Medan Forex Education

Medan Forex Education

Share

Medan Forex Education adalah Sarana pembelajaran cara menghasilkan uang dari rumah atau dari mana saja, melalui media perdagangan mata uang online.

22/09/2015
17/09/2015

7 Belajar Trading Forex untuk Pemula cara Buy and Sell.

17/09/2015

Cara Mudah Dan Profit Trading Forex / Belajar Cara Analisa Forex | Profit Mencapai 600 Pips

Photos 17/09/2015

Belajar Memahami Fibonacci Retracement Untuk Analisa Forex

Hikayat Fibonacci

Rasio Fibonacci cukup populer di kalangan para teknikalis. Angka-angka yang dihasilkan dari perhitungan rasio ini cukup membantu kita dalam menentukan level entry dan exit.

Rasio Fibonacci pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli matematika abad pertengahan asal Italia. Namanya Leonardo Fibonacci yang berasal dari kota Pisa. Ia memperkenalkan deret angka yang rasionya terdapat dalam proporsi bentuk-bentuk di alam. Deret angka tersebut juga ia libatkan dalam perhitungan perkembangbiakan kelinci dalam situasi yang ideal. Di kemudian hari, deret ini dikenal dengan deret Fibonacci atau angka Fibonacci.

Deret tersebut adalah: 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89,… dan seterusnya.

Trivia quiz untuk Anda: berapakah yang muncul setelah 89? Kalau Anda menjawab dengan benar tanpa bertanya pada om Google atau tante Wiki, maka sepertinya Anda memiliki potensi yang besar untuk menjadi teknikalis handal.

Dari deret tersebutlah ditemukan ada rasio yang paling ditemui di setiap bentuk benda di alam ini, yaitu kira-kira 1 : 1.618 atau 0.618 : 1. Rasio ini yang kemudian disebut sebagai “golden ratio”.

Itulah sedikit hikayat Fibonacci. Oke, Anda akan segera keluar dari segala kerumitan matematika ini… (Akhirnya!)

Penerapan Dalam Trading: Fibonacci Retracement

Tenang, Anda sama sekali tidak perlu menghitung rasio Fibonacci dalam praktek trading. Platform trading yang kita pakai (Metatrader) telah menyediakan tool yang sangat membantu kita untuk mengaplikasikan ilmu warisan Fibonacci ini secara instan. Nama tool tersebut adalah Fibonacci Retracement.

Para trader menggunakan level-level yang diberikan oleh Fibonacci Retracement untuk membantu menentukan kisaran area yang potensial sebagai support dan resistance. Tool ini bisa dimanfaatkan dengan baik pada saat pasar sedang dalam keadaan “trending”, baik itu saat up trend maupun down trend. Konsep dasar penggunaan Fibonacci retracement adalah mencari peluang buy ketika harga berada di kisaran support. Sebaliknya, Anda bisa mencari peluang sell ketika harga berada di kisaran resistance yang diperoleh dari Fibonacci retracement.

Untuk bisa menemukan level-level retracement, Anda harus terlabih dahulu menemukan titik-titik tertinggi dan terendah yang signifikan. Titik-titik tersebut kita sebut sebagai “swing high” dan “swing low”.

Pada pergerakan di saat up trend, yang Anda lakukan adalah menarik Fibonacci retracement dari swing low ke swing high seperti yang terlihat dalam gambar di bawah ini.

Sebaliknya, pada pergerakan di saat down trend, yang Anda lakukan adalah menarik Fibonacci retracement dari swing high ke swing low seperti yang terlihat dalam gambar di bawah ini.

Terlihat dalam kedua gambar di atas bahwa level-level Fibonacci yang kita gunakan dalam trading adalah level 0.0%, 23.6%, 38.2%, 50.0%, 61.8%, 76.4% dan 100.0%. Level-level itulah yang kita jadikan sebagai acuan atau referensi untuk menentukan area support dan resistance.

Dengan menggunakan Fibonacci retracement ini, Anda juga dapat mengambil beberapa level untuk Anda jadikan area referensi yang akan berguna untuk menentukan level entry. Level-level yang populer adalah 38.2%, 50.0% dan 61.8%. Di kisaran level-level tersebut seringkali muncul sinyal buy atau sell yang akurasinya cukup tinggi.

Level-level Fibonacci retracement sebenarnya adalah level-level support dan resistance. Jadi, area referensi untuk mencari sinyal sell sebenarnya adalah area resistance. Dengan demikian, area referensi untuk mencari sinyal buy sebenarnya adalah area support.

Strateginya mirip dengan bounce trading, atau lebih tepatnya: swing trading. Anda menunggu pullback hingga ke area referensi dan mencari apakah ada konfirmasi sinyal buy atau sell. Namun karena Anda belum mempelajari sinyal buy maupun sell, untuk sementara Anda menggunakan Fibonacci retracement saja dulu. Ketika pergerakan harga tertahan di area referensi tersebut, maka Anda bisa mencoba untuk melakukan sell atau buy.

Sekarang, mari kita lihat aplikasinya pada grafik pergerakan harga.

Strategi Buy

Seperti yang sudah dijelaskan, Anda bisa memanfaatkan area referensi Fibonacci untuk mencari level buy. Tentu saja hal ini Anda lakukan pada saat up trend. Di bawah ini ada contoh grafik berdasarkan pergerakan GBP/USD. Anda akan mempelajari praktek strategi buy dengan menggunakan area referensi berdasarkan Fibonacci retracement. Anda siap? Sebaiknya demikian.

Dalam contoh di atas Anda telah menggambar Fibonacci retracement dengan acuan swing low di 1.6271 (100.0%) dan swing high di 1.6592 (0.0%). Area referensi di mana Anda akan mencoba mencari konfirmasi pantulan yang merupakan sinyal buy bagi Anda, ada tiga level retracement, yaitu: 1.6469 (38.2%), 1.6431 (50.0%) dan 1.6394 (61.8%). Ketiga level ini merupakan support.

Anda menunggu sampai harga masuk ke area referensi itu. Level terbaik untuk Buy adalah di sekitar 61.8%, namun ada kalanya Anda juga mendapatkan konfirmasi pantulan di sekitar 50.0%.

Nah, sekarang Anda bisa melihat bahwa harga berkali-kali mencoba menembus level 1.6394 (61.8%). Terlihat level tersebut “diuji” hingga empat kali, namun selalu candlestick ditutup di atas 1.6394. Ini merupakan pertanda bahwa support itu kuat dan inilah saatnya Anda melakukan buy, di sekitar 1.6431. Targetnya adalah level 1.6592 (0.0%), sementara antisipasinya berada di exit point (1) yaitu 1.6347 atau exit poit (2) di 1.6271. Jadi kalau harga ternyata malah turun, Anda akan lepas posisi buy Anda di salah satu dari kedua level tersebut.

Mengapa harus ada exit point? Untuk antisipasi jika ternyata pasar berkehendak lain, yang berlawanan dengan perkiraan Anda. Ingat selalu bahwa tidak ada analisis teknikal yang 100% benar. Analisis teknikal hanya membantu Anda untuk mendekati kebenaran. Lho, terus bagaimana d**g? Nanti, di level kelas yang lebih tinggi, Anda juga akan mempelajari mengenai manajemen resiko dan manajemen modal, yang kalau dipadukan dengan pengetahuan analisis teknikal yang baik akan menjdi senjata ampuh dalam trading. Semangat!

Mengapa ada dua exit point? Karena seringkali tembusnya level 76.4% merupakan indikasi awal bahwa arah tren akan berubah, sehingga banyak trader yang memilih untuk “bermain aman” dengan melepas posisi mereka setelah level tersebut tembus (break). Namun konfirmasi perubahan arah tren (reversal) sebenarnya adalah level 100.0%, sehingga para trader yang lebih “berani” memilih tembusnya level tersebut sebagai exit point mereka. Jadi, ini lebih kepada style dan mungkin kekuatan modal.

Oke kita lihat sekarang apa yang terjadi pada GBP/USD setelah Anda melakukan buy.

Ternyata GBP/USD naik dan target Anda tercapai! Indah bukan?

Strategi Sell

Strategi ini sebenarnya hanya merupakan kebalikan dari strategi buy. Kalau strategi buy dilakukan pada saat up trend, maka strategi sell ini dilaksakanan pada saat down trend.

Pada saat ini Anda menunggu terjadi pullback ke area referensi sell yang berada di kisaran antara 1.6619 (38.2%) hingga 1.6718 (61.8%). Di tengah-tengah ada level 50.0% yang berada di level 1.6668. Ingat ya, ketiga level ini adalah level resistance dan area referensi Anda itu sebenarnya adalah area resistance.

Nah, sekarang pullback telah terjadi dan Anda bisa melihat bahwa harga telah berada di dalam area referensi. Perhatikan bahwa harga tidak mampu menembus ke atas level 1.6718 (61.8%), bahkan malah turun dan tembus ke bawah 1.6668 (50.0%). Inilah sinyal bahwa Anda boleh melakukan sell dengan target di level 1.6458 (0.0%). Jangan lupa, antisipasinya adalah di exit point (1) di 1.6780 atau (2) di 1.6879, seandainya ternyata perkiraan Anda salah.

Sekarang, mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya….

Pergerakan harga GBP/USD turun dan target anda tercapai..

Yap, hari yang indah….

Meskipun demikian, tidak berarti kita hanya boleh melakukan sell atau buy di level 61.8% saja. Terkadang, di level 76.4% pun kita masih bisa melakukan buy atau sell.

Yang harus kita perhatikan adalah jangan sampai level 76.4% tembus. Level ini sering disebut sebagai level “kritis”. Jika level ini tembus, maka kecenderungannya akan terjadi reversal (pembalikan arah), bukan lagi koreksi. Pada gambar di atas, meskipun upper shadow dari candlestick sudah menembus level 76.4%, namun ternyata harga penutupannya masih di bawah level 76.4%, sehingga level ini belum bisa dianggap tembus .

Memang aplikasi Fibonacci retracement ini terlihat mudah. Nah, sekarang yang perlu juga untuk diketahui bahwa sebenarnya tidak semudah itu. Kebanyakan kesalahan terjadi ketika menentukan swing high dan swing low. Maka dari itu, diperlukan pengamatan yang jeli dan latihan untuk mengasah ketajaman Anda mengenali swing high dan swing low. Juga, kesabaran untuk menanti konfirmasi di area referensi mutlak diperlukan untuk bisa mempraktekkan teori ini dengan baik.

17/09/2015

5 Langkah Mudah Belajar Cara Menganalisa Teknikal Trading Forex!!!

Photos 17/09/2015

Tahukah Anda Kesalahan Utama Dalam Trading?

Ini adalah kenyataannya: untuk menjadi seorang trader yang berhasil jarang diraih dalam waktu singkat dan langsung. Biasanya seorang trader akan menghadapi hal yang buruk dalam trading dan itu akan menjadi guru serta pengalaman yang sangat berharga.

Beberapa trader bahkan akan mengalami hal yang paling pahit dalam tradingnya. Misalnya sampai modalnya habis. Meskipun demikian bukan berarti bahwa untuk menjadi trader yang berhasil harus bersakit-sakit dahulu, tapi yang lebih penting kita bisa belajar dari kesalahan. Ada ungkapan yang menarik dari buku “Reminiscences of a Stock Operator” yaitu:

“There is nothing new on Wallstreet or in stock speculation. What has happened in the past will happen again, again and again. This is because human nature does not change” – Jesse Livermore

Yang kira-kira artinya, di bursa atau dunia trading ini sebenarnya tidak ada yang baru, apa yang terjadi di masa lalu akan terjadi lagi di saat sekarang begitu seterusnya. Hal ini disebabkan oleh perilaku manusia tidak berubah.

Jadi artinya masalah yang dihadapi oleh setiap trader saat ini sebenarnya sama dengan masalah yang dihadapi oleh trader di masa lalu baik itu 10, 20 atau 100 tahun sebelumnya. Penyebabnya cukup sederhana yaitu – terlepas dari faktor kemajuan teknologi serta inovasi – kita tetaplah sebagai manusia yang mempunyai emosi. Yang membedakan hanyalah emosi kita yang bisa menjadi penghalang buat kita untuk membuat keputusan yang tepat.

Kesalahan Terbesar

Sebelum saya menyebutkan kesalahan terbesar dalam trading yang kita lakukan, cobalah untuk mengingat kembali pengalaman pahit apa yang pernah anda alami saat trading ? He..he.. saya tahu, berusaha mengingat atau membuka luka lama itu sangat menyakitkan, tapi sedikit dari kita yang mau belajar dari kesalahan yang telah kita lakukan. Mengutip pepatah lama: “pengalaman adalah guru yang paling berharga” .

Kenapa trading yang kita lakukan selalu salah bukan profit yang kita peroleh tapi loss yang kita dapatkan, jawablah pertanyaan berikut ini:

Apakah anda mempunyai trading plan ?
Jika punya apakah anda sering melanggar trading plan yang sudah anda susun?
Apakah anda membiarkan harga bergerak tidak searah dengan posisi anda dan anda biarkan begitu saja tanpa ada antisipasi?
Apakah anda menetapkan batasan kerugian anda?
Apakah anda tahu kapan saatnya menutup posisi ?
Jika jawaban nomor satu “Tidak”, maka anda sudah melakukan kesalahan pertama; jika jawaban nomer dua “Ya” maka anda sudah melakukan kesalahan kedua; jika jawaban nomer tiga “Ya” maka anda sudah melakukan kesalahan ketiga, jika jawaban nomer empat “Tidak” maka anda sudah melakukan kesalahan keempat; jika jawaban nomer lima “Tidak” maka anda melakukan kesalahan kelima.

Semua pertanyaan-pertanyaan diatas pada akhirnya akan mengerucut menjadi satu alasan utama yang sering dilakukan oleh para trader. Ketika anda merasa tidak melakukan kesalahan dari lima pertanyaan diatas sebenarnya masih ada satu alasan kenapa secara total kita masih mengalami kerugian. Kesalahan utama yang kita lakukan yaitu kita tidak memahami konsep risk reward rasio.

Seperti ungkapan Jesse Livermore diatas dimana kita ini hanya manusia, dan sifat dasar manusia pasti selalu ingin menang atau kalau dalam trading selalu ingin profit, tidak ada manusia satupun yang ingin mengalami kerugian.

Nah.. disinilah sifat manusia yang didorong oleh emosi selalu ingin profit kadang melupakan logika dan membuat keputusan yang salah. Artinya meskipun kita sering mendapatkan keuntungan dibandingkan jumlah transaksi kita yang rugi, mengapa secara total modal kita tetap saja berkurang?

Taken from The Number One Mistake Forex Traders Make, by David Rodriguez

Seperti saya katakan diatas tadi, sifat dasar manusia itu selalu ingin profit, seperti gambar diatas kalau kita lihat percentase jumlah trading yang profit (batang warna biru) lebih besar dibandingkan jumlah trading yang loss (batang warna merah) hampir di semua mata uang. Lalu pertanyaan yang muncul bukankah itu berarti bagus dan kita merasa senang, benar bukan ?

Tetapi sayangnya dari gambar yang ditunjukkan diatas yaitu jumlah persentase yang profit lebih besar dari yang loss belum menjamin secara keseluruhan kita akan profit atau modal kita bertambah. Kok bisa seperti itu ?

Hal ini karena faktor risk and reward rasio, risk reward rasio yaitu perbandingan antara seberapa besar kerugian dengan keuntungan yang ingin kita peroleh. Nah coba renungkan dalam hati anda masing-masing. Ketika anda trading dan harga bergerak tidak searah dengan posisi yang anda ambil, apakah Anda akan menahan posisi yang salah tersebut dengan harapan harga akan berbalik kembali? Hal ini cukup serakah, padahal kenyataannya bukankah kita harus takut?

Atau jika kasusnya dibalik : yaitu saat posisi yang Anda ambil benar dan harga bergerak searah dengan posisi yang kita ambil tadi, apakah Anda akan segera menutup posisi tersebut karena takut harga akan berbalik arah kembali?

Intinya kebiasaan yang sering kita lakukan saat floating minus akan kita tahan tapi saat floating profit kita buru-buru menutup posisi tersebut, benar bukan?

Kembali lagi ke konsep risk reward rasio. Untuk lebih memahami tentang risk and reward perhatikan ilustrasi dibawah ini :

Seorang Trader A dari 10 kali transaksi 7 transaksi profit dan 3 transaksi loss, kalau kita perhatikan sekilas trader A tersebut keren bukan. Tapi trader A tersebut menetapkan risk reward rasionya sebesar 5 : 1, misalnya target profitnya hanya 10 pip maka batasan kerugiannya 50 pip.
Maka Trader A profit sebesar 70 pip (7 x 10 pip) sementara loss yang dialami – 150 pip (3 x 50 pip), jadi secara total trader A tersebut masih loss 80 pip (70 pip – 150 pip).
Seorang trader B dari 10 kali transaksi 4 kali profit sementara 6 kali loss, kalau kita perhatikan sekilas trader B ini lebih jelek dari trader A bukan. Tapi trader B menetapkan risk and reward rasio dibalik yaitu 1 : 5, jadi misalnya target profitnya 50 pip maka batasan resikonya hanya 10 pip.
Maka Trader B profit sebesar 200 pip (4 x 50 pip) sementara loss yang dialami hanya minus 60 (6 x 10 pip), jadi secara keseluruhan trader B masih profit 140 pip (200 pip – 60 pip).
Jadi sebenarnya inti dari trading itu bukan seberapa sering kita profit, melainkan yang lebih penting adalah seberapa besar keuntungan yang kita peroleh disaat posisi kita benar dan seberapa kecil kerugian yang kita alami disaat posisi kita salah. Berlatihlah terus menggunakan demo account.

Plan your trade, and trade your plan.

Photos from Medan Forex Education's post 17/09/2015

Anda telah mengenal candlestick chart sebagai salah satu jenis chart yang populer di kalangan para trader. Konon, chart jenis ini pertama kali digunakan di Jepang sekitar abad ke-17 untuk memperhitungkan pergerakan harga beras. Munehisa Homma adalah seorang pedagang beras pada masa itu yang dianggap sebagai pelopor metode tersebut. Menurut Steve Nison, metode tersebut kemungkinan dimulai setelah tahun 1850-an. Steve Nison sendiri adalah salah seorang yang diketahui mempopulerkan metode analisis menggunakan pola candlestick (candlestick pattern) ke “dunia barat” melalui bukunya “Japanese Candlestick Charting Techniques”.

Teknik analisis dengan menggunakan candlestick pattern sebenarnya “mengubah” candlestick menjadi semacam “indikator”. Dengan mengenali pola-pola tertentu, Anda bisa memperkirakan kemana harga akan bergerak selanjutnya.

Perlu diingat bahwa pola candlestick biasanya hanya diikuti oleh koreksi jangka pendek saja. Pola-pola tersebut berguna bagi para trader yang ingin memanfaatkan peluang koreksi. Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan bahwa pola candlestick bisa diikuti oleh reversal (pembalikan arah) untuk jangka waktu yang lebih panjang.

Pada chapter ini, Anda akan mempelajari beberapa pola candlestick yang mudah-mudahan nantinya akan bisa Anda manfaatkan dalam trading forex.

SINGLE CANDLESTICK PATTERN (POLA DASAR)

Kita mulai dari pola dasar candlestick dulu. Pola-pola dasar yang akan kita bahas adalah marubozu, long candle, spinning tops, doji, hammer/hanging man dan inverted hammer/shooting star.

a. Marubozu

Marubozu adalah candlestick yang tidak memiliki shadow. Kalaupun ada, shadownya sangat-sangat pendek sehingga sepintas lalu tidak terlihat. Sebaliknya, body marubozu ini relatif panjang. Kemunculan marubozu menandakan bahwa tekanan bearish atau bullish sangat besar pada periode waktu tersebut.

Ada dua jenis marubozu, yaitu bullish marubozu dan bearish marubozu. Bullish marubozu adalah marubozu yang berupa candlestick bullish panjang dan tidak memiliki shadow. Sebaliknya, bearish marubozu adalah candlestick bearish panjang yang tidak memiliki shadow.

Sekedar mengingatkan, pada umumnya bullish candlestick direpresentasikan dengan warna putih (kosong) sedangan bearish candlestick direpresentasikan dengan warna hitam. Oleh karena itu bullish marubozu juga sering disebut sebagai white marubozu, sedangkan bearish marubozu disebut sebagai black marubozu.

Tadi sudah dikatakan bahwa kemunculan marubozu berarti menandakan bahwa tekanan bearish atau bullish yang kuat. Dengan demikian, kemunculan bullish marubozu menjadi pertanda bahwa pada saat itu tekanan bullish sangat kuat. Sebaliknya, kemunculan bearish marubozu menandakan bahwa pada saat itu tekanan bearish sangat kuat. Oleh karena itu Anda perlu berhati-hati jika pola ini muncul.

b. Long Candle

Long candle adalah candlestick yang relatif panjang. Patokan utamanya adalah panjang body-nya. Ada dua jenis long candle: long bullish candle dan tentu saja long bearish candle. Bedanya dengan marubozu, long candle masih memiliki shadow yang terlihat dengan jelas.

c. Spinning Tops

Spinning tops adalah candlestick yang memiliki upper shadow dan lower shadow yang panjang namun memiliki body yang kecil. Warna body dari spinning tops ini tidak terlalu penting, karena kemunculan pola seperti ini mencerminkan “keragu-raguan pasar”, apakah mau bullish atau bearish.

Body yang kecil itu menggambarkan bahwa sebenarnya kekuatan bullish dan bearish sama besarnya. Itulah yang dimaksud dengan “keragu-raguan pasar”.

Bila spinning tops ini muncul di ujung sebuah uptrend, maka ada kemungkinan pasar akan berbalik arah menjadi downtrend. Begitu p**a jika spinning tops ini muncul di ujung downtrend, maka ada kemungkinan akan terjadi pembalikan arah menjadi uptrend.

Namun demikian, spinning tops membutuhkan konfirmasi dari candlestick berikutnya agar Anda bisa memperkirakan arah pergerakan selanjutnya.

Pada dasarnya spinning tops adalah pola netral. Meskipun spinning tops muncul di ujung uptrend, tidak serta-merta pembalikan arah akan terjadi. Peluang balik arah akan semakin besar jika spinning tops yang muncul di ujung uptrend diikuti oleh candlestick bearish yang cukup panjang. Demikian p**a halnya dengan spinning tops yang muncul di ujung downtrend, membutuhkan bullish candlestick sebagai konfirmasi.

d. Doji

Doji juga merupakan pola netral. Dibutuhkan konfirmasi candlestick berikutnya agar Anda bisa memperkirakan arah pasar selanjutnya. Bentuk doji ini mirip dengan spinning tops, hanya saja ia tidak memiliki body karena harga open sama dengan harga close-nya. Atau, body-nya sangatlah kecil sehingga sepintas sulit terlihat dan hanya terlihat sebagai garis yang tipis.

Sama seperti spinning tops, doji juga menggambarkan pertarungan yang seimbang antara bull dengan bear.

Ada empat jenis doji, yaitu long-legged doji, dragonfly doji, gravestone doji dan four price doji.

Long-legged doji mudah dikenali dari shadow-nya yang panjang. Yang jelas, kedua shadow dapat dilihat dengan jelas dan memiliki panjang yang hampir sama, atau paling tidak perbedaan panjangnya tidak terlalu jauh.

Dragonfly doji memiliki harga open, close dan high yang sama atau hampir sama. Bentuknya seperti huruf “T”. Namun ada kalanya letak “body” agak sedikit ke bawah sehingga dragonfly doji ini memiliki bentuk seperti salib. Istilah dragonfly ini diambil karena doji ini memiliki bentuk mirip seperti capung.

Gravestone doji memiliki harga open, close dan low yang sama atau hampir sama. Doji ini diberi nama gravestone karena bentuknya yang mirip batu nisan. Ada kalanya juga posisi “body” agak sedikit ke atas sehingga bentuknya menyerupai salib terbalik.

Four price doji merupakan doji yang memiliki harga open, close, high dan low yang sama.

Kemunculan doji biasanya menunjukkan bahwa tekanan bullish atau bearish mulai berkurang. Jadi jika doji muncul pada saat uptrend, itu merupakan pertanda bahwa tekanan bullish menurun, sebaliknya jika doji muncul pada saat downtrend artinya tekanan bearish mulai berkurang. Namun sekali lagi, diperlukan konfirmasi dari candlestick berikutnya untuk action. Ingat selalu bahwa doji adalah pola netral.

e. Hammer & Hanging Man

Hammer dan hanging man sebenarnya adalah “saudara kembar”. Keduanya memiliki bentuk yang sama: sama-sama memiliki body yang mungil dan lower shadow yang panjang. Upper shadow nyaris tidak terlihat, bahkan hammer/hanging man yang sempurna sama sekali tidak memiliki upper shadow.

Hammer/hanging man yang bagus memiliki lower shadow yang panjangnya minimal 1,5 (satu setengah) kali panjang body-nya. Beberapa referensi yang lain menyebutkan lower shadow paling tidak dua hingga tiga kali lebih panjang daripada body-nya.

Yang membedakan hammer dan hanging man adalah lokasinya. Hammer selalu berlokasi di lembah, sementara hanging man selalu berada di puncak.

Kemunculan hammer merupakan isyarat atau sinyal bullish, sedangkan kemunculan hanging man merupakan sinyal bearish. Namun munculnya hammer atau hanging man tidak lantas merupakan sinyal yang kuat. Hammer akan menjadi sinyal bullish yang kuat jika didukung oleh kemunculan bullish candle setelahnya. Hanging man pun akan menjadi sinyal bearish yang lebih kuat jika didukung oleh kemunculan bearish candle setelahnya.

Dalam prakteknya, pola candlestick seringkali digabungkan dengan indikator dan tool analisis yang lain, seperti stochastic atau Fibonacci retracement.

f. Inverted Hammer & Shooting Star

Inverted hammer dan shooting star juga adalah saudara kembar. Bentuk mereka mirip dengan hammer dan hanging man yang terbalik. Keduanya memiliki body yang juga imut dan upper shadow yang biasanya memiliki panjang sekitar 1,5 (satu setengah) hingga tiga kali panjang body-nya. Lower shadow nyaris tidak terlihat, bahkan bentuk yang sempurna tidak memiliki lower shadow sama sekali.

Disebut inverted hammer jika letaknya berada di lembah, sedangkan jika terlihat di puncak maka disebut sebagai shooting star.

Inverted hammer merupakan sinyal bullish dan membutuhkan konfirmasi candlestick bullish yang muncul setelahnya. Sedangkan shooting star merupakan sinyal bearish yang juga membutuhkan konfirmasi candlestick bearish yang muncul setelahnya.

DUAL CANDLESTICK PATTERN

Setelah Anda mempelajari pola dasar yang merupakan single candlestick pattern, sekarang Anda akan naik setingkat untuk mempelajari dual candlestick pattern. Pola yang akan Anda pelajari adalah engulfing, dark cloud cover, piercing line dan tweezer.

a. Engulfing pattern

Ada dua jenis engulfing pattern, yaitu bullish engulfing dan bearish engulfing. Berdasarkan namanya Anda tentu sudah bisa menebak implikasi apa yang ditimbulkan oleh kedua pola tersebut.

Gambar di atas memperlihatkan bullish engulfing dan bearish engulfing. Kalau Anda lihat, suatu pola engulfing bisa dikenali ketika ada candlestick yang panjangnya melebihi candlestick sebelumnya. Tapi tidak cukup hanya “lebih panjang”. Candlestick yang lebih panjang tersebut harus terlihat seolah-olah “meliputi” candlestick sebelumnya.

Pola bullish engulfing merupakan pola yang mengindikasikan adanya potensi bullish. Pada gambar di atas terlihat bahwa bullish candlestick yang muncul lebih panjang daripada bearish candlestick sebelumnya. Harga low dari bullish candlestick tersebut tidak perlu lebih rendah daripada harga low bearish candlestick sebelumnya, namun harga high-nya harus lebih tinggi daripada harga high candlestick sebelumnya. Harga close dari bullish candlestick tersebut juga sebaiknya lebih tinggi daripada harga high candlestick sebelumnya, namun hal ini bukan merupakan suatu keharusan.

Bearish engulfing adalah kebalikan dari bullish engulfing. Pola ini mengindikasikan adanya potensi bearish. Pola ini ditandai dengan kemunculan bearish candlestick yang lebih panjang daripada bullish candlestick sebelumnya.

Agar lebih mudah, Anda hafalkan saja dengan menggunakan tanda lebih besar (>) dan lebih kecil ( panjang bearish candlestick sebelumnya
Harga high bullish candlestick > harga high bearish candlestick sebelumnya
Harga close bullish candlestick > harga high bearish candlestick sebelumnya (bukan keharusan)
Bearish engulfing:

Panjang bearish candlestick > panjang bullish candlestick sebelumnya
Harga low bearish candlestick < harga low bullish candlestick sebelumnya
Harga close bearish candlestick < harga low bullish candlestick sebelumnya (bukan keharusan)

b. Harami

Pola harami ini bisa dikatakan kebalikan dari pola engulfing. Bedanya, pada harami candlestick yang muncul lebih kecil daripada candlestick sebelumnya.

Perhatikan bahwa bullish harami ditandai dengan kemunculan bullish candlestick yang lebih kecil daripada candlestick sebelumnya yang merupakan candlestick bearish. Sedangkan bearish harami ditandai dengan kemunculan bearish candlestick yang lebih kecil daripada candlestick sebelumnya.

Bullish harami merupakan pola bullish, sedangkan bearish harami merupakan pola bearish.

c. Dark Cloud Cover & Piercing Line

Dark cloud cover dan piercing line juga merupakan pola double candlestick yang cukup populer. Dark cloud cover merupakan pola bearish, sebaliknya piercing line adalah pola bullish.

Piercing line terjadi di lembah dan merupakan pola bullish seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Pola ini terdiri dari sebuah candlestik bullish dan sebuah candlestick bearish. Suatu pola bisa disebut sebagai piercing line jika memenuhi persyaratan sebagai berikut:

Harga low candlestick bullish lebih rendah daripada harga low candlestick bearish sebelumnya.
Harga close candlestick bullish lebih tinggi daripada harga close candlestick bearish sebelumnya.
Panjang body candlestick bullish minimal setengahnya panjang body candlestick bearish sebelumnya.
Dark cloud cover terjadi di puncak dan merupakan pola bearish. Persyaratan pola ini adalah sebagai berikut:

Harga high candlestick bearish lebih tinggi daripada harga high candlestick bullish sebelumnya.
Harga close candlestick bearish lebih rendah daripada harga close candlestick bullish sebelumnya.
Panjang body candlestick bearish minimal setengahnya panjang body candlestick bullish sebelumnya.
d. Tweezer

Ada dua macam pola tweezer, yaitu tweezer top dan tweezer bottom. Pola ini merupakan pola yang cukup jarang muncul. Kata tweezer bisa berarti “penjepit” jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Konon, nama ini diberikan karena bentuk pola ini mirip dengan penjepit.

Mudah saja mengenali pola ini. Tweezer bottom merupakan bentuk hammer yang berdampingan, sedangkan tweezer top merupakan inverted hammer (shooting star, karena berada di atas) yang berdampingan.

TRIPLE CANDLESTICK PATTERN.

Pola candlestick yang juga populer adalah pola candlestick yang terdiri atas tiga buah candlestick. Kita akan membahas pola triple candlestick yang populer saja.

a. Morning star & evening star

Kita mulai dari pola triple candlestick yang paling populer, yaitu morning star dan evening star. Pola-pola ini populer karena kemunculannya biasanya diikuti oleh koreksi yang lebih panjang daripada pola-pola yang lain.

Morning star merupakan indikasi bullish, sedangkan evening star memiliki indikasi bearish.

Morning star dapat Anda kenali memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Candlestick pertama merupakan candlestick bearish, yang mana adalah bagian dari sebuah downtrend.
Candlestick kedua adalah candlestick yang memiliki body yang lebih kecil, bisa merupakan candlestick bullish ataupun bearish. Hal ini menunjukkan bahwa mulai ada “keragu-raguan” di pasar.
Candlestick ketiga adalah candlestick bullish yang lebih panjang daripada candlestick kedua. Panjangnya tidak perlu sama dengan candlestick pertama, namun posisi harga close-nya harus melebihi setengah dari body candlestick pertama. Inilah konfirmasi terbentuknya pola morning star.
Nah, kalau evening star merupakan kebalikan dari morning star tadi:

Candlestick pertama merupakan candlestick bullish, yang mana adalah bagian dari sebuah uptrend.
Candlestick kedua adalah candlestick yang memiliki body yang lebih kecil, bullish ataupun bearish tidak penting.
Candlestick ketiga adalah candlestick bearish yang lebih panjang daripada candlestick kedua. Panjangnya tidak perlu sama dengan candlestick pertama, namun posisi harga close-nya harus melebihi setengah dari body candlestick pertama. Inilah konfirmasi terbentuknya pola evening star.
Ada kalanya candlestick yang ke-2 adalah sebuah doji. Nama polanya pun akan dimodifikasi menjadi morning doji star atau evening doji star.

b. Three white soldiers & three black crows

Pola three white soldiers adalah tiga buah candlestick bullish yang muncul berurutan pada saat downtrend, yang merupakan sinyal bullish. Pola ini merupakan salah satu pola yang dianggap sinyal bullish yang kuat, terutama jika muncul pada saat downtrend memasuki fase konsolidasi. Fase konsolidasi dalam sebuah tren sendiri adalah ketika harga cenderung bergerak sideways.

Candlestick yang pertama dalam pola ini tentunya adalah sebuah candlestick bullish. Candlestick ke-2 haruslah juga sebuah candlestick bullish yang body-nya lebih panjang daripada candlestick pertama. Selain itu, jarak antara harga close dan high candlestick yang kedua ini juga tidak boleh terlalu jauh. Upper shadow-nya harus sangat pendek atau tidak ada sama sekali.

Pola ini akan lengkap dengan kemunculan candlestick ketiga yang panjangnya paling tidak sama dengan candlestick kedua atau lebih panjang. Shadow-nya juga harus sangat pendek atau tidak ada sama sekali. Akan semakin baik jika candlestick yang ketiga adalah sebuah white marubozu.

“Lawan” dari three white soldiers adalah three black crows. Pola tersebut adalah pola bearish, yang merupakan kemunculan tiga candlestick bearish secara berurutan pada saat uptrend.

Candlestick yang pertama dalam pola ini adalah sebuah candlestick bearish. Candlestick kedua haruslah juga sebuah candlestick bearish yang body-nya lebih panjang daripada candlestick pertama. Lower shadow-nya harus sangat pendek atau tidak ada sama sekali.

Konfirmasi pola ini adalah kemunculan candlestick ketiga yang panjangnya paling tidak sama dengan candlestick kedua atau lebih panjang. Shadow-nya juga harus sangat pendek atau tidak ada sama sekali. Jika candlestick yang ketiga adalah sebuah black marubozu, maka pola ini akan semakin bagus.

Nah, cukup di sini dulu pembahasan kita mengenai pola candlestick. Sebenarnya masih banyak pola candlestick yang tidak dibahas di sini, karena kita hanya membahas pola yang sering muncul dan populer saja.

Want your school to be the top-listed School/college in Medan?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Website

Address


Komplek Mawar Eka Nusa Indah Kav. C3, Jalan Eka Rasmi/Eka Nusa, Medan Johor
Medan
20144