I didn't get a crash-witness protection
Slick Will 13
Passionate Educator
No more steroids ๐ค๐ผ
07/05/2026
Rihlah Ilmiah Arc: Final Part
13โ14 April 2019. Ah, tak terasa telah sampailah ekspedisi ini pada penghujungnya. Genap 8 hari kami habiskan di negeri orang.
Sebelumnya, pihak PCIM Malaysia telah memberitahukan kami perihal kehadiran seorang tokoh PP Muhammadiyah yang akan mengisi kajian pada Sabtu (13/4) malam, Yunahar Ilyas. Beliau telah wafat di 2020 lalu. Semoga Tuhan berkahi beliau dengan nikmat kubur.
Lagi-lagi, kami semua berpencar menuju tempat-tempat wisata yang kami kehendaki masing-masing untuk mengisi waktu luang sebelum malam tiba. Ya, bisa dibilang, ini agak persis dengan sehari sebelumnya, di mana kami benar-benar bebas seharian.
Bagiku, seorang maniak olahraga balap motor, tentu ini kesempatan emas untuk mengunjungi Sepang International Circuit, sebuah sirkuit yang sudah langganan menjadi tuan rumah MotoGP Malaysia sejak 1999. Di titik ini, sudah genap 22 tahun sejak terakhir kali Indonesia menggelar balapan MotoGP, atau lebih tepatnya masih disebut GP500 di masa itu, sementara negeri jiran sudah 19 tahun berturut menggelar balapan prestis yang sama. Menyedihkan!
Ini juga kesempatan sempurna bagiku untuk bertemu kangen dengan adik sepupuku yang lucu dan menggemaskan. Ia sedang berkuliah di sini, tepatnya sejak 2018.
Namun apalah daya? Manusia bisa berencana, namun Tuhan yang berkehendak. Kedua rencanaku batal total bersebab ketertarikanku akan hal lain, yang aku tahu takkan bisa kudapatkan sekembalinya aku ke kotaku.
Ya, oceanarium.
Sebagai seorang yang takut melihat kedalaman laut, sebenarnya makhluk-makhluk yang mengisi kedalaman itu sangat membuatku tertarik. Kapan lagi aku bisa melihat biota laut sedekat ini kalau bukan melalui tempat seperti oceanarium?
Sementara di lokasi lain, para kamerad juga menikmati waktu mereka, seperti dijahili pedagang es krim Turki, mengunjungi berbagai department store, atau bahkan hanya sekadar diseret dosen pendamping untuk bersilaturahmi dengan kawan lamanya.
Malam pun tiba, kajian terselenggara dengan lancar, dan sekitar 1 jam sebelum subuh tiba, kami pun bertolak menuju bandara untuk p**ang. A satisfying end to a wholesome expedition.
Ah, Rihlah Ilmiah, what an adventure!
Seven dollars!
30/04/2026
Rihlah Ilmiah Arc: Part IV
11โ12 April 2019. Hampir saja kami menggembel di tengah ibu kota negeri jiran setelah mengusaikan petualangan di UPSI, jika bukan karena hasil audiensi dari unit pertama dengan PCIM Malaysia sepekan sebelumnya. Setidaknya, tempat istirahat para IMMawati sampai hari kep**angan sudah aman di Rumah Dakwah PCIM, sementara para IMMawan (baca: kuli) harus berjalan kaki sepanjang 2โ3 kilometer lagi dari rumah itu demi mencapai pondok peristirahatan. Ah, talk about gender equality!
Bagi beberapa orang, inilah waktu yang mereka tunggu-tunggu. Sebut saja WIB (Waktu Ikatan Belanja).
Toh, agenda utama di kampus mitra sudah selesai, maka inilah waktu melancong yang sesungguhnya. Sayangnya, beberapa venue yang gagal kami kunjungi 2 hari sebelumnya masih juga belum dapat diakses. Cih. ๐
Kamis (11/4) itu cukup cerah, dan kami pun memulai WIB dari tempat paling ideal untuk berbelanja: Pasar Seni.
Ah, that place really does live up to its name. Aku sendiri sampai kewalahan dalam memilah-milih suvenir untuk beberapa kamerad yang tak ikut dalam ekspedisi ini.
Misiku pribadi di pasar ini tentunya hanya satu: mendapatkan Milo dan setidaknya 1 krat Monster Energy drink.
And of course, in a classic misfortune, aku gagal mendapatkan 1 krat minuman kaleng itu, mengingat tiap toko maupun 7-Eleven hanya menjual per kaleng. Sial.
Aku, yang bisa dikatakan lasak ketika ada hal baru untuk dieksplorasi, seketika menemukan diriku terpisah dari rombongan karena hendak mengambil video yang menampilkan 6 PM pertama Malaysia. Langkah yang cukup berisiko, mengingat aku memiliki kecenderungan tersesat.
Malam pun tiba, dan kami mengadakan silaturahmi dan bertukar cerita bersama . Tentunya, ketika acara selesai di jam 1 pagi sekali pun, para kuli tetap harus berjalan kaki 2โ3 kilometer lagi menuju pondok.
Tak banyak yang kami lakukan di Jum'at (12/4). Bisa dikatakan, inilah fase akhir ekspedisi, di mana masing-masing mulai berpencar menuju situs yang diinginkan. Bagiku dan beberapa kamerad lainnya, Batu Caves lah yang paling menarik.
Kapan lagi bisa menapaki ratusan anak tangga sampai naik betis? ๐
Final Part on next week's issue!
Where's the M3 GTR, Rockstar? ๐คจ
My Genuine Interest on Formula V
23/04/2026
Rihlah Ilmiah Arc: Part III
9โ10 April 2019. Setidak-tidaknya 12 tahun hidupku kuhabiskan untuk mengenyam pendidikan pada level dasar dan menengah. Dalam 12 tahun itu p**a aku mendapatkan pendidikan kewarganegaraan (baca: cuci otak secara halus), namun tak sedikit pun jiwa nasionalis tumbuh padaku.
Malah sejak usia belia, aku memandang nasionalisme sebagai tak lebih dari sebuah virus. Barangkali jika aku terlahir di negara yang pemangku kebijakannya peduli terhadap rakyat, aku tak akan sampai pada kesimp**an tersebut. Bagiku, hubunganku dengan negara ini tak lebih dari sekadar transaksional saja, sebagaimana negara ini memandang rakyatnya demikian tiap masuk musim pemilu.
Selasa (9/4) itu kami bertolak dari Perak menuju Kuala Lumpur untuk menyambangi Kedutaan Besar RI di Malaysia. Sekitar 1 jam kami habiskan untuk bersilaturahmi, yang sejujurnya tak membekas sedikit pun di kepalaku, mengingat perwakilan yang menyambut kami lebih banyak memberikan wejangan soal nasionalisme โ sama sekali tak masuk di akalku.
1 jam itu terasa lama betul. Aku sudah tak sabar akan agenda selanjutnya, yaitu kunjungan ke 3 lokasi yang kental sejarah di KL. Sebagai pecinta sejarah, hal-hal seperti inilah yang membangkitkan semangat bagiku.
Sialnya, sebagaimana Istana Negara, Muzium Diraja pun tidak dapat diakses. Ah, padahal inilah tempat yang paling kunantikan!
Akhirnya, kami hanya bisa berfoto di halaman depan museum itu. Tapi tak apalah, setidaknya Tugu Negara bisa kukelilingi sepuasnya.
Rabu (10/4) pun tiba, dan tanpa terasa, inilah hari terakhir kami di UPSI. Tak banyak agenda di hari itu, hanya diskusi ilmiah dengan pihak kampus, berbagi perspektif menyoal pendidikan di masing-masing kampus dan negara, sekaligus melakukan komparasi antar kedua organisasi kampus.
Lagi-lagi, aku ditugaskan menjadi juru bicara untuk memperkenalkan IMM FKIP dan seluk-beluk struktural hingga berbagai kegiatannya. Quite an experience, I must say.
Setelah menyerahkan cenderamata, maka secara resmi usailah petualangan kami di kampus raksasa itu. Perpisahan pun terasa menyesakkan, but nothing lasts forever, does it?
Sayonara, UPSI!
Part IV on next week's issue. ๐๐ผ
Stop doing things half-heartedly, Rockstar!
I Think I Found Nikita Mazepin
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Website
Address
Jln. Pukat II No. 53-D
Medan
20224