29/04/2016
Dan Para Ulama Pun Telah Pergi, oleh ustadz M. Fauzil Adhim
Satu per satu ulama yang sungguh-sungguh memahami agama ini telah pergi. Inilah jalan dicabutnya ilmu dari manusia. Buku masih banyak, tetapi tanpa hadirnya ulama, maka ilmu akan lenyap. Hanya tersisa tulisan-tulisan berserak. Tak ada 'alim yang mampu menjelaskan dengan baik, matang dan memiliki integritas keilmuan yang sangat tinggi. Tak ada yang patut memberikan syarah.
Beberapa tahun terakhir ini, ada satu hadis yang paling sering saya ulang-ulang membacanya serta menyampaikan kepada manusia. Hadis mauquf yang dihukumi marfu' dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu tentang fitnah, yakni masa ketika apa yang dibenci agama dianggap sebagai sunnah. Dan tidak datang masa itu kecuali dengan wafatnya para ulama yang sungguh-sungguh ulama.
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu secara mauquf, bahwa Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam bersabda:
كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا لَبِسَتْكُمْ فِتْنَةٌ؟ يَهْرَمُ فِيهَا الْكَبِيرُ, وَيَرْبُو فِيهَا الصَّغِيرُ, وَيَتَّخِذُهَا النَّاسُ سُنَّةً, فَإِذَا غُيِّرَتْ قَالُوا: غُيِّرَتِ السُّنَّةُ؟
قَالُوا: وَمَتَى ذَلِكَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ؟
قَالَ: إِذَا كَثُرَتْ قُرَّاؤُكُمْ, وَقَلَّتْ فُقَهَاؤُكُمْ, وَكَثُرَتْ أُمَرَاؤُكُمْ, وَقَلَّتْ أُمَنَاؤُكُمْ, وَالْتُمِسَتِ الدُّنْيَا بِعَمَلِ الْآخِرَةِ
"Bagaimana dengan kalian jika kalian tertimpa fitnah yang di tengah-tengah fitnah tersebut orang dewasa menjadi tua, anak kecil menjadi tumbuh besar, dan manusia menjadikannya (menganggapnya) sebagai sunnah. Jika ada sedikit saja dari fitnah itu yang ditinggalkan orang, maka akan dikatakan, "Sunnah telah ditinggalkan?"
Mereka bertanya, "Kapan hal itu terjadi, Wahai Aba 'Abdurrahman?"
Ibnu Mas'ud (Aba 'Abdurrahman) menjawab, "Apabila para pembaca Al-Qur’an (penghafal Al-Qur'an) dari kalian banyak, tetapi fuqaha kalian sedikit; jika umara' kalian banyak, tetapi orang-orang yang amanah di antara kalian sedikit; kehidupan dunia dicari dengan amalan akhirat." (HR. Ad-Darimi).
Dalam riwayat lain yang bermiripan, kita dapati:
كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا لَبِسَتْكُمْ فِتْنَةٌ يَهْرَمُ فِيهَا الْكَبِيرُ وَيَرْبُو فِيهَا الصَّغِيرُ إِذَا تُرِكَ مِنْهَا شَيْءٌ قِيلَ تُرِكَتْ السُّنَّةُ؟
قَالُوا وَمَتَى ذَاكَ؟
قَالَ إِذَا ذَهَبَتْ عُلَمَاؤُكُمْ وَكَثُرَتْ جُهَلَاؤُكُمْ وَكَثُرَتْ قُرَّاؤُكُمْ وَقَلَّتْ فُقَهَاؤُكُمْ وَكَثُرَتْ أُمَرَاؤُكُمْ وَقَلَّتْ أُمَنَاؤُكُمْ وَالْتُمِسَتْ الدُّنْيَا بِعَمَلِ الْآخِرَةِ وَتُفُقِّهَ لِغَيْرِ الدِّينِ
"Bagaimana dengan kalian jika kalian tertimpa fitnah yang di tengah-tengah fitnah tersebut orang dewasa menjadi tua, anak kecil menjadi tumbuh besar, dan manusia menjadikannya (menganggapnya) sebagai sunnah. Jika ada sedikit saja dari fitnah itu yang ditinggalkan orang, maka akan dikatakan, "Sunnah telah ditinggalkan?"
Mereka bertanya, "Kapan hal itu terjadi?"
(Ibnu Mas'ud) menjawab, "Apabila para ulama kalian telah pergi (wafat); pembaca Al-Qur’an (penghafal Al-Qur'an) dari kalian banyak, tetapi fuqaha kalian sedikit; umara' kalian banyak, tetapi orang-orang yang amanah di antara kalian sedikit; kehidupan dunia dicari dengan amalan akhirat dan (orang bersungguh-sungguh) mendalami agama bukan untuk (kepentingan) agama." (HR. Ad-Darimi dan Al-Hakim).
Tengoklah sejenak dan renungkan, apakah pintu pertama zaman fitnah itu? Wafatnya para ulama, lalu datang berikutnya orang-orang yang miskin ilmu, tetapi mengambil peran ulama. Ada yang menyadari kekurangannya sehingga mereka hanya menjadi penyampai. Tetapi lebih banyak lagi yang sangat berani dalam berfatwa, ringan lisan dalam menetapkan kedudukan berbagai urusan. Inilah masa ketika nasihat agama disesuaikan dengan selera manusia. Bukan mendidik manusia agar menyesuaikan seleranya dengan agama. Inilah masa ketika ceramah agama mudah sekali kita mendapatkannya, tetapi sulit meraih ilmu. Sementara dakwah semakin tak terdengar gaungnya. Apakah inti dakwah itu? Memberi peringatan sekaligus kabar gembira seraya menyemangati manusia agar kembali kepada agama yang lurus; dienul Islam yang haq.