Umat Akhir Zaman

Umat Akhir Zaman

Share

https://www.facebook.com/hmad1brahim1
Dukung dAN Berkorban Harta Lewat
PayPal.Me/UMATAKHIRZAMAN

Saya rindu saudara2ku,bukankah kami saudaramu,rosul bersabda :bukan, kalian adalah sahabat2ku,,mereka adalah umat akhir zaman,mereka belum melihatku tp meyakini Aku

11/05/2026


┏ □■□ ━━━━━━━
KITA TIDAK DICIPTAKAN SIA-SIA
┗━━━━━━━━━━ ●○●

Sebagian orang menyangka, kehidupan di dunia hanyalah sekedar menghabiskan waktu hidup saja.
Ia Lahir, kecil, dewasa, tua, dan akhirnya mati untuk meninggalkan dunia.
Atau Mereka habiskan waktu hanya dengan makan, minum, tidur, bersenang-senang, dan perkara yang sia-sia.
Mereka menganggap tidak ada tujuan dari penciptaan manusia di dunia ini.
Ini jelas merupakan kekeliruan yang sangat nyata. Bertentangan dengan akal dan naluri manusia. Dan yang jelas, bertentangan dengan hikmah yang Allah subhanahu wa ta’ala ialah tidak kuciptakan jin & manusia kecuali tunduk,mengabdi,nurut (ibadah) Kpda الله , Penciptaan manusia bukan hanya sekedar permainan dan sia-sia, namun ada hikmah besar yang terkandung di dalamnya.

⚉ Manusia Tidak Dibiarkan Begitu Saja

Tidak ada yang sia-sia dalam Ciptaan Allah. Termasuk ketika Dia menciptakan kita semua. Tidak sebagaimana anggapan sebagian orang yang terlena dengan fitnah dunia.

Allah Ta’ala berfirman :

أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَن يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan sia-sia begitu saja?“ (Al Qiyamah:36)

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al Mukminun:115).

Niatkan dakwah maksud hidup,hidup dalam dakwah.

02/05/2026

Alhamdulillah.....
Allah telah pertemukan kita .....
Ada maksud dan tujuan....
Dan Jangan bilang saya tak pernah mengajak kalian tuk ikuti petunjuk yang datang dari robb....ini buktinya saya ajak kalian ketika melihat semua yg saya bagikan dimedia sosial saya....

Ternyata....
Semakin banyak kita mengenal manusia didunia...
Kelak diakhirat mereka menjadi hujjah (ber-argumen) sama kita....
Kecuali mengajaknya ikuti kitabullah & sunatullah.

Salah satu hujjahnya....
Dahulu dia tak pernah mengajak saya untuk mengikuti petunjukmu ya Robb padahal dia mengikuti petunjuk itu dan mengetahuinya....

Waspadalah para orang-orang terpilih....
Kita itu adalah pemimpin dan kelak akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinan kita....

Jangan salah pilih pemimpin..
Carilah pemimpin yang mampu membangunkan kamu dari tidur dan mimpi yang mampu berjuang bersama dengan misi melepaskan perbudakan dan orang yang tertindas,,ikuti dia dan berjuang bersamanya dengan diri,harta bahkan nyawa...

07/04/2026

Dan yakinlah suatu saat nanti dunia ini akan dihancurkan,sehancur-hancurnya...
Ketika hari kiamat....
Semua yang dibangun akan sirna...
Kecuali ketika engkau didunia membangun/
Mencari tempat untuk bekal menuju akhirat...

Mau tau caranya,datang kerumah yok kita ngopi

30/03/2026
26/03/2026

1. Hadist/Riwayat Mengenai Hal Tersebut
Terdapat riwayat yang dinisbatkan kepada Imam Al Baihaqi mengenai percakapan antara Allah dan Malaikat Jibril:
Orang Maksiat/Kafir: Ketika seorang pendosa berdoa, Allah berfirman kepada Malaikat Jibril untuk segera mengabulkan hajatnya. Alasannya, Allah benci mendengar suara rintihan/doa orang tersebut dan ingin segera memberikannya agar ia menjauh dari pintu rahmat-Nya.
Orang Taat/Mukmin: Ketika seorang beriman berdoa, Allah memerintahkan Jibril untuk menunda hajatnya. Alasannya, Allah menyukai suara rintihan hamba yang taat dan ingin ia terus berdoa dan dekat kepada-Nya.

2. Hikmah Allah Menyegerakan Doa Orang Maksiat
Penyegeraan doa bagi ahli maksiat bukan tanda cinta, melainkan bisa jadi merupakan Istidraj.
Istidraj: Allah memberikan kenikmatan duniawi yang diminta, padahal dia bermaksiat, sebagai bentuk penundaan hukuman sampai akhirnya Allah mengambilnya saat ia sedang lalai.
Tanda Kemurkaan: Allah tidak menyukai hamba tersebut merintih kepada-Nya.

3. Hikmah Allah Menunda Doa Orang Taat
Penundaan doa bagi orang saleh tidak berarti Allah tidak mendengar.
Allah Cinta: Allah menunda doa hamba-Nya karena Dia mencintai rintihan dan doa hamba tersebut.
Pahala Akhirat: Doa yang tidak dikabulkan di dunia akan disimpan Allah, dan pada hari kiamat hamba tersebut akan kaget melihat pahala yang sangat besar hasil dari doa-doanya yang tertunda di dunia.
Yang Terbaik: Penundaan bisa berarti Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik, atau menghindarkan dari musibah yang serupa.

Kesimpulan
Orang beriman tidak akan gelisah jika doanya belum dikabulkan, karena ia berprasangka baik bahwa Allah sedang memberikan yang terbaik (baik berupa terkabulnya hajat di dunia, perlindungan dari bahaya, atau pahala di akhirat). Sebaliknya, janganlah bangga jika doa dikabulkan sementara diri masih terlarut dalam maksiat, karena bisa jadi itu adalah istidraj.

16/03/2026

Hamba Allah Nabi Yusuf .as diberi kemampuan dari yang maha segalanya dapat mentakwilkan mimpi sang raja dalam quran surah yusuf ayat 43-50 bahwa Persiapkan diri setelah masa 14 tahun tersebut (7 tahun subur + 7 tahun paceklik), dan pada akhirnya akan datang tahun di mana manusia kembali mendapatkan Rahmat hujan dan kelapangan rezeki. Semoga Memahami dimana Dapat Mengambil iktibar dari perjalanan mereka terdahulu danmasa kita saat ini masa1447 hijriyah dimana masa itu akan bergilir di muslim dunia...Mulailah sandarkan hawa nafsumu untuk maunya allah agar sesuai ayat quran

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Robbku. Sesungguhnya Robb ku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.

11/03/2026

Salman al-Farisi (Persia:سلمان فارسی, Arab:سلمان الفارسي) adalah salah seorang sahabat nabi Muhammad sholallahu 'allaihi wassallam yang asal-usulnya dari bangsa Persia dan awalnya beragama Majusi. Ia menjadi muslim di Quba' Rasulullah ﷺ bersabda, "Salman minna Ahlul Bait" (Salman adalah bagian dari kami, keluarga Nabi), yang menunjukkan penghormatan luar biasa Nabi terhadapnya.dan mulai mengikuti Nabi Muhammad sebagai nabi dalam Islam, pada Pertiakiaan Khandaq di Madinah ia menjadi penyusun strategi perang tersebut. Beberapa ahli tafsir Al-Qur'an menyatakan bahwa keislaman Salman al-Farisi menjadi penyebab turunnya ayat ke-62 dalam Surah Al-Baqarah.

Kisah Rosulullah Membenarkan Perkataan Salman...
Rupa-rupanya, Abu Darda’ adalah orang yang terlampau giat beribadah kepada Allah ﷻ. Setiap harinya selalu berpuasa, malam-malamnya padat dengan ritual shalat sunnah, sampai tidak punya waktu untuk penuhi kewajibannya terhadap keluarga, sosial, dan dirinya. Ia sedang berada dalam candu ibadah (nasywatul ibadah) yang tinggi. Ketika Abu Darda’ datang, dan menyiapkan makanan, lalu menyuguhkannya kepada Salman, ia pun menolak seraya mengatakan, “Saya tidak akan memakannya kecuali engkau juga turut makan bersamaku”. Dia yang hari itu berpuasa pun akhirnya membatalkan puasanya. Demikian juga saat hendak menunaikan shalat malam, berkali-kali ia beranjak, namun disuruh tidur kembali oleh sahabat Salman al-Farisi. Baru setelah tiba sepertiga malam, Salman membangunkan saudaranya, Abu Darda’ untuk shalat malam berjamaah. Seusai shalat, ia berkata kepada Abu Darda’: إن لربك عليك حقا ولنفسك عليك حقا ولأهلك عليك حقا فأعط كل ذي حق حقه Artinya, “Sungguh, Robbmu memiliki hak yang harus kaupenuhi, dirimu memiliki hak yang harus kaupenuhi, keluargamu juga memiliki hak yang harus kaupenuhi, maka berikanlah hak mereka secara proporsional.” Keesokan harinya, persoalan tersebut dihaturkan kepada baginda Nabi ﷺ. Lalu bersabda, Shadaqa Salman, “Benar apa yang dikatakan Salman al-Farisi”.

Dari sinilah kemudian para ulama seantero dunia, termasuk Kiai Faqihuddin Abdul Qadir—dalam fashal pertama kitab Manba’ussa’adah—
menjelaskan tiga hak tubuh yang harus dipenuhi secara sempurna. Di antaranya, hak konsumsi makanan yang halal dan bergizi baik (at-taghadzi bi al-halal at-thayyib),
hak atas istirahat yang cukup (akhdzu ar-rahah), dan
hak menyalurkan hasrat seksual secara halal dan layak (talbiyyah al-gharizah al-jinsiyyah).

Rasulullah ﷺ pernah bersabda, "Seandainya iman itu ada di bintang Tsurayya, niscaya orang Persia yang satu ini (Salman) akan bisa meraihnya".

Allah berfirman : Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabiin, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari Akhir serta melakukan kebajikan (pasti) mendapat pahala dari Robbnya, tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih hati.(Qs.Al-baqarah Ayat 62).

PENGEMBARAAN SALMAN AL-FARISI RADHIYALLAHU ANHU MEMELUK ISLAM

Salman al Farisi, adalah seorang lelaki Persia dari Negeri Ashfahan. Ia sangat total dengan ajaran Majusiah, sampai bertugas sebagai penjaga sulutan api, yang selalu menyalakannya, tidak membiarkannya padam meskipun sejenak. Orang tuanya seorang kepala distrik, mempunyai ladang yang luas.

Suatu hari, lantaran kesibukannya, sang ayah berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, aku sedang sibuk membangun tempat ini hari ini, hingga tak sempat memeriksa ladang. Pergilah engkau dan lihat“.

Salman pun pergi menuju ladang keluarganya. Di tengah perjalanan, ia melewati sebuah gereja Nashara. Di situ, ia mendengar suara-suara mereka saat mengerjakan shalat. Pemuda Salman tidak mengerti apa yang mereka kerjakan, lantaran ayahnya menahannya di dalam rumah. Begitu melihat cara shalat mereka, benar-benar membuat Salman terkagum-kagum. Akhirnya, tertarik dengan tingkah-laku mereka.

Salman berkata: “Demi Allah, ini lebih baik dari ajaran agama yang sedang kami peluk. Demi Allah, aku tidak meninggalkan mereka sampai matahari terbenam“. Ladangnya pun tidak ia pedulikan, tidak jadi mendatanginya.

“Dari mana asal agama ini?” tanya Salman kepada mereka.
Mereka menjawab,”Di Syam.”

Kemudian Salman pulang ke rumah. Ternyata sang ayah telah mengutus seseorang untuk mencarinya. Kontan saja, ketika Salman sampai rumah, ayahnya bertanya: “Kemana saja engkau? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk melakukan sesuatu?”

Salman menjawab: “Tadi aku melewati sejumlah orang sedang mengerjakan shalat di sebuah gereja. Pemandangan praktek agama yang aku lihat membuatku takjub. Demi Allah, aku di sana terus bersama mereka sampai matahari terbenam”.

Ayahnya berkata :”Anakku, tidak ada kebaikan pada agama itu. Agamamu dan agama nenek-moyangmu lebih baik darinya.”

Salman menolak anggapan ayahnya: “Sekali-kali tidak, demi Allah. Sesungguhnya agama itu lebih baik dari agama kita”.

Kemudian ayahnya mengancam anaknya itu, mengalungkan rantai di kaki dan menahan Salman tetap di dalam rumah.[1]

Dalam keadaan seperti itu, Salman meminta seseorang untuk menemui orang-orang Nashara, untuk menyampaikan, jika datang rombongan pedagang Nashara dari Syam kepada mereka, agar memberitahukan kepadanya. Kemudian ia pun mendapat berita yang ia inginkan.

Ketika para pedagang Nashara ini hendak pulang kembali ke negeri mereka, maka rantai besi yang melilitnya, ia putuskan dan kemudian Salman pergi bersama mereka, dan akhirnya sampai ke Syam.

Sesampainya di Syam, Salman bertanya: “Siapakah orang yang terbaik dari para pemeluk agama ini?”

Mereka menjawab: “Uskup yang berada di dalam gereja”.

Salman pun mendatangi orang yang dimaksud, lantas berkata: “Sesungguhnya aku menyukai agama ini dan ingin hidup bersamamu. Melayanimu di gereja, belajar denganmu dan mengerjakan shalat bersamamu”.

Uskup itu menjawab: “Masuklah!”

Akan tetapi, ternyata pendeta tersebut seorang yang berperangai buruk; menyuruh orang bersedekah dan menganjurkannya. Bila barang-barang telah terkumpul padanya, pendeta itupun menyimpannya untuk kepentingan pribadi, bukan untuk para fakir-miskin. Bahkan pendeta itu berhasil mengumpulkan tujuh tempayan berisi emas dan perak. Serta merta, kebencian kepada lelaki tersebut menyelinap pada diri Salman, begitu menyaksikan perbuatan sang pendeta.

Hingga saatnya kematian menjemput sang pendeta. Orang-orang Nashara berkumpul untuk menguburnya. Salman pun membuka kedok pendeta ini.

Salman berkata :”Sesungguhnya ini orang jelek. Memerintahkan kalian untuk bersedekah dan menganjurkannya. Bila kalian sudah menyerahkan kepadanya, ia menyimpannya untuk kepentingannya sendiri, tidak memberi kaum miskin apapun.”

Orang-orang bertanya: “Darimana engkau tahu?”
“(Mari) aku tunjukkan simpanan hartanya,” jawab Salman.
Mereka menjawab,”Tunjukkan kami.”

Salman menuju tempat penyimpanan harta si pendeta itu. Orang-orang pun akhirnya berhasil mengeluarkan dari tempat itu sebanyak tujuh tempayan penuh dengan emas dan perak. Setelah menyaksikan, mereka berseru: “Demi Allah, kami tidak akan menguburnya selama-lamanya,” maka mereka lantas menyalib lelaki tersebut dan melemparinya dengan bebatuan.

Kemudian, orang-orang mengangkat lelaki lain sebagai penggantinya. Keadaan lelaki ini lebih baik dari yang terdahulu, lebih zuhud terhadap dunia dan sangat memperhatikan masalah akhirat. Tidak ada orang yang lebih menjaga malam dan siangnya dari orang ini. Salman sangat mencintainya. Untuk beberapa lama, ia hidup bersama pendeta ini. Hingga saat ajal mendatangi pendeta itu, Salman berkata kepadanya.
Baca Juga Ummul Mukminin, Maimunah bintu al Harits

“Wahai Fulan, aku telah bersamamu, benar-benar mencintaimu dengan kecintaan yang besar. Sementara itu, telah datang kepadamu keputusan Allah yang telah engkau saksikan (kematian). Kepada siapakah engkau berpesan bagiku? Apakah yang engkau perintahkan kepadaku?”

Ia menjawab,”Wahai anakku. Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang pun sekarang ini yang berada di atas ajaranku. Orang-orang sudah binasa dan merubah-rubah (ajaran), dan telah meninggalkan banyak ajaran-ajaran sebelumnya, kecuali satu lelaki di Moshul. Yaitu Si Fulan. Ia masih sama dengan ajaranku. Ke sanalah!”

Ketika ia meninggal dan dikubur, Salman pun menemui lelaki yang dimaksud.
“Wahai Fulan, sesungguhnya Si Fulan telah berwasiat kepadaku saat akan meninggal, untuk menjumpaimu dan memberitahuku, bahwa engkau berada di atas ajarannya,” kata Salman.

Lelaki itu menjawab: “Hiduplah bersamaku”.

Selanjutnya, Salman hidup bersamanya. Lelaki ini adalah sosok yang baik. Namun, tidak berapa lama, ia pun meninggal. Ketika kematian akan mendatanginya, Salman memohon kepadanya:

“Wahai fulan, sesungguhnya Fulan dulu berpesan kepadaku untuk menemuimu dan memerintahkanku untuk menjumpaimu. Sekarang telah datang (keputusan) dari Allah, seperti yang engkau saksikan. Kepada siapakah engkau berwasiat bagiku? Apakah yang engkau perintahkan kepadaku?

Ia menjawab,”Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengetahui ada seseorang yang berada di atas kami, kecuali seorang lelaki di daerah Nashibin, yaitu Fulan. Temuilah ia!”

Ketika lelaki ini meninggal dan telah dikuburkan, Salman melaksanakan wasiat itu. Setelah berhasil menjumpai lelaki yang dimaksud, Salman pun menceritakan tentang dirinya dan wasiat yang disampaikan oleh pendeta sebelumnya.

Laki-laki menjawab: “Hiduplah bersamaku!”

Sosok laki-laki ini pun sama dengan dua kawannya. Dan tidak berapa lama kemudian, kematian mendatanginya. Ketika ia sedang sakaratul maut, Salman berkata kepadanya: “Wahai fulan, sesungguhnya Fulan (pendeta pertama), berpesan kepadaku untuk menjumpainya Fulan (pendeta kedua). Lalu ia berpesan kepadaku untuk menemuimu. Kepada siapa engkau berwasiat untukku? Apa yang engkau perintahkan?”

Ia menjawab: “Wahai anakku. Demi Allah, aku tidak mengetahui seseorang yang tetap berada di atas ajaran kami yang aku perintahkan engkau menemuinya, kecuali seseorang di daerah ‘Amuriyyah. Ia masih sama dengan ajaran kami. Jika engkau mau, datangilah, sesungguhnya ia masih berada di atas ajaran kami!”

Usai penguburan, Salman pun pergi untuk menjumpai pendeta di ‘Amuriyah dan menyampaikan kepadanya tentang dirinya. Pendeta itu pun berkata: “Menetaplah bersamaku!”

Salman hidup bersama dengan insan yang selaras dengan petunjuk dan tindak-tanduk kawan-kawannya. Ia pun dapat bekerja, sampai memiliki sapi-sapi dan kambing. Hingga kemudian datang juga keputusan Allah, yaitu kematian mendatangi pendeta ini. Ketika si pendeta mengahadapi sakaratul maut, Salman berkata kepadanya:

“Dulu aku bersama Fulan, kemudian ia berwasiat kepadaku untuk menjumpai Fulan. Dan lantas ia berpesan kepadaku untuk menemui Fulan. Dan selanjutnya berwasiat untuk mendatangimu. Kepada siapakah engkau berwasiat bagiku? Apakah yang engkau perintahkan kepadaku?”

Dia menjawab,”Wahai anakku. Aku tidak mengetahui ada orang yang masih berada di atas ajaran kami yang aku memerintahkan kepadamu untuk menjumpainya. Akan tetapi, telah datang kepadamu masa nabi (yang baru). Ia diutus di atas agama Ibrahim, bangkit di tanah Arab, melakukan hijrah ke tempat antara dua bukit batu yang pernah terbakar. Di sana tumbuh pohon kurma. Pada dirinya terdapat tanda-tanda yang tidak tersembunyi; mau makan hasil hadiah, tidak makan sedekah. Di antara dua pundaknya terdapat tanda kenabian. Jika engkau bisa pergi ke negeri itu, lakukanlah!”

Di ‘Amuriyah, cukup lama Salman menghabiskan waktu di sana, hingga datanglah rombongan pedagang dari Bani Kalb, dan Salman pun berkata kepada mereka: “Maukah kalian membawaku ke Negeri Arab dan aku akan memberi kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini?”

Mereka menjawab,”Baiklah!”

Salman memberikan itu semua kepada mereka dengan imbalan tumpangan sampai ke tanah Arab. Akan tetapi, mereka berbuat kenistaan kepadanya, dengan menjual dirinya kepada seorang lelaki Yahudi, layaknya seorang budak belian. Maka, Salman pun tinggal bersama lelaki Yahudi itu. Dan ternyata, Salman menyaksikan adanya pepohonan kurma di situ. Dia pun berharap, inilah tempat yang digambarkan kawannya (pendeta), tetapi ia belum merasa yakin.

Hingga suatu saat, datanglah kemenakan lelaki Yahudi itu dari Madinah. Yaitu dari Bani Quraizhah. Dia membeli Salman dari pamannya dan membawanya ke Madinah. Di kota Madinah ini, Salman menemukan kesesuaian dengan yang digambarkan pendeta terakhir yang ia jumpai. Salman akhirnya menghabiskan waktunya sebagai budak dengan majikan yang baru.
Baca Juga Sa'd Bin Abi Waqash, Do'anya Mustajab

Berita tentang hijrah Nabi yang dibangkitkan di tanah Arab ke Madinah sudah tersiar. Saat pertama kali mendengar berita itu, Salman sedang berada di atas pohon kurma milik majikannya. Sedangkan majikannya sedang duduk.

Tiba-tiba kemenakan sang majikan ini datang dan berdiri di hadapannya, sambil berkata: “Semoga Allah memerangi Bani Qailah. Demi Allah, mereka sekarang berkumpul di Quba, mengelilingi seorang lelaki yang datang dari Mekkah hari ini, yang mengaku dirinya seorang Nabi”.

Ketika Salman mendengarnya, seluruh tubuhnya gemetar, sampai mengira hampir jatuh menimpa majikan yang berada di bawahnya. Lalu Salman turun dari pohon kurma, dan bertanya kepada kemenakan si majikan: “Apa yang engkau katakan? Apa yang engkau katakan?”

Sang majikan marah dan menampar pipinya dengan pukulan yang sangat keras, lantas berkata,”Apa urusanmu dengannya? Teruslah bekerja!”

Salman menjawab,”Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengetahui ucapannya saja.”

Sebelumnya, Salman telah mempunyai sesuatu (kurma) yang telah ia kumpulkan. Saat sore harinya, ia pergi menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang sedang berada di Quba.

Kata Salman,”Telah sampai kepadaku berita, kalau engkau orang yang baik, (datang) bersama para sahabatmu yang asing lagi memerlukan bantuan. Ini ada sesuatu untuk sedekah. Aku melihat kalian sangat berhak daripada orang lain,” maka aku pun mendekatkan (sedekah itu) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Rasulullah berkata kepada para sahabat: “Makanlah,” tetapi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menahan tangannya dan tidak mau makan.

Salman berkata dalam hati: “Ini tanda pertama”.

Pada kesempatan berikutnya, Salman mengumpulkan sesuatu dan Rasulullah telah tinggal di Madinah. Salman berkata,”Aku melihatmu tidak mau makan sedekah. Ini adalah hadiah, aku ingin memuliakan dirimu dengannya,” maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memakannya, dan menyuruh para sahabat ikut makan bersama beliau.

Dalam hati, Salman berkata: “Ini tanda kedua”.

Berikutnya, Salman mendatangi Rasulullah ketika berada di Baqi Gharqad, yaitu ketika sedang melayat jenazah salah seorang sahabatnya. Beliau mengenakan dua kain, duduk di antara para sahabat.

Maka, Salman datang dan melontarkan salam kepada beliau. Setelah itu, ia berputar ke belakang untuk melihat punggung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , untuk memastikan tanda kenabian yang disebutkan oleh pendeta. Ketika Rasulullah menyadari keingintahuan Salman, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melepaskan kain atasnya dari punggung, dan Salman menyaksikan tanda kenabian tersebut, sebagaimana ia mengenalnya dari cerita yang pernah ia dengar.

Kemudian, Salman segera mendekati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , menciumi tanda itu dan menangis. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Salman: “Kemarilah,” maka aku ke depan beliau, dan aku bercerita kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . . .

Perang Khandaq merupakan perang pertama kali yang diikuti oleh sahabat mulia ini. Karena sebelumnya ia masih terkungkung oleh perbudakan. Sampai akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memobilisasi para sahabat agar membantu Salman, yaitu untuk menebusnya. Setelah itu, Salman al Farisi tidak pernah absen menyertai Rasulullah dalam peperangan selanjutnya.

KISAH YANG DAPAT DIPETIK UNTUK KEADAAN AKHIR ZAMAN SAAT INI BAHWASANNYA PETUNJUK ITU AKAN MASUK KEPADA SIAPA SAJA,TERGANTUNG NIAT (menuju akhirat) APA YANG MAMPU ENGKAU USAHAKAN HARI INI DEMI MENUJU KEDEKATAN MU ATAS PERINTAH ROBBMU MENUJU RIDHONYA DAN DEMI KEBAIKAN DARI KETERTINDASAN SELURUH UMAT MANUSIA (inil tujuan Manusia Dimuka Bumi)..

04/03/2026

الله كون كان محلوك تك كوس
(Allah kuasa makhluk tak kuasa)
منجديكن كيت سنو اومت
(Menjadikan kita satu umat)
تنتوكن فيلهنمو،دن تىتفله برسور بهومرك أدله كم ى
Tentukan pilihanmu dan tetaplah bersuara bahwa mereka adalah kami
دن جديله بومي منجدي دوا نكر
Dan jadilah bumi menjadi dua negara
Haq atau bathil.

01/03/2026

Biarkan dunia tau bukan kami yang mendahului perang.

"Dan milik Allah Timur dan Barat. Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Maha Luas, Maha Mengetahui."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 115)

Peringatan terakhir buat orang-orang beriman ketika war3 terjadi .Dunia ini sesuai petunjuk Al-Qur'an negara terbagi dua saja Haq dan bathil...Maka kuatkan Tauhid mu bahwa sesungguhnya ALLAH lah yang Maha.Yang pantas tempat kamu bersandar ketika kamu mengikhlaskan dirimu kpda robbmu maka itulah Haq yang sebenarnya dan yang Haq pasti melenyapkan yang bathil.

27/02/2026

Bismillahirrahmanirrahim

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86)

Kadang ada rasa yang sulit dijelaskan kepada siapa pun, seperti sedih yang terlalu dalam untuk diceritakan dan lelah yang tak selalu bisa dipahami. Di saat seperti itu, Allah mengajarkan kita satu hal yang sederhana tapi menenangkan: mengadulah hanya kepada-Nya.

Nabi Ya’qub mengucapkannya ketika kehilangan, rindu, dan ujian datang bertubi-tubi. Beliau tidak menyangkal sedihnya. Beliau tidak memendam lukanya. Tapi beliau memilih tempat mengadu yang tepat. Bukan berarti kita tak boleh bercerita pada manusia. Namun hati yang paling aman untuk bersandar adalah hati yang kembali kepada Allah.

Ramadhan ini, jika ada beban yang terasa berat, jangan simpan sendiri. Bentangkan sajadahmu, berdo'a lah dan angkat tanganmu. Sebut satu per satu yang membuatmu sesak.

Karena Allah tidak pernah lelah mendengar. Dan tidak pernah salah dalam menenangkan hamba-Nya.

13/01/2026
Want your school to be the top-listed School/college in Medan?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Address


Jalan Binjai Km. 10. 3 Gang Jadi
Medan
23051