26/05/2026
Abata Lombok Kritik Cara Lama Mendidik Anak: Banyak Anak Pintar, Tapi Rapuh Menghadapi Hidup
MATARAM — Sekolah Abata Lombok menilai dunia pendidikan Indonesia sedang menghadapi persoalan yang jauh lebih serius daripada sekadar rendahnya nilai akademik. Di balik meningkatnya prestasi dan kompetisi anak-anak, muncul generasi yang secara mental dinilai semakin mudah cemas, takut gagal, sulit mengendalikan emosi, dan kehilangan ketahanan menghadapi tekanan hidup.
Fenomena itu tidak lahir tiba-tiba. Bagi Abata Lombok, krisis karakter generasi muda justru dibentuk perlahan sejak masa kanak-kanak melalui pola pendidikan yang terlalu fokus pada hasil, tetapi minim perhatian terhadap kesehatan emosi dan pembentukan jati diri anak.
Di banyak keluarga, anak dipaksa tumbuh cepat dalam dunia kompetisi. Mereka dituntut menjadi pintar, juara, disiplin, dan berprestasi, tetapi sering kali tidak diajarkan bagaimana menghadapi kegagalan, rasa takut, tekanan sosial, atau luka emosional.
Anak-anak dipenuhi target, namun miskin ruang untuk dipahami.
Sekolah Abata Lombok melihat persoalan pendidikan modern hari ini bukan semata kurangnya fasilitas, melainkan hilangnya kesadaran bahwa anak adalah manusia yang sedang bertumbuh, bukan mesin pencetak prestasi.
Karena itu, Abata Lombok mulai membangun pendekatan pendidikan yang lebih menekankan keseimbangan antara kecerdasan akademik, kesehatan mental, keberanian sosial, dan pembentukan karakter sejak usia dini.
Direktur Sekolah Abata Lombok, Bunda Fahrun Nitza, S.Pd.Gr., mengatakan bahwa masa depan anak sebenarnya dibentuk dari pengalaman-pengalaman kecil yang terus mereka terima setiap hari.
Mulai dari bagaimana orang tua berbicara kepada anak, bagaimana guru memperlakukan kesalahan murid, bagaimana lingkungan merespons kegagalan, hingga bagaimana anak merasa diterima saat dirinya tidak sempurna.
“Banyak orang tua ingin anaknya sukses di masa depan, tetapi lupa bahwa rasa percaya diri anak dibangun dari cara mereka diperlakukan hari ini. Anak yang terus dibandingkan, ditekan, atau tidak pernah merasa cukup akan tumbuh dengan luka yang terbawa sampai dewasa,” ujar Bunda Fahrun Nitza.
Menurutnya, pendidikan karakter tidak cukup diajarkan lewat slogan motivasi atau hafalan nilai moral di kelas. Karakter dibentuk melalui suasana hidup yang dialami anak setiap hari.
Ketika anak tumbuh di lingkungan yang penuh kemarahan, tekanan, dan ketakutan, maka yang tumbuh bukan keberanian, melainkan kecemasan.
Sebaliknya, ketika anak dibesarkan dalam lingkungan yang tegas tetapi hangat, disiplin tetapi manusiawi, maka mereka lebih mudah membangun rasa aman, kemampuan berpikir jernih, dan ketahanan menghadapi hidup.
Abata Lombok juga menilai era digital memperparah tekanan psikologis anak-anak. Paparan media sosial, budaya perbandingan, tuntutan pencitraan, hingga banjir informasi membuat banyak anak kehilangan ruang tumbuh yang sehat.
Anak-anak sekarang tidak hanya berhadapan dengan pelajaran sekolah, tetapi juga tekanan untuk terlihat sempurna di depan dunia.
Karena itu, menurut Abata Lombok, sekolah masa depan tidak boleh hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi harus menjadi ruang perlindungan psikologis dan pembentukan manusia yang utuh.
Sekolah harus mampu menghadirkan rasa aman, membangun komunikasi sehat, melatih keberanian sosial, membentuk disiplin tanpa kekerasan, serta membantu anak mengenali emosinya sendiri.
“Kalau pendidikan hanya menghasilkan anak pintar tetapi mudah hancur ketika menghadapi tekanan hidup, berarti ada sesuatu yang salah dalam sistem pendidikan kita,” tegas Bunda Fahrun Nitza.
Pandangan ini menjadi salah satu alasan mengapa Abata Lombok terus mengembangkan pendekatan pendidikan berbasis karakter, komunikasi emosional sehat, dan penguatan mental anak sejak usia dini.
Bagi Abata Lombok, keberhasilan pendidikan bukan hanya soal berapa banyak anak menjadi juara, tetapi berapa banyak anak yang tumbuh menjadi manusia kuat, tenang, beradab, mampu berpikir sehat, dan tetap memiliki empati ketika dewasa nanti.
Sebab di masa depan, dunia tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas. Dunia membutuhkan manusia yang mampu bertahan, mampu memimpin dirinya sendiri, dan tidak kehilangan nurani di tengah kerasnya kehidupan.