Cahaya hari ke 10 Ramadhan
*Kisah Tukang Becak, Yang Merasa Dilayani Masjid Jogokariyan Dengan Baik, Bikin Ketua DKM Menangis Haru*
“Ustadz, saya mau sedekah untuk masjid,” kata tukang becak itu sambil menyerahkan enam lembar uang kertas warna biru bergambar I Gusti Ngurah Rai.
“Kok banyak, Pak?” Sang Ustadz tahu, uang Rp 300.000 cukup banyak untuk seorang tukang becak.
“Ini uang BLT yang baru saya terima Ustadz,” jawab tukang becak, membuat mata Sang Ustadz berkaca-kaca.
“Sudah lama saya ingin menyumbang masjid ini Pak. Saya tiap hari mengayuh becak di daerah sini. Cukup jauh dari rumah. Saya sangat memerlukan masjid untuk ganti baju, mandi dan sebagainya.
Awalnya saya pernah ke masjid lain untuk mandi, tapi kemudian saya dimarahi. ‘Masjid ini bukan tempat mandi!'
Lalu saya datang ke masjid ini karena dengar dari teman, Masjid Jogokariyan sangat ramah untuk siapa saja. Dan saya membuktikannya.
Saya mandi pagi dan siang hari tidak ada yang memarahi.
Bahkan dipersilakan jika butuh sesuatu. Saya jadi s**a dengan masjid dan s**a sholat jamaah, Ustadz. Sejak saat itu saya sangat ingin bersedekah untuk masjid ini jika punya uang. Dan alhamdulillah sekarang saya dapat BLT.
Sang Ustadz tak kuasa menahan tangis karena haru.
Dari kisah infaq/sedekah tukang becak ini, DKM atau Takmir Masjid perlu mengambil ibrah. Bahwa semestinya masjid itu melayani umat dan menjadi solusi.
Dan ketika pelayanan masjid dirasakan oleh umat, mereka merasa memiliki, dan dengan ikhlas bersedekah kepada sesuatu yang mereka cintai.
Ustadz Muhammad Jazir, Ketua DKM Masjid Jogokariyan yang menjadi saksi ketulusan tukang becak itu mengungkapkan,
pada tahun 1999, infak/sedekah di Masjid Jogokariyan hanya mencapai Rp 8.640.000 setahun.
Setelah pelayanannya diperbaiki, sedekah meningkat menjadi Rp 43 juta setahun pada tahun 2000-an.
Meningkat terus pada kurun 2006-2008 menjadi Rp 225 juta per tahun. Lalu Rp 354 juta pada 2010.
Dan kini, untuk sedekah buka puasa saja mencapai milyaran rupiah.
Kedua, kita semua juga bisa mengambil ibrah dari tukang becak. Yang sangat ingin bersedekah. Ia menunggu-nunggu kapan punya uang untuk bersedekah.
Dan saat menerima BLT, ia menginfakkan semuanya.
Bisa jadi, tukang becak itu telah melampaui kebajikan kita karena ia menginfakkan uang yang sebenarnya sangat ia butuhkan.
Uang yang sebenarnya sangat ia s**ai ketika mendapatkannya.
Kisah sedekah seperti ini hendaknya menguatkan kembali semangat kita untuk bersedekah.
Rumah Tahfidz Pangeran Abdul Wahab
Di bangun nya rumah tahfidz ini guna menjadi wadah bagi anak2 untuk bisa memahami,mengamal kan dan menghapal kan,isi kandungan al quran.
Rumah tahfidz ini terletak di desa tambang rambang.kab.ogan ilir.provinsi sumatera selatan.
10/04/2021
Pengukuran dan pemetaan rencana pembangunan Rumah Tahfidz Pangeran Abdul Wahab.
10/04/2021
Panitia kegiatan alquran camp.jilid 1
10/04/2021
Desain baju santri akhwat rumah tahfidz pangeran abdul wahab
Yel yel santri2 Rtpaw.dalam kegiatan hiking alquran camp
10/04/2021
Kegiatan al quran camp yg di hadiri bapak ketua pembinaan rumah tahfidz ogan ilir.
02/04/2021
Kegiatan hari ini.
Persiapan untuk al quran camp yang insha allah akan dilaksanakan pada Tgl 3 dan 4 april.
Kegiatan jalan santai santri rumah tahfidz pangeran abdul wahab
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Website
Address
Palembang
30121