Sekolah Komunitas Hijau
Sebuah Komunitas yang kreatif untuk menjawab perkembangan globalisasi dan teknologi 4.0
25/10/2019
AKUAPONIK
Akuaponik adalah sistem pertanian berkelanjutan yang mengkombinasikan akuakultur dan hidroponik dalam lingkungan yang bersifat simbiotik. Dalam akuakultur yang normal, ekskresi (kotoran) dari hewan yang dipelihara akan terakumulasi di air dan meningkatkan toksisitas air jika tidak dibuang. Dalam akuaponik, kotoran hewan diberikan kepada tanaman agar dipecah menjadi nitrat dan nitrit melalui proses alami, dan dimanfaatkan oleh tanaman sebagai nutrisi. Air kemudian bersirkulasi kembali ke sistem akuakultur. Karena sistem hidroponik dan akuakultur sangat beragam bentuknya maka sistem akuaponik pun menjadi sangat beragam dalam hal ukuran, kerumitan, tipe makhluk hidup yang ditumbuhkan, dan sebagainya.
Akuaponik terdiri dari dua komponen penting, yaitu bagian hidroponik di mana tanaman tumbuh, dan bagian akuakultur di mana ikan dipelihara. Sedimen dari sistem akuatik seperti kotoran ikan dan pakan yang tidak dimakan dapat terakumulasi pada sistem pemeliharaan ikan yang tertutup dan tanpa sirkulasi. Sedime ini dapat menjadi racun bagi ikan pada konsentrasi tinggi, namun bernutrisi bagi tumbuhan. Selain dua sistem utama di atas, akuaponik dapat memiliki sistem tambahan seperti biofilter yang menjadi tempat bagi bakteri nitrifikasi untuk mengubah amonia dari kotoran ikan menjadi nitrat yang dapat digunakan oleh tumbuhan, dan aerator yang mengirimkan udara ke air agar akar tumbuhan dapat bernafas.
Tanaman ditumbuhkan di sistem hidroponik dengan akar mereka terendam dalam larutan penuh nutrisi. Hal ini membuat tanaman mampu menyerap senyawa nitrogen yang dapat bersifat racun bagi ikan, sehingga akar berfungsi sebagai penyaring. Setelah air selesai melalui sistem hidroponik, air dibersihkan diaerasi sebelum kembali ke sistem akuakultur. Kemudian siklus berlanjut. Beberapa sistem untuk hidroponik dapat digunakan dalam akuaponik seperti kultur air dalam dan nutrient film technique. Sistem aeroponik tidak dianjurkan karena sedimen dari sistem akuakultur dapat menyumbat sprinkler.
Sebagian besar sayuran daun dapat tumbuh dengan baik pada sistem hidroponik dalam akuaponik, namun yang telah terbukti menguntungkan adalah kol china, selada, selasih, mawar, tomat, okra, blewah, dan paprika. Karena tanaman pada fase pertumbuhan memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda, fase pemanenan dapat dilakukan bersamaan dengan penanaman benih atau bibit. Hal ini dilakukan untuk menjaga penyerapan nutrisi yang stabil sepanjang waktu.
Sampah adalah Persoalan Mindset Berpikir
Musim kemarau panjang seperti sekarang ini menjadi siksaan tersendiri bagi kita semua. Pasalnya, kita harus menerima "takdir" mencium bau tak sedap. Sungai dekat rumah kita masing-masing akan mengirim aroma tidak enak.
Sungai menjadi selokan raksasa. Air buangan rumah tangga dan limbah pabrik gula menggenang, seperti enggan mengalir. Belum lagi tanaman kangkung dan bermacam-macam sampah, didominasi oleh sampah plastik, membuat mata nanar saat memandangnya.
Sungguh, ini pemandangan yang kontras dibandingkan zaman saya kecil. Sungai, atau kami sering menyebut kali, menjadi sumber kebahagiaan. Sejuta kenangan masa kecil tersimpan di sepanjang bantaran sungai.
Sebut saja kenangan mandi di kali, mancing, bermain getek, mencari belut. Semua jenis permainan air nyaris tak ada yang terlewatkan.
Kini, kaliku telah berubah, gara-gara dipenui sampah. Ah, benarkah sampah menjadi satu-satunya pihak tertuduh? Ataukah sampah adalah keniscayaan yang menyertai kemajuan kebudayaan kita?
Kita mengantisipasi keniscayaan itu dengan memasang tulisan: Jangan buang sampah sembarangan! Sungai bukan tempat sampah. Lantas, gerangan apakah makhluk bernama sampah sehingga ia tidak boleh dibuang sembarangan?
Apakah tidak sebaiknya kita meninjau ulang etimologi, epistemologi, terminologi serta sejumlah mata pandang filsafat lainnya untuk melihat kembali sampah?
Padahal, persoalan sampah bukan sekadar plastik yang menumpuk, bangkai yang membusuk, limbah pabrik yang meracuni. Ada sampah atau tidak sesungguhnya ditentukan oleh mindset kita.
Apabila sejak awal pikiran menyatakan barang yang tidak terpakai harus dibuang, saat itu juga terciptalah kebudayaan yang ditimbuni sampah.
Mari kita teliti bersama. Adakah satu saja makhluk Tuhan yang tidak berguna, yang tidak memiliki manfaat, yang tidak berfaedah?
Semua ciptaan Tuhan, serta apapun yang dihasilkan oleh kebudayaan manusia, mulai keringat, air kencing, kotoran buang air besar hingga partikel paling kecil di alam semesta, memiliki fungsi, peran dan guna.
Dahulu, buah Mengkudu (Morinda citrifolia) dibiarkan jatuh ke tanah bahkan sampai membusuk. Belum ada yang tahu manfaatnya. Sekarang, buah Pace, nama lain dari Mengkudu dicari orang. Sejumlah manfaat buah Mengkudu menjadi solusi bagi pengobatan alternatif.
Sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan manusia belum sanggup menemukan, mengolah, memanfaatkan setiap benda di sekitarnya. Benda-benda itu lantas dibuang. Jadilah ia sampah.
Konsep daur ulang sebagai salah satu solusi mengatasi sampah belum menjadi kesadaran komunal. Daur ulang sampah masih diterapkan pada lingkungan yang terbatas, seperti komunitas peduli lingkungan, tapi belum menjadi gerakan apalagi kesadaran sosial.
Itu pun kesadaran daur ulang masih memperlakukan sampah sebagai sampah. Artinya, eksistensi sampah tetap diakui sehingga ia perlu didaur ulang. Ajakan "Buanglah Sampah pada Tempatnya!" juga perlu ditinjau ulang karena ia masih "sampah-oriented".
Kata "buang" dan "sampah" adalah dua pasangan yang tak terpisahkan. Begitu ada kata "buang", yang tergambar adalah sampah. Begitu menjumpai "sampah" tidak ada solusi lain kecuali (harus) membuangnya.
Orang yang terbuang dan disisihkan namanya sampah masyarakat. Pantas saja Tempat Pembuangan Akhir (TPA) lama-lama menjadi gunung sampah.
Bagaimana seandainya kita membebaskan mindset kita dari konsep sampah? Mindset yang bebas sampah akan meletakkan barang tidak terpakai pada tempatnya. Dia tidak akan membuangnya karena barang-barang itu bisa didaur ulang.
Alhasil, persoalan sampah adalah persoalan mindset berpikir. Dimulai dari skala individual lalu terakumulasi menjadi perilaku komunal.
Tantangannya adalah bagaimana menggeser cara berpikir individual hingga sosial sehingga sampah bukan lagi sampah.
Tidak mudah memang. Tapi kita semua harus mencobanya dari sekarang..!
Pendidikan Karakter Cinta Lingkungan, Merupakan Salah Satu Upaya Kita Untuk Menyelamatkan BUMI.
Masalah lingkungan merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh seluruh dunia termasuk Indonesia. Fokus masalah ini muncul karena semakin hari bumi yang kita anggap sebagai “RUMAH KITA” ini semakin tidak nyaman untuk ditinggali.
Saat ini, rumah kita (bumi) mulai tampak sebagai tempat pembuangan sampah yang besar. Masalah ini disebabkan karena hadirnya budaya ‘membuang’ barang yang cepat disingkirkan yang hampir terjadi setiap waktu. Berbagai macam bentuk eksploitasi terhadap alam dilakukan dengan tidak bertanggung jawab, seperti pembakaran hutan dalam skala yang sangat besar, penebangan pohon secara sembarangan, sampah yang menumpuk dan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan-bahan kimia yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dan habitat ikan itu sendiri. Akibat ulah orang-orang tertentu yang tidak bertanggung jawab tersebut mengakibatkan sumber daya alam menjadi cepat habis, habitat SDA menjadi rusak, dan ekosistem menjadi tidak stabil.
Tindakan tersebut tanpa disadari, manusia sedang menghancurkan peradabannya sendiri. Banyak orang melakukan eksploitasi terhadap alam hanya demi mengeruk keuntungan ekonomi tanpa mempertimbangkan dampak apa yang akan terjadi ke depannya.
Selain masalah ekonomi, masalah lain yang juga besar adalah bertumpuknya sampah plastik yang sulit diuraikan. Membuang sampah sembarangan seolah-olah sudah menjadi budaya yang sulit dikikis habis atau dihilangkan sehingga hampir di beberapa kota besar, sampah sudah menggunung karena banyaknya.
Situasi lingkungan yang semrawut tersebut memicu beberapa kalangan untuk ikut ambil bagian dalam menyelamatkan lingkungan melalui kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Beberapa penggiat lingkungan mulai sadar bahwa sudah saatnya setiap kita harus mengambil peran masing-masing demi menyelamatkan bumi ini dari kehancuran.
Adap**a yang membentuk gerakan peduli sampah/Bank Sampah. Para peduli sampah tersebut mengumpulkan sampah yang nantinya akan diolah secara kreatif yang menghasilkan karya-karya yang menarik, seperti sampah plastik diolah menjadi tas, sandal, taplak meja, dan berbagai macam bentuk rajutan lainnya. Kreativitas ini tentunya sangat bermanfaat bagi masyarakat jika mereka diajarkan keterampilan mendaur ulang sampah plastik menjadi sebuah karya seni.
Selain itu, demi menyelamatkan lingkungan alam, dunia pendidikan menjawab permasalahan tersebut dengan mengajarkan kepada anak-anak tentang pentingnya mencintai dan merawat lingkungan hidup. Tentu tidak hanya sekedar mentransfer ilmu atau teori saja tetapi melakukan aksi nyata, seperti membuang sampah pada tempatnya, tidak menyisahkan makanan, mengelompokkan sampah organik dan anorganik, dan melakukan aksi kampanye lingkungan hidup kepada masyarakat. Tujuannya agar masyarakat sekitar melek terhadap persoalan lingkungan hidup dan melakukan aksi sederhana di lingkungan rumah ataupun sekitarnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan formal di sekolah merupakan salah satu tempat yang baik untuk menerapkan betapa pentingnya menjaga dan merawat lingkungan.
Bahwa salah satu cara untuk menyelamatkan lingkungan adalah dengan menerapkan pendidikan karakter yang bertujuan untuk membantu agar siswa-siswa mengalami, memperoleh, dan memiliki karakter kuat yang diinginkannya. Artinya bahwa sejak dini anak-anak kita perlu dibekali dengan karakter yang kuat agar sikap-sikap positif yang ada dalam diri mereka dapat menjadi bagian hidupnya yang dapat memengaruhi seluruh cara berpikir dan bertindak dalam hidupnya.
Proses belajar di sekolah sangat memungkinkan untuk membentuk dan menanamkan sikap/karakter cinta lingkungan hidup kepada anak-anak di sekolah, dengan cara membuat sebuah buku mewarnai tentang memelihara istana bakau misalnya agar anak-anak menyadari betapa pentingnya menjaga dan melestarikan bakau sebagai salah satu kekayaan hayati. Secara alami, anak adalah penjelajah alami. Mereka mengobservasi dan meneliti lingkungan di sekitar mereka secara alami dan belajar darinya (learning by doing).Oleh karena itu, dengan aktivitas mewarnai gambar tersebut, kita berharap agar anak-anak kita dapat menjadi peduli terhadap lingkungan. Karenanya, Sejak dini anak-anak disadarkan bahwa setiap pribadi kita dipanggil untuk melestarikan alam ciptaan.
Paradigma positif mengubah cara berpikir kita bahwa sampah tidak lagi menjadi hal yang menjijikkan dan menakutkan. Sampah justru menjadi sarana yang baik untuk melatih kreativitas. Dari sampah, mereka menciptakan sesuatu yang belum ada. Dari sampah anak-anak dilatih menjadi pribadi yang sabar, tangguh, dan kerja keras. Karena ketika mengolah sampah, seperti merajut, memotong, dan melipat, kesabaran, ketangguhan, dan kerja keras dibutuhkan untuk menghasilkan suatu karya yang menarik. Dari keterampilan sampah juga anak-anak dilatih untuk menghargai waktu dimana ketika ada waktu luang anak-anak cenderung memanfaatkan waktu tersebut untuk menggunting, merajut, dan melipat. Bagi kita sampah haruslah menjadi teman dekat setiap hari yang perlu dihargai dengan menempatkannya sesuai dengan kriterianya. Dengan begitu, setiap kita dapat menyadari bahwa pentingnya menjaga lingkungan mulai dari lingkungan sekitar kita. Mengolah sampah secara kreatif merupakan salah satu cara menjaga lingkungan dan jiuga dapat menghasilkan karya seni yang bernilai ekonomis.
Pertanyaannya sekarang,
Bagaimana kita harus peduli terhadap lingkungan alam? Cukupkah hanya dengan menghargai alam saja? Bagaimana p**a kita harus melawan pengrusakan lingkungan yang marak terjadi saat ini? pertanyaan ini tentunya menjadi pertanyaan refleksi bagi kita sebagai manusia ciptaan Tuhan.
Salah satunya solusi yang ditawarkan untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah setiap kita dituntut untuk melek ekologi. Sebagai makhluk ekologis kita manusia tentu tidak bisa hidup sendiri tanpa alam ciptaan. Nilai pendidikan karakter tentang peduli dan menghargai alam tidak hanya sekedar menjadi nilai teoritis tetapi harus dihidupi oleh setiap orang yang peduli terhadap kelestarian lingkungan hidup. Proses peduli dan menghargai alam harus diwujudnyatakan dalam sebuh tindakan yang bisa membawa perubahan baik bagi individu maupun untuk semua orang. Setiap kita dituntut untuk membuka hati terhadap persoalan lingkungan hidup, peduli dan bersedia menjadi tameng bagi kelestarian lingkungan sehingga “rumah kita” ini kembali menjadi tempat yang nyaman untuk berlindung. Untuk menyelamatkan alam ini tidak ada yang lain kecuali membangkitkan melek ekologi pada manusia zaman sekarang atau lebih khususnya kepada diri kita masing-masing. Karena hanya dengan demikian, kita sebagai manusia akan memperbaiki pola relasi dengan alam ciptaan.
21/09/2019
TENTANG MITIGASI PERUBAHAN IKLIM...?
Apakah mitigasi perubahan iklim itu ?
a. pengelolaan sampah dan limbah padat, berupa: pewadahan dan pengump**an, pengolahan, pemanfaatan, penerapan konsep zero-waste.
b. Pengolahan dan pemanfaatan limbah cair, meliputi :
● Domestik : tangki septik dilengkapi dengan instalasi penangkap metana, dan
memanfaatkan gas metana sebagai sumber energi baru
● Industri rumah tangga : IPAL anaerob yang dilengkapi penangkap gas metana
c. Penggunaan energi baru, terbarukan dan konservasi energi, berupa:
● Teknologi rendah emisi gas rumah kaca (tungku hemat energi, kompor sekam
padi, kompor berbahan bakar biji-bijian non-pangan, lampu biogas, dan briket
sampah
● Energi baru terbarukan (panas bumi, bahan bakar nabati (biofuel), aliran air
sungai, panas surya, angin, biomassa, biogas
● Efisiensi energy: hemat listrik, menggunakan lampu hemat energi (non-pijar),dan memaksimalkan pencahayaan alami
13/09/2019
Membuat Komposter Sendiri, sebagai Tong Sampah yang dapat Memproduksi Pupuk Organik
Apa itu Komposter?
Komposter merupakan suatu alat yang digunakan untuk membuat pupuk kompos padat dan cair. Komposter dapat berupa tong sampah plastik atau kotak semen yang biasanya diletakkan di dalam atau di luar ruangan. Secara sederhana, komposter dapat dibuat sendiri menggunakan tong plastik bekas yang dimodifikasi.
Ukuran komposter dapat disesuaikan dengan skala limbah. Untuk skala limbah keluarga kecil dapat menggunakan komposter berukuran 20—200 liter. Sementara itu, untuk skala besar seperti limbah rumah makan atau rumah sakit dapat menggunakan komposter berukuran 200 liter.
Komposter memiliki instalasi untuk sirkulasi udara di dalamnya sehingga dapat membantu proses pengomposan aerob dan mempercepat proses penguraian sampah. Selain itu, komposter juga mampu menjaga kelembapan dan suhu sehingga bakteri dan jasad renik dapat bekerja mengurai bahan organik secara optimal. Komposter juga memungkinkan aliran lindi terpisah dari material padat sehingga memudahkan untuk mendapatkan pupuk cair.
Bersama dengan aktivator kompos seperti organik dekomposer, EM, dan Green Phoskko, sampah sisa rumah tangga dapat diubah menjadi kompos hanya dalam waktu 10—12 hari. Khusus untuk pembuatan pupuk cair dari limbah organik rumah tangga ini perlu digunakan bio- aktivator, seperti Propuri. Fungsi Propuri memang sama dengan aktivator lainnya, tetapi sedikit lebih praktis dalam penggunaannya.
Berikut langkah-langkah membuat komposter skala rumah tangga dengan ukuran 20 liter.
Alat dan Bahan Membuat Komposter
a. Alat
- Gergaji - Bor
- Meteran - Cutter
- Pensil - Gunting
- Lem paralon
alat membuat komposter pupuk organik
b. Bahan
— 1 buah tong plastik ukuran 20 liter
— 2 buah p**a paralon dengan panjang 14 cm dan diameter 1 inch
— 2 buah p**a paralon dengan panjang 10 cm dan diameter 1 inch
— 1 buah p**a paralon dengan panjang 9 cm dan diameter 1 inch
— 2 buah p**a paralon dengan panjang 1 cm dan diameter 1 inch
— 2 buah sambungan p**a berbentuk T
— 1 buah keran plastik
— Kasa plastik secukupnya
bahan membuat komposter pupuk organik
Cara Membuat Komposter Pupuk Organik
a. Persiapan Pembuatan
Buat dua lubang di sisi kanan dan kiri tong menggunakan bor. Untuk tong berukuran 20 liter, lubang berada di ketinggian 28 cm dari alas tong. Diameter lubang harus sama dengan diameter p**a paralon. Kedua lubang ini berfungsi sebagai lubang udara.
Buat satu lubang lagi di antara kedua lubang tong yang telah dibuat, posisi lubang ketiga ini harus lebih rendah dari lubang sebelumnya atau sekitar 10 cm dari alas tong.
Untuk p**a, potong-potong p**a berdiameter 1 inch sesuai ukuran yang diinginkan. Buat lubang-lubang kecil di badan p**a paralon 14 cm dan p**a paralon 10 cm. Bungkus badan p**a yang berlubang tersebut dengan kasa plastik, hingga tertutup rapi.
b. Instalasi Komposter
Pasang keran plastik ke dalam lubang yang paling bawah (terletak di ketinggian 10 cm dari alas tong). Selalu gunakan seal yang telah tersedia agar tidak terjadi kebocoran. Kencangkan ulir keran plastik.
Untuk p**a, sambungkan p**a 9 cm dan kedua p**a 10 cm ke dalam sambungan T. Instalasi ini tidak perlu diberi perekat atau lem untuk memudahkan pelepasan apabila sewaktu-waktu terjadi kebocoran.
Tempatkan instalasi tersebut ke dalam komposter dengan salah satu p**a 10 cm mengarah ke lubang yang telah dipasangi keran plastik. Jadi, p**a 9 cm mengarah ke bawah dan p**a 10 cm lainnya mengarah ke atas.
Rangkai instalasi udara dengan menempatkan kedua p**a 14 cm ke dalam lubang bagian atas (terletak di ketinggian 28 cm dari alas tong).
Pasangkan sambungan T untuk setiap ujung p**a yang bertemu (antara kedua p**a 14 cm dan p**a 10 cm).
Tutup kedua ujung p**a yang mencuat keluar sekitar 3 cm menggunakan kasa plastik. Potong kasa plastik membentuk lingkaran dengan diameter sekitar 1 cm lebih panjang dari diameter p**a.
Terakhir, tempelkan kasa lalu beri lem perekat di sekitar ujung p**a. Atur hingga tertutup rapi dengan penutup p**a. Gunting bagian kasa yang paling luar.
Komposter skala rumah tangga ini dirancang dengan bentuk yang praktis untuk diletakkan di dalam ruangan. Namun, bau tidak sedap dari gas metan yang dihasilkan selama proses pembusukan bisa mengganggu kenyamanan lingkungan di dalam ruangan atau rumah.Karena itu, satu lubang udara komposter sebaiknya disambungkan lagi dengan p**a paralon yang dipasang menuju arah luar ruangan sehingga bau tidak sedap tadi bisa langsung "terlepas" ke udara bebas.
11/09/2019
MENJADI NASABAH BANK SAMPAH ADALAH SALAH SATU CARA UNTUK MENGATASI SAMPAH RUMAH TANGGA KITA.
Sebahagiaan besar masyarakat, menyerahkan semua masalah sampahnya kepada petugas pengangkut sampah yang dibayar setiap bulannya, bahkan juga kepada pemerintah, semua sampah yang ada di rumah biasanya akan dikumpulkan dalam satu wadah yang nantinya akan diserahkan kepada petugas pengambil sampah tersebut, atau ada yang lebih parah lagi adalah dengan membuang sampah di sembarang tempat seperti sungai atau parit.
Sepintas bila kita telah menyerahkan sampah kepada petugas pengumpul sampah maka selesailah masalah sampah, padahal sebetulnya sampah tersebut akan dikumpulkan di suatu temnpat pembuangan akhir (TPA), di sana sebagian sampah tersebut akan diolah menjadi kompos atau sebagian lagi akan dipungut oleh para pemulung, dan sisanya akan bertumpuk.
Kemampuan TPA dalam hal mengolah sampah tidak berimbang dengan jumlah kiriman sampah yang datang setiap harinya dengan jumlah yang semakin hari semakin bertambah.
Peristiwa longsornya sampah tersebut adalah sal;ah satu bukti bahwa sampah yang datang tidak diimbangi dengan pengolahan sampah, maka dari itu Saya mencoba mengingatkan dan berbagi dengan anda untuk mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan dari rumah agar bumi yang kita diami tidak dikotori oleh sampah yang kian hari kian bertambah jumlahnya, semoga dengan cara mengatasi sampah oleh kita sendiri maka akan mengurangi sejumlah masalah sampah yang sering terjadi di negeri kita.
Marilah kita bersama-sama mengatasi sampah rumah tangga kita masing-masing dengan
menyediakan tiga buah tempat sampah yang memiliki fungsi yang berbeda-beda yaitu;
Tempat sampah berwarna hijau untuk menyimpan sampah organik seperti: sisa sayuran, kulit buah, atau sampah bekas memasak di dapur.
Tempat sampah berwarna kuning digunakan untuk meyimpan sampah anorganik seperti: plastik, styrofoam, dan lain-lain.
Tempat sampah berwarna merah untuk sampah berbahaya seperti batu batre bekas.
Buanglah sampah ke tempat sampah sesuai dengan jenis sampahnya.
Untuk sampah organik dapat dimanfaatkan untuk membuat kompos sebagai pupuk alami untuk tanaman dan untuk sampah yang berada di dalam tempat sampah berwarna kuning kita dapat memilahnya untuk dibuat kerajinan tangan atau ditabung kepada BANK SAMPAH.
Untuk sampah yang ada di dalam tong sampah berwarna merah kita dapat memilih beberapa bahan untuk dijadikan bahan daur ulang.
Dengan sedikit kreatif maka sampah anorganik dapat dijadikan barang yang bernilai, untuk sampah berupa kaleng yang sudah berkarat kuburlah ke dalam tanah, atau bila tidak memiliki tanah untuk menguburnya berikanlah kepada pemulung atau tukang rongsokan dan Bank Sampah untuk dilebur dan diolah menjadi barang lain.
Semoga dengan mengatasi masalah sampah di rumah sendiri dapat mengurangi masalah sampah, ingat! sampah identik dengan kotor, bau dan penyakit, maka dari itu marilah kita atasi masalah sampah dimulai dari rumah kita masing-masing, dengan CARA Menjadi Nasabah Bank Sampah Budi Utomo Kota Binjai.
"Kalau bisa jadi UANG kenapa DIBUANG"
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Website
Address
Medan