Toba Geothermal Institute

Toba Geothermal Institute

Share

Sebuah Gerakan Mendukung Percepatan Transisi Energi Terbarukan di Indonesia.

10/06/2025

Proyek CCS Laut Jawa bisa simpan 3 gigaton COโ‚‚. Bisakah ini bantu wujudkan masa depan rendah karbon?

04/02/2025

Last week, we released the ThinkGeoEnergy ๐—š๐—น๐—ผ๐—ฏ๐—ฎ๐—น ๐—š๐—ฒ๐—ผ๐˜๐—ต๐—ฒ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐—น ๐—ฃ๐—ผ๐˜„๐—ฒ๐—ฟ ๐—ฆ๐—ป๐—ฎ๐—ฝ๐˜€๐—ต๐—ผ๐˜ ๐Ÿฎ๐Ÿฌ๐Ÿฎ๐Ÿฐ, and as I reflect on the data, a few things stand out.

The geothermal sector is growing - but is it growing fast enough? We saw 389 MW of new geothermal capacity in 2024, with large-scale additions in ๐—ก๐—ฒ๐˜„ ๐—ญ๐—ฒ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ฑ, ๐—œ๐—ป๐—ฑ๐—ผ๐—ป๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—ฎ, and ๐—ง๐˜‚๐—ฟ๐—ธ๐—ถ๐˜†๐—ฒ. But is this enough to position geothermal as a mainstream energy source for the increasingly power-hungry world?

๐—ง๐˜‚๐—ฟ๐—ธ๐—ถ๐˜†๐—ฒ and ๐—ž๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฎ continue development. Kenya is approaching the 1,000 MW mark and the 1 GW country club, and Tรผrkiyeโ€™s steady growth shows that stable, supportive policies and investments work. What lessons can we take from these markets?

Technology is changing the game. ๐—˜๐—ป๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ฐ๐—ฒ๐—ฑ ๐—š๐—ฒ๐—ผ๐˜๐—ต๐—ฒ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐—น ๐—ฆ๐˜†๐˜€๐˜๐—ฒ๐—บ๐˜€ (๐—˜๐—š๐—ฆ) and ๐—”๐—ฑ๐˜ƒ๐—ฎ๐—ป๐—ฐ๐—ฒ๐—ฑ ๐—š๐—ฒ๐—ผ๐˜๐—ต๐—ฒ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐—น ๐—ฆ๐˜†๐˜€๐˜๐—ฒ๐—บ๐˜€ (๐—”๐—š๐—ฆ) could unlock geothermalโ€™s potential beyond traditional regions. But will financing and policy keep up?

There is one thing clear - geothermal has a real opportunity to play a bigger role in the clean energy mix of the future. But what will it take to accelerate development? Is, it policy changes, faster project approvals, better financing models, or a mix thereof?

What do you think is the biggest challenge (or opportunity) for geothermal this year?

07/10/2024

Sobat Energi Terbarukan, bukan hanya soal beralih dari energi fosil ke , tapi juga harus dilandasi prinsip keadilan. Transisi yang adil, demokratis, dan berkelanjutan adalah kunci untuk kesejahteraan masyarakat, seperti yang diamanatkan UUD. Sayangnya, Indonesia belum memiliki konsep tetap untuk transisi energi berkeadilan. ๐Ÿ˜”

IESR mendorong proses berkeadilan dengan fokus pada tiga tema: transformasi ekonomi, sosial-politik, dan pelestarian lingkungan. Mari dukung berkeadilan di Indonesia dengan ikut berpartisipasi aktif pada IETD 2024! โœŠ๐ŸŒ Daftarkan dirimu sekarang melalui: ietd.info ๐Ÿ’ป๐Ÿ‘ฅ Pilih sesi favoritmu dan tentukan kehadiranmu di venue atau secara daring!

Source : IESR

Indonesia Masih Punya Banyak PR Soal Transisi Energi - Universitas Gadjah Mada 01/10/2024

Indonesia Masih Punya Banyak PR Soal Transisi

Transisi energi menjadi energi terbarukan adalah salah satu target untuk mencapai Net Zero Emission pada 2060. Saat ini, penggunaan bahan bakar batu bara mencapai 35,36%, gas alam sebesar 19,36%, dan minyak bumi sebesar 34,38%. Hampir seluruh sektor industri, transportasi, peternakan, hingga perumahan telah menggunakan bahan bakar bumi yang menyumbang emisi karbon, dan mengakibatkan perubahan iklim. Dorongan transisi energi ini turut diperhatikan oleh Fakultas Teknik UGM melalui diskursus bertema โ€œEnergy Transition Discourse: Indonesiaโ€™s Pathway to Achieving Net Zero Emissions by 2060โ€ pada Sabtu (14/10).

โ€œMusim kemarau yang seharusnya kalau dari kebiasaan tahun-tahun sebelumnya itu sudah masuk hari ini, tapi sampai saat ini kita belum memasuki musim hujan. Bahkan di beberapa tempat, mengalami kekeringan air. Saya kira banyak yang bisa kita lakukan sebagai individu, seperti mengatur penggunaan listrik, dan beralih ke transportasi umum. Penggunaan bahan bakar fosil ini semakin meningkat, dan kalau dibiarkan tentu tidak baik. Kalau kita melihat pertumbuhan energi terbarukan saat ini juga belum sesuai harapan,โ€ ucap Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D.

Melalui Presidensi G20 Indonesia, para pemimpin dunia telah menyetujui adanya poin transisi energi, khususnya di Indonesia. Komitmen inilah yang akan terus dipertahankan, bahkan memimpin negara lain untuk ikut melakukan transisi energi. โ€œIndonesia ini merupakan negara keempat dengan penduduk terbanyak. Tapi kita jugalah yang berada di nomor 12 di dunia untuk penggunaan energi. Ini agak ngeri juga, harus hati-hati. Selain itu, kita juga menjadi nomor 1 sebagai eksportir batu bara dunia. Kita punya timeline Net Zero Emission Milestone. Dan ini bukan lagi bisa ditunda, sudah darurat. Jadi, ini waktunya sekarang kita punya teknologi apa, dan dimaksimalkan. 2050 itu bukanlah waktu yang singkat untuk melakukan revolusi energi, tapi tentunya akan dipercepat,โ€ tutur Ahmad Agus Setiawan S.T., M.Sc., Ph.D. dari Fakultas Teknik UGM.

Batu bara sebagai salah satu penyumbang emisi karbon terbesar telah menjadi sumber energi utama yang digunakan negara ini bertahun-tahun. Pertumbuhan batu bara sejak tahun 2000 dikatakan meningkat dua kali lipat hingga 61%. Kondisi ini berbanding terbalik dengan pertumbuhan energi terbarukan yang cenderung stagnan. Ketergantungan Indonesia akan industri batu bara menjadi hambatan utama dalam mencapai skema transisi energi. Potensi kerugian akan pengurangan atau pemberhentian industri pun juga menjadi ancaman.

Setidaknya terdapat tiga hal yang menjadi tantangan. Pertama, hutang Indonesia yang masih mencapai 20 miliar. Kedua, penggunaan batu bara yang sudah ditargetkan dalam beberapa tahun kedepan. Ketiga, kurangnya implementasi kebijakan penggunaan batu bara. โ€œKunci kesuksesan transisi energi di Indonesia ini ada empat. Dari segi sistem, ini harus diseimbangkan, bagaimana peran PLN nanti dan bagaimana industri energi ini berjalan berdampingan. Lalu dari segi komunitas, ini masih harus didorong. Persoalan lain adalah bagaimana kita membuat transisi yang halus. Jadi meskipun misalkan nanti ada sektor yang ditutup, ekonomi ini tidak jatuh dan tidak ada disrupsi lain yang muncul,โ€ ujar M. Rizki Kresnawan, S.T., M.Eng., pakar Climatework Center, Monash University.

Penulis: Tasya

Source : https://ugm.ac.id/id/berita/indonesia-masih-punya-banyak-pr-soal-transisi-energi/

Indonesia Masih Punya Banyak PR Soal Transisi Energi - Universitas Gadjah Mada Transisi energi menjadi energi terbarukan adalah salah satu target untuk mencapai Net Zero Emission pada 2060. Saat ini, penggunaan bahan bakar batu bara mencapai 35,36%, gas alam sebesar 19,36%, dan minyak bumi sebesar 34,38%. Hampir seluruh sektor industri, transportasi, peternakan, hingga perumah...

25/09/2023

The Indonesia Energy Transition Dialogue 2023.

Photos from Toba Geothermal Institute's post 12/09/2023

Kerangka Regulasi Pengusahaan Panas Bumi.

Credit : Pushep

HMTG MAHANDRAGA - PERIODE 2021/2022 03/09/2023

Mahandraga Talk 1.0

Mahandraga Talk adalah salah satu program kerja departemen diskusi dan kajian. Acara ini merupakan acara yang mengangkat tema pemanfaatan tambang mineral dan geothermal di Indonesia.

Acara ini menghadirkan narasumber yaitu Bapak Helin Simatupang dari Praktisi Energi Terbarukan, juga responden untuk topik ini adalah Riski Fadhilah selaku kepada departemen diskusi dan kajian.

HMTG MAHANDRAGA - PERIODE 2021/2022 Dalam periode ini, kondisi yang kami alami tidak jauh berbeda dari periode sebelumnya. Acara-acara yang kami adakan dilakukan secara Daring karena berdasarkan aturan pemerintah saat periode ini menjabat masih tetap tidak memperbolehkan melakukan acara secara berkerumun.

Transisi Energi Nasional Perlu Modal Besar | Universitas Gadjah Mada 16/08/2022

Transisi Energi Nasional Perlu Modal Besar

Indonesia saat ini tengah berupaya mentransisikan sumber energi nasional kepada sumber energi baru dan terbarukan (EBT). Sumber EBT tersebut seperti dari angin, panas bumi, tenaga surya, dan lain sebagainya.

Sebagai target, pemerintah menginginkan pada tahun 2025 nanti, EBT dapat memenuhi 23% kebutuhan energi nasional. Angka ini nantinya akan menggeser penggunaan sumber energi minyak turun menjadi 25% dan energi batubara menjadi 30%. Lebih jauh lagi, di tahun 2050 nanti, pemerintah menargetkan penggunaan energi dari sumber EBT dapat naik menjadi 31% dan menggeser sumber energi minyak turun menjadi 20% serta batubara 25%.

Namun, untuk mencapai transisi energi tersebut, ada banyak hal yang dibutuhkan, salah satunya tentu terkait masalah energy financing atau pendanaan. EBT memang dikenal sebagai sumber energi yang ramah lingkungan, namun teknologinya tidaklah murah.

Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika, Kementerian Luar Negeri, Muhammad Takdir, mengatakan untuk merealisasikan target transisi energi kepada EBT di atas, negara harus menyediakan lebih kurang 6000 juta USD pertahun-nya.

Untuk memenuhi kebutuhan pendanaan tersebut maka investasi asing perlu ditingkatkan, potensi pasar dalam negeri perlu dimaksimalkan, jangkauan pasar EBT dalam negeri perlu diperluas (atau dimana EBT dalam negeri juga turut bisa dijual ke perusahaan di luar negeri), dan lain sebagainya.

Takdir mengatakan bahwa Indonesia mempunyai potensi besar untuk memproduksi EBT. Kemudian dari sisi regulasi, pemerintah juga telah menerbitkan banyak hal yang dibutuhkan. Tapi sayangnya, jika masalah pendanaan di atas tidak bisa diatasi maka semua hal di atas akan menjadi percuma.

โ€œTapi saya kira regulasi itu tidak akan bermanfaat kalau masalah financing tadi tidak bisa kita carikan solusinya,โ€ tutur Takdir dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan topik โ€˜Diversifikasi Energi dan Tantangan Transisi ke Energi Bersih di Tengah Realisme (Geo) Politikโ€™ yang diadakan FISIPOL UGM pada Jumat, (5/8).

Kebutuhan pendanaan yang begitu besar untuk EBT dibenarkan oleh analis energy financing dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), Elrika Hamdi. Elrika mengatakan pendanaan untuk EBT memang sedikit berbeda dengan pendanaan energi konvensional selama ini layaknya minyak bumi dan batubara.

Tidak seperti pendanaan untuk energi minyak bumi, EBT membutuhkan biaya yang sangat besar di awal. Tapi ketika beroperasi, beban biaya EBT hampir tidak ada. Hal ini bertolak belakang dengan pendanaan minyak bumi, batubara, dan energi konvensional lainnya. Minyak bumi dan kawan-kawan hanya membutuhkan sedikit biaya untuk membangunnya, namun butuh biaya besar untuk mengoperasikannya.

Penulis: Aji

Source : https://ugm.ac.id/id/berita/22807-transisi-energi-nasional-perlu-modal-besar?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook



Transisi Energi Nasional Perlu Modal Besar | Universitas Gadjah Mada Indonesia saat ini tengah berupaya mentransisikan sumber energi nasional kepada sumber energi baru dan terbarukan (EBT). Sumber EBT tersebut seperti dari angin, panas bumi, tenaga surya, dan lain sebagainya.ย ย 

Photos from Toba Geothermal Institute's post 14/08/2022

Antisipasi Kondisi Krisis dan/atau Darurat Energi DaIam Identifikasi Penyediaan Minyak Bumi

Dewan Energi Nasional (DEN) menyelenggarakan rapat koordinasi identifikasi penyediaan minyak bumi dalam rangka antisipasi kondisi krisis dan/atau darurat energi di Provinsi Jawa Timur dan sekitarnya. Rapat dipimpin oleh Satya Widya Yudha dan dihadiri oleh Anggota DEN baik secara luring maupun daring diantaranya As Natio Lasman, Musri Mawaleda,Yusra Khan, Anggota DEN Unsur Pemerintah, Perwakilan Direktorat Jenderal Migas, SKK Migas, Pertamina EP dan Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur. Hadir secara daring p**a Anggota Pemangku Kepentingan DEN yaitu Musri Mawaleda dan Yusra Khan,Anggota DEN Unsur Pemerintah, SKK Migas, dan instansi lainnya. Rapat koordinasi ini bertujuan untuk menjamin kontinuitas pemenuhan kebutuhan kilang minyak dalam negeri, guna pemenuhan produk BBM dan LPG, yaitu mendapatkan data dan informasi realisasi pencapaian target dan proyeksi produksi minyak bumi, identifikasi keamanan pasokan minyak bumi sebagai upaya antisipasi serta mitigasi krisis dan darurat energi, menghadapi tantangan kegiatan-kegiatan ilegal yang dapat mengurangi produksi migas.

Satya dalam pembukaannya menuturkan bahwa mekanisme untuk penetapan dan penanggulangan krisis energi dan/atau darurat energi telah diatur dalam Perpres 41/2016. Usulan krisis dan/atau darurat energi dapat dilakukan oleh DEN, Badan Usaha, Badan Pengatur dan juga Pemerintah Daerah kepada Menteri ESDM, yang nantinya akan diputuskan bersama dalam Sidang Anggota DEN dengan keputusannya paling lama 14 hari.

Perwakilan SKK Migas Mohammad Kemal menyampaikan bahwa situasi global saat ini dipengaruhi oleh energi transisi, post pandemic covid 19 dan geopolitik Rusia-Ukraina. Meskipun harga minyak dunia, investasi pada sektor migas belum naik secara signifikan. Tahun 2023, harga minyak bumi diperkirakan UD 90/BBL Harga gas global masih akan berada diatas 25 USD/MMBTU. Realisasi produksi minyak bumi hingga Juli 2022 masih mengalami tren penurunan, dikarenakan terjadinya unplanned shutdown dibeberapa lokasi. Namun dalam proyeksi hingga akhir tahun minyak bumi akan meningkat secara bertahap. Outlook hingga akhir tahun 2022 produksi minyak berada pada 633 MBOPD sementara gas 5,355 MMCFD. Untuk mencapai target jangka panjang 1 Million BOPD & 12 ribu MMSCFD, SKK Migas memiliki beberapa strategi, diantaranya improving existing assest value, Transformation Resource to Production, Enhance oir recovery/waterflood, dan Eksplorasi/ Migas non konvensional.

Sementara itu untuk meningkatkan produksi migas, Yulianto yang mewakili Ditjen Migas mengusulkan bahwa perlu ada perbaikan terms & conditions kontrak pada lelang blok migas baru seperti fleksibilitas kontrak, split kontraktor gas hingga 50%, FTP diturunkan menjadi 10%. Selain itu juga perlu pengalihan PI lebih dari 51% pada WK perpanjangan atau alih kelola, kemudian Fasilitas perpajakan & insentif, perbaikan terms & conditions untuk WK existing melalui Kepmen ESDM 199/2021, meningkatkan IRR yang masih POD atau setidaknya pada kisaran 15%. Lalu perbaikan pengelolaan dan akses data hulu migas dan penyederhanaan perizinan melalui perizinan online. Di sisi lain, Direktorat Jenderal Anggaran Kemenkeu yang diwakili oleh Hellington menyampaikan penyampaian insentif perlu dikaji lagi lebih hati-hati. Saat ini insentif fiskal lebih menitikberatkan ke energi transisi, yaitu energi terbarukan.

Diakhir, Satya Yudha menekankan bahwa dalam rangka pencapaian target produksi gas 12 ribu MMCFD, perlu sejalan dengan pembangunan industri yang akan menyerap gas tersebut sehingga nantinya produksi gas dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik secara maksimal. Selain itu, pengurangan pendapatan dari sektor migas secara langsung tidak dapat dihindari, hal tersebut diakibatkan cadangan migas yang semakin menipis dan juga penemuan yang semakin sulit. sehingga resiko menjadi semakin tinggi dan juga membutuhkan teknologi. Untuk dapat bersaing dengan negara luar, insentif dapat menjadi tools untuk meningkatkan produksi migas. (Teks: CTA-AFW, Editor: DE, Grafis:CTA)

Photos from Toba Geothermal Institute's post 09/08/2022

Renewable Energy Technologies Short Course 2-4 Agustus 2022.

Photos from Guru Katiga Anda's post 07/08/2022
Want your school to be the top-listed School/college in Medan?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Website

Address


Medan
20142