27/11/2025
*Kemampuan Diri*
Tiap insan berbeda-beda ujiannya.
Ada yang Allah uji dengan sakit, ia mampu, tapi ia kalah dan lemah dari ujian karir pekerjaannya.
Ada yang Allah uji dengan kekurangan harta ia mampu, tapi ia kalah dan lemah dari ujian lisannya.
Ada yang Allah uji dengan musibah dan bencana ia mampu, tapi ia kalah dan lemah dari ujian nafsu syahwatnya.
Ada yang Allah uji dengan karir dan jabatannya ia mampu, tapi ia kalah dan lemah dari ujian rumah tangganya.
Begitulah seterusnya!
Ujian demi ujian akan selalu ada selama manusia hidup akan terus diuji.
Karena itu jangan pernah merasa telah beriman dan, jika kita belum lulus diuji, sebagaimana hal ini Allah berfirman,
اَحَسِبَ النَّا سُ اَنْ يُّتْرَكُوْۤا اَنْ يَّقُوْلُوْۤا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَـنُوْنَ
وَلَقَدْ فَتَـنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَـعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
"Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta."
(QS Al-'Ankabut 29: 2-3)
Banyak orang merasa cukup ketika menyatakan diri sebagai mukmin, lalu ia biasa-biasa menjalani kehidupan dan merasuki telah menjadi orang yang beriman, seolah pengakuan iman tidak mengandung konsekuensi bagi pelakunya.
Padahal pengakuan iman itu masih harus dibuktikan dalam bentuk sikap dan tindakan ketika menghadapi ujian dan cobaan.
Ayat di atas memberitakan keniscayaan adanya ujian bagi pengakuan iman setiap orang untuk membuktikan kebenarannya, dan Allah Maha Mengetahui orang yang benar-benar beriman dan mana yang dusta.
Semoga Allah tersebut memberikan hidayah dan taufiknya kepada kita semua untuk tetap istiqamah.