05/05/2025
Hentikan 'Memukul' Anak dalam Keheningan. Tumbuh dewasa dapat menjadi alasan mengapa anak-anak tidak menghormati orang tuanya.
Pesan untuk para orang tua: berhentilah 'menganiaya' anak-anak Anda secara diam-diam. Rupanya itulah salah satu alasan mengapa anak-anak kurang menghormati kita saat mereka dewasa.
"Ayah, apa warna yang Ayah inginkan untuk kupu-kupu ini?"
"Itu hanya warna, Izni," sementara tangannya sibuk menggulir Facebook.
Sadarkah kamu bahwa kita diam-diam 'menyalahgunakan' anak-anak kita?
Ya, kami tidak melakukan kekerasan fisik. Tidak boleh memukul dengan rotan, tidak boleh mencambuk dengan ikat pinggang atau gantungan baju, tidak boleh menggunakan karet p**a atau batang pohon pepaya untuk menyiksa, namun tanpa kita sadari kita telah melakukan 'penyiksaan' yang mengerikan kepada anak-anak kita. Apa itu pelecehan?
Dalam konteks emosi, kekerasan emosional merupakan trauma psikologis yang menyerang lapisan pikiran seseorang dan mengganggu dalam jangka waktu pendek maupun panjang. Di antara contoh yang paling sederhana
1. Jangan menjadi batu atau tembok.
Anak-anak datang kepada anda, bertanya warna apa yang cocok untuk melukis kupu-kupu. Anda sibuk menonton video di Facebook. Tidak menjawab pertanyaan anak kami, sampai-sampai anak anda pergi. Anda punya batu ini. Tidak bisakah kita 'Menjeda' videonya sejenak dan mengalihkan perhatian kita kepada anak itu? Apakah videonya akan hilang? Atau apakah Anda lebih bersedia kehilangan perasaan anak Anda? Ya, ini kesalahan yang kita buat.
2. Terlalu cerewet dan teliti.
Jangan terlalu cerewet kalau anak mengalami situasi seperti ini:
Anak-anak tidak boleh memakai sandal, mereka harus memakai sepatu.
Anak-anak yang ingin memakai baju kuning tidak dapat memakainya, mereka harus memakai baju merah.
Anak itu mendapat nomor 5, marah.
Kita melihat ini sebagai hal sepele, namun kenyataannya pelecehan ini dapat mengganggu emosi dan kepribadian anak.
3. Biarkan anak Anda membuat keputusannya sendiri.
Ya, terkadang biarkan anak Anda membuat keputusannya sendiri. Biar tingkat kepercayaan diri anak makin tinggi. Jadi dia akan lebih mandiri dan tidak diganggu.
Anak itu bertanya, "Ayah, kamu mau pakai kaos Ultraman atau kaos Upin Ipin?". Abah menjawab, "Ikuti saja kemauan Izni, pakai baju apa saja."
Apakah jawaban anda benar? Salah!
Coba ini, "Malam ini, Izni ingin menjadi Ultraman atau Upin Ipin?" Sehingga mereka dapat berpikir dan membuat keputusan berdasarkan pertanyaan kita. Segala sesuatu harus bermain dengan kata-kata. Kita perlu lebih kreatif dalam menangani masalah anak-anak.
4. Mempermalukan anak
Pernahkah kita meremehkan anak kita di depan orang lain? Tidakkah kamu? Namun tahukah Anda, terkadang kita tidak menyadari bahwa kita sebenarnya sedang meremehkan anak-anak kita.
Misalnya, ketika ada yang memuji anak kita, “Amni rajin ya, tolong angkat piringnya dan cuci ya.”
Tapi kami menjawab, "Itu biasa saja, di rumah orang-orang agak lebih rajin. Di rumah, setelah makan, piring-piring hanya ditaruh di wastafel". Pernahkah Anda mengalami situasi ini? Tanpa kita sadari, kita telah menyakiti emosi anak kita. Alih-alih ingin menjadi baik, Anda terus saja menjadi jahat.
Alangkah baiknya kalau kita memuji anak-anak kita, sehingga pujian itu dapat dibawa pulang jika memang benar, sekalipun anak-anak kita pemalas.
5. Tidak memperjuangkan atau 'mendukung' anak.
Anak itu berkata, Abu mencuri penghapus. Kami hanya menjawab, "Tidak apa-apa, nanti kami beli."Bu
Kita tinggal jawab, "Kok bisa gitu, itu kan hak Izni. Izni harus lapor ke guru. Ngaku lagi kalau Izni benar". Anak-anak kita akan merasa lebih dihargai dan lebih percaya diri. Jangan biarkan anak Anda menjadi korban bullying fisik dan mental.
6. Sikap penolakan terhadap permintaan.
Kita tidak bisa menerima segala hal, dan kita tidak bisa menolak segala hal. Hal yang sama berlaku untuk anak-anak.
Terkadang kita memenuhi permintaan anak-anak kita. Jika kita tidak mampu, kita mencoba memberi dalam bentuk/hal yang lebih menyenangkan bagi kita.
Namun ingat, kita tidak selalu bisa memenuhinya. Kalau tidak, Anda akan bertambah gemuk nantinya. Anda harus tahu cara menangani permintaan.
Kesimpulannya, jangan mengeluh karena tidak punya waktu untuk anak-anak Anda. Berusahalah meluangkan waktu untuk mereka karena mereka lahir dari darah daging kita. Kitalah yang membentuknya. Jika kita warnai hitam, maka akan menjadi hitam.
Kredit : penulis