08/06/2026
BUKAN FAKIR YANG TERCELA, MELAINKAN LISANMU YANG DURJANA
Saudaraku, yang acapkali menundukkan kepala di antara riuh tawa duniaโฆ yang kerap merasa diri bagai debu tak berharga hanya kerana baju lusuh dan perut yang sering kali laparโฆ yang pernah berlinang air mata di keheningan malam lantaran tubuh yang tak sempurna, kulit yang tak mulus, atau raut wajah yang jauh dari pesonaโฆ ketahuilah, gemuruh hatimu itu adalah bisikan dusta. Engkau tak pernah hina kerana segala yang ditakdirkan di luar kuasamu.
Duhai jiwa yang lelah dipandang sebelah mata, pernahkah terbetik dalam hatimu bahwa Sang Maha Pengasih, Allah Subhanahu wa Ta'ala, tidak pernah menakar kemuliaan dari kilau harta dan segar rupa? Telah bersabda Rasulullah Shallallahu โAlaihi wa Sallam dalam untaian nasihat yang menyejukkan, โInna Allฤha lฤ yanzhuru ilฤ shuwarikum wa amwฤlikum, wa lฤkin yanzhuru ilฤ qulลซbikum wa aโmฤlikum.โ Sungguh, Allah tidak memandang rupa dan harta kalian, tetapi Dia memandang hati dan amal kalian. (HR. Muslim, no. 2564). Tangisanmu kerana kemiskinan bukan tangisan yang menghinakan, kerana kemuliaan di sisi-Nya telah ditimbang dengan neraca yang agung: โInna akramakum โindallฤhi atqฤkumโ โ sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. (QS. Al-Hujurat: 13). Takwa itu bersemayam dalam hati yang bersih, lisan yang terjaga, dan akhlak yang indah, bukan dalam simpanan emas atau postur yang gagah.
Namun, di sinilah letak luka yang jarang kita sesali. Di sinilah letak aib yang sering kita pelihara dengan bangga. Para pencinta ilmu hakikat dan maโrifat mewariskan butir-butir hikmah yang menusuk kesadaran: โLaysa al-โaibu bi al-faqri wa lฤ bi naqsi al-khalqi, innama al-โaibu bi sลซโi al-lisฤni wa danฤโati al-akhlฤq.โ Cela dan kehinaan sejati bukanlah kerana kemiskinan, bukan p**a kerana cacat pada ciptaan. Cela yang sesungguhnya hanyalah kerana buruknya lisan dan rendahnya akhlak. (Dinukil dari mutiara nasihat para masyayikh dalam kitab-kitab adab suluk). Kalimat ini memecah kesombongan kita: berapa banyak orang yang miskin harta namun luhur budinya, dan berapa banyak yang bergelimang harta namun lisan dan perangainya menjadi racun bagi sesama. Kemiskinan dan kekurangan fisik adalah rahasia Allah, ketetapan yang tak bisa kita pilih. Tetapi lisan yang durjana dan akhlak yang melukai adalah pilihan sadar diri kita. Ia berada dalam kendali hati yang kita abaikan.
Dengarlah getar peringatan dari langit risalah. Rasulullah Shallallahu โAlaihi wa Sallam bersabda, โWa hal yakubbun nฤsa โalฤ manฤkhirihim fฤซ an-nฤri illฤ hashฤโidu alsinatihim?โ Tiadalah manusia diseret ke dalam neraka di atas wajah mereka melainkan kerana hasil buruk lidah mereka. (HR. Tirmidzi, no. 2616; Ibnu Majah, no. 3973). Pahitkah kalimat ini menyentuh dinding hati kita? Betapa sebuah lidah yang kecil, yang sering kita anggap remeh, menjadi penyebab utama kejatuhan kita. Lisan yang tak bertuan itu bagai pedang yang terus menebas kehormatan, menggunting persaudaraan, dan menyemai duri permusuhan. Maka kemudian Nabi yang penyayang Shallallahu โAlaihi wa Sallam menuntun dengan lembut, โMan kฤna yuโminu billฤhi wal yawmil ฤkhiri fal yaqul khairan aw liyasmut.โ Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam. (HR. Bukhari no. 6018, Muslim no. 47). Diam yang melahirkan keselamatan adalah ibadah yang sering kali lebih berat daripada ribuan kata. Dan mukmin sejati bukan diukur dari panjangnya shalat malam, tetapi dari selamatnya orang lain dari gangguan lidah dan tangannya: โAl-muโminu man salimal muslimลซna min lisฤnihi wa yadih.โ (HR. Bukhari no. 10).
Renungilah jejak para salaf yang menyelami hakikat kehidupan. Amirul Mukminin Umar bin Khattab Radhiyallahu โAnhu mengguncang kesadaran kita dengan ucapannya, โLฤ yaghurrannaka shalฤtu imriโin wa lฤ shiyฤmuhu, wa lฤkin in shiโta fa unzhur ilฤ waraโihi idzฤ ashfฤ, wa amฤnatihi idzฤ uโtumina, wa shidqihi idzฤ haddatsa.โ Janganlah engkau tertipu oleh shalat dan puasa seseorang; jika engkau ingin tahu hakikatnya, lihatlah sifat waraโnya ketika ia dalam godaan, amanahnya ketika ia dipercaya, dan kejujurannya ketika ia berbicara. (Al-Baihaqi, Syuโab al-Iman, 4/365). Di sini, saudaraku, kita dipertemukan dengan luka paling purba: betapa sering kita menyangka diri dekat dengan Allah kerana banyak sujud, namun lisan kita tetap menyakiti, akhlak kita masih menusuk, dan hati kita dipenuhi iri yang membusuk. Apalah arti rukuk yang panjang jika yang keluar dari mulut adalah kata-kata yang menghancurkan, jika tatapan mata penuh curiga, jika langkah penuh dendam? Itulah aib yang sesungguhnya, aib yang Allah dan Rasul-Nya abadikan sebagai bencana jiwa.
Imam Al-Ghazali, sang hujjatul Islam, melukiskan betapa besar kuasa lidah atas seluruh anggota tubuh: โAl-lisฤnu maโa shighrihi, in ashlahtahu ashlahta al-aโdhฤโa kullahฤ, wa in afsadtahu afsadta al-aโdhฤโa kullahฤ.โ Lidah, meskipun kecil, jika engkau perbaiki maka seluruh anggota badan akan menjadi baik, dan jika engkau rusak maka rusaklah seluruh anggota badan. (Ihyaโ โUlumiddin, Kitab Afat al-Lisan). Betapa banyak raga yang segar dan penampilan menawan, tetapi roboh seluruh martabatnya kerana lidah yang tak mampu merangkai kasih, kerana akhlak yang buta terhadap adab. Sebaliknya, betapa banyak tubuh yang ringkih dan harta yang tiada, tetapi namanya harum, doa-doanya merambah langit, dan kehadirannya menjadi teduh kerana lisan yang bertutur hikmah serta akhlak yang memancarkan kelembutan.
Kekasih Allah, Ibn โAthaโillah as-Sakandari, mengingatkan kita yang mungkin masih mengagungkan karamah dan limpahan dunia, โLฤ takun mimman yatlubu al-karฤmฤt wa huwa yadโลซ bi lisฤnihi ilฤ al-munkarฤt.โ Jangan engkau menjadi orang yang mencari-cari karamah, sementara lisanmu sendiri menyeru kepada kemungkaran. (Al-Hikam). Inilah cermin getir bagi hati yang merindukan maโrifat: tak mungkin seorang hamba mengharap tersingkapnya rahasia hakikat bila lidahnya masih menjadi senjata yang melukai, bila akhlaknya masih menjadi tembok yang mengusir rahmat. Maโrifat bukanlah tentang terbukanya hijab semesta, tetapi tentang terkendalinya lisan dan tersucinya budi pekerti. Sebab sejatinya lidah adalah jendela hati: jika yang keluar duri, maka hati itu penuh semak belukar. โAlฤ wa inna fฤซ al-jasadi mudhghah, idzฤ shaluhat shaluha al-jasadu kulluh, wa idzฤ fasadat fasada al-jasadu kulluh, alฤ wa hiya al-qalb.โ Ketahuilah, di dalam tubuh ada segumpal daging; jika ia baik, baiklah seluruh tubuh; jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati. (HR. Bukhari no. 52, Muslim no. 1599).
Saudaraku yang terluka kerana hinaan duniaโฆ Tangisanmu yang pecah di malam-malam panjang kerana kemelaratan, kerana tubuh yang kau rasa tak sempurna, biarlah menjadi air yang mencuci harapan pada selain-Nya. Jadikan ia pijar untuk menata hati dan menjinakkan lisan. Karena di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala, kemiskinanmu bukan aib, cacat ragamu bukan cela. Tetapi setiap kata tajam yang kau lemparkan, setiap dusta yang kau anyam, setiap akhlak buruk yang kau biarkan bersemayam, itulah aib yang akan menelanjangimu di hadapan-Nya kelak. Berharaplah pada rahmat-Nya, perbaikilah apa yang masih bisa kau jaga: lidahmu dan akhlakmu. Sebab hanya di situlah takdir perbaikan benar-benar berada dalam genggamanmu.
Hari ini, marilah kita menangisi aib yang sesungguhnya. Jangan biarkan air mata kita habis untuk meratapi yang bukan cela, lalu kita tertawa lebar saat lisan menjadi belati dan akhlak menjadi bencana. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menggolongkan kita dalam barisan hamba-hamba yang menjaga lisan, membaguskan akhlak, dan dianugerahi setitik maโrifat yang menuntun setiap langkah menuju redha-Nya.