09/04/2017
Belajar tdk ada abis2 nya ya...
Empat alasan mengapa kita sebagai orangtua tetap harus belajar, terutama tentang seputar pengasuhan anak atau parenting. Ini dia alasannya:
1. Karena belajar adalah perintah Allah
Pasti sudah tahu ya tentang perintah pertama yang Allah berikan pada Muhammad dan umatnya? Yup, perintahnya adalah, "Iqro! Bacalah!". Membaca di sini tentu erat kaitannya dengan belajar.
Maka, bagi umat Islam, belajar adalah sebuah keniscayaan, sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Berhenti belajar berarti berhenti menjadi orang baik. Lho, apa hubungannya? Karena, orang yang berhenti belajar berarti orang tersebut sudah menjadi orang yang sombong dan takabur. Duh, naudzubillahimindzalik..
2. Karena zaman sudah berubah
Coba ingat-ingat lagi kondisi pertelevisian di tahun 90-an. Apakah konten di televisi relatif aman ditonton anak? Saya rasa iya. Lalu ingat-ingat lagi, apakah dulu kita sudah sibuk foto-foto makanan, selfie dan lain-lain kemudian mengunggahnya di Facebook, Instagram, Twitter dan banyak lagi? Rasanya nggak ya?
Hari ini, anak-anak kita sudah kebanjiran informasi. Informasi datang bak air bah dari kanan, kiri, depan, belakang, atas dan bawah! Dari televisi, gadget, teman-teman dan banyak lagi. Belum lagi, anak-anak zaman sekarang jauh lebih cepat belajar daripada waktu kita kecil dulu. Jadi, bagaimana mengatasinya?
Solusi paling jitu untuk menghadapi masalah ini adalah menjadi orangtua yang adaptif. Lebih tepatnya, orangtua yang mau terus belajar agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Jangan sampai ah ketinggalan dari anak. Anak sudah lihai main Youtube, eh orangtuanya malah belum pernah dengar tentang ini. Hmm..
3. Agar orangtua tidak tersesat
Ada seorang nenek yang sudah sangat sepuh. Katakanlah usianya sudah mendekati 80 tahun. Setiap hari, si nenek berkeliling kota untuk mengemis dari satu lampu merah ke lampu merah yang lain. Lalu, ada seorang bapak yang penasaran dan bertanya, "Bu, kenapa nggak istirahat saja di rumah? Biar anak ibu saja yang bekerja..". Dan dijawab oleh si nenek, "Kasian anak saya, Pak. Sudah setahun di-PHK, sampai sekarang belum dapat kerja lagi, jadi terpaksa saya yang cari uang."
Pernah dengar cerita seperti ini? Subhanallah, di umurnya yang sudah sepuh, nenek itu masih harus mencari uang untuk menghidupi anaknya! :(
Sedihnya, ini adalah contoh orangtua yang membayar di akhir. Lalu, orangtua yang membayar di awal itu seperti apa? Mereka lah orangtua yang mengajarkan kedisiplinan dan kemandirian pada anak-anaknya sejak dini. Menjelang dewasa, anak-anak diberi ultimatum bahwa mereka hanya berhak hidup di dalam rumah sampai usia 25 tahun (untuk laki-laki) atau sampai mereka menikah (untuk perempuan), setelah itu, mereka wajib meninggalkan rumah.
Dengan ultimatum ini, anak akan berpikir bagaimana cara bertahan hidup dan bisa keluar dari rumah sebelum batas waktu yang ditentukan. Mereka tidak akan terus bergantung dengan orangtua seperti anak si nenek pada cerita di atas. Naudzubillahimindzalik..
4. Agar menjadi orangtua yang bahagia
Psst, tahu nggak salah satu rahasia terbesar saya? Sampai setahun yang lalu, saya adalah anak yang benci dengan hari merah! Benci sekali! Apalagi kalau sudah mendekati Lebaran dan ada cuti bersama. Waah, horor!
Kok,, gitu? Yup, karena saya malas pulang ke rumah. Saya malas bertemu dengan orangtua saya. Ini saya rasakan dari sejak SD hingga tahun lalu. Iyaa.. Awalnya saya pikir, saya anak kualat. Tapi, setelah mengikuti PSPA, saya jadi tau penyebabnya.
Tulisan selengkapnya cek http://www.ibujerapah.com/2016/12/ini-dia-4-alasan-mengapa-orangtua-harus.html