08/12/2012
Sebagai sekolah seni rupa tertua di Indonesia, SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) Yogyakarta telah meluluskan banyak orang. Tak sedikit alumni SMSR Yogyakarta kini menyandang nama besar di jagad seni rupa tanah air, bahkan berkelas internasional.
Menyebut beberapa, kita akan dengan mudah mengenali dramawan kondang Adi Kurdi, raja monolog Butet Kertaradjasa, pelukis hebat Dede Ery Supria dan Nasirun, hingga almarhum Heru Kesawa Murti yang terkenal sebagai Pak Bina dalam serial mBangun Desa di TVRI Yogyakarta. Bahkan Gogon Srimulat pun ternyata jebolan SMSR Yogyakarta.
“Tapi biasanya, nama SMSR kemudian tenggelam. Tak pernah disebut. Bukan karena para alumni itu melupakan, tapi biasanya mereka atau orang-orang lebih mengingat tempat terakhir mereka belajar. Seperti, lulusan ISI, dan sebagainya. Bukan berarti p**a kami menyesali. BIasa saja,” tutur Muryadi.
Selain menjadi individu-individu yang memiliki nama besar, banyak juga lulusan SMSR Yogyakarta yang kini bekerja di perusahaan-perusahaan besar p**a. “Sebagai tenaga professional, para lulusan SMSR saat ini banyak tersebar di perusahaan batik, percetakan, desain interior, biro iklan, pabrik tekstil, dan lain-lain,” ungkap Muryadi bangga.
Bahkan di Peruri (Percetakan Uang Republik Indonesia) Jakarta, hamper 60 persen karyawannya merupakan lulusan SMSR Yogyakarta. “Drawing alumnus SMSR Yogyakarta itu dikenal kuat sehingga Peruri selalu merekrut pekerja dari sini,” timpal guru lukis sekaligus kepala studio SMSR Yogyakarta, Drs Riyanto Riswandoko, tanpa bermaksud menyombongkan diri.
Banyaknya alumni SMSR Yogyakarta di Peruri itu p**a yang membuat perusahaan milik Negara itu selalu mengutamakan SMSR Yogyakarta ketika hendak merekrut pegawai. “Pertama, pihak Peruri pasti datang ke sini. Jika tercukupi, ya sudah. Namun, jika jumlah calon pegawainya belum mencukupi, baru kemudian mereka mencari di SMSR lain,” ujar Kepala TU SMSR Yogyakarta, Jumarno.
Jalinan antara alumni dengan bekas sekolahnya itu yang sedikit banyak meringankan langkah SMSR Yogyakarta mencetak lulusan yang berkualitas, professional, dan kompeten di bidangnya. “Paling tidak, kami tak merasa kesulitan ketika harus mengirim siswa-siswi untuk magang. Selama ini kami sudah banyak menjalin kerjasama dengan para mitra. Meski harus diakui, beberapa di antaranya melibatkan alumni,” papar Muryadi kemudian.