IKPM Mojokerto Resmi

IKPM Mojokerto Resmi

Share

Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Mojokerto adalah ajang silaturrahim alumnus dan pernah belajar di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorgo.

tempat ngumpul dan silaturahmi antar lintas alumni se mojokerto

04/06/2026

Bismillahirrahmanirrahim

04/06/2026

KETIKA SANTRI MULAI JARANG SOWAN KE KYAI

Ada fenomena yang semakin sering kita jumpai di zaman ini, namun jarang dibicarakan dengan jujur.

Ketika masih menjadi santri, seseorang begitu hormat kepada gurunya. Ia duduk bersimpuh di hadapan beliau, mencium tangannya setiap selesai mengaji, menunggu nasihatnya, meminta doanya, bahkan merasa bahagia hanya karena dipanggil namanya oleh sang guru.

Namun setelah menjadi alumni, memiliki jabatan, gelar, pengajian sendiri, usaha yang berkembang, atau mulai dikenal masyarakat, perlahan langkahnya menuju rumah guru mulai jarang terlihat.

Bukan karena pesantrennya pindah.

Bukan karena rumah gurunya berubah tempat.

Sering kali yang berubah adalah sesuatu yang tidak terlihat oleh mata, yaitu isi hati.

Ia mulai merasa sudah cukup tahu. Mulai merasa sudah mampu berjalan sendiri. Mulai merasa tidak lagi membutuhkan bimbingan sebagaimana dahulu. Padahal Allah berfirman:

وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

"Di atas setiap orang yang berilmu masih ada yang lebih berilmu." (QS. Yusuf: 76)

Ayat ini mengajarkan bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hatinya. Sebab ilmu yang sejati melahirkan ketawadukan, bukan kesombongan. Imam Malik rahimahullah berkata:

تَعَلَّمْتُ الْأَدَبَ ثَلَاثِينَ سَنَةً وَتَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ عِشْرِينَ سَنَةً

"Aku belajar budi pekerti selama tiga puluh tahun dan belajar ilmu selama dua puluh tahun."

Karena sesungguhnya ilmu yang tidak melahirkan rasa hormat dan kerendahan hati hanyalah tumpukan informasi, bukan cahaya yang menerangi hati.

Ironisnya, ada p**a sebagian murid seakan hanya ingat kepada gurunya ketika dirinya sedang memiliki masalah.

Saat hidupnya berjalan lancar, rezekinya mengalir, usahanya berkembang, keluarganya harmonis, dan semua urusannya baik-baik saja, bertahun-tahun ia tidak pernah sowan.

Nomor telepon gurunya masih tersimpan, tetapi tak pernah dihubungi.

Rumah gurunya masih berdiri di tempat yang sama, tetapi langkah kakinya tak pernah sampai kesana.

Ia sibuk menghadiri berbagai acara. Sibuk menemui banyak orang. Sibuk membangun relasi. Sibuk mengejar urusan dunia. Namun tidak sempat meluangkan waktu untuk sekadar duduk beberapa menit di hadapan orang yang dahulu mengajarinya ilmu.

Akan tetapi, begitu musibah datang, usaha bangkrut, rumah tangga bermasalah, anak sakit, terlilit hutang, atau hidup terasa sempit, tiba-tiba gurunya menjadi orang pertama yang dicari.

Ia datang dengan wajah penuh kesedihan. Ia menceritakan seluruh persoalannya. Ia meminta nasihat. Ia memohon doa. Bahkan terkadang menangis di hadapan gurunya.

Sungguh ironi yang patut direnungkan.

Ketika lapang ia lupa. Ketika sempit ia ingat.

Ketika bahagia ia menjauh. Ketika terluka ia mendekat.

Seolah-olah guru hanya menjadi tempat mengadu ketika dibutuhkan, bukan sosok yang harus dijaga hubungan dengannya sepanjang waktu.

Padahal hubungan murid dengan guru tidak dibangun di atas kepentingan.

Sowan bukan hanya ketika kita punya masalah.

Meminta doa bukan hanya ketika kita sedang kesulitan.

Karena murid yang tulus tidak mendatangi gurunya hanya untuk meminta sesuatu, tetapi juga datang untuk menunjukkan rasa hormat, rasa terima kasih, dan kerinduan kepada orang yang pernah berjasa membentuk dirinya.

Betapa indahnya jika seorang murid datang kepada gurunya tanpa membawa persoalan apa pun.

Tidak sedang meminta solusi.

Tidak sedang meminta bantuan.

Tidak sedang meminta doa untuk sebuah kesulitan.

Ia datang hanya untuk bersalaman. Mencium tangan gurunya. Menanyakan kabarnya. Duduk sebentar di hadapannya. Lalu p**ang dengan hati yang lapang dan bahagia.

Karena sesungguhnya salah satu tanda ketulusan adalah tetap mengingat seseorang ketika kita tidak sedang membutuhkan apa-apa darinya.

Maka jangan jadikan guru sebagai tempat persinggahan ketika badai datang, lalu dilupakan ketika langit kembali cerah.

Sebab guru yang dahulu mendoakanmu ketika engkau bukan siapa-siapa, pantas untuk tetap kau kenang dan kau hormati bahkan ketika hidupmu sedang baik-baik saja.

Ingatlah, hubungan dengan guru bukanlah hubungan transaksional yang hanya dicari saat ada kebutuhan.

Ia adalah hubungan yang dibangun diatas ilmu, kasih sayang, pengorbanan, dan keberkahan.

Karena itu para ulama terdahulu tidak mendatangi guru mereka hanya ketika membutuhkan sesuatu. Mereka datang karena cinta, karena hormat, dan karena sadar bahwa ada jasa yang tidak akan pernah mampu mereka balas sampai kapan pun.

Mungkin gurumu tidak pernah mengeluh karena engkau jarang datang. Mungkin gurumu tidak pernah menagih penghormatan darimu. Mungkin gurumu tidak pernah mempertanyakan mengapa engkau tidak lagi sowan.

Tetapi pertanyaannya adalah: apakah engkau sendiri sudah menunaikan hak orang yang dahulu menjadi jalan sampainya ilmu Allah kepadamu...??

Jangan sampai engkau hanya datang ketika hidupmu sedang runtuh. Datanglah juga ketika hidupmu sedang baik-baik saja.

Karena rasa hormat yang tulus tidak lahir dari kebutuhan, melainkan dari kesadaran akan jasa yang tak akan pernah mampu dibalas dengan apa pun.

Yang lebih menyedihkan lagi, ada sebagian murid yang bukan hanya jarang sowan kepada gurunya, tetapi perlahan mulai melupakan gurunya sendiri.

Bukan karena gurunya berbuat jahat kepadanya.

Bukan karena gurunya tidak lagi mengajarkan ilmu.

Tetapi karena ia menemukan guru lain yang menurut pandangannya lebih hebat, lebih terkenal, lebih banyak pengikutnya, lebih masyhur karamahnya, lebih sering disebut wali Allah.

Lalu tanpa sadar hatinya berpaling. Namanya lebih sering menyebut guru orang lain daripada gurunya sendiri.

Kakinya lebih sering melangkah ke majelis orang lain daripada ke rumah gurunya sendiri.

Kekagumannya kepada orang lain membuatnya lupa kepada orang yang dahulu pertama kali mengajarinya membaca kitab, mengenalkan halal dan haram, serta membimbing langkahnya menuju jalan ilmu.

Padahal para ulama mengajarkan bahwa keberkahan bukan hanya terletak pada siapa yang paling terkenal, tetapi juga pada siapa yang Allah jadikan sebab sampainya ilmu kepada kita.

Boleh jadi ada seorang wali Allah yang doanya mustajab.

Boleh jadi ada seorang ulama yang karamahnya masyhur di berbagai negeri.

Namun jangan pernah lupa bahwa guru yang pertama kali membimbing kita memiliki hubungan ruhani yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Beliaulah yang dahulu bersabar menghadapi kebodohan kita. Beliaulah yang mengajari kita dari huruf demi huruf. Beliaulah yang mendoakan kita ketika nama kita belum dikenal siapa pun. Beliaulah yang mungkin pernah menyebut nama kita dalam munajatnya di tengah malam, sementara kita sendiri tidak mengetahuinya.

Karena itu para ulama selalu mengingatkan bahwa keberkahan guru kita kepada diri kita tidak bisa digantikan oleh siapa pun.

Bahkan sering kali doa guru kita sendiri lebih dekat kepada kehidupan kita daripada doa orang lain yang jauh lebih terkenal.

Sebab hubungan antara guru dan murid bukan sekadar hubungan akademik, tetapi hubungan yang dibangun oleh ilmu, kasih sayang, pengorbanan, dan takdir Allah.

Dan yang lebih miris lagi, ada murid yang berubah menjadi penentang gurunya sendiri. Bertahun-tahun ia belajar. Bertahun-tahun ia mengambil manfaat. Bertahun-tahun ia menikmati keberkahan ilmu gurunya.

Namun ketika melihat satu kesalahan, satu kekhilafan, atau satu sisi manusiawi yang tampak di depan matanya, tiba-tiba seluruh kebaikan gurunya seakan lenyap dari ingatannya.

Satu kesalahan diingat.
Seribu kebaikan dilupakan. Satu kekhilafan diperbesar.
Puluhan tahun jasa dihapuskan.

Padahal tidak ada manusia yang sempurna selain para nabi dan rasul. Imam Asy-Syafi'i berkata:

مَنْ ذَا الَّذِي تُرْضَى سَجَايَاهُ كُلُّهَا

"Siapakah manusia yang seluruh sifatnya sempurna tanpa cela?"

Guru tetaplah manusia. Ia bisa salah. Ia bisa khilaf. Ia bisa memiliki kekurangan.

Namun satu kekhilafan tidak menghapus lautan kebaikan yang pernah ia berikan.

Betapa banyak murid yang dahulu menangis meminta doa gurunya, namun kemudian berubah menjadi orang yang paling keras menghujat gurunya.

Betapa banyak murid yang dahulu hidup dari keberkahan ilmu gurunya, tetapi kemudian menjadi orang pertama yang menyebarkan kekurangan gurunya.

Padahal jika bukan karena guru itu, mungkin ia tidak akan pernah mengenal jalan ilmu sebagaimana hari ini.

Ingatlah...
Guru kita tetaplah guru kita. Sebagaimana orang tua kita tetaplah orang tua kita.

Kita tidak pernah memilih dilahirkan oleh siapa.

Kita tidak pernah meminta menjadi anak si A, si B, atau si C.

Namun Allah menetapkannya sebagai bagian dari garis takdir hidup kita.

Demikian p**a guru. Tidak pernah ada dalam rencana kita sejak kecil bahwa kita akan berguru kepada si A, si B, atau si C.

Tetapi Allah menggiring langkah kaki kita menuju mereka.

Allah yang mempertemukan kita dengan mereka.

Allah yang menjadikan mereka sebab sampainya ilmu kepada kita.

Maka berguru kepada seseorang bukanlah peristiwa biasa.

Ia adalah bagian dari takdir Allah yang ditulis jauh sebelum kita mengenal nama guru itu.

Karena itu jangan mudah memutus hubungan dengan guru hanya karena kecewa.

Jangan mudah menjauh hanya karena berbeda pandangan.

Jangan mudah melupakan jasa hanya karena menemukan orang yang menurut kita lebih hebat.

Karena belum tentu orang yang paling hebat menurut pandangan kita adalah orang yang paling besar keberkahannya bagi kehidupan kita.

Guru mungkin tidak membutuhkan kedatangan kita.

Guru mungkin tidak membutuhkan hadiah kita.

Guru mungkin tidak membutuhkan pujian kita.

Tetapi kitalah yang membutuhkan doa mereka. Kitalah yang membutuhkan keridhaan mereka. Kitalah yang membutuhkan keberkahan yang Allah titipkan melalui hati mereka.

Maka selama guru-guru kita masih hidup, sempatkanlah datang menemuinya. Cium tangannya. Duduklah di hadapannya sebagaimana dahulu kita duduk sebagai seorang murid. Mintalah doanya.

Jangan tunggu kabar wafatnya baru kita datang dengan air mata dan penyesalan.

Karena saat itu yang tersisa hanyalah kenangan yang tidak bisa diulang.

Dan ingatlah...
Hati seorang guru yang terluka karena muridnya bukan perkara ringan.

Para ulama sejak dahulu sangat takut menyakiti hati guru mereka.

Karena mereka tahu, keberkahan ilmu tidak hanya bergantung pada kecerdasan akal, tetapi juga pada keridhaan orang yang menjadi sebab sampainya ilmu tersebut.

Boleh jadi engkau memiliki banyak murid.

Boleh jadi engkau memiliki banyak pengikut.

Boleh jadi engkau lebih terkenal daripada gurumu.

Tetapi jangan pernah lupa bahwa di suatu tempat masih ada seorang guru yang dahulu mengajarimu membaca, memahami, dan mengenal jalan kebaikan.

Di hadapan beliau, engkau akan tetap menjadi seorang murid sampai akhir hayatmu.

Semoga Allah menjaga hati kita dari kesombongan yang tersembunyi, menjaga hubungan kita dengan guru-guru kita, melimpahkan keberkahan pada ilmu yang kita pelajari, dan menjadikan kita termasuk murid yang setia mengenang jasa gurunya, baik ketika beliau dipuji manusia maupun ketika beliau memiliki kekurangan sebagai manusia.

Karena sesungguhnya, tidak sedikit orang kehilangan keberkahan ilmu bukan karena kurang belajar, tetapi karena lupa kepada orang yang dahulu mengajarinya.

"Jangan menunggu gurumu berada di dalam liang lahat untuk menyadari bahwa tidak semua orang yang kau kagumi hari ini pernah mencintaimu, mendoakanmu, dan membimbingmu sebagaimana gurumu dahulu melakukannya."

_______
SEMUA ORANG

02/06/2026

Bismillahirrahmanirrahim
100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor dari roudloh Asy-Syarif



01/06/2026

*PANCASILA DALAM LAKU PESANTREN*

Pancasila tidak sedang kekurangan pembela. Ia sedang kekurangan manusia yang bersedia membayar harga untuk menghidupkannya. Setiap tahun namanya diperingati, tetapi tidak selalu direnungi. Setiap pekan sila-silanya dibacakan, tetapi tidak selalu dijadikan jalan kehidupan. Sejarah menunjukkan bahwa bangsa tidak runtuh karena kehilangan semboyan. Bangsa retak ketika nilai-nilai yang dimuliakan dalam pidato perlahan ditinggalkan dalam kenyataan.

Persoalan terbesar bangsa ini bukanlah krisis konsep, melainkan krisis karakter. Kita memiliki dasar negara yang kokoh, cita-cita yang luhur, dan berbagai aturan yang lengkap. Namun semua itu akan menjadi bangunan kata-kata apabila tidak ditopang oleh manusia yang jujur, amanah, adil, dan bertanggung jawab. Masa depan Pancasila pada akhirnya ditentukan oleh kualitas manusia yang menghidupkannya.

*Krisis yang Terlupakan*

Banyak orang mengira ancaman terbesar bagi Pancasila datang dari mereka yang menolaknya. Padahal ancaman yang lebih sunyi justru lahir dari mereka yang mengaku menjunjungnya tetapi enggan mengamalkannya. Ketuhanan dipuji, tetapi integritas dikorbankan. Persatuan diserukan, tetapi perpecahan dipelihara. Keadilan dijadikan cita-cita, tetapi keistimewaan terus diwariskan. Nilai-nilai besar sering kalah oleh kepentingan-kepentingan kecil.

Krisis seperti ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan regulasi. Hukum dapat mengatur perilaku, tetapi tidak selalu membentuk hati. Kekuasaan dapat menciptakan ketertiban, tetapi tidak otomatis melahirkan kebajikan. Bangsa yang sehat memerlukan manusia yang mampu menjaga amanah ketika tidak ada yang mengawasi, tetap berlaku benar ketika memiliki kesempatan untuk menyimpang, dan tetap mengutamakan pengabdian di atas kepentingan pribadi.

*Pesantren dan Pembentukan Jiwa*

Di sinilah pesantren menemukan relevansinya. Sejak awal, pesantren tidak dibangun untuk mengejar pop**aritas ataupun kekuasaan. Pekerjaan utamanya adalah membentuk manusia. Ilmu diajarkan, tetapi ilmu bukan tujuan akhir. Tujuan yang lebih mendasar adalah melahirkan pribadi yang mengenal Tuhannya, memahami tanggung jawabnya, dan menyadari bahwa hidup adalah amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan.

Tradisi pesantren berangkat dari keyakinan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari penataan jiwa. Dalam khazanah tasawuf, kerusakan sosial sering berakar pada kekacauan batin. Karena itu, pendidikan tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga melatih kesabaran, keikhlasan, kedisiplinan, dan pengendalian diri. Dari jiwa yang tertata lahirlah perilaku yang tertib, dan dari manusia yang baik tumbuh masyarakat yang baik.

*Sila Dalam Kehidupan*

Banyak nilai yang menjadi ruh Pancasila telah lama hidup dalam tradisi pesantren, bukan sebagai teori yang diajarkan sesekali, melainkan sebagai laku yang dijalani setiap hari. Ketuhanan hadir dalam ibadah dan keikhlasan. Kemanusiaan tumbuh dalam adab dan penghormatan kepada sesama. Musyawarah, tanggung jawab, dan kedisiplinan dibiasakan dalam kehidupan bersama yang berlangsung sepanjang waktu.

Persatuan pun tidak diajarkan sebagai slogan. Ia tumbuh dari perjumpaan sehari-hari antara santri yang datang dari berbagai daerah, budaya, dan latar belakang. Mereka belajar hidup bersama, berbagi tanggung jawab, dan menyelesaikan perbedaan dengan kedewasaan. Nilai yang terus dipraktikkan akan jauh lebih kuat daripada nilai yang hanya dihafalkan.

*Persatuan yang Diikhtiarkan*

Gontor memberikan contoh menarik tentang bagaimana persatuan tidak dibiarkan tumbuh secara kebetulan. Dalam pembagian kamar, jumlah santri yang berasal dari daerah yang sama dibatasi. Kecenderungan membentuk kelompok-kelompok kedaerahan juga dikurangi agar setiap santri belajar keluar dari lingkaran identitas yang sempit dan mengenal Indonesia yang lebih luas.

Dari proses sederhana itulah lahir pengalaman yang tidak dapat diberikan oleh buku pelajaran. Seorang anak Madura belajar hidup bersama anak Manado. Seorang santri dari Aceh belajar memahami sahabatnya dari Papua. Persatuan tidak hanya dibicarakan, tetapi dijalani. Dalam istilah para sufi, inilah _tarbiyah bi al-hal;_ pendidikan melalui pengalaman hidup, bukan sekadar melalui nasihat.

*Kebudayaan Sebagai Jembatan*

Semangat yang sama tampak dalam berbagai kegiatan kebudayaan Pondok. Melalui acara semacam _Aneka Ria Nusantara,_ keberagaman tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai kekayaan yang patut disyukuri. Santri belajar mengenal budaya daerah lain bukan untuk membandingkan, tetapi untuk menghargai dan mengambil pelajaran darinya.

Di ruang seperti itu, _Bhinneka Tunggal Ika_ tidak lagi menjadi kalimat yang dihafal untuk ujian. Ia berubah menjadi pengalaman yang dirasakan. Kebudayaan tidak menjadi tembok yang memisahkan, tetapi jembatan yang mempertemukan. Persatuan tumbuh bukan karena kesamaan, melainkan karena kemampuan menghargai perbedaan.

*Berdiri di Atas dan Untuk Semua Golongan*

Semua itu bertumpu pada satu prinsip yang sejak lama menjadi jiwa Gontor:_"Berdiri di atas dan untuk semua golongan."_ Prinsip ini bukan sikap netral yang pasif, melainkan keberpihakan aktif kepada persatuan umat dan keutuhan bangsa. Dengan menjaga jarak dari kepentingan kelompok, pesantren memiliki ruang yang lebih luas untuk merangkul berbagai kalangan.

Di tengah kehidupan sosial yang mudah terpecah oleh identitas dan kepentingan, prinsip ini menjadi semakin relevan. Ketika banyak pihak sibuk menegaskan perbedaan, pesantren berusaha memperkuat titik-titik pertemuan. Ketika sebagian orang membangun tembok, pesantren membuka pintu. Di situlah persatuan menemukan bentuknya yang paling nyata.

*Laku yang Menghidupkan*

Hubungan pesantren dengan Pancasila sesungguhnya bukan hubungan antara pendukung dan ideologi yang didukung. Hubungan itu lebih menyerupai hubungan antara nilai dan kehidupan. Pancasila merumuskan cita-cita bangsa, sedangkan pesantren berusaha menanamkan nilai-nilai yang membuat cita-cita itu dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Pancasila tidak sedang menunggu untuk diperingati. Ia sedang menunggu untuk dihidupi. Selama masih ada pesantren yang menanamkan iman, adab, persaudaraan, musyawarah, dan pengabdian, selama itu p**a nilai-nilai Pancasila akan tetap hidup; bukan di dinding, bukan di podium, melainkan di dalam jiwa bangsa.

Mantingan, 1 Juni 2026
Nur Hadi Ihsan
Guru Besar Ilmu Tasawuf
Universitas Darussalam Gontor

01/06/2026

*STRUKTUR DAN KULTUR*

Ada lembaga yang berdiri karena bangunannya besar dan indah. Ada institusi yang bertahan karena sistemnya kuat. Namun lembaga yang mampu hidup panjang melampaui zaman biasanya memiliki sesuatu yang lebih dalam daripada keduanya: keseimbangan antara struktur dan kultur.

Banyak lembaga kehilangan arah bukan karena kurang aturan, tetapi karena kehilangan budaya yang memberi ruh kepada aturan itu. Sebaliknya, tidak sedikit lembaga yang memiliki suasana kekeluargaan yang hangat, tetapi lemah dalam menjaga ketertiban dan amanah. Di antara dua kutub itulah masa depan sebuah institusi ditentukan.

Pondok Modern Darussalam Gontor memahami rahasia itu sejak awal. Struktur dijaga agar perjalanan lembaga tidak kehilangan arah. Kultur dipelihara agar kehidupan lembaga tidak kehilangan jiwa. Struktur tanpa kultur melahirkan kekeringan birokrasi, sedangkan kultur tanpa struktur melahirkan kelembutan yang kehilangan ketegasan.

*Tiang dan Cahaya*

Struktur adalah tiang. Kehadirannya menopang keteraturan, menjaga amanah, membagi tanggung jawab, dan memastikan roda lembaga berjalan melampaui figur perorangan. Melalui struktur, disiplin ditegakkan, keputusan dijalankan, dan arah perjuangan dijaga agar tidak mudah berubah oleh keadaan.

Kultur adalah cahaya. Kehadirannya memberi makna pada setiap aturan dan menghidupkan ruh dalam setiap tanggung jawab. Struktur menentukan siapa yang memimpin, tetapi kultur menentukan bagaimana kepemimpinan itu diterima. Aturan dapat menciptakan kepatuhan, tetapi hanya adab yang mampu melahirkan kesetiaan.

Syed Muhammad Naquib al-Attas menjelaskan bahwa inti pendidikan adalah _ta'dib,_ yakni penempatan sesuatu pada tempatnya secara tepat dan adil. Dalam kehidupan lembaga, struktur membantu menempatkan fungsi dan tanggung jawab, sedangkan kultur membantu menempatkan adab dan penghormatan. Ketika keduanya berjalan seimbang, lahirlah ketertiban yang manusiawi dan penghormatan yang dewasa.

*Adab dan Amanah*

Kehidupan lembaga tidak selalu berjalan dalam keadaan mudah. Ada saat ketika seseorang yang lebih muda harus memimpin mereka yang lebih senior. Ada masa ketika pemegang struktur harus mengoreksi orang yang lebih tua usia dan pengalamannya. Situasi semacam ini sering menjadi ujian kedewasaan sebuah institusi.

Dalam kehidupan pesantren, keadaan seperti itu bukan sesuatu yang asing. Tidak jarang seorang kader muda memegang amanah kepemimpinan atas mereka yang lebih senior darinya. Secara struktur ia berkewajiban menjalankan amanah, tetapi secara kultur ia tetap dituntut menjaga penghormatan. Di titik semacam itulah kualitas pendidikan dan kedewasaan lembaga diuji.

Rasulullah SAW bersabda: _"Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua."_ Hadis ini menjadi fondasi penting dalam kultur pendidikan. Karena itu, teguran harus disampaikan tanpa mempermalukan, koreksi dilakukan tanpa menjatuhkan, dan amanah dijalankan tanpa kehilangan adab. Di situlah makna mendalam ungkapan populer di Gontor: سل ضميرك (_tanyalah hati nuranimu)._

*Ruh Keikhlasan*

Kekuatan lembaga pendidikan sejatinya tidak hanya terletak pada jadwal yang rapi atau aturan yang ketat, tetapi pada ruh keikhlasan yang mengalir dalam struktur dan kultur sekaligus. Jabatan dipahami sebagai amanah, bukan kehormatan pribadi. Senioritas dipahami sebagai keteladanan, bukan hak untuk selalu dibenarkan.

Tradisi sufistik menyebut keseimbangan semacam ini sebagai mizan, keseimbangan yang menjadi dasar harmoni kehidupan. Al-Qur'an mengingatkan: وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ. Langit ditegakkan dengan keseimbangan, dan kehidupan lembaga pun hanya akan kokoh ketika keseimbangan itu dijaga.

Malik Bennabi menjelaskan bahwa peradaban lahir bukan hanya dari benda dan ide, tetapi dari jaringan hubungan moral di antara manusia. Karena itu, ketika struktur kehilangan adab, institusi perlahan berubah menjadi mesin. Sebaliknya, ketika kultur kehilangan disiplin, institusi perlahan berubah menjadi kump**an kenangan yang kehilangan masa depan.

*Menjaga Ruh Lembaga*

Lembaga besar tidak runtuh dalam sehari. Keretakan sering bermula dari hal-hal kecil yang dibiarkan tumbuh: teguran yang kehilangan adab, senioritas yang berubah menjadi keistimewaan, atau struktur yang berjalan tanpa kebijaksanaan hati.

Keseimbangan struktur dan kultur karena itu bukan sekadar kebutuhan organisasi, melainkan amanah peradaban. Struktur menjaga arah perjuangan agar tidak liar, sedangkan kultur menjaga jiwa perjuangan agar tidak kering. Struktur melatih tanggung jawab, sementara kultur melatih keluhuran budi.

Pertemuan keduanya melahirkan manusia yang mampu tegas tanpa kasar, hormat tanpa kehilangan keberanian, taat tanpa kehilangan martabat, serta memimpin tanpa kehilangan kerendahan hati. Dari manusia-manusia semacam itulah lahir lembaga yang mampu bertahan melampaui zaman.

*Penutup*

Pada akhirnya, gedung dapat menjulang tinggi, sistem dapat tampak rapi, dan aturan dapat tersusun sangat lengkap. Namun ruh lembaga hanya akan tetap hidup ketika hati para penggeraknya masih mampu menjaga adab, menghormati amanah, dan mendengarkan bisikan nurani. Menjaga struktur adalah kebutuhan organisasi, sedangkan menjaga kultur adalah menjaga ruh yang membuat organisasi tetap hidup. Struktur dapat diwariskan melalui aturan, tetapi kultur hanya dapat diwariskan melalui keteladanan.

Sebab kehancuran sebuah lembaga tidak selalu diawali oleh runtuhnya bangunan, tetapi sering dimulai ketika manusia di dalamnya tidak lagi tahu bagaimana menghormati, bagaimana menegur, dan bagaimana menjaga hati satu sama lain. Ketika itu terjadi, yang hilang bukan hanya keharmonisan, melainkan ruh yang selama ini membuat lembaga tetap hidup melampaui zaman.

Mantingan, 1 Juni 2026
Nur Hadi Ihsan
Dosen Universitas Darussalam

30/05/2026

sehat selalu Mbah Yai Hasan Abdullah Sahal

29/05/2026

KETIKA SIMBOL MENIPU

Di zaman ketika persepsi bergerak lebih cepat daripada kebenaran, satu simbol dapat memuliakan sekaligus menghancurkan. Sorban, jubah, istilah “kiai”, atau nama “pesantren” sering kali langsung dipercaya tanpa proses tabayyun yang jernih. Ketika simbol dipakai oleh tangan yang salah, kerusakan yang muncul tidak hanya menimpa individu, tetapi juga mencederai kepercayaan masyarakat terhadap tradisi ilmu, adab, dan moral yang dibangun puluhan bahkan ratusan tahun. Di titik inilah bahaya terbesar bermula: masyarakat perlahan kehilangan kemampuan membedakan antara kemuliaan nilai dan kepalsuan simbol.

Dalam teori komunikasi dikenal istilah komunikasi satu tahap dan dua tahap, juga komunikasi satu arah dan dua arah. Namun dalam kenyataan hari ini, mayoritas masyarakat menerima informasi melalui media sosial, media elektronik, dan media massa. Akibatnya, banyak orang mengetahui sebuah peristiwa hanya melalui apa yang dibaca, didengar, atau dibagikan berulang-ulang, bukan melalui pengamatan langsung, penelitian mendalam, ataupun proses verifikasi yang memadai. Kedalaman pemahaman akhirnya sering berhenti pada permukaan informasi, sementara opini terbangun jauh lebih cepat daripada pencarian fakta yang utuh.

Pesantren, Stigma, dan Krisis Literasi Publik

Ketika muncul kasus asusila yang melibatkan seseorang beratribut agama, istilah “kiai”, “ustadz”, atau “pondok pesantren” segera diseret ke ruang publik tanpa kehati-hatian. Pengulangan semacam itu perlahan membentuk kesan seolah-olah pesantren identik dengan penyimpangan moral. Padahal banyak kasus justru terjadi di tempat yang jauh dari tradisi kepesantrenan yang sebenarnya: padepokan tertutup, praktik spiritual tanpa sanad, atau kelompok yang memakai simbol agama demi legitimasi sosial. Di sinilah masyarakat sering terjebak pada simbol, tetapi gagal membaca substansi.

Kekeliruan membedakan pesantren dan tempat berkedok agama akhirnya melahirkan stigma yang meluas. Pesantren ikut dicurigai, kiai ikut tercoreng, dan santri ikut menanggung prasangka. Padahal mayoritas pesantren di Indonesia sejak dahulu menjadi ruang pendidikan akhlak, penjagaan adab, dan penguatan moral masyarakat.

Dalam tradisi Islam di Nusantara, kiai bukan sekadar gelar sosial. Kehormatan itu tumbuh dari proses panjang: belajar ilmu dengan sanad yang jelas, mengabdi kepada guru, melatih kesederhanaan hidup, dan menjaga akhlak sebagai amanah. Karena itu, marwah kepesantrenan tidak dibangun oleh simbol, tetapi oleh integritas ilmu dan keteladanan hidup.

Era Persepsi Cepat

Perkembangan media digital telah mengubah cara masyarakat memahami kenyataan. Informasi bergerak sangat cepat, sedangkan kemampuan menelaah sering tertinggal. Banyak orang membaca tanpa memeriksa, lalu menyimpulkan tanpa tabayyun. Fenomena ini diperparah oleh menurunnya kepedulian sosial, melemahnya social control, dan berkurangnya kepekaan masyarakat terhadap pentingnya kehati-hatian dalam menerima informasi.

Keadaan semacam itu dapat menjadi bagian dari dekadensi akhlak dan adab sosial di ruang publik. Satu kasus yang viral mampu menutupi ribuan kenyataan baik yang berlangsung setiap hari. Jarang terdengar kisah kiai yang mengabdi puluhan tahun tanpa pamrih, ustadz yang mendidik dengan kesabaran, atau pesantren yang menampung anak yatim dan kaum duafa. Kehidupan pesantren yang sederhana kalah cepat dibanding berita yang penuh sensasi.

Namun demikian, masih banyak masyarakat yang tetap kritis dan dewasa dalam menerima informasi. Mereka tidak langsung mencaplok berita mentah, tidak mudah menuduh secara serampangan, dan tidak tergesa-gesa menyimpulkan suatu peristiwa hanya berdasarkan potongan informasi yang viral. Sebagian terus mengikuti perkembangan berita secara utuh, melakukan tabayyun, bahkan ada yang datang langsung ke tempat kejadian untuk mengetahui fakta yang sebenarnya. Hal itu merupakan pertanda baik bagi tumbuhnya kesadaran literasi dan kedewasaan sosial di tengah masyarakat.

Literasi Pesantren

Kebutuhan terbesar masyarakat hari ini bukan sekadar akses informasi, melainkan kemampuan memahami informasi secara proporsional. Literasi pesantren menjadi penting agar masyarakat mampu mengenali ciri lembaga pendidikan Islam yang benar-benar tumbuh dari tradisi ilmu dan adab.

Pesantren sejati dibangun di atas sanad keilmuan, pendidikan akhlak, dan tanggung jawab moral. Tradisi itu sangat berbeda dengan praktik manip**asi spiritual, kultus individu, atau eksploitasi berkedok agama. Kedewasaan masyarakat tampak dari kemampuannya menahan diri untuk tidak tergesa-gesa menyimpulkan.

Di tengah derasnya arus informasi global, sebagian pengamat bahkan mengingatkan adanya permainan opini dan operasi persepsi yang dirancang secara sistematis untuk melemahkan institusi-institusi moral masyarakat. Terlepas dari benar atau tidaknya seluruh asumsi itu, kenyataan tentang perang informasi dan manip**asi persepsi memang tidak dapat diabaikan. Karena itu, masyarakat dituntut semakin cerdas, tenang, dan hati-hati agar tidak mudah digiring oleh arus framing yang merusak kepercayaan sosial.

Menghidupkan Majelis

Salah satu ikhtiar penting menghadapi krisis literasi ialah menghidupkan kembali majelis ilmu di tengah masyarakat. Majelis taklim bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga ruang pembentukan akhlak, adab, dan kedewasaan berpikir. Majelis-majelis ilmu perlu diperbanyak di kampung, perumahan, lingkungan masyarakat, dan tempat-tempat yang belum tersentuh pembinaan keagamaan secara memadai.

Masyarakat yang dekat dengan ilmu, ulama, dan tradisi pengajian cenderung lebih tenang dalam menyikapi persoalan. Kedekatan dengan majelis taklim membuat seseorang tidak mudah terseret provokasi, prasangka, dan penghakiman yang tergesa-gesa. Sebab ilmu melatih manusia untuk lebih jernih melihat persoalan dan lebih bijak dalam mengambil kesimp**an.

Ruang publik juga memerlukan lebih banyak berita baik tentang pesantren yang disampaikan secara proporsional. Kisah tentang pengabdian guru, kesungguhan santri, pelayanan sosial pesantren, dan perjuangan menjaga moral masyarakat perlu lebih sering dihadirkan agar publik memperoleh gambaran yang lebih utuh dan adil tentang dunia kepesantrenan.

Benteng Moral Bangsa

Pesantren tentu tidak kebal dari kemungkinan hadirnya oknum yang menyimpang. Namun menghancurkan marwah pesantren karena ulah segelintir orang merupakan bentuk ketidakadilan berpikir yang berbahaya.

Pesantren sejati hadir untuk menjaga akhlak ketika banyak sendi kehidupan mulai kehilangan arah. Kesederhanaan masih diajarkan ketika kemewahan menjadi ukuran kehormatan. Adab tetap dijaga ketika kebebasan kehilangan batas.

Karena itu, yang harus dilawan adalah penyimpangannya, bukan tradisi pesantrennya. Sebab ketika masyarakat mulai kehilangan kepercayaan kepada pesantren, yang runtuh bukan hanya citra sebuah lembaga pendidikan, melainkan salah satu benteng moral terakhir yang masih menjaga nurani bangsa ini agar tidak sepenuhnya tenggelam dalam kebisingan simbol tanpa makna.

Mantingan, 28 Mei 2026
Nur Hadi Ihsan
Guru Besar Ilmu Tasawuf
Dosen Universitas Darussalam Gontor

Want your school to be the top-listed School/college in Mojokerto?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Address


Jalan Raden Wijaya Depan Masjid Babussalam Sooko Mojokerto
Mojokerto
61364