satu jam lebih.

Pada bagian moncongnya, dibenamkan berbagai sensor dan kamera kecil ukuran 5 megapiksel. Kamera itu untuk merekam kondisi air secara visual. Agar tidak menabrak benda di depannya serta untuk navigasi, robot ikan yang buta itu mengandalkan sensor jarak inframerah. Mereka juga memasang sensor tekanan air, pengukur pH atau tingkat keasamaan air dan suhu air. "Fista sudah diuji coba untuk mengambil data parameter pencemaran air seperti warna, keasamaan, suhu, dan data posisi dengan GPS (global positioning system)," kata Arudani.

Seluruh data yang terkumpul itu diolah mikroprosesor dan disimpan dalam kartu memori. Perangkat itu berada di bagian tubuh ikan yang kedap air. Setelah diangkat dari air, data bisa dikirim ke komputer pengguna secara nirkable lewat jaringan WiFi. Namun, pemakai robot belum bisa mengendalikan Fista dari handphone dan melihat langsung hasil pembacaan sensornya.

Kelemahan lainnya, kata Arundani, robot ikan mereka sejauh ini baru bisa dilepas pada kolam berair jernih. "Karena sensor jaraknya masih terbatas, baru bisa sejauh 20 sentimeter," katanya. Untuk pengembangan selanjutnya, robot itu perlu memakai sensor jarak yang bisa bekerja di air keruh dan dipasangi antena agar pengguna bisa mengendalikan Fista dari jarak jauh.

TEMPO

Pengetahuan ringan tetapi sangat bermanfaat untuk membangun "Pendidikan Karakter" dan "Etika" Mahasiswa.
17/05/2014

Pengetahuan ringan tetapi sangat bermanfaat untuk membangun "Pendidikan Karakter" dan "Etika" Mahasiswa.

halooo, mahasiswaku yang budiman, dan budiwoman :D apakah kalian pernah mengirim sms pada dosen dan tidak dibalas? sudah saatnya, anda saya beritahu, mengapa

15/05/2014

Selamat pagi...! Ass. Alaikum WW. Ketua Panitia Penerimaan Mhasiswa Baru, mohon info pendaftaran mahasiswa baru STPL TA 2014/2015 dishare disini.

SEBUAH RENUNGAN DARI SANG GURU BESAR BUDAYA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI PARA PENDIDIK DI INDONESIADitulis oleh: Prof. Rhena...
20/04/2014

SEBUAH RENUNGAN DARI SANG GURU BESAR
BUDAYA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI PARA PENDIDIK DI INDONESIA
Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa...Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.
Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.
Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.
Dia pun tersenyum.
BUDAYA MENGHUKUM
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.
Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
***
Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.
Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.
Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”
Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.
Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
MELAHIRKAN KEHEBATAN
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.
Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.
Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.
Copas dari Copasan

19/01/2014

Siapa berminat???

Info lebih lanjut : E-mail : [email protected] Fb/Twitter : OR Directorate of Fish Resource Directorate General of Capture Fisheries Ministry of Marine Affairs and Fisheries Gd. Mina Bahari II, Lt. 10 Jl. Medan Merdeka Timur No. 16 Jakarta, Indonesia Phone/Fax : +6221-3453008

27/10/2013

Address

Jalan Soekarno Hatta
Palu
94000

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Palu posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category