31/12/2015
Mimpi Si Bujang Talang
Oleh Efriansyah, Guru SDN 10 Rambang
Aku terlahir pada tanggal 07 September 1991 di Talang Air Guci. menurut cerita dari ibuku keadaan Talang Air Guci saat itu belum seramai dan sebesar sekarang. Rumah penduduk hanya sekitar lima rumah dengan jarak satu rumah dengan rumah lain berjauhan dan sekitarnya dikelilingi oleh Hutan Belantara. Aku terlahir dari sepasang suami istri yang kedua-duanya dari keluarga petani. Ayahku merupakan penduduk asli suku Rambang yang sejak kecil sudah terbiasa berpindah dari satu desa ke desa yang lain untuk menggarap kebun milik orang lain. Sementara ibuku merupakan gadis keturunan suku Rambang yang besar di Provinsi Lampung. Pertemuan Ayahku dan ibu dimulai saat Ibu ikut kedua orang tuanya pindah dari Provinsi Lampung ke Tanah Rambang untuk menggarap kebun milik orang lain meninggalkan pekerjaan di Provinsi lampung sebagai Petani kopi.
Setelah aku terlahir, kedua orang tuaku benar benar kerja keras untuk menghidupi anak pertama mereka. Dari pagi hingga sore Ayahku bekerja ditengah kebun demi untuk sesuap nasi. Begitu pun dengan ibuku, beliau bekerja sambil menggendongku di pundak. Berpindah dari satu ladang ke ladang yang lain biasa mereka lakukan. Gigih, pekerja keras, dan penuh semangat terus dilakukan oleh kedua orang tuaku demi untuk masa depan mereka dan anak-anak mereka yang lebih baik.
Ayahku memiliki sikap yang tegas dan keras. Beliau tidak bisa mentoleransi setiap kesalahan, bahkan tidak segan untuk memukul. Pendidikan ala militer beliau terapkan dalam kehidupan rumah tangga baik terhadap anak-anaknya maupun terhadap ibuku. Ayahku sangat membenci jika anak-anaknya manja. Menurut beliau, pantang bagi anak laki laki untuk menangis. Sikap yang dimiliki Ayahku sangat bertolak belakang dengan Ibuku. Ibu sangat lembut dan penuh pengertian terhadap anak-anaknya. Wajahnya yang teduh terkadang membuatku meneteskan air mata ketika menatapnya. Tidak jarang Ibu menjadi sasaran kemarahan Ayah karena membela anak-anaknya.
Aku terus tumbuh dan besar dalam lingkaran kasih sayang dari kedua orang tua. Saat berusia 4 tahun ibu melahirkan lagi seorang anak laki laki. Kelahiran adikku menandai kehidupan baru bagi kami. Setelah sebelumnya berpindah pindah dari ladang satu ke ladang yang lain, akhirnya kedua orang tuaku memutuskan untuk tinggal dan hidup menetap di Talang. Itu artinya aku akan memiliki teman bermain setelah beberapa tahun hidup tanpa tetangga. Talang sudah berubah wajah setelah 4 tahun ditinggalkan. Mimpi baru dan harapan baru dimulai disini.
Pindah dan hidup bersama teman teman baru ternyata tidak semudah yang ku bayangkan. Mempunyai mata yang sipit, kulit yang putih dan kidal sering kali menjadi bahan olok-olokan teman teman bermain. Aku menjadi minoritas karena berbeda dengan teman teman yang lain. Terkadang aku tak sanggup menahan tangis saat teman-teman bilang jika aku bukan anak kandung tapi hanya anak pungut. Rasanya ingin mengadu, tapi aku takut jika Ayahku tahu.
Aku terus tumbuh bersama teman teman hingga tak terasa sudah memasuki usia sekolah. Pada usia 6 tahun seharusnya aku sudah sekolah, namun karena aku takut teman teman sekolahku mengolok-olok ku maka sekolahku telat satu tahun. Pada usia 7 tahun aku mulai masuk Sekolah Dasar. Ternyata apa yang aku takutkan menjadi kenyataan. Aku menjadi olok-olokan lagi. Untungnya ketakutan terhadap Ayah membuatku terbiasa dan kuat menghadapi tekanan dan masalah sendirian.
Sekolah tempat pertama kali aku masuk sekolah terletak di Talang sebelah. Talang Pengadangan namanya. Pemberian nama Pengadangan bukan tanpa alasan, sebab di Talang tersebut tempat para buronan bersembunyi dan sering terjadi perampokan sepeda motor. Setiap hari ibu mengantarku pergi sekolah menggunakan sepeda, saat itu orang tuaku belum mempunyai motor. Setiap hari ibu mengayuh sepedanya dengan semangat selama satu jam untuk sampai ke Sekolah. Ibu selalu bercerita banyak hal ketika memboncengku diatas sepeda. Mulai dari cerita ketika beliau masih sekolah sampai cerita saat setelah bersama Ayahku. Ibu terus menyemangatiku untuk terus bersekolah tanpa henti. Ibu hanya tamatan Sekolah Menengah Pertama yang merupakan satu-satunya wanita di Talang yang mengecap pendidikan tertinggi
Di sekolah aku di paksa untuk menulis menggunakan tangan kanan, guru beranggapan menggunakan tangan kiri tidaklah sopan. Awalnya sangatlah sulit untuk mengubah kebiasaan untuk tidak menggunakan tangan kiri. Setelah beberapa bulan barulah aku bisa untuk menulis menggunakan tangan tangan. Akibat dari kebiasaan yang dipaksaan akhirnya sampai sekarang aku menulis menggunakan tangan tangan. Aku sangat tertekan dengan aturan aturan guru yang tidak memperhatikan potensi dari anak-anak didiknya.
Setelah dua tahun sekolah di Talang Pengadangan, aku pindah ke sekolah baru yang baru di bangun di Talang Air Guci. Sekolah yang berdiri atas iniasi dan partisipasi masyarakat talang. Semua warga Talang bergotong royong membuat sekolah baru. Tenaga dan materi mereka sumbangkan demi mewujudkan berdirinya sekolah pertama di Talang Air Guci. Terbuat dari papan kayu hasil sumbangan masyarakat dan atap seng bantuan dari perusahaan akhirnya berdirilah sekolah kelas jauh Talang Air Guci.
Aku sangat bahagia pindah sekolah, bertemu dengan teman teman lama, dan mempunyai guru yang menyenangkan. Di sekolah ini potensi ku mulai tergali, mimpi mimpi mulai bermunculan. Gurunya sangat luar biasa, motivasi dan pujian selalu diberikan kepada anak didiknya. Tidak ada tekanan wajib harus bisa matematika atau sains, tidak juga ada kata-kata kasar atau marah saat anak-anak melakukan salah. Hampir setiap hari tawa lepas penuh kebahagian menghiasi bangunan sekolah yang sangat sederhana itu. Aku mulai mempunyai cita-cita dan impian dimana sebelumnya tak pernah dipedulikan oleh guru-guru sebelum aku pindah.
Sekolah menjadi tempat yang paling menyenangkan bagiku. Hidup tanpa listrik dan tanpa televisi menjadikan sekolah tempat terindah bagiku saat itu. aku mulai mengenal dunia luar selain talang dari guruku. Aku baru tahu jika di Jakarta ada Monas, di Palembang ada Ampera, dan Jam Gadang di bukit Tinggi. Setiap hari aku mendengar cerita orang-orang hebat dari guruku. Mulai dari cerita tentang Soekarno presiden pertama Indonesia, cerita tentang kecerdasaan Moh. Hatta yang kuliah di luar Negeri, sampai cerita tentang K.H Agus salim yang menguasai beberapa bahasa asing. Sejak itulah aku menyimpan mimpi untuk bia seperti Moh. Hatta yang bisa sekolah di luar negeri dan menguasai bahasa asing seperti K.H Agus Salim
Motivasi dari guruku sangatlah berpengaruh dalam perkembangan akademik dan rasa ingin tahu yang terus muncul. Hasratku sedikit terobati, kami banyak mendapatkan buku bantuan dari perusahaan minyak yang ada di dekat Talang. Aku menjadi sangat rajin membaca, buku serial tokoh dunia menjadi favoritku. Aku juga senang membaca buku dongeng yang menggunakan dua bahasa. Prestasiku meningkat pesat, hampir setiap bagi rapor namaku selalu menjadi yang teratas. Begitu juga dengan kecerdasaan kinestetisku, jika dulu aku di bully karena kidal berubah menjadi pujian karena aku menjadi pemain andalan tim sepak bola dan voli sekolah.
Memasuki kelas 6 aku terpaksa meninggalkan sekolah yang paling ku cinta. Aku harus pindah sekolah lagi meninggalkan sekolah yang telah mengasah bakat dan potensiku. Aku pindah ke dusun untuk melanjutkan kelas 6 karena sekolah di Talang hanya kelas Jauh dan memiliki 5 rombel. Sekolah baru dan teman yang baru, tentunya persaingan baru dengan anak-anak dusun. Pandangan sinis dan meremehkan dari anak-anak dusun terhadap anak Talang harus aku dan teman-teman hadapi. Kesulitan lain yang kami hadapi adalah jalanan yang rusak parah ketika musim hujan. Terkadang kami harus berjalan kaki selama 2 jam ketika mobil taksi pick up tidak bisa mengantar kami sekolah.
***
Bagaimana perjuangan Pak Ep melanjutkan studi di sekolah barunya?
Temukan kisah semangatnya di :)