25/07/2021
Berita duka lagi. Kini giliran saudara kita, guru kita, sahabat kita, Dr. HM Husni Muadz, dosen Bahasa Inggris saya ketika baru masuk di Faperta Unram tahun 1980 yang lalu. Waktu itu saya tak pernah berfikir kalau di kemudian hari beliau akan menjadi sahabat baik dan sekaligus juga mentor dan guru saya dalam keseharian. Baik di kampus maupun belakangan di organisasi NWDI. Karena setelah menamatkan kuliah S1 saya juga mengikuti jejak beliau menjadi dosen di Unram. Beliaulah yang menginspirasi saya untuk kemudian juga melanjutkan kuliah di Amerika. Beliau S2 di Ohio University di Athens, sedangkan saya di The Ohio State University, Columbus. Untuk S3 beliau ke Arizona State University, dan saya tetap di Ohio State University. Beliau pernah menjabat sebagai Dekan FKIP. Setelah itu mendirikan Pusat Penelitian Bahasa dan Kebudayaan (P2BK). Disitulah kemudian beliau membangun kelompok kajian tentang kehidupan selama belasan atau bahkan berpuluh tahun. Sangat intens dan istikomah. Dari situlah lahir gagasan beliau untuk mengimplementasikan hasil diskusi menjadi praktek pembelajaran berkehidupan yang baik. Melatih orang untuk jujur dan adil, ihlas dan sabar. Belakangan kegiatan itu beliau namakan Sekolah Perjumpaan. Dalam buku beliau yang diterbitkan tahun 2015, “Pedagogi Hati, Praktik Positivitas Dalam Ruang Perjumpaan,” dikatakan bahwa: “sekolah ini tidak memiliki ciri fisik seperti sekolah biasa, tapi cirinya adalah komunitas yang ada di dalamnya memiliki collective consciousness untuk terus menerus bersama-sama berlatih dalam seriap perjumpaan mereka mempraktekkan nilai-nilai yang akan melahirkan emergence keberterimaan hati.” Prinsip yang beliau ajarkan adalah: “Jangan mengeluarkan kata-kata kalau anda tahu itu salah, dan jangan ragu untuk berkata-kata kalau anda yakin itu adalah sebuah kebenaran.” Kurang lebih seperti itu. Kini kalimat bijak itu tidak akan pernah kita dengar lagi dari beliau. Tapi dari buku-buku beliau, cukup banyak ilmu yang bisa kita pelajari, kalau kita ingin setiap perjumpaan kita dengan siapapun akan memberi makna bagi kehidupan manusia. Selamat jalan Abah Husni, selamat jalan saudaraku… Hidupmu yang terasa demikian singkat namun sangat berarti bagi banyak orang. Semoga semua itu akan menjadi amal salehmu dalam menghadap Sang Penciptamu yang akan menempatkanmu di sisi terbaikNya. Insha Allah. Innalillahi wainna ilaihi rojiun.