Chandra's Notes

Chandra's Notes Setiap detik dalam hidup adalah perjalanan, setiap perjalanan memberikan banyak catatan pengalaman untuk dipelajari.

Hidup adalah perjalanan yang panjang yang memberikan banyak pengalaman. Dalam perjalanan panjang itu Tuhan memberikan saya banyak kesempatan untuk belajar dari berbagai peran saya sebagai suami, bapak, pengajar, bawahan, atasan, teman, dan berbagai peran lainnya. Bagaimana kualitas pembelajaran kita akan menjadi pembeda utama dengan orang lain. Page ini akan berisi catatan-catatan saya tentang ber

bagai hal yang semoga memberi manfaat pembelajaran khususnya bagi saya ketika berusaha merenungkan dan menuliskannya serta di kemudian hari sebagai refleksi dalam perjalanan hidup yang semoga masih panjang ini. Jikapun tulisan-tulisan ini memberikan manfaat bagi orang lain, hal tersebut adalah bonus karena telah memberikan manfaat bagi orang lain. Page ini akan saling mendukung dengan channel youtube saya dengan nama yang sama yaitu "Chandra's Note" namun dekan fokus yang berbeda. Page ini akan fokus pada catatan saya dalam bentuk pemikiran tertulis terkait pengalaman yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup saya serta catatan opini tentang berbagai hal yang terjadi di sekitar. Sementara channel youtube saya lebih banyak berisi catatan dalam bentuk video atas kompetensi profesional saya sebagai praktisi keuangan, akuntan, dan pendidik. Salam
Chandra Situmeang
https://www.youtube.com/c/ChandraSitumeang

Address

Medan
20228

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Chandra's Notes posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Chandra's Notes:

Shortcuts

Share

Category

Ceritaku

Perjalanan dalam PenyertaanNya

Aku memulaikehidupan yang dianugerahkan Tuhan pada tanggal 1Juli 1980 di Baligetepatnya di Rumah Sakit HKBP Balige, sebuahkota kecil di pinggiran Danau Toba yang saat ini menjadi ibukota kabupaten Toba yang terletak sekitar 220 Km dari Medan. Bapak dan Mama pada waktu itu sebenarnya tinggal di kota Siborong-borong sekitar 25 Km dari balige, namun karena rumah sakithanya ada di Balige maka menjelang persalinan mereka memutuskan untuk melahirkan di Balige.

Setahun sesidahnya Bapak dan Mama dipindahtugaskan ke suatu desa yang pada saat itu masih sangat tertinggal bernama “Siabal-abal”, bagian dari Kecamatan Sipahutar kabupaten Tapanuli Utara. Siabal-abal saat itu sungguh masih tertinggal. Dalam satu hari mobil yang lewat mungkin hanya 4 atau 5 mobil saja. Jangankan jaringan telepon kabel, jaringan listrik juga belum menjangkau desa ini pada tahun 1980. Keluarga kami akhirnya pindah ketempat ini karena Bapak tertantang untuk merintis sebuah SMA Negeri di Sipahutar. Berbekal pendekatan kepada warga yang akhirnya menghibahkan tanah untuk pendirian sekolah, dimulailah membersihkan lahan semak belukar untukmendirikan satu persatu ruangan untuk keperluan proses pembelajaran. Sungguh sebuah pekerjaan yang berat dan tidak menarik pada saat itu sehingga tidak banyak orang yang bersedia untuk diajak ikut bergabung. Sepanjang tahun pertama, tenaga administrasi dan pengajar hanya dua orang yaitu Bapak dan Mama untuk melayani seluruh operasional sekolah. Sejumlah tenanga pengajar mulai berdatangan setelah status sekolah telah resmi menjadi SMA Negeri Sipahutar.

Kondisi ini yang menjadi titik awal aku memulai masa-masa indah sebagai “anak kampung” atau dalam istilah orang kota saat itu“parhuta-huta”. Sebagai anak kampung di daerah Tapanuli maka secara alami bahasa yang aku kuasai untuk pertama kali adalah Bahasa Batak.Hal ini cukup lumrah karena dalam proses pembelajaran di sekolahku dulu (SD Inpres No 177657)bahasa yang digunakan sebagai pengantar adalah bahasa batak. Jika kembali diingat-ingat sebenarnya cukup menggelikan sang guru menjelaskan pelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan bahasa Bataksebagai pengantar. Sekolahku bukanlah sekolah besar dan bagus, lantainya masih dari tanah dan berdinding papan dengan papan tulis yang saat itu cukup jelek. Dalam satu kelas jumlah siswa hanya 14 orang dan pada umumnya berasal dari keluarga yang kurang mampu. Dalam karakteristik kelas yang seperti itu maka tidaklah mengherankan jika selama di sekolah ini (kelas 1 sampai 3) aku selalu menjadi ranking 1 (satu)