IKPM Mojokerto Resmi

IKPM Mojokerto Resmi Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Mojokerto adalah ajang silaturrahim alumnus dan pernah belajar di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorgo.

tempat ngumpul dan silaturahmi antar lintas alumni se mojokerto

Gus Dur dan GontorGus Dur masyhur sebagai sosok yang memiliki pengetahuan luas tentang nasab atau genealogi keluarga. Pe...
16/08/2026

Gus Dur dan Gontor

Gus Dur masyhur sebagai sosok yang memiliki pengetahuan luas tentang nasab atau genealogi keluarga. Pengetahuannya tidak terbatas pada silsilah keluarganya sendiri, tetapi juga mencakup hubungan kekerabatan dan jaringan nasab para ulama, tokoh pesantren, serta tokoh-tokoh penting dalam sejarah Islam di Nusantara. Bagi Gus Dur, pengetahuan tentang nasab bukan sekadar pengetahuan genealogis, melainkan juga menjadi salah satu cara untuk membangun komunikasi dan kedekatan dengan orang lain.

Gus Dur kerap menjadikan pengetahuan tersebut sebagai jembatan untuk mencairkan suasana dalam sebuah pertemuan. Dengan mengungkap hubungan nasab, guru-murid, maupun keterkaitan antarkeluarga, ia mampu menemukan titik temu dengan lawan bicaranya. Percakapan yang semula terasa formal pun menjadi lebih akrab karena masing-masing menemukan hubungan historis dan emosional. Dalam hal ini, pengetahuan Gus Dur tentang nasab dapat dipandang sebagai salah satu instrumen diplomasi sosialnya.

Hal tersebut juga terlihat dalam hubungan Gus Dur dengan keluarga pendiri Gontor. Salah satu pintu kedekatan itu adalah hubungan antara ayahnya, KH Wahid Hasyim, dengan KH Imam Zarkasyi (salah satu Trimurti Gontor). Keduanya pernah berada dalam medan perjuangan yang sama, baik di lingkungan Kementerian Agama maupun dalam Laskar Hizbullah dan Laskar Sabilillah. Hubungan historis tersebut menjadi salah satu fondasi bagi Gus Dur dalam membangun kedekatan dengan keluarga besar Gontor.

Kedekatan itu semakin menguat tatkala, Paman Gus Dur, KH Yusuf Hasyim atau Gus Ud, “nyantri” kepada KH Imam Zarkasyi, baik melalui pelatihan Laskar Hizbullah di Cibarusah Bekasi maupun saat Gus Ud nyantri di Gontor, meski hanya beberapa bulan. Relasi tersebut menjadi bagian dari jejaring historis yang mempertemukan keluarga Gus Dur dengan keluarga pendiri Gontor.

Ikatan tersebut berlanjut ke generasi berikutnya, Gus Dur memiliki kedekatan dengan K.H Abdullah Syukri Zarkasyi, ketika keduanya sama-sama pernah menimba ilmu di Al-Azhar, Mesir. Di samping itu, Gus Dur juga memiliki hubungan dekat dengan keluarga KH Hasan Abdullah Sahal melalui relasi guru-murid antara Gus Dur dan KH Abdul Mukti Ngawi, mertua KH Hasan Abdullah Sahal. Bagi Gus Dur, K.H Abdul Mukti—yang dikenal sebagai salah satu inisiator berdirinya NU di Ngawi—merupakan salah satu guru politiknya. Jejaring hubungan semacam inilah yang memungkinkan Gus Dur menemukan banyak titik temu dengan keluarga besar Gontor.

Tidak berhenti pada hubungan antar generasi dan jaringan guru-murid, Gus Dur juga dapat menemukan titik temu melalui sejarah leluhur kedua keluarga. Dalam tradisi nasab pesantren, terdapat relasi historis yang menghubungkan Kyai Ageng Muhammad Besari, salah satu leluhur keluarga pendiri Gontor, dengan Kyai Basyariyah Sewulan, yang dikenal sebagai murid kinasih Kyai Ageng Muhammad Besari dan berada dalam garis leluhur Gus Dur. Jejak sejarah tersebut menjadi salah satu simpul yang mempertemukan dua keluarga besar dalam tradisi pesantren Jawa.

Bagi Gus Dur, berbagai hubungan tersebut tentu bukan sekadar catatan sejarah. Nasab, jaringan guru-murid, pengalaman perjuangan, dan hubungan antarkeluarga merupakan modal sosial sekaligus pintu masuk untuk membangun persaudaraan. Melalui titik-titik persamaan tersebut, Gus Dur mampu menciptakan suasana yang lebih cair, akrab, dan penuh kehangatan dalam berinteraksi dengan orang lain.

Baginya, nasab bukan sekadar simbol kebanggaan genealogis, melainkan dapat menjadi jembatan persaudaraan dan sarana untuk merawat hubungan antarkeluarga besar Islam Indonesia.

Semangat tersebut sejalan dengan spirit persaudaraan yang dibangun oleh Nabi Muhammad Saw. Dalam sebuah hadis disebutkan:

صِلْ بَيْنَ النَّاسِ إِذَا تَفَاسَدُوا، وَقَرِّبْ بَيْنَهُمْ إِذَا تَبَاعَدُوا

“Sambungkan (perbaiki) hubungan di antara manusia ketika mereka telah berselisih, dan dekatkan mereka ketika mereka saling menjauh.”
(HR. Al-Bazzar)

Wallahu A'lam bi Showab

Oleh : Khoirul Fata, Alumni 2004

Ket Foto 1 : Gus Dur beserta Kyai Hasan Abdullah Sahal dan Nyai Abidah Mufarrichah, dalam acara keluarga dzuriyah K.H Abdul Mukti di Bekasi.

12/08/2026

_☆Ngaji al-Hikam

*MENUJU SANG PENCIPTA*
_(Refleksi atas Hikmah Kedua Belas Al-Hikam karya Ibn ‘Aṭā’illah al-Sakandari)*_

ارْحَلْ مِنَ الْأَكْوَانِ إِلَى الْمُكَوِّنِ
_“Berpindahlah dari segala yang diciptakan menuju Sang Pencipta.”_

Pada hikmah sebelumnya, Ibnu ‘Arha’illah mengingatkan agar seorang hamba tidak terus berpindah dari satu makhluk kepada makhluk lain tanpa kemajuan ruhani. Jika hikmah kesebelas menunjukkan ke mana hati tidak semestinya berhenti, hikmah kedua belas menunjukkan ke mana perjalanan itu harus diarahkan: dari _al-akwan_ (segala ciptaan)menuju _al-Mukawwin,_ (Sang Pencipta). Persoalannya bukan sekadar ke mana kaki melangkah, tetapi ke mana hati mengarah.

*_Al-Akwan_ dan _al-Mukawwin_*

_Al-akwan_ adalah seluruh ciptaan Allah: alam, manusia, harta, keluarga, ilmu, jabatan, dan segala sesuatu yang kita lihat, miliki, dan alami. Adapun _al-Mukawwin_ adalah Allah, Sang Pencipta dan Pengatur seluruh wujud. Ibnu ‘Atha’illah tidak mengajarkan kita untuk meninggalkan dunia, tetapi agar hati tidak berhenti pada dunia. Ciptaan boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai mengambil tempat Allah di dalam hati.

Seorang petani dapat memandang panennya lalu berhenti pada kebanggaan atas kerja kerasnya. Namun ia dapat melihat lebih jauh: benih yang tumbuh, tanah, air, cahaya, dan kemampuan bekerja semuanya berada dalam kehendak Allah. Objeknya sama, tetapi arah hati berbeda. Yang satu berhenti pada ciptaan; yang lain menembus ciptaan menuju Sang Pencipta. Karena itu, al-Qur’an mengajak manusia memperhatikan langit dan bumi agar sampai kepada kesadaran: رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا — _“Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia,”_ (QS. _Ali ‘Imran_: 191).

*Hijrah Hati*

Perjalanan ini bukan terutama perpindahan tempat, tetapi hijrah hati. Seseorang dapat tetap tinggal di rumah yang sama, bekerja di tempat yang sama, dan memegang jabatan yang sama, tetapi orientasi batinnya berubah. Dahulu bekerja demi pujian manusia, kini bekerja karena amanah Allah. Dahulu belajar demi gelar, kini menuntut ilmu sebagai pengabdian. Dahulu beramal agar dilihat, kini beramal karena mengharap rida-Nya.

Rasulullah SAW bersabda: إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى _“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niat, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”_ (HR. al-Bukhari dan Muslim). Perubahan terbesar dalam perjalanan ruhani sering kali tidak tampak dari luar. Yang berubah adalah pusat ketergantungan hati: dari makhluk menuju Allah.

*Keterikatan yang Halus*

Perjalanan ini sering terhambat bukan oleh dosa besar, tetapi oleh keterikatan yang sangat halus. Seorang ulama dapat terikat kepada pop**aritas ilmunya, seorang pemimpin kepada jabatannya, seorang ahli ibadah kepada amalnya, bahkan seorang yang menempuh jalan ruhani dapat terikat kepada pengalaman spiritualnya sendiri. Karena itu, pertanyaan tasawuf bukan hanya, _“Apa yang saya miliki?”_ tetapi juga, _“Apa yang memiliki hati saya?”_

Yang harus dilepaskan bukan selalu kepemilikan, tetapi ketergantungan. Harta boleh berada di tangan, tetapi jangan menjadi sumber ketenangan. Jabatan boleh dijalankan, tetapi jangan menjadi sumber harga diri. Ilmu boleh dikuasai, tetapi jangan menjadi sumber kesombongan. Dunia tidak harus keluar dari tangan; yang harus keluar adalah ketergantungan hati kepadanya.

*Dari Ciptaan Kepada Pencipta*

Berpindah dari _al-akwan_ kepada _al-Mukawwin_ berarti belajar melihat Allah di balik segala sesuatu. Ketika menerima nikmat, lihatlah _al-Mun‘im_. Ketika memperoleh keberhasilan, lihatlah taufik-Nya. Ketika menemukan ilmu, ingatlah _al-‘Alim._ Dengan pandangan seperti ini, dunia tidak lagi menjadi _hijab,_ tetapi menjadi _ayat_; bukan sesuatu yang menjauhkan dari Allah, melainkan jalan untuk mengenal-Nya.

Kita tidak harus meninggalkan pasar, pekerjaan, keluarga, ilmu, atau kepemimpinan untuk mendekat kepada Allah. Yang harus ditinggalkan adalah menjadikan semua itu sebagai tujuan akhir. Sebab ketika hati mampu melihat Allah di balik segala sesuatu, _al-akwan_ tidak lagi menjadi tujuan, tetapi menjadi jalan.

*Penutup*

Kita semua sedang berjalan. Usia berjalan, waktu berjalan, harta datang dan pergi, jabatan berganti, tubuh berubah, dan dunia terus berputar. Namun pertanyaan terpenting bukanlah apakah kita sedang berjalan, melainkan ke mana hati kita berjalan.

Harta, keluarga, ilmu, jabatan, bahkan amal ibadah hanyalah jalan yang dapat mengantarkan kita kepada Allah. Kita boleh hidup di tengah _al-akwan_, tetapi jangan berhenti di sana; kita boleh memiliki dunia di tangan, tetapi jangan biarkan dunia memiliki hati.

Jangan sampai sepanjang hidup kita sibuk berpindah dari satu makhluk kepada makhluk lain, tetapi lupa bahwa tujuan perjalanan kita adalah Sang Pencipta. Sebab sejauh apa pun kita berjalan di dunia, jika hati tidak bergerak menuju Allah, sesungguhnya kita belum ke mana-mana.
_______
Disampaikan melalui Zoom dalam _Ngaji Subuh_ di Musalla Kampus Pascasarjana UNIDA Kelas C
Rabu, 12 Agustus 2026
Oleh:
Nur Hadi Ihsan
Dosen Universitas Darussalam Gontor

12/08/2026

NAMA MARHALAH DARI TAHUN KE TAHUN:

🖤78 Tovasa
💚79 Siska
💙80 Sosyc
🧡81 Sikago
💜82 Lapinggo
❤️83 Classix'83

🖤84 Algodam
💚85 Alumni 2 Zaman
💙86 Connection
🧡88 Gonsus 88
💜89 Komsol 89
❤️90 GO'90

🖤91 Classic
💚92 Country
💙93 Concord
🧡94 Egypt
💜95 Dragon
❤️96 MARHALAH EMAS

🖤97 Aswader
💚98 Dzunnuroin
💙99 Awal: Blue Generation
🧡99 Akhir: Spinkers
💜00 La Viola
❤️01 Red Century

🖤02 Black Moralist
💚03 Za Greenada de Natura
💙04 L*z Blues Azzavirtium
🧡05 Blitza Remigion
💜06 Glorious Naturalist
❤️07 Maziero Razienera

🖤08 Youth
💚09 Paragon
💙10 Prime
🧡11 Idealist Leaders
💜12 Pioneer
❤️13 Dynamic

🖤14 Smart
💚15 Prestigious
💙16 Identity
🧡17 Survival
💜18 Inspiring
❤️19 Guardian

🖤20 Prominent
💚21 Virtuous
💙22 Extraordinary
🧡23 Credible
💜24 Integrated
❤️25 Commited

🖤26 Brilliant
💚27 Impervious

10/08/2026

bismillahirrahmanirrahim

09/08/2026

*MEMBACA TIGA _PITUTUR_ JAWA DALAM PERSPEKTIF ILMU TASAWUF*
_(Resonansi Spiritual antara Kearifan Leluhur dan Jalan Suluk)_

Tidak semua ilmu lahir dari ruang kuliah, dan tidak semua hikmah tumbuh dari lembaran kitab. Sebagiannya justru hidup dalam kearifan yang diwariskan dari lisan ke lisan, dari generasi ke generasi. Tiga pitutur Jawa tentang mencari ilmu; _golekana galihé kangkung, golekana tapak manuk kuntul temayang_, dan _golekana gung susuhé angin,_ merupakan salah satu warisan yang demikian. Di balik kesederhanaan bahasanya tersimpan perjalanan ruhani yang mengantarkan manusia dari ilmu menuju hikmah.

Tentu tidak tepat mengatakan bahwa leluhur Jawa sedang merumuskan konsep _takhalli, taḥalli,_ dan _tajalli,_ sebagaimana dikenal dalam khazanah tasawuf. Namun, keduanya memperlihatkan keselarasan struktur spiritual yang mengagumkan. Apa yang diajarkan para Sufi melalui _maqamat_ penyucian jiwa beresonansi dengan apa yang dituturkan leluhur melalui bahasa simbolik yang halus, puitis, dan sarat makna.

*_Golekana Galihé Kangkung_: Jalan _Takhalli_*

Mengapa harus mencari _galih kangkung_, padahal kangkung tidak memiliki _galih_? Justru di situlah letak kebijaksanaan pitutur ini. Kangkung mengajarkan bahwa kekosongan bukanlah kehampaan, melainkan kesiapan. Wadah yang kosong selalu siap menerima, sedangkan wadah yang penuh tidak lagi menyisakan ruang bagi apa pun yang hendak mengisinya.

Demikian p**a perjalanan seorang _salik_. Para sufi, sejak al-Sarrāj al-Tusi, Abu Talib al-Makkī, al-Qusyairī, hingga Imam al-Ghazālī, menempatkan _takhalli_ sebagai gerbang _suluk_: mengosongkan hati dari kesombongan, keakuan, _riya', hasad_, dan segala _hijab_ yang menghalangi cahaya Allah. Sebab ilmu tidak pernah benar-benar menetap pada hati yang penuh oleh dirinya sendiri; ia hanya bersemayam pada hati yang telah belajar mengosongkan diri di hadapan kebenaran.

*_Golekana Tapak Manuk Kuntul Temayang:_ Jalan _Taḥalli_*

Burung kuntul yang melayang tidak meninggalkan jejak di langit. Namun, ketiadaan jejak bukan berarti ketiadaan makna. Kehidupan menyimpan banyak tanda yang tidak dapat dibaca oleh mata, tetapi terbuka bagi hati yang telah dipenuhi kepekaan dan adab.

Inilah resonansi _taḥalli._ Setelah hati dibersihkan, ia dihiasi dengan sifat-sifat yang dicintai Allah: _ikhlash, shabr, syukr, tawakkal, tawadlu',_ dan kasih sayang. Dalam keadaan demikian, _bashirah_ menjadi jernih sehingga mampu menangkap isyarat-isyarat Ilahi di balik setiap peristiwa. Sebagaimana diisyaratkan al-Qusyairī dan diperdalam oleh al-Ghazālī, hati yang bening laksana cermin yang memantulkan cahaya hakikat. Mencari _"tapak kuntul yang melayang"_ pada hakikatnya adalah belajar membaca hikmah yang tersembunyi di balik kenyataan yang tampak.

*_Golekana Gung Susuhé Angin:_ Jalan _Tajalli_*

Di manakah sarang angin? Tidak ada yang mampu menunjukkannya, tetapi setiap orang merasakan hembusannya. Angin tidak memperlihatkan tempat asalnya, namun kehadirannya menghadirkan kesejukan, menggerakkan kehidupan, dan membawa kabar dari langit.

Begitulah _tajalli._ Setelah hati disucikan dan dihiasi, Allah menganugerahkan cahaya yang membuat seorang hamba memandang kehidupan dengan mata yang baru. Abu Thalib al-Makki menyebutnya sebagai buah kedekatan kepada Allah. Al-Sarrāj al-Tusi sebagai limpahan cahaya hati, dan Imam al-Ghazālī sebagai lahirnya ma'rifah. Pada saat itu, seluruh kehidupan berubah menjadi _madrasah_; setiap perjumpaan menjadi guru, setiap peristiwa menjadi pelajaran, dan setiap hembusan kehidupan menjadi panggilan untuk semakin mengenal-Nya.

*Penutup*

Ketiga _pitutur_ ini akhirnya memperlihatkan irama pendidikan ruhani yang utuh: mengosongkan hati, menghiasinya dengan adab, lalu menerimanya sebagai tempat bersemayam cahaya hikmah. Bukan identik dengan formulasi tasawuf klasik, tetapi selaras dalam struktur perjalanan spiritual menuju ilmu yang hidup, ilmu yang melahirkan _ma'rifah,_ dan _ma'rifah_ yang membimbing amal.

Barangkali di sinilah para leluhur Jawa dan para Sufi saling berjabat tangan. Yang satu bertutur dengan bahasa alam, yang lain dengan bahasa _maqam_. Namun keduanya bermuara pada kebenaran yang sama: ilmu bukanlah apa yang memenuhi kepala, melainkan cahaya yang memenuhi hati. Ketika hati telah dipenuhi cahaya itu, setiap langkah menjadi zikir, setiap perjumpaan menjadi guru, dan seluruh kehidupan menjadi jalan p**ang menuju Allah SWT.
_______
Mantingan, 6 Agustus 2026
Nur Hadi Ihsan
Dosen Universitas Darussalam Gontor

09/08/2026

_☆Ngaji al-Hikam

*BERTUMBUH DALAM TANAH KETERSEMBUNYIAN*

_(Refleksi atas Hikmah Kesepuluh dari al-Hikam karya Ibnu 'Atha'illah al-Sakandari)*_

دَفْنُ الْوُجُودِ فِي أَرْضِ الْخُمُولِ يَنْبُتُ مَا لَا يَتِمُّ نَتَاجُهُ"

_"Menguburkan keberadaan diri dalam tanah ketersembunyian akan menumbuhkan buah yang tidak akan mencapai kematangannya tanpa ketersembunyian itu."_

Setelah menjelaskan bahwa ketaatan merupakan jalan menuju Allah dan keikhlasan merupakan sarana untuk sampai kepada-Nya, Ibnu 'Atha'illah melanjutkan pembahasannya kepada salah satu syarat terpenting bagi tumbuhnya keikhlasan, yaitu kerendahan hati. Sebab tidak ada yang lebih cepat merusak amal selain keinginan untuk selalu terlihat, selalu diperhatikan, dan selalu memperoleh pengakuan dari manusia.

Manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk ingin dikenal. Ia senang ketika dipuji, dihargai, dan dianggap penting. Keinginan ini tidak selalu salah. Namun ketika kebutuhan untuk tampil menjadi lebih besar daripada kebutuhan untuk memperbaiki diri, perjalanan ruhani mulai kehilangan arahnya. Karena itu, Ibnu 'Atha'illah mengajak seorang hamba untuk belajar bertumbuh dalam apa yang beliau sebut sebagai _ardl al-khumul,_ tanah ketersembunyian.

*Mengubur Keakuan*

Ibnu 'Atha'illah menggunakan ungkapan yang sangat mendalam: _dafn al-wujud,_ mengubur keberadaan diri. Maksudnya tentu bukan menghilangkan eksistensi manusia secara fisik, melainkan mengubur rasa keakuan yang berlebihan.

Sering kali yang menjadi penghalang antara seorang hamba dengan Allah bukanlah dunia yang berada di luar dirinya, melainkan dirinya sendiri. Ia terlalu sibuk memikirkan nama, kedudukan, pengaruh, dan bagaimana pandangan orang lain terhadap dirinya.

Semakin besar perhatian kepada diri sendiri, semakin sempit ruang bagi kehadiran Allah di dalam hati. Karena itu, perjalanan menuju Allah sering kali dimulai dengan meredam dominasi ego agar keikhlasan memperoleh ruang untuk tumbuh dan berkembang.

*Makna _Khumul_*

Secara bahasa, _al-khumul_ berarti tersembunyi, tidak terkenal, atau tidak menonjol di hadapan manusia. Akan tetapi, yang dimaksud dalam hikmah ini bukanlah mengasingkan diri dari kehidupan atau menolak peran sosial. Maksudnya adalah terbebasnya hati dari kebutuhan untuk selalu dilihat dan diakui.

Seseorang boleh menjadi pemimpin, pendidik, ulama, penulis, atau tokoh masyarakat. Ia boleh berada di tengah banyak manusia dan memikul berbagai amanah besar. Namun hatinya tidak bergantung kepada pujian dan penghargaan mereka. Ia lebih sibuk memperbaiki hubungannya dengan Allah daripada membangun citra dirinya di hadapan manusia.

Inilah hakikat _khumul_: hadir tanpa haus penghargaan, beramal tanpa menuntut pengakuan, dan memberi manfaat tanpa merasa perlu menjadi pusat perhatian.

*Pelajaran dari Sebutir Benih*

Mengapa Ibnu 'Atha'illah menggunakan gambaran tanah dan pertumbuhan? Karena kehidupan mengajarkan bahwa benih tidak tumbuh ketika diletakkan di permukaan tanah. Ia baru berkembang ketika dikuburkan.

Sebelum tampak di permukaan, seluruh proses pertumbuhan berlangsung dalam kesunyian. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada pujian, dan tidak ada sorotan manusia. Namun justru di dalam kegelapan tanah itulah akar menguat, batang mulai tumbuh, dan kehidupan dipersiapkan menuju kesempurnaannya.

Demikian p**a kehidupan ruhani. Banyak kematangan batin lahir dalam ruang-ruang yang tidak terlihat oleh manusia. Amal yang paling berharga sering kali adalah amal yang hanya diketahui oleh Allah dan pelakunya. Buah yang sempurna tidak lahir meskipun benih dikuburkan, tetapi justru karena benih itu dikuburkan. Tanah _khumul_ bukanlah tempat kemunduran, melainkan tempat tumbuhnya akar keikhlasan yang kelak melahirkan pohon amal yang kokoh dan penuh keberkahan.

*Puncak Kematangan Ruhani*

Pada akhirnya, hikmah kesepuluh mengajarkan bahwa pertumbuhan yang paling kokoh sering kali berlangsung dalam kesunyian. Tidak semua yang bernilai harus dikenal manusia, dan tidak semua yang besar harus tampak besar. Allah sering menumbuhkan hamba-hamba pilihan-Nya jauh dari sorotan, agar hati mereka hanya mengenal satu tujuan, yaitu mencari rida-Nya semata.

Sebagaimana benih tumbuh di bawah tanah sebelum menjelma pohon yang kokoh, demikian p**a banyak karunia ruhani bertumbuh dalam kerendahan dan ketersembunyian. Di sanalah akar keikhlasan menghunjam semakin dalam, di sanalah ego perlahan melemah, dan di sanalah buah-buah amal mencapai kematangannya.

Maka jangan terlalu sibuk mencari tempat di hati manusia. Carilah tempat di sisi Allah. Jangan gelisah apabila namamu jarang disebut, selama amalmu dikenal oleh-Nya. Jangan bersedih apabila kebaikanmu luput dari penghargaan manusia, selama Allah menerimanya sebagai amal yang ikhlas. Sebab kemuliaan seorang hamba tidak ditentukan oleh luasnya pop**aritas, melainkan oleh dekatnya ia dengan Tuhannya.

Ketika keakuan dikuburkan, keikhlasan mulai bertumbuh. Ketika keinginan untuk dipuji mulai dilepaskan, hati menjadi semakin lapang untuk mencintai Allah. Dan ketika seluruh amal tidak lagi mencari sorotan manusia, tetapi hanya mengharap ridha-Nya, pada saat itulah buah-buah kehidupan ruhani akan tumbuh dengan lebih matang, lebih kokoh, dan lebih diberkahi. Sebab segala sesuatu yang tumbuh dalam tanah kerendahan karena Allah akan hidup dengan kehidupan yang tidak pernah bergantung kepada penilaian manusia, melainkan memperoleh cahaya dan keberkahannya langsung dari Allah Yang Maha Mengetahui segala rahasia hati.

_______
*Disampaikan dalam _Ngaji Subuh_ di Musalla Kampus Pascasarjana UNIDA Kelas C.
Rabu, 29 Juli 2026
Oleh:
Nur Hadi Ihsan
Dosen Universitas Darussalam Gontor

07/08/2026

*DARI SANTRIYAH MENJADI _MURABBIYAH_*
_(Transformasi Melalui Pengabdian dan Pembelajaran Sepanjang Hayat)*_

Peradaban tidak dibangun oleh gedung-gedung yang megah, melainkan oleh manusia-manusia yang agung. Manusia agung tidak dilahirkan oleh kenyamanan, tetapi oleh pendidikan, pengabdian, dan perjuangan yang panjang. Di titik itulah Gontor tidak sekadar mendidik santriyah, melainkan menyiapkan _murabbiyah;_ penjaga nilai, pewaris cita-cita, dan penyalur cahaya peradaban dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di tengah dunia yang semakin mengagungkan gelar, jabatan, dan pencapaian material, Gontor mengajarkan ukuran yang lebih hakiki: kualitas jiwa. Santriyah bukanlah produk akhir pendidikan, melainkan benih yang dipersiapkan untuk bertumbuh menjadi _murabbiyah._ Sebab tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan orang yang berilmu, tetapi melahirkan manusia yang mampu menghidupkan ilmu, menebarkan adab, dan menggerakkan perubahan.

*Pengabdian: _Madrasah_ Pembentukan Jiwa*

Perjalanan menjadi _murabbiyah_ dimulai ketika seseorang bersedia mengabdi. Pengabdian bukan masa menunggu, bukan p**a ruang transisi menuju kehidupan yang dianggap lebih mapan. Pengabdian adalah _madrasah_ pembentukan jiwa; tempat amanah dipikul, kesulitan dihadapi, pengorbanan dijalani, kesabaran diuji, dan keikhlasan dimurnikan. Di sinilah karakter tidak diajarkan melalui teori, tetapi dibangun melalui pengalaman hidup.

Transformasi sejati tidak ditentukan oleh perubahan status, jabatan, ataupun gelar akademik. Transformasi adalah perubahan orientasi hidup: dari menerima menjadi memberi, dari dibimbing menjadi pembimbing, dari belajar menjadi pembelajar sepanjang hayat, dan dari hidup untuk diri sendiri menjadi hidup bagi kemaslahatan umat. _Murabbiyah_ lahir bukan karena apa yang dimilikinya, tetapi karena siapa dirinya.

*Belajar, Mengajar, dan Mengabdi Dalam Satu Tarikan Napas*

Keunikan Gontor tampak pada ekosistem pendidikannya. Seorang guru tetap menjadi mahasiswi, dan seorang mahasiswi tetap menjadi guru. Pada pagi hari ia mendidik santri di kelas, pada waktu yang lain ia memperdalam ilmu di bangku kuliah, sementara seluruh kehidupannya diabdikan untuk menghidupkan Pondok. Mengajar, belajar, dan mengabdi bukanlah tiga aktivitas yang terpisah, melainkan satu kesatuan yang saling menguatkan.

Di sinilah KMI dan UNIDA bertemu dalam satu cita-cita. Pondok membentuk jiwa, sedangkan universitas memperluas cakrawala keilmuan. Pondok menanamkan adab, universitas mempertajam nalar. Pondok melatih kepemimpinan, universitas mengembangkan intelektualitas. Ketika keduanya berpadu, lahirlah _murabbiyah_ yang memiliki keluasan ilmu tanpa kehilangan kerendahan hati, memiliki kecerdasan tanpa kehilangan keikhlasan, dan memiliki kepemimpinan tanpa kehilangan jiwa pengabdian.

Karena itu, pembelajaran tidak pernah berhenti. S1 bukanlah akhir, S2 bukanlah puncak, dan gelar akademik bukanlah tujuan. Semakin tinggi ilmu, semakin besar amanah. Semakin luas wawasan, semakin dalam kerendahan hati. _Murabbiyah_ sejati selalu merasa bahwa setiap hari adalah ruang kuliah, setiap amanah adalah pembelajaran, dan setiap santri adalah guru kehidupan.

*_Murabbiyah_: Penjaga Ruh dan Pembangun Peradaban*

_Murabbiyah_ bukanlah sebuah profesi, melainkan sebuah cara hidup. Ia berpikir dengan ilmu, bertindak dengan adab, melayani dengan kasih sayang, memimpin dengan keteladanan, dan mengabdi dengan keikhlasan. Karena itu, musuh terbesarnya bukanlah keterbatasan fasilitas, melainkan merasa sudah tahu, merasa sudah berjasa, dan merasa sudah selesai belajar. Selama semangat belajar tetap hidup, selama itu p**a proses menjadi _murabbiyah_ terus berlangsung.

Perjalanan itu ibarat sebatang pohon. Santriyah adalah benih. Pengabdian adalah akar yang menghunjam ke bumi keikhlasan. Perkuliahan adalah batang yang mengokohkan ilmu dan pemikiran. _Murabbiyah_ adalah pohon yang menaungi kehidupan, sementara generasi yang lahir dari sentuhan pendidikannya adalah buah yang akan dinikmati oleh zaman. Pohon yang besar tidak ditentukan oleh tingginya cabang, melainkan oleh dalamnya akar. Demikian p**a _murabbiyah;_ semakin tinggi ilmunya, semakin luas pengabdiannya, semakin dalam p**a kerendahan hatinya.

*Penutup*

Pada akhirnya, Gontor tidak sedang membangun gedung yang megah, tetapi sedang membangun manusia yang tangguh. Tidak sekadar melahirkan guru yang mampu menyampaikan pelajaran, tetapi _murabbiyah_ yang mampu menyalakan harapan, menghidupkan nilai, membentuk karakter, dan melahirkan generasi yang lebih baik daripada dirinya.

Selama tradisi belajar, mengabdi, dan mendidik tetap menyatu dalam satu tarikan napas, selama itu p**a Gontor akan terus melahirkan generasi pendidik yang menjadi penjaga ruh Pondok, pewaris cita-cita Trimurti, penggerak umat, dan pembangun peradaban.

_______
*Disampaikan dalam _Kajian Subuh_ Di Musalla Mukhlisin, Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 3. Karangbanyu, Widodaren, Ngawi, Jawa Timur
Jumat, 7 Agustus 2026
Oleh:
Nur Hadi Ihsan
Dosen Universitas Darussalam Gontor.

Bismillahirrahmanirrahim
05/08/2026

Bismillahirrahmanirrahim

Bismillahirrahmanirrahim Mendidik dan mengajar santri bukan pada ilmunya saja, tapi juga pada sikap dan mentalnya.Drs. K...
04/08/2026

Bismillahirrahmanirrahim

Mendidik dan mengajar santri bukan pada ilmunya saja, tapi juga pada sikap dan mentalnya.

Drs. KH. Muhammad Akrim Mariyat, Dipl. A.Ed.

Address

Jalan Raden Wijaya Depan Masjid Babussalam Sooko Mojokerto
Mojokerto
61364

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when IKPM Mojokerto Resmi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to IKPM Mojokerto Resmi:

Shortcuts

Share