Sd It Abata Lombok

Sd It Abata Lombok satu satunya Sekolah Dasar Islam bilingual di Lombok. Area sekolah seluas 2 hektar di pusat kota mataram. area parkir Luas dan nyaman.

SD IT ABATA LOMBOK ada di bawah naungan YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM ABATA LOMBOK

SD IT ABATA LOMBOK Buka Tahun Ajaran dengan Pendekatan AI, Siapkan Generasi Berkarakter yang Memimpin Masa DepanMataram ...
07/07/2026

SD IT ABATA LOMBOK Buka Tahun Ajaran dengan Pendekatan AI, Siapkan Generasi Berkarakter yang Memimpin Masa Depan

Mataram – Ketika banyak sekolah memanfaatkan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) hanya untuk memperkenalkan tata tertib dan lingkungan belajar, SD IT ABATA LOMBOK memilih menghadirkan arah yang berbeda. Tahun ajaran 2026/2027 dibuka melalui MPLS bertema "Explore AI and Achieve Excellence", sebuah langkah yang menempatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai bagian dari literasi masa depan sejak hari pertama anak memasuki bangku sekolah.

Program yang berlangsung pada 13–17 Juli 2026 itu dirancang bukan untuk mengajarkan anak menggunakan AI secara instan, melainkan membangun cara berpikir yang kritis, kreatif, kolaboratif, serta menanamkan nilai-nilai spiritual Islam sebagai fondasi dalam memanfaatkan teknologi secara bijaksana dan bertanggung jawab.

Pembina SEKOLAH ABATA LOMBOK, Dr. Saharjo, S.H., M.Kn., M.H., mengatakan tantangan pendidikan hari ini bukan hanya mencetak anak yang cerdas secara akademik, tetapi juga melahirkan generasi yang memiliki iman, adab, dan integritas di tengah derasnya perkembangan teknologi.

"Kami tidak ingin anak-anak hanya mahir menggunakan AI. Yang lebih penting adalah mereka memiliki hati yang dekat kepada Allah SWT, berakhlak mulia, mencintai Al-Qur'an, menghormati guru dan orang tua, serta memahami bahwa setiap ilmu dan teknologi adalah amanah yang harus digunakan untuk menghadirkan kebaikan. Teknologi boleh semakin canggih, tetapi iman dan akhlak harus tetap menjadi kompas kehidupan," ujar Saharjo.

Kepala SD IT ABATA LOMBOK, Lia Oktavia, S.Pd., Gr., menjelaskan bahwa seluruh rangkaian MPLS dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus memperkuat karakter spiritual peserta didik sejak hari pertama.

"Anak-anak akan dibiasakan memulai aktivitas dengan doa, menjaga salat, mencintai Al-Qur'an, menghormati sesama, serta belajar bahwa kecerdasan tidak hanya diukur dari kemampuan berpikir, tetapi juga dari kejujuran, kepedulian, kedisiplinan, dan akhlak yang baik. Kami ingin mereka memahami bahwa AI hanyalah alat, sedangkan hati yang beriman adalah penuntun dalam setiap keputusan," kata Lia.

Selama lima hari pelaksanaan MPLS, peserta didik akan mengikuti pembiasaan ibadah, penguatan karakter, pengenalan budaya sekolah, permainan edukatif, aktivitas kolaboratif, serta eksplorasi teknologi yang dikemas sesuai usia anak dan dipadukan dengan nilai-nilai Islam.

Melalui tema "Explore AI and Achieve Excellence", SD IT ABATA LOMBOK menegaskan komitmennya menghadirkan pendidikan yang memadukan keunggulan akademik, kecakapan teknologi, dan kekuatan spiritual. Sekolah meyakini bahwa masa depan membutuhkan generasi yang tidak hanya mampu menciptakan teknologi, tetapi juga memiliki kebijaksanaan, keimanan, dan akhlak untuk menggunakannya demi kemaslahatan umat dan peradaban.

Saharjo Lombok
Amalia Shufiana
TAMAN KANAK KANAK ABATA
Smpit Abata Lombok

JELAJAH NEGERI BANGUN ANTIKORUPSI 2026 DI MATARAMDr. Saharjo: Guru dan Tenaga Kependidikan Adalah Garda Terdepan Pencega...
15/06/2026

JELAJAH NEGERI BANGUN ANTIKORUPSI 2026 DI MATARAM

Dr. Saharjo: Guru dan Tenaga Kependidikan Adalah Garda Terdepan Pencegahan Korupsi

Mataram, Abata — Upaya membangun budaya antikorupsi tidak cukup dilakukan melalui penegakan hukum semata. Pendidikan dinilai menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi yang jujur, berintegritas, dan memiliki keberanian menolak praktik-praktik koruptif sejak dini.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Jelajah Negeri Bangun Antikorupsi 2026 yang diselenggarakan di Kota Mataram, Senin, tanggal15 Juni 2026, Nusa Tenggara Barat. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Ir. Wawan Wardiana, M.T., Deputi Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK RI, serta dihadiri sekitar 230 kepala sekolah dari berbagai jenjang pendidikan di Kota Mataram.

Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Kota Mataram melalui Lalu Martawang kembali mengingatkan pentingnya pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun 2026 yang bersih, transparan, akuntabel, dan berintegritas.

Kegiatan ini turut dihadiri Dr. Saharjo, SH, MKn, MH sebagai Pembina Yayasan SEKOLAH ABATA LOMBOK.

Menurut Dr. Saharjo, pemberantasan korupsi harus dimulai dari ruang-ruang pendidikan. Sekolah tidak boleh hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga harus menjadi pusat pembentukan karakter dan integritas peserta didik.

"Korupsi bukan sekadar persoalan hukum, tetapi persoalan karakter. Karena itu sekolah memiliki tanggung jawab besar menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan amanah sejak usia dini," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa guru dan tenaga kependidikan merupakan figur yang setiap hari berinteraksi langsung dengan peserta didik. Oleh karena itu, mereka menjadi teladan utama dalam membangun budaya antikorupsi.

Menurutnya, pendidikan antikorupsi tidak harus selalu diajarkan dalam bentuk mata pelajaran khusus, tetapi dapat diintegrasikan dalam seluruh aktivitas sekolah, mulai dari budaya antre, kejujuran dalam ujian, transparansi pengelolaan kegiatan, hingga keteladanan para pendidik.

SEKOLAH ABATA LOMBOK sendiri selama ini berupaya membangun ekosistem pendidikan berbasis karakter melalui berbagai program pembiasaan yang menanamkan nilai integritas, tanggung jawab, kepemimpinan, dan kepedulian sosial.

"Anak-anak harus dibiasakan memahami bahwa mengambil yang bukan haknya adalah tindakan yang salah. Nilai ini harus dibangun secara konsisten sejak usia dini. Ketika budaya jujur sudah menjadi kebiasaan, maka benih-benih korupsi dapat dicegah sebelum tumbuh," kata Dr. Saharjo.

Ia juga menilai bahwa momentum Jelajah Negeri Bangun Antikorupsi menjadi pengingat penting bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk memperkuat tata kelola sekolah yang bersih dan profesional.

Dalam konteks pelaksanaan SPMB 2026, Dr. Saharjo mendukung penuh komitmen Pemerintah Kota Mataram untuk memastikan proses penerimaan murid baru berlangsung secara objektif, transparan, dan bebas dari praktik-praktik yang mencederai rasa keadilan masyarakat.

"Kita ingin melahirkan generasi yang cerdas sekaligus berintegritas. Karena bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga membutuhkan orang yang jujur dan memiliki moral yang kuat," tegasnya.

Kegiatan yang diinisiasi KPK RI tersebut menjadi bagian dari gerakan nasional membangun budaya antikorupsi melalui pendidikan. Para kepala sekolah yang hadir diharapkan menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing, sehingga nilai-nilai integritas tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi budaya yang hidup dalam keseharian sekolah.

Bagi SEKOLAH ABATA LOMBOK, pendidikan karakter dan integritas merupakan investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi masa depan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keberanian menjaga amanah dan menolak segala bentuk korupsi dalam kehidupannya.

Saharjo Lombok
Amalia Shufiana

SETELAH BENTAKAN ITU REDATim Psikolog ABATA Menemukan Luka yang Sering Tak Terlihat di Dalam RumahMATARAM — Tidak ada or...
11/06/2026

SETELAH BENTAKAN ITU REDA

Tim Psikolog ABATA Menemukan Luka yang Sering Tak Terlihat di Dalam Rumah

MATARAM — Tidak ada orang tua yang bangun pagi dengan niat menyakiti anaknya.

Tidak ada ayah yang berangkat bekerja sambil berjanji dalam hati akan membentak putra-putrinya saat pulang nanti.

Tidak ada ibu yang mengandung selama sembilan bulan, menahan sakit saat melahirkan, lalu bercita-cita membuat anaknya menangis karena ketakutan.

Namun dalam ruang-ruang kecil bernama rumah, bentakan itu tetap terjadi.

Bukan karena kurang cinta.

Sering kali justru karena cinta yang sedang kelelahan.

Temuan inilah yang berulang kali muncul dalam berbagai sesi konseling yang dilakukan Tim Psikolog Sekolah ABATA Lombok. Di balik keluhan tentang anak yang sulit diatur, susah belajar, kecanduan gawai, atau sering membantah, tersimpan satu kenyataan yang jauh lebih dalam: banyak orang tua sedang berjuang sendirian menghadapi tekanan hidup yang tidak ringan.

Mereka memikirkan cicilan.

Memikirkan biaya sekolah.

Memikirkan pekerjaan.

Memikirkan masa depan keluarga.

Lalu di tengah semua beban itu, mereka tetap dituntut menjadi orang tua yang sabar setiap waktu.

Dan tidak semua berhasil.

Dalam banyak sesi konseling, air mata justru sering jatuh bukan dari anak-anak, melainkan dari orang tua.

Mereka datang bukan karena tidak sayang kepada anaknya.

Mereka datang karena dihantui penyesalan.

"Saya tahu anak saya tidak salah sebesar itu."

"Saya tahu tadi saya terlalu keras."

"Saya tahu dia hanya ingin diperhatikan."

"Tapi saya lelah..."

Kalimat terakhir itulah yang paling sering terdengar.

Bentakan yang Hanya Berlangsung Beberapa Detik

Secara fisik, bentakan mungkin hanya berlangsung beberapa detik.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Satu menit.

Namun bagi seorang anak, pengalaman emosionalnya bisa bertahan jauh lebih lama.

Anak mungkin melupakan kata-katanya.

Tetapi sering kali mereka mengingat perasaannya.

Mereka mengingat bagaimana dadanya berdebar.

Bagaimana matanya menahan air mata.

Bagaimana ia merasa menjadi anak yang mengecewakan.

Bagaimana ia merasa tidak cukup baik.

Tim Psikolog ABATA menemukan bahwa sebagian anak yang tampak pendiam sebenarnya bukan karena patuh. Mereka hanya takut salah.

Sebagian anak yang tampak keras kepala sebenarnya bukan karena nakal. Mereka sedang berusaha melindungi dirinya sendiri.

Dan sebagian anak yang terlihat tidak peduli sebenarnya sedang menyimpan luka yang tidak tahu cara mereka ceritakan.

Orang Tua Pun Membutuhkan Pelukan

Salah satu temuan paling menyentuh dari proses konseling adalah kenyataan bahwa banyak orang tua hari ini menjalani perannya tanpa pernah benar-benar diajari bagaimana menjadi orang tua.

Mereka belajar dari pengalaman masa kecilnya.

Mereka mengulang apa yang pernah mereka terima.

Mereka membawa luka yang belum sembuh.

Lalu tanpa sadar, luka itu diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bukan karena mereka jahat.

Tetapi karena mereka tidak pernah diberi kesempatan untuk belajar cara yang berbeda.

"Kadang yang membutuhkan pertolongan pertama bukan anaknya, tetapi orang tuanya," ungkap salah satu anggota Tim Psikolog ABATA.

Karena orang tua yang kelelahan akan sulit memberikan ketenangan.

Orang tua yang penuh tekanan akan sulit memberikan rasa aman.

Orang tua yang terluka akan sulit menjadi tempat penyembuhan.

Dari Ruang Konseling Menjadi Gerakan Pengasuhan

Berangkat dari ratusan cerita, tangisan, penyesalan, dan harapan yang mereka dengar, Tim Psikolog ABATA Lombok kemudian menyusun sebuah e-book berjudul "Orang Tua Tanpa Bentakan."

Buku ini lahir bukan dari teori semata.

Ia lahir dari kisah nyata para ayah dan bunda yang ingin berubah.

Dari mereka yang pernah kehilangan kesabaran.

Dari mereka yang pernah menyesal setelah memarahi anak.

Dari mereka yang diam-diam menangis ketika anak sudah tertidur.

Buku ini mengajak orang tua memahami bahwa disiplin tidak harus dibangun dengan rasa takut.

Bahwa ketegasan tidak identik dengan kemarahan.

Bahwa anak lebih membutuhkan bimbingan daripada ancaman.

Dan bahwa hubungan yang hangat sering kali jauh lebih efektif daripada suara yang keras.

Ketika Anak Dewasa Nanti

Tim Psikolog ABATA meyakini, kelak ketika anak-anak ini dewasa, mereka mungkin tidak akan mengingat nilai ujian yang pernah mereka dapatkan.

Mereka mungkin lupa merek tas sekolah yang pernah dipakai.

Mereka mungkin lupa hadiah yang pernah dibelikan.

Tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana perasaan mereka ketika berada di dekat orang tuanya.

Apakah rumah menjadi tempat yang aman untuk pulang.

Atau tempat yang membuat mereka selalu waspada.

Karena pada akhirnya, masa kecil bukan tentang apa yang dimiliki seorang anak.

Masa kecil adalah tentang bagaimana seorang anak merasa dicintai.

Dan mungkin, pendidikan terbaik yang dapat diberikan orang tua bukanlah rumah yang paling mewah atau sekolah yang paling mahal.

Melainkan kemampuan untuk berkata kepada anaknya setiap hari:

"Ayah dan Bunda mungkin tidak sempurna. Kadang kami lelah, kadang kami salah. Tetapi satu hal yang tidak pernah berubah: kami selalu mencintaimu."

Di situlah pengasuhan menemukan maknanya yang paling dalam.

Bukan pada bentakan yang terdengar keras.

Melainkan pada cinta yang memilih untuk belajar menjadi lebih baik setiap hari.

Tim Psikolog Sekolah ABATA Lombok
"Mendidik dengan Hati, Menguatkan Keluarga dari Rumah."

7 MEDALI BUKAN KEBETULAN, SISTEM ITULAH YANG MELAHIRKAN JUARAMATARAM — Prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh SD IT A...
10/06/2026

7 MEDALI BUKAN KEBETULAN, SISTEM ITULAH YANG MELAHIRKAN JUARA

MATARAM — Prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh SD IT ABATA Lombok dalam ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Tingkat Kecamatan Ampenan Tahun 2026. Tidak tanggung-tanggung, sekolah yang dikenal dengan slogan "Mendidik dengan Hati" ini berhasil memborong 7 medali, terdiri atas 3 medali emas, 1 medali perak, dan 3 medali perunggu.

Capaian tersebut menempatkan SD IT ABATA Lombok sebagai salah satu sekolah dengan perolehan medali terbanyak pada ajang olahraga pelajar tingkat kecamatan tahun ini. Namun bagi pihak sekolah, tujuh medali tersebut bukanlah sekadar angka ataupun keberuntungan sesaat.

Di balik setiap medali yang diraih, terdapat sistem pembinaan yang dirancang secara serius, terukur, dan berkelanjutan. Mulai dari pembentukan karakter, kedisiplinan, pembiasaan hidup sehat, hingga latihan rutin yang dilakukan secara konsisten sepanjang tahun.

"Kami percaya prestasi tidak lahir secara instan. Medali hanyalah hasil akhir dari proses panjang yang dijalani siswa setiap hari. Yang kami bangun terlebih dahulu adalah karakter, disiplin, dan mental juara," ujar salah satu pembina sekolah.

Dominasi Cabang Senam

Keberhasilan ABATA paling terlihat pada cabang Senam Perorangan Serba Bisa, yang menjadi lumbung prestasi sekolah. Dominasi ini menunjukkan bahwa pembinaan fisik, keseimbangan, keberanian, dan konsentrasi telah menjadi bagian dari budaya pendidikan di lingkungan sekolah.

Tiga medali emas berhasil dipersembahkan oleh:

🥇 M. Zhafran Al Fatih Kuswandi
Juara 1 Senam Perorangan Serba Bisa Putra

🥇 Mika Aqila Rahmadina
Juara 1 Senam Perorangan Serba Bisa Putri

🥇 Charisa Aulia
Juara 1 Badminton Tunggal Putri

Sementara medali perak diraih oleh:

🥈 Soni Abqori Damika
Juara 2 Badminton Tunggal Putra

Sedangkan tiga medali perunggu dipersembahkan oleh:

🥉 Aziz Ramdhani Yahya
Pencak Silat Putra

🥉 Pradifta Atmadewa
Senam Perorangan Serba Bisa Putra

🥉 Naraya Nahda Setiyawan
Senam Perorangan Serba Bisa Putri

Di Balik Podium

Prestasi yang terlihat di podium sesungguhnya hanyalah puncak gunung es. Yang tidak terlihat adalah jam-jam latihan, semangat pantang menyerah, dukungan orang tua, kerja keras para guru dan pelatih, serta lingkungan sekolah yang terus mendorong siswa untuk berkembang.

ABATA meyakini bahwa pendidikan tidak hanya menghasilkan siswa yang pintar di ruang kelas, tetapi juga generasi yang sehat, tangguh, berani berkompetisi, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan.

Karena itu, sekolah terus mengintegrasikan pendidikan karakter dengan pengembangan bakat dan minat siswa melalui berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik.

Ketika Sistem Bekerja

Keberhasilan meraih tujuh medali sekaligus menjadi bukti bahwa prestasi bukan lahir karena kebetulan. Prestasi hadir ketika sistem bekerja, ketika budaya disiplin dijalankan secara konsisten, dan ketika seluruh elemen sekolah bergerak dalam tujuan yang sama.

Bagi SD IT ABATA Lombok, kemenangan sejati bukan hanya berdiri di podium juara. Kemenangan sejati adalah ketika setiap anak tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, percaya diri, berprestasi, dan siap menghadapi masa depan.

Tujuh medali O2SN 2026 menjadi bukti bahwa investasi pada karakter, disiplin, dan pembinaan yang berkelanjutan akan selalu menghasilkan buah terbaik.

Karena juara tidak lahir saat pertandingan berlangsung. Juara dibentuk jauh sebelumnya melalui proses, disiplin, dan kebiasaan yang benar.

ABATA Lombok
Mendidik dengan Hati, Melahirkan Generasi Juara.

Sdit Abata Lombok Smpit Abata Lombok Taman Kanak Kanak Abata TK IT ABATA PRAYA Tpq Abata Lombok I Kantin Abata Abata III Abata Kb Abata Dưa Paudit Abata

“Anak Penurut Belum Tentu Siap Bertahan”: Sekolah Abata Lombok Luncurkan Program “AKU BERANI” untuk Bangun Ketahanan Psi...
26/05/2026

“Anak Penurut Belum Tentu Siap Bertahan”: Sekolah Abata Lombok Luncurkan Program “AKU BERANI” untuk Bangun Ketahanan Psikologis Murid

MATARAM — Di tengah meningkatnya kasus perundungan, tekanan kelompok sebaya, krisis kesehatan mental anak, hingga budaya ikut-ikutan yang semakin masif akibat media digital, Sekolah Abata Lombok mulai menegaskan arah baru pendidikan karakter melalui program “AKU BERANI.”

Program ini tidak sekadar mengajarkan anak berkata “tidak”, tetapi dirancang sebagai model penguatan psychological self-protection atau kemampuan perlindungan diri psikologis sejak usia sekolah.

Bagi Abata Lombok, salah satu masalah terbesar pendidikan modern hari ini adalah lahirnya generasi yang terlihat patuh di permukaan, tetapi rapuh ketika menghadapi tekanan sosial di dunia nyata.

Anak-anak dinilai terlalu sering diajarkan untuk menurut, diam, dan menghindari konflik, namun tidak cukup dibekali kemampuan menjaga batas diri, menyampaikan ketidaknyamanan, maupun menolak tekanan lingkungan secara sehat.

Akibatnya, banyak anak tumbuh dengan kecenderungan:

1. takut berbeda pendapat,
2. mudah mengikuti tekanan kelompok,
3. sulit menolak ajakan negatif,
4. hingga memendam stres sosial secara diam-diam.

Dalam konteks psikologi pendidikan, kondisi tersebut dinilai berbahaya karena dapat membentuk pola people pleasing, ketergantungan validasi sosial, hingga rendahnya kemampuan pengambilan keputusan mandiri pada anak.

Melalui program “AKU BERANI”, murid dilatih membangun keberanian moral, keberanian komunikasi, dan kemampuan menjaga batas pribadi tanpa kehilangan empati maupun kesopanan.

Pendekatan yang digunakan bukan berbasis hukuman, tetapi berbasis simulasi sosial, roleplay situasional, pembiasaan komunikasi sehat, latihan ekspresi verbal, serta penguatan bahasa tubuh percaya diri.

Murid dibiasakan memahami bahwa: menolak bukan berarti melawan, menjaga diri bukan berarti tidak sopan, dan berbeda pendapat bukan berarti buruk.

Kepala SD IT ABATA LOMBOK I, Marleni, menilai tantangan terbesar pendidikan hari ini bukan lagi sekadar mencetak anak pintar, tetapi menciptakan anak yang memiliki ketahanan psikologis menghadapi tekanan zaman.

“Banyak anak hari ini sebenarnya tahu sesuatu itu salah, tetapi tidak memiliki keberanian psikologis untuk menolak. Mereka takut dijauhi, takut dianggap tidak solid, atau takut tidak diterima lingkungan,” ujar Bunda Marleni.

Menurutnya, pendidikan karakter modern harus mulai bergeser dari sekadar budaya kepatuhan menuju budaya kesadaran diri dan tanggung jawab pribadi.

Ia menilai anak yang terlalu dibentuk hanya untuk selalu menurut justru berpotensi menjadi pribadi yang mudah tertekan, mudah dimanipulasi, dan kehilangan keberanian mengambil keputusan saat dewasa.

Karena itu, melalui program “AKU BERANI”, Abata Lombok mulai menanamkan prinsip bahwa keberanian bukan identik dengan agresivitas, melainkan kemampuan menjaga nilai dan batas diri secara sehat.

Program ini sekaligus menjadi kritik terhadap pola pendidikan lama yang terlalu fokus pada disiplin formal, tetapi kurang membangun keberanian berpikir, keberanian berbicara, dan keberanian menjaga prinsip hidup.

Di tengah dunia yang semakin kompetitif dan penuh tekanan sosial, Abata Lombok menilai kemampuan perlindungan diri psikologis harus mulai diposisikan sebagai bagian penting dari literasi hidup anak.

Sebab bagi sekolah ini, masa depan generasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh kemampuan berkata: “Ini salah.” “Saya tidak nyaman.” “Dan saya berani menjaga diri saya.”

Sekolah Abata Lombok Menjadi Benteng Penjaga Kesehatan Fisik, Mental, Emosional dan Karakter AnakMataram — Di tengah sem...
15/05/2026

Sekolah Abata Lombok Menjadi Benteng Penjaga Kesehatan Fisik, Mental, Emosional dan Karakter Anak

Mataram — Di tengah semakin banyaknya anak yang mudah batuk, flu, lemas, sulit fokus, hingga mengalami penurunan daya tahan tubuh, Sekolah Abata Lombok mulai mengingatkan bahwa ancaman terbesar kesehatan anak hari ini bukan semata-mata hujan, es, atau cuaca dingin.

Yang justru lebih berbahaya adalah kebiasaan kecil yang terus dianggap normal di rumah.

Mulai dari gadget yang diberikan terlalu lama demi membuat anak “tenang”, tidur larut malam, konsumsi makanan instan dan minuman manis berlebihan, minim aktivitas fisik, hingga anak yang semakin jarang terkena sinar matahari pagi.

Menurut pendekatan pendidikan yang dibangun Sekolah Abata Lombok, banyak orang tua modern tanpa sadar sedang membesarkan anak dalam pola hidup yang perlahan melemahkan daya tahan tubuhnya sendiri.

Anak terlihat diam, anteng, dan tidak merepotkan. Tetapi tubuhnya kurang bergerak, paru-parunya tidak bekerja optimal, waktu tidurnya rusak, dan sistem imunnya terus dipaksa bekerja dalam kondisi tidak sehat.

Tim Psikolog Sekolah Abata Lombok, Bunda Dita, menilai fenomena tersebut bukan hanya berdampak pada kesehatan fisik anak, tetapi juga memengaruhi kestabilan emosi dan kemampuan sosial mereka.

Menurutnya, anak-anak yang terlalu lama terpapar gadget cenderung mengalami penurunan fokus, lebih mudah emosional, sulit membangun komunikasi langsung, hingga kehilangan keseimbangan interaksi sosial di dunia nyata.

“Anak sebenarnya tidak hanya membutuhkan hiburan digital. Mereka membutuhkan gerak tubuh, interaksi hangat, permainan nyata, sentuhan emosional, dan kehadiran orang tua secara utuh. Ketika semua digantikan layar, maka perlahan anak kehilangan ruang tumbuh yang sehat,” ujarnya.

Bunda Dita juga menekankan bahwa pola tidur yang buruk dan minim aktivitas luar ruang dapat memengaruhi hormon pertumbuhan, kestabilan emosi, hingga kemampuan anak mengelola stres sejak usia dini.

Karena itu, menurutnya, sekolah dan keluarga tidak boleh berjalan sendiri-sendiri dalam mendidik anak di era digital.

Sementara itu, Direktur Sekolah Abata Lombok, Fahrun Nitza, S.Pd., Gr., menegaskan bahwa sekolah hari ini tidak cukup hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan.

Menurutnya, sekolah harus menjadi benteng yang menjaga kesehatan fisik, mental, emosional, dan karakter anak di tengah perubahan gaya hidup modern yang semakin tidak terkendali.

“Kalau sekolah hanya fokus pada nilai akademik tetapi membiarkan anak kehilangan kesehatan, kehilangan karakter, dan kehilangan keseimbangan hidupnya, maka pendidikan sedang gagal memahami tugas utamanya,” ujarnya.

Karena itu, Sekolah Abata Lombok mulai memperkuat budaya sekolah yang lebih sehat, lebih hangat, dan lebih manusiawi.

Anak-anak didorong aktif bergerak, berinteraksi langsung dengan teman sebaya, bermain, belajar di ruang terbuka, menjaga ritme tidur, mengurangi ketergantungan layar, hingga membangun kembali kebiasaan hidup alami yang mulai hilang di era digital.

Bagi Abata Lombok, pendidikan bukan sekadar soal nilai tinggi dan prestasi akademik.

Fenomena anak yang mudah sakit dinilai bukan hanya masalah medis, tetapi juga alarm sosial bahwa banyak keluarga mulai kehilangan keseimbangan dalam mendidik anak.

Ketika anak terlalu lama hidup di depan layar, kurang tidur, minim gerak, jarang berinteraksi secara nyata, dan terlalu sering mengonsumsi makanan instan, maka yang tumbuh bukan generasi tangguh, melainkan generasi yang mudah lelah, mudah sakit, sulit fokus, miskin daya tahan, dan rapuh menghadapi tekanan kehidupan.

Di titik inilah Sekolah Abata Lombok menempatkan pendidikan sebagai ruang pemulihan.

Bukan hanya mencetak anak pintar.

Tetapi menjaga agar anak tetap sehat, kuat, aktif, memiliki empati, mampu bersosialisasi, stabil secara emosi, serta tumbuh sebagai manusia yang utuh dan berkarakter.

Karena bagi Abata Lombok, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan anak-anaknya.

Tetapi juga oleh seberapa sehat fisiknya, seberapa kuat mentalnya, seberapa matang emosinya, dan seberapa kokoh karakter yang berhasil dibangun sejak usia dini.

Di tengah arus pendidikan yang semakin kompetitif dan serba terukur, Sekolah Abata Lombok justru memilih merawat sesuatu...
10/05/2026

Di tengah arus pendidikan yang semakin kompetitif dan serba terukur, Sekolah Abata Lombok justru memilih merawat sesuatu yang sering terlupakan: rasa kekeluargaan.

MATARAM - Momentum Halal Bi Halal dan Family Gathering 2026 SD IT ABATA LOMBOK bukan sekadar agenda silaturahmi tahunan. Di balik suasana hangat penuh tawa dan kebersamaan itu, tersimpan sebuah pesan penting tentang bagaimana sebuah sekolah membangun peradaban kecil bernama “rumah pendidikan”.

Kepala SD IT ABATA LOMBOK, Lia Oktavia, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh orang tua murid yang terlibat sebagai panitia kegiatan. Menurutnya, keberhasilan sebuah sekolah tidak hanya lahir dari kurikulum dan prestasi akademik, tetapi dari kuatnya hubungan emosional antara sekolah dan keluarga siswa.

“Karena sekolah yang hebat, lahir dari hati-hati yang saling menguatkan,” tulis Lia dalam pesan reflektifnya kepada para wali murid.

Pernyataan itu menggambarkan wajah pendidikan yang selama ini dibangun SEKOLAH ABATA LOMBOK pendidikan yang tidak hanya mengejar nilai, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki. Di lingkungan sekolah tersebut, orang tua tidak ditempatkan sebagai “pelanggan pendidikan”, melainkan bagian dari ekosistem tumbuh kembang anak.

Budaya itulah yang membuat banyak kegiatan di SEKOLAH ABATA LOMBOK terasa hidup. Orang tua hadir bukan sekadar memenuhi undangan, tetapi ikut terlibat, membantu, bahkan membangun suasana kekeluargaan yang kuat di lingkungan sekolah.

Direktur Sekolah Abata Lombok, Fahrun Nitza, sebelumnya juga beberapa kali menegaskan bahwa pendidikan sejatinya adalah kerja kolektif antara sekolah, guru, dan keluarga. Menurutnya, anak-anak akan tumbuh lebih kuat ketika melihat orang tua dan sekolah berjalan dalam frekuensi yang sama.

Di tengah kecenderungan sebagian lembaga pendidikan yang semakin berjarak dengan wali murid, pendekatan SEKOLAH ABATA LOMBOK justru bergerak ke arah sebaliknya: membangun kedekatan emosional sebagai fondasi pendidikan karakter.

Bagi SEKOLAH ABATA LOMBOK, ruang kelas bukan satu-satunya tempat belajar. Kebersamaan, gotong royong, saling membantu, dan saling menghargai antarkeluarga murid juga merupakan bagian penting dari proses pendidikan itu sendiri.

Karena itulah, Family Gathering di sekolah ini bukan hanya acara seremonial. Ia menjadi ruang untuk mempertemukan hati, memperkuat ukhuwah, dan menanamkan kepada anak-anak bahwa pendidikan terbaik lahir dari lingkungan yang penuh cinta dan keteladanan.

Mendidik Tanpa Batas: Pesan Saharjo tentang Ilmu, Guru dan Masa Depan ABATA MATARAM — Di tengah arus pendidikan modern y...
04/05/2026

Mendidik Tanpa Batas: Pesan Saharjo tentang Ilmu, Guru dan Masa Depan ABATA

MATARAM — Di tengah arus pendidikan modern yang kian pragmatis, Dr Saharjo SH MKn MH justru menegaskan kembali fondasi klasik yang kerap dilupakan: belajar adalah proses tanpa batas ruang dan waktu dan ilmu tidak lahir dari instan, melainkan dari relasi yang kuat antara guru dan murid.

Pesan itu disampaikan kepada para siswa SEKOLAH ABATA LOMBOK dalam sebuah refleksi yang sarat makna. Bagi Saharjo, usia, jarak, bahkan keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti belajar.

“Belajar tidak mengenal batas. Sekalipun umur terasa membebani, proses itu tetap harus berjalan. Karena dari situlah ilmu lahir,” ujarnya.

Sebagai pendiri SEKOLAH ABATA LOMBOK, Saharjo menempatkan hubungan antara guru dan murid sebagai inti dari seluruh proses pendidikan. Ia menyebut, ilmu bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan hasil dari ikatan emosional dan spiritual yang terbangun dalam proses belajar.

Dalam pandangannya, guru bukan hanya pengajar, melainkan “ruang samudra” tempat luas yang menyediakan kedalaman makna, pengalaman, dan kebijaksanaan. Dari sanalah, murid tidak hanya memahami pelajaran, tetapi juga menemukan arah hidupnya.

“Pada akhirnya, ilmulah yang menuntun kita sampai pada posisi hari ini, dan akan membawa kita ke masa depan,” kata Saharjo.

Pesan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan seseorang tidak bisa dilepaskan dari peran guru. Karena itu, ia menekankan pentingnya sikap hormat dan kasih sayang kepada para pendidik sebagai bagian dari etika dasar dalam menuntut ilmu.

Di lingkungan SEKOLAH ABATA LOMBOK, nilai tersebut bukan sekadar slogan. Sekolah ini dikenal mengusung pendekatan “mendidik dengan hati”, yang menempatkan relasi manusiawi sebagai fondasi utama pembelajaran. Guru didorong tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pembimbing karakter dan penjaga proses tumbuh kembang siswa.

Dalam konteks pendidikan yang semakin kompetitif, gagasan Saharjo menjadi semacam kritik halus terhadap sistem yang terlalu menekankan hasil instan. Ia mengajak siswa untuk kembali pada esensi: belajar sebagai perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan penghormatan pada guru.

Bagi Saharjo, di situlah letak kekuatan pendidikan yang sesungguhnya bukan pada cepatnya hasil, tetapi pada dalamnya proses.

Address

Jalan Adisucipto Nomor: 41 X Blok C Dan D Ampenan Kota Mataram Lombok
Mataram

Opening Hours

Monday 07:00 - 17:00
Tuesday 07:00 - 17:00
Wednesday 07:00 - 17:00
Thursday 07:00 - 17:00
Friday 07:00 - 17:00
Saturday 07:00 - 12:00

Telephone

+62818544999

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sd It Abata Lombok posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Sd It Abata Lombok:

Shortcuts

Share

Category