17/01/2022
Kali ini Salunga Institute berkunjung di SMAN 3 DOMPU dalam rangka konsolidasi dan koordinasi kegiatan Festival Literasi yang dicanangkan pada bulan 4 2022 di Dompu, kegiatan ini mendapat respon positif dari beberapa lembaga, komunitas, dan person.
Kepala SMAN 3 DOMPU terlihat antusias dan kepedulian yang tinggi terhadap budaya literasi, Salunga Institute hadir untuk menciptakan terobosan demi menguatkan mental SDM yang kritis dan berintegrasi.
Berbicara pendidikan maka tidak bisa dijauhkan dari keterlibatan peran semua unsur, literasi sebagai faktor penting tidak boleh dianggap sederhana, apalagi kondisi pendidikan di daerah seperti di Kab Dompu butuh perhatian besar para lembaga dan pemerintah, oleh sebab itu titik, konsennya adalah bagaimana perhatian tersebut diterjemahkan dengan penggalangan aksi nyata terus mengaktualkan konsep real dari gerakan literasi.
Sebagai motifasi besar Salunga Institute hadir dan berkecimpun dalam gerakan tersebut adalah membiasnya kenakalan pelajar yang mengarah pada tindakan radikal atau ancaman NARKOBA yang merajalela di lingkup pendidikan itu sendiri, jika ini dibiarkan maka Dompu akan menjadi daerah tertinggi tingkat keparahan dan radikal di Indonesia.
Mengingat pelajar-pelajar saat ini adalah tongkat estafet kepemimpinan di masa yang akan datang, kekhawatiran ini bukan tanpa sebab, di tingkat SMA di Kab. Dompu sendiri ternyata masih banyak pelajar yang belum bisa membaca. Motifasi diri para pelajar sangat kurang, apalagi di tambah dengan minimnya fasilitas yang memadai di tiap-tiap sekolah,..fakta tersebut menunjukkan lemahnya penguatan literasi disatuan pendidikan, dan ketidakpedulian para orangtua untuk mengontrol kualitas belajar anaknya.
Diera kebebasan seperti ini semua menjadi dilema, seolah-olah tanggungjawab sosial tumpul dan cenderung pembiaran, efeknya pelajar mencari ruang tersendiri tanpa membangun harapan hidup yang lebih baik. Baru-baru ini warga dihebohkan dengan kelompok GENG PANAH, para geng yang bekerja untuk memanah orang-orang yang tidak bersalah di beberapa tempat di Dompu, mereka terdiri dari 23 Geng yang bergabung adalah para mental pemberani yang telah lolos uji nyali memanah, salah satu korban yang firal adalah anak dari salah satu KADIS di Dompu.
Fenemena tersebut cukup miris bagi kita semua, pelajar bukan lagi bermental pelajar (terdidik) tetapi berubah menjadi predator kemanusiaan. Anak-anak tersebut tentu kita tidak boleh membiarkan berkepanjangan, aktifitas tersebut harus dihentikan dengan pendekatan-pendekatan yang positif, naluri pelajarnya harus dikembalikan pada roh pendidikan yang sesungguhnya yakni membentuk watak manusianya.