27/11/2025
SAHABAT YANG INGIN HIDUP MISKIN
Dalam sejarah Islam, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu dikenal sebagai salah satu sahabat Rasulullah ﷺ yang utama. Ia termasuk dalam Asyrah al-Mubasyyarin bil Jannah – sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Kehidupannya sarat dengan teladan, terutama dalam hal zuhud, kedermawanan, dan kecintaannya kepada agama Allah.
Yang menarik, berbeda dengan banyak manusia yang selalu merasa kurang dan ingin menambah harta, Abdurrahman bin Auf justru berdoa agar dijadikan miskin. Ia khawatir hartanya akan menjadi penghalang menuju surga. Namun doanya itu “selalu gagal”, sebab Allah terus melimpahkan rezeki kepadanya.
Suatu hari, penduduk Madinah dikejutkan oleh suara gemuruh yang terdengar seperti barisan pasukan besar. Mereka berbondong-bondong keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata itu adalah tujuh ratus ekor unta yang membawa barang dagangan milik Abdurrahman bin Auf.
Ketika berita itu sampai kepada Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau teringat sabda Rasulullah ﷺ:
“Aku melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak.”
Mendengar kabar itu, Abdurrahman bin Auf menangis tersedu. Ia takut kekayaan yang Allah titipkan kepadanya akan memperberat langkahnya ke surga. Sejak itu, ia semakin tekun berdoa agar dijauhkan dari harta, sering menangis saat makan karena merasa berdosa menikmati makanan lezat, sementara masih banyak saudara Muslim yang kelaparan.
Abdurrahman bin Auf pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ:
“Wahai Rasulullah, bagaimana agar aku bisa masuk surga tanpa merangkak?”
Rasulullah ﷺ menjawab:
“Perbanyaklah sedekah. Gunakanlah hartamu di jalan Allah, niscaya itu akan meringankan langkahmu.”
Sejak itu, Abdurrahman bin Auf bertekad untuk tidak menahan sedikit pun hartanya dari jalan Allah. Ia menjual sebidang tanah, lalu membagi seluruh hasilnya kepada kaum miskin dan para janda. Ia pernah menyumbangkan 500 ekor kuda dan 1.500 ekor unta untuk jihad fi sabilillah, terutama pada masa Perang Tabuk.
Meski sudah berulang kali menginfakkan hartanya, Abdurrahman tetap heran. Harta seolah tidak pernah habis dari tangannya, bahkan semakin bertambah.
Pernah suatu ketika, banyak sahabat yang ikut berperang meninggalkan kebun kurma mereka. Sep**ang dari perang, kebun-kebun itu sudah membusuk karena tidak terurus. Abdurrahman segera membeli semua kurma busuk itu dengan harga normal. Ia merasa senang karena pikirnya, “Jika aku membeli barang yang tidak laku, mungkin hartaku akan berkurang dan aku bisa menjadi miskin.”
Namun takdir Allah berkata lain. Tiba-tiba datang utusan dari Raja Yaman yang mencari kurma busuk untuk dijadikan obat di negerinya yang sedang dilanda wabah. Mereka membeli kurma busuk itu dengan harga sepuluh kali lipat dari harga normal. Alih-alih berkurang, harta Abdurrahman bin Auf justru bertambah berlipat ganda.
Demikianlah perjalanan hidup Abdurrahman bin Auf. Kekayaan terus mengalir kepadanya, namun hatinya tidak pernah terikat pada dunia. Baginya, harta hanyalah titipan dan ujian. Ia selalu berusaha menghabiskannya di jalan Allah, agar langkahnya ringan menuju surga.
Hingga wafatnya, Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai sosok dermawan, sahabat yang zuhud meski kaya raya, dan teladan bagi seluruh umat Islam tentang bagaimana bersikap terhadap dunia.
====================
Pelajaran berharga dari kisah ini:
Harta bukanlah aib, tetapi bisa menjadi ujian yang berat.
Kekayaan akan menjadi penolong menuju surga bila digunakan di jalan Allah.
Zuhud bukan berarti miskin, melainkan hati yang tidak bergantung pada dunia.