Sekolah ABATA Lombok

Sekolah ABATA Lombok sekolah islam abata lombok

Abata Lombok Kritik Cara Lama Mendidik Anak: Banyak Anak Pintar, Tapi Rapuh Menghadapi HidupMATARAM — Sekolah Abata Lomb...
26/05/2026

Abata Lombok Kritik Cara Lama Mendidik Anak: Banyak Anak Pintar, Tapi Rapuh Menghadapi Hidup

MATARAM — Sekolah Abata Lombok menilai dunia pendidikan Indonesia sedang menghadapi persoalan yang jauh lebih serius daripada sekadar rendahnya nilai akademik. Di balik meningkatnya prestasi dan kompetisi anak-anak, muncul generasi yang secara mental dinilai semakin mudah cemas, takut gagal, sulit mengendalikan emosi, dan kehilangan ketahanan menghadapi tekanan hidup.

Fenomena itu tidak lahir tiba-tiba. Bagi Abata Lombok, krisis karakter generasi muda justru dibentuk perlahan sejak masa kanak-kanak melalui pola pendidikan yang terlalu fokus pada hasil, tetapi minim perhatian terhadap kesehatan emosi dan pembentukan jati diri anak.

Di banyak keluarga, anak dipaksa tumbuh cepat dalam dunia kompetisi. Mereka dituntut menjadi pintar, juara, disiplin, dan berprestasi, tetapi sering kali tidak diajarkan bagaimana menghadapi kegagalan, rasa takut, tekanan sosial, atau luka emosional.

Anak-anak dipenuhi target, namun miskin ruang untuk dipahami.

Sekolah Abata Lombok melihat persoalan pendidikan modern hari ini bukan semata kurangnya fasilitas, melainkan hilangnya kesadaran bahwa anak adalah manusia yang sedang bertumbuh, bukan mesin pencetak prestasi.

Karena itu, Abata Lombok mulai membangun pendekatan pendidikan yang lebih menekankan keseimbangan antara kecerdasan akademik, kesehatan mental, keberanian sosial, dan pembentukan karakter sejak usia dini.

Direktur Sekolah Abata Lombok, Bunda Fahrun Nitza, S.Pd.Gr., mengatakan bahwa masa depan anak sebenarnya dibentuk dari pengalaman-pengalaman kecil yang terus mereka terima setiap hari.

Mulai dari bagaimana orang tua berbicara kepada anak, bagaimana guru memperlakukan kesalahan murid, bagaimana lingkungan merespons kegagalan, hingga bagaimana anak merasa diterima saat dirinya tidak sempurna.

“Banyak orang tua ingin anaknya sukses di masa depan, tetapi lupa bahwa rasa percaya diri anak dibangun dari cara mereka diperlakukan hari ini. Anak yang terus dibandingkan, ditekan, atau tidak pernah merasa cukup akan tumbuh dengan luka yang terbawa sampai dewasa,” ujar Bunda Fahrun Nitza.

Menurutnya, pendidikan karakter tidak cukup diajarkan lewat slogan motivasi atau hafalan nilai moral di kelas. Karakter dibentuk melalui suasana hidup yang dialami anak setiap hari.

Ketika anak tumbuh di lingkungan yang penuh kemarahan, tekanan, dan ketakutan, maka yang tumbuh bukan keberanian, melainkan kecemasan.

Sebaliknya, ketika anak dibesarkan dalam lingkungan yang tegas tetapi hangat, disiplin tetapi manusiawi, maka mereka lebih mudah membangun rasa aman, kemampuan berpikir jernih, dan ketahanan menghadapi hidup.

Abata Lombok juga menilai era digital memperparah tekanan psikologis anak-anak. Paparan media sosial, budaya perbandingan, tuntutan pencitraan, hingga banjir informasi membuat banyak anak kehilangan ruang tumbuh yang sehat.

Anak-anak sekarang tidak hanya berhadapan dengan pelajaran sekolah, tetapi juga tekanan untuk terlihat sempurna di depan dunia.

Karena itu, menurut Abata Lombok, sekolah masa depan tidak boleh hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi harus menjadi ruang perlindungan psikologis dan pembentukan manusia yang utuh.

Sekolah harus mampu menghadirkan rasa aman, membangun komunikasi sehat, melatih keberanian sosial, membentuk disiplin tanpa kekerasan, serta membantu anak mengenali emosinya sendiri.

“Kalau pendidikan hanya menghasilkan anak pintar tetapi mudah hancur ketika menghadapi tekanan hidup, berarti ada sesuatu yang salah dalam sistem pendidikan kita,” tegas Bunda Fahrun Nitza.

Pandangan ini menjadi salah satu alasan mengapa Abata Lombok terus mengembangkan pendekatan pendidikan berbasis karakter, komunikasi emosional sehat, dan penguatan mental anak sejak usia dini.

Bagi Abata Lombok, keberhasilan pendidikan bukan hanya soal berapa banyak anak menjadi juara, tetapi berapa banyak anak yang tumbuh menjadi manusia kuat, tenang, beradab, mampu berpikir sehat, dan tetap memiliki empati ketika dewasa nanti.

Sebab di masa depan, dunia tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas. Dunia membutuhkan manusia yang mampu bertahan, mampu memimpin dirinya sendiri, dan tidak kehilangan nurani di tengah kerasnya kehidupan.

Pendidikan Tidak Dimulai dari Bel Sekolah, Tapi Dimulai dari Hati Seorang GuruMataram - Setiap pagi di lingkungan SEKOLA...
10/05/2026

Pendidikan Tidak Dimulai dari Bel Sekolah, Tapi Dimulai dari Hati Seorang Guru

Mataram - Setiap pagi di lingkungan SEKOLAH ABATA LOMBOK selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Langkah-langkah kecil siswa mulai memenuhi halaman sekolah, suara sapaan terdengar hangat, dan di balik semua itu ada para guru yang datang lebih awal—membawa semangat baru untuk memulai pekan pendidikan.

Ketua Tim Pengendali Mutu SEKOLAH ABATA LOMBOK, Candidat Doktor Hj Amalia Shufiana SSi Apt MM, menegaskan bahwa hari Senin bukan sekadar pergantian kalender belajar, tetapi momentum untuk kembali menyalakan harapan di ruang-ruang kelas.

Menurutnya, guru bukan hanya pengajar yang menyampaikan materi pelajaran. Guru adalah sosok yang hadir membawa kesabaran, perhatian, dan keyakinan bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi pribadi terbaiknya.

“Kadang ada siswa yang belum memahami pelajaran, ada yang kehilangan semangat, bahkan ada yang diam-diam sedang berjuang dengan masalahnya sendiri. Di situlah guru hadir, bukan hanya mengajar, tetapi membersamai,” ujarnya dalam pesan motivasi kepada seluruh tenaga pendidik.

Budaya pendidikan seperti inilah yang terus dibangun oleh SEKOLAH ABATA LOMBOK. Sekolah tidak hanya menekankan capaian akademik, tetapi juga membangun hubungan emosional yang kuat antara guru dan siswa. Pendekatan “mendidik dengan hati” menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter peserta didik.

Di tengah tantangan pendidikan modern yang semakin kompleks, SEKOLAH ABATA LOMBOK memandang bahwa kualitas sekolah tidak hanya diukur dari nilai rapor, tetapi dari kemampuan sekolah menghadirkan rasa aman, dihargai, dan didukung bagi setiap anak.

Bagi SEKOLAH ABATA LOMBOK, satu kalimat penyemangat dari guru dapat mengubah hari seorang siswa. Satu perhatian sederhana dapat membuat anak merasa berarti. Dan satu keyakinan yang diberikan guru bisa menjadi alasan seorang anak untuk tetap melangkah mengejar masa depannya.

Pesan moral itu menjadi pengingat bahwa pendidikan sejati selalu dimulai dari hati para guru yang tidak pernah lelah menyalakan cahaya harapan, setiap hari, bahkan sejak Senin pagi dimulai.

Ruang Ekspresi Dibuka, Panggung Prestasi Dikejar: SD IT ABATA LOMBOK Menggerakkan Dukungan untuk SiswaMATARAM — Di tenga...
03/05/2026

Ruang Ekspresi Dibuka, Panggung Prestasi Dikejar: SD IT ABATA LOMBOK Menggerakkan Dukungan untuk Siswa

MATARAM — Di tengah arus pendidikan yang kerap menitikberatkan capaian akademik semata, SD IT ABATA LOMBOK mengambil posisi berbeda. Sekolah ini tidak hanya mengajar, tetapi juga secara konsisten membuka ruang ekspresi bagi setiap siswa untuk tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri, berani tampil dan siap menghadapi panggung kehidupan.

Pendekatan itu kembali terlihat ketika salah satu siswinya, Sitti Malayka Qonita Sharifa, melaju ke Grand Final Pemilihan Putra Putri Pendidikan NTB 2026 yang akan diselenggarakan pada Sabtu, 10 Mei 2026 di Sapadia Hotel Lombok.

Bagi SD IT ABATA LOMBOK, capaian ini bukan sekadar prestasi personal, melainkan refleksi dari sistem pendidikan yang memberi ruang tumbuh bagi potensi anak secara menyeluruh. Dari aktivitas kelas hingga panggung kompetisi, siswa didorong untuk mengekspresikan diri dan menemukan kekuatan terbaiknya.

Kepala SD IT ABATA LOMBOK, Lia Oktavia, menegaskan bahwa pendidikan harus mampu menghadirkan ruang yang aman dan luas bagi perkembangan karakter anak.

“Setiap anak memiliki potensi yang unik. Tugas sekolah adalah membuka ruang itu, memberi kesempatan, dan mendampingi dengan penuh kesadaran agar anak berani melangkah,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa keberhasilan seorang siswa tidak lahir dari kerja individu semata, melainkan hasil dari kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan lingkungan. Karena itu, SD IT ABATA LOMBOK mengajak seluruh Ayah Bunda serta masyarakat untuk turut memberikan doa dan dukungan.

Ajakan ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari keyakinan bahwa kekuatan dukungan kolektif dapat menjadi energi besar bagi anak untuk tampil maksimal dan mengharumkan nama sekolah.

Di tengah praktik pendidikan yang masih sering membatasi ekspresi, langkah SD IT ABATA LOMBOK menjadi penegasan bahwa sekolah adalah ruang tumbuh tempat anak belajar mengenali diri, membangun keberanian, dan siap berdiri di panggung yang lebih luas.

Kini, panggung itu sudah di depan mata. Dan dari SD IT ABATA LOMBOK, satu pesan disampaikan: mari hadirkan dukungan bersama, karena di balik setiap anak hebat, ada lingkungan yang memilih untuk percaya.

Di Hari Kemenangan, Saharjo Ajak Keluarga Besar Abata Kembali ke Hati yang Paling JernihMataram — Di tengah hangatnya su...
19/03/2026

Di Hari Kemenangan, Saharjo Ajak Keluarga Besar Abata Kembali ke Hati yang Paling Jernih

Mataram — Di tengah hangatnya suasana Idul Fitri 1447 Hijriah, Penasehat Konsorsium Yayasan Pengelola Pendidikan Abata Lombok, Dr. Saharjo, S.H., M.Kn., M.H., menyampaikan ucapan yang sarat makna dan menyentuh hati kepada seluruh keluarga besar Abata dan masyarakat.

“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga hati kembali suci dan penuh kedamaian,” ujarnya lirih dalam keterangan tertulis.

Bagi Saharjo, Idul Fitri bukan sekadar perayaan setelah sebulan berpuasa. Lebih dari itu, ia adalah perjalanan pulang—pulang ke hati yang bersih, ke jiwa yang lebih lembut, dan ke kesadaran untuk saling memaafkan.

Ia mengingatkan bahwa dalam dunia pendidikan, terutama di lingkungan Abata Lombok, nilai-nilai itu harus hidup, tumbuh, dan dirasakan oleh setiap anak.

“Anak-anak kita tidak hanya butuh ilmu, tetapi juga butuh keteladanan. Mereka belajar dari apa yang kita lakukan dari cara kita memaafkan, dari cara kita peduli, dari cara kita mencintai,” kata Saharjo.

Dalam suasana yang penuh haru, ia juga mengajak orang tua, guru, dan seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan Idul Fitri sebagai titik balik memperbaiki hubungan, menguatkan kasih sayang, dan menghadirkan pendidikan yang lebih manusiawi.

“Jika hari ini kita mampu memaafkan dengan tulus, maka di situlah pendidikan sejati dimulai. Dari hati yang bersih, akan lahir generasi yang kuat dan penuh empati,” ujarnya.

Saharjo berharap, semangat Idul Fitri tidak berhenti pada ucapan, tetapi menjelma menjadi gerakan nyata dalam kehidupan sehari-hari baik di rumah, di sekolah, maupun di tengah masyarakat.

“Semoga langkah kecil kita hari ini menjadi cahaya bagi masa depan anak-anak kita. Dari Abata, untuk Indonesia yang lebih beradab dan penuh kasih,” tuturnya.

Tim Psikolog Sekolah Abata Lombok Bantu Orang Tua Memahami Psikologi AnakMATARAM — Banyak orang tua sering kebingungan m...
11/03/2026

Tim Psikolog Sekolah Abata Lombok Bantu Orang Tua Memahami Psikologi Anak

MATARAM — Banyak orang tua sering kebingungan menghadapi perilaku anak yang sulit dipahami. Anak menangis tanpa sebab yang jelas, memukul orang tua, atau melempar barang ketika keinginannya tidak terpenuhi. Situasi seperti ini kerap memicu emosi orang tua, bahkan berujung pada kemarahan.

Padahal, menurut para ahli perkembangan anak, perilaku tersebut tidak selalu menandakan anak bersikap nakal. Sering kali, perilaku itu merupakan cara anak mengekspresikan kebutuhan emosional yang belum mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata.

Melihat fenomena tersebut, tim psikolog Sekolah Abata Lombok mengambil langkah untuk membantu para orang tua memahami psikologi anak melalui pendekatan pemetaan perilaku dan kebutuhan emosional anak dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu anggota tim psikolog Abata Lombok, Bunda Dita, menjelaskan bahwa banyak konflik antara orang tua dan anak sebenarnya berawal dari kesalahpahaman dalam membaca emosi anak.

“Ketika anak menangis, memukul, atau melempar barang, sebenarnya ada pesan yang ingin disampaikan. Anak belum selalu mampu menjelaskan perasaannya dengan kata-kata. Karena itu orang tua perlu memahami makna di balik perilaku tersebut,” ujarnya.

Melalui pendekatan ini, tim psikolog Abata membantu orang tua mengenali berbagai perilaku yang sering muncul pada anak serta memahami kebutuhan emosional yang melatarbelakanginya. Dengan pemahaman tersebut, orang tua diharapkan dapat merespons anak dengan cara yang lebih tenang, empatik, dan mendidik.

Pendampingan juga diarahkan untuk membantu orang tua menanamkan kebiasaan baik sejak dini serta memperkuat komunikasi antara orang tua dan anak di dalam keluarga.

Sementara itu, Dr. Saharjo, S.H., M.Kn., M.H., selaku penasehat Konsorsium Yayasan Pengelola Pendidikan Abata Lombok, menegaskan bahwa pendidikan anak memerlukan kolaborasi erat antara sekolah dan orang tua.

“Sekolah tidak hanya mengajar akademik, tetapi juga membantu orang tua memahami perkembangan psikologis anak. Ketika orang tua dan sekolah berjalan bersama, proses pendidikan anak akan jauh lebih efektif,” kata Saharjo.

Ia menambahkan, upaya memahami psikologi anak sejak dini merupakan bagian penting dalam membangun karakter, kecerdasan emosional, serta kepercayaan diri anak.

Melalui langkah-langkah pendampingan yang dilakukan tim psikolog, Sekolah Abata Lombok berharap semakin banyak orang tua yang mampu mendidik anak dengan cara yang lebih tenang, penuh empati, serta mempererat hubungan emosional antara orang tua dan anak.

Abata Gagas Pembangunan Masjid Agung Mataram di Komplek Sekolah Abata LombokMataram — Sebuah langkah besar tengah dipers...
08/03/2026

Abata Gagas Pembangunan Masjid Agung Mataram di Komplek Sekolah Abata Lombok

Mataram — Sebuah langkah besar tengah dipersiapkan oleh Abata melalui pengembangan kawasan pendidikan di Sekolah Abata Lombok. Dalam rencana pengembangan tersebut, Abata menggagas pembangunan Masjid Agung Mataram, sebuah masjid yang dirancang bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan pendidikan dan pembinaan generasi muda.

Masjid ini direncanakan berdiri di dalam komplek Sekolah Abata Lombok dan berada di pinggir Jalan Raya Adisucipto Ampenan, salah satu jalur utama di Kota Mataram. Lokasi ini juga berada tidak jauh dari Islamic Center Mataram, sehingga kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan keislaman di wilayah kota.

Dengan posisi yang strategis tersebut, masjid diharapkan tidak hanya melayani kebutuhan ibadah warga sekolah, tetapi juga dapat menjadi tempat ibadah dan kegiatan keagamaan bagi masyarakat sekitar.

Pendirian masjid ini juga menjadi langkah awal dalam mempersiapkan berdirinya Pondok Pesantren Abata Lombok. Dalam tradisi pendidikan Islam, masjid selalu menjadi pusat kegiatan pesantren, tempat berlangsungnya shalat berjamaah, kajian ilmu, pembinaan akhlak, serta pembentukan karakter para santri.

Karena itu, guna mempersiapkan pendirian Pondok Pesantren Abata Lombok, pembangunan masjid menjadi prioritas pertama. Masjid akan menjadi pusat kehidupan santri dan guru, sekaligus ruang awal tumbuhnya budaya belajar di lingkungan pesantren.

Sebagai bagian dari langkah persiapan tersebut, konsultan pembangunan masjid telah melakukan kunjungan ke Sekolah Abata Lombok pada hari Minggu, 8 Maret 2026. Kunjungan ini dilakukan untuk meninjau langsung lokasi pembangunan sekaligus melakukan diskusi awal mengenai konsep arsitektur serta tahapan pembangunan masjid yang direncanakan.

Rencana pembangunan ini merupakan salah satu tahapan penting dalam melengkapi sarana penunjang pendidikan di lingkungan Sekolah Abata Lombok. Kehadiran masjid diharapkan dapat memperkuat ekosistem pendidikan yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembinaan spiritual dan karakter para pelajar.

Masjid Agung Mataram dirancang dengan arsitektur kayu bergaya joglo Nusantara yang mengusung inspirasi arsitektur Masjid Demak. Desain ini menghadirkan nuansa tradisional yang hangat, terbuka, serta sarat nilai-nilai keislaman dan kebudayaan Nusantara.

Inspirasi tersebut merujuk pada Masjid Agung Demak, yang dikenal dengan struktur atap tumpang tiga dan tiang-tiang kayu utama yang kokoh. Konsep arsitektur ini mencerminkan kesederhanaan, kekuatan, dan kebersamaan dalam kehidupan umat.

Bangunan masjid diproyeksikan mampu menampung lebih dari seribu jamaah, sekaligus menjadi ruang yang hidup sepanjang hari dengan berbagai aktivitas pendidikan dan pembinaan.

Material utama masjid menggunakan kayu jati berkualitas yang dipilih karena kekuatan dan daya tahannya dalam jangka panjang. Selain menghadirkan nuansa arsitektur Nusantara yang hangat, struktur kayu juga memiliki keunggulan dari sisi fleksibilitas konstruksi.

Hal ini menjadi penting karena wilayah Pulau Lombok dikenal sebagai daerah yang rawan aktivitas gempa. Struktur kayu yang lebih ringan dan lentur dinilai lebih adaptif terhadap getaran dibandingkan bangunan beton yang kaku. Dengan pendekatan ini, masjid diharapkan tidak hanya indah secara arsitektur, tetapi juga aman dan tangguh terhadap kondisi alam.

Menariknya, pembangunan ruang belajar permanen di kawasan Sekolah Abata Lombok akan dimulai dengan pembangunan masjid terlebih dahulu. Langkah ini dipilih karena Abata memandang bahwa pusat pendidikan yang kuat harus diawali dengan pusat spiritual yang kokoh.

Dengan demikian, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang belajar pertama, tempat berlangsungnya kajian ilmu, pembinaan karakter, serta pertemuan gagasan para pelajar dan guru.

Lebih dari sekadar bangunan fisik, masjid ini juga diharapkan menjadi ruang spiritual yang menumbuhkan kedekatan manusia dengan Allah. Di tempat ini para pelajar dan santri dibimbing untuk menumbuhkan nilai-nilai keikhlasan, ketawadhuan, kedisiplinan dalam ibadah, serta kecintaan terhadap ilmu.

Suasana masjid dirancang agar menghadirkan ketenangan batin, menjadi tempat para pelajar merenung, berdoa, dan memperbaiki diri. Dari tempat inilah diharapkan tumbuh generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki hati yang lembut, akhlak yang baik, serta tanggung jawab terhadap masyarakat.

Ke depan, di sekitar masjid juga direncanakan berkembang berbagai fasilitas pendidikan pendukung seperti ruang belajar, asrama santri, perpustakaan, serta ruang kegiatan pembinaan pelajar.

Dengan konsep ini, masjid tidak hanya ramai saat waktu shalat, tetapi juga hidup dengan berbagai kegiatan pendidikan. Setelah shalat Subuh akan berlangsung kajian keislaman, pada sore hari anak-anak mengikuti pendidikan Al-Qur’an, sementara pada malam hari para pelajar dan santri mengikuti majelis ilmu.

Pembangunan fisik kawasan ini direncanakan dimulai secara bertahap pada bulan September 2027, bersamaan dengan soft launching Pondok Pesantren Abata yang menjadi bagian dari pengembangan pendidikan di komplek Sekolah Abata Lombok.

Melalui langkah ini, Abata berharap dapat menghadirkan sebuah lingkungan pendidikan yang kuat secara spiritual, kokoh dalam karakter, serta mampu melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Sekolah Abata Lombok Bentuk Konsorsium, Konsolidasi Jadi Jaringan Pendidikan RegionalMATARAM — Sekolah Abata Lombok mere...
20/02/2026

Sekolah Abata Lombok Bentuk Konsorsium, Konsolidasi Jadi Jaringan Pendidikan Regional

MATARAM — Sekolah Abata Lombok meresmikan pembentukan Konsorsium Yayasan Pengelola Pendidikan Abata sebagai langkah konsolidasi seluruh unit pendidikan di bawah satu sistem terpadu. Kebijakan ini menandai perubahan struktur pengelolaan dari model unit terpisah menjadi jaringan pendidikan regional berbasis ekosistem.

Konsorsium tersebut menyatukan Kelompok Bermain, TK, SD, SMP, hingga SMA dalam satu kerangka tata kelola, manajemen keuangan, serta arah strategis pendidikan. Dengan jumlah peserta didik rubuan siswa, Abata kini mengadopsi pendekatan integratif yang menghubungkan kurikulum, pembinaan karakter, layanan gizi, hingga sistem administrasi digital dalam satu desain kelembagaan.

Direksi sekolah menyebut konsorsium ini bertujuan memperkuat koordinasi, efisiensi anggaran, serta standarisasi mutu antarunit. Selain itu, model ini juga membuka ruang kolaborasi dengan sektor profesional dan dunia usaha untuk mendukung keberlanjutan program pendidikan.

Penasehat Konsorsium Yayasan Pengelola Pendidikan Abata, Dr. Saharjo, SH., M.Kn., M.H., mengatakan pembentukan konsorsium merupakan respons atas kebutuhan tata kelola pendidikan yang lebih terstruktur.

“Pendidikan tidak cukup dikelola secara administratif. Ia harus dibangun dalam satu ekosistem yang saling terhubung antara yayasan, sekolah, guru, orang tua dan masyarakat. Konsorsium ini memastikan arah kebijakan berjalan dalam satu visi yang konsisten,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan ekosistem memungkinkan pengawasan yang lebih transparan serta distribusi sumber daya yang lebih terukur. Ia menilai, tanpa konsolidasi, pertumbuhan lembaga berisiko tidak seimbang antarunit.

Konsorsium juga dirancang untuk memperkuat akuntabilitas publik melalui sistem pelaporan terintegrasi dan standar operasional yang seragam. Dalam jangka panjang, Abata menargetkan diri sebagai model jaringan pendidikan regional yang dapat direplikasi di wilayah lain di Nusa Tenggara Barat.

Langkah ini menjadi fase baru bagi Abata bukan sekadar ekspansi jumlah siswa, melainkan restrukturisasi kelembagaan untuk memastikan keberlanjutan dan stabilitas sistem pendidikan yang mereka kelola.

Saharjo: “Trauma Masa Kecil Bisa Terbentuk dari Lingkungannya”Mataram – Praktisi hipnoterapi, Dr. Saharjo SH MKn MH, men...
16/02/2026

Saharjo: “Trauma Masa Kecil Bisa Terbentuk dari Lingkungannya”

Mataram – Praktisi hipnoterapi, Dr. Saharjo SH MKn MH, menegaskan bahwa trauma masa kecil sering kali tidak lahir dari satu peristiwa besar saja, melainkan dari lingkungan yang terus-menerus membentuk pola emosi dan cara berpikir seorang anak.

“Trauma masa kecil bisa terbentuk dari lingkungannya. Dari kata-kata yang diulang, dari sikap yang terus diterima, bahkan dari suasana rumah yang tidak sehat,” ujar Saharjo dalam sebuah sesi edukasi psikologis.

Menurutnya, banyak orang dewasa membawa luka batin tanpa menyadari akar permasalahannya. Rasa tidak percaya diri, ketakutan berlebihan, sulit membangun relasi sehat, hingga kecenderungan menyalahkan diri sendiri sering kali berakar pada pengalaman masa kecil yang tidak terselesaikan.

Sebagai praktisi hipnoterapi, Saharjo menjelaskan bahwa pikiran bawah sadar anak sangat mudah menyerap sugesti dari lingkungan sekitar baik itu ucapan orang tua, perlakuan guru, maupun pola interaksi sosial.

“Anak tidak hanya mendengar, tetapi menyimpan. Dan yang tersimpan di bawah sadar itulah yang membentuk kepribadiannya di masa depan,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya lingkungan yang aman secara emosional. Bukan berarti anak tidak boleh ditegur, tetapi cara penyampaian, konsistensi kasih sayang, dan stabilitas emosi orang dewasa di sekitarnya sangat menentukan.

Lebih jauh, Saharjo juga menyampaikan bahwa trauma bukan vonis seumur hidup. Dengan kesadaran, pendampingan yang tepat, dan proses terapi yang terarah, luka batin dapat dipulihkan.

“Lingkungan bisa melukai, tetapi lingkungan juga bisa menyembuhkan,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi orang tua, pendidik, dan masyarakat bahwa setiap kata dan sikap memiliki dampak jangka panjang. Membangun generasi yang kuat tidak hanya soal pendidikan akademik, tetapi juga kesehatan emosional sejak dini.

SEKOLAH ABATA LOMBOKBukan Sekadar Sekolah.Ini Adalah Tempat Masa Depan DiciptakanDi saat banyak sekolah berlomba mengeja...
11/01/2026

SEKOLAH ABATA LOMBOK

Bukan Sekadar Sekolah.

Ini Adalah Tempat Masa Depan Diciptakan

Di saat banyak sekolah berlomba mengejar angka, Sekolah Abata Lombok memilih membangun manusia

Di tengah dunia yang bising oleh gawai, krisis pangan, krisis energi, dan krisis karakter,
kami berdiri dengan keyakinan kuat:

anak-anak harus belajar hidup,
bukan hanya belajar menghafal.

Inilah Sekolah Abata Lombok

Sebuah sekolah yang mengajarkan anak:

*dari mana makanan berasal,
* bagaimana energi diciptakan,
* bagaimana sampah diolah,
* dan bagaimana kehidupan dijalani dengan tanggung jawab.

Di sini, anak-anak menanam sayur dan padi

Sekolah Abata Lombok Bangun Ekosistem Pendidikan Terintegrasi, Siap Menjadi Magnet Pendidikan Berkelanjutan di NTBLombok...
27/12/2025

Sekolah Abata Lombok Bangun Ekosistem Pendidikan Terintegrasi, Siap Menjadi Magnet Pendidikan Berkelanjutan di NTB

Lombok, NTB – Di tengah meningkatnya kebutuhan akan pendidikan berkualitas dan berkelanjutan, Sekolah Abata Lombok tampil sebagai salah satu institusi pendidikan paling progresif dan menjanjikan di Nusa Tenggara Barat. Tidak hanya berkembang sebagai sekolah unggulan, Sekolah Abata Lombok kini bergerak lebih jauh sebagai ekosistem pendidikan terintegrasi yang membuka ruang kolaborasi luas bagi mitra strategis di bidang pendidikan.

Dengan lebih dari 1.500 peserta didik aktif yang tersebar dari jenjang Kelompok Bermain (KB), TK, SD, SMP hingga SMA, Abata Lombok menunjukkan stabilitas pertumbuhan dan tingkat kepercayaan publik yang kuat. Pencapaian ini menjadi indikator bahwa model pendidikan yang diterapkan Sekolah Abata Lombok menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memiliki nilai keberlanjutan jangka panjang.

Pembina Sekolah Abata Lombok, Dr. Saharjo, S.H., M.Kn., M.H., menegaskan bahwa Sekolah Abata Lombok sejak awal dirancang bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi sebagai sistem yang mampu tumbuh dan memberi dampak luas.

“Sekolah Abata Lombok kami bangun sebagai ekosistem pendidikan yang berkelanjutan. Fokus kami bukan hanya pada capaian akademik, tetapi pada pembentukan karakter, inklusi sosial, dan kesiapan generasi masa depan. Inilah yang menjadikan Sekolah Abata Lombok relevan bagi masyarakat sekaligus menarik bagi mitra pendidikan lainnya” ujar Saharjo.

Sekolah Abata Lombok dikenal dengan pendekatan pendidikan holistik dan inklusif yang diterapkan secara nyata. Sistem kurikulum adaptif, penguatan kompetensi guru, pendampingan individual anak, serta fasilitas pendukung seperti Abata Sensori Land menjadi diferensiasi utama yang menempatkan Sekolah Abata Lombok pada posisi strategis di sektor pendidikan.

Direktur Sekolah Abata Lombok, Fahrun Nitza, S.Pd., Gr., menyampaikan bahwa pengembangan Sekolah Abata Lombok dilakukan melalui tata kelola profesional dan berbasis data, sehingga pertumbuhan sekolah tetap terjaga tanpa mengorbankan kualitas.

“Kami memastikan setiap unit pendidikan di Sekolah Abata Lombok dikelola secara profesional, terukur, dan konsisten. Sistem yang kami bangun memungkinkan sekolah bertumbuh secara sehat, dengan kualitas layanan yang tetap terjaga dari jenjang paling dasar hingga menengah,” jelas Fahrun Nitza.

Dari perspektif pendidikan berkelanjutan, Sekolah Abata Lombok memiliki fundamental yang kuat melalui diversifikasi unit, tingkat retensi siswa lintas jenjang yang tinggi, serta reputasi institusi yang terus meningkat. Kondisi ini membuka peluang pengembangan Sekolah Abata Lombok di seluruh wilayah Nusa Tenggara Barat, kemitraan operasional, pelatihan guru, hingga replikasi model pendidikan di wilayah lain.

Lebih dari itu, Sekolah Abata Lombok menawarkan konsep pendidikan berdampak yang memadukan stabilitas pendidikan dengan kemanfaatan sosial. Kontribusi nyata dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, perluasan akses pendidikan inklusif, serta pembentukan karakter generasi muda menjadi nilai tambah yang signifikan bagi mitra strategis.

Di tengah dinamika dunia pendidikan yang semakin kompetitif, Sekolah Abata Lombok hadir sebagai institusi yang tidak hanya mendidik, tetapi membangun sistem dan peradaban.

Dengan visi jangka panjang dan manajemen yang solid, Sekolah Abata Lombok siap menjadi mitra strategis bagi lembaga pendidikan yang ingin tumbuh bersama dalam sektor pendidikan yang berkelanjutan dan berdampak luas.

Sekolah Abata Lombok — Membangun Sistem Pendidikan, Menumbuhkan Kepercayaan, Menciptakan Masa Depan.

Sekolah Abata Lombok Perkuat Pendidikan Inklusi, Hadirkan Abata Sensori Land KidsLombok, NTB — Sekolah Abata Lombok teru...
27/12/2025

Sekolah Abata Lombok Perkuat Pendidikan Inklusi, Hadirkan Abata Sensori Land Kids

Lombok, NTB — Sekolah Abata Lombok terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang ramah, adil, dan bermartabat melalui penyelenggaraan pendidikan inklusi di seluruh jenjang pendidikan, mulai dari Kelompok Bermain (KB), TK, SD, SMP hingga SMA.

Sekolah Abata Lombok terus mengembangkan sistem pendidikan inklusi yang terintegrasi dengan pembelajaran kelas reguler, pendampingan guru, serta layanan khusus melalui Abata Sensori Land Kids sebagai ruang dukungan sensori bagi peserta didik.

Fahrun Nitza SPd gr selaku Direktur Sekolah Abata Lombok menyampaikan bahwa pendidikan inklusi bukan sekadar program tambahan, melainkan bagian dari budaya sekolah. “Setiap anak memiliki potensi yang unik. Tugas sekolah adalah memastikan tidak ada anak yang tertinggal hanya karena perbedaan cara belajar atau kebutuhan dukungan,” ujarnya.

Pendekatan Humanis Tanpa Diskriminasi

Pendidikan inklusi di Sekolah Abata Lombok dijalankan dengan pendekatan humanis dan non-medis, tanpa pelabelan terhadap anak. Fokus layanan diarahkan pada kebutuhan dukungan, seperti peningkatan konsentrasi, regulasi emosi, interaksi sosial, serta adaptasi belajar di kelas.

Pendekatan ini diterapkan melalui penyesuaian metode pembelajaran oleh guru, penguatan iklim kelas yang ramah anak, serta komunikasi dan kolaborasi aktif dengan orang tua.

Abata Sensori Land Kids Jadi Inovasi Unggulan

Sebagai bagian dari sistem inklusi, Sekolah Abata Lombok menghadirkan Abata Sensori Land Kids, ruang layanan sensori yang dirancang untuk membantu anak mencapai kesiapan belajar yang optimal.

Melalui berbagai aktivitas sensori, anak dibantu untuk menenangkan emosi, meningkatkan fokus, serta mempersiapkan diri sebelum mengikuti pembelajaran di kelas reguler. Layanan ini bersifat preventif dan mendukung perkembangan anak secara berkelanjutan.

Capaian Positif

Berdasarkan hasil evaluasi internal sekolah, pelaksanaan pendidikan inklusi di Sekolah Abata Lombok menunjukkan hasil yang positif. Anak-anak yang membutuhkan dukungan khusus mampu mengikuti kegiatan belajar bersama teman sebaya, menunjukkan peningkatan partisipasi sosial, serta berkembang lebih percaya diri.

Selain itu, lingkungan sekolah dinilai semakin ramah dan inklusif, dengan meningkatnya penerimaan sosial di antara peserta didik serta kepercayaan orang tua terhadap layanan sekolah.

Siap Jadi Rujukan Inklusi di NTB

Ke depan, Sekolah Abata Lombok berkomitmen untuk terus meningkatkan kapasitas guru inklusi, mengembangkan layanan Abata Sensori Land, serta memperkuat budaya sekolah yang menghargai keberagaman.

Dengan jumlah peserta didik lebih dari 1.500 siswa dari berbagai jenjang pendidikan, Sekolah Abata Lombok menegaskan diri sebagai salah satu lembaga pendidikan yang siap menjadi rujukan praktik baik pendidikan inklusi di Nusa Tenggara Barat.

Address

Adisucipto Nomor 41 Kelurahan Ampenan Utara Kecamatan Ampenan Mataram
Mataram
83511

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sekolah ABATA Lombok posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Sekolah ABATA Lombok:

Shortcuts

Share

Category