📚 DAPAT UJIAN MALAH BERSYUKUR
Dalam Islam, tingkatan menghadapi musibah dan masalah:
1. Marah (tidak terima)
2. Menahan diri/bersabar (hati mungkin masih tidak terima, tetapi menahan diri)
3. Ridha (hati menerima dan lapang dada)
4. BERSYUKUR karena penghapus dosa dan meningkatkan derajat
Ini sebagaimana dijelaskan oleh syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin :
“Manusia ketika tejadi musibah ada 4 keadaan: [1]Marah, [ 2] Bersabar [3] Ridha [4] Bersyukur. Inilah keadaan manusia ketika terjadinya musibah.”[1]
Kami Mendapatkan sharing tulisan yang bagus (semoga Allah memberikan kebaikan yang banyak kepada penulisnya):
Orang konyol buat masalah…
Orang kerdil memperbesar masalah….
Orang biasa membicarakan masalah….
Orang besar mengatasi masalah…..
Orang bijak bersyukur dengan
masalah….
Orang kreatif melihat peluang dari
masalah….
Orang bertaqwa naik derajat karena
masalah….
Jadi, ga ada masalah dengan “masalah”….
Masalahnya, bagaimana cara kita
menyikapi “masalah”….
Karena hakikatnya, hidup itu rangkaian “masalah” demi “masalah”.
So, Jadikanlah “MASALAH” sebagai “Masa mengenal Allah”.
[selesai kutipan]
Cobaan dan musibah itu selalu datang dan niat Allah adalah agar membersihkan dosa-dosa kita ketika kita bijak menyikapinya, berkhusnudzan bahkan bisa bersyukur. Sehingga bisa jadi kita menghadap Allah tanpa dosa sama sekali
“Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.”[2]
Melihat besarnya keutamaan tersebut, pada hari kiamat nanti, banyak orang yang berandai-andai jika mereka ditimpakan musibah di dunia sehingga menghapus dosa-dosa mereka dan diberikan pahala kesabaran. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
”Manusia pada hari kiamat menginginkan kulitnya dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia, karena mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa cobaan di dunia.”[3]
Demikian semoga bermanfaat
✍🏼 Raehanul Bahraen
[1] Syarah Riyadhus Shalihin
[2] HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan lainnya, dan dinyatakan hasan shahih oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/565 no. 2399
[3] HR. Baihaqi: 6791, lihat ash-Shohihah: 2206.
•┈┈•••✦✿✦•••┈┈•
Unzhur Ila Ma Yaquul, Wala Tanzhuru Ila Man Huwa Qaaila
أنظر إلى ما يقول ، ولا تنظروا إلى من هو قائلا => Lihatlah APA Yang Disampaikan/Dikatakan dan Jangan Lihat SIAPA Yang Menyampaikan/Mengatakan
Menyadarkan ummat bahwa tak ada yang salah dari perkataan seseorang. Tergantung kita yang mendengarkannya, apakah kita menelannya mentah-mentah, menolak seluruh perkataannya, atau meneliti kembali sehingga memantapkan setiap ilmu yang kita dapat. Bukankah dalam hadits, bahwa Abu Hurairah pernah diajarkan Ayat Kursiy oleh Iblis? Maka, jadilah pendengar yang setia, bijak dan smart... ^_^
Indahnya akhlak mulia
Harun ibn ‘Abdillah, seorang ulama ahli hadits yang juga pedagang kain di kota Baghdad bercerita:
Suatu hari, Saat malam beranjak larut, pintu rumahku di ketuk. “Siapa..?”, tanyaku.
“Ahmad”, jawab orang diluar pelan.
“Ahmad yang mana..?” tanyaku makin penasaran.
“Ibn Hanbal”, jawabnya pelan.
Subhanallah, itu guruku..!, kataku dalam hati.
Maka kubuka pintu. Kupersilakan beliau masuk, dan kulihat beliau berjalan berjingkat, seolah tak ingin terdengar langkahnya.
Saat kupersilakan untuk duduk, beliau menjaga agar kursinya tidak berderit mengeluarkan suara.
“Wahai guru, ada urusan yang penting apakah sehingga dirimu mendatangiku selarut ini..?”
“Maafkan aku ya Harun… Aku tahu biasanya engkau masih terjaga meneliti hadits selarut ini, maka aku pun memberanikan diri mendatangimu. Ada hal yang mengusik hatiku sedari siang tadi.”
Aku terkejut. Sejak siang..? “Apakah itu wahai guru?”
“Mmmm begini…” suara Ahmad ibn Hanbal sangat pelan, nyaris berbisik.
“Siang tadi aku lewat disamping majelismu, saat engkau sedang mengajar murid-muridmu. Aku saksikan murid-muridmu terkena terik sinar mentari saat mencatat hadits-hadits, sementara dirimu bernaung di bawah bayangan pepohonan.
Lain kali, janganlah seperti itu wahai Harun. Duduklah dalam keadaan yang sama sebagaimana murid-muridmu duduk..!”
Aku tercekat, tak mampu berkata…
Maka beliau berbisik lagi, mohon pamit, melangkah berjingkat dan menutup pintu hati-hati.
Masya Allah… Inilah guruku Ahmad ibn Hanbal, begitu mulianya akhlak beliau dalam menyampaikan nasehat.
Beliau bisa saja meluruskanku langsung saat melintasi majelisku. Tapi itu tidak dilakukannya demi menjaga wibawaku dihadapan murid-muridku.
Beliau juga rela menunggu hingga larut malam agar tidak ada orang lain yang mengetahui kesalahanku.
Bahkan beliau berbicara dengan suara yang sangat pelan dan berjingkat saat berjalan, agar tidak ada anggota keluargaku yang terjaga.
Lagi-lagi demi menjaga wibawaku sebagai imam dan teladan bagi keluargaku.
Teringat perkataan Imam Asy Syafi’i:
“Nasehati aku saat sendiri, jangan di saat ramai dan banyak saksi. Sebab nasehat ditengah khalayak, terasa hinaan yang membuat hatiku pedih dan koyak; Maka maafkan jika hatiku berontak…”
Berkata as-Syaikh Shaalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah :
" Jika engkau berkata kepada shahibul haq tatkala ia berbuat salah : "engkau menyalahi dalil", "engkau menyalahi sunnah" maka sungguh ia akan menerimanya sebab maksudnya adalah alhaq dan bukan memenangkan ra'yunya (ra'yu : pendapat), adapun jika engkau berkata kepada shahibul hawaa : "engkau berbuat salah", maka sungguh ia akan marah dan bersikap keras, dan ini merupakan tanda-tanda ahlul ahwa' (pengekor hawa nafsu), sesungguhnya setiap person mereka ingin memperturutkan hawa nafsunya".
[ Sumber : Syarhus Sunnah karya al-barbahaari hal 56 ]
قال الشيخ صالح بن فوزان الفوزان - حفظه الله-:
(( إذا قلت لصاحب الحق إذا أخطأ: أنت أخطأت الدليل، أخطأت السنة، فإنه يقبل، لأن قصده الحق، وليس قصده الانتصار لرأيه..، أما إذا قلت لصاحب الهوى: أنت أخطأت، فإنه يغضب ويشتد، وهذه علامة أهل الأهواء، أن كل واحد يريد أن ينتصر لهواه..))
[ المصدر: شرح السنة للبربهاري صـ56. ]
Allah yg lebih tau drpd diri kita, Maha Tahu segala keperluan yg trbaik bagi kita, tugas kita hanya meluruskan niat krn Allah dan sempurnakan ikhtiar sbg bentuk tawakkal kpdNya. :)
Mukmin dan mukmin lainnya saling membela. Bila dizalimi upayakan membantu agar ia menang, bila menzalimi cegah ia dr perbuatannya.
[HR. Muslim]
Setiap sepuluh orang yg mengucapkan "la ilaha illahllah" dgn ikhlas akan dibukakan pintu2 langit hingga ia akan tembus ke arsy.
[Abu Hurairah]
Menghentikan kebiasaan buruk itu jauh lebih sulit drpd memulai kebaikan. Maka perbanyaklah kebaikan agar kita kehabisan waktu utk melakukan keburukan.
Orang yg mmberi petunjuk kpd kebaikan maka sama pahalanya dgn orang yg melakukannya.
[HR. Bukhari]
Tiada suatu rezeki yg Allah berikan kpd seorang hambaNya yg lebih besar baginya drpd Sabar.
[AlHakim]
Bekerja bukan utk uang tp utk amal sholeh mendekat kpdNya. Allahlah yg mmberi jalan. Oleh karnanya jgn lupa bersedekah. :)
[Kiriman Aisyah dr Medan]
Sahabat ingn brbagi tausiyah? Silakan kirim tausiyah sahabat dgn format
NAMA Tausiyah (max. 300 karakter)
kirim ke 08172333585
Bagi yg melatih menahan diri dr ucapan yg tak bermanfaat, niscaya hatinya akan lebih peka membaca hikmah dari kejadian.
Siapa yg menzolimi org lain trhadap sejengkal lahan, mk kelak dia akn dililit dgn tujuh bumi.
[HR. Bukhari & Muslim]
Na'udzubillah
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Telephone
Website
Address
Medan