Alumni Mis Nu Palangka Raya

Alumni Mis Nu Palangka Raya Menyambung Tali Silaturahmi antar alumni dan para dewan guru, dan pengurus yayasan

10/08/2022

Semoga keberkahan menyertai kita.
Tidak ada jabatan yang kekal, yang harus dipertahankan.

Wajan anti lengket
Klik ๐Ÿ‘‡
https://shope.ee/6zhd9mdqHh

SAYA BUKAN FANATIK NU, SAYA LOYAL DENGAN NU DAN BUTUH NU***  Munifah ****Ada seorang kawan lama yang entah sudah kebanya...
05/01/2021

SAYA BUKAN FANATIK NU, SAYA LOYAL DENGAN NU DAN BUTUH NU

*** Munifah ****

Ada seorang kawan lama yang entah sudah kebanyakan makan hoax atau kebakaran jenggot dengan status facebookku, tiba2 menyuruhku untuk tidak fanatik terhadap NU. Respon pertamaku tentu saja kaget. Bagaimana tidak, ternyata gerakan pembus**an terhadap NU sudah sejauh ini.

Agak heran, karena yg berkata seperti itu adalah teman yg dulunya pernah sekolah di lingkungan pesantren. Meskipun bukan santri tp karena sekolah di lingkungan pesantren setidaknya tau kultur dan pemikiran santri. Santri itu sangat loyal terhadap kiai2nya terhadap ulama2nya. Bagaima bisa saya disuruh meninggalkan NU sedangkan NU adalah wadahnya para ulama. Di zaman akhir yg penuh fitnah ini siapa lagi yg pantas kita ikuti kalo bukan Ulama, sedangkan Nabi sudah tidak ada lagi? Ya ulama, karena ulama adalah pewaris para nabi.

Mengenai gerakan pembus**an terhadap NU ini sebenarnya pernah saya baca sudah lama sekali, tergetnya 2025 sudah gak ada lagi NU di Indonesia. Karena untuk menguasai Indonesia hancurkan dulu NU nya, begitulah kura-kura. Tapi insyaAllah NU akan selalu di jaga oleh Allah, Ya Jabbaar Ya Qohhaar.

Karena jare Gus Wafiq "wong NU niku angel dibujuki e. Dikasih isu China PKI ora mempan, dikasih isu Sunni-Syiah ora doyan, diajak kembali ke Al-Qur'an dan Sunnah wis makanan sehari-harie. Wong NU niku manute ambek Kiai lan Ulama ne tok. Nek umpama kyaine ngokon perang yo budal perang tenanan. Tp langkah politik NU niku penuh perhitungan makane bagi sing gak ngerti akeh sing ngarani liberal yo bene wae, jenenge wae wong ora ngerti NU."

Yg gak ngerti jawa, artinya: "orang NU itu susah di pengaruhinnya. Dikasih isu China PKI gak mempan, dikasih isu Sunni-Syiah gak doyan, diajak kembali ke Qur'an dan Hadits sudah makanan sehari-harinya. Orang NU itu nurutnya sama Kyai dan Ulama saja. Seandainya Kyai dan ulamanya nyuruh perang, ya pada berangkat perang beneran. Tapi langkah politik NU itu penuh perhitungan yg matang, makannya bagi yg tidak mengerti NU, banyak yg mengatakan liberal, ya biarin aja, namanya juga orang gak ngerti NU."

Jadi kesimp**annya, saya itu tidak fanatik NU kawan, tapi saya butuh NU, kita semua butuh NU......

Mudahan diberi paham
25/08/2020

Mudahan diberi paham

Belajar Agama Dari Internet?Oleh: Ahmad Sarwat, Lc.,MABanyak sekali kalangan yang menyalahkan kalau ada yang mau belajar...
05/07/2020

Belajar Agama Dari Internet?
Oleh: Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Banyak sekali kalangan yang menyalahkan kalau ada yang mau belajar agama dari internet. Kenapa kok tidak boleh dan mengapa dilarang? Bukankah internet itu juga bisa berfungsi sebagai media pembelajaran yang efektif, murah, cepat dan praktis?

Jadi begini duduk masalahnya. Di internet itu informasi dengan spesifikasi apa saja bebas berkeliaran. Ada yang sangat valid karena sumbernya memang dari kalangan yang punya kapasitas dan otoritas.

Tapi ketimbang sumber-sumber yang valid dan bisa dipertanggung-jawabkan, kebanyakan memang yang keliru, salah, tidak valid.

Masalahnya kita masyarakat awam malah lebih sering terjebak ke sumber-sumber yang tidak valid itu.

Awalnya 20-an tahun yang lalu ketika belum lagi ada media sosial, sumber informasi di internet masih amat terbatas. Kita tidak akan membaca sebuah berita, kecuali hanya yang dirilis oleh kantor berita ternama yang punya nama, kualifikasi serta kapasitas sebagai bagian dari dunia jurnalistik.

Kantor-kantor berita itu resmi berdiri, punya izin dan juga punya profesionalitas dalam bekerja. Bahkan juga bisa disomasi atau dituntut redaksinya, kalau memang telah melanggar kode etik jurnalistik. Pendeknya semua bertanggung-jawab dan jelas alurnya.

Namun begitu masuk ke zaman media sosial sekarang ini, semua aturan tadi berubah 180 derajat.

Orang sudah tidak lagi membaca berita dari sebuah kantor berita yang profesional. Siapa saja bisa dengan mudah menulis berita, meski hanya berupa hasil mengarang bebas yang isinya melulu provokasi, agitasi bahkan juga ilusi.

Parahnya, yang membaca pun tidak bisa membedakan mana sumber yang bisa dipercaya dan mana sumber yang abal-abal, penuh sensasi dan hoaks stadium parah berat.

Sumber pertama yang sudah bermasalah ini kemudian menshare (istilah kerennya: memviralkan) konten yang tidak benar kepada 1000 temannya, lalu masing-masing teman itu menyebarkan kepada 1000 lagi teman yang berbeda, sehingga hanya dalam waktu beberapa menit, ada jutaan orang yang terpapar konten tidak benar.

Ilmu-ilmu Keislaman Terpapar Hoaks

Ketika virus hoaks dalam pemberitaan sudah sampai level yang teramat parah, kita juga bisa membayangkan bagaimana kejadian yang sama juga dialami dalam penyebaran informasi terkait ilmu-ilmu keislaman.

Rekaman ceramah di Youtube lebih banyak berisi narasumber yang tidak kompeten, bukan ahlinya, tidak paham ilmunya, tidak mengerti duduk masalah.

Artis dan penyanyi yang baru saja insyaf kemarin sore, tidak jelas latar belakang ilmu agamanya, tiba-tiba ceramahnya viral sejagat.

Preman, rampok, tukang peres, tukang tipu dan mafia juga ikutan pada ikut trend insyaf, lho kok tiba-tiba juga jadi ustadz ceramah agama dan videonya viral sejagad.

Motivator yang lagi pada krisis orderan job pun juga latah ikut-ikutan pada beralih nongol di Youtube bicara tentang Islam hasil rekayasa dan ilusi, videonya viral sejagad.

Para mantan aktifis yang terlanjur jadi makelar demo pengerahan masa, yang juga pada kekurangan proyek demo, akhirnya bikin video viral ngutap-ngutip ayat, videonya viral sejagad.

Dan yang unik serta licik, muallaf yang plonga-plongo gak ngerti bahasa Arab, gak pernah belajar fiqih dan syariah, tiba-tiba ceramah dan viral teriak-teriak tentang syariah Islam. Padahal kita tidak yakin apakah dia tahu caranya mandi janabah. Videonya viral sejagad jadi ustadz.

Dulu setiap nonton TV ada Mamah Dedeh, saya ngebet banget ingin mencatat keselo lidah Beliau, khususnya yang terkait dengan hukum-hukum terkait syariah dan fiqih.

Tapi sekarang, ceramah Mamah Dedeh itu di mata saya sama sekali belum ada apa-apanya dibandingkan berbagai penyimpangan materi ceramah yang membanjiri dunia maya kita.

Mamah Dedeh dengan tawanya yang khas itu masih mending, Beliau ustadzah yang sudah lama jadi guru, kuliah di UIN entah fakultas apa. Dan meski tidak sampai jadi doktor dalam satu cabang ilmu keislaman, tapi lumayan lurus.

Sedangkan para badut, pelawak, artis, motivator dan muallaf kesiangan itu parah banget kasusnya. Sudah ilmunya keliru, ditambah keinsyafan mereka jatuh di tangan tokoh-tokoh yang salah, mereka pun gemar tebar tekanan dan provokasi menyalah-nyalahkan semua orang, wa bil khusus para ulama.

Sayangnya mereka tidak mau berhenti ceramah, sebab semua itu ternyata dimonetize dan jadi duit. Lalu umat Islam yang awam agama tapi doyan nonton artis, kebetulan dapat tontonan macam itu, lengkap lah sudah proses menyimpangkan ilmu-ilmu keislaman.

Sementara para ulama betulan yang ilmunya setinggi langit, nampaknya jarang-jarang turun gunung merilis rekaman ceramah atau tulisan. Saya tidak tahu apakah mereka tidak lihat bagaimana ilmu-ilmu agama Islam 'dilecehkan' di media sosial? Ataukah mereka tidak punya informasi semacam itu?

Atau mungkin tahu, tapi tidak tahu bagaimana cara mengantisipasinya. Tidak punya tim yang siap memback-up positngan video atau tulisan mereka, mungkin itu salah satu alasannya.

Almarhum Prof. Ali Musthafa Ya'qub pernah marah-marah di kelas sambil menggebrak meja, "Makanya jangan belajar agama sama Mbah Gugel".

Saya diam saja saat itu karena kaget, sudah separah itukah isi internet kita. Tadinya saya pikir, saya sudah banyak menebar ilmu di internet, tiap hari menulis sebagaimana perintah Beliau : Jangan mati kecuali sudah jadi penulis.

Namun saya dan teman-teman sesama murid beliau jelas kalah jumlah, kalah populer sekaligus kalah ganteng. Sehingga kalau pun orang cari informasi terkait tema yang kami tulis, yang nongol di Gugel memang banyak yang KW, palsu, keliru dan sampah busuk.

Jadi akhirnya keluar statemen sesuai judul di atas : Jangan belajar agama dari internet. Tapi masih ada tambahannnya : kecuali dari sumber-sumber yang valid dan terpercaya serta punya otoritas dan kapasitas.

(๐Ÿ“ท Website rujukan belajar Islam Moderat Ahlussunnah wal-Jama'ah an-Nahdliyyah)

HUJJAH TERBAIK BILA BERHADAPAN DENGAN WAHHABI----- Oleh : Samsuri Husein ----ASWAJA : Tuan madzhab mu apa?Wahhabi : Kami...
05/06/2020

HUJJAH TERBAIK BILA BERHADAPAN DENGAN WAHHABI

----- Oleh : Samsuri Husein ----

ASWAJA : Tuan madzhab mu apa?

Wahhabi : Kami ikut Al-Quran dan As-Sunnah.

ASWAJA : Ikut Al-Quran dan As-Sunnah ikut kepemahaman siapa?

Wahhabi : Kepemahaman Ulamaโ€™ salaf

ASWAJA : Ulamaโ€™ Salaf yang mana?

Wahhabi : Salaf yang hidup 300 tahun hijrah yang pertama.

ASWAJA : Jadi Tuan hidup pada zaman salaf?

Wahhabi : Tidak, kami ikut ulama yg ikut salaf.

ASWAJA : Jadi darimana datangnya pemahaman salaf yang tuan ikuti sedangkan tuan tidak hidup pada zaman salaf dan tuan menolak mayoritas ulamaโ€™ khalaf yang meneruskan kesinambungan ilmu salaf secara bersambung (muttasil) di dalam memahami Al-Quran dan As-Sunnah?

Wahhabi : Kami ikut Imam Ibn Taimiyyah, Imam Ibn al-Qayyim Al jauziyah, Sheikh al-Albani, Sheikh bin Baz, Sheikh Shalileh Uthsaimin dan ulama-ulama sunnah.

ASWAJA : Mula-mula kata ikut Al-Quran dan As-Sunnah tak ikut mazhab maksudnya tak ikut ulamaโ€™ sebab madzhab ialah tempat berjalan atau aliran seseorang ulamaโ€™ di dalam memahami Al-Quran dan As-Sunnah.

Bila ditanya rupanya mengaku ikut ulamaโ€™ juga di dalam memahami makna Al-Quran dan As-Sunnah bukan faham direct daripada Al-Quran dan As-Sunnah seperti dakwaan pertama. Kefahaman ulamaโ€™ salaf dakwaan mereka juga bukan diambil direct daripada salaf sebab mereka tak hidup zaman salaf. Jadi mereka ambil pemahaman siapa?

Jawabannya tidak lain tidak bukan ialah daripada Ibn Taimiyyah, Ibn al-Qayyim, Muhammad b Abdul Wahhab, Bin Baz, Uthaimin, Al-Albani dan minoritas tokoh yang ditolak di dalam Islam.

Kemana perginya ribuan para ulamaโ€™ mujtahid Islam yang besar-besar selain ulama pujaan mereka selepas daripada zaman salaf yang mana asbab mereka sampainya ilmu dan kefahaman Al-Quran dan As-Sunnah kepada kita pada hari ini?

Apakah seramai-ramai ulamaโ€™ Islam yang ada hanya Ibn Taimiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab dan beberapa orang tokoh saja yang benar kefahaman agama dan bertepatan dengan sunnah?

Perhatikan tahun kelahiran ulamaโ€™ mereka dan ulamaโ€™ madzhab ikutan kita?

Imam ikutan ASWAJA

Imam Hanafi 80H
Imam Malik 93H
Imam Syafie 150H
Imam Ahmad 164H
Imam Abu Hassan al-Asyaโ€™ari 240H

Imam ikutan Wahhabi

Ibnu Taimiyyah 661H
Muhammad Bin Abdul Wahhab 1115H
Ibn Baz 1330H
Al-Albani 1333H
Utsaimin 1347H

Jika Wahhabi kata โ€œkami ikut Al-Quran dan As-Sunnahโ€ maknanya mereka sedang menipu karena tanpa uraian para ulamaโ€™ bagaimana mau memahami Al-Quran dan As-Sunnah?

Jika Wahhabi kata ikut salaf mereka juga menipu karena Imam 4 adalah salaf. Madzhab mana yang mereka ikut?

Jika mereka berkata kami tak taqlid kepada ulamaโ€™, maka mereka lagi menipu karena mereka mengambil uraian daripada ulama-ulama mereka yang kita nyatakan tadi. Mereka bukan ulama salaf.

Bermazhab itulah sebenarnya mengikut jalan salaf bukan hanya mendakwa mengikut salaf tetapi hakikatnya tokoh-tokoh panutan mereka adalah yang ditolak di dalam sejarah Islam oleh kesepakatan para ulama Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaโ€™ah.

ISLAMA NUSANTARAOleh: Bukhari Muslim S.Th.I M.Th.IKetua Umum Mahasiswa PIN PusatDalam sebuah forum diskusi di arena mukt...
28/05/2020

ISLAMA NUSANTARA

Oleh: Bukhari Muslim S.Th.I M.Th.I
Ketua Umum Mahasiswa PIN Pusat

Dalam sebuah forum diskusi di arena muktamar NU di Jombang, 2015 yang lalu. Kiai Afifuddin Muhajir menjelaskan bahwa โ€œIslam Nusantaraโ€ itu tarkib idhafi. Karena itu, Islam Nusantara memiliki tiga, kemungkinan makna; Pertama Islam Nusantara bermaka Islam yang dipahami dan dipraktekkan kemudian mengintemalisasi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Inilah pengertian Islam Nusantara dengan memperkirakan adanya huruf jar "fi" pada frase Islam Nusantara (Islam fi Nusantara). Kedua dengan memperkirakan huruf jar "ba" di antara kata Islam dan Nusantara, โ€œIslam bi Nusantaraโ€ dengan ini, maka Islam Nusantara menunjuk pada konteks geografis, yaitu Islam yang berada di kawasan Nusantara. Ketiga pengertian Islam Nusantara dengan memperkirakan huruf jar "lam" yang mengantarai kata "Islam" dan "Nusantara". Dengan ini, "Islam" tampak sebagai subjek, sementara "Nusantara" adalah objek. Dengan demikian, Islam Nusantara adalah pengejawantahan ajaran Islam kepada masyarakat Nusantara. Dahulu misalnya, para Wali Songo mendakwahkan ajaran Islam yang ramah dan santun kepada masyarakat Jawa. Nilai-nilai toleransi dan kemanusiaan yang bercorak sufistik itulah yang membentuk corak keislaman yang berkembang di tanah air.

Menurut Gus Mus istilah Islam Nusantara bagi mereka yang tidak pernah ngaji akan geger dan kaget tetapi bagi yang pernah ngaji pasti tahu idhafah (penyandaran) mempunyai beberapa makna, dalam arti mengetahui kata Islam yang disandarkan dengan kata Nusantara. Beliau mencontohkan โ€œair gelasโ€ apakah maknanya airnya gelas, apa air yang di gelas, apakah air dari gelas, apa gelas dari air. Bagi santri di pesantren sudah diajari untuk memahami yang seperti itu. Menurutnya Islam Nusantara adalah Islam yang ada di Indonesia dari dulu hingga sekarang yang diajarkan Wali Songo, Islam yang damai, rukun, tidak mentang-mentang dan rahmatan lil alamin. Dan menurut Gus Mus, Wali Songo memiliki ajaran-ajaran Islam yang mereka pahami secara betul dari ajaran kanjeng Nabi Muhammad. Wali Songo tidak hanya mengajak bil lisan, tetapi juga bil hal (keteladanan), tidak mementingkan formalitas tetapi inti dari ajaran Islam.

Nusantara kita pernah mengenal sejumlah peradaban yang mencengangkan dunia: Sriwijaya, Malaka, Aceh, Makassar dan Majapahit. Kekuatan maritim dan ekonomi Nusantara begitu dahsyat di masa-masa awal kehadiran Wali Songo. Bahkan ada yang mengatakan, sepertiga perdagangan dunia dikuasai oleh Nusantara.

Pencangkokkan antara Islam dan peradaban Nusantara akan menghasilkan ketahanan dan energi aqwa (terkuat) yang tidak akan diruntuhkan oleh siapapun bahkan negara manapun. Inilah yang dilakukan oleh para Wali Songo dan ulama pendiri NU, khususnya Hadratus Syeikh Hasyim Asyโ€™ari, yang melahirkan prinsip berbangsa dan bernegara โ€œHubbul Wathan Minal Iman: Nasionalisme bagian dari Imanโ€, kemudian melahirkan lagu perjuangan โ€œSyubbanul Wathanโ€ karya KH. Wahab Hasbullah serta melahirkan PANCASILA oleh Sukarno.

Osama Menurut Ibundanya -- Sumanto Al Qurtuby --Menurut penuturan ibundanya, Alia Ghanem, mendiang Osama Bin Laden sewak...
13/05/2020

Osama Menurut Ibundanya

-- Sumanto Al Qurtuby --

Menurut penuturan ibundanya, Alia Ghanem, mendiang Osama Bin Laden sewaktu kecil dan remaja adalah anak yang pemalu, terbuka, taat kepada orang tua, dan lumayan pintar.

Menurutnya, Osama mulai berubah menjadi militan, radikal, dan tertutup sejak kuliah di King Abdulaziz University di Jedah. Para guru dan orang-orang di kampus itu, katanya, yang mengubah dan mencuci otaknya sehingga menjadi "sosok yang lain". "Tapi ia tak pernah cerita ke saya tentang perubahan itu karena ia sangat mencintaiku", tutur Alia.

Di antara sekian guru yang mengubah dan mencuci otak Osama itu bernama Abdullah Yusuf Azam - salah satu tokoh faksi militan Hamas di Palestina & Ikhwanul Muslimin - yang kelak menjadi komandan jihad di Afganistan pada waktu negara itu berperang melawan Soviet sejak awal 1980an.

Azzam p**a yang merekrut Osama menjadi anggota laskar jihad di Afganistan (dikenal dengan sebutan "Mujahidin Afganistan") yang dilatih oleh tentara dan intelijen Amerika Serikat & Pakistan. Azzam p**a yang turut membentuk pendirian al-Qaeda setelah "Tentara Merah" Soviet hengkang dari Afganistan. Sialnya, kelak Azzam dibunuh oleh faksi militan jihadis Mesir atas suruhan Osama karena berbeda prinsip tentang "doktrin jihad".

Kisah selanjutnya, silakan baca dan tunggu publikasi bukuku dalam bahasa Inggris yang akan diterbitkan oleh Palgrave (Inggris).

Pesan moral dari cuplikan ini adalah:

"Hati-hati dalam memilih guru dan teman; waspada kalau menyekolahkan anak-anak kaliyen. Jika "salah asuhan", anak-anak kaliyen yang dulunya pemalu, imut-imut, dan lutu-lutu kayak Chihuahua bisa berubah menjadi beringas bak singa hombreng yang lagi mupeng dan kelaperan.

Ngemeng-ngemeng, apa ada yang bisa menebak di foto ini kira-kira yang mana foto Dik Osama? Foto ini diambil tahun 1971 di Falun, Swedia. Kala itu, usia Osama sekitar 14/15 tahun. Courtasy: Camera Press.

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

31/03/2020

Teruntuk pemilik akun facebook ini :

http://facebook.com/profile.php?=73322363

Semoga Allah mudahkan urusan dunia akhiratnya dan di berikan rejeki yang berlimpah,Dilindungi semua anggota keluarga nya dari wabah Corona yang tengah melanda negeri ini.

Aamiin....

SIKAP KERAS TERHADAP FATWA KELIRU YANG MENGANCAM NYAWA MANUSIAOleh : Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)*** Semua...
22/03/2020

SIKAP KERAS TERHADAP FATWA KELIRU YANG MENGANCAM NYAWA MANUSIA

Oleh : Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)
***

Semua ijtihad dan fatwa yang sifatnya zhonni hukum asalnya harus dihormati selama muโ€™tabar. Perbedaan pendapat yang ada dihargai dan tidak perlu dijadikan pangkal permusuhan apalagi penentu mana yang ahlussunnah dan ahlul bidโ€™ah. Hanya saja, jika fatwa tersebut sudah mulai mengancam dan mengorbankan nyawa manusia, urusannya bisa berbeda. Sunnah Nabi ๏ทบ menunjukkan bahwa beliau bersikap keras terhadap fatwa yang mengancam dan mengorbankan nyawa manusia. Abu Dawud meriwayatkan,

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุทูŽุงุกู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ุฑูŽุจูŽุงุญูุŒ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุณูŽู…ูุนูŽ ุนูŽุจู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ูŽ ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฃูŽุตูŽุงุจูŽ ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ุฌูุฑู’ุญูŒ ูููŠ ุนูŽู‡ู’ุฏู ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ุงุญู’ุชูŽู„ูŽู…ูŽ ููŽุฃูู…ูุฑูŽ ุจูุงู„ูุงุบู’ุชูุณูŽุงู„ู ููŽุงุบู’ุชูŽุณูŽู„ูŽ ููŽู…ูŽุงุชูŽุŒ ููŽุจูŽู„ูŽุบูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซู‚ูŽุชูŽู„ููˆู‡ู ู‚ูŽุชูŽู„ูŽู‡ูู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ุดูููŽุงุกู ุงู„ู’ุนููŠู‘ู ุงู„ุณู‘ูุคูŽุงู„ูŽยป ุณู†ู† ุฃุจูŠ ุฏุงูˆุฏ (1/ 93)

Artinya,

โ€œDari โ€˜Atha` bin Abi Rabah bahwasanya dia mendengar Ibnu Abbas berkata:
Ada seseorang terluka pada masa Rasulullah ๏ทบ, kemudian dia bermimpi basah, lalu dia diperintahkan untuk mandi, maka dia mandi dan meninggal. Kejadian ini kemudian sampai kepada Rasulullah ๏ทบ, maka beliau bersabda: โ€œMereka telah membunuhnya semoga Allah membunuh mereka! Bukankah obat dari kebodohan adalah bertanya!โ€ (H.R.Abu Dawud)

Al-Albani menghasankan riwayat ini. Ibnu Hibban mensahihkannya. Demikian p**a Ibnu Khuzaimah, Ibnu As-Sakan, dan Al-Hakim yang disetujui Adz-Dzahabi.

Dalam hadis di atas, sejumlah shahabat memberi fatwa untuk mandi kepada seorang shahabat yang sedang junub padahal di kepalanya ada luka parah. Akibatnya Shahabat ini wafat. Karena itulah Rasulullah ๏ทบ sangat marah. Perhatikan bagaimana marahnya Rasulullah ๏ทบ mengetahui fatwa seperti itu. Beliau bersabda dengan nada keras,

ู‚ูŽุชูŽู„ููˆู‡ู ู‚ูŽุชูŽู„ูŽู‡ูู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู

Artinya,

โ€œMereka telah membunuhnya semoga Allah membunuh mereka!โ€

Lihatlah bagaimana Rasulullah ๏ทบ mensifati para pemberi fatwa dengan menisbahkan mereka pada pembunuhan! Lihat juga bagaimana doa buruk beliau kepada mereka, yakni didoakan kebinasaan! Jika doa kebinasaan ini tidak difahami secara harfiah, maka minimal itu menunjukkan pengingkaran luar biasa dan bentuk zajr (bentakan melarang) yang sangat keras. Ibnu Al-Atsir menjelaskan makna ucapan Rasulullah ๏ทบ yang keras itu sebagai berikut,

ูŠู‚ุงู„: ู‚ุชู„ู‡ ุงู„ู„ู‡ุŒ ูˆู‚ุงุชู„ู‡ ุงู„ู„ู‡: ุฅุฐุง ุฏุนุง ุนู„ูŠู‡ ุจุงู„ู‚ุชู„ ูˆุงู„ู‡ู„ุงูƒ. (ุฌุงู…ุน ุงู„ุฃุตูˆู„ (7/ 263)

Artinya,

โ€œUngkapan โ€˜Qotalahullahโ€™ dan โ€˜Qootalahumullahโ€™ adalah mendoakan buruk terhadapnya dengan pembunuhan dan kebinasaanโ€ (Jamiโ€™ Al-Ushul, juz 7 hlm 263)

Padahal, jika direnungi, para sahahabt yang berfatwa itu tentu saja berniat baik. Mereka mengharap Shahabat yang terluka itu tetap dalam ketakwaan, tidak melanggar perintah Allah untuk bersuci dengan air, mempertahankan sikap warak, dan selalu meniti jalan kesalihan dalam kondisi apapun. Tidak ada sedikitpun niat buruk para shahabat untuk membunuh sahabat terluka tersebut. Akan tetapi ternyata kondisi seperti ini tidak menyelamatkan mereka untuk mendapatkan teguran keras dari Rasulullah ๏ทบ. Jadi, niat baik saja ternyata tidak cukup. Disamping niat baik, orang benar-benar butuh ilmu untuk berfatwa. Apalagi fatwa yang sifatnya mengancam dan mengorbankan nyawa manusia. Fatwa yang salah karena mengancam dan mengorbankan nyawa manusia bisa membinasakan pemberi fatwa sekaligus membinasakan yang diberi fatwa.

Usamah bin Zaid juga pernah ditegur keras oleh Rasulullah ๏ทบ karena keliru menghukumi sesuatu yang mengantarkan pada jatuhnya korban jiwa. Padahal kita tahu Usamah adalah salah seorang Shahabat yang sangat dicintai oleh Rasulullah ๏ทบ. Waktu itu Usamah berjihad bersama sejumlah Shahabat. Mereka menang dan musuhpun kocar-kacir. Di antara mereka ada satu musuh yang lari untuk menyelamatkan dirinya. Usamah dan seorang Shahabat Anshor mengejarnya. Pengejaran itu berhasil. Lelaki itu tertangkap. Ketika Shahabat Anshor itu hendak membunuhnya, lelaki itu mengucapkan โ€œlailahaillalahโ€. Mendengar kalimat itu, Shahabat Anshor menahan diri untuk membunuhnya, tetapi Usamah tetap membunuhnya dengan tombak karena menilai ucapan kalimat tauhid itu dilontarkan hanya untuk menyelamatkan diri. Ketika peristiwa ini dilaporkan kepada Rasulullah ๏ทบ maka beliau memanggil Usamah dan menegur dengan keras, sampai-sampai Usamah beranda-andai beliau belum masuk Islam saja waktu itu sehingga tidak sampai dicela Rasulullah ๏ทบ dengan taraf seperti itu.

Dalam kasus yang lain, Rasulullah ๏ทบ bahkan pernah sampai berdoa -dengan suara yang didengar Shahabat- dengan doa untuk berlepas diri dari perbuatan Kholid yang keliru menghukumi fakta sampai membuat terbunuhnya orang-orang yang baru masuk Islam. Rasulullah ๏ทบ berdoa dengan mengangkat tangan,

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ู‘ููŠ ุฃูŽุจู’ุฑูŽุฃู ุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ู…ูู…ู‘ูŽุง ุตูŽู†ูŽุนูŽ ุฎูŽุงู„ูุฏูŒ (ุตุญูŠุญ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ (5/ 161)
Artinya,

โ€œYa Allah aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang diperbuat Kholidโ€

Jadi, dalil-dalil ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh main-main dengan nyawa manusia. Fatwa yang muncul dan terkait nyawa harus dikeluarkan oleh orang yang benar-benar berilmu. Siapapun yang merasa tidak mumpuni dalam berfatwa sudah semestinya menahan diri untuk berbicara.

Abu Ishaq Al-Isfaroyini, salah satu ulama bermazhab Asy-Syafiโ€™i bahkan memfatwakan, ahli fatwa manapun yang berani membuat fatwa sampai membinasakan orang/sesuatu, sementara itu jelas bertentangan dengan sesuatu yang pasti, maka dia wajib mengganti rugi! Artinya, kalau orang berani berfatwa sampai menimbulkan kematian satu orang, maka dia wajib mengganti dendanya senilai 100 ekor unta! Bayangkan jika dia menjadi sebab terbunuhnya puluhan, ratusan apalagi ribuan orang?! Ibnu Ash-Sholah menukil fatwa Abu Ishaq Al-Isfaroyini itu sebagai berikut,

ุฅูุฐุง ุนู…ู„ ุงู„ู…ุณุชูุชูŠ ุจูุชูˆู‰ ุงู„ู’ู…ููู’ุชููŠ ูููŠ ุฅูุชู’ู„ูŽุงู ุซู…ู‘ูŽ ุจูŽุงู† ุฎุทุฃู‡ ูˆูŽุฅู†ู‘ูŽู‡ู ุฎูŽุงู„ู ูููŠู‡ูŽุง ุงู„ู’ู‚ูŽุงุทูุน ููŽุนูŽู† ุงู„ู’ุฃูุณู’ุชูŽุงุฐ ุฃุจูŠ ุฅูุณู’ุญูŽุงู‚ ุงู„ุฅุณูุฑุงุฆูŠู†ูŠ ุฃูŽู†ู‡ ูŠุถู…ู† ุฅูู† ูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽู‡ู„ุง ู„ู„ู’ููŽุชู’ูˆูŽู‰ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠุถู…ู† ุฅูู† ู„ู… ูŠูƒู† ุฃูŽู‡ู„ุง ู„ูุฃูŽู† ุงู„ู…ุณุชูุชูŠ ู‚ุตุฑ (ูุชุงูˆู‰ ุงุจู† ุงู„ุตู„ุงุญ (1/ 46)

Artinya,

โ€œJika orang yang meminta fatwa mengamalkan fatwa seorang m***i untuk membinasakan (sesuatu/orang) kemudian menjadi jelas kesalahan fatwa tersebut dan bahwasanya fatwa itu bertentangan dengan hal yang pasti, maka pendapat Al Ustaz Abu Ishaq Al Isfaroyini m***i tersebut harus menjamin (membayar ganti rugi) jika m***i itu memang layak berfatwa. Tetapi m***i itu tidak perlu menjamin jika dia tidak layak berfatwa karena yang meminta fatwa sendiri yang salah- yakni keliru meminta fatwa pada orang yang tidak kompeten-โ€ (Fatawa Ibn Ash-Sholah, juz 1 hlm 46)

Oleh karena itu, berdasarkan ulasan ini, sudah sepantasnya para tokoh agama yang punya massa bersikap hati-hati sekali dalam mengeluarkan pernyataan terkait wabah virus corona ini. Fatwa yang paling berbahaya hari ini adalah fatwa yang endingnya mengajak kumpul-kumpul. Apapun bentuk perkump**an itu dan dengan niat apapun ia diselenggarakan. Tidak peduli apakah untuk melaksanakan sesuatu yang wajib, sunah, mubah, apalagi makruh dan haram. Semuanya berpotensi mengancam dan mengorbankan nyawa manusia.

Hari-hari ini, pernyataan-pernyataan yang muncul yang sifatnya melawan seruan untuk tidak kumpul-kumpul pada intinya disebabkan dua macam sumber penyakit,

Pertama: Salah paham terhadap konsepsi iman, tawakal, dan tauhid

Kedua: Tidak memahami fakta dan bahaya virus Corona

Untuk mengobati masalah pertama, tentu orang harus mendapatkan ilmu yang benar terkait makna iman, tawakal, tauhid, syirik dan hakikat takut kepada Allah. Sebagai permulaan Anda bisa membaca artikel saya yang berjudul โ€œSalahkah Takut dengan Virus Corona?โ€.

Untuk mengobati penyakit kedua, maka diperlukan sikap rendah hati untuk belajar seperti apa bahaya dan dampak virus corona. Belajar topik ini harus dari pakarnya. Ingat, ambil ilmu dari pakarnya, yakni para dokter terutama pakar virologi, bukan tokoh agama komunitas Anda. Apalagi menganalisis sendiri dan menghayal-hayal ses**a hati tanpa ilmu dan tanpa data.

Dua penyakit itu bisa menjangkiti tokoh agama maupun awamnya. Semoga Allah merahmati mereka yang mau rendah hati dan mengetahui kadar dirinya.

ุงู„ู„ู‡ู… ุฅู†ุง ู†ุนูˆุฐ ุจูƒ ู…ู† ุณูŠุฆ ุงู„ุฃุณู‚ุงู…
Versi Situs: https://irtaqi.net/2020/03/21/sikap-keras-terhadap-fatwa-keliru-yang-mengancam-nyawa-manusia/

***
26 Rajab 1441 H

Oleh : Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin) Semua ijtihad dan fatwa yang sifatnya zhonni hukum asalnya harus dihormati selama muโ€™tabar. Perbedaan pendapat yang ada dihargai dan tidak perlu dijadikan pangkal permusuhan apalagi penentu mana yang ahlussunnah dan ahlul bidโ€™ah. Hanya saja...

Mari Kita Ketahui Tentang NOMENKLATUR yg Di Gunakan dalam PANDEMI GLOBAL CORONA VIRUS DIASE (COVID-19)1.  (Orang Dalam P...
20/03/2020

Mari Kita Ketahui Tentang NOMENKLATUR yg Di Gunakan dalam PANDEMI GLOBAL CORONA VIRUS DIASE (COVID-19)

1.
(Orang Dalam Pemantauan)

2.
(Pasien Dalam Pengawasan)

3.
(di DUGA Terkena Virus karna ada Menunjukkan Gejala dan Pernah Berkontak atau Bertemu dgn Orang yg Positif Corona)

4.
(Setelah Melalui Cek Lab. dan Prosedur lain)

5.
(Mengunci _Pintu_ masuk & keluar dari Suatu Wilayah/Daerah/Negara)

6.
(Menjauhi Segala Bentuk Perkump**an, Menjaga Jarak Antar Manusia, Menghindari Berbagai Pertemuan yg Melibatkan Banyak Orang)

7.
(Untuk yg Sakit, Mengendalikan Penyebaran Penyakit dgn Membatasi Perpindahan Orang atau Mencegah Perpindahan Penyakit dari Orang yg Sakit)

8.
(Untuk yg Sehat, Mengendalikan Penyebaran Penyakit dgn Membatasi Perpindahan Orang atau Mencegah Perpindahan Penyakit ke Orang yg Sehat)

9. (WFH)
(Bekerja Dari Rumah)

10.
(Seseorang Terjangkit Saat Berada diluar Wilayah, Dimana Pasien Melapor)

11.
(Pasien Tertular Di suatu Wilayah Dimana Kasus Ditemukan)

12.
(Penyebaran Penyakit Secara Cepat dgn Jumlah Terjangkit yg Banyak & Tidak Normal cara Penyebaran nya disuatu Wilayah)

13.
(Penyebaran Terjadi Secara Global Keseluruh Negara)

PASAR GELAP USTAZ____Rumaidi Ahmad_____Saya berkali-kali menyampaikan, hati-hati mencari ustaz. Jangan sembarangan mengu...
22/02/2020

PASAR GELAP USTAZ

____Rumaidi Ahmad_____

Saya berkali-kali menyampaikan, hati-hati mencari ustaz. Jangan sembarangan mengundang orang untuk mengisi pengajian, memanggil dia ustaz, apalagi menyebutnya sebagai ulama.

Saya perlu semakin serius mengingatkan hal ini. Karena semakin banyak orang-orang yang hanya bermodal bisa pidato, berbaju gamis, mengumpat sana-sini diundang kemana-mana, dipanggil ustaz. Hafal satu dua ayat al-Quran dan hadis cukup menjadi modal.

Pasar gelap ustaz ini biasanya dihuni dua kelompok besar. Pertama, para muallaf. Beberapa muallaf, meskipun tidak punya ilmu keislaman yang cukup, tiba-tiba dia menjadi ustaz karena modal bisa pidato. Yang paling banyak diceramahkan biasanya menjelek-jelekkan keyakinan lamanya. Dia ingin menunjukkan sekarang sudah mendapat "hidayah". Tak lupa, biasanya juga menebar ketakutan, bahwa agama lamanya itu menjadi ancaman terhadap Islam. Kalau melihat orang seperti ini, saya sering jengkel sendiri, membayangkan kalau ada orang keluar dari Islam kemudian menjelek-jelekkan Islam dalam komunitas agamanya yang baru. Orang-orang seperti ini yang biasanya menaikkan ketegangan muslim dan non muslim.

Kedua, orang-orang yang dulu jauh dari Islam, s**a maksiat dan sebagainya, kemudian berubah menjadi lebih religius, mengubah penampilan dan sebagainya. Orang-orang seperti ini biasanya menyebut diri sebagai orang yang sudah "hijrah". Modal kegelapan masa lalu dieksploitasi, seolah sekarang sudah benar-benar hidup dalam terang. Dengan modal bisa pidato, punya tim media sosial untuk menaikkan pop**aritasnya, mereka tiba-tiba dipanggil ustaz dan dijadikan rujukan dalam beragama.

Dua kelompok ini, intinya sama. Mereka tidak punya otoritas keagamaan, tapi dimanjakan oleh situasi. Mareka memanfaatkan media sosial untuk marketing. Yang saya heran, orang-orang seperti ini banyak yang tidak tahu diri soal kapasitas keislamannya.

Pasar gelap ustaz ini bisa terjadi karena dua hal. Pertama, Islam memang longgar dan tidak ada lembaga yang melakukan "stadarisasi" keulamaan seseorang. Pasar ustaz dalam Islam sangat terbuka. Semua sangat tergantung pada "pasar". Jika Anda populer, ceramahnya dis**ai orang, maka Anda bisa masuk dalam pasar keulamaan.

Kedua, sekarang banyak sarana yang bisa digunakan untuk branding. Jika dulu, untuk menjadi ustaz atau ulama membutuhkan waktu untuk diakui masyarakat, sekarang pengakuan itu bisa dilakukan dengan instan. Yang penting populer di medsos, sudah cukup.

Siapa yang menjadi korban dari pasar gelap ini? ya masyarakat Islam sendiri. Orang-orang ini bicara atas nama Islam, padahal dia sama sekali tidak punya otoritas ilmu dan moral. Saya tak perlu menyebut nama sebagai contoh. Sekarang ini, masyarakat Islam s**a marah-marah, sebagian merupakan hasil dari pasar gelap itu. Benar kata ahli yang mengatakan, di era disrupsi informasi maka akan lahir era matinya keahlian (death of expertise). Yang menjadi rujukan masyarakat bukan orang-orang yang punya otoritas, tapi orang yang terkenal, terutama di media sosial. Lihat saja survey-survey tentang tokoh-tokoh agama yang mereka ikuti, sebagian adalah orang-orang yang lain di pasar gelap ustaz itu.

Masyarakat harus dididik agar mempunyai literasi keulamaan. Kalau mau menuntut ilmu keislaman, belajarlah pada orang-orang yang gurunya jelas, sanad ilmunya juga jelas. Jangan terpesona dengan tampilan luar. Saya senang, sekarang masyarakat sudah mulai kritis dan berani mempertanyakan ustaz yang menebarkan kebencian dimana-mana. Hanya masyarakat seperti ini yang bisa menghentikan pasar gelap itu.

Tebet, 21 Pebruari 2019

Rumadi Ahmad
Ketua Lakpesdam PBNU

Address

Jalan Drive Murjani No 81, Sebrang Hotel Rahman
Palangkaraya
73111

Opening Hours

Monday 06:30 - 12:30
Tuesday 06:30 - 12:30
Wednesday 06:30 - 12:30
Thursday 06:30 - 12:30
Friday 06:30 - 11:00
Saturday 06:30 - 12:30

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Alumni Mis Nu Palangka Raya posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share