MA Nurul Jannah NW Ampenan

16/07/2026
15/07/2026

Kita mungkin tidak bisa mengubah kenyataan tapi kita harus siap berubah sesuai dengan keadaan. Untuk menjadi lebih baik lagi..
Rapat pembagian tugas awal tahun ajar di MAS NURUL JANNAH NW Ampenan

Bimbingan Tekhnis Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi pada madrasah piloting Mts dan MAS Ponpes Nurul Jannah NW Ampe...
07/07/2026

Bimbingan Tekhnis Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi pada madrasah piloting Mts dan MAS Ponpes Nurul Jannah NW Ampenan

Turut berduka cita..**Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun**Telah berp**ang ke Rahmatullah, istri tercinta dari TGH Lalu Ged...
30/06/2026

Turut berduka cita..

**Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun**
Telah berp**ang ke Rahmatullah, istri tercinta dari TGH Lalu Gede Sakti:
**Ummi Ridho (Ummi Sandra)**
Wafat pada hari ini, Selasa, 30 Juni 2026, pukul 07.27 WITA di RSUP NTB.

**Informasi Pemakaman:**
Almarhumah akan dimakamkan di Komplek Pemakaman Keluarga di Pondok Pesantren Syekh Zainuddin Anjani. Waktu pelaksanaan pemakaman akan diinformasikan kembali (menyusul).

**Rumah Duka:**
Jalan pemuda no : 6B, Gomong Mataram

Semoga almarhumah husnul khotimah, diampuni segala dosanya, diterima amal ibadahnya, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran. Amin ya Rabbal Alamin.

Motivasi BelajarNew York. Musim gugur 1996.Seorang gadis 15 tahun berdiri sendirian di depan peti jenazah ibunya. Peti i...
26/06/2026

Motivasi Belajar

New York. Musim gugur 1996.

Seorang gadis 15 tahun berdiri sendirian di depan peti jenazah ibunya. Peti itu bukan milik keluarganya. Itu peti sumbangan. Nama ibunya bahkan salah dieja dengan spidol hitam.

Tak ada bunga. Tak ada pelayat.
Tak ada siapa pun yang mengucapkan kata perpisahan.

Di saku mantelnya hanya ada selembar foto kusut. Ibunya saat berusia 17 tahun. Masih tersenyum. Jauh sebelum narkoba dan AIDS menghancurkan hidupnya.

Di depan makam itu, gadis itu membuat satu janji. Hidupnya tidak akan berakhir seperti ibunya.

Ia lahir di Bronx dari orang tua yang sama-sama kecanduan narkoba. Setiap awal bulan, rumah mereka kembali dipenuhi makanan. Lima hari kemudian semuanya habis. Tiga minggu berikutnya, ia bertahan hidup dengan roti berisi mayones, sisa makanan, bahkan mengisap es batu agar perutnya merasa sedang makan.

Saat berusia sepuluh tahun, ibunya mengatakan bahwa ia mengidap AIDS. Tak lama kemudian keluarganya hancur. Ia berpindah-pindah rumah hingga akhirnya hidup di jalanan.

Malam hari ia tidur di kereta bawah tanah agar tidak kedinginan. Siang hari ia mencari apa pun yang bisa dimakan.

Lalu datang satu pagi yang mengubah seluruh hidupnya.

Ia merogoh saku dan menghitung uang terakhirnya.

Jumlahnya hanya cukup untuk satu pilihan.

Sepotong pizza.

Atau satu token kereta menuju wawancara sekolah.

Ia sudah berhari-hari tidak makan. Tangannya gemetar. Pizza bisa menghilangkan laparnya hari itu.

Sekolah belum tentu menerimanya.

Ia membeli token.

Sekolah itu menerimanya.

Tak seorang pun tahu ia tunawisma.

Ia datang paling pagi.

Tak pernah absen.

PR dikerjakannya di tangga, lorong, dan kereta bawah tanah.

Ruang kelas menjadi satu-satunya tempat yang terasa adil.

Empat tahun sekolah ia selesaikan hanya dalam dua tahun.

Nilai rata-ratanya 95.

Ia lulus sebagai siswa terbaik.

Beberapa tahun kemudian, Harvard menerimanya.

Saat kuliah, ayahnya yang telah berhenti memakai narkoba menelepon. Ia sedang sekarat karena AIDS.

Ia meninggalkan Harvard.

Pulang.

Menggenggam tangan ayahnya sampai akhir hayat.

Setelah ayahnya meninggal, ia kembali ke Harvard dan menyelesaikan kuliahnya.

Ia tidak pernah menyalahkan kedua orang tuanya. Baginya mereka adalah orang baik yang kalah melawan penyakit.

Orang sering mengingat Liz Murray sebagai gadis tunawisma yang berhasil lulus dari Harvard.

Padahal hidupnya berubah jauh sebelum Harvard menerimanya.

Hidupnya berubah ketika ia memilih token.

Agar bisa sampai ke sekolah.

_

AJR

20/06/2026

Moment silaturrahmi dengan wali santri dalam agenda bagi raport akhir tahun pelajaran 2025 /2026

Curhat Alumni Assalamualaikum ustadz.... Berkat ustadz dan ustadzah yang telah mendidik kami di ponpes Nurul Jannah.... ...
17/06/2026

Curhat Alumni

Assalamualaikum ustadz.... Berkat ustadz dan ustadzah yang telah mendidik kami di ponpes Nurul Jannah.... Selain kami mencari rizki di rantau orang.... Kami juga melatih diri dan kawan kawan untuk mempraktekan ilmu yang telah kami dapatkan dari pondok dulu.
Salah satunya sholawat Hadroh dan Alhamdulillah dapat juara 1 mewakili ladang Sungei Buloh Estate (Sime Darby / Guthrie)

BUKAN FAKIR YANG TERCELA, MELAINKAN LISANMU YANG DURJANASaudaraku, yang acapkali menundukkan kepala di antara riuh tawa ...
08/06/2026

BUKAN FAKIR YANG TERCELA, MELAINKAN LISANMU YANG DURJANA

Saudaraku, yang acapkali menundukkan kepala di antara riuh tawa duniaโ€ฆ yang kerap merasa diri bagai debu tak berharga hanya kerana baju lusuh dan perut yang sering kali laparโ€ฆ yang pernah berlinang air mata di keheningan malam lantaran tubuh yang tak sempurna, kulit yang tak mulus, atau raut wajah yang jauh dari pesonaโ€ฆ ketahuilah, gemuruh hatimu itu adalah bisikan dusta. Engkau tak pernah hina kerana segala yang ditakdirkan di luar kuasamu.

Duhai jiwa yang lelah dipandang sebelah mata, pernahkah terbetik dalam hatimu bahwa Sang Maha Pengasih, Allah Subhanahu wa Ta'ala, tidak pernah menakar kemuliaan dari kilau harta dan segar rupa? Telah bersabda Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dalam untaian nasihat yang menyejukkan, โ€œInna Allฤha lฤ yanzhuru ilฤ shuwarikum wa amwฤlikum, wa lฤkin yanzhuru ilฤ qulลซbikum wa aโ€˜mฤlikum.โ€ Sungguh, Allah tidak memandang rupa dan harta kalian, tetapi Dia memandang hati dan amal kalian. (HR. Muslim, no. 2564). Tangisanmu kerana kemiskinan bukan tangisan yang menghinakan, kerana kemuliaan di sisi-Nya telah ditimbang dengan neraca yang agung: โ€œInna akramakum โ€˜indallฤhi atqฤkumโ€ โ€“ sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. (QS. Al-Hujurat: 13). Takwa itu bersemayam dalam hati yang bersih, lisan yang terjaga, dan akhlak yang indah, bukan dalam simpanan emas atau postur yang gagah.

Namun, di sinilah letak luka yang jarang kita sesali. Di sinilah letak aib yang sering kita pelihara dengan bangga. Para pencinta ilmu hakikat dan maโ€™rifat mewariskan butir-butir hikmah yang menusuk kesadaran: โ€œLaysa al-โ€˜aibu bi al-faqri wa lฤ bi naqsi al-khalqi, innama al-โ€˜aibu bi sลซโ€™i al-lisฤni wa danฤโ€™ati al-akhlฤq.โ€ Cela dan kehinaan sejati bukanlah kerana kemiskinan, bukan p**a kerana cacat pada ciptaan. Cela yang sesungguhnya hanyalah kerana buruknya lisan dan rendahnya akhlak. (Dinukil dari mutiara nasihat para masyayikh dalam kitab-kitab adab suluk). Kalimat ini memecah kesombongan kita: berapa banyak orang yang miskin harta namun luhur budinya, dan berapa banyak yang bergelimang harta namun lisan dan perangainya menjadi racun bagi sesama. Kemiskinan dan kekurangan fisik adalah rahasia Allah, ketetapan yang tak bisa kita pilih. Tetapi lisan yang durjana dan akhlak yang melukai adalah pilihan sadar diri kita. Ia berada dalam kendali hati yang kita abaikan.

Dengarlah getar peringatan dari langit risalah. Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda, โ€œWa hal yakubbun nฤsa โ€˜alฤ manฤkhirihim fฤซ an-nฤri illฤ hashฤโ€™idu alsinatihim?โ€ Tiadalah manusia diseret ke dalam neraka di atas wajah mereka melainkan kerana hasil buruk lidah mereka. (HR. Tirmidzi, no. 2616; Ibnu Majah, no. 3973). Pahitkah kalimat ini menyentuh dinding hati kita? Betapa sebuah lidah yang kecil, yang sering kita anggap remeh, menjadi penyebab utama kejatuhan kita. Lisan yang tak bertuan itu bagai pedang yang terus menebas kehormatan, menggunting persaudaraan, dan menyemai duri permusuhan. Maka kemudian Nabi yang penyayang Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam menuntun dengan lembut, โ€œMan kฤna yuโ€™minu billฤhi wal yawmil ฤkhiri fal yaqul khairan aw liyasmut.โ€ Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam. (HR. Bukhari no. 6018, Muslim no. 47). Diam yang melahirkan keselamatan adalah ibadah yang sering kali lebih berat daripada ribuan kata. Dan mukmin sejati bukan diukur dari panjangnya shalat malam, tetapi dari selamatnya orang lain dari gangguan lidah dan tangannya: โ€œAl-muโ€™minu man salimal muslimลซna min lisฤnihi wa yadih.โ€ (HR. Bukhari no. 10).

Renungilah jejak para salaf yang menyelami hakikat kehidupan. Amirul Mukminin Umar bin Khattab Radhiyallahu โ€˜Anhu mengguncang kesadaran kita dengan ucapannya, โ€œLฤ yaghurrannaka shalฤtu imriโ€™in wa lฤ shiyฤmuhu, wa lฤkin in shiโ€™ta fa unzhur ilฤ waraโ€˜ihi idzฤ ashfฤ, wa amฤnatihi idzฤ uโ€™tumina, wa shidqihi idzฤ haddatsa.โ€ Janganlah engkau tertipu oleh shalat dan puasa seseorang; jika engkau ingin tahu hakikatnya, lihatlah sifat waraโ€˜nya ketika ia dalam godaan, amanahnya ketika ia dipercaya, dan kejujurannya ketika ia berbicara. (Al-Baihaqi, Syuโ€˜ab al-Iman, 4/365). Di sini, saudaraku, kita dipertemukan dengan luka paling purba: betapa sering kita menyangka diri dekat dengan Allah kerana banyak sujud, namun lisan kita tetap menyakiti, akhlak kita masih menusuk, dan hati kita dipenuhi iri yang membusuk. Apalah arti rukuk yang panjang jika yang keluar dari mulut adalah kata-kata yang menghancurkan, jika tatapan mata penuh curiga, jika langkah penuh dendam? Itulah aib yang sesungguhnya, aib yang Allah dan Rasul-Nya abadikan sebagai bencana jiwa.

Imam Al-Ghazali, sang hujjatul Islam, melukiskan betapa besar kuasa lidah atas seluruh anggota tubuh: โ€œAl-lisฤnu maโ€˜a shighrihi, in ashlahtahu ashlahta al-aโ€˜dhฤโ€™a kullahฤ, wa in afsadtahu afsadta al-aโ€˜dhฤโ€™a kullahฤ.โ€ Lidah, meskipun kecil, jika engkau perbaiki maka seluruh anggota badan akan menjadi baik, dan jika engkau rusak maka rusaklah seluruh anggota badan. (Ihyaโ€™ โ€˜Ulumiddin, Kitab Afat al-Lisan). Betapa banyak raga yang segar dan penampilan menawan, tetapi roboh seluruh martabatnya kerana lidah yang tak mampu merangkai kasih, kerana akhlak yang buta terhadap adab. Sebaliknya, betapa banyak tubuh yang ringkih dan harta yang tiada, tetapi namanya harum, doa-doanya merambah langit, dan kehadirannya menjadi teduh kerana lisan yang bertutur hikmah serta akhlak yang memancarkan kelembutan.

Kekasih Allah, Ibn โ€˜Athaโ€™illah as-Sakandari, mengingatkan kita yang mungkin masih mengagungkan karamah dan limpahan dunia, โ€œLฤ takun mimman yatlubu al-karฤmฤt wa huwa yadโ€˜ลซ bi lisฤnihi ilฤ al-munkarฤt.โ€ Jangan engkau menjadi orang yang mencari-cari karamah, sementara lisanmu sendiri menyeru kepada kemungkaran. (Al-Hikam). Inilah cermin getir bagi hati yang merindukan maโ€™rifat: tak mungkin seorang hamba mengharap tersingkapnya rahasia hakikat bila lidahnya masih menjadi senjata yang melukai, bila akhlaknya masih menjadi tembok yang mengusir rahmat. Maโ€™rifat bukanlah tentang terbukanya hijab semesta, tetapi tentang terkendalinya lisan dan tersucinya budi pekerti. Sebab sejatinya lidah adalah jendela hati: jika yang keluar duri, maka hati itu penuh semak belukar. โ€œAlฤ wa inna fฤซ al-jasadi mudhghah, idzฤ shaluhat shaluha al-jasadu kulluh, wa idzฤ fasadat fasada al-jasadu kulluh, alฤ wa hiya al-qalb.โ€ Ketahuilah, di dalam tubuh ada segumpal daging; jika ia baik, baiklah seluruh tubuh; jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati. (HR. Bukhari no. 52, Muslim no. 1599).

Saudaraku yang terluka kerana hinaan duniaโ€ฆ Tangisanmu yang pecah di malam-malam panjang kerana kemelaratan, kerana tubuh yang kau rasa tak sempurna, biarlah menjadi air yang mencuci harapan pada selain-Nya. Jadikan ia pijar untuk menata hati dan menjinakkan lisan. Karena di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala, kemiskinanmu bukan aib, cacat ragamu bukan cela. Tetapi setiap kata tajam yang kau lemparkan, setiap dusta yang kau anyam, setiap akhlak buruk yang kau biarkan bersemayam, itulah aib yang akan menelanjangimu di hadapan-Nya kelak. Berharaplah pada rahmat-Nya, perbaikilah apa yang masih bisa kau jaga: lidahmu dan akhlakmu. Sebab hanya di situlah takdir perbaikan benar-benar berada dalam genggamanmu.

Hari ini, marilah kita menangisi aib yang sesungguhnya. Jangan biarkan air mata kita habis untuk meratapi yang bukan cela, lalu kita tertawa lebar saat lisan menjadi belati dan akhlak menjadi bencana. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menggolongkan kita dalam barisan hamba-hamba yang menjaga lisan, membaguskan akhlak, dan dianugerahi setitik maโ€™rifat yang menuntun setiap langkah menuju redha-Nya.

GURU YANG TULUS TIDAK MENGHITUNG KEDATANGAN MURID, TETAPI MURID YANG BERADAB TAK PERNAH MELUPAKAN GURUNYA Beberapa hari ...
05/06/2026

GURU YANG TULUS TIDAK MENGHITUNG KEDATANGAN MURID, TETAPI MURID YANG BERADAB TAK PERNAH MELUPAKAN GURUNYA

Beberapa hari yang lalu saya menulis tentang sebuah fenomena yang semakin sering kita jumpai di era digital ini, banyak murid yang perlahan menjauh dari gurunya. Mereka enggan sowan, jarang berkomunikasi, bahkan terasa berat sekadar menyapa atau berbagi kebahagiaan dengan gurunya ketika Allah telah melapangkan rezeki dan mengangkat derajatnya.

Padahal jika kita membuka lembaran sejarah para ulama terdahulu, kita akan menemukan pemandangan yang sangat berbeda. Mereka rela menempuh perjalanan bermil-mil jauhnya dengan menunggang kuda, bahkan berjalan kaki berhari-hari, hanya demi mengobati kerinduan untuk bertemu gurunya.

Mereka tidak datang membawa kesombongan karena telah menjadi orang besar. Justru semakin tinggi ilmu dan kedudukannya, semakin besar p**a penghormatan mereka kepada guru-gurunya.

Penghormatan itu tidak berhenti pada ucapan dan sikap. Banyak diantara mereka yang membantu kebutuhan hidup guru-gurunya, membantu putra-putri gurunya, bahkan memperhatikan keluarga gurunya ketika kondisi ekonomi mereka lebih baik daripada gurunya. Bukan karena sang guru meminta, melainkan karena mereka memahami bahwa ilmu yang telah mengubah hidup mereka tidak mungkin dibalas dengan hitungan materi semata.

Namun dari tulisan-tulisan saya sebelumnya, muncul beberapa komentar yang cukup menarik untuk direnungkan. Ada yang berkata, "Jadi kiai kok gila hormat." Ada p**a yang berkomentar, "Jadi kiai kok minta disowani." Bahkan ada yang menulis, "Jadi kiai kok minta diamplopi."

Menurut saya, komentar semacam ini biasanya muncul karena salah satu dari tiga hal. Pertama, hanya membaca judul lalu menyimpulkan sendiri isinya. Kedua, membaca tetapi tidak sampai tuntas. Ketiga, membaca sampai selesai namun gagal menangkap substansi yang sedang dibicarakan.

Sebab sejak awal saya tidak pernah mengatakan bahwa guru harus meminta dihormati, meminta disowani, atau meminta diberi amplop. Yang saya katakan adalah:

"Guru yang bijak tidak gila hormat, tetapi murid yang baik tahu bagaimana cara menghormati gurunya."

Perhatikan baik-baik perbedaannya.

Masalahnya bukan pada guru yang meminta penghormatan, melainkan pada murid yang kehilangan kesadaran tentang adab. Sebab adab kepada guru bukanlah kebutuhan guru, melainkan kebutuhan murid itu sendiri.

Pada hakikatnya, tidak ada guru yang mengajar bertahun-tahun demi mengejar amplop atau pujian. Seorang guru mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan sebagian hidupnya untuk membentuk muridnya menjadi manusia yang baik dan benar, bukan sekadar pintar.

Maka ketika seorang murid menghormati gurunya, sesungguhnya ia sedang menghormati ilmu yang telah menyinari hidupnya.

Imam Az-Zarnuji dalam Ta'limul Muta'allim berkata:

ุงุนู’ู„ูŽู…ู’ ุจูุฃูŽู†ูŽู‘ ุทูŽุงู„ูุจูŽ ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ู„ูŽุง ูŠูŽู†ูŽุงู„ู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ุชูŽููุนู ุจูู‡ู ุฅูู„ูŽู‘ุง ุจูุชูŽุนู’ุธููŠู’ู…ู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ูˆูŽุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ู ูˆูŽุชูŽุนู’ุธููŠู’ู…ู ุงู„ู’ุฃูุณู’ุชูŽุงุฐู ูˆูŽุชูŽูˆู’ู‚ููŠู’ุฑูู‡ู

"Ketahuilah bahwa seorang penuntut ilmu tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan mendapatkan manfaat darinya kecuali dengan mengagungkan ilmu, ahli ilmu, serta memuliakan dan menghormati gurunya."

Beliau kemudian mengutip sebuah ungkapan yang sangat dalam maknanya:

ู…ูŽุง ูˆูŽุตูŽู„ูŽ ู…ูŽู†ู’ ูˆูŽุตูŽู„ูŽ ุฅูู„ูŽู‘ุง ุจูุงู„ู’ุญูุฑู’ู…ูŽุฉูุŒ ูˆูŽู…ูŽุง ุณูŽู‚ูŽุทูŽ ู…ูŽู†ู’ ุณูŽู‚ูŽุทูŽ ุฅูู„ูŽู‘ุง ุจูุชูŽุฑู’ูƒู ุงู„ู’ุญูุฑู’ู…ูŽุฉู

"Tidaklah seseorang mencapai kemuliaan kecuali karena menjaga adab dan penghormatan. Dan tidaklah seseorang jatuh kecuali karena meninggalkan adab dan penghormatan."

Dalam kitab yang sama disebutkan:

ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฃูŽุญูŽู‚ูŽู‘ ุงู„ู’ุญูŽู‚ูู‘ ุญูŽู‚ูŽู‘ ุงู„ู’ู…ูุนูŽู„ูู‘ู…ู
ูˆูŽุฃูŽูˆู’ุฌูŽุจูŽู‡ู ุญููู’ุธู‹ุง ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ูู‘ ู…ูุณู’ู„ูู…ู

ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ุญูŽู‚ูŽู‘ ุฃูŽู†ู’ ูŠูู‡ู’ุฏูŽู‰ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ูƒูŽุฑูŽุงู…ูŽุฉู‹
ู„ูุชูŽุนู’ู„ููŠู’ู…ู ุญูŽุฑู’ูู ูˆูŽุงุญูุฏู ุฃูŽู„ู’ูู ุฏูุฑู’ู‡ูŽู…ู

"Aku melihat bahwa hak yang paling layak ditunaikan adalah hak seorang guru. Bahkan layak diberikan kepadanya seribu dirham hanya karena mengajarkan satu huruf ilmu."

Tentu tidak ada guru yang waras meminta muridnya menjadi budak atau mengabdi tanpa batas. Akan tetapi para ulama ingin menunjukkan betapa besar hak seorang guru. Karena itu Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah berkata:

ุฃูŽู†ูŽุง ุนูŽุจู’ุฏู ู…ูŽู†ู’ ุนูŽู„ูŽู‘ู…ูŽู†ููŠ ุญูŽุฑู’ูู‹ุง ูˆูŽุงุญูุฏู‹ุงุŒ ุฅูู†ู’ ุดูŽุงุกูŽ ุจูŽุงุนูŽ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุดูŽุงุกูŽ ุฃูŽุนู’ุชูŽู‚ูŽ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุดูŽุงุกูŽ ุงุณู’ุชูŽุฑูŽู‚ูŽู‘

"Aku adalah hamba (budak) bagi orang yang mengajarkanku satu huruf. Jika ia mau, ia boleh menjualku, memerdekakanku, atau tetap menjadikanku sebagai budaknya."

Tentu ungkapan ini bukan untuk dipahami secara harfiah, melainkan sebagai gambaran betapa besar penghormatan yang seharusnya dimiliki seorang murid kepada gurunya.

Prinsip ini sebenarnya telah dipahami dan diamalkan oleh para ulama sejak dahulu. Mereka memegang sebuah kaidah yang masyhur:

ุงู„ุนูู„ู’ู…ู ูŠูุคู’ุชูŽู‰ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฃู’ุชููŠ

"Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi."

Karena itulah para ulama salaf rela meninggalkan kampung halamannya, menempuh perjalanan jauh, mengorbankan waktu, tenaga, dan harta demi mendatangi para guru. Mereka memahami bahwa kemuliaan ilmu menuntut kerendahan hati dari penuntutnya.

Tidak ada riwayat yang menceritakan para imam besar duduk menunggu ilmu datang ke rumah mereka. Justru merekalah yang mendatangi guru-guru mereka dengan penuh hormat, duduk di hadapan mereka dengan penuh adab, dan memuliakan mereka sebagai perantara sampainya cahaya ilmu.

Dari sinilah kita memahami bahwa sowan kepada guru bukanlah budaya feodal yang harus dihapuskan, bukan p**a sarana mengagungkan manusia secara berlebihan. Sowan adalah manifestasi kerendahan hati seorang murid di hadapan ilmu yang dibawa oleh gurunya.

Sebab hakikatnya yang didatangi bukan semata-mata sosok gurunya, melainkan ilmu, hikmah, pengalaman, doa, dan keberkahan yang Allah titipkan melalui dirinya.

Bahkan Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Tanqihul Qaul Syarah Lubab Al-Hadits menukil beberapa atsar dari Ibnu Mas'ud tentang kemuliaan seorang alim dan guru.

Beliau menyebutkan:

ูˆูŽู†ูŽุธู’ุฑููƒูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ูˆูŽุฌู’ู‡ู ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูู…ู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ูŽูƒูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู„ู’ูู ููŽุฑูŽุณู ุชูŽุตูŽุฏูŽู‘ู‚ู’ุชูŽ ุจูู‡ูŽุง ูููŠ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ู‡ู

"Memandang wajah seorang alim lebih baik bagimu daripada bersedekah seribu ekor kuda di jalan Allah."

Bahkan sekadar mengucapkan salam kepada seorang alim memiliki keutamaan yang sangat besar:

ูˆูŽุณูŽู„ูŽุงู…ููƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูู…ู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ูŽูƒูŽ ู…ูู†ู’ ุนูุจูŽุงุฏูŽุฉู ุฃูŽู„ู’ูู ุณูŽู†ูŽุฉู

"Mengucapkan salam kepada seorang alim lebih baik bagimu daripada ibadah sunnah seribu tahun."

Demikian p**a langkah kaki yang digunakan untuk mendatangi majelis ilmu:

ู…ูŽู†ู’ ู…ูŽุดูŽู‰ ุฅูู„ูŽู‰ ุญูŽู„ู’ู‚ูŽุฉู ุนูŽุงู„ูู…ู ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ุจููƒูู„ูู‘ ุฎูŽุทู’ูˆูŽุฉู ู…ูุงุฆูŽุฉู ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู

"Barangsiapa berjalan menuju majelis seorang alim, maka setiap langkahnya dicatat sebagai seratus kebaikan."

Dan ketika ia duduk di hadapan gurunya serta mendengarkan ilmu yang disampaikan:

ููŽุฅูุฐูŽุง ุฌูŽู„ูŽุณูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽู‡ู ูˆูŽุงุณู’ุชูŽู…ูŽุนูŽ ู…ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู„ู ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ุจููƒูู„ูู‘ ูƒูŽู„ูู…ูŽุฉู ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉูŒ

"Apabila ia duduk di hadapan seorang alim dan mendengarkan perkataannya, maka setiap kalimat yang didengarnya bernilai satu kebaikan."

Perhatikanlah. Jika memandang wajah guru saja memiliki keutamaan demikian besar, jika mengucapkan salam kepada guru saja memiliki pahala yang demikian agung, jika melangkahkan kaki menuju majelis guru saja dicatat sebagai kebaikan, lalu bagaimana dengan murid yang senantiasa menjaga silaturahmi kepada gurunya, membahagiakan gurunya, membantu kebutuhannya, serta tidak melupakan jasa-jasanya setelah meraih kesuksesan..?

Karena itu, sowan kepada guru bukanlah tradisi yang membebani murid, melainkan kemuliaan yang Allah berikan kepada murid. Yang memperoleh manfaat terbesar dari sowan bukanlah guru, melainkan murid itu sendiri. Sebab guru mungkin tidak bertambah ilmunya dengan kedatangan murid, tetapi murid bisa bertambah keberkahan hidupnya dengan ridha guru.

Syekh Rasyidi dalam syarah Sittin Masalah menjelaskan perbedaan jasa guru dan orang tua dengan kalimat yang sangat indah:

ููŽุฐูŽุงูƒูŽ ู…ูุฑูŽุจูู‘ูŠ ุงู„ุฑูู‘ูˆุญู ูˆูŽุงู„ุฑูู‘ูˆุญู ุฌูŽูˆู’ู‡ูŽุฑูŒ
ูˆูŽุฐูŽุงูƒูŽ ู…ูุฑูŽุจูู‘ูŠ ุงู„ู’ุฌูุณู’ู… ูˆูŽุงู„ู’ุฌูุณู’ู…ู ูƒูŽุงู„ุตูŽู‘ุฏูŽูู

"Guru adalah pembimbing ruhani, sementara ruh adalah mutiara. Sedangkan orang tua adalah pembimbing jasmani, sementara jasad hanyalah cangkang bagi mutiara itu."

Bukan berarti jasa orang tua lebih rendah. Tidak. Islam meletakkan keduanya pada posisi yang sangat mulia. Orang tua membesarkan jasad kita, sedangkan guru membimbing jiwa, akhlak, dan arah hidup kita menuju Allah.

Ironisnya, hari ini ada sebagian murid yang tidak pernah datang kepada gurunya ketika hidupnya lapang.

Bertahun-tahun tidak pernah sowan, tidak pernah bertanya kabar, tidak pernah menghubungi.

Namun ketika usahanya bangkrut, rumah tangganya bermasalah, anaknya sakit, atau hidupnya terasa sempit, ia datang tergopoh-gopoh meminta doa dan petunjuk gurunya.

Padahal hubungan murid dan guru seharusnya tidak dibangun diatas kepentingan, melainkan diatas rasa cinta, hormat, syukur, dan pengakuan atas jasa-jasa yang tak mungkin terbalaskan.

Guru yang tulus tidak pernah menghitung berapa kali muridnya datang. Namun murid yang beradab akan selalu menghitung berapa banyak jasa gurunya yang belum mampu ia balas.

Karena itu, jika hari ini kita masih memiliki guru yang hidup, sempatkanlah menyapa. Jika mampu, kunjungilah. Jika memiliki kelapangan rezeki, bahagiakanlah beliau. Jika berjauhan, jangan putuskan doa untuknya.

Sebab bisa jadi keberkahan hidup yang selama ini kita cari bukan terletak pada bertambahnya harta dan jabatan, melainkan pada ridha seorang guru yang selama ini kita lupakan.

______
๐Ÿ“: Menurut Imam Ali Karramallahu Wajhah, satu huruf ilmu itu setara nilainya dengan 1000 dirham. Kalau dikurs ke rupiah saat ini, 1000 dirham = Rp.128 juta sampai Rp.134 juta. Dan renungkan lah. Guru kita bukan hanya mengajarkan satu dua huruf, tapi beliau telah mengajarkan kepada kita berbagai disiplin ilmu yang tak terhitung jumlah hurufยฒnya.

SEMUA ORANG

Address

Jalan Energi Kampung Banjar, Ampenan Selatan
Mataram
83114

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when MA Nurul Jannah NW Ampenan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to MA Nurul Jannah NW Ampenan:

Shortcuts

Share