Perjalanan dalam PenyertaanNya
Aku memulaikehidupan yang dianugerahkan Tuhan pada tanggal 1Juli 1980 di Baligetepatnya di Rumah Sakit HKBP Balige, sebuahkota kecil di pinggiran Danau Toba yang saat ini menjadi ibukota kabupaten Toba yang terletak sekitar 220 Km dari Medan. Bapak dan Mama pada waktu itu sebenarnya tinggal di kota Siborong-borong sekitar 25 Km dari balige, namun karena rumah sakithanya ada di Balige maka menjelang persalinan mereka memutuskan untuk melahirkan di Balige.
Setahun sesidahnya Bapak dan Mama dipindahtugaskan ke suatu desa yang pada saat itu masih sangat tertinggal bernama “Siabal-abal”, bagian dari Kecamatan Sipahutar kabupaten Tapanuli Utara. Siabal-abal saat itu sungguh masih tertinggal. Dalam satu hari mobil yang lewat mungkin hanya 4 atau 5 mobil saja. Jangankan jaringan telepon kabel, jaringan listrik juga belum menjangkau desa ini pada tahun 1980. Keluarga kami akhirnya pindah ketempat ini karena Bapak tertantang untuk merintis sebuah SMA Negeri di Sipahutar. Berbekal pendekatan kepada warga yang akhirnya menghibahkan tanah untuk pendirian sekolah, dimulailah membersihkan lahan semak belukar untukmendirikan satu persatu ruangan untuk keperluan proses pembelajaran. Sungguh sebuah pekerjaan yang berat dan tidak menarik pada saat itu sehingga tidak banyak orang yang bersedia untuk diajak ikut bergabung. Sepanjang tahun pertama, tenaga administrasi dan pengajar hanya dua orang yaitu Bapak dan Mama untuk melayani seluruh operasional sekolah. Sejumlah tenanga pengajar mulai berdatangan setelah status sekolah telah resmi menjadi SMA Negeri Sipahutar.
Kondisi ini yang menjadi titik awal aku memulai masa-masa indah sebagai “anak kampung” atau dalam istilah orang kota saat itu“parhuta-huta”. Sebagai anak kampung di daerah Tapanuli maka secara alami bahasa yang aku kuasai untuk pertama kali adalah Bahasa Batak.Hal ini cukup lumrah karena dalam proses pembelajaran di sekolahku dulu (SD Inpres No 177657)bahasa yang digunakan sebagai pengantar adalah bahasa batak. Jika kembali diingat-ingat sebenarnya cukup menggelikan sang guru menjelaskan pelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan bahasa Bataksebagai pengantar. Sekolahku bukanlah sekolah besar dan bagus, lantainya masih dari tanah dan berdinding papan dengan papan tulis yang saat itu cukup jelek. Dalam satu kelas jumlah siswa hanya 14 orang dan pada umumnya berasal dari keluarga yang kurang mampu. Dalam karakteristik kelas yang seperti itu maka tidaklah mengherankan jika selama di sekolah ini (kelas 1 sampai 3) aku selalu menjadi ranking 1 (satu)
Banyak hal berkesan yang sulit dilupakan sepanjang masa-masa tinggal di desa ini. Perjuangan belajar dengan menggunakan lampu teplok adalah suatu hal yang waktu itu terasa biasa sajabahkan sampai kami pindah dari desa ini listrik belum tersambung.Salah satu hal yang menarik dari ketiadaan listrik ini adalah kami sering diminta oleh tetangga untuk menghidupkan televisi dengan mengambil daya listrik dari aki mobil dan mobil kami dihidupkan terus agar bisa menonton dalam interval waktu yang lama. Karena salah satu pahlawan revolusi yaitu Mayjed. D.I. Panjaitan adalah anak asli dari desa ini maka ketika film dokumenter yang saat itu dijadikan alat propaganda oleh pemerintah yaitu G-30-S-PKI ditayangkan maka kami harus membuka acara “nonton bareng” dari sebuah televisi 14 inci yang ditoton puluhan bahkan mendekati ratusan orang. Biasanya kami semua akan sangat terharu ketika sampai pada bagian yang menunjukkan momen ketika Jenderal DI Panjaitan ditendang ketika masih berdoa.
Momen lain yang menarik karena ketiadaan listrik ini adalah saat-saat perayaan Natal. Pohon Natal yang umum kita kenal sekarang adalah tiruan dan digantungi lampu kerlap-kerlip tidak akan mungkin ditemui disana. Pohon Natal yang digunakan adalah pohon pinus asli yang digantungi lilin sedemikian rupa agar terlihat indah. Ketika perayaan Natal berakhir maka semua orang akan berlomba-lomba mengambil lilin yang masih tersisa di pohon Natal untuk digunakan sebagai penerangan jalan pulang. Kami yang waktu itu sudah memiliki mobil dipaksa untuk berjalan pelan mengiringi warga berjalan agar cahaya lampu mobil memberikan penerangan pada jalan yang dilalui.
Kejadian lain yang kalau dikenang saat ini menjadi suatu kelucuan tersendiri adalah pada saat aku pulang liburan dari tempat opung di Medan. Berbekal pengalaman di kota maka aku menjelma menjadi“anak kampung kalangan atas” ang ceritanya ditunggi-tunggu oleh teman yang lain. Mereka akan duduk mengelilingiku dan mendengarkan aku menjelaskan betapa hebatnya Medan. Aku akan bercerita tentang sebuah mobil yang kusebut sangat panjang dan memiliki jalan sendiri untuk mengambarkan kendaraan yang sebenarnya adalah sebuah kereta api. Aku juga akan memberikan gambaran lain tentang kehebatan kota yang pada saat itu secara meyakinkan membuat mereka terkagum-kagum. Satu pengaman lain yang sunggu sulit dilupakan adalah kenakalan masa kecil dimana kami hampir setiap hari mencuri nenas yang merupakan komoditas pertanian utama disana. Sungguh menggelikan karena tanpa dicuri sekalipun akan sangat mudah meminta nenas karena jumlahnya sangat melimpah. Nenas ini tidak akan dikupas namun hanya akan dibelah dan dikorek dengan sendok yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Selain momen-momen itu, masihbanyak kenangan indah pada masa tersebut, jika semua harus dituliskan mungkin dapat menjadi satu buku dengan judul “Chandra Si Anak Desa”. Suatu hal yang pasti dan semakin aku sadari, masa-masa itu adalah masa yang sangat berperan dalam pembentukan kepribadianku di kemudian hari. Banyak sisipositif dalam kesederhaaan dan kepolosan pergaulan desa yang akhirnya menjadi memberikan pengaruh yang cukup signifikan bagiku.
Bulan Agustus 1989 setelah tinggal sekitar 8 tahun keluarga kami pindah dari Siabal-abal. Kepindahan kami dilepas dengan penuh haru karena sudah sangat dekat denganwarga Sipahutar. Keharuan ini masih jelas kuingat ketika mobil kami bergerak meninggalkan Siabal-abal, hampir sepanjang 1 km orang berbaris di kedua sisi jalan melambaikan tangan dan banyak dari antara mereka yang menangis haru. Kamipun menangis terutama aku dan adikku yang akan kelihatan teman-teman dekat kami dan juga diakibatkan oleh kebingungan atas lingkungan yang akan kami datangi selanjutnya. Kesan warga disini sangat mendalam bahkan setelah 30 tahun kemudian aku berkesempatan bertugas ke daerah ini sebagai pemantau Ujian Nasional, masih sangat banyak warga yang menaruh hormat kepada almarhum bapak. Sebuah pelajaran besar dari almarhum bapak untukku tentang arti bekerja dengan hati yang tulus disertai kegigihan dan keberanian menghadapi berbagai hal akan menghasilkan suatu hal yang dihargai oleh orang lain. Bapak yang pada awalnya dianggap aneh karena mau pindah kesana lalu kemudian kurang dis**ai dan diinginkan pindah setelah status sekolah jelas agar warga asli menjadi kepala sekolah namun kemudian dapat memenangkan hati warga disana. Pada saat bapak meninggalkan SMA Negeri Sipahutar sekolah ini sudah cukup besar, mungkin sudah masuk dalam tigabesar SMA di Tapanuli Utara.
Selanjutnya kami pindah ke Tanjung Morawa yang berjarak sekitar 10 km dari Medan,sebuah kota yang sangatbesar jika dibandingkan dengan desa tempat kami tinggal sebelumnya.Tempat Bapak bertugas juga menjadi jauh lebih besar yang waktu itu diberikan sebagai apresiasi atas kinerja bapak selama di Sipahutar.Perpindahan ini adalah tahapan transisi sosial paling berat buatku. Aku masuk “sekolah kota” sementara bahasa Indonesiaku belum terlalu lancar dan penampilanku jauh berbeda dengan “anak kota” teman sekelaskusaat itu. Aku sangat kelihatan sebagai anak desa yang lugu, pemalu, dan tidak mengerti banyak hal. Terlebih satu tahun setelahaku pindah ke Tanjung Morawa aku adalah anak kecil yang kurang bersih penampilannya dan ingus selalu menempel di hidung. Aku banyak sendirian dan sulit bergauldan sering merasa rendah diri.Namun suatu hal yang kontradiktif, dalam kondisi yang seperti itu aku menyimpan suatu perasaan bahwa aku sebenarnya memiliki kualitas yang tidak kalah bahkan mungkin lebih baik dari mereka. Sayangnya selama setahun disana rasa percaya diri itu tidak muncul sebaliknya hanya terpendam dalam diri.
Sebuah pengalaman mungkin dapat mendeskripsikan dengan baik betapa anak desanya aku waktu itu. Ketika aku mulai bersekolah disana, aku pergi dan pulang sekolah menggunakan mobil carteran dari kompleks perumahan tempat kami tinggal ke sekolah. Pada hari pertama, ketika pulang sekolah, aku tidak tahu harus turun dimana karena semua rumah di kompleks tersebut bentuknya hampir sama dan berjarak rapat. Sangat kontradiktif dengan keadaan di desa. Aku berkeliling-keliling sekitar satu jam di lokasi yang sebenarnya sudah lokasi yang dekat dengan rumah kami. Akhirnya aku menemukan dengan mengenali jemuran pakaian.
Waktu itu aku mulai terkagum-kagum dengan mainan anak kota seperti spika, nitendo, dan lain sebagainya yang merupakan permainan berkelas pada saat itu.Mainan dan berbagai hal lain yang sangat asing bagiku itu menambah keminderan diriku pada masa-masa awal tersebut.Sebuah masa yang berat namun memberikan proses pembentukan kepribadian yang baik bagiku karena aku dilatih sebagai orang yang berada pada lapisan bawah sebuah komunitas. Pada komunitas sebelumnya di Siabal-abal, aku menjadi orang yang dipandang dan dianggap paling hebat dalam berbagai hal. Pada situasi yang kurang nyaman bagiku saat itu, masihada suatu hal yang membanggakan karena aku masih bisa berada di papan atas peringkat kelas, cukup lumayan dari 3 kali terima raport disana aku masih sempat ranking dua tentunya bukan lagi dari 14 orang namun sekitar 30 orang.
Satu tahun disana, kami pindah ke Medan setelah rumah selesai dibangun karena sebenarnya kami tinggal di Tanjung Morawa hanya menunggu proses pembangunan rumah yang kami tempat hingga sekarang. Walaupun bapak masih tetap menjadi Kepala SMA Negeri Tanjung Morawa selama beberapa saat kemudian, namun aku dan adikku pindah ke SD Antonius V Medanyang lokasinya berdekatan dengan rumah kami. Disini kesulitan dan tekanan terhadapku belum berhenti. Salah satu tekanan terbesar adalah pelajaran bahasa Inggris yang bagiku kala itu sangat sulit karena bahasa Indonesiaku saja baru mulai berbenah. Berbeda dengan saat ini, waktu itu hanya SD Swasta yang memberikan pelajaran Bahasa Inggris sejak kelas 3, sementara aku belum pernah sama sekali belajar bahasa Inggris di sekolah sebelumnya yang berstatus SD Negeri.
Hal ini yang menjadi titik awal “kebencianku” terhadap bahasa Inggris dan menjadi faktor kelemahan dalam berbagai test yang aku ikuti berikutnya (Ebtanas dan UMPTN). Di SD Antonius peringkat kelasku menjadi peringkat 20-an dari sekitar 120an (kelas paralel). Ranking kelas ini memang melorot cukup jauhnamun satu hal yang menyenangkan, selama 2 tahun sekolah disini aku mulai mendapat kepercayaan diri sebagai anak kota. Aku mulai nyaman bergaul dengan teman-temanku, mulai pintar menyisihkan uang jajan untuk main video game, dan mulai mengikuti kegiatan “anak kota” lainnya. Sebuah bentuk aktualisasi diri yang kala itu cukup menyenangkan karena merasa mendapat pengakuan dari komunitasku.
Karena mulai dekat dengan beberapa teman, sewaktu mau pilih SMP untuk melanjutkan pendidikan, aku ingin masuk SMP Negeri 1 (ada beberapa teman dekat yang masuk kesini) atau SMP 3 (dekat rumah kami). Walaupun ranking kelasku tidak terlampau tinggi namun perlahan potensiku mulai keluar dengan baik sehingga Nilai Ebtanas Murni (NEM)ku relatif tinggi dan masih memungkinkan masukdi kedua sekolah tersebut. Pada saat itu keluarga melarang dan menyarankan masuk SMP Immanuel, katanya kualitasnya lebih baik. Mungkin keluargaku masih terpengaruh nama besar Yayasan Immanuel yang memang luar biasa pada erasebelumnya. Mengikuti kata orang tua dan keluarga lain yang tergila-gila dengan nama Immanuel, akhirnya aku terdaftar sebagai siswa SMP Swasta Kristen Immanuel Medan..
Disana kembali muncul masalah sosial dalam pergaulan, sekolah ini banyak dihuni anak-anak orang yang relatif kaya ataupun anak yang memaksa memposisikan diri sebagai orang kaya.Pergaulan juga relatif terkelompok-kelompok. Sebenarnya aku tidak terlampau bermasalah dengan masalah “kaya-kayaan”, yang tidak nyaman adalah pengelompokannyadimana pergaulan tidak lagi sederhana dan polos. Karena lama tinggal di desa aku senang pergaulan yang apa adanya tanpa merasa gengsi karena harta dan hidup berkelompok dalam “geng” anak sekolah.
Dalam kegiatan belajar ada murid yang rajin belajar, ada juga yang memaksakan dirinya terlihat pintar dengan berusaha hingga les dengan guru bidang studi yang bersangkutan. Sebaliknya, aku bukan siswa yang s**a belajar,bahkan di interval waktu istirahat sepanjang 15 menit kami menyempatkan diri main bola yang membuat keringatan dan tidak lagi mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Sejak awal SMP hingga kelas 3 catur wulan pertama nilaiku biasa-biasa aja bahkan pernah dapat nilai 4 untuk pelajaran bahasa Inggris. Guru bahasa Inggris kami waktu itu adalah istri mantan staf kedutaan di Inggris, bahasa Inggrisnya sangat baik dan tidak s**a melihat aku yang terlihat sangat bodoh dalam pelajaran ini dibandingkan teman-teman lain. Kejadian ini semakin membuatku membenci pelajaran bahasa Inggris. Aku menutupi kelemahanku di pelajaran ini dengan menunjukkan kinerja yang cukup baik di pelajaran menghitung.
Bisa dikatakan aku anak yang tidak terlalu baik selama SMP. Hal ini mungkin disebabkan perjuanganku untuk mendapat pengakuan dari komunitasku karena sempat merasa minder sebagai anak desa. Perjuangan untuk pengakuan itu dilakukan dengan menjadi anak yang aktif dan terlihat jagoan. Semasa di SMP Immanuel aku pernah ditendang guru dari kelas ketikagambar trapesium yang dia buat aku corat-coret karena waktu itu aku nggaks**a dengan gaya mengajar dia yang sangat kejam. Pernah juga disetrap di ruang wakil kepala sekolah karena main pedang-pedangan dengan teman kelas lain, pedang yang kami gunakan adalah sapu dan penggaris kelas. Terkadang sapu dan penggaris itu sampai patah dalam pertarungan pedang kami.
Aku mulai belajar serius kelas 3 catur wulankedua dengan beberapa motivasi. Motivasi pertama, ingin mengalahkan teman-temanku yang dalam persepsiku waktu itu sangat sombong karena nilai rapot bagus dan disayang guru, terutama yang rajin les tambahan. Motivasi kedua, aku inginmenarik hatiseorang wanita yang waktu itu cukup menarik bagiku. Aku ingin dia mengetahui kalau aku bukanlah siswa yang bodoh, malas, dan yang cuma bisa main bola serta buat ulah menjengkelkan lainnya. Motivasi ingin mengalahkan berkembang dari rasa rendah diri sebagai anak desa yang baru masuk kota menjadi rasa percaya diri yang kadang berlebihan serta akhirnya berakibat positif dan negatif bagiku. Saat menyelesaikan studi di SMP Immanuel, akhirnya NEMku jadi NEM tertinggi di kelas dan peringkat dua dari satu sekolah dengan perbedaan nilai Bahasa Inggris dan mata pelajaran lain terutama pelajaran menghitung yang cukup jauh. Aku yakin waktu itu si wanita itu sudah memberikan pengakuan bahwa aku tidaklah terlalu jelek. Namun kami tidak memasuki SMA yang sama karena justru NEM dia yang waktu itu menjadi persyaratan masuk SMA tidak mencukupi.
Aku masuk SMU Negeri I Medan, disini aku semakin menemukan kepercayaan diri dalam pergaulan yang kusadari akibat dari “keberhasilan relatif” waktu SMP. Aku jadi terbiasa bilang ke orang tua, “tenang saja, nanti kalau sudah mau lulus-lulusan aku baru belajar”. Walaupun orang tuaku guru, namun mereka tidak s**a memaksa untuk belajar sehingga aku tidak merasa tertekan karena sifatku yang memang agak kurang rajin belajar. Aku mulai mengaktualisasi diri dalam berbagai kegiatan kesiswaan, mulai mengambil beberapa posisi yang menuntut tanggung jawab yang lumayan besar untuk anak seusiaku. Satu hal yang tetap tidak terlampau nyaman dari pergaulan semasa SMU, gejala pengelompokan antara siswa makinsering terjadi. Aku tak pernah lagi menemukan pergaulan setulus waktu aku masih tinggal di desa Siabal-abal.
Semasa SMU sampai awal kuliah, sebagai anak yang baru mencari jati diri sesungguhnya aku banyak melakukan hal-hal yang buruk. Kami dan teman-teman sering melakukan kegiatan yang agak “nakal” walaupun pada saat bersamaan aktif di kegiatan kerohanian sekolah. Sebenarnya sebuah kontradiksi, dan kalau diingat sekarang jadinya lucu, sedih serta bercampur bahagia juga karena akhirnya terlewati dengan baik dan tetap berjalan dalam rencanaNya. Memang benar bahwasegala sesuatu ada waktunya apalagi kalau Dia sudah berkehendak lain, semuanya dapat berubah walau kadang fluktuasi hidup membawa kita kembali pada titik-titik terbawah dalam hidup kita.
Secara pelajaran, semasa SMU aku cukup menikmati pelajaran, tentunya kecuali bahasa Inggris. Namun, berbeda dengan pelajaran bahasa Inggris sebelumnya, pada saat SMU, bebannya tidak terlampau berat. Guru kami pada saat itu cukup anehkarena selalu mengadakan acara makan-makan untuk merayakan ulang tahun setiap siswa yang ulang tahun. Bayangkan saja, satu kelas ada 60 orang, padahal dalam satu tahun cuma ada 52 Minggu, berarti secara rata-rata akan ada yang ulang tahun setiap minggu. Lalu kapan kami belajar bahasa Inggris? kondisi ini sangat aku nikmati karena aku tidak harus tertekan dalam menghadapi pelajaran bahasa Inggris.
Sewaktu mau melanjutkan studi, aku diperhadapkan beberapa pilihan. Orang tuaku menginginkan aku untuk tetap di Medan dan mulai mengurus PMDK dengan “cara-cara” mereka. Sebaliknya aku sangat ingin merantau. Karena beberapa pertimbangan aku ingin masuk teknik industri, akuntansi, atau manajemen. Pemilihan jurusan ini dipengaruhi oleh kondisi mata yang kurang prima sehingga tidak disarankan mengambil beberapa jurusan tertentu. Sebagai bentuk kompromi aku setuju untuk tidak membuat kota Jakarta sebagai pilihan karena bapak kuatir dengan keadaan Jakarta yang sedang kacau balau karena kerusuhan pada Mei 1998. Saat itu yang terpenting bagiku adalah pergi merantau. Karena keinginan itulah, aku membuat pilihan-pilihan program studi yang aku sudah yakin akan masuk sesuai dengan hasil try out.
Akhirnya, aku kuliah di Jurusan Akuntansi Universitas Padjadjaran (UNPAD). Dalam hal kegiatan kemahasiswaan aku semakin mengambil beberapa peran yang menuntut tanggung jawab yang besar, bahkan beberapa kali memegang tanggung jawab tertinggi dalam suatu organisasi dan kepanitiaan. Satu hal terpenting dalam masa kuliah di UNPAD adalah aku menemukan dasar paling pentingdalam menjalani kehidupan. Suatu kelegaan karena memiliki suatu jaminan yang sempurna tentang kehidupan yang kekal, suatu s**acita karena memperoleh anugerah paling besaryaitu keselamatan. Anugerah ini menyingkirkan rasa rendah diri masa lalu sekaligus menekan kesombongan yang sering muncul sebagai akibat dari beberapa pencapaian yang sebelumnya aku anggap cukup membanggakan. Setelah itu kehidupan bukan menjadi sangat mudah dan menyenangkan, bahkan aku merasa sulit sekali, kadang merasa munafik dan banyak perasaan menekan lainnya. Sekarang aku memahami bahwa jatuh dan bangun adalah hal yang wajar sebagai sebuah proses yang tak pernah berhentihingga waktunya tiba.
Kehidupan kuliah di UNPAD dipenuhi dengan berbagai kegiatan yang dilakukan dengan semangat sampai satu kejadian besar yang sangat mempengaruhi hidupku bahkan membekas begitu mendalam, menekan perasaan sampai pada titik terbawah sehingga seakan-akan tak sanggup lagi untuk bertahan. Untunglah Dia yang telah terlebih dahulu memberikananugerah terbesar bagiku, kembali memberikan semangat yang besar sehingga mampu mensyukuri hidup yang dianugerahkan-Nya. Masa-masa hampir setahun setelah kejadian itu aku anggap sebagai retreat pribadi, mengundurkan diri dan merenungkan berbagai hal. Pada waktu itu pemahamanku semakin disempurnakan tentang berbagai hal. Dia juga dengan kebesaran kuasa-Nya telah memakai orang-orang di sekitarku sebagai alat untuk menolong melewati masa-masa sulit itu. Dalam pergumulan dan masa retreat pribadi itu saya mulai meyakini suatu panggilan di masa depan yaitu untuk kembali dan berdiam di Medan setelah menyelesaikan kuliah bukan seperti bayanganku sebelumnya untuk berkarir di perusahaan besar dan mejadi professional yang sukses.
Sebelum pulang kembali,aku melanjutkan kuliah di Magister Manajemen Keuangan di Universitas Indonesia (UI), pada waktu kuliah di Jakarta ini kegiatan di luar kuliah sedikit sekali. Masa-masa kuliah di UI dipenuhi rasa malas beraktifitas, ada semacam kejenuhan dan tekanan yang tidak jelas penyebabnya sehingga aku hanya fokus ingin menyelesaikan kuliah secepatnya dan akhirnya aku bisa lulus dalam 3 semester. Suatu hal yang menarik sewaktu kuliah di UI, aku berkesempatan mengenal banyak orang dari berbagai latar belakang yang jauh lebih beragam daripada sewaktu kuliah di Bandung, berbagai tipe orang dari yang sangat baik sampai yang menurut pandangan umum tidak baik namun sebenarnya memiliki sisi tersendiri dalam kehidupannya bergaul cukup dekat denganku. Beberapa orang diantaranya memberikan pengaruh dan pelajaran yang menarik tentang kehidupan nyata. Aku memang sempat bekerja sebagai Auditor di KPMG International, tapi sejak awal tanda-tangan kontrak kerja aku menyadari ini hanya untuk sementara sampai kuliahku selesai. Januari 2005, setelah 6.5 tahun aku pergi dari medan, aku balik lagi ke kota Medan……
PenyertaanNyaberlanjut di Medan. Aku mulai kehidupan sebagai wiraswasta yang mencobamencari dan membangun sebuah bisnis dari peluang yang aku lihat. Rencana yang terbayang dalam pikiranku ketika kembali ke Medan memang adalah membangun sebuah usaha. Mencoba bersaing di tengah dunia yang nyata bukan teori di kuliah dan harus meninggalkan kehidupan nyaman sebagai mahasiswa. Pada sisi yang lain pembentukan kepribadian selama kuliah mendorong untuk terus setiamempertahankan berbagai pendirian yang kumiliki.Proses yang kualami semakin mempertegas bahwa idealime mahasiswa dan kehidupan nyata bukan sesuatu yang mudah untuk berjalan beriringan namun sesuatu yang harus diperjuangkan dengan gigih dan bahkan membuat kita terluka dan menangis. Terkadang pragmatisme menjadi pilihan, memang bukan suatu sikap yang salah, tetapi bagaimanapun pragmatisme dapat menjadi hanya suatu pembenaran untuk membuat diri terlihat tetap benar padahal kita sendiri mengetahui bahwa kita sudah tidak lagi berpegang pada prinsip.
Sejak di Medan, aku juga menyalurkan hobby untuk mengajar dengan mengambil profesi sebagai dosen. Kampus pertama yang menerimaku sebagai dosen adalah STIE IBBI, secara jumlah mahasiswa, saat itu kampus ini bisa dikatakan sebagai sekolah tinggi terbesar di Medan. Profesi dosen adalah profesi yang sangat menarik, walau kadang aku rasa sia-sia di tengah-tengah budaya pendidikan khususnya di Medan yang begitu kacau balau. Disinipun aku hanya bisa mencoba memberikan sesuatu sambil berharap tidak terbawa ikut-ikutan dengan keadaan yang kacau ini. Padahal aku sendiripun merasa tak memiliki kualitas diri yang bisa secara konsisten memberikan suatu perubahan, sehingga seringkali sikap pragmatis kembali menjadi pilihan. Namun justru hal tersebut yang menggiring aku semakin mencintai dunia pendidikan. Keinginan untuk memberikan sedikit hal baik yang bisa aku berikan. Kerinduan tersebut kemudia dijawabNya dengan memberikan peran baru bagi sebagai dosen di Universitas Negeri Medan.
Melalui sebuah kejadian yang tidak direncanakan sebelumnya aku mengikuti test menjadi dosen di Universitas Negeri Medan (UNIMED), Sejak 1 April 2006, aku resmi menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dosen di lingkungan UNIMED. Aku merasa kampus ini akan menjadi tempatdimana aku memiliki peluang yang lebih besar untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat. Memang aku tidak meninggalkancita-citaku semula untuk terus mengembangkan usaha sendiri.Namun kecintaan pada dunia pendidikan tersebut membuat aku semakin memberikan perhatian yang lebih pada peran sebagai pengajar. Pekerjaan usaha sendiri dan berbagai pekerjaan lain aku rasakan malah memberikan manfaat baik bagiku karena profesi mengajar tidak terlalu berorientasi pada uang. Aku punya cita-cita dalam proses pembelajaran, aku ingin memberi sesuatu yang berarti bagi orang-orang disekitarku khususnya mahasiswaku. Bukan sekedar rangkaian materi yang jelas sangat mereka butuhkan namun juga sebuah upaya pembentukan karakter yang kuat. Aku ingin melihat orang tersenyum setelah menyadari bahwa aku memberikan suatu manfaat positif bagi mereka. Hal ini yang kuanggap sebagai penghargaan tertinggi bagi seorang pengajar.
Lingkungan baru ini menuntut aku menyesuaikan diri karena sangat berbeda dengan kehidupan bekerja sebagai auditor dengan budaya kerja perusahaan multinasionalnya. Satu hal paling berbeda adalah pergaulan, jika sebelumnyaaku tidak perlu terlampau segan bahkan dengan atasan tertinggi sekalipunyang penting adalah prestasi kerjanya, kalau disini diperlukanpenyesuaiansikap dalam menghadapi atasan dan sejawat. Walaupun terkadang banyak hal yang sangat kurang rasional dan menjengkelkan tetapi harus disesuaikankarena bagaimanapun dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Menyadari beratnya tantangan pendidik dalam kondisi yang sudah sangat rumit seperti saat ini, aku selalu berharap orang-orang yang memiliki kualitas intelektual dan mental yang baik secara bersama-sama mampu memberikan sumbangsih bagi perbaikan serta peningkatan efektifitas proses pendidikan yang dilaksanakan. Aku akan terus berdoa dan melakukan hal yang bisa kulakukan agar terjadi suatu perbaikan, walaupun aku tidak tahu kapan itu akan terjadi. Satu hal yang kuyakini, jika kita tetap ingin eksis perubahan ke arah yang baik itu harus terjadi, kecuali kita tidak lagi ingin tetap ada.
Hari-hari yang dianugerahkan Tuhan terus berlanjut dengan segala berkat, baik berkat dalam keadaan kegembiraan maupun kesusahan. Walau aku pernah berdoa kepada Tuhan agar pencobaan yang pernah kualami ketika aku kuliah menjadi yang terberat namun Tuhan kembali mengijinkan aku belajar ketaatan pada rencanaNya. Walaupun terasa begitu berat dalam menerima keputusanNya secara tiba-tiba memanggil Bapak yang kami cintai pada tanggal 2 Januari 2009, namun aku belajar tetap bergantung kepadaNya. Yang pasti kehidupan kami kedepan akan kami jalani bertiga bersama Mama dan Adikku sampai nanti akhirnya Tuhan menunjukkan orang yang tepat bagi aku dan adikku sebagai Teman Hidup, Teman Hidup yang kiranya membuat kami lebih mengasihi Tuhan.Tugas kami berikutnya adalah menggapai cita-cita kami dan jika bisa memenuhi berbagai keinginan Bapak selama hidupnya.
Bagaimanapun kepergian bapak telah merubah banyak hal dalam kehidupan kami. Aktifitasku yang sudah meningkat sebelum Bapakmeninggal akhirnya menjadi semakin banyak karena beberapa hal yang dahulu ditangani oleh Bapak saat ini relatif berada dalam tanggung jawabku. Hal ini masih ditambah karena dalam saat yang bersamaan aku diberikan tanggung jawab baru di kampus diluar tugas mengajar. Keadaan semakin diperumitdengan kedatangan surat penerimaan bagiku untuk melanjutkan pendidikan. Setelah melalui pergumulan yang berat, aku memutuskan untuk mencoba menyelesaikan kesemuanya itu.Pada hari-hari selanjutnya, walaupun tak sama dengan sebelumnya, namun aku dapat menjalani hari-hari dengan baik. Aku memulai kuliah doktoral di Universiti Sains Malaysia (USM) dengan konsentrasi riset pada Strategic Management. Pada saat yang bersamaan aku semakin menikmati pekerjaan sebagai dosen. Aku merasa ada dorongan dari hati dalam melaksanakan tugas sebagai pengajar, ada kepuasan tersendiri ketika aku melihat sesorang tersenyum ketika memahami sesuatu setelah berdiskusi denganku.
Tuhan juga terus menunjukkan kasih setiaNya padaku dengan menjawab doaku tentang Teman Hidup. Akhirnya aku mulai dituntun untuk mengenal seseorang yang akhirnya menjadi istriku. Walaupun kami sekolah di SD, SMA, dan Kampus yang sama, namun kami “berkenalan kembali” pada reuni SMA di bulan Desember 2008. Pada bulan September 2009 kami sepakat untuk memulai tahapan menuju pernikahan. Akhirnya aku menikah dengan istriku, “Vera Lady Marlina boruSitorus” pada tanggal 20 Februari 2010. Aku bersyukur pada Tuhan atas berkatnya ini walaupun almarhum Bapak tidak dapat melihat salah satu hal yang paling dia inginkan dalam hidupnya. Dalam banyak kesempatan Bapak semasa hidupnya dia selalu bilang tidak ingin pulang ke rumah Bapak sebelum anaknya ada yang menikah. Namun Tuhan punya rencana dan hal itu akhirnya tidak terpenuhi. Selanjutnya aku dan istriku sebagaimana pasangan lainnya senantiasa belajar menyesuaikan diri melalui kekurangan dan kelebihan kami untuk saling melengkapi satu sama lain. Kami yakin selama kami hidup di dalam rencanaNya, maka semuanya akan menghasilkan s**acita.
Dengan berbagai pertimbangan terkait pekerjaan dan kondisi pribadi, akhirnya aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan doktoral di Universiti Sains Malaysia (USM). Walaupun aku sempat mengerjakan risetdoktoralnya, namun dengan berat hati aku memutuskan untuk berhenti. Pada saat yang bersamaan aku juga memutuskan untuk memulai pendidikan doktoral di Universitas Sumatera Utara pada program studi Doktor Akuntansi. Sekarang seluruh kuliah kelas selama tiga semester telah dapat diselesaikan dengan baik dan sudah melewati tahap kualifikasi. Semoga dalam waktu kedepan dapat diselesaiakan dengan baik.
Setelah kami menikah, kami sudah memperoleh dua anugerah yang besar yaitu kedua anak kami. Dalam kasih karunia Tuhan, pada tanggal 10 November 2010, Tuhan memberikan kepercayaan seorang putri bagi kami berdua. Kami memberi dia nama yang merupakan doa kami bagi dia yaitu “Maria Eunike Beatrice Situmeang”. Pada saat kelahiran Maria teringat kembali Bapak yang sangat merindukan menggendong cucu, semoga cucunya ini menjadi anak yang tumbuh mengenal Tuhan dengan baik serta sehat jasmani dan rohani. Kami juga kembali bersyukur karena dalam jarak yang tidak terlalu lama yaitu pada tanggal 5 Januari 2012 kami kembali dianugerahi seorang Putra. Kami juga menitipkan doa kami melalui nama yang kami berikan untuknya “Hizkia Reynard Alexander Situmeang”. Rasa syukur kami yang mendalam juga kami sampaiakan padaNya karena menyelamatkan Maria dari kecelakaan beberapa hari setelah kelahiran adeknya. Tuhan menjagai dan menutup bungkus anak kami ini dengan malaikat yang kuat sehingga secara ajaib selamat dari kecelakaan yang sebenarnya sulit dibayangkan secara rasional. Sekarangdoaku yang paling utama adalah supaya kami berdua diberikan hikmat oleh Tuhan untuk membesarkan putri kami dan juga agar keluarga kecil kami bersama mama semakin bers**acita di dalam Dia.
Dalam lingkungan pekerjaan sejak tahun 2011, peran dan tanggung jawab yang dipercayakan kepadaku dari berbagai pihak semakin tinggi. Aku menyadari bahwa hal tersebut adalah apresiasi sekaligus tantangan yang harus dijawab. Kepercayaan tersebut harus dijawab dengan sebuah kinerja yang baik. Di Unimed ada beberapa posisi yang menjadi tanggung jawabku, memang tidak besar namun harus dikerjakan dengan baik sebagai wujud tanggung jawab pribadi. Di luar kampus Unimed juga beberapa pihak mulai memberikan kepercayaan pekerjaan sebagai konsultan untuk membantu mereka menyelesaikan berbagai permasalahan di institusi masing-masing. Semoga Dia yang telah menyertai sejak awal terus menyertaiku dalam semua aktifitasku.
Terus berharap penyertaanNya ………………………….
Last Update 26 Juli 2013