25/04/2026
Pernahkah kalian melihat seorang bocah menangis karena impian terbesarnya dihancurkan hanya karena satu alasan yang tak bisa ia ubah yaitu tinggi badannya?
Itulah tamparan keras pertama yang dirasakan oleh Sang Maestro Bulutangkis Dunia kita, Kevin Sanjaya Sukamuljo. Mari kita mundur ke tahun 2006.
Setelah menghabiskan masa kecil berlatih di klub lokal PB Sari Agung (Banyuwangi), Kevin yang saat itu baru duduk di kelas 6 SD memberanikan diri mengikuti Audisi Umum PB Djarum, klub paling bergengsi di Indonesia. Mimpinya cuma satu yaitu menjadi atlet nasional.
Ia datang membawa raket, skill, dan harapan besar. Namun, saat pengumuman kelulusan tiba, namanya... DICORET. Ia GAGAL total.
Alasannya sungguh menyakitkan hati. Para pelatih PB Djarum saat itu menilai Kevin TERLALU KECIL. Postur tubuhnya dianggap tidak proporsional untuk menjadi atlet bulutangkis masa depan. (Sebagai info, bahkan di puncak kariernya sebagai atlet dewasa, tinggi Mpin hanya mentok di 170 cm).
"Dulu Kevin kecil sekali. Sekarang aja masih kecil," ungkap Manajer Tim PB Djarum, Fung Permadi, mengenang masa lalu.
Bayangkan perasaan bocah SD yang ditolak klub impiannya hanya karena fisiknya yang mungil. Anak lain mungkin akan patah arang, membuang raketnya, dan berhenti bermain.
Tapi di sinilah kita melihat kenapa julukannya kelak adalah "Si Tangan Petir"! Mental baja asli Banyuwangi itu menyala!
Bukannya menyerah, Kevin justru MENGGILA! Sang Ayah, Sugiarto Sukamuljo, menceritakan respons putranya.
"Saya tambah jam latihan Kevin. Dari yang awalnya cuma seminggu 4 kali, kami paksa latihan SETIAP HARI tanpa ampun untuk menutupi kelemahan fisiknya dengan kualitas permainannya!"
Setahun berselang (2007), Kevin kembali mengikuti Audisi PB Djarum. Tragisnya, ia NYARIS DITOLAK LAGI dengan alasan klasik yang sama. Anak ini terlalu pendek.
Namun, takdir rupanya berpihak pada kerja kerasnya. Di antara deretan pelatih yang meremehkannya, ada satu pasang mata jenius yang melihat "Sihir" di tangan Kevin yaitu Fung Permadi (yang kebetulan baru menjabat sebagai Manajer Tim di tahun itu).
Fung merasa sangat tidak adil jika seorang jenius dibuang hanya karena ukuran tubuh. Ia melihat sesuatu yang tak bisa diukur dengan meteran tinggi badan: Kecerdasan Otak!
"Saya amati baik-baik... Kevin ini kok kayaknya nggak pernah kesulitan mukul bola ya? Posisinya selalu pas, bolanya enak terus," gumam Fung Permadi takjub saat itu.
Fung menyadari bahwa Kevin memiliki satu kemampuan langka tingkat dewa yaitu ANTISIPASI. Kevin memiliki insting telepati yang bisa menebak ke mana arah bola lawan SEBELUM lawan itu memukulnya!
Berbekal keyakinan itu, Fung Permadi pasang badan. Ia berdebat dan mati-matian mempengaruhi pelatih-pelatih PB Djarum lainnya agar mau memberikan kesempatan pada si bocah mungil ini.
"Antisipasi dari Kevin ini yang bikin saya ngotot meyakinkan pelatih lain," tutur Fung bangga.
Berkat perdebatan panjang itu, pada tahun 2007 di usianya yang baru 11 tahun, nama KEVIN SANJAYA SUKAMULJO RESMI DITERIMA DI PB DJARUM!
Sebuah pembuktian epik yang akan mengubah sejarah dunia. Bocah yang nyaris dibuang karena "Terlalu Pendek" itu kelak akan tumbuh menjadi Ganda Putra Nomor 1 Dunia selama 214 Minggu Berturut-turut (bersama Marcus Fernaldi Gideon) dan mempersembahkan puluhan gelar Superseries untuk Ibu Pertiwi!
Inilah pelajaran terindah dari Kevin. Biarlah tubuhmu kecil, asalkan nyalimu dan otakmu lebih besar dari lawanmu.
Merinding banget bacanya! Siapa nih BL yang baru tahu kalau Mpin (Kevin) pernah dua kali ikut audisi PB Djarum dan nyaris ditolak?