Pena Sinergi

Pena Sinergi

Share

Pena Sinergi ingin menjangkau para pendidik lewat berita, opini, artikel dan buku terbaru dan menarik bertema pendidikan.

PENA SINERGI - Media Pendidikan dan Pelatihan (Human Capital Consulting, Training & Coaching, Counseling and Facilitating for Personal Development, Self-Awareness, Leadership & Communication & Excellent Attitude) dalam rangka pengembangan SDM Indnesia. Profil kampus, para tokoh atau pemerhati pendidik dan semua orang yang memberi hati bagi perkembangan pendidikan di Indonesia akan kami bentangkan di media yang kami kelola.

Tuaian memang banyak, tetapi pekerjanya sedikit - Lusius Sinurat 08/07/2025

Tuaian memang banyak, tetapi pekerjanya sedikit
Tuaian adalah hasil akhir pengikut Kristus, yakni menghadirkan Kerajaan Allah di dunia. Dunia saat ini adalah dunia yang telah kehilangan Kebenaan dan Kedamaian sejati serta Sukacita dalam Roh. Sementara Pekerja adalah kita semua diutus Yesus untuk mewartakan Kerajaan Allah yang sudah dekat.

“Tuaian memang banyak, tetapi pekerjanya sedikit!" menegaskan bahwa semua orang di dunia yang ingin menjadi bagian dari Kerajaan Allah akan berkomitmen untuk mewartakan Kebenaan, Kedamaian dan Sukacita dalam Roh. Kalau begitu, apa yang dimaksud dengan Kerajaan Allah?

Menurut ajaran Gereja, ada 3 (tiga) unsur Kerajaan Allah, yakni Kebenaran, Damai Sejahtera dan Sukacita. Berikut akan kita renungkan satu per satu dari ketiga unsur ini.

1. KEBENARAN

Saat ini, kita hidup di dunia yang jauh dari prinsip-prinsip kebenaran. Semua orang, kelompok, hingga negara sedang berlomba mengklaim kebenaran versinya sendiri. Minggu lalu masih segar diingatan kita persekusi yang dilakukan puluhan orang Muslim terhadap Remaja Kristen yang sedang menjalani retret di salah satu rumah di Sukabumi. Begitu juga pada Perayaan Paslah bulan April lalu, umat Katolik di Arcamanik-Bandung didemo saat merayakan Trihari Suci.

Dalam kedua peristiwa di atas, menurut para pelaku perusakan dan persekusi terhadap agama minoritas, kebenaran hanyalah miliki agama mereka, dan agama lain sesat. Klaim kebenaran seperti ini pasti akan merusak kedamaian yang selama ini telah terjalin dengan baik. Keberagaman menjadi hancur, kecurigaan satu sama lain semakin menukik dan cinta kasih kepada yang lain akan semakin kabur.

Hari-hari ini sulit menjadi orang benar di tengah masyarakat yang merasa mampu membeli kebenaran dengan uang, kekuasaan dan massa. Di rumah tangga, klaim kebenaran ini juga kerapa terjadi, di mana istri/suami merasa paling benar, anak-anak merasa paling benar, begitu juga di lingkungan masyarakat yang klaim-mengklaim bahwa adat (Batak) selalu benar. Anehnya, klaim-klaim seperti ini tak pernah diikuti oleh bukti literasi, bahkan fakta-fakta pendukung.

Di media konvesional dan media sosial, kebenaran yang tampilkan lebh parah lagi. Kebenaran adalah kepentingan, pengaruh dan uang. Media berupaya agar kebenaran dalam pemberitaan mereka menjadi heboh dan viral. Untuk itu kebenaran perlu dipelintir dengan menjauhkan fakta-fakta dibalik sebuah peristiwa. Intinya, media seringkali, bahkan selalu mem-framing kebenaran dan memaksa pembaca setuju dengan pemberitaan mereka. Tujuannya jelas, yakni untuk memengaruhi banyak orang percaya pada pemberitaan mereka.

Contoh, berita tentang perang Israel-Iran yang telah disinggung di atas, media di Indonesia cenderung memberitakan bahwa Iran telah memenangkan perang. Sebaliknya, media-media di Eropa, Amerika dan negara maju lainnya justru membertikan fakta lebih banyak korban perang yang meninggal di Iran dibanding di pihak Israel. Media merasa perlu harus berbeda. Tentu, karena ada kepentingan dibelakangnya dan membayar mahal berita mereka.

Di sisi lain, manusia konoha +62 seakan tak punya pilihan berita, kecuali berpedoman pada video-video 1 menit di Tiktok. Dengan IQ rata-rata 78, netizen +62 selalu menelan mentah-mentah kotbah-kotbah ustadz di mesjid, dan kadang di tengah jalan umu, atau kotbah para pendeta di mall. Netizen kita seakan tak punya waktu untuk mencari dan membaca/menonton berita pembanding dari media lainnya. Hasilnya, bagi warga konoha, kebenaran adalah caption video tiktok, atau judul berita di koran konvensional dan media-media nakal dan banal.

Dengan cara yang sama juga terjadi ditengah masyarakat kita. Berita perselingkuhan yang hanya tampi di sepintas story orang, langsung diamini, "Bah...bah...bah. Naselingkuh do hape amani Bakkulap i dohot nai Jukkat i ate? Buktinya, berita perselingkuhan itu sedang viral di Tiktok," kata mak Gresia kepada inang-inang yang martandang ke rumahnya.

Demikianlah kebenaran telah diframing media, dan kebenaran bukanlah kebenaran berdasarkan fakta. Lihatlah acara-acara debat antar-agama di medsos. Si Ustadz A menjual 72 bidadari, si Pendeta B menjual ayat yang membenarkan perpuluhan, atau si Pastor C mengutip cerita santo-santa untuk menggugah umat menyumbang pembangunan aula pastoran.

2. DAMAI SEJAHTERA

Kedamaian juga jadi barang mahal saat ini. Perang ada di mana-mana, mulai dari perang suami-istri, anak-orangtua, perang antar teman sebaya, perang dagang antara AS-Cina, hingga perang rudal antara Israel-Iran serta Rusia dan Ukrania. Bahkan di Indonesia juga terjadi perang yang selalu berulang, yakni persekusi sebagaian orang-orang Islam kepada agama Kristen dan minoritas lainnya.

Sebagaimana telah saya jelaskan pada poin pertama tadi, ketika kebenaran di-framing, maka damai sejahtera pun tak akan tercipta. yang ada damai sejahtera itu akan semakin terancam. Ketika bulan lalu terjadi pemboman Gereja Katolik Koptik di Suriah, tepat saat perayaan Ekaristi sedang berlangsung, maka orang-orang Kristen di Timur tengah mengalami trauma dan ketakutan mereka semakin meningkat.

Di rumah tangga, damai sejahtera juga bisa menjadi sangat mahal ketika suami-istri selalu adu mulut hingga satu sama lain ogah saling menyapa selama berhari-hari. Alih-alih punya niat baik untuk berdamai, mereka saling ngotot pada narsisme dirinya.

Ingat, di keluarga Batak, meminta maaf itu bukan hal mudah, kecuali dilakukan oleh raja parhata di pesta-pesta adat lewat umpasa: Tubu ma Singkoru, di toru ni tandiang; Lam denganggan ma ngolu-ngolu, jala mokmohan na marniang" Walaupun marbada (berantem) setelah pembagian juhut/jambar, atau ulos mahal malah dibalas dengan lima ribu batu ini demban.

Damai hanya terjadi bila kasih menjadi gerbang persaudaraan diantara kita dengan sesama.

3. SUKACITA

Sukacita adalah buah terbaik dari semua hal baik yang telah kita lakukan. Tanpa kebenaran dan damai sejahtera, kita tak akan pernah mengalami s**acita. Orang yang berpikir positif, percaya kebenaran Tuhan dan mengupayakan kedamaian, ia akan mengalami s**acita.

Bukan banyaknya uang yang terutama, tetapi bagaimana memaksimalkan uang itu untuk kebahagiaan kita. Bersyukur atas hasil dari kerja keras dan mengeluh karena hasil yang diterima tak sesuai. Orang Batak dengan cerdas mengungkapkan hal ini dalam umpasanya:
Aek godang aek laut;dosni roha do sibaen na saut.
Sihikkit sinalenggam; Sai tapauneune, asa dapot nadumenggan
Untuk apa kita selalu kuatir, ragu, overthinking, anxiety (cemas alias waswas), minder dan rendah diri dengan hidup kita? Bukankah orang yang tidak bersyukur itu tak akan menikmati hidupnya? Padalah tanpa s**acita, ekonomi (rumah tngga) kita pun justru akan terperosok hingga hidup kita makin merana.

Yesus menginginkan kita menjadi pribadi yang bersyukur atas kasih, anugerah dan rejeki yang Tuhan beri. Tuhan ingin kita menikmati jerih payah kita. Sebagai sumai, anda harusnya bersyukur karena bisa menghidupi keluarga kita. Sebagai istri, Anda mengungkapkan syukur dengan mengelola keuangan rumah tangga dengan baik hingga kebutuhan hidup dan pendidikan anak-anakmu tercukupi.

Jangan menjadi suami yang hanya fokus pada parsituakna daripada uang sekolah anaknya. Jangan jadi penjudi dan menjadikan hasil judi untuk menghidupi anak-anakmu. Jangan jadi istri yang selalu ingin tampil cantik dengan riasan-riasan mahal. Sumi-istri harus kerjasama dan saling membahagiakan anggota keluarga, entah miskin atau kaya. Kebahagiaan itu akan tampil lewat s**acita dan merasakan kehadiran Tuhan. Faktanya, sagodang dia pe hepeng tak akan bisa memberi s**acita bagi kita.

Lihatlah, anak-anak muda kita yang selalu berteriak “healing” padahal tak pernah seirus belajar dan tak pernah lelah bekerja membantu orangtuanya. Atau ibu-ibu muda yang minta healing kepada suaminya lewat kebiasaan belanja dan belanja.

Sukacita bahkan tak akan dialami oleh orangtua yang mengeksploitas bakat anaknya dan menjadikannya tulang punggung ekonomi bagi keluarganya. Ya, tak ada s**acita di sana. Walaupun uang banyak, bila suami merasa tak diperhatikan, istri merasa tak dicintai, serta anak-anak mereka merasa dieksploitasi, maka s**acita tak akan ada dalam keluarga kita.

Sukacita bisa tampil ketika anak-anak sedang libur sekolah minggu dan mengajak mereka sesekali rekreasi bersama keluarga. Bukan sebaliknya, orang tua malah terlalu sibuk menghadiri pesta-pesta yang bahkan tidak urgent untuk dihadiri.

Kenyataannya, waktu dan uang habis untuk pesta. Pesta-pesta itu juga tak selalu menghadikan s**acita. Kalaupun ia, tapi anak-anak Anda yang masih SD belum bisa menikmati pesta adat yang riweuh itu. Nyatanya, pesta itu tidak memberimu kebahagiaan. Kamu malah mengeluh soal pengeluaran, sembari mengamini bahwa pesta itu wajib: untuk manggarar adat (membayar adat).

Itu sebabnya, demi pesta itu, suami-istri selalu berupaya mengalihkan perhatian puteri kecilnya yang bersungut-sungut krena gak dapat libur sekolah.
Aek siuruk-uruk,
tu Silanlan Aek Toba;
Boruku sai marungut-ungut,
ala au dohot inongna sai lao tu pesta las ni roha.

Refleksi: "Kerajaan Allah sudah dekat?"

Inilah kondisi nyata dari dunia kita saat ini: kita hidup ditengah kebenaran, damai sejahtera dan s**acita palsu setiap hari. Lalu, bagaimana mungkin kita menjadi pekerja (saksi atau utusan untuk menghadirkan Kerajaan Allah) di tengah keluarga, Gereja dan masyarakat di tempat kita tinggal?

Di lingkungan gereja, jangankan jadi pengurus gereja, memimpin doa makan saat partangiangan pun takut. Hingga ini sering jadi alasan tak mau iktu partangiangan seminggu sekali. Jangankan dipilih jadi voorhanger, sebab sangat ditunjuk memimpin lagu saat Partangianan Ama saja, istrinya sudah marungut-ungut. "Molo roha i nian, naeng ma nian jadi parhalado ini Tuhan i amangni si Borjong on. Alai boha ma baenan, martuduk-marhais dope ngolu nama.” Alasan ekonomi seringkali menghambat seseorang bertindak benar, menjadi pembawa damai, hingga bers**acita dalam hidupnya.

Sebagai pengikut Yesus, kita tak bisa menghindari tugas perutusan itu, sebab tuaian banyak tapi sedikit pekerjany. Semua orang yang dibaptis (Katolik) punya kewajiban menjadi saksi Kristus ditengah keluarga, lingkungan sekitar, masyarakt dan dunia. Kalaupun tak menjadi pengurus Gereja atau pewarta, paling tidak kita akan menjadi orang benar, pembawa damai dan s**acita bila menghindari gosip, berhenti mabuk-mabukan, tidak mencuri hak orang lain, melainkan peduli orang terdekat kita lewat tindakan nyata.

Ingat, dalam konteks teologis, kita adalah domba Allah, dan bukan serigala setan. Domba itu baik, sabar, setia dan penurut. Sebaliknya, serigala kerjanya hanya menyerang dan memakan domba-domba. Suasana keluarga yang bahagia adalah keluarga di mana suami-istri dan anak-anak sungguh "hadir" lewat tindakan saling menyapa, makan bersama, dan berdoa bersama dalam penyerahan diri kepada penyertaan Allah dalam hidup mereka.

Sebagai domba, kita selalu mengandalkan kebenaran, damai sejahtera, dan s**acita dalam Roh Kudus yang mampu menjadi domba yang berani menghadapi serigala yang siap menerkamnya. Sebagai domba yang bai, kita adalah Saksi Kristus yang selalu siaga mewartakan warta keselamatan bahwa “Kerajaan Allah sudah dekat!” serta tidak pusing soal bekal atau kasut, dan tidak memberi salam (basa-basi) kepada siapa pun yang tak layak menerima Kristus dalam hati mereka.

Dengan menjadi pengikut setia Kristus, ia akan mendapat upahnya. Yang terpenting adalah berpikir, berkata dan berlaku benar, menciptakan damai sejahtera dan s**acita. Kata Yesus, janganlah berpindah-pindah rumah: sekali Katolik tetap katolik, bahkan ketika calon suami seorang mubalik!

Hening sejenak

Allah Bapa yang penuh kasih, Engkau menghendaki agar kami mengikuti Putra-Mu dengan sepenuh hati. Kami mohon, bebaskanlah kami dari segala hambatan agar kami dapat menjadi pengikut-pengikut-Nya yang setia dan siap sedia melaksanakan kehendak-Nya. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Inspirasi:
Minggu Biasa XIV-6 Juli 2025
Yes. 66:10-14c | Gal. 6:14-18 | Mzm. 66:1-3a,4-5,6-7a,16,20 | Lukas 10:1-12.17-20

Tuaian memang banyak, tetapi pekerjanya sedikit - Lusius Sinurat Tuaian memang banyak, tetapi pekerjanya sedikit

14/05/2025

You know, it’s funny when people hear that Pope Leo XIV has a math degree, taught physics, and wrote a thesis on monastic leadership, they act like it's some wild plot twist. The Catholic Church has always been low-key obsessed with education. I mean, did you know nearly every pope since the Renaissance has had a PhD? Benedict XVI had five. Cardinals today basically need doctorate-level expertise to even get a seat at the table. Leo XIV isn't an outlier; he's following a 2,000-year-old playbook where faith and reason are BFFs. This is the same institution that gave us the Big Bang theory (thanks to a Jesuit priest, Georges Lemaître) and the guy who invented genetics (shoutout to Gregor Mendel, the pea-plant-obsessed Augustinian friar). Yet somehow, we still think of the Church as just incense and hymns.

The Church's duality; defending doctrinal tradition while pioneering intellectual frontiers, is its defining paradox. Consider the Vatican's astronomical observatory, which has operated since 1582, or the Pontifical Academy of Sciences, which has included members like Hawking and Einstein.

Let's break it down. Those monks and nuns you picture copying manuscripts in candlelit monasteries? They weren't just praying, they were preserving ancient Greek philosophy, advancing math, and basically saving Western civilisation during the Dark Ages. Fast-forward to today, and the Vatican still runs its own space telescope (yes, really, Jesuit brothers track asteroids). The Chúrch condemned Galileo, sure, but now it funds ethical stem-cell research and partners with IBM on AI ethics. It's like the ultimate comeback story: "Oops, we messed up on heliocentrism; here's a think tank on quantum physics."

And let's talk about those religious orders. Jesuits? They basically invented the modern university system. The Jesuits founded in 1540, by a chap called Ignatius Loyala, (half monk, half soldier) ran over 800 universities globally. Franciscans gave us Occam's Razor; you know, that "simplest explanation is best" rule you learned in science class? That came from a 14th-century friar who loved logic more than the Pope loved his fancy hat. The Dominicans had Thomas Aquinas, who merged Aristotle's philosophy with theology. Augustinians, Leo XIV's crew, were all about community and critical thinking, traits he took to Peru, where he spent 20 years teaching in slums while quietly holding dual citizenship. The guy's got more layers than a medieval manuscript.

But here's the upper-cut: the Church thrives on this weird paradox. It's conservative enough to make your grandma nod approvingly ("No women priests? Classic.") but progressive enough to have a Pope who trash-talks eco deniers and slams border politics. Leo XIV fits right in; he's a Republican primary voter who also called Trump's family separations "illicit," a social media critic who warns bishops not to be divisive online. It's like the Church says, "We'll debate evolution with Darwinians by day and chant Latin psalms by night and we'll look good doing both."

So next time someone acts shocked that a pope knows quantum physics or tweets about refugees, just smile. The Catholic Church has been playing 4D chess with knowledge for centuries. It's not a relic; it's a living library, where friars argue about black holes over breakfast and nuns run coding bootcamps. Leo XIV? He's just the latest chapter in a story where faith doesn't fear science…It fuels it.

17/04/2025

Hanya ‘sentuhan’ dari orang tulus,
berhati, berbudi dan berperangai halus
yang membuat hidup berjalan mulus;
bukan dari orang yang laku hidupnya tak becus
atau mereka yang bertindak penuh akal bulus.

05/04/2025

Dulu orang hidup dalam kesunyian, tetapi kini orang hidup dalam kebisingan.

Dulu orang terisolasi, tetapi kini orang sering hilang ditengah kerumunan penuh sensasi.

Dulu orang menerima terlalu sedikit pesan, tetapi kini orang justru dibombardir oleh berlaksa pesan."

03/02/2025

Rumah adat pada akhirnya hanyalah museum atau obyek wisata

03/02/2025

Kurikulum pendidikan polri yang harus diubah, atau perilaku menyimpang para polisi yang harus dihukum?

Photos from Pena Sinergi's post 22/01/2025

Cukong vs Kacung menurut Pasal 33 UUD 1945

Ayat 1:
"Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan."

Ayat 2:
"Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara."

Ayat 3:
(Sudah dihapus melalui amandemen)

Ayat 4:
"Perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional."

Dari pasal 1,2 dan 4 di atas jelas siapa sebenarnya dan siapa dalam perekonomian nasional. Ya, negara dengan para pejabatnya semestinya adalah , dan pengusaha swasta hanyalah negara yang membantu perekonomian negara.

Tapi, bagi para pejabat du negara ini, duit jadi kacungnya si rupanya lebih menarik dan hanya dibayar dengan beberapa lembar kertas dan tandatangannya.

Itu sebabnya banyak pejabat lebih memilih jadi yang patuh pada , dan menganggap sesama pejabat tak lebih dari mitra dalam .

Secara teori dan emang bisa hidup sebagai keluarga, walaupun di lapangan si s**a berlaku sebagai dengan jabatan yang sementara waktu melekat pada dirinya, dan dihadapan khalayak si s**a berpura-pura jadi yang taat hukum.

Sekolah dan universitas juga sudah dikuasai para , dan lulusannya pun akan jadi nya si .

15/12/2024



Keterampilan menolak seringkali dianggap negatif, padahal sebenarnya ini adalah kemampuan penting bagi seorang pemimpin. Mengapa?

1. Mencegah Kelelahan:
Menerima semua permintaan tanpa pertimbangan dapat membuat pemimpin kewalahan dan mengurangi efektivitasnya.


2. Fokus pada Prioritas:
Dengan menolak tugas yang tidak penting, pemimpin dapat lebih fokus pada tujuan utama dan memberikan kontribusi yang lebih besar.

3. Membangun Batasan:
Menolak dengan tegas membantu membangun batasan yang sehat dalam hubungan profesional dan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

4. Menghormati Waktu Sendiri dan Orang Lain:
Menolak tugas yang tidak relevan menunjukkan penghargaan terhadap waktu dan sumber daya, baik diri sendiri maupun orang lain.

Bagaimana menerapkan keterampilan menolak?

1. Jelaskan Alasan:
Berikan alasan yang jelas dan sopan mengapa Anda tidak dapat memenuhi permintaan tersebut.
2. Tawarkan Alternatif:
Jika memungkinkan, tawarkan solusi alternatif atau bantu mencari orang yang lebih tepat untuk tugas tersebut.
3. Jaga Hubungan:
Pastikan komunikasi tetap positif dan hindari menyalahkan pihak lain.

4. Berlatih Konsisten:
Semakin sering berlatih, semakin mudah Anda menolak dengan percaya diri.

Keterampilan menolak akan membantu seorang pemimpin, dalam hal:

1. Meningkatkan Kepercayaan Diri:
Mampu menolak dengan tegas akan meningkatkan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan.
2. Mengembangkan Keterampilan Komunikasi:
Melatih cara menyampaikan penolakan dengan sopan dan efektif.
3.
Membangun Resiliensi: Mampu menghadapi situasi sulit dan tetap fokus pada tujuan.

Demikianlah keterampilan menolak adalah aset berharga bagi seorang pemimpin. Dengan menguasai keterampilan ini, pemimpin dapat menjadi lebih efektif, efisien, dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi organisasi.

Want your school to be the top-listed School/college in Medan?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Address


Medan
20233