09/05/2013
Kisah KHR. ABDUL FATTAH
MANGUNSARI PENEMU MAKAM
BEDALEM DAN TAMBAK
5 Votes
KHR. ABDUL FATTAH MANGUNSARI
PENEMU MAKAM BEDALEM DAN
TAMBAK
OLEH: H. NURCHOLIS
Dalam bahasa Jawa ada pepatah
“Kacang ora ninggalne lanjaran”.
Sifat, jasmaniyah dan prilaku
anak biasanya tidak jauh
berbeda dengan sifat,
jasmaniyah dan prilaku yang
dimiliki orang tuanya. Kadang –
kadang sifat, jasmaniyah dan
prilaku anak itu diwarisi dari
ibunya dan kadang dari ayahnya.
Demikianlah yang terjadi pada
sosok KHR. Abdul Fattah, pendiri
pondok pesantren Al- Fattah
Mangunsari Tulungagung,
mempunyai daya juang yang
tinggi sebagimana yang dimiliki
ayah dan ibunya. Perjuangan dan
pengabdian KHR. Abdul Fattah
dalam menegakkan Agama Islam
dapat dilihat pada buku “Wiroh
KHR. Abdul Fattah”.
KHR. Abdul Fattah lahir pada
Kamis Pon, 11 Syawal 1290 H/
1872 M di Mangunsari
Kedungwaru Tulungagung.
Wafat pada hari Selasa Pon, 3
Robiul Akhir 1372 H ( 29
Nopember 1954 M) dan
dimakamkan di barat masjid
pondok Mangunsari, sehari
setelah meninggalnya, pada hari
Rabu Wage, 4 Robiul Akhir 1372
H (30 Nopember 1954 M).
Dari garis ayahnya, KHR. Abdul
Fattah putra KH. Hasan Tholabi
Mangunsari Tulungagung. Beliau
keturunan ke 14 dari Sayyid
Nawawi (Sunan Bayat/ Sunan
Pandanaran/ Ihsan Nawawi,
Solo) dan keturunan Rasulullah
Saw ke 31. Sedangkan ibunya
bernama Nyai Dokhinah,
buyutnya Prawiro Projo, patih
Ponorogo ke 5. Nama asli KHR.
Abdul Fattah adalah Muhammad
Ma’ruf. Sebenarnya nama Abdul
Fattah itu adalah nama kecil
teman akrabnya dari Popongan
Jawa Tengah. Beliau berdua
sangat akrab ketika masih
belajar di pondok pesantren
Jamsaren Solo. Untuk
melestarikan hubungan tersebut
beliau berdua saling tukar nama
semenjak pergi menunaikan
ibadah haji sebagi rukun Islam
ke lima.
KHR. Abdul Fattah seorang ulama
yang menguasai berbagai
bidang ilmu agama Islam yang
diperoleh dari berbagai ulama.
Beliau belajar ilmu tauhid kepada
KH. Imam Bahri, PP Mangunsari,
Pace Nganjuk. Belajar ilmu
tasawwuf kepada K. Zaenuddin,
PP Mojosari, Loceret Nganjuk.
Belajar ilmu Fiqh kepada KH.
Zaenuddin, PP Cempaka, Brebek
Nganjuk. Belajar ilmu tafsir
kepada KH. Idris, PP Jamsaren
Solo. Belajar ilmu Hadits kepada
KH. Hasyim Asy’ari, PP Tebuireng
Jombang. Belajar ilmu Nahwu
(Gramatika) kepada KH. Kholil,
Bangkalan Madura. Belajar Al
Qur’an kepada KH. Munawir, PP
Krapyak Yogyakarta. Dan belajar
berbagai bidang ilmu agama
Islam kepada KH. Sayyid Zein dan
KH. Mahfudz At- Turmusy di
Masjidil Haram Makkah Saudi
Arabia. Waktu yang dihabiskan
KHR. Abdul fattah untuk belajar
berbagai ilmu agama Islam di
berbagai pondok pesantren
tersebut selama 24 tahun.
Pada masa penjajahan Jepang,
ulama- ulama di Tulungagung
banyak yang ditangkap oleh
Jepang. Diantaranya adalah KHR.
Abdul Fattah (Mangunsari), Kyai
Syarif (Majan), Kyai Mustaqim
(Kauman) dan lainnya. Mereka
disiksa dengan berbagai macam
penganiayaan; dipukul, disetrum
listrik, dimasukkan ke kandang
ular, ditenggelamkan ke dalam
bak air, disulut dengan api rokok
dan berbagai penyiksaan lainnya.
Mereka tetap tabah menjalani
penyiksaan di dalam tahanan
Jepang. Tidak henti- hentinya
mereka selalu membaca kalimat
thoyyibah; subhanallah,
astaghfirullah, masya-Allah, la
haula wala quwwata illa billah
dsb. KHR.Abdul Fattah ditahan
Jepang jam 8 pagi. Di dalam
tahanan selama 9 bulan. Pulang
dari tahanan hari Senin dan
Selasanya sudah mulai mengajar
santri- santrinya.
Karomah KHR. Abdul Fattah.
Karomah adalah keistimewaan
yang diberikan oleh Allah kepada
hamba- hambanya yang dekat
dengan Allah dan selalu
digunakan untuk kebaikan dan
kemaslahatan umat. Kebalikan
dari karomah adalah istijrod,
yaitu kelebihan yang dimiliki
hamba Allah yang jauh dari Allah
dan biasanya selalu digunakan
untuk tujuan- tujuan yang tidak
baik. KHR. Abdul Fattah adalah
termasuk hamba yang selalu
mendekatkan diri kepada Allah.
Oleh karena itu beliau
mempunyai beberapa karomah,
diantaranya adalah :
1. Setiap hari Senin dan Jum’at
beliau biasanya membaca
sholawat dziba’ rotibul hadad,
tahlil dan dzikir bersama- sama
dengan santri . Pada suatu
ketika, setelah melakukan amal-
amalan bersama santri, beliau
membagi makanan dan
minuman yang dipersiapkan
sendiri. Yang membuat para
santri heran adalah nasi yang
disediakan hanya satu belanga
dan satu kendi minuman, namun
nasi dan minuman tersebut bisa
mencukupi hadirin yang
jumlahnya ratusan dan itupun
masih tersisa.
2. Pada suatu hari Kyai Khobir
bercerita: Kyai Khobir dan bapak
Wardud mengantarkan makanan
beserta lauk pauknya ke tempat
KHR. Abdul Fattah. Beliau hanya
mengambil setengah dari
makanan yang dihidangkan dan
yang setengah lagi disuruh
membawa p**ang. Setelah
sampai di rumah, ternyata
makanan yang tadinya tinggal
separo kembali utuh seperti
semula.
3 Menurut cerita H. Tholhah
Josermo (Surabaya), disaat KHR.
Abdul Fattah bermukim di
pondok Mangunsari Pace
Nganjuk, pada suatu malam Kyai
Imam Bahri (ayah gus Mundir)
melihat cahaya yang bersinar
cemerlang dari kamar KHR. Abdul
Fattah yang sedang tidur di
dalamnya. Akhirnya disaat itu
p**a KHR. Abdul Fattah dibaiat
sebagai thoriqoh kholwatiyah
oleh Kyai Imam Bahri, pimpinan
pondok Mangussari Pace
Nganjuk.
4. Pada suatu hari ada orang
melihat KHR. Abdul Fattah sedang
sholat Jum’at di masjid
Tawangsari, namun orang lain
bercerita melihat beliau, pada
hari Jum’at yang sama, sholat
Jum’at di masjid tiban Sunan
Kuning Macanbang Gondang.
Sehingga keberadaan beliau
tersebut menjadi pembicaraan
para santri pondok.
5. KH. Hasyim Asy’ari Jombang
(waktu itu sebagai ketua PB NU)
ingin menemui KHR. Abdul Fattah
yang sedang berkhalwat.
Sebelumnya menemui Kyai Siroj
untuk menanyakan bagaimana
cara menemui KHR. Abdul Fattah.
Oleh Kyai Siroj diminta menulis di
sabak (papan kecil untuk
menulis) nama dan keperluannya
kemudian dimasukkan lewat
pintu tempat berkhalwat. Jika
KHR. Abdul Fattah berkenan
menerima biasanya sabak
diambil dan diberi jawaban
“Salam dan doa semoga maksud
dan tujuan dikabulkan dan
diridhoi Allah”, dan jika belum
berkenan menerima sabak tidak
diambil. Ternyata sabak tidak
diambil, kemudian KH Hasyim
Asy’ari kembali meneruskan
perjalanannya bersilaturrahmi
kepada Kyai Zarkasyi dan Gus
Qomaruddin Kauman
Tulungagung. Diwaktu yang
sama, KHR Abdul Fattah menemui
Gus Wahid Hasyim (putra KH
Hasyim Asy’ari) di Jombang
menyatakan ingin menemui
ayahnya. Dikatakan oleh Gus
wahid bahwa ayahnya pergi ke
Tulungagung ingin
bersilaturrahmi kepada Gus
Ma’ruf (nama asli KHR. Abdul
Fattah). KHR. Abdul Fattah tidak
bersedia masuk rumah, tapi
istirahat di masjid menunggu
sampai KH. Hasyim Asy’ari datang
dari Tulungagung. Selang
beberapa waktu yang ditunggu
datang dan menceritakan kisah
perjalanannya dari Tulungagung.
KHR. Abdul fattah menjawab:
“Sebetulnya yang harus datang
aku kepada Kyai, bukan malah
kyai datang kepadaku”.
Jasa- jasa KHR. Abdul Fattah
1. Penemu Makam Bedalem.
KHR. Abdul Fattah sebagai
perintis dan pelopor penggalian
benda bersejarah, terutama
makam- makam kuno. Beliaulah
yang menemukan dan menggali
makam Bedalem Campurdarat
yang didalamnya dimakamkan
pejuang- pejuang Islam, yaitu
Pangeran Benowo, Raden Patah
dan Dampu Awang. Setelah
ditemukan makam Bedalem
beliau menyuruh Kyai Maklum
untuk merawat makam dan
mempelopori dakwah Islamiyah
di Campurdarat. Disamping itu
beliau juga mendirikan masjid di
Bedalem.