Pelatihan Hipnotis & Hipnoterapi Metro

Pelatihan Hipnotis & Hipnoterapi Metro Pusat Pelatihan hypnotis super cepat bersertifikat Nasional serta Terapi penyembuhan penyakit psikis

Hycom adalah sebuah komunitas hypnotis yang mewakili Lembaga The Indonesian School Of Hypnotis ( ISH ) Sebagai wadah para alumni hypnotis sejak dari Th 2011. saat ini Hycom menjadi wadah para alumni hypnotis dari banyak kalangan seperti, Pelajar, Mahasiswa, Dosen, Polisi, Guru sampai Paramedis. Hal tersebut membuktikan bahwa Hycom sebagai komunitas yang mewakili ISH mempunyai otoritas yang sangat baik karna telah mencetak para alumni Hypnotis dari berbagai kalangan.

🏂 BELAJAR, TERBENTUR, TERBENTUKKetika aku berpikir negatif pada seseorang,Tanpa sadar, aku telah menghakimi orang itu.Le...
27/09/2021

🏂 BELAJAR, TERBENTUR, TERBENTUK

Ketika aku berpikir negatif pada seseorang,
Tanpa sadar, aku telah menghakimi orang itu.

Lebih mudah mana?
Berusaha menyingkirkan semua kerikil tajam di sepanjang jalanan, atau memakai sepatu agar kaki kita tidak terluka?

Lebih mungkin mana?
Berusaha mensteril semua tempat agar tak ada kuman,
atau memperkuat daya tahan tubuh kita sendiri?

Lebih mudah mana?
Berusaha mencegah setiap mulut agar tak bicara sembarangan,
atau menjaga hati kita sendiri agar tidak mudah tersinggung?

Lebih penting mana?
Berusaha menguasai orang lain, atau belajar menguasai diri sendiri?

Yang penting bukan bagaimana orang harus baik padaku, melainkan bagaimana aku berusaha baik pada orang lain.

Bukan orang lain yang membuat aku bahagia, melainkan sikap diriku sendirilah yang menentukan, aku bahagia atau tidak.

Setiap waktu yang telah kita habiskan dalam hidup ini, tidak akan terulang kembali,
Namun ada satu hal yang masih tetap bisa kita lakukan, yaitu BELAJAR ...
dari masa lalu..
Esok yang lebih baik.

Hidup adalah PROSES,
Hidup adalah BELAJAR,
tanpa ada batas UMUR.

JATUH, berdiri lagi ..
KALAH, mencoba lagi ..
GAGAL, bangkit lagi ...
TIDAK ADA YANG TIDAK MUNGKIN.

26/07/2021

Nick sitchman adalah seorang pekerja di storage daging yang meninggal karena pikirannya....
Dari melihat video ini maka ada pelajaran penting yang dapat di ambil, bahwa" Pikiran Negatif" dapat memperparah keadaan Pasien Covid 19..

Jika di pahami dari kacamata Hipnoterapy, Rasa cemas, takut dan gelisah dapat berpengaruh terhadap penurunan energi pada tubuh seseorang.
Oleh karena itu, selalu berfikir positif dan tetap semangat sangatlah membantu memperbaiki kodisi pasien.

Mari tekan angka penularan covid dengan nenerapkan protokol kesehatan.
School Of Hypnotist

26/06/2021
01/06/2020

Tubuh, pikiran dan perasaan adalah satu kesatuan

Apa itu " Social Engineering???Sebulan lalu saya mengantar Isteri ke sebuah gerai ATM Kantor cabang Bank langganan kami ...
11/12/2019

Apa itu " Social Engineering???

Sebulan lalu saya mengantar Isteri ke sebuah gerai ATM Kantor cabang Bank langganan kami di Cinere untuk mengambil Uang. Setiba di tempat tujuan, ia turun terlebih dahulu sementara saya memarkir Mobil.

Ketika saya menyusulnya masuk kedalam gerai ATM, saya lihat isteri saya tengah bercakap dengan dua orang lelaki yg tidak kami kenal. Saya menghampiri mereka diam-diam sembari mendengarkan Percakapannya.

Jadi begini bu," ujar salah Seorang diantaranya. "Saya mau transfer Uang ke saudara, namun ATM saya Ketinggalan. Saya cuma minta tolong ibu untuk mentransfer dua juta ke nomor rekening ini dan Uangnya saya ganti sekarang juga, ini sudah saya pegang."

"Wah maaf saya tidak bisa membantu Anda," sahut isteri saya.

"Kenapa bu?," tanya salah seorang diantara mereka dgn nada suara meninggi. "Ibu tidak percaya kepada kami?"

"Ya, saya tidak percaya kepada kalian," sahut saya tegas sembari mendekati Isteri. Kedua orang itu menoleh.

"Bapak siapa? Tak usah campur tangan urusan Orang Pak."

"Dia Isteri saya. Kalian mau apa? Saya tidak percaya kepada kalian dan kalau tetap memaksa, akan saya suruh Orang ramai diluar sana menangkapmu."

Mereka berdua tampak keder, kemudian bergegas keluar & menyengklak Motornya tanpa menoleh lagi.

Hari Selasa kemarin untuk suatu Urusan, saya musti terbang ke Balikpapan. Seperti biasa saya selalu berangkat beberapa jam sebelumnya ke Bandara, untuk menghindari Kemacetan.

Saat saya hendak Check in, Orang yang sedang proses Check in didepan saya tampak agak kebingungan dgn Barang Bawaannya. Cukup banyak sehingga melampaui Batas yang diperkenankan. Ia kemudian menoleh ke arah saya & berkata meminta Bantuan.

"Pak, saya lihat bawaan bapak sedikit," katanya sembari menatap saya. "Bisakah saya menitipkan Kopor saya kepada Bapak?"

Saya langsung menggeleng.

"Maaf Pak, saya tidak bersedia," jawab saya tegas.

"Kenapa pak? Bapak tidak mempercayai saya?"

"Bagaimana saya percaya Bapak, kenal saja tidak. Pun jika ternyata Bagasi bapak itu berisi Barang Berbahaya, nantinya di Manifest terdaftar atas Nama saya. Sayalah yang akan berurusan dengan Polisi, bukan Anda."

"Terus saya harus bagaimana?"

"Itu Masalah Anda, bukan Urusan saya. Lagip**a masih ada Solusinya kok, bayar saja Kelebihannya."

Saya lihat Counter Check in sebelah kosong, Petugasnya mengangguk kepada saya.
Segera saya bergeser kesana, mengurus Check in dan beranjak masuk ke Lounge.

Ada juga seorang ibu ingin ke toilet dan menitip kan anak nya kepada kita atau bayi..
Jangan kita menerima karena beliau akan membuat alibi bahwa kita telah menculik anak nya dan sudah dg scenario dg bbrp orang...
Ibu kok gak mau nolong sebentaar saja sy mau ke toilet masa bayi di bawa2, apa ibu tega kpd saya?..
Nah ketika kita gelagapan tdk mau gak enak dll..

Atau ada yg minta tlg membelikan minum atau butuh uang receh jangan mudah memberi jika tidak kenal, nnt yg minta akan memberikan kita secarik kertas beriisi narkoba.. dan kita di grebek tiba2 jika tdk menuruti
Maka kita akan diperas dg sejumlah uang sangat besar

Itulah " Social Engineering ",

Sebuah Teknik untuk Memanip**asi dan Mengarahkan Perilaku Seseorang atau Sekelompok Orang dengan Menggunakan Kekuatan Hipnotik Bahasa, Rasa Rikuh Pekewuh serta Preferensi Pribadi Seseorang Terhadap Suatu Isu.

Sejalan dengan kian berkembangnya Teknologi...,
" Teknik Human Engineering " juga merembes kencang dalam Dunia Sosial Media melalui Berita-berita Hoax.

Oleh karena itu jangan heran jika dari Tukang Sampah hingga Orang Berpendidikan sangat Tinggi, bisa Terpengaruh karenanya.

_Semoga Berguna_...
Kata kata seperti ini :

"Bapak gak percaya dengan saya ?"

Biasanya kita jadi Sungkan karena takut menghina mereka, lalu kita jawab :

" Bukan begitu...tapi......."

Nah disaat itu, kita Menempatkan Diri Kita Dibawah Mereka.

Harusnya langsung saja menjawab :

"IYA...SAYA GAK PERCAYA KALIAN..."
Persis Dalam Cerita Diatas.
PENJAHAT Jadi Tahu Kita Bukan Calon Korban Yang Lemah.

SHARE BIAR TIDAK ADA YANG MENJADI KORBAN...
Salam hipnosis

07/12/2019

Kamu harus tau

Maxwell Maltz..., adalah seorang dokter bedah...; dia banyak melakukan bedah wajah untuk kecantikan. Dia mengamati..., o...
20/11/2019

Maxwell Maltz..., adalah seorang dokter bedah...; dia banyak melakukan bedah wajah untuk kecantikan.

Dia mengamati..., orang-orang yang sudah dibedah wajahnya menjadi jauh lebih percaya diri.

Sikap..., perilaku.., bahkan cara berpikirnya pun berubah.

Namun dia menyimpulkan..., perubahan itu bukan terjadi karena perubahan image luar-nya saja..., perubahan itu terjadi karena self-image dari orang tersebut berubah.

Dari sinilah dia kemudian tertarik..., untuk mendalami psikologi Self-Image untuk kehidupan yang lebih baik.

Bila kita amati...; perilaku kita..., apa yang sering kita temui..., dan hasil-hasil yang sering kita dapatkan itu bisa diprediksi...; karena memiliki semacam kecenderungan..., seperti ada polanya.

Mereka yang sering terlambat masuk kantor..., biasanya cenderung untuk selalu terlambat...; bahkan ketika dia berniat untuk tidak terlambat...; seakan-akan alam semesta berkonspirasi untuk membuat dia tetap terlambat.

Demikian p**a mereka yang sering kehabisan uang di tengah bulan..., berapapun yang dihasilkan, uangnya cenderung akan habis di tengah bulan.

Bahkan ketika ada sisa pun..., entah apa yang terjadi tiba-tiba ia menemukan cara untuk kehabisan uang di tengah bulan itu.

Keberutungan pun sama halnya demikian juga.

Mereka yang sering sial..., cenderung selalu sial.

Sementara mereka yang sering beruntung..., cenderung selalu beruntung.

Seakan-akan ada sebuah servomechanism..., yang mengatur itu semua.

(Servomechanism = mekanisme otomatis untuk mengoreksi jika sebuah tindakan keluar jalur.)

Bayangkan sebuah peluru kendali....: Saat dia sudah disetting untuk menghancurkan target tertentu..., maka ia akan bergerak menuju target tersebut.

Namun..., apakah dia selalu bergerak lurus menuju targetnya....?

Tidak..., kadang ia sedikit melenceng..., entah karena tekanan udara..., angin..., dan sebagainya.

Namun..., di dalam peluru kendali tersebut terdapat servomechanism..., yang dapat mengoreksi arah peluru...; sehingga setiap kali melenceng..., servomechanism-nya akan mengoreksi supaya peluru kendali kembali ke jalur sebelumnya.

Perilaku kita pun sama...; itulah sebabnya, kita cenderung menemui hal-hal yang memang kita sering temui.

Itulah sebabnya juga kita cenderung mendapatkan hasil..., sesuai dengan hasil-hasil yang sering kita dapatkan.

Tentu saja..., jika hal yang sering kita temui positif..., itu oke.

Jika hasil yang sering kita dapatkan bagus dan luar biasa..., itu juga oke.

Tetapi bagaimana jika sebaliknya...?

Bagaimana jika yang sering kita temui justru kesialan...?

Bagaimana jika hasil yang sering kita dapatkan adalah kegagalan...?

Dan bila kita amati..., semakin sering kita mendapatkan satu hal..., semakin “terlatih”-lah kita mendapatkan hal yang sama.

Semakin sering sakit..., kita semakin terlatih untuk sakit...; mulai dari sakit yang ringan..., lama-lama menjadi terlatih dengan sakit yang lebih berat.

Semakin sering berhutang..., semakin berbakat kita melakukannya..., sehingga kita menjadi ahli dalam berhutang.

Inilah servomechanism.

Saat ini terjadi..., seakan-akan “nasib” kita terkunci.

Semua perilaku dan lingkungan kita..., mengarahkan kita ke “nasib” tersebut.

Lalu..., bagaimana memutus rantainya...?

Bagaimana p**a membentuk servomechanism yang memberdayakan hidup kita...?

Maltz menjelaskan..., bahwa servomechanism ini tidak terbentuk begitu saja..., karena setiap servomechanism memerlukan “settingan awal” yang jelas.

Settingan awal dari servomechanism dalam hidup kita..., adalah Self-Image.

Self-Image..., adalah cara kita melihat dan menilai diri kita sendiri.

Self-Image..., terbentuk dari kump**an keyakinan (belief) tentang diri kita..., orang lain..., dan cara dunia bekerja.

Self-image ini akan mengendalikan sikap..., pemikiran..., perasaan..., dan perilaku kita.

Jika kita memiliki self-image...: “Saya orang yang tidak menarik”....; lalu kita hadir di sebuah pesta dan berniat untuk berkenalan dengan orang baru..., maka self-image kita akan segera menghapus niat kita dengan memunculkan self-talk...: “Ah, orang-orang hanya akan mau berkenalan dengan orang yang menarik. Kamu itu nggak menarik. Nggak akan ada yang mau berkenalan denganmu.”

Maka..., kita pun cenderung menyendiri dan “gagal” berkenalan dengan orang baru.

Demikian p**a sebaliknya..., bila kita berpikir: “Ah, paling nanti juga nggak ada yang memperhatikan saya.”

Maka self-image kita akan menguatkan dengan memunculkan self-talk...: “Betul. Untuk orang tidak menarik seperti kamu..., lebih baik kamu menyendiri saja. Masih banyak hal lain yang lebih menarik dibandingkan dengan berkenalan dengan orang baru.”

Apapun yang kita pikirkan..., self-image kita seakan-akan menyetel servomekanism ke setelan awal.

Maka..., jika kita melihat diri kita sebagai orang yang sial..., servomekanism kesialan lah yang akan aktif.

Jika kita melihat diri kita sebagai orang yang beruntung..., servomekanisme keberuntungan lah akan aktif.

Bagaimana jika tercampur...?

Kadang kita melihat diri sebagai orang sial..., kadang beruntung...?

Di sinilah servomekanism kita akan mengalami kebingungan..., dan pada akhirnya dia akan bergerak ke arah yang lebih kita yakini.

Jika kita ingin menjadi orang yang beruntung..., namun self-image kita bertentangan – dalam hati kita meyakini bahwa itu tidak mungkin..., maka servomekanism yang berjalan adalah servo kesialan.

Jika kita ingin menjadi orang yang sukses..., namun self-image kita bertentangan – dalam hati kita meyakini bahwa itu tidak mungkin..., maka servomekanism yang berjalan adalah servo kegagalan.

Lalu..., bagaimana solusinya...?

Solusinya adalah membentuk self-image baru.

Caranya...?

Pertama..., tulis dengan detail apa yang kita inginkan.

Misal..., kita ingin menjadi pribadi yang beruntung.

Seperti apa kelihatannya...?

Seperti apa kedengarannya...?

Seperti apa perasaannya...?

Kedua..., bayangkan kita melihat diri kita yang sudah menjadi pribadi yang beruntung di depan sana.

Apa yang kita lihat...?

Apa yang kita dengar?

Apa yang kita rasakan?

Ketiga..., biarkan ide-ide muncul dari pikiran kreatif kita.

Keempat..., lakukan tindakan-tindakan spontan terkait dengan ide kreatif tersebut.

Kelima..., praktikkan keempat hal di atas berulang-ulang setiap hari dengan santai dan tanpa beban (effortless).

Bagaimana bila self-image lama masih muncul..., dan self-talk negatif datang mengganggu...?

Praktikkan metode CRAFT.

Misal kita ingin mengubah pola sakit yang kita miliki..., dan menjadi pribadi yang lebih sehat.

CANCEL:
Saat tiba-tiba muncul pikiran...: “Duh, naga-naganya mau sakit nih..., sudah bersin tiga kali”.

Segeralah lakukan cancel. Katakan “cancel..., batal!”..., atau kita bisa gunakan kode yang kita buat sendiri (misal mengatakan “Wuzzz” atau membayangkan menekan tombol “Ctrl + Z”)

REPLACE
Ganti dengan pemikiran yang lebih memberdayakan..., misalnya...: “Allah memberi saya karunia tubuh yang sehat..., dan mampu menyembuhkan diri sendiri”

AFFIRM
Kuatkan dengan mengatakan kalimat afirmasi kita.

Misalnya...: “semakin hari saya semakin sehat, bugar dan kuat” – katakan berulang-ulang dengan mantap.

FOCUS
Luangkan setiap hari untuk melakukan visualisasi – membayangkan diri kita yang sehat..., bugar..., dan kuat

TRAIN
Jangan bosan melatihnya..., meskipun kita belum sehat.

Bergayalah seakan-akan kita sehat....; seperti kata pepatah Barat...: “Fake it till you make it” – berpura-puralah sampai pura-pura itu menjadi nyata...!

Pertanyaannya...: self-image seperti apa yang ingin kita bentuk...?

Mulailah membentuknya..., sekarang...!

Semoga ada manfaatnya.

Maxwell Maltz..., adalah seorang dokter bedah...; dia banyak melakukan bedah wajah untuk kecantikan. Dia mengamati..., o...
20/11/2019

Maxwell Maltz..., adalah seorang dokter bedah...; dia banyak melakukan bedah wajah untuk kecantikan.

Dia mengamati..., orang-orang yang sudah dibedah wajahnya menjadi jauh lebih percaya diri.

Sikap..., perilaku.., bahkan cara berpikirnya pun berubah.

Namun dia menyimpulkan..., perubahan itu bukan terjadi karena perubahan image luar-nya saja..., perubahan itu terjadi karena self-image dari orang tersebut berubah.

Dari sinilah dia kemudian tertarik..., untuk mendalami psikologi Self-Image untuk kehidupan yang lebih baik.

Bila kita amati...; perilaku kita..., apa yang sering kita temui..., dan hasil-hasil yang sering kita dapatkan itu bisa diprediksi...; karena memiliki semacam kecenderungan..., seperti ada polanya.

Mereka yang sering terlambat masuk kantor..., biasanya cenderung untuk selalu terlambat...; bahkan ketika dia berniat untuk tidak terlambat...; seakan-akan alam semesta berkonspirasi untuk membuat dia tetap terlambat.

Demikian p**a mereka yang sering kehabisan uang di tengah bulan..., berapapun yang dihasilkan, uangnya cenderung akan habis di tengah bulan.

Bahkan ketika ada sisa pun..., entah apa yang terjadi tiba-tiba ia menemukan cara untuk kehabisan uang di tengah bulan itu.

Keberutungan pun sama halnya demikian juga.

Mereka yang sering sial..., cenderung selalu sial.

Sementara mereka yang sering beruntung..., cenderung selalu beruntung.

Seakan-akan ada sebuah servomechanism..., yang mengatur itu semua.

(Servomechanism = mekanisme otomatis untuk mengoreksi jika sebuah tindakan keluar jalur.)

Bayangkan sebuah peluru kendali....: Saat dia sudah disetting untuk menghancurkan target tertentu..., maka ia akan bergerak menuju target tersebut.

Namun..., apakah dia selalu bergerak lurus menuju targetnya....?

Tidak..., kadang ia sedikit melenceng..., entah karena tekanan udara..., angin..., dan sebagainya.

Namun..., di dalam peluru kendali tersebut terdapat servomechanism..., yang dapat mengoreksi arah peluru...; sehingga setiap kali melenceng..., servomechanism-nya akan mengoreksi supaya peluru kendali kembali ke jalur sebelumnya.

Perilaku kita pun sama...; itulah sebabnya, kita cenderung menemui hal-hal yang memang kita sering temui.

Itulah sebabnya juga kita cenderung mendapatkan hasil..., sesuai dengan hasil-hasil yang sering kita dapatkan.

Tentu saja..., jika hal yang sering kita temui positif..., itu oke.

Jika hasil yang sering kita dapatkan bagus dan luar biasa..., itu juga oke.

Tetapi bagaimana jika sebaliknya...?

Bagaimana jika yang sering kita temui justru kesialan...?

Bagaimana jika hasil yang sering kita dapatkan adalah kegagalan...?

Dan bila kita amati..., semakin sering kita mendapatkan satu hal..., semakin “terlatih”-lah kita mendapatkan hal yang sama.

Semakin sering sakit..., kita semakin terlatih untuk sakit...; mulai dari sakit yang ringan..., lama-lama menjadi terlatih dengan sakit yang lebih berat.

Semakin sering berhutang..., semakin berbakat kita melakukannya..., sehingga kita menjadi ahli dalam berhutang.

Inilah servomechanism.

Saat ini terjadi..., seakan-akan “nasib” kita terkunci.

Semua perilaku dan lingkungan kita..., mengarahkan kita ke “nasib” tersebut.

Lalu..., bagaimana memutus rantainya...?

Bagaimana p**a membentuk servomechanism yang memberdayakan hidup kita...?

Maltz menjelaskan..., bahwa servomechanism ini tidak terbentuk begitu saja..., karena setiap servomechanism memerlukan “settingan awal” yang jelas.

Settingan awal dari servomechanism dalam hidup kita..., adalah Self-Image.

Self-Image..., adalah cara kita melihat dan menilai diri kita sendiri.

Self-Image..., terbentuk dari kump**an keyakinan (belief) tentang diri kita..., orang lain..., dan cara dunia bekerja.

Self-image ini akan mengendalikan sikap..., pemikiran..., perasaan..., dan perilaku kita.

Jika kita memiliki self-image...: “Saya orang yang tidak menarik”....; lalu kita hadir di sebuah pesta dan berniat untuk berkenalan dengan orang baru..., maka self-image kita akan segera menghapus niat kita dengan memunculkan self-talk...: “Ah, orang-orang hanya akan mau berkenalan dengan orang yang menarik. Kamu itu nggak menarik. Nggak akan ada yang mau berkenalan denganmu.”

Maka..., kita pun cenderung menyendiri dan “gagal” berkenalan dengan orang baru.

Demikian p**a sebaliknya..., bila kita berpikir: “Ah, paling nanti juga nggak ada yang memperhatikan saya.”

Maka self-image kita akan menguatkan dengan memunculkan self-talk...: “Betul. Untuk orang tidak menarik seperti kamu..., lebih baik kamu menyendiri saja. Masih banyak hal lain yang lebih menarik dibandingkan dengan berkenalan dengan orang baru.”

Apapun yang kita pikirkan..., self-image kita seakan-akan menyetel servomekanism ke setelan awal.

Maka..., jika kita melihat diri kita sebagai orang yang sial..., servomekanism kesialan lah yang akan aktif.

Jika kita melihat diri kita sebagai orang yang beruntung..., servomekanisme keberuntungan lah akan aktif.

Bagaimana jika tercampur...?

Kadang kita melihat diri sebagai orang sial..., kadang beruntung...?

Di sinilah servomekanism kita akan mengalami kebingungan..., dan pada akhirnya dia akan bergerak ke arah yang lebih kita yakini.

Jika kita ingin menjadi orang yang beruntung..., namun self-image kita bertentangan – dalam hati kita meyakini bahwa itu tidak mungkin..., maka servomekanism yang berjalan adalah servo kesialan.

Jika kita ingin menjadi orang yang sukses..., namun self-image kita bertentangan – dalam hati kita meyakini bahwa itu tidak mungkin..., maka servomekanism yang berjalan adalah servo kegagalan.

Lalu..., bagaimana solusinya...?

Solusinya adalah membentuk self-image baru.

Caranya...?

Pertama..., tulis dengan detail apa yang kita inginkan.

Misal..., kita ingin menjadi pribadi yang beruntung.

Seperti apa kelihatannya...?

Seperti apa kedengarannya...?

Seperti apa perasaannya...?

Kedua..., bayangkan kita melihat diri kita yang sudah menjadi pribadi yang beruntung di depan sana.

Apa yang kita lihat...?

Apa yang kita dengar?

Apa yang kita rasakan?

Ketiga..., biarkan ide-ide muncul dari pikiran kreatif kita.

Keempat..., lakukan tindakan-tindakan spontan terkait dengan ide kreatif tersebut.

Kelima..., praktikkan keempat hal di atas berulang-ulang setiap hari dengan santai dan tanpa beban (effortless).

Bagaimana bila self-image lama masih muncul..., dan self-talk negatif datang mengganggu...?

Praktikkan metode CRAFT.

Misal kita ingin mengubah pola sakit yang kita miliki..., dan menjadi pribadi yang lebih sehat.

CANCEL:
Saat tiba-tiba muncul pikiran...: “Duh, naga-naganya mau sakit nih..., sudah bersin tiga kali”.

Segeralah lakukan cancel. Katakan “cancel..., batal!”..., atau kita bisa gunakan kode yang kita buat sendiri (misal mengatakan “Wuzzz” atau membayangkan menekan tombol “Ctrl + Z”)

REPLACE
Ganti dengan pemikiran yang lebih memberdayakan..., misalnya...: “Allah memberi saya karunia tubuh yang sehat..., dan mampu menyembuhkan diri sendiri”

AFFIRM
Kuatkan dengan mengatakan kalimat afirmasi kita.

Misalnya...: “semakin hari saya semakin sehat, bugar dan kuat” – katakan berulang-ulang dengan mantap.

FOCUS
Luangkan setiap hari untuk melakukan visualisasi – membayangkan diri kita yang sehat..., bugar..., dan kuat

TRAIN
Jangan bosan melatihnya..., meskipun kita belum sehat.

Bergayalah seakan-akan kita sehat....; seperti kata pepatah Barat...: “Fake it till you make it” – berpura-puralah sampai pura-pura itu menjadi nyata...!

Pertanyaannya...: self-image seperti apa yang ingin kita bentuk...?

Mulailah membentuknya..., sekarang...!

Semoga ada manfaatnya.

Rahayu

(Trims om Ali Wahyudin As'ad...)

05/11/2019

Buat Bapak Ibu yg galak

*Pesan Ibu Elly Risman*
*Senior Psikolog UI, Konsultan Parenting Nasional*

*Inilah pesan untuk para Orangtua :*

Kalau Anda dititipi anak Presiden, kira-kira bagaimana mengasuh dan menjaganya ?

Beranikah Anda membentaknya sekali saja ?
Pasti enggak, kan ?

Nah, yang sekarang menitip bukan Presiden, tapi yang jauh lebih berkuasa dari Presiden, yaitu Allah.

Beranikah Anda membentak, memarahi, mencubit, menyentil, bahkan memukul ?

Jika Anda pernah melakukannya, kira-kira nanti di hari akhir, apa yang Anda jawab ketika ditanya Pemiliknya ?

*Jiwa anakmu lebih mahal* dari susu termahal yang ditumpahkannya.
*Jaga lisanmu,* duhai orangtua.
*Jangan pernah* engkau *memarahi* anakmu hanya gara-gara ia menumpahkan susunya atau karena ia *melakukan hal* yang menurutmu *salah.*

Anakmu tidak tahu kalau apa yang ia *lakukan adalah kesalahan.*
*Otaknya belum mempunyai konsep* itu.

*Jaga Jiwa Anakmu.*
Lihatlah *tatapan mata* anakmu yang *tidak berdosa* itu ketika *engkau marah-marah.*
Ia diam dan mencoba mencerna apa yang engkau katakan.
*Apakah ia mengerti ?*

Mungkin iya, tapi cobalah perhatikan apa yang ia lakukan. *setelah* engkau *pukul dan engkau marahi.*
Anakmu *tetap memelukmu*, masih ingin *engkau belai.*
Bukankah inilah tanda si anak *memaafkanmu ?*

Namun, jika engkau terus-menerus mengumbar kata-kata kasarmu kepadanya, *otak anakmu akan merekamnya* dan akhirnya, *cadangan ‘maaf’ di otaknya hilang.*

*Apa yang akan terjadi* selanjutnya, duhai orangtua ?
Anakmu akan *tumbuh menjadi anak yang ‘ganas’* dan ia pun akan *membencimu sedikit demi sedikit* hingga *tidak tahan* hidup bersamamu.

*Jiwa anak yang terluka itu akan mendendam.*
Pernahkah engkau *saksikan* anak-anak yang *‘malas’ *merawat orangtuanya ketika tua ?*
*Jangan salahkan* anak-anaknya.
*Cobalah memahami* apa yang sudah *dilakukan* oleh orangtua itu kepada anak-anaknya ketika mereka *masih kecil.*

Orangtua.., anakmu itu *bukan kaset* yang bisa kau rekam untuk *kata-kata kasarmu.*
Bersabarlah.
*Jagalah kata-katamu* agar anak hanya tahu bahwa ayah ibunya adalah *contoh yang baik, yang bisa menahan amarahnya.*

Duhai orangtua, engkau pasti kesal kalau anakmu nakal.

Tapi pernahkan engkau *berpikir* bahwa kenakalannya mungkin adalah *efek rusaknya* jiwa anakmu karena *kesalahanmu...*
Kau *pukul & kau cubit anakmu* hanya karena melakukan *hal-hal sepele*.
Kau hina dina anakmu hanya karena ia *tidak mau melakukan* hal-hal yang engkau *perintahkan.*

Cobalah duduk dan *merenungi* apa saja *yang telah engkau lakukan* kepada anakmu.
Apakah engkau lebih sayang pada susu paling mahal yang tertumpah?
Anakmu pasti *menyadari* dan tahu ketika kemarahan itu *selalu hadir di depan matanya.*
*Jiwanya* pun menjadi memerah bagai bara api.
*Apa yang mungkin terjadi ketika jiwa anak sudah terusik ?*

Anak *tidak hormat* pada orangtua.
Anak *menjadi musuh* orangtua.
Anak *menjadi sumber kekesalan* orangtua.
Anak tidak bermimpi hidup bersama dengan orangtua.
*Hal-hal inikah yang engkau inginkan, duhai orangtua ?*

*Ingatlah, jiwa anakmu lebih mahal* dari apa pun termahal yang ada di dunia
*Jaga lisan* dan *perlakukanmu* kepada anakmu.

👶👦👧👶👦👧👶👦👧

Untuk saya dan bapak ibu semua..

Share buat para orang tua...☺🙏

“LEBIH BAIK MALU DARIPADA MATI”Mr. Sandwich adalah seorang milyuner Thailand yang jatuh miskin saat krisis ekonomi Asia ...
28/10/2019

“LEBIH BAIK MALU DARIPADA MATI”

Mr. Sandwich adalah seorang milyuner Thailand yang jatuh miskin saat krisis ekonomi Asia tahun 1997, lalu ia menjadi penjaja sandwich jalanan.

Sirivat Voravetvuthikun, nama asli Mr. Sandwich, tadinya hidup super mewah sebagai pengembang properti dan pemain saham.
Ia biasa berjudi, dan pernah menghabiskan Rp. 2 milyar dalam semalam.

Saat krisis, bank menyita seluruh propertinya, namun Sirivat masih berhutang Rp. 180 milyar.
Ia sempat depresi,
tetapi tidak bunuh diri seperti beberapa pengusaha lain yang bangkrut saat itu.
Sirivat menyalahkan dirinya karena terlalu rakus berhutang untuk bisnis.
Tetapi ia menerima kenyataan lalu memutuskan untuk berjualan sandwich di pinggir jalan dengan sebuah kardus yang dikalungkan di lehernya.

Hari pertama, ia harus menahan malu mendengar orang bertanya, Anda kan multi milyuner, mengapa berjualan sandwich?
Ia menjual 40 sandwich hari itu.
Ia pernah dikejar-kejar polisi karena berjualan di pinggir jalan.
Kini usaha sandwich-nya bernilai lebih dari Rp. 45 milyar, meluas menjadi usaha restoran dan minuman kaleng.
Ia berencana membuka warabala serta mendaftarkan bisnisnya di bursa saham.

Walaupun sangat sulit,
Mr. Sandwich menerima hidup apa adanya.
Ia berkisah, ada seorang pengusaha menembak diri gara-gara bangkrut, tetapi ia tidak meninggal justru lumpuh!

Motto Mr. Sandwich, “Lebih baik bangkrut daripada mati.”

Keberhasilannya ini didukung oleh kemampuannya mengelola emosi negatif (malu, menyesal, depresi, dll).
Ia tidak berandai-andai (“Coba waktu itu saya...”), karena ini tidak akan menyelesaikan masalah.

Fokus pada kegagalan justru akan membuat seseorang bertambah gagal.
Fokuslah pada masa depan.

Kata Nelson Mandela: "Jangan nilai aku dengan kesuksesanku, tetapi dari berapa kali aku jatuh dan bangkit kembali.”

SUATU SAAT KEHIDUPAN MEMBERIKU SEBUAH KOTAK PENUH KEGELAPAN.
BUTUH BERTAHUN-TAHUN BAGIKU UNTUK MENGERTI, BAHWA INIPUN SEBUAH HADIAH (Mary Oliver, adapted)

Life once gave me a box full of darkness.
It took me years to understand that this, too, was a gift.
(Mary Oliver, adapted)

Tetap Semangat ... Dreamchaser !!!



Address

Jalan Parkit. No 15 A Iringmulyo Metro Timur
Metro
34111

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pelatihan Hipnotis & Hipnoterapi Metro posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category