Tetap Istiqomah Di Nahdlatul Ulama ( NU)

Tetap Istiqomah Di Nahdlatul Ulama ( NU)

Share

Akidah Ahlussunnah Wal Jama'ah Mereka sebenarnya tidak memahami isi al-Qur’an dan hadits, apalagi hingga menafsirkannya. Mudah mengkafirkan muslim lain.

Benteng Ahlussunnah Wal Jama’ah

(Menolak Faham Salafi, Wahabi, MTA, Hizbut Tahrir Dan LDII)

Akhir-akhir ini yang menjadi tantangan bagi warga NU adalah maraknya aliran-aliran baru yang menyimpang dari ajaran ahlussunnah wal jama’ah. Aliran-aliran tersebut seperti, Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA), Syi’ah, Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Salafi Wahabi, dan Hizbut Tahrir (HTI). Dari

Photos 29/10/2013

Ciri-Ciri Ulama Akhirat yang Ikhlas (Majelis Ta’lim Alhabib Ali Alhabsy, Kwitang)

Alhabib Ahmad bin Novel bin Jindan
Dijelaskan kembali tentang ulama suu, di Majelis Ta’lim Alhabib Ali Alhabsy Kwitang, dinukil dari kitab An Nashohihuddiniah, Alhabib Abdullah bin Alwi Alhaddad bahwa ulama itu ada 2 macam: Ulama suu dan ulama akhirat yang ikhlas karena Allah swt.
Dijelaskan oleh Alhabib Ahmad bin Novel bin Jindan, ciri-ciri ulama akhirat yang ikhlas adalah yang paling takut kepada Allah swt. Sekarang ini banyak ulama yang bejad yang bertujuan untuk dirinya, yang gadungan, Maka di dalam Zubad karangan Ibnu Ruslan, kelak di hari kiamat ulama yang tidak mengamalkan ilmunya akan disiksa oleh Allah swt di api neraka sebelum para penyembah berhala.
Jarang ulama saat ini yg seperti Alhabib Ali bin Abdurrahman Alhabsy.. Diceritakan dahulu ketika musim haji dikumpulkanlah ulama-ulama dari penjuru dunia di Hijaz, Mekkah kemudian setiap ulama dipersilahkan satu persatu menyampaikan ceramahnya di depan, dengan hadits-hadits nya, ada yang dengan ayat Quran nya, ada yang dengan kefasihannya. Sementara diluar ada seseorang ulama guru dari habib Utsman bin Yahya. Alhabib Abdullah bin Alwi bin Thohir, beliau disuruh masuk kemudian duduklah beliau karena ketawadhuan beliau. Lalu beliau diminta menyampaikan tausiyahnya setelah ulama yang lainnya bicara.. Lantas beliau pun berbicara dan hanya membaca doa qunut didepan para ulama tersebut. ”Allahummahdina fiiman hadait…dst.. Ketika selesai membacakanya, maka seluruh ulama yang mendengarkannya menangis dan ada p**a yg pingsan…
Lalu salah seorang ulama berdiri dan berkata, ”Wahai para ulama dizaman sekarang ini yang kita butuhkan bukan ceramah dan nasihat yang panjang lebar tapi yang kita butuhkan adalah ulama yang seperti ini.. Inilah ciri ulama akhirat, seperti Alhabib Ali bin Abdurahman Alhabsy, tidak banyak yang beliau sampaikan. Ketika berdiri dimimbar ini ketika beliau mengucapkanLaa ilaha ilallah…maka seluruh jamaah yang mendengarkan nya, berdiri bulu kuduk mereka..
Dijelaskan p**a oleh Alhabib Abdurrahaman bin Ali Alhabsy (semoga Allah swt mengangkat segala penyakit beliau) ngaji dan memilih ulama harus berhati hati, kita harus lihat pada siapa ulama itu mengaji. Kalau dengan KH.Syafii Hadzami, ikuti ia.. Kalau dia ngaji di Kwitang, ikuti ia… karena ulama lah yg membuat dunia ini dipercaya..
Wallôhu A’lam

http://pecintahabibana.wordpress.com/2013/03/10/ciri-ciri-ulama-akhirat-yang-ikhlas-majelis-talim-alhabib-ali-alhabsy-kwitang/

27/08/2013

Mhimhi Chan:

INNA LILLAHI WA INNAILLAIHI ROJI'UN.

LELAYU.
Simbah KH. Salman Dahlawai
Pondok Pesantren AL-MANSHUR
POPONGAN, KLATEN.
(jl. SOLO - JOGJA barat jalan)
Meninggal Saat Menjelang MAGHRIB.
27 Agustus 2013.
Ila Ruhi Simbah Kyai Haji Salman
Dahlawai Popongan KLATEN.
Bisyirril AL FATIHAH..

13/05/2013

Berbagi Catatan : -KH. Hamim Djazuli "Gus Miek"

09/05/2013

Kisah KHR. ABDUL FATTAH
MANGUNSARI PENEMU MAKAM
BEDALEM DAN TAMBAK
5 Votes
KHR. ABDUL FATTAH MANGUNSARI
PENEMU MAKAM BEDALEM DAN
TAMBAK
OLEH: H. NURCHOLIS
Dalam bahasa Jawa ada pepatah
“Kacang ora ninggalne lanjaran”.
Sifat, jasmaniyah dan prilaku
anak biasanya tidak jauh
berbeda dengan sifat,
jasmaniyah dan prilaku yang
dimiliki orang tuanya. Kadang –
kadang sifat, jasmaniyah dan
prilaku anak itu diwarisi dari
ibunya dan kadang dari ayahnya.
Demikianlah yang terjadi pada
sosok KHR. Abdul Fattah, pendiri
pondok pesantren Al- Fattah
Mangunsari Tulungagung,
mempunyai daya juang yang
tinggi sebagimana yang dimiliki
ayah dan ibunya. Perjuangan dan
pengabdian KHR. Abdul Fattah
dalam menegakkan Agama Islam
dapat dilihat pada buku “Wiroh
KHR. Abdul Fattah”.
KHR. Abdul Fattah lahir pada
Kamis Pon, 11 Syawal 1290 H/
1872 M di Mangunsari
Kedungwaru Tulungagung.
Wafat pada hari Selasa Pon, 3
Robiul Akhir 1372 H ( 29
Nopember 1954 M) dan
dimakamkan di barat masjid
pondok Mangunsari, sehari
setelah meninggalnya, pada hari
Rabu Wage, 4 Robiul Akhir 1372
H (30 Nopember 1954 M).
Dari garis ayahnya, KHR. Abdul
Fattah putra KH. Hasan Tholabi
Mangunsari Tulungagung. Beliau
keturunan ke 14 dari Sayyid
Nawawi (Sunan Bayat/ Sunan
Pandanaran/ Ihsan Nawawi,
Solo) dan keturunan Rasulullah
Saw ke 31. Sedangkan ibunya
bernama Nyai Dokhinah,
buyutnya Prawiro Projo, patih
Ponorogo ke 5. Nama asli KHR.
Abdul Fattah adalah Muhammad
Ma’ruf. Sebenarnya nama Abdul
Fattah itu adalah nama kecil
teman akrabnya dari Popongan
Jawa Tengah. Beliau berdua
sangat akrab ketika masih
belajar di pondok pesantren
Jamsaren Solo. Untuk
melestarikan hubungan tersebut
beliau berdua saling tukar nama
semenjak pergi menunaikan
ibadah haji sebagi rukun Islam
ke lima.
KHR. Abdul Fattah seorang ulama
yang menguasai berbagai
bidang ilmu agama Islam yang
diperoleh dari berbagai ulama.
Beliau belajar ilmu tauhid kepada
KH. Imam Bahri, PP Mangunsari,
Pace Nganjuk. Belajar ilmu
tasawwuf kepada K. Zaenuddin,
PP Mojosari, Loceret Nganjuk.
Belajar ilmu Fiqh kepada KH.
Zaenuddin, PP Cempaka, Brebek
Nganjuk. Belajar ilmu tafsir
kepada KH. Idris, PP Jamsaren
Solo. Belajar ilmu Hadits kepada
KH. Hasyim Asy’ari, PP Tebuireng
Jombang. Belajar ilmu Nahwu
(Gramatika) kepada KH. Kholil,
Bangkalan Madura. Belajar Al
Qur’an kepada KH. Munawir, PP
Krapyak Yogyakarta. Dan belajar
berbagai bidang ilmu agama
Islam kepada KH. Sayyid Zein dan
KH. Mahfudz At- Turmusy di
Masjidil Haram Makkah Saudi
Arabia. Waktu yang dihabiskan
KHR. Abdul fattah untuk belajar
berbagai ilmu agama Islam di
berbagai pondok pesantren
tersebut selama 24 tahun.
Pada masa penjajahan Jepang,
ulama- ulama di Tulungagung
banyak yang ditangkap oleh
Jepang. Diantaranya adalah KHR.
Abdul Fattah (Mangunsari), Kyai
Syarif (Majan), Kyai Mustaqim
(Kauman) dan lainnya. Mereka
disiksa dengan berbagai macam
penganiayaan; dipukul, disetrum
listrik, dimasukkan ke kandang
ular, ditenggelamkan ke dalam
bak air, disulut dengan api rokok
dan berbagai penyiksaan lainnya.
Mereka tetap tabah menjalani
penyiksaan di dalam tahanan
Jepang. Tidak henti- hentinya
mereka selalu membaca kalimat
thoyyibah; subhanallah,
astaghfirullah, masya-Allah, la
haula wala quwwata illa billah
dsb. KHR.Abdul Fattah ditahan
Jepang jam 8 pagi. Di dalam
tahanan selama 9 bulan. Pulang
dari tahanan hari Senin dan
Selasanya sudah mulai mengajar
santri- santrinya.
Karomah KHR. Abdul Fattah.
Karomah adalah keistimewaan
yang diberikan oleh Allah kepada
hamba- hambanya yang dekat
dengan Allah dan selalu
digunakan untuk kebaikan dan
kemaslahatan umat. Kebalikan
dari karomah adalah istijrod,
yaitu kelebihan yang dimiliki
hamba Allah yang jauh dari Allah
dan biasanya selalu digunakan
untuk tujuan- tujuan yang tidak
baik. KHR. Abdul Fattah adalah
termasuk hamba yang selalu
mendekatkan diri kepada Allah.
Oleh karena itu beliau
mempunyai beberapa karomah,
diantaranya adalah :
1. Setiap hari Senin dan Jum’at
beliau biasanya membaca
sholawat dziba’ rotibul hadad,
tahlil dan dzikir bersama- sama
dengan santri . Pada suatu
ketika, setelah melakukan amal-
amalan bersama santri, beliau
membagi makanan dan
minuman yang dipersiapkan
sendiri. Yang membuat para
santri heran adalah nasi yang
disediakan hanya satu belanga
dan satu kendi minuman, namun
nasi dan minuman tersebut bisa
mencukupi hadirin yang
jumlahnya ratusan dan itupun
masih tersisa.
2. Pada suatu hari Kyai Khobir
bercerita: Kyai Khobir dan bapak
Wardud mengantarkan makanan
beserta lauk pauknya ke tempat
KHR. Abdul Fattah. Beliau hanya
mengambil setengah dari
makanan yang dihidangkan dan
yang setengah lagi disuruh
membawa p**ang. Setelah
sampai di rumah, ternyata
makanan yang tadinya tinggal
separo kembali utuh seperti
semula.
3 Menurut cerita H. Tholhah
Josermo (Surabaya), disaat KHR.
Abdul Fattah bermukim di
pondok Mangunsari Pace
Nganjuk, pada suatu malam Kyai
Imam Bahri (ayah gus Mundir)
melihat cahaya yang bersinar
cemerlang dari kamar KHR. Abdul
Fattah yang sedang tidur di
dalamnya. Akhirnya disaat itu
p**a KHR. Abdul Fattah dibaiat
sebagai thoriqoh kholwatiyah
oleh Kyai Imam Bahri, pimpinan
pondok Mangussari Pace
Nganjuk.
4. Pada suatu hari ada orang
melihat KHR. Abdul Fattah sedang
sholat Jum’at di masjid
Tawangsari, namun orang lain
bercerita melihat beliau, pada
hari Jum’at yang sama, sholat
Jum’at di masjid tiban Sunan
Kuning Macanbang Gondang.
Sehingga keberadaan beliau
tersebut menjadi pembicaraan
para santri pondok.
5. KH. Hasyim Asy’ari Jombang
(waktu itu sebagai ketua PB NU)
ingin menemui KHR. Abdul Fattah
yang sedang berkhalwat.
Sebelumnya menemui Kyai Siroj
untuk menanyakan bagaimana
cara menemui KHR. Abdul Fattah.
Oleh Kyai Siroj diminta menulis di
sabak (papan kecil untuk
menulis) nama dan keperluannya
kemudian dimasukkan lewat
pintu tempat berkhalwat. Jika
KHR. Abdul Fattah berkenan
menerima biasanya sabak
diambil dan diberi jawaban
“Salam dan doa semoga maksud
dan tujuan dikabulkan dan
diridhoi Allah”, dan jika belum
berkenan menerima sabak tidak
diambil. Ternyata sabak tidak
diambil, kemudian KH Hasyim
Asy’ari kembali meneruskan
perjalanannya bersilaturrahmi
kepada Kyai Zarkasyi dan Gus
Qomaruddin Kauman
Tulungagung. Diwaktu yang
sama, KHR Abdul Fattah menemui
Gus Wahid Hasyim (putra KH
Hasyim Asy’ari) di Jombang
menyatakan ingin menemui
ayahnya. Dikatakan oleh Gus
wahid bahwa ayahnya pergi ke
Tulungagung ingin
bersilaturrahmi kepada Gus
Ma’ruf (nama asli KHR. Abdul
Fattah). KHR. Abdul Fattah tidak
bersedia masuk rumah, tapi
istirahat di masjid menunggu
sampai KH. Hasyim Asy’ari datang
dari Tulungagung. Selang
beberapa waktu yang ditunggu
datang dan menceritakan kisah
perjalanannya dari Tulungagung.
KHR. Abdul fattah menjawab:
“Sebetulnya yang harus datang
aku kepada Kyai, bukan malah
kyai datang kepadaku”.
Jasa- jasa KHR. Abdul Fattah
1. Penemu Makam Bedalem.
KHR. Abdul Fattah sebagai
perintis dan pelopor penggalian
benda bersejarah, terutama
makam- makam kuno. Beliaulah
yang menemukan dan menggali
makam Bedalem Campurdarat
yang didalamnya dimakamkan
pejuang- pejuang Islam, yaitu
Pangeran Benowo, Raden Patah
dan Dampu Awang. Setelah
ditemukan makam Bedalem
beliau menyuruh Kyai Maklum
untuk merawat makam dan
mempelopori dakwah Islamiyah
di Campurdarat. Disamping itu
beliau juga mendirikan masjid di
Bedalem.

02/05/2013

Memahami Hadits "Terputusnya
Amal Orang Yang Meninggal
Kecuali 3 Hal"
Banyak orang salah
mengartikan makna hadits
berikut ini, dengan adanya
salah penafsiran tersebut
mereka mudah meng haramkan
atau mensesatkan amalan-
amalan orang hidup yang
ditujukan pahalanya untuk
orang yang mati.
Hadits riwayat Muslim, Abu
Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan
Ahmad:
ﻋَﻦْ ﺃﺑِﻰ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓ )ﺭ( ﺃﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝ
ﺍﻟﻠﻪ .ﺹَ. ﻗَﺎﻝَ: ﺇﺫَﺍ ﻣَﺎﺕَ ﺍﻹﻧﺴَﺎﻥُ ﺍﻧْﻘَﻄَﻊَ
ﻋَﻤَﻠُﻪُ ﺇﻻَّ ﻣِﻦْ ﺛَﻼَﺙٍ:
ﺻَﺪَﻗَﺔٍ ﺟَﺎﺭِﻳَﺔٍ ﺍَﻭ ﻋِﻠْﻢٍ ﻳُﻨْﺘَﻔَﻊُ ﺑِﻪِ, ﺍَﻭﻭَﻟَﺪٍ
ﺻَﺎﻟِﺢٍ ﻳَﺪْﻋُﻮﻟَﻪُ )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ )
“Apabila seorang manusia
meninggal maka putuslah
amalnya, kecuali tiga hal:
Sedekah jariyah atau ilmu yang
bermanfaat sesudahnya atau
anak yang shalih yang
mendo’akannya”.
Golongan pengingkar berkata:
Kata-kata ingata’a amaluhu
(putus amalnya) pada hadits
tersebut menunjukkan bahwa
amalan-amalan apapun kecuali
yang tiga itu tidak akan sampai
pahalanya kepada mayyit !
Pikiran seperti itu adalah tidak
tepat, karena sebenarnya yang
dimaksud hadits tersebut
sangat jelas bahwa tiap mayit
telah selesai dan putus amal-
nya, karena ia tidak diwajibkan
lagi untuk beramal. Tetapi ini
bukan berarti putus
pengambilan manfaat dari
amalan orang yang masih hidup
untuk si mayit itu. Juga tidak
ada keterangan dalam hadits
tersebut bahwa si mayyit tidak
dapat menerima syafa’at,
hadiah bantuan do’a dan
sebagainya dari orang lain
selain dari anaknya yang sholeh.
Tidak juga berarti bahwa si
mayit tidak bisa berdo’a untuk
orang yang masih hidup. Malah
ada hadits Rasul- Allah saw.
bahwa para Nabi dan Rasul
masih bersembah sujud kepada
Allah swt. didalam kuburnya.
Dalam syarah Thahawiyah
halaman 456 disebutkan:
bahwa dalam hadits tersebut
tidak dikatakan ingata’a
intifa’uhu (terputus keadaannya
untuk memperoleh manfaat)
hanya disebutkan ingata’a
amaluhu (terputus amal- nya).
Adapun amalan orang lain maka
itu adalah milik orang yang
mengamal kannya, jika dia
menghadiahkannya kepada si
mayit, maka akan sampailah
pahala orang yang
mengamalkan itu kepadanya.
Jadi yang sampai itu adalah
pahala orang yang
mengamalkan bukan pahala
amal si mayit itu.
Banyak hadits Nabi saw. yang
berarti bahwa amalan-amalan
orang yang hidup bermanfaat
bagi si mayit diantaranya ialah
do’a kaum muslimin untuk si
mayit pada sholat jenazah dan
sebagainya (baca keterangan
sebelumnya) yang mana do’a ini
akan diterima oleh Allah swt.,
pelunasan hutang setelah
wafat, pahala haji, pahala puasa
dan sebagainya (baca haditsnya
dihalaman selanjutnya) serta
do’a kaum muslimin untuk
sesama muslimin baik yang
masih hidup maupun yang
sudah wafat sebagaimana yang
tercantum pada ayat Ilahi Al-
Hasyr.10 .
Begitu juga pendapat sebagian
golongan yang mengikat hanya
do’a dari anak sholeh saja yang
bisa diterima oleh Allah swt.
adalah pikiran yang tidak tepat
baik secara naqli (nash)
maupun aqli (akal) karena hal
tersebut akan bertentangan
juga dengan ayat ilahi dan
hadits-hadits Nabi saw.
mengenai amalan-amalan serta
do’a seseorang yang
bermanfaat bagi si mayit
maupun bagi yang masih hidup.
Mengapa dalam hadits ini
dicontohkan do’a anak yang
sholeh karena dialah yang bakal
selalu ingat pada orang tuanya
dimana orang-orang lain telah
melupakan ayahnya. Sedangkan
anak yang tidak pernah atau
tidak mau mendo’akan orang
tuanya yang telah wafat itu
berarti tidak termasuk sebagai
anak yang sholeh.
Dari anak sholeh ini si mayit
sudah pasti serta selalu
(kontinu) menerima syafa’at
darinya. Begitulah yang
dimaksud makna dari hadits ini,
dengan demikian hadits ini
tidak akan berlawanan/
berbenturan maknanya dengan
hadits-hadits lain yang
menerangkan akan sampainya
pahala amalan orang yang
masih hidup (penebusan
hutang, puasa, haji, sholat dan
lain-lain) yang ditujukan kepada
simayit. Begitu juga mengenai
amal jariahnya dan ilmu yang
bermanfaat selama dua hal ini
masih diamalkan oleh manusia
yang masih hidup, maka si
mayit selalu (kontinu) menerima
juga syafa’at darinya.
Kalau kita tetap memakai
penafsiran golongan
pengingkar yang hanya mem-
batasi do'a dari anak sholeh
yang bisa sampai kepada
mayyit, bagaimana halnya
dengan orang yang tidak
mempunyai anak? Apakah
orang yang tidak punya anak ini
tidak bisa mendapat syafa'at/
manfaat do'a dari amalan orang
yang masih hidup? Bagaimana
do’a kaum muslimin pada
waktu sholat jenazah, apakah
tidak akan sampai kepada si
mayyit? Sekali lagi penafsiran
dan pembatasan hanya do'a
anak sholeh yang bermanfa’at
bagi si mayyit adalah tafsiran
yang salah, karena
bertentangan dengan hadits-
hadits shohih mengenai
amalan-amalan orang hidup
yang bermanfaat buat si mayyit.
Dalam Al-Majmu’ jilid 15/522
Imam Nawawi telah
menghikayatkan ijma’ ulama
bahwa ‘sedekah itu dapat
terjadi untuk mayyit dan sampai
pahalanya dan beliau tidak
mengaitkan bahwa sedekah itu
harus dari seorang anak ’.
Hal yang serupa ini juga
diungkapkan oleh Syaikh Bakri
Syatha Dimyati dalam kitab
I’anatut Thalibin jilid 3/218: ‘
Dan sedekah untuk mayyit
dapat memberi manfaat
kepadanya baik sedekah itu
dari ahli warisnya ataupun dari
yang selainnya’
Juga hadits-hadits Nabi saw.
mengenai hadiah pahala
Qurban diantaranya yang
diriyayatkan oleh Muslim dari
Anas bin Malik ra:
ﻋَﻦْ ﺃﻧَﺲِ )ﺭ( ﻋَﻦْ ﻋَﻠِﻰّ )ﻛَﺮَّﻣَﻪُ ﺍﻟﻠﻪُ
ﻭَﺟْﻬَﻪ( ﺍَﻧَّﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﻀَﺤِّﻰ ﺑِﻜَﺒْﺸَﻴْﻦِ
ﺍَﺣَﺪُﻫُﻤَﺎ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰ.ﺹَ.
ﻭَﺍﻵﺧَﺮُ ﻋَﻦْ ﻧََﻔْﺴِﻪِ ﻓَﻘِﻴْﻞَ ﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺎﻝَ
ﺍَﻣَﺮَﻧِﻲ ِﺑﻪِ ﻳَﻌْﻨِﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰ ﺍَﺩَﻋُﻪُ ﺍَﺑَﺪًﺍ .
“Dari Anas bahwasanya Ali kw.
berkorban dengan dua ekor
kambing kibas. Yang satu
(pahalanya) untuk Nabi
Muhammad saw.dan yang
kedua (pahalanya) untuk beliau
sendiri. Maka ditanyakanlah hal
itu kepadanya (Ali kw.) dan
beliau menjawab : ‘Nabi
saw.memerintahkan saya untuk
melakukan hal demikian maka
saya selalu memperbuat dan
tidak meninggalkannya‘ ”. (HR
Turmudzi).
Aisyah ra mengatakan
bahwasanya Rasulallah saw.
menyuruh didatangkan seekor
kibas untuk dikorbankan.
Setelah didatangkan beliau saw.
berdo’a :
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺗَﻘَﺒَّﻞْ ﻣِﻦْ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﺁﻝِ
ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻣِﻦْ ﺍُﻣَّﺔِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺛُﻢَّ ﺿَﺤَّﻰ ﺑِﻪِ
“Dengan nama Allah ! Ya, Allah
terimalah (pahala korban ini)
dari Muhamad, keluarga
Muhamad dan dari ummat
Muhammad ! Kemudian Nabi
menyembelihnya”. (HR. Muslim)
Begitu juga hadits yang senada
diatas dari Jabir ra yang
diriwayatkan oleh Ahmad, Abu
Dawud dan Turmudzi yang
menerangkan bahwa ia pernah
shalat 'Iedul Adha bersama
Rasulallah saw., setelah selesai
shalat beliau di- berikan seekor
domba lalu beliau
menyembelihnya seraya
mengucapkan:
“Dengan nama Allah, Allah Maha
Besar, Ya Allah, kurban ini
untukku dan untuk umatku
yang belum melakukan
qurban”.
Tiga hadits diatas ini
menunjukkan hadiah pahala
korban dari Sayyidina Ali kw
untuk dirinya dan untuk Nabi
saw., begitu juga pahala korban
dari Nabi saw. untuk diri beliau
saw., para keluarganya dan
bahkan untuk segenap
ummatnya. Hadits-hadits ini
malah membolehkan hadiah
pahala amalan yang ditujukan
kepada orang yang masih
hidup yang belum sempat ber-
qurban, padahal orang yang
hidup itu masih bisa beramal
sendiri didunia ini.
Imam Nawawi dalam syarah
Muslim jilid 8/187
mengomentari hadits diatas ini
dengan katanya: ‘Diperoleh dalil
dari hadits ini bahwa seseorang
boleh berkorban untuk dirinya
dan untuk segenap keluarganya
serta menyatukan mereka
bersama dirinya dalam hal
pahala. Inilah madzhab kita dan
madzhab jumhur’.
Juga pengarang kitab Bariqatul
Muhammadiyah
mengkomentari hadits diatas
tersebut dengan katanya; “Do’a
Nabi saw. itu menunjukkan
bahwa Nabi menghadiahkan
pahala korbannya kepada
ummatnya dan ini merupa- kan
pengajaran dari beliau bahwa
seseorang itu bisa memperoleh
manfaat dari amalan orang lain.
Dan mengikuti petunjuk beliau
saw. tersebut berarti
berpegang dengan tali yang
teguh”.
Juga sepakat kaum muslimin
bahwa membayarkan hutang
dapat menggugur kan
tanggungan mayyit walaupun
pembayaran tersebut dilakukan
oleh orang yang lain yang
bukan dari keluarga mayyit. Hal
yang demikian ini ditunjukkan
oleh Abi Qatadah dimana beliau
menanggung hutang seorang
mayyit sebesar dua dinar.
Tatkala beliau telah
membayarkan yang dua dinar
itu Nabi saw. bersabda:
‘Sekarang bisalah dingin
kulitnya’. (HR. Imam Ahmad).
Begitupun juga tidak ada dalil
jelas yang mengatakan
pembacaan Al-Qur’an tidak akan
sampai pada si mayit. Jadi
dengan banyaknya hadits dari
Nabi saw. mengenai sampainya
pahala amalan atau manfaat
do’a untuk si mayit bisa dipakai
sebagai dalil sampainya juga
pahala pembacaan Al-Qur’an
pada si mayit. Sayang sekali
kalau hal ini kita remehkan dan
tinggalkan, karena Rahmat dan
Karunia Ilahi tidak ada batasnya.

02/05/2013

Nahdlatul Ulama lahir di Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344H. atau 31 januari 1926. Tokoh-tokoh yang mendirikan organisasi NU
adalah :

Sukai Dukung NU Mendirikan TV NU Nusantara

1.KH.Hasyim Asy’ari dari Tebuireng
Jombang

2.KH.Abdul Wahab Hasbullah dari
Surabaya

3.KH.Bisyri Samsoeri dari Denanyar
Jombang

4.KH.Ridwan dari Semarang

5.KH.Raden Asnawi dari Kudus

6.KH.Raden Hambali dari Kudus

7.KH.Nachrowi dari Malang

8.KH.nDoro Mustofa menantu
KH.Kholil Bangkalan Madura

9.KH.Nawawi dari Pasuruan

silahkan Klik Juga :Ayat-Ayat Cinta

24/04/2013

HUKUM BERGURU PADA INTERNET

Zaman globalisasi sudah tidak
terhindari lagi. Globalisasi seolah
meruntuhkan tembok pemisah ruang dan waktu. Sehingga
kejadian di belahan bumi utara bisa diterima beberapa detik dibelahan bumi selatan.
Begitulah karakter globalisasi yang cenderung merusak
berbagai pelanggeran, termasuk di dalamnya juga berbagai
pelanggaran keagamaan.
Sehingga di zaman globalisasi ini susah sekali membedakan antara alim(orang yang mengerti) dan
jahil (orang yang tidak mengerti),
antara faqih dan bukan faqih,
antara mufassir (ahli tafsir) dan mengaku-ngaku ahli tafsir.
Demikianlah keadaannya,berbagai informasi dan
pengetahuan dengan mudah dapat diakses di dunia cyber
(internet). Bahkan yang memperparah keadaan adalah
banyaknya orang yang
menjadikan dunia maya (internet) sebagai seorang guru
tempat bertanya dan mencari tahu. Dan celakanya dari guru
(dunia maya) inilah mereka lalu
menyebarkan apa yang di dapatnya kepada murid-
muridnya.
Memang, tidak semua yang ada di internet adalah tidak benar.
Banyak sekali kebenaran yang
terserak di sana, akan tetapi kebenaran itu belum teruji dan
masih perlu diferifikasi lebih
lanjut. Karena bagaimanapun
internet bukanlah guru yang memiliki sanad yang jelas,
bahkan internet sering menjadi
penyebar hal-hal negative. Alih-
laih membawa berkah, internet
banyak sekali memberi musibah.
Bagaimana bisa menjadikan seseuatu yang menyebabkan
musibah sebagai seorang guru?

Sungguh terlalu.
Oleh karena itu, kberadaan globalisasi dan internet yang
tidak dapat dihindarkan harus
diposisikan yang benar dan memberi manfaat. Sebagaimana
pisau ditangan tukang masak bukan di tangan preman.
Demikianlah yang dilakukan oleh
Rasulullah saw. yang berguru langsung kepada Jibril.
Demikianlah tuntunan agama yang baik sebagaimana
dilanutnkan dalam sya’ir:

ﻭﻣﻦ ﻳﺄﺧﺬ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻣﻦ ﺷﻴﺦ ﻣﺸﺎﻓﻬﺔ #
ﻳﻜﻦ ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻳﻎ ﻭﺍﻟﺘﺼﺤﻴﻒ ﻓﻰ ﺣﺮﻡ
ﻭﻣﻦ ﻳﻜﻦ ﺃﺧﺬﺍ ﻟﻠﻌﻠﻢ ﻣﻦ ﺻﺤﻒ #
ﻓﻌﻠﻤـــﻪ ﻋﻨﺪ ﺃﻫــــــــﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻛﺎﻟﻌﺪﻡ

Barangsiapa yang mengambil ilmu dari seorang guru dengan
musyafahah (berhadap-hadapan
langsung), niscaya terpeliharalah
ia dari pada tergelincir dan keliru.
Dan barangsiapa mengambil ilmu
dari buku-buku (apalagi internet)
, maka pengetahuannya menurut penilaian ahli ilmu adalah nihil
semata.
Demikianlah seharusnya
memposisikan internet sebagai
media yang harus dikonfirmasi
kembali berbagi informasi di
dalamnya. Tidaklah layak langsung ditelan, tetapi harus
dimasak lebih dahulu.
Sayang sekali, banyak sekali orang terlalu tinggi ego dalam
dirinya sehingga malu bertanya dan enggan mengakui orang lain
sebagai gurunya yang lebih tahu. Jika sudah demikian maka
percuma berbagai nasehat, karena keinkarannya lebih kuat dari pada keinginan untuk
belajar.

ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ ﻻﻳﻔﻴﺪﻩ ﺍﻟﺘﻄﻮﻳﻞ ﻭﻟﻮ ﺗﻠﻴﺖ ﻋﻠﻴﻪ
ﺍﻟﺘﻮﺭﺍﺓ ﻭﺍﻻﻧﺠﻴﻞ

Tidaklah berguna berpanjang kalam (keterangan) bagi orang yang telah inkar, walaupun
dibacakan untuknya taurat dan injil.

Redaktur:
Ulil Hadrawy

18/03/2013

Sukai Rahasia Ketajaman Mata Hati

17/02/2013

Dukung NU Mendirikan TV NU NusantaraSINI

17/02/2013

Klik Di Dukung NU Mendirikan TV NU NusantaraSINI

04/02/2013

- mutiara kata imam hasan al-basri
Imam Hasan al-Basri
Rahimahullah di tanya,

"Apakah rahsia sikap
kezuhudan kamu terhadap dunia?".

Beliau menjawab,
"Aku tahu bahawa rezekiku tidak akan diambil oleh orang
lain, maka hatiku menjadi tenang. Aku tahu bahawa
amalanku tidak akan
dilakukan oleh orang lain kecuali diriku sendiri, maka
aku sibuk melakukan amalan- amalan untukku. Aku tahu
bahawa Allah memantau aku,
maka aku malu menemuiNYA dengan dosa-dosa. Aku tahu
bahawa kematian sentiasa menantiku, maka aku sediakan bekalan untuk bertemu Allah".

17/01/2013

Assalamualaikum..
Dulor-Dulor,di Bukak Pendaftaran Kulya (kuliah Di Dunia Maya)
di Universitas Makam Indonesia - UMI
Dgn Jurusan
-mauludan
-haul
-Tahlil
-manaqib
-ziaroh Kubur
-dll..
-

Want your school to be the top-listed School/college in Nganjuk?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Nganjuk