02/06/2026
Saat Silaturahmi Mulai Diputuskan
"Dikisahkan bahwa ketika Allah Ta‘ala menciptakan rahim (ikatan kekerabatan), Allah berfirman:
‘Aku adalah Ar-Rahman dan engkau adalah Ar-Rahim. Aku akan memutus hubungan dengan orang yang memutusmu, dan Aku akan menyambung hubungan dengan orang yang menyambungmu."
"Disebutkan bahwa Ar-Rahim bergantung pada ‘Arsy sambil berseru siang dan malam:
Ya Rabb, sambunglah orang yang menyambungku karena-Mu, dan putuskanlah orang yang memutusku karena-Mu."
Syaikh Al-Hasan al-Bashri berkata:
"Apabila manusia menampakkan ilmu namun menyia-nyiakan amal, saling mencintai dengan lisan tetapi saling membenci dalam hati, dan saling memutus hubungan kekerabatan, maka Allah melaknat mereka, lalu menjadikan mereka tuli dan membutakan penglihatan mereka."
Wallahua'lambisshowaab
وَيُقَالُ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَمَّا خَلَقَ الرَّحِمَ قَالَ: أَنَا الرَّحْمَنُ وَأَنْتِ الرَّحِمُ، أَقْطَعُ مَنْ قَطَعَكِ، وَأَصِلُ مَنْ وَصَلَكِ. وَذُكِرَ أَنَّ الرَّحِمَ مُعَلَّقٌ بِالْعَرْشِ يُنَادِي اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ يَا رَبِّ صِلْ مَنْ وَصَلَنِي فِيكَ، وَاقْطَعْ مَنْ قَطَعَنِي فِيكَ قَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: إِذَا أَظْهَرَ النَّاسُ الْعِلْمَ، وَضَيَّعُوا الْعَمَلَ، وَتَحَابُّوا بِالْأَلْسُنِ، وَتَبَاغَضُوا بِالْقُلُوبِ، وَتَقَاطَعُوا بِالْأَرْحَامِ، لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ.
Al-Faqih Abu Laits as-Samarqandi, Tanbihul Ghofilin Hlm. 48 Cet. Darul Ilmi
Lutfi Alhakim - Kebumen
29/05/2026
Ayat yang Menyentuh Hati Sahabat Utsman bin Mazh'un
Diriwayatkan dari Utsman bin Mazh'un radhiyallahu ta'ala 'anhu, beliau berkata:
"Muhammad Shalallahu alaihi wassalam adalah sahabat dekatku. Aku masuk Islam tidak lain karena rasa malu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sebab beliau terus mengajakku kepada Allah hingga akhirnya aku masuk Islam.
Namun, Islam saat itu belum benar-benar ada di dalam hatiku.
Pada suatu hari aku duduk di sisi beliau, sementara beliau berbicara kepadaku.
Tiba-tiba beliau memalingkan wajah dariku, seakan-akan sedang berbicara dengan seseorang di sampingnya. Lalu beliau kembali menghadap kepadaku dan bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى
"Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat ihsan, dan memberi kepada kerabat." (QS. An-Nahl: 90)
Aku merasa sangat gembira, dan sejak itu Islam benar-benar melekat dalam hatiku.
Lalu aku berdiri meninggalkan beliau dan mendatangi pamannya, Abu Thalib. Aku berkata kepadanya:
"Tadi aku berada di saming anak saudaramu, lalu turun kepadanya ayat ini."
Abu Thalib berkata: "Ikutilah Muhammad, niscaya kalian akan beruntung dan mendapat petunjuk.
Demi Allah, sungguh anak saudaraku hanya memerintahkan akhlak yang mulia. Baik ia benar ataupun tidak, ia tidak mengajak kalian kecuali kepada kebaikan."
Ucapan itu sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sehingga beliau berharap Abu Thalib masuk Islam.
Kemudian Nabi mendatanginya dan mengajaknya masuk Islam, namun Abu Thalib enggan masuk Islam.
Lalu turunlah ayat:
اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۚ
"Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tidak (akan dapat) memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk)." (QS. Al-Qashash: 56)
Dalam ayat tersebut Allah Azza Wajalla juga menyebutkan tentang menyambung tali kekerabatan yakni –silaturahmi–.
Pada ayat lain Allah berfirman:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا اَرْحَامَكُمْ ٢٢ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فَاَصَمَّهُمْ وَاَعْمٰٓى اَبْصَارَهُمْ ٢٣
"Apakah seandainya berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu?, Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah. Lalu, Dia menulikan (pendengaran) dan membutakan penglihatan mereka. (QS. Muhammad: 22–23)
Yaitu orang-orang yang memutus tali silaturahmi.
وَرُوِيَ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ , أَنَّهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدِيقًا لِي، وَمَا أَسْلَمْتُ إِلَّا حَيَاءً مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَنَّهُ كَانَ يَدْعُونِي إِلَى اللَّهِ فَأَسْلَمْتُ، وَلَمْ يَكُنْ يَسْتَقِرُّ الْإِسْلَامُ فِي قَلْبِي، فَجَلَسْتُ عِنْدَهُ يَوْمًا يُحَدِّثُنِي، إِذْ أَعْرَضَ عَنِّي فَكَأَنَّهُ يُحَدِّثُ أَحَدًا بِجَنْبِهِ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيَّ فَقَالَ: " نَزَلَ عَلَيَّ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَقَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ: {إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى} [النحل: 90] ، فَسُرِرْتُ بِذَلِكَ وَاسْتَقَرَّ الْإِسْلَامُ فِي قَلْبِي.
فَقُمْتُ مِنْ عِنْدِهِ وَأَتَيْتُ عَمَّهُ أَبَا طَالِبٍ، فَقُلْتُ لَهُ: كُنْتُ عِنْدَ بْنِ أَخِيكَ فَأُنْزِلَتْ عَلَيْهِ هَذِهِ الْآيَةُ. فَقَالَ أَبُو طَالِبٍ: تَابِعُوا مُحَمَّدًا تُفْلِحُوا وَتَرْشُدُوا، وَاللَّهِ إِنَّ ابْنَ أَخِي يَأْمُرُ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ، لَئِنْ كَانَ صَادِقًا أَوْ كَاذِبًا لَا يَدْعُوكُمْ إِلَّا إِلَى الْخَيْرِ. فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَطَمِعَ فِي إِسْلَامِهِ. فَأَتَى إِلَيْهِ وَدَعَاهُ إِلَى الْإِسْلَامِ فَأَبَى أَنْ يُسْلِمَ. فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ: {إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ} [القصص: 56] ، فَقَدْ ذَكَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي هَذِهِ الْآيَةِ صِلَةَ الرَّحِمِ.
وَقَالَ فِي آيَةٍ أُخْرَى: {فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ {22} أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ} [محمد: 22-23] ، يَعْنِي الَّذِينَ يَقْطَعُونَ الرَّحِمَ.
Al-Faqih Abu Laits as-Samarqandi, Tanbihul Ghofilin Hlm. 48 Cet. Darul Ilmi
Lutfi Alhakim - Kebumen
28/05/2026
Esensi Sang Alim: Belajar Tiada Henti, Beramal Tanpa Tapi
Menjadi seorang yang berilmu (alim) bukanlah sebuah gelar statis, melainkan sebuah proses yang dinamis. Definisi sejati dari intelektualitas dan kebijaksanaan mencakup dua pilar utama:
1. Jiwa Pembelajar (Muta‘allim): Seseorang hanya layak disebut berilmu jika ia tetap memelihara kerendahan hati untuk menyimak, bertanya, dan merasa "haus" akan informasi baru. Berhenti belajar adalah cara tercepat menutup pintu kemuliaan.
2. Integritas Amal: Ilmu setinggi langit tidak akan berarti jika hanya tersimpan di kepala. Keabsahan ilmu seseorang baru teruji ketika ia mampu mengimplementasikan pengetahuannya dalam tindakan nyata.
Kemuliaan seseorang tidak terletak pada seberapa banyak yang ia ketahui, melainkan pada kerendahhatiannya untuk terus berguru dan keberaniannya untuk mengamalkan apa yang telah dipelajari. Tanpa belajar, kita kehilangan arah; tanpa beramal, ilmu hanyalah beban tanpa makna.
M. Ridho Zahid - Tuban
26/05/2026
Keluarga Besar Pondok Pesantren Al Fattah P**e mengucapkan selamat Hari Raya Idul Adha th. 1447 H.
25/05/2026
𝗔𝘆𝗮𝘁 𝗔𝗹-𝗤𝘂𝗿𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗦𝗶𝗹𝗮𝘁𝘂𝗿𝗮𝗵𝗺𝗶
Sungguh Allah Ta'ala telah memerintahkan untuk menyambung silaturahmi di beberapa ayat dalam Kitab-Nya. Allah berfirman:
وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَۗ (النساء: ١)
Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan.
Maksudnya, takutlah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling memohon kebutuhan.
وَالْاَرْحَامَۗ maksudnya adalah jagalah hubungan kekerabatan, sambunglah silaturahmi dan jangan memutuskannya.
Allah berfirman pada ayat yang lain:
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ [الإسراء: ٢٦]
"Berikanlah kepada kerabat dekat haknya .” Maksudnya adalah berikan haknya berupa silaturahmi dan kebaikan.
Allah berfirman pada ayat yang lain:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ [النحل: ٩٠]
"Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan"
Yang dimaksud dengan al-'adl adalah tauhid, yaitu persaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Dan Allah memerintahkan untuk berbuat ihsan kepada manusia, memaafkan mereka, serta memberi kepada kerabat. Maksudnya: Allah memerintahkan untuk menyambung tali silaturahmi.
Maka Allah memerintahkan tiga perkara, kemudian melarang tiga perkara. Allah Azza Wajalla berfirman:
وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ [النحل: ٩٠]
"Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan."
Yang dimaksud al-fahsya' adalah berbagai kemaksiatan. Sedangkan al-munkar adalah sesuatu yang tidak dikenal dalam syariat maupun sunnah. Dan al-baghy adalah berlaku sewenang-wenang terhadap manusia.
يَعِظُكُمْ
maksudnya adalah Allah memerintahkan kalian dengan tiga perkara tersebut dan melarang kalian dari tiga perkara itu.
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
maksudnya adalah agar kalian mengambil pelajaran.
Wallahua'lambisshowaab
وَقَدْ أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِصِلَةِ الرَّحِمِ فِي مَوَاضِعَ مِنْ كِتَابِهِ فَقَالَ: {وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ} [النساء: ١] ، يَعْنِي اخْشَوُا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ الْحَاجَاتِ.
وَالْأَرْحَامَ، يَعْنِي اتَّقُوا الْأَرْحَامَ فَصِلُوهَا وَلَا تَقْطَعُوهَا. وَقَالَ فِي آيَةٍ أُخْرَى: {وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ} [الإسراء: ٢٦] ، يَعْنِي أَعْطِهِ حَقَّهُ مِنَ الصِّلَةِ وَالْبِرِّ.
وَقَالَ فِي آيَةٍ أُخْرَى: {إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ} [النحل: ٩٠] ، يَعْنِي بِالتَّوْحِيدِ، وَهُوَ شِهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ. وَيَأْمُرُ بِالْإِحْسَانِ يَعْنِي إِلَى النَّاسِ. وَالْعَفْوِ عَنْهُمْ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى. يَعْنِي يَأْمُرُ بِصِلَةِ الرَّحِمِ.
فَأَمَرَ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ، ثُمَّ نَهَى عَنْ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ. فَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: {وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ} [النحل: ٩٠] ، الْفَحْشَاءُ: الْمَعَاصِي. وَالْمُنْكَرُ مَا لَا يُعْرَفُ فِي شَرِيعَةٍ وَلَا سُنَّةٍ، وَالْبَغْيُ الِاسْتِطَالَةُ عَلَى النَّاسِ. يَعِظُكُمْ يَعْنِي يَأْمُرُكُمْ بِهَذِهِ الْأَشْيَاءَ الثَّلَاثَةِ وَيَنْهَاكُمْ عَنْ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ. لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، يَعْنِي لِكَيْ تَتَّعِظُوا.
Al-Faqih Abu Laits as-Samarqandi, Tanbihul Ghofilin Hlm. 48 Cet. Darul Ilmi.
Lutfi Alhakim - Kebumen
22/05/2026
𝗦𝗶𝗹𝗮𝘁𝘂𝗿𝗮𝗵𝗺𝗶 𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗧𝗲𝗿𝗽𝘂𝘁𝘂𝘀 𝗞𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗕𝗲𝗱𝗮 𝗔𝗴𝗮𝗺𝗮
Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda:
"Sambunglah tali kekerabatan kalian, walaupun itu hanya dengan salam."
Syaikh Maimun bin Mihran berkata:
"Ada tiga perkara yang antara orang kafir dan muslim itu sama:
1. Siapapun yang punya ikatan janji denganmu maka penuhilah janji tersebut, baik itu muslim atau kafir, karena sesungguhnya janji itu milik Allah.
2. Siapa pun yang punya hubungan kerabat denganmu, maka sambunglah hubungan dengan mereka, baik ia muslim maupun kafir.
3. Dan siapa pun yang menitipkan amanah kepadamu, maka tunaikanlah amanah itu, baik ia muslim maupun kafir.
Dan Syaikh Ka'ab al-Ahbar berkata:
"Demi Dzat yang membelah lautan untuk Nabi Musa ‘alaihissalam dan Bani Israil, sungguh tertulis di dalam Taurat:
Bertakwalah kepada Tuhanmu, sambunglah tali kerabatmu, maka niscaya akan dipanjangkan umurmu, dimudahkan urusanmu, dan dijauhkan kesulitan darimu."
وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صِلُوا أَرْحَامَكُمْ وَلَوْ بِالسَّلَامِ» وَقَالَ مَيْمُونُ بْنُ مِهْرَانَ: ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ الْكَافِرُ وَالْمُسْلِمُ فِيهِنَّ سَوَاءٌ، مَنْ عَاهَدْتَهُ ثِقْ لَهُ بِعَهْدِكَ، مُسْلِمًا كَانَ أَوْ كَافِرًا، فَإِنَّمَا الْعَهْدُ لِلَّهِ. وَمَنْ كَانَتْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ قَرَابَةٌ فَصِلْهُ، مُسْلِمًا كَانَ أَوْ كَافِرًا. وَمَنِ ائْتَمَنَكَ عَلَى أَمَانَةٍ فَأَدِّهَا، مُسْلِمًا كَانَ أَوْ كَافِرًا، وَقَالَ كَعْبُ الْأَحْبَارِ: وَالَّذِي فَلَقَ الْبَحْرَ لِمُوسَى عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، وَبَنِي إِسْرَائِيلَ، إِنَّهُ مَكْتُوبٌ فِي التَّوْرَاةِ، اتَّقِ رَبَّكَ، وَصِلْ رَحِمَكَ، أُمِدَّ لَكَ فِي عُمْرِكَ وَأُيَسِّرْكَ فِي يُسْرِكَ، وَأَصْرِفْ عَنْكَ عُسْرَكَ.
Al-Faqih Abu Laits as-Samarqandi, Tanbihul Ghofilin Hlm. 48 Cet. Darul Ilmi
Lutfi Alhakim - Kebumen
20/05/2026
𝗦𝗶𝗹𝗮𝘁𝘂𝗿𝗮𝗵𝗺𝗶 𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗛𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝘁𝗮
Syaikh Sa'id telah meriwayatkan dari Syaikh Qatadah, bahwasanya ia berkata:
Telah dikatakan kepada kami bahwa Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda:
"Bertakwalah kepada Allah dan sambunglah tali silaturahmi, karena sesungguhnya silaturahmi itu lebih memperpanjang -keberkahan hidup- kalian di dunia dan lebih baik bagi kalian di akhirat."
"Apabila engkau memiliki kerabat, lalu engkau tidak melangkahkan kakimu kepadanya, tudak p**a membantunya dengan harta yang kamu punya, maka sungguh engkau telah memutus hubungan dengannya."
Dan dalam sebagian suhuf yang Allah Ta'ala turunkan disebutkan:
"Wahai anak Adam, sambunglah hubungan kekerabatanmu dengan hartamu. Jika engkau enggan mengeluarkan hartamu, atau harta yang kau punya sedikit, maka datangilah ia dengan kakimu."
وَرَوَى سَعِيدٌ، عَنْ قَتَادَةَ، أَنَّهُ قَالَ: ذُكِرَ لَنَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اتَّقُوا اللَّهَ وَصِلُوا الرَّحِمَ فَإِنَّهُ أَبْقَى لَكُمْ فِي الدُّنْيَا وَخَيْرٌ لَكُمْ فِي الْآخِرَةِ.
وَكَانَ يُقَالُ: إِذَا كَانَ لَكَ قَرِيبٌ فَلَمْ تَمْشِ إِلَيْهِ بِرِجْلِكَ، وَلَمْ تُعْطِهِ مِنْ مَالِكَ، فَقَدْ قَطَعْتَهُ. وَفِي بَعْضِ الصُّحُفِ مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ صِلْ رَحِمَكَ بِمَالِكَ، فَإِنْ بَخِلْتَ بِمَالِكَ أَوْ قَلَّ مَالُكَ: فَامْشِ إِلَيْهِ بِرِجْلِكَ.
Al-Faqih Abu Laits as-Samarqandi, Tanbihul Ghofilin Hlm. 48 Cet. Darul Ilmi
Lutfi Alhakim - Kebumen
18/05/2026
𝗔𝗿𝘁𝗶 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝗨𝗺𝘂𝗿
Diriwayatkan dari Tsauban Rodhiyallahu anhu, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Tidak ada yang dapat menolak takdir selain doa, tidak ada yang dapat menambah umur selain kebaikan, dan sungguh seseorang bisa terhalang dari rezekinya karena dosa yang ia perbuat."
Diriwayatkan dari Sahabt Ibnu Umar Rodhiyallahu Anhuma, beliau berkata:
"Barang siapa bertakwa kepada Tuhannya dan menyambung tali silaturahmi, niscaya akan dipanjangkan umurnya, dilapangkan rezekinya, dan dicintai oleh keluarganya."
Al-Faqih Abu Laits As-Samarkandi rahimahullah berkata: Para ulama berbeda pendapat mengenai makna "bertambahnya umur" dalam hadis tersebut.
Sebagian ulama memahami hadis itu sesuai makna dhohirnya, yaitu bahwa orang yang menjaga silaturahmi akan benar-benar diberi tambahan umur oleh Allah Taala.
Tapi sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa ajal yang telah Allah tetapkan tidak akan berubah dan tidak akan bertambah. Mereka menggunakan dalil firman Allah Taala:
فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Setiap umat mempunyai ajal. Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (p**a) meminta mendahulukannya (QS. Al-A'raf: 34)
Menurut pendapat ini, makna "ditambah umurnya" adalah Allah tetap mengalirkan pahala kebaikannya setelah ia wafat.
Karena pahala masih terus dituliskan baginya setelah ia mati, maka seakan-akan umurnya terus bertambah.
Wallahua'lambisshowaab
وَرَوَى ثَوْبَانُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , أَنَّهُ قَالَ: لَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا , قَالَ: مَنِ اتَّقَى رَبَّهُ وَوَصَلَ رَحِمَهُ أُنْسِئَ لَهُ فِي عُمْرِهِ، يَعْنِي يُزَادُ فِي عُمْرِهِ، وَثُرَّى لَهُ مَالُهُ، يَعْنِي كَثُرَ، وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ.
(قال الفقيه) رحمه الله تعالى قَدِ اخْتَلَفُوا فِي زِيَادَةِ الْعُمْرِ. فَقَالَ بَعْضُهُمْ: الْخَبَرُ عَلَى ظَاهِرِهِ أَنَّ مَنْ وَصَلَ رَحِمَهُ يُزَادُ فِي عُمْرِهِ.
وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا يُزَادُ فِي الْأَجَلِ الَّذِي أُجِّلَ لَهُ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ: {فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلا يَسْتَقْدِمُونَ} [الأعراف: 34] ، وَلَكِنْ مَعْنَى زِيَادَةُ الْعُمْرِ أَنْ يُكْتَبَ ثَوَابُهُ بَعْدَ مَوْتِهِ. وَإِذَا كُتِبَ لَهُ ثَوَابُهُ بَعْدَ مَوْتِهِ فَكَأَنَّهُ يَزِيدُ فِي عُمْرِهِ.
Al-Faqih Abu Laits as-Samarqandi, Tanbihul Ghofilin Hlm. Cet. Darul Ilmi
Lutfi Alhakim - Kebumen
16/05/2026
𝗦𝗶𝗹𝗮𝘁𝘂𝗿𝗮𝗵𝗺𝗶 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝗨𝗺𝘂𝗿
Ada sebuah riwayat dari Syaikh adh-Dhahhak bin Muzahim tentang tafsir ayat ini:
يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ
"Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki." (QS. ar-Ra’d: 39)
Beliau berkata: "Sungguh ada seseorang yang menyambung tali silaturahmi, sementara sisa umurnya tinggal tiga hari, lalu Allah menambah umurnya menjadi tiga puluh tahun.
Dan Sungguh ada seseorang memutus tali silaturahmi, sementara sisa umurnya masih tiga puluh tahun, lalu Allah menguranginya menjadi tiga hari."
Wallahua'lambisshowaab
قَالَ، حَدَّثَنَا أَبُو الْقَاسِمِ، حَدَّثَنَا فَارِسٌ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ، حَدَّثَنَا أَصْرَمُ بْنُ حَوْشَبَ، عَنْ أَبِي سِنَانٍ، عَنِ الضَّحَّاكِ بْنِ مُزَاحِمٍ، فِي تَفْسِيرِ هَذِهِ الْآيَةِ: {يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ} [الرعد: 39] ، قَالَ: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَصِلُ رَحِمَهُ وَقَدْ بَقِيَ مِنْ عُمُرِهِ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ، فَيَزِيدُ اللَّهُ فِي عُمْرِهِ ثَلَاثِينَ سَنَةً، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَقْطَعُ رَحِمَهُ وَقَدْ بَقِيَ مِنْ عُمُرِهِ ثَلَاثُونَ سَنَةً فَيَحُطُّهُ اللَّهُ إِلَى ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ.
Al-Faqih Abu Laits as-Samarqandi, Tanbihul Ghofilin Hlm. 47 Cet. Darul Ilmi
Lutfi Alhakim - Kebumen