03/09/2021
Biografi Imam An-Nawawi
=====================
(Bag. 1)
Beliau dijuluki Al-Imam, Al-Hafizh, Al-Auhad (yang tiada bandingannya pada zamannya), Al-Qudwah (panutan ummat), Syaikhul Islam, 'Alamul Aulia (pemuka para wali).
Nama lengkapnya adalah Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Murri Al-Hizami Al-Haurani Asy-Syafi'i, penulis berbagai kitab yang penuh manfaat.
Kelahiran
~~~~~~
Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H. Beliau datang ke Damaskus pada tahun 649 H, dalam usia 18 tahun. Tinggal di Rawahiyah dan sehari-harinya makan roti dari sekolah. An-Nawawi menghapalkan kitab At-Tanbih selama empat setengah bulan, dan menyetorkan seperempat kitab Al-Muhadzdzab yang dia hapal pada bulan berikutnya kepada gurunya, Al-Kamal Ishaq bin Ahmad. Setelah itu beliau menunaikan haji bersama ayahnya, dan tinggal di madinah selama satu setengah bulan. Beliau menderita sakit selama dalam perjalanan.
Abu Al-Hasan bin Al-Aththar menyebutkan bahwa Imam An-Nawawi memceritakan kepadanya bahwa setiap hari beliau mengkaji dua belas mata pelajaran, baik yang bersifat syarh maupun koreksi. Dua pelajaran dari kitab Al-Wasith, lalu masing-masing satu pelajaran untuk kitab Al-Muhadzdzab, kitab Al-Jam'u Baina Ash-Shahihain, kitab Shahih Muslim, kitab Al-Luma' tulisan Ibnu Jinni, kitab Ishlah Al-Manthiq, Ilmu Tashrif (morfologi bahasa arab), Ushul Fiqih, nama-nama perawi hadits, dan Ushuluddin. Imam An-Nawawi mengatakan, "Aku memberikan catatan untuk semua yang berhubungan dengan pelajaran tersebut, baik yang berupa penjelasan kata-kata sulit, penjelasan dari sebuah ungkapan, dan koreksi terhadap bahasa. Semoga Allah memberkahi waktu-waktuku. Aku sempat tertarik untuk belajar ilmu kedokteran, maka aku membeli kitab Al-Qanun (karangan Ibnu Sina), tetapi hatiku menjadi gelap. Selama beberapa hari aku tidak dapat melakukan aktivitas apapun. Akhirnya aku tersadar, lalu kujual kitab Al-Qanun milikku, dan hatiku kembali terang setelahnya."
Beliau belajar hadits pada Ar-Ridha bin Burhan, kemudian gurunya para guru, Abdul Aziz bin Muhammad Al-Anshari, Zainuddin bin Abdu Ad-Daim, Imaduddin Abdul Karim bin Al-Hasratani, Zainuddin Khalid bin Yusuf, Taqiyuddin bin Abi Al-Yusr, Jamaluddin Ibnu Ash-Shairafi, Syamsuddin bin Abu Umar, dan tokoh-tokoh segenerasi lainnya.
Beliau pernah mengkaji Al-Kutub As-Sittah, Al-Musnad, Al-Muwaththa', Syarh As-Sunnah karangan Al-Baghawi, Sunan Daruquthni, dan kitab-kitab lainnya. Beliau juga belajar kitab Al-Kamal karangan Abdul Ghani kepada Az-Zain Khalid, dan syarah hadits Bukhari-Muslim kepada ahli hadits, Abu Ishaq Ibrahim bin Isa Al-Muradi.
Beliau mengaji ushul fiqih kepada Al-Qadhi At-Taflisi dan mengaji fiqih kepada Al-Kamal Ishaq bin Al-Maghribi, Syamsudin Abdurrahman bin Nuh, Izzuddin Umar bin Sa'd Al-Irbili, dan Al-Kamal Sallar Al-Irbili. Selain itu, beliau pernah mengaji ilmu nahwu kepada Syaikh Ahmad Al-Mishri, dan ulama lainnya. Beliau juga pernah belajar kepada Ibnu Malik dengan materi salah satu buku karyanya.
Beliau selalu beraktivitas, menulis, menyebarkan ilmu, beribadah, membaca wirid, dzikir, serta bersabar terhadap kehidupan yang tidak menyenangkan dalam hal makanan dan pakaian. Beliau menetapi semua itu, pakaiannya terbuat dari kain tenunan, sedangkan sorbannya terbuat dari kain kecil dari negeri Syabakhtan.
Bersambung...