NARAN Education

NARAN Education This page provides the things related to the EDUCATION.

18/11/2020
14/11/2020

Ngopi (ngobrol pintar) di tengah-tengah megahnya suasana Vocabularies Checks of English Camp Part 1 di PONPES NURUL JANNAH NW AMPENAN bersam Icha.



Technical Meeting bersama santri dan santriwati Ponpes Nurul Jannah NW Ampenan yang akan dilaksanakan dari tanggal 13 No...
10/11/2020

Technical Meeting bersama santri dan santriwati Ponpes Nurul Jannah NW Ampenan yang akan dilaksanakan dari tanggal 13 Nopember sampai 13 Desember 2020.

"Kemah Bahasa Inggris, untuk The Santri Mendunia"

"Selamat Hari Pahlawan Nasional, 10 Nopember 2020"
10/11/2020

"Selamat Hari Pahlawan Nasional, 10 Nopember 2020"

12/07/2018

Tolong di baca ya.
AYO MONDOK..

*SUATU PAGI DI KAMPUS ITB...*

Q: “Pak, anaknya masuk ITB?”
A: “Iya pak, alhamdulillah... Anak bapak juga?”

Q: “Iya pak, anak sy sekolah di SMA FAVORIT di # # # # # #, masuk ITB tanpa test, saya sangat bangga dgn sekolah anak saya itu. Btw Anak Bapak dari SMA Favorit mana?”

A: “Anak sy dari Pesantren, dia 6 tahun tinggal di Pesantren dan alhamdulillah skr diterima di ITB tanpa test juga”

Q: “Lha emang ada orang pesantren bisa masuk PTN??? Bukannya orang pesantren hanya bisa kuliah agama kaya tafsir hadits gitu di UIN atau di Mesir???”

A: “Itulah bedanya anak pesantren dengan yg tdk pesantren, anak kami bisa masuk jurusan umum apa saja di PTN, sementara anak bapak hanya masuk jurusan umum dan ga bisa masuk jurusan tafsir hadits, kalopun bisa ditanggung anak bapak stress sebelum kuliah hehehe...”

Q: “Saya fikir pesantren hanya utk menjadikan anak jadi guru agama saja”

A: “Anak lulusan pesantren, bisa jadi apa saja, jadi guru, pengusaha, ilmuwan, dan profesional lainnya. Jadi seyogyanya tdk akan ada anak pesantren yg akan nganggur. Karna paling tidak dia bisa jadi imam di mushollanya dan guru ngaji dikampungnya. Kelak ia akan jd imam buat keluarganya dan bisa jadi wasilah pahala surga buat kedua orangtuanya karna keshalehan dan amal2nya. Anak bapak bisa ngaji?”

Q: “Anak saya blm bisa ngaji dan shalat. Waktunya habis buat les disekolahnya... (sedih”.

A: “Anak bapak mengusai berapa bahasa asing?”

Q: “Hanya bisa bahasa Indonesia. Kalo anak bapak?”

A: “Alhamdulillah anak sy fasih 2 bahasa asing mainatream, yaitu inggris dan arab”.

Q: “Oh... ternyata pesantren itu ga kuno ya pak, bahkan lbh baik dr sekolah favorit anak saya”.

A: “Alhamdulillah bapak sudah faham...”

Q: “Oya, bapak dari mana & kerja dimana?”
A: “Sy dari Bogor, alhamdulillah pernah bekerja diperusahaan migas multinasional lbh dari 12 tahun”.

Q: “Wah mantep sekali, dulu sekolah di SMA mana?”

A: “Saya alumni Pesantren...”

Q: “Oh... di Perusahaan Migas bagian Kerohanian Islam ya pak?, soalnya bapak kan dr pesantren”

A: “Alhamdulillah posisi akhir sy sebelum mundur jadi orang gajian adalah sbg Deputy Area Manager Perusahaan Migas Asing yg pegawainya asing juga”

Q: “Oh lulusan pesantren bisa kerja di migas juga yah?”

A: “Nah itulah lagi2 keunikan alumni pesantren...”

Q: “Owhhh..... (Diem tertunduk)”

MENANGISLAH SEKARANG..
=================
Pesan KH. HASAN ABDULLAH SAHAL, pimpinan pondok gontor untuk para orangtua yang melepas putra-putrinya untuk menuntut ilmu.
=================
"Kalau mau punya anak bermental kuat, orangtua-nya harus lebih kuat, punya anak itu jangan hanya sekedar sholeh tapi juga bermanfaat untuk umat, orangtua harus berjuang lebih ikhlas.. ikhlas.. ikhlas".

Anak-anak mu di pondok pesantren gak akan mati karena kelaparan, gak akan bodoh karena gak ikut les ini dan itu, gak akan terbelakang karena gak pegang "gadget". Insya Allah Anakmu akan dijaga langsung oleh Allah karena sebagaimana janji Allah yang akan menjaga Alqur'an..yakin.. yakin..dan harus yakin.

Lebih baik kamu menangis karena berpisah SEMENTARA dengan anakmu untuk menuntut ilmu agama, dari pada kamu nanti "yen wes tuwo nangis karena anak-anak mu lalai urusan akhirat.. kakean mikir ndunyo, rebutan bondo, pamer rupo..lali surgo.." (kalau sudah tua menangis karean anak2 kamu lalai thdp urusan akhirat....kebanyakan memikirkan urusan dunia, berebut harta, pamer rupa wajah...lupa surga)

“Jadi wali santri itu harus punya 5 sifat dan sikap, yaitu T.I.T.I.P."

1.Tega
Harus tega… harus tega… harus tega… harus percaya kalau di pesantren anakmu itu dididik bukan dibuang. Harus tega, karena pesantren adalah medan pendidikan dan perjuangan…

2.Ikhlas
Harus ikhlas…harus sadar kalau anakmu itu tidak akan dibiarkan terlantar… harus ikhlas anakmu dididik, dilatih, ditempa, diurus, ditugaskan, disuruh hafalan, dan sebagainya… kalau merasa anakmu dibuat nda senyaman hidup dirumah… ambil anakmu serkarang juga..!

3.Tawakkal
Setelah itu serahkan sama Allah. Berdoalah! Karena pesantren bukan tukang sulap, yang bisa merubah begitu saja santri-santrinya… maka berdoalah…

4.Ikhtiar
Dana dan do'a. Ini adalah kewajiban. Amanat.

5.Percaya
Percayalah bahwa anak kalian ini dibina, betul-betul DIBINA. Apa yang mereka dapatkan disini adalah bentuk pembinaan. Jadi kalau melihat anak-anakmu diperlakukan bagaimanapun, percayalah itu adalah bentuk pembinaan. Itu adalah pendidikan.

Jadi, jangan SALAH PAHAM !
Jangan SALAH SIKAP !
Jangan SALAH PERSEPSI !

Mereka itu beribadah dengan menuntut ilmu
Mereka selalu diajarkan untuk mendoakan ibu-bapaknya.
Mereka pergi untuk kembali.
Bertemulah jarang-jarang agar CINTA makin berkembang.

11/07/2018

Terima kasih telah men-support kami dengan like yang anda berikan.

This page provides the things related to the EDUCATION.

Belajar Bhs. Inggris secara sederhana dengan AQur English Course Indonesia. &KKerja
11/07/2018

Belajar Bhs. Inggris secara sederhana dengan AQur English Course Indonesia.
&KKerja

03/05/2018

PARENTING ala Rasulullah SAW.

Saya Memukul Anak Saya, dan Dia Patuh

Seorang ayah bertanya pada saya di sebuah seminar pengasuhan. Bahwa anak pertamanya dia asuh dengan keras. Kadang bahkan dengan memukul agar anaknya patuh.Beliau belajar itu dari ayahnya dulu. “Jika tak dipukul, saya tidak akan jadi seperti ini, bisa jadi saya akan jadi seperti teman-teman saya yang gagal dalam hidupnya” kata bapak itu.
Fakta di dunia ini, ada orang-orang yang merasa bahwa dengan kekerasanlah mereka bisa berhasil sekarang. Ada p**a yang merasa karena pengasuhan yang hangatlah dirinya menjadi berhasil. Dan jika kita melihat apa yang dilakukan oleh Rasulullah dalam mengasuh anak , cucu dan keluarganya, tak satupun cerita yang mengisahkan bahwa beliau mengasuh dengan keras. Tegas iya. Keras tidak.
Lalu, siapakah kita yang berani mengatasnamakan pengasuhan yang keras agar anak-anak kita menjadi insan yang mulia ?
Rasulullah SAW. pernah menegur Ummu Fadhl ketika merenggut anaknya secara kasar karena pipis di dada Rasulullah. "Pakaian yang kotor ini dapat dibersihkan dengan air," kata Rasulullah Saw, "tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan jiwa anak ini akibat renggutanmu yang kasar?"
Cobalah bertanya pada hati kita yang paling dalam. Dalam nurani kita. Apa kata nurani kita tentang kekerasan dalam pengasuhan. Jika fitrah kita masih terjaga, pilihannya adalah kita tak akan mau menerima kekerasan kita.
Secara logika juga sangat tidak masuk akal, bagaimana seorang anak yang pengalaman hidupnya belumlah banyak, bisa mendapatkan kekerasan. Bukankah kita perlu banyak memberikan referensi agar anak tahu apa yang baik yang harus dilakukan. Dan itu bukan perkara satu dua kali memberi contoh atau memberi wejangan. Perlu puluhan kali mungkin juga ratusan kali hingga mereka benar-benar mengerti apa yang harus mereka lakukan.
Abdullah Nasih Ulwan dalam Tarbiyatul Aulad mengatakan bahwa kita boleh memberi hukuman fisik pada anak dengan syarat tanpa menyakiti fisik dan psikisnya, tanpa kita merasa emosi, tidak mencederai bagian-bagain yang vital dll. Bisakah kita berbuat dengan syarat seperti ini ? Hampir tidak mungkinkan. Seringnya kita mencubit, memukul dan membentak anak dengan emosi kita. Bukan dengan nalar kita. Jika seorang sahabat rasul saja membatalkan membunuh lawannya karena adanya terlibat emosi karena diludahi, lalu mengapa kita dengan emosi berbuat kekerasan pada anak kita ?
Kita ini manusia dengan trauma kekerasan masa lalu. Di rumah, di sekolah juga di lingkungan kita pernah mendapatkan kekerasan. Di memori kita juga lebih banyak bagaimana mendisiplinkan dengan kekerasan dibandingkan dengan ketegasan dan kelembutan serta kasih sayang. Tentu ini bukan sebuah pembenaran untuk kita melakukan kekerasan, tapi sebagai dasar bahwa kita perlu memaafkan trauma itu. Kita perlu membersihkan jiwa kita agar pengasuhan pada anak-anak kita benar-benar seperti yang rasul inginkan.

Bangil, 10 April 2018

Rizqi Tajuddin

20/03/2018

"DO NOT COMPLAIN!"

18/03/2018

"PERUBAHAN"

Address

GG. NUSA INDAH
Mataram
83114

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when NARAN Education posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to NARAN Education:

Shortcuts

Share

Category