Yayasan Pendidikan Islam "A. Ghaffar Ismail" Mandah-Lampung

Yayasan Pendidikan Islam "A. Ghaffar Ismail" Mandah-Lampung Yayasan Pendidikan Islam "A Ghaffar Ismail"

https://nataragung.id/berita/mutiara-pagi-jangan-ukur-dirimu-dengan-keberhasilan-orang-lain-oleh-ustadz-h-komiruddin-imr...
25/08/2026

https://nataragung.id/berita/mutiara-pagi-jangan-ukur-dirimu-dengan-keberhasilan-orang-lain-oleh-ustadz-h-komiruddin-imron-lc

Mutiara Pagi: Jangan Ukur Dirimu Dengan Keberhasilan Orang Lain.
Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Jangan pernah menjadikan hidup orang lain sebagai penggaris untuk mengukur hidupmu sendiri.

Setiap manusia memulai perjalanan dari titik yang berbeda. Ada yang sejak awal memiliki jalan yang lapang, ada yang harus berjalan tertatih-tatih. Ada yang memperoleh pendidikan dan kesempatan yang luas, sementara yang lain harus berjuang keras hanya untuk mendapatkan kesempatan yang sama. Ada yang cepat sampai karena jalannya lurus, ada p**a yang lambat karena harus melewati banyak tanjakan.

Maka, keberhasilan tidak bisa diukur dengan satu ukuran yang sama untuk semua orang.

Allah Subḥanahu wata'ala berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kemampuan, beban, keadaan, dan ujian yang berbeda. Karena itu, perjalanan hidup mereka pun tidak mungkin sama.

Jangan merasa gagal hanya karena orang lain telah sampai pada sesuatu yang belum engkau miliki. Jangan p**a merasa rendah karena langkahmu lebih lambat. Bisa jadi, orang lain sedang berlari di jalan yang rata, sedangkan engkau sedang mendaki gunung. Bukankah berjalan beberapa langkah saat mendaki kadang membutuhkan tenaga lebih besar daripada berlari di jalan yang datar?

Yang seharusnya engkau bandingkan bukanlah dirimu dengan orang lain, tetapi dirimu hari ini dengan dirimu di masa lalu.

Tanyakan kepada dirimu:

Apakah imanku hari ini lebih baik daripada kemarin?
Apakah ilmuku bertambah?
Apakah akhlakku semakin baik?
Apakah kesabaranku semakin kuat?
Apakah aku semakin dekat kepada Allah?

Jika jawabannya ada kemajuan, walaupun kecil, maka jangan anggap dirimu gagal. Engkau sedang bertumbuh.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kemajuan tidak selalu berupa lompatan besar. Kadang ia hanya berupa satu langkah kecil yang dilakukan dengan istiqamah. Sedikit demi sedikit, hari demi hari, seseorang berubah tanpa ia sadari.

Allah Subḥanahu wata'ala juga berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ۝ وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya. Dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan kepadanya.” (QS. An-Najm: 39–40)

Perhatikanlah, Allah tidak memerintahkan kita untuk menjadi seperti orang lain. Yang Allah lihat adalah usaha dan perjuangan kita. Setiap orang akan mempertanggungjawabkan perjalanan hidupnya sendiri.

Karena itu, jangan habiskan hidupmu dengan menghitung keberhasilan orang lain hingga lupa mensyukuri kemajuanmu sendiri.

Mungkin dahulu engkau mudah marah, sekarang mulai belajar menahan diri. Dahulu engkau jarang membaca Al-Qur'an, sekarang mulai membacanya setiap hari. Dahulu engkau jauh dari masjid, sekarang mulai merindukan azan. Dahulu engkau mudah putus asa, sekarang mampu bertahan dalam ujian.

Bukankah itu semua adalah keberhasilan?

Jangan meremehkan perubahan kecil. Sebab pohon yang besar pun tidak tumbuh dalam semalam. Ia bermula dari benih kecil, lalu berakar, bertunas, tumbuh perlahan, diterpa hujan dan angin, hingga akhirnya berdiri tegak.

Fakta kehidupan juga menunjukkan bahwa setiap orang memiliki “garis start” yang berbeda. Latar belakang keluarga, pendidikan, kondisi ekonomi, kesempatan, lingkungan, kemampuan, dan ujian hidup tidak sama. Karena itulah membandingkan hasil akhir tanpa melihat titik awal dan perjalanan seseorang adalah perbandingan yang tidak adil.

Maka berhentilah bertanya, “Mengapa aku belum seperti dia?”

Mulailah bertanya, “Apakah aku sudah lebih baik daripada diriku yang dahulu?”

Jika hari ini engkau lebih sabar, itu kemajuan.
Jika hari ini engkau lebih berilmu, itu kemajuan.
Jika hari ini engkau lebih dekat kepada Allah, itu keberhasilan yang besar.
Dan jika hari ini engkau jatuh, tetapi masih memiliki keinginan untuk bangkit, itu pun tanda bahwa engkau belum kalah.

Jangan bandingkan halaman pertama hidupmu dengan halaman keseratus kehidupan orang lain.

Teruslah berjalan. Tidak perlu menjadi orang lain. Jadilah dirimu yang terus diperbaiki, hari demi hari.

Sebab keberhasilan sejati bukan ketika engkau berhasil mengalahkan orang lain, tetapi ketika engkau berhasil menjadi lebih baik daripada dirimu yang kemarin—dan terus berjalan menuju ridha Allah.

“Jangan iri pada jauhnya perjalanan orang lain. Lihatlah langkahmu sendiri. Selama engkau bergerak menuju kebaikan, sekecil apa pun langkah itu, engkau tidak sedang tertinggal. Engkau sedang dalam perjalanan.”

اللَّهُمَّ اجْعَلْ يَوْمَنَا خَيْرًا مِنْ أَمْسِنَا، وَغَدَنَا خَيْرًا مِنْ يَوْمِنَا

“Ya Allah, jadikanlah hari kami lebih baik daripada hari kemarin, dan hari esok kami lebih baik daripada hari ini.” (*/236).
WaAllahu A'lam

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

https://nataragung.id/berita/mutiara-pagi-tiga-akar-kesalahan-manusia-oleh-ustadz-h-komiruddin-imron-lcMutiara Pagi: Tig...
24/08/2026

https://nataragung.id/berita/mutiara-pagi-tiga-akar-kesalahan-manusia-oleh-ustadz-h-komiruddin-imron-lc

Mutiara Pagi: Tiga Akar Kesalahan Manusia.
Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Tidak setiap kesalahan lahir dari sebab yang sama. Ada orang yang salah karena lalai, ada yang jatuh karena lemah, dan ada p**a yang sengaja berbuat salah karena membangkang.

Memahami perbedaan ini sangat penting. Sebab, cara menghadapi kesalahan pun tidak selalu sama. Ada kesalahan yang cukup diingatkan, ada yang harus dibimbing dan dibantu untuk bangkit, dan ada pembangkangan yang memerlukan ketegasan serta peringatan.

Al-Qur'an memberikan kepada kita pelajaran tentang tiga akar kesalahan tersebut.

1.Kesalahan karena Ghaflah (الغفلة): Lalai atau Belum Mengetahui

Ketika Allah Subḥanahu wata'ala hendak menjadikan Adam alaihis salam sebagai khalifah di bumi, para malaikat bertanya:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang akan berbuat kerusakan di sana dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-Baqarah: 30)

Pertanyaan para malaikat bukanlah pembangkangan terhadap Allah. Mereka bertanya berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki, sementara ada ilmu dan hikmah Allah yang belum mereka ketahui.

Lalu bagaimana Allah meluruskan pemahaman mereka?

Allah tidak mencela mereka dengan keras. Allah mengajarkan dan memperlihatkan kepada mereka sesuatu yang belum mereka ketahui:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat, lalu berfirman, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama semua itu, jika kamu orang-orang yang benar.’ (QS. Al-Baqarah: 31)

Inilah pelajaran penting: ada kesalahan yang lahir karena seseorang belum tahu, lupa, atau belum melihat persoalan secara utuh. Kesalahan seperti ini sering kali tidak memerlukan kemarahan yang berlebihan. Cukup diberi ilmu, dijelaskan, dan diingatkan.

Jangan setiap orang yang salah langsung kita anggap jahat. Bisa jadi ia hanya belum tahu.

2.Kesalahan karena Dha'f (الضعف): Kelemahan Manusia

Jenis kedua adalah kesalahan yang terjadi karena kelemahan.

Manusia mengetahui kebenaran, memahami larangan, bahkan mungkin ingin menaati Allah. Namun ia memiliki kelemahan: lupa, tergoda, terburu-buru, atau tidak mampu bertahan ketika menghadapi godaan.

Allah Subḥanahu wata'ala berfirman tentang Nabi Adam alaihis salam:

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَىٰ آدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا

“Dan sungguh, Kami telah memberikan perintah kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan Kami tidak mendapati padanya kemauan yang kuat.” (QS. Thaha: 115)

Adam alaihis salam telah mengetahui larangan Allah. Namun beliau diuji oleh godaan setan. Terjadi kelemahan dan kelalaian manusiawi.

Inilah hakikat manusia: ia tidak selalu jatuh karena ingin durhaka. Terkadang ia jatuh karena lemah.

Maka, kepada orang yang salah karena kelemahan, jangan hanya berkata, “Kamu memang buruk!” Bantulah ia menguatkan dirinya. Jangan hanya menghukumnya, tetapi tuntunlah ia untuk kembali.

Sebab Allah sendiri berfirman:

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa': 28)

Orang yang jatuh karena kelemahan membutuhkan nasihat, kasih sayang, pertolongan, dan kesempatan untuk bertaubat.

Kadang seseorang bukan tidak mencintai kebenaran. Ia hanya sedang lemah dalam mempertahankannya.

3.Kesalahan karena Pembangkangan: Menolak Kebenaran dengan Sombong

Inilah jenis kesalahan yang paling berbahaya: seseorang mengetahui perintah Allah, memahami kebenaran, tetapi dengan sengaja menolak dan membangkang.

Inilah yang dilakukan Iblis.

Allah Subḥanahu wata'ala berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ

“Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolak.” (QS. Thaha: 116)

Kemudian Allah memperingatkan Adam alaihis salam

فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَٰذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَىٰ

“Kemudian Kami berfirman, ‘Wahai Adam! Sungguh, ini adalah musuh bagimu dan bagi istrimu. Maka sekali-kali jangan sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, sehingga engkau menjadi celaka.’” (QS. Thaha: 117)

Iblis tidak salah karena tidak tahu. Ia tahu siapa yang memerintahkannya. Ia tahu perintah itu datang dari Allah. Tetapi kesombongan membuatnya menolak.

Kesalahannya bukan sekadar ghaflah. Bukan p**a sekadar kelemahan. Akan tetapi pembangkangan yang disengaja.

Al-Qur'an menjelaskan:

أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Ia enggan dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)

Inilah kesalahan yang harus diwaspadai. Ketika seseorang sudah mengetahui kebenaran, tetapi menolaknya karena sombong, ego, hawa nafsu, atau kepentingan, maka persoalannya bukan lagi kekurangan ilmu semata.

Yang diperlukan adalah taubat yang sungguh-sungguh dan penghancuran kesombongan di dalam hati.

TIGA SEBAB, TIGA CARA MENYIKAPI

Dari sini kita belajar sebuah hikmah besar: jangan menyamakan semua orang yang melakukan kesalahan.

Pertama, jika ia salah karena lalai atau belum tahu, berilah ia penjelasan.
Jangan langsung menghakimi. Bisa jadi satu kalimat ilmu sudah cukup untuk meluruskan kesalahannya.

Kedua, jika ia salah karena kelemahan, kuatkanlah ia.
Jangan mendorong orang yang sedang jatuh semakin dalam. Pegang tangannya, nasihati, dan bantu ia bangkit.

Ketiga, jika ia salah karena pembangkangan, hadapilah dengan ketegasan.
Karena masalahnya bukan sekadar tidak tahu atau tidak mampu, tetapi adanya penolakan terhadap kebenaran.

Betapa banyak kerusakan dalam hubungan suami istri, keluarga, persahabatan, dan masyarakat terjadi karena kita tidak mampu membedakan tiga jenis kesalahan ini.

Ada orang yang tidak tahu, tetapi kita perlakukan seperti pemberontak.

Ada orang yang lemah, tetapi kita perlakukan seperti orang yang sengaja menantang kebenaran.

Dan ada p**a orang yang sengaja membangkang, tetapi terus diberi alasan seolah-olah ia hanya tidak tahu.

Karena itu, sebelum menghakimi seseorang, tanyakanlah:

Apakah ia salah karena belum tahu?
Apakah ia salah karena sedang lemah?
Ataukah ia benar-benar mengetahui, tetapi memilih untuk membangkang?

Sebab memahami akar kesalahan adalah langkah pertama untuk memberikan obat yang tepat.

Kesalahan karena ketidaktahuan, obatnya adalah ilmu.
Kesalahan karena kelemahan, obatnya adalah penguatan dan taubat.
Kesalahan karena pembangkangan, obatnya adalah ketundukan, kerendahan hati, dan kembali kepada kebenaran.

Semoga Allah Subḥanahu wata'ala menjauhkan kita dari kelalaian, menguatkan kita dalam menghadapi kelemahan, dan melindungi hati kita dari kesombongan serta pembangkangan.

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

“Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya. Perlihatkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya.”

Aamiin ya Rabbal 'alamin. (*/235)
WaAllahu A'lam

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

https://nataragung.id/berita/cekhita-lappung-nasihat-mehayu-mengelola-majelis-taklim-tulisan-mang-kumirCekhita Lappung -...
23/08/2026

https://nataragung.id/berita/cekhita-lappung-nasihat-mehayu-mengelola-majelis-taklim-tulisan-mang-kumir

Cekhita Lappung - Nasihat Mehayu: Mengelola Majelis Taklim.
Tulisan: Mang Kumir *)

nataragung.id - Teginenong - Bingi sina gerimis khag-goh lalun-lalun ngebasohi tekhabbah mesigid Al-Furqon. Lappu-lappu mesigid nyinakhi lattai kekhamik. Pattulan cahaya ni kuning-kuning di lattai sai pagun basoh kena tapak selop jama'ah. Pengajian Ba'da Isya appai bekhadu.

Tapi jama'ah sai khatong bingi iji mak lebih anjak belasan jelema gawoh. Shaf sai biasa ni ngisi penuh, tenah-han renggang.

Se-khadu pengajian, nayah jama'ah sai kak mulang. Tinggal pikha-pikha pengurus mesigid sai pagun ngeberes ko sulan khik kabel sound system.

Di sudut mesigid, Ardi - pengurus mesigid, lalun-lalun ngitai Ustadz Munawwar sai lagi ngerapi ko kitab ni.

"Maaf, Ustadz... jama'ah ni cutik," cawa ni lalun. "Maklum warga dija masing-masing ngedok kesibukan."

Ustadz Munawwar nyengih tenang.

"Tapi masyarakat pan-ndai lamun bingi sa wat pengajian?"

“In Syaa Allah pan-ndai, Ustadz. Khadu di umum ko se-khadu sembayyang Maghrib pikha khani sai likut. Jama'ah mesigid munih khadu dijuk pan-ndai."

Ustadz Munawwar mengangguk lalun.

"Lamun jama'ah haga khamik, mak cukup cuma di umum ko gawoh, harus ngedok rekayasa..., harus di kelola."

Ardi tenah-han penasaran.

"Rekayasa api cawi, Ustadz?"

Ustadz Munawwar mejong luwot di ke-khassi khadik tiang mesigid. Bunyi ni tenang tapi setiap cawani te-khasa mengandung penekanan.

"Gohiji, Ardi.....

Pertama, bentuk tim khusus guway ngelola majelis taklim sa. Libatko unyin pengurus mesigid. Dang sappai pengajian di ang-ngop acara tam-mbahan. Majelis ilmu harus jadi program utama mesigid.

Tim ina natti nyusun rencana kekhaj-ja. Misal ni target sai semester atawa setahun. Sapa ustadz sai haga di diundang, tema-tema ni api, kapan jadwal ni, malah sappai anggaran konsumsi khik publikasi ni hakhus di pikekh ko."

Hulu Ardi ngangguk-ngangguk suwa memperhatiko

"Ke-khua," lanjut Ustadz Munawwar, "data masyarakat sekitar mesigid. Kenali jama'ah ni. Sapa sai khajin guk mesigid, sapa sai jakhang khatong, sapa tokoh masyarakat ni, sapa kaban sanak ngu-kha ni.

Dakwah ina dapok lebih mudah, lamon kham kenal sapa-sapa sai kham dakwahi."

“Masya Allah..., iyu munih, Ustadz,” sela Ardi.

"Ketel-lu, guway pamflet atawa pengumuman sai menarik. Tempelko di papan mesigid jama di pok-pok sai starategis. Dang nagan ko usang be minggu-minggu. Perbarui tekhus.

Lamun pengumuman ni menarik, ulun jadi pan-ndai. Lajin ulun pan-ndai makkung tattu khatong. Mulani pekhallu lakkah selanjut ni.

"Ke-eppak, guway undangan tertulis atawa kikhim pesan pribadi guk warga. Kadang-kadang ulun mak khatong, layin ulah mak haga, tapi ulah ia nge-khasa mak di ajak."

Gerimis di luwah tambah jelas ketengisan.

Pikha-pikha jama'ah sai makkung mulang nutuk nge-khad-dik. Tiyan menong nengis ko.

"Kelima," lanjut Ustadz Munawwar, "guway suasana majelis sai menyenangko, kaban ulun ge-khing khatong guk pok sai nyaman."

Mesigid dawak, sound jelas, udara sejuk, pelayanan ni betik.

Lamun pekhallu, sedia ko teh hangat, kupi, atawa kikim gukhing. Dang ang-ngop enteng pekakha-pekakha lunik macam sa.

Kadang sai nge-guway ulun ngi-kham haga khatong layin ulah ilmu ni, tapi ulah suasana ukhuwah ni.

Ardi nyengih.

"Oh... gohna ya, Ustadz?"

“Iyu lah,” jawab Ustadz Munawwar.

"Ulun sai haga jualan bakhang dunia gawoh nge-guway target, strategi, promosi, pelayanan jama evaluasi.

Nah, iji sai kham perjuang ko adalah dakwah, agama Allah, khanglaya nuju surga.

Jadi tattu hakhus lebih pantas luwot, lamun di kelola jama temon-temon."

Beliau bekhadu sekhab-bok, tekhus melanjut ko:

"Mesigid dang cuma hukhik watta puasa atawa khani Jum'at gawoh.

Mesigid harus jadi pusat ilmu. Pusat persaudaraan, pusat pembinaan umat. Ngan hati-hati sai jawoh, tagan tam-mbah khaddik jama Allah."

Suasana mesigid mendadak te-khasa han-ndop, walaupun cuaca ngison mulai menusuk.

Ardi medduko ruangan mesigid sai mulai sepi jama pedduan sai bebida.

Delom hati ni tuwoh semangat baru.

Mukkin selama iji, tiyan cuma ngadako pengajian....

Tapi makkung sungguh-sungguh mengelola majelis ilmu.

Mak munni, Ustadz Munawwar, temegi suwa makai selop.

"Kak khallom, sikam pekhemisi pay."

“Syukran, Ustadz, atas nasihat ni,” cawa Ardi suwa nyalami beliau.

Di luwah, gekhimis pagun khag-goh lalun-lalun.

Bingi sina..., di mesigid Al-Furqan sai lunik ina, sebuah kesadaran mulai tuwoh.

Bahwa dakwah sai balak, mak cukup cuma jama niat sai betik

Dakwah pekhallu perencanaan. Pekhallu kesungguhan, pekhallu sakai-sambayyan.

Pekhallu kerjasama. Pekhallu pelayanan sai betik guway umat.

Sebab majelis taklim layin sekadar acara khatong, mejong, nengis tekhus mulang.

Majelis taklim adalah pok ngan nuwoh ko iman, menyambung silaturahmi khik ngebina umat.

Jadi lamun kham mekhat-tok jama'ah ni khamik, dang cuma nung-ngu jama'ah khatong. Khatongi tiyan jama perhatian. Ajak tiyan jama kasih sayang. Kelola jama sungguh-sungguh.

Ulah dapok jadi...

Jama'ah mak khatong layin ulah tiyan mak butuh ilmu. Tapi ulah kham mak cukup sungguh-sungguh ngelola khanglaya tagan ilmu ina sappai jama tiyan.

"Majelis sai betik, layin cuma majelis sai nayah jama'ah ni. Tapi majelis sai di kelola jama ikhlas, direncana ko sai betik khik tekhus berusaha ngusung umat makkin khadik jama Allah." (*/324)
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
📚 Cekhita Lappung

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

VERSI BAHASA INDONESIA.

MENGELOLA MAJELIS TAKLIM

Malam itu gerimis turun perlahan membasahi halaman masjid Al-Furqan. Lampu-lampu masjid memantulkan cahaya kekuningan di lantai keramik yang masih basah oleh jejak sandal jamaah. Pengajian ba’da Isya baru saja selesai.

Namun jamaah yang hadir malam itu tidak lebih dari belasan orang. Shaf yang biasanya terisi penuh tampak renggang. Sebagian besar jamaah sudah p**ang. Tinggal beberapa pengurus masjid yang masih membereskan tikar dan kabel sound system.

Di sudut masjid, Ardi—salah seorang pengurus masjid—terlihat mendekati ustadz Munawwar yang sedang merapikan kitabnya.

“Maaf ustadz… jamaahnya sedikit,” katanya lirih. “Maklum… warga sini masing-masing punya kesibukan.”

Ustadz Munawwar tersenyum tenang.

“Tapi masyarakat tahu kalau malam ini ada pengajian?”

“Insya Allah tahu ustadz. Sudah diumumkan setelah shalat Maghrib beberapa hari ini. Jamaah masjid juga sudah diberitahu.”

Ustadz Munawwar mengangguk pelan.

“Kalau jamaah ingin ramai, tidak cukup hanya pengumuman. Harus ada rekayasa.”

Ardi tampak penasaran.

“Rekayasa bagaimana ustadz?”

Ustadz Munawwar lalu duduk kembali di kursi kayu dekat tiang masjid. Suaranya tenang, namun penuh penekanan.

“Begini Ardi…

Pertama, bentuk tim khusus untuk mengelola majelis taklim ini. Libatkan seluruh pengurus masjid. Jangan sampai pengajian dianggap sekadar acara sampingan. Harus menjadi program utama masjid.

Tim itu nanti menyusun rencana kerja. Misalnya target satu semester atau satu tahun. Siapa ustadz yang akan diundang, tema-temanya apa, kapan jadwalnya, bahkan sampai anggaran konsumsi dan publikasinya.”

Ardi mengangguk-angguk sambil memperhatikan.

“Kedua,” lanjut ustadz, “data masyarakat sekitar masjid. Kenali jamaahnya. Siapa yang rutin ke masjid, siapa yang jarang hadir, siapa tokoh masyarakat, siapa anak mudanya. Dakwah itu akan lebih mudah kalau kita mengenal objek dakwah kita.”

“Masya Allah… iya juga ya ustadz,” sela Ardi.

“Ketiga, buat pamflet atau pengumuman yang menarik. Tempel di papan masjid dan tempat-tempat strategis. Jangan dibiarkan usang berminggu-minggu. Perbaharui terus.”

“Keempat, buat undangan tertulis atau pesan pribadi kepada warga. Kadang orang tidak hadir bukan karena tidak mau, tapi karena merasa tidak diajak.”

Gerimis di luar semakin terdengar jelas. Beberapa jamaah yang belum p**ang ikut mendekat mendengarkan.

“Kelima,” lanjut ustadz Munawwar, “buat suasana majelis yang menyenangkan. Orang itu senang tempat yang nyaman. Ruang bersih, sound jelas, udara sejuk, pelayanan baik.

Kalau perlu siapkan teh hangat, kopi, atau singkong goreng. Jangan remehkan hal-hal kecil seperti itu. Kadang yang membuat orang rindu datang bukan hanya ilmunya, tapi suasana ukhuwahnya.”

Ardi tersenyum.

“Begitu ya ustadz…”

“Iya,” jawab ustadz Munawwar.

“Orang mau jualan barang dunia saja membuat target, strategi, promosi, pelayanan, dan evaluasi. Nah… ini yang kita perjuangkan adalah dakwah, agama Allah, jalan menuju surga. Tentu lebih layak lagi kalau dikelola dengan serius.”

Beliau lalu menambahkan:

“Masjid tidak boleh hanya hidup saat Ramadhan atau shalat Jumat saja. Masjid harus menjadi pusat ilmu, pusat persaudaraan, pusat pembinaan umat.”

Suasana masjid mendadak terasa hangat meski udara malam dingin menusuk.

Ardi menatap ruang masjid yang mulai sepi dengan pandangan berbeda. Dalam hatinya tumbuh semangat baru.

Mungkin selama ini mereka hanya mengadakan pengajian…

Tetapi belum benar-benar mengelola majelis ilmu.

Tak lama kemudian ustadz Munawwar berdiri sambil mengenakan sandal.

“Sudah malam. Saya pamit dulu.”

“Syukran ustadz atas nasihatnya,” ujar Ardi sambil menyalami beliau.

Di luar, gerimis masih turun perlahan.

Dan malam itu, di masjid kecil Al-Furqan, sebuah kesadaran mulai tumbuh…

Bahwa dakwah yang besar tidak hanya membutuhkan niat baik, tetapi juga perencanaan, kesungguhan, dan pelayanan terbaik untuk umat.

https://nataragung.id/berita/mutiara-pagi-beruntung-dengan-ibadah-dan-berbuat-kebaikan-oleh-ustadz-h-komiruddin-imron-lc...
22/08/2026

https://nataragung.id/berita/mutiara-pagi-beruntung-dengan-ibadah-dan-berbuat-kebaikan-oleh-ustadz-h-komiruddin-imron-lc

Mutiara Pagi: Beruntung dengan Ibadah dan Berbuat Kebaikan.
Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Allah Subḥanahu wata'ala memberikan kepada orang-orang beriman sebuah jalan yang sederhana, tetapi penuh makna. Jalan itu adalah ibadah kepada-Nya dan memperbanyak amal kebaikan.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu, dan berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung.” (QS. Al-Hajj: 77)

Perhatikanlah bagaimana Allah menghubungkan ibadah dengan berbuat baik. Rukuk dan sujud adalah bentuk penghambaan kepada Allah, sedangkan berbuat baik merupakan buah dari keimanan yang tercermin dalam kehidupan bersama manusia.

Seorang Muslim tidak cukup hanya rajin beribadah, tetapi juga harus menghadirkan kebaikan dalam kehidupannya. Lisannya menjaga orang lain dari perkataan yang menyakitkan, tangannya ringan membantu, hatinya mudah memaafkan, dan kehadirannya membawa manfaat.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. ath-Thabrani; dinilai hasan oleh sebagian ulama)

Karena itu, jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Bisa jadi senyuman yang kita berikan, bantuan yang kita ulurkan, ilmu yang kita ajarkan, makanan yang kita berikan kepada orang yang membutuhkan, atau sekadar menghilangkan sesuatu yang mengganggu dari jalan, menjadi sebab datangnya keberkahan dalam hidup kita.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا

“Janganlah engkau meremehkan suatu kebaikan sedikit pun.”
(HR. Muslim)

Kebaikan tidak selalu langsung dibalas dengan harta. Kadang Allah membalasnya dengan ketenangan hati, kesehatan, kemudahan urusan, keluarga yang harmonis, terhindar dari musibah, atau pahala yang Allah simpan untuk kehidupan akhirat.

Allah menegaskan:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8)

Maka jangan bosan berbuat baik, meskipun tidak ada manusia yang memuji. Jangan berhenti membantu, meskipun kebaikan kita tidak dibalas. Jangan lelah beribadah, meskipun hasilnya belum terlihat.

Sebab kita tidak beramal untuk mencari penilaian manusia. Kita beramal karena Allah melihatnya.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 120)

Inilah hakikat keberuntungan yang sesungguhnya. Bukan sekadar banyaknya harta, tingginya kedudukan, atau panjangnya usia. Keberuntungan adalah ketika umur kita dipenuhi ketaatan, hati kita dekat dengan Allah, dan kehidupan kita menjadi jalan manfaat bagi sesama.

Ibadah mendekatkan kita kepada Allah, sedangkan kebaikan mendekatkan kita kepada manusia. Keduanya menjadi sebab datangnya keberkahan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Maka mari kita renungkan:

Sudahkah rukuk dan sujud kita membuat hati semakin tunduk kepada Allah?
Sudahkah ibadah kita melahirkan akhlak yang baik?
Dan sudahkah keberadaan kita menjadi manfaat bagi orang-orang di sekitar kita?

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang banyak beribadah, ringan berbuat kebaikan, luas manfaatnya, dan memperoleh الفلاح—keberuntungan yang sempurna di dunia dan akhirat.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُصَلِّينَ، وَمِنَ الْمُحْسِنِينَ، وَمِنَ الْمُفْلِحِينَ

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendirikan salat, orang-orang yang berbuat kebaikan, dan orang-orang yang memperoleh keberuntungan.” (*/323)
WaAllahu A'lam

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

https://nataragung.id/berita/mutiara-pagi-merdeka-yang-sesungguhnya-oleh-ustadz-h-komiruddin-imron-lcMutiara Pagi: Merde...
21/08/2026

https://nataragung.id/berita/mutiara-pagi-merdeka-yang-sesungguhnya-oleh-ustadz-h-komiruddin-imron-lc

Mutiara Pagi: Merdeka yang Sesungguhnya.
Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Merdeka bukan berarti seseorang bebas dari penjara. Merdeka adalah ketika hati tidak berhasil dipenjara oleh siapa pun selain Allah.

Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah mengalami penjara karena keteguhan beliau dalam memegang kebenaran. Namun, penjara tidak membuat jiwanya tunduk. Justru dari balik jeruji, lahir kalimat yang menggambarkan betapa luasnya kemerdekaan seorang mukmin:

مَا يَصْنَعُ أَعْدَائِي بِي؟ أَنَا جَنَّتِي وَبُسْتَانِي فِي صَدْرِي، أَنَّى رُحْتُ فَهِيَ مَعِي لَا تُفَارِقُنِي، أَنَا حَبْسِي خَلْوَةٌ، وَقَتْلِي شَهَادَةٌ، وَإِخْرَاجِي مِنْ بَلَدِي سِيَاحَةٌ.

“Apalah yang dapat dilakukan oleh musuh-musuhku terhadapku? Sesungguhnya surgaku dan tamanku ada di dalam dadaku. Ia selalu bersamaku, ke mana pun aku pergi. Jika mereka memenjarakanku, penjara bagiku adalah khalwah. Jika mereka membunuhku, kematian bagiku adalah syahid. Jika mereka mengusirku dari negeriku, itu bagiku adalah perjalanan.”

Inilah kemerdekaan yang sesungguhnya.

Orang yang menggantungkan kebahagiaannya kepada dunia akan mudah diperbudak oleh dunia. Ia takut kehilangan jabatan, takut kehilangan harta, takut kehilangan pujian, bahkan takut kehilangan manusia.

Tetapi orang yang hatinya telah bersama Allah, tidak mudah dijajah oleh keadaan.

Jeruji tidak mampu mengurung keyakinannya.
Ancaman tidak mampu membungkam lisannya.
Pengasingan tidak mampu mematikan harapannya.
Bahkan kematian tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan, ketika ia memandangnya sebagai jalan menuju perjumpaan dengan Allah.

Maka boleh jadi seseorang tinggal di istana, tetapi hatinya terpenjara oleh ambisi.

Dan boleh jadi seseorang duduk di balik jeruji besi, tetapi jiwanya lebih merdeka daripada manusia yang berjalan di jalan-jalan.

Sebab kemerdekaan yang paling tinggi bukanlah bebas melakukan apa saja yang kita inginkan, tetapi bebas dari penghambaan kepada selain Allah.

Ketika hati telah menjadi milik Allah, dunia tidak lagi menjadi penjara.

Karena surga itu telah tumbuh di dalam dada. (*/322).
WaAllahu A'lam

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

https://nataragung.id/berita/mimbar-jumat-ketika-maslahat-ada-saudara-ketika-maslahat-usai-berubah-cerita-oleh-ustadz-h-...
20/08/2026

https://nataragung.id/berita/mimbar-jumat-ketika-maslahat-ada-saudara-ketika-maslahat-usai-berubah-cerita-oleh-ustadz-h-komiruddin-imron-lc

Mimbar Jum'at: Ketika Maslahat Ada, Saudara; Ketika Maslahat Usai, Berubah Cerita.
Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Ada manusia yang datang kepada kita dengan membawa bahasa persaudaraan ketika ia sedang membutuhkan sesuatu. Ketika maslahat masih ada, kita adalah saudaranya. Tetapi ketika kepentingannya telah selesai, hubungan itu pun perlahan berubah.

Kisah saudara-saudara Nabi Yusuf 'alaihissalam memberi kita sebuah renungan yang sangat dalam tentang tabiat manusia.

Ketika mereka membutuhkan Bunyamin untuk dibawa bersama mereka agar mendapatkan jatah makanan, mereka berkata kepada ayahnya:

فَلَمَّا رَجَعُوا إِلَىٰ أَبِيهِمْ قَالُوا يَا أَبَانَا مُنِعَ مِنَّا الْكَيْلُ فَأَرْسِلْ مَعَنَا أَخَانَا نَكْتَلْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Maka ketika mereka kembali kepada ayah mereka, mereka berkata, ‘Wahai ayah kami! Kami tidak akan mendapat jatah bahan makanan lagi, maka biarkanlah saudara kami pergi bersama kami agar kami mendapat jatah, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.’” (QS. Yusuf: 63)

Perhatikan kalimat mereka:

أَخَانَا — saudara kami.

Ketika ada kebutuhan, Bunyamin adalah saudara.

Ada kepentingan yang harus diselesaikan. Ada maslahat yang hendak diperoleh. Maka bahasa persaudaraan pun digunakan.

Tetapi setelah Bunyamin tertahan di Mesir, mereka kembali kepada ayahnya membawa kabar bahwa mereka telah kehilangan saudara mereka.

Mereka berkata:

قَالُوا يَا أَبَانَا إِنَّ ابْنَكَ سَرَقَ وَمَا شَهِدْنَا إِلَّا بِمَا عَلِمْنَا وَمَا كُنَّا لِلْغَيْبِ حَافِظِينَ ۝ وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا وَالْعِيرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا ۖ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ ۝

“Mereka berkata, ‘Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan kami bukanlah orang-orang yang mengetahui perkara gaib. Dan tanyalah negeri yang kami berada di dalamnya dan kafilah yang kami datang bersamanya. Sesungguhnya kami benar-benar orang-orang yang jujur.’” (QS. Yusuf: 81–82)

Namun ayat 81 memberikan ungkapan yang sangat menarik:

قَالُوا يَا أَبَانَا إِنَّ ابْنَكَ سَرَقَ

“Mereka berkata, ‘Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri.’” (QS. Yusuf: 81)

Perhatikan perubahan bahasanya.

Ketika mereka membutuhkan Bunyamin:

أَخَانَا — saudara kami.

Tetapi ketika Bunyamin tidak lagi memberikan maslahat kepada mereka:

ابْنَكَ — anakmu.

Seolah-olah, ketika kepentingan ada, dia adalah saudara kami.

Tetapi ketika kepentingan telah selesai, dia berubah menjadi anakmu.

Di sinilah Al-Qur’an mengajak kita merenung tentang sebuah penyakit hati yang kadang tidak kita sadari: menjalin hubungan karena kepentingan, bukan karena ketulusan.

Ada orang yang sangat dekat ketika membutuhkan kita.

Teleponnya sering. Pesannya panjang. Senyumnya lebar. Kata-katanya penuh persaudaraan.

Tetapi setelah kebutuhannya selesai, semuanya berubah.

Telepon berhenti.

Pesan menghilang.

Senyum menjadi dingin.

Dan kita baru sadar: ternyata yang ia butuhkan bukan kita, tetapi apa yang ada pada kita.

Maka jangan tertipu oleh kedekatan yang hanya muncul ketika seseorang memiliki kepentingan.

Orang yang membutuhkan kita akan datang ketika ia perlu.
Orang yang tulus akan tetap tinggal meskipun ia tidak lagi membutuhkan apa-apa dari kita.

Karena itu, jangan p**a kita menjadi manusia yang menjadikan persaudaraan sebagai alat untuk mencapai tujuan.

Jangan menyebut seseorang saudara hanya ketika ia bisa membantu kita, lalu menjauhinya ketika maslahat telah selesai.

Sebab manusia yang tulus tidak bertanya:

“Apa yang bisa aku dapat darimu?”

Tetapi ia bertanya:

“Apa yang bisa aku berikan kepadamu karena Allah?”

Dan di situlah letak perbedaan antara hubungan yang dibangun di atas kepentingan dengan persaudaraan yang dibangun di atas keimanan.

Maslahat akan selesai.

Harta akan habis.

Kedudukan akan berlalu.

Kebutuhan akan berganti.

Tetapi kebaikan yang dilakukan karena Allah tidak pernah sia-sia.

Maka jika suatu hari ada orang yang meninggalkanmu setelah kepentingannya selesai, jangan terlalu bersedih.

Barangkali Allah sedang memperlihatkan kepadamu sesuatu yang sebelumnya tidak engkau ketahui:

siapa yang mencintaimu, dan siapa yang hanya membutuhkanmu.

Tetaplah berbuat baik.

Tetaplah menjadi saudara yang tulus.

Sebab ukuran kemuliaan kita bukanlah seberapa banyak orang yang membutuhkan kita, tetapi seberapa ikhlas kita tetap berbuat baik ketika tidak ada lagi keuntungan yang bisa kita dapatkan.

Karena pada akhirnya, manusia mungkin lupa kepada kebaikan kita.

Tetapi Allah tidak pernah lupa.

Apa yang dilakukan karena Allah tidak akan pernah hilang, meskipun manusia yang menerimanya telah pergi.
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mimbar Jum'at

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Address

Jalan Raya Mandah No 17
Natar
35363

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yayasan Pendidikan Islam "A. Ghaffar Ismail" Mandah-Lampung posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category