Abu Abdillah Supardi Al Balikpapani

Abu Abdillah Supardi Al Balikpapani Program Bahasa Arab Dasar Dari Nol

𝐑𝐄𝐃𝐔𝐊𝐒𝐈 𝐌𝐀𝐊𝐍𝐀 𝐏𝐄𝐍𝐃𝐈𝐃𝐈𝐊𝐀𝐍Sebelum adanya campur tangan otoritas yang berwenang, pendidikan hidup dalam keseharian masyarak...
10/04/2026

𝐑𝐄𝐃𝐔𝐊𝐒𝐈 𝐌𝐀𝐊𝐍𝐀 𝐏𝐄𝐍𝐃𝐈𝐃𝐈𝐊𝐀𝐍

Sebelum adanya campur tangan otoritas yang berwenang, pendidikan hidup dalam keseharian masyarakat yang luas, alami dan natural. Di Nusantara, seorang anak belajar membaca dari ustadz di surau, mempelajari membatik dari ibunya di teras rumah, atau memahami musim tanam dari ayahnya yang petani di sawah. Pendidikan tidak memerlukan sertifikat atau ruang kelas—ia melekat dalam ritual, gotong royong, dan hubungan magang antara maestro dan murid. Di Eropa abad pertengahan pun, para perajin belajar melalui rumah kerajian, sementara para filsuf berdiskusi di alun-alun kota tanpa piagam resmi. Makna pendidikan saat itu bersifat holistik: setiap transfer nilai, keterampilan, dan kebijaksanaan dalam komunitas disebut pendidikan. Tidak ada dikotomi antara “dalam sekolah” dan “luar sekolah” karena lembaga formal belum menjadi satu-satunya otoritas yang mengesahkan pengetahuan.

Ketika kementerian pendidikan pertama kali dibentuk—baik di Hindia Belanda pada abad ke-19 maupun di berbagai negara setelah revolusi industri—terjadilah pergeseran fundamental. Negara mulai mendefinisikan pendidikan sebagai kegiatan yang berlangsung di lembaga berizin, dengan kurikulum terstandar, guru tersertifikasi, dan evaluasi tertulis. Akibatnya, pendidikan luar sekolah seperti kursus menjahit, pelatihan pandai besi, belajar sastra secara otodidak, atau pendidikan keluarga dianggap “non-formal” atau bahkan “informal”—istilah yang secara halus menempatkannya di bawah pendidikan sekolah. Lebih parah lagi, dalam praktik birokrasi, pengakuan sosial dan ekonomi hanya diberikan kepada mereka yang memiliki ijazah. Seorang ahli ukir yang mewarisi keahlian selama 20 tahun dari kakeknya tetap dianggap “tidak berpendidikan” karena tak pernah duduk di bangku sekolah. Di sinilah reduksi makna terjadi: pendidikan dipersempit menjadi sekadar persekolahan.

Reduksi ini membawa dampak panjang yang menggerogoti ekosistem belajar masyarakat. Pengetahuan lokal, keterampilan hidup, dan kebijaksanaan tradisional perlahan terpinggirkan karena tidak menghasilkan dokumen resmi. Anak-anak yang berbakat di bidang seni, teknik, atau pertanian justru dipaksa mengikuti jalur sekolah yang belum tentu sesuai minat mereka. Ironisnya, dunia kerja modern pun mulai merasakan kejenuhan dengan “inflasi ijazah”—banyak lulusan sekolah yang tidak terampil, sementara para ahli informal andal tidak dilirik. Jika kita merenungkan kembali makna pendidikan yang sejati—seperti yang dipahami sebelum ada kementerian—maka kita harus berani menyetarakan belajar di bengkel, di dapur, di sawah, dan di perpustakaan yang tak bersertifikat. Pendidikan bukanlah milik eksklusif sekolah; ia adalah napas setiap ruang di mana manusia bertumbuh.

Bagaimana pendidikan madrasah zaman keemasan islam? Saya punya pdf tentang pengelolaan kuttab dan madrasah di zaman tersebut. Bonus Pdf ori ringkasan hukum-hukum yayasan dan pdf ori “menegur tanpa luka”. WA 085290301540.

Abu Abdillah Supardi Al Balikpapani, BA. M.Pd.

Riwayat pendidikan:
1. 1997-2001 Teknik Elektro UGM
2. 2001-2009 Pesantren
3. 2009-2022 Pengajar merangkap Sekretaris PP Ibnu Abbas Sragen
4. 2014-2020 S1 Syariah LIPIA on line
5. 2020-2022 S2 Pendidikan An Nur Lampung on line

KABAR GEMBIRATelah hadir terjemah manhaj Nabawi fi taqwim akhta' dengan judul MENEGUR TANPA LUKA.Seberapa BAHAYA buku in...
04/04/2026

KABAR GEMBIRA

Telah hadir terjemah manhaj Nabawi fi taqwim akhta' dengan judul MENEGUR TANPA LUKA.

Seberapa BAHAYA buku ini? Kalau tidak dibaca, berikut testimoninya:
---------+++++++-------------

MENEGUR TANPA LUKA

Oleh: Mohammad Affan Basyaib
(Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan King Saud University dan Direktur ABAT Academy)

Sebelum teka-teki Lantai Dasar itu dimulai, ada satu momen hangat. Momen taaruf.

Kami berenam memperkenalkan diri. Nama, asal, dan jurusan. Biasa. Formalitas tamu kepada tuan rumah.

Namun, suasana berubah ketika salah satu dari kami menyebutkan jurusannya: Manajemen Pendidikan.

Syaikh Dr. Ashim Al-Luhaidan tidak sekadar mengangguk. Beliau antusias. Sebagai pendidik senior, radar beliau menyala. Ada koneksi frekuensi.

"Kalian orang pendidikan?"tanya beliau. "Sudah baca kitab ini?"

Kami saling pandang. Belum.
Beliau kemudian menyebut satu judul. Nadanya bukan sekadar menyarankan. Tapi seakan-akan mewajibkan secara halus.

Judulnya: Al-Manhaj An-Nabawi fi Taqwim Al-Akhta' (المنهج النبوي في تقويم الأخطاء).

Penulisnya: Syaikh Prof. Dr. Muhammad bin Abdullah Asy-Syatti'.

"Ini pegangan wajib," kata Syaikh Ashim. "Guru, dosen, orang tua, harus baca ini sebelum menegur kesalahan muridnya."
Pulang dari sana, saya langsung berburu.

Target utama adalah toko kitab legendaris di Riyadh: Dar At-Tadmuriyah (دار التدمرية).
Biasanya, apa saja ada di sana.

Saya susuri rak demi rak. Hasilnya nihil. Saya tidak berjumpa fisik kitab itu. Mungkin habis. Atau memang langka. Saya tanya ke penjaga toko. Dia cek. Ternyata beneran habis.

Tapi rasa penasaran sudah di ubun-ubun. Untung ada teknologi. Saya akhirnya menemukan versi E-Book-nya.

Saat file PDFitu terbuka, saya kaget.

Ini bukan buku saku. Ini bukan buku motivasi tipis yang sekali duduk habis. Ini adalah risalah Tesis Magister (S2) sang penulis. Tebalnya bukan main: 656 halaman. Diterbitkan oleh sebuah penerbit di Kuwait.

Isinya? Daging semua. Riset akademis yang mendalam, tapi bahasanya menyentuh hati.

Syaikh Asy-Syatti' membedah tuntas bagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menghadapi kesalahan manusia.

Yang membuat kitab ini istimewa adalah proses penulisannya. Syaikh Ashim bercerita bahwa penulis tidak asal comot teori.

Beliau menggunakan metode Istiqra' (penelusuran menyeluruh).

Penulis menyusuri satu per satu hadits Nabi. Mencari setiap momen di mana Nabi menegur kesalahan. Ia kumpulkan semuanya, lalu ia hitung. Ia cek satu per satu. Hasilnya mencengangkan.

Dari penelusuran hadits-hadits itu, Syaikh Asy-Syatti' menemukan dan merumuskan bahwa Nabi memiliki 37 hingga 38 metode berbeda dalam meluruskan kesalahan.
Bayangkan. Tiga puluh delapan cara!

Kita mungkin hanya punya satu cara andalan: Memarahi. Atau paling banter dua: Memarahi dan menyindir. Tapi Nabi punya stok puluhan cara yang berbeda-beda, disesuaikan dengan siapa yang berbuat salah, apa kesalahannya, dan bagaimana kondisinya.

Poin pertamanya mendasar: Salah itu kodrat.

Manusia tempatnya salah. Nabi bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

"Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertaubat."

Jadi, kalau ada murid salah, guru tidak boleh kaget. Tidak boleh histeris. Itu normal. Itu manusiawi. Guru yang baik menerima fakta bahwa muridnya bukan malaikat.

Lalu, bagaimana cara Nabi menegur?

Di sinilah seninya. Dalam 600 halaman lebih itu, penulis membedah puluhan metode Nabi. Ternyata, memarahi itu ada di urutan paling akhir.

Ada metode Taghaful. Pura-pura tidak tahu.

Kadang, seorang guru melihat muridnya salah. Tapi jika ditegur saat itu juga, murid akan malu. Mentalnya jatuh. Maka Nabi kadang membiarkan. Bukan setuju, tapi menunda waktu yang tepat. Atau menjaga kehormatan si pelaku.

Ada metode Tanpa Nama.
Ini teknik high-class. Nabi sering naik mimbar lalu berkata:

مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَقُولُونَ كَذَا وَكَذَا

"Apa gerangan keadaan kaum yang mengatakan begini dan begitu..."

Nabi mengkritik perilakunya. Bukan orangnya. Si pelaku sadar, merasa tersindir, tapi mukanya tidak tercoreng di depan umum. Dia bisa memperbaiki diri tanpa kehilangan harga diri.

Ada metode Dialog Logika.

Ingat pemuda yang datang kepada Nabi minta izin berzina? Nabi tidak menamparnya. Nabi mengajaknya berpikir logis.

Nabi bertanya:
أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ؟

"Apakah engkau menyukainya (zina itu) terjadi pada ibumu?"

Pemuda itu menjawab: "Tidak, demi Allah wahai Rasulullah."

Nabi bersabda lagi:

وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ

"Begitu juga orang lain, mereka tidak menyukainya terjadi pada ibu-ibu mereka."

Logikanya disentuh. Hatinya disentuh. Kesalahannya diluruskan tanpa ada bentakan.

Membaca rekomendasi Syaikh Ashim ini menyadarkan kita.

Pendidikan kita seringkali fokus pada hukuman. Pokoknya kalau salah, hukum. Kalau melanggar, poin dikurangi.

Padahal, tujuan menegur adalah Taqwim (meluruskan). Bukan Taqri' (mencela).

Kalau tujuannya meluruskan, caranya harus lurus. Kalau tujuannya mengobati, jangan berikan racun.

Tesis setebal bantal ini mengajarkan kita satu hal besar: Menjadi guru bukan hanya soal transfer ilmu. Tapi soal transfer rasa.

Syaikh Ashim benar. Kitab ini berbahaya kalau tidak dibaca. Kita bisa jadi guru yang pembunuh karakter tanpa sadar.

Terima kasih, Syaikh. Rekomendasi ini berat di timbangan, tapi sangat mahal harganya.

Dalam perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya
Halim Perdanakusuma International Airport
7 Rajab 1447 H.

Sekian testimoninya.
--------++++---------------

Ebook ori maupun terjemah bisa japri WA 085290301540
Abu Abdillah Supardi Al Balikpapani BA. M.Pd.

10/10/2022

Surat Al-Baqarah Ayat 133
أَمْ كُنتُمْ شُهَدَآءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ ٱلْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنۢ بَعْدِى قَالُوا۟ نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ إِلَٰهًا وَٰحِدًا وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ

Artinya: Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya".

Yang nabi kuatirkan terjadi pada anak keturunannya bukan kemiskinan, ataupun pekerjaan, ataupun jabatan mereka tetapi kesyirikan yang selalu mengintai setiap saat. Kesyirikan yang membuat kekal di neraka.

23/02/2022

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ

“Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang baik.

Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam, dan kaum muslimin.

Ya Allah, bantulah mereka untuk menunaikan tugasnya sebagaimana yang Engkau perintahkan,

wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, jauhkanlah mereka dari teman dekat yang buruk dan teman yang merusak.

Dekatkanlah orang-orang yang baik dan penasihat yang baik kepada mereka,

wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, jadikanlah pemimpin kaum muslimin sebagai orang yang baik di mana pun mereka berada.”

18/02/2022

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
النَّاسُ مَعَادِنُ كَمَعَادِنِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي اْلإِسْلاَمِ إِذَا فَقُهُوا وَالْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ “
Manusia ibarat barang tambang berharga seperti tambang emas dan perak. Orang yang mulia pada masa jahiliyah, akan menjadi orang yang mulia juga dalam Islam apabila ia berilmu. Ruh ibarat pasukan yang dikumpulkan, ia akan bersatu jika serasi dan akan berselisih jika tidak serasi”. [HR Muslim].

Harga manusia dapat diketahui dari tanda-tanda berikut:
1. Seorang istri ketika sang suami sempit keuangannya
2. Seorang suami ketika sang istri sakit
3. Saudara ketika pembagian warisan
4. Teman ketika kesusahan
5. Mukmin ketika musibah

16/02/2022

Percayakah anda, jika ini adalah kota london di pagi hari?

Takdirhttps://dorar.net/hadith/sharh/72787- وقَعَ في نفسي شيءٌ مِنَ القدَرِ؛ فأتيتُ أُبَيَّ بنَ كعبٍ، فقلتُ: يا أبا المن...
10/02/2022

Takdir

https://dorar.net/hadith/sharh/72787
- وقَعَ في نفسي شيءٌ مِنَ القدَرِ؛ فأتيتُ أُبَيَّ بنَ كعبٍ، فقلتُ: يا أبا المنذِرِ، وقَعَ في نفسي شيءٌ مِنَ القدَرِ خِفْتُ أن يكونَ فيه هلاكُ ديني أو أمري، فقال: يا بنَ أخي، إنَّ اللهَ لو عذَّبَ أهلَ سمواتِه وأهلَ أرضِه لعذَّبَهم وهو غيرُ ظالمٍ لهم، ولو رحِمَهم لكانتْ رحمتُه لهم خيرًا مِن أعمالِهم، ولو أنَّ لك مِثْلَ أُحُدٍ ذهبًا أنفقتَهُ في سبيلِ اللهِ ما قَبِلَه اللهُ منكَ حتى تؤمِنَ بالقدَرِ، وتعلَمَ أنَّ ما أصابَكَ لم يكُنْ لِيُخطِئَكَ، وأنَّ ما أخطأكَ لم يكُنْ لِيُصيبَكَ، وإنك إنْ مِتَّ على غيرِ هذا دخلتَ النارَ، ولا عليك أنْ تأتيَ أخي عبدَ اللهِ بنَ مسعودٍ فتسألَهُ؛ فأتيتُ عبدَ اللهِ فسألتُه، فقال مِثلَ ذلك، قال: وقال لي: لا عليك أنْ تأتيَ حُذيفةَ؛ فأتيتُ حُذيفةَ فسألتُه، فقال لي مِثلَ ذلك، وقال: ائْتِ زيدَ بنَ ثابتٍ فسَلْهُ؛ فسألتُه، فقال: سمِعْتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يقولُ: إنَّ اللهَ لو عذَّبَ أهلَ سمواتِه وأهلَ أرضِه لعذَّبَهم وهو غيرُ ظالمٍ لهم، ولو رحِمَهم كانتْ رحمتُهُ خيرًا لهم مِن أعمالِهم، ولو أنَّ لك مِثْلَ أُحُدٍ ذهبًا أنفقتَه في سبيلِ اللهِ ما قَبِلَه اللهُ منكَ حتى تؤمِنَ بالقدَرِ، وتعلَمَ أنَّ ما أصابَكَ لم يكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وأنَّ ما أخطأكَ لم يكُنْ لِيُصِيبَكَ، وإنَّه مَن مات على غيرِ هذا دخَلَ النارَ.
الراوي : زيد بن ثابت | المحدث : الذهبي | المصدر : المهذب | الصفحة أو الرقم : 8/4212 | خلاصة حكم المحدث : إسناده صحيح

الصَّبرُ عَواقبُه محمُودةٌ، وما قدَّرهُ اللَّهُ كائنٌ؛ فالعاقلُ يُقابِلُ الشَّدائدَ والمِحَنَ بالرِّضَا والتَّسليم؛ لِينالَ ثَوابَ الصَّبرِ، وفي هذا الحديث يَحكِي ابنُ الدَّيْلِمِيِّ الفَارِسِيُّ وهو عبدُ اللهِ بنُ فيروز، أنَّه أتى أُبَيَّ بنَ كعبٍ، يطلُبُ منه بيانًا شافيًا في أمْر القَضاءِ والقَدَر، فقالَ له: "وَقَعَ فِي نَفْسِي شَيءٌ مِن القدَرِ"، أي: اضْطِرابٌ شَديدٌ مِن بَعْض شُبَهِ القَدَر مِن جِهَة العَقلِ التي تُؤَدِّي إلى الشَّكِّ والحيْرَة، وأُريدُ الاهتدَاء، "فَحَدِّثْنِي بِشيءٍ؛ لَعَلَّ اللَّهَ يُذْهِبُه مِن قَلبِي"، أي: يُزِيلُهُ مِن القَلْب.
وفي هذا إشارَةٌ إلَى تَمَكُّنِ هذه الشُّبَه منه، حتى لا يَكاد يَقْدِر عَلى دَفْعِها، فقال له أُبَيٌّ مُطمْئِنًا وَمُتَحَرِّيًا قَوْلَه؛ حتى يَكُون فيه غَايةُ البَيانِ والإرشَادِ الشَّافِيَيْنِ الوافيَيْنِ: "لو أَنَّ اللَّهَ عَذَّبَ أَهْلَ سَمَوَاتِه وأَهْلَ أَرْضِهِ لَعَذَّبَهم غَيْرَ ظَالِمٍ لَهُمْ"، أي: لِنفتَرِض أَنَّ اللَّهَ عَذَّبَ أَهْلَ سَمَوَاتِه مِن الملائِكَةِ المُقرَّبينَ، وَأَهْلَ أَرْضِهِ مِن الأنبياءِ والنَّاسِ أَجْمعين، فيَكُونُ بذلك قد عَذَّبَهُم وهو غيرُ ظالِمٍ لهم; لأنَّ الخلقَ عاجزون عن القيام بحقِّ الله وعبادتِه حقَّ العبادة، فعذَابُه عَدْلٌ، وَثَوَابُه فضْلٌ.
"ولو رَحِمَهم كَانَتْ رَحْمَتُه خَيْرًا لَهُم مِن أَعْمَالِهِم"، أي: إِنَّ رَحْمَته لِعِبَادِه إنَّما هِي مَحْضُ فَضْلٍ منه سُبحانه وتعالى، وهي خير مِن أَعْمَالِهِم الصَّالِحَةِ كلِّها، بل هذه الأعمالُ مِن جُملةِ رَحمتِه بِهم.
"وَلَوْ أَنْفَقْتَ مِثْلَ أُحُد ذَهَبًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا قَبِلَهُ اللَّه مِنك"، أي: لو أَنْفقتَ مِثلَ هذا الجَبَل العَظِيم ذَهَبًا فِي مَرْضَاة اللَّه، مَا قَبِلَ اللَّهُ منك هذا الإنْفاقَ; "حَتَّى تُؤْمِنَ بالقَدَر"، أي: تُؤمِنَ إِيمَانًا كَامِلًا بِأَنَّ جَمِيع الأُمُور خَيْرِهَا وَشَرِّهَا، حُلوِهَا ومُرِّهَا، نَفْعِهَا وضَرِّهَا بِقَضاءِ اللَّهِ وقَدَرِه وإرَادته وَأمرِهِ.
"وتعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَك" مِن خَيْرٍ أو شَرٍّ، "لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَك"، أي: يَتَجَاوَزك، "وأَنَّ ما أَخْطَأَك" مِن هذا الخيرِ والشَّرِّ، "لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَك".
وهَذا هُو مَضْمُونُ قَوْل اللَّه تَعالى: {قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اَللَّهُ لَنَا} [التوبة: 51]، فهذا هو مَحْضُ الإِيمَانِ بالقَضَاءِ والقَدَر; لِأَنَّ رِضَا النَّفْسِ بِمَا أَصَابَهَا لن يَكُونَ إِلَّا بِحُصُول اليَقِين فِي القَلْبِ لِلقَضَاءِ السَّابِقِ والقَدَرِ المَاضِي، فإن لَمْ تَرْضَ فإنَّ الصَّبْرَ عَلَى المَكْرُوهِ خَيْرٌ كُلُّه؛ فَهَاتَانِ دَرجَتَانِ للمُؤمِن فِي المصَائبِ.
"وَلَوْ مُتَّ عَلَى غَيْر هذا"، أي: لَو مُتَّ عَلَى اعْتِقَادٍ غَيْر هذا فِي القَضَاء والقَدَر، "لَدَخَلْتَ النَّارَ"؛ وهذا قاله له على سبيل التَّهْدِيدِ، أو الوَعِيد.
قال ابنُ الدَّيلميِّ: "ثمُ أتيتُ عبدَ اللهِ بنَ مَسعودٍ"، أي: يسألُه عمَّا سألَ عنه أُبيَّ بن كعْبٍ؛ وذلك طلبًا للمزيدِ مِن عِلمِ الصَّحابةِ رضِيَ اللهُ عنهم؛ "فقال مِثلَ ذلك" أي: بمِثل قولِ أُبيٍّ، قال: "ثم أتيتُ حُذيفةَ بنَ اليمانِ، فقال مِثلَ ذلك" قال: "ثمَّ أتيتُ زيدَ بنَ ثابتٍ، فحَدَّثني عن النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ مِثلَ ذلك"، أي: رفَع زيدُ بنُ ثابتٍ هذا الحديثَ إلى النبيِّ صلَّى الله عليه وسلَّم، بعدَما كان موقوفًا على مَن تَقدَّمَ مِن الصَّحابةِ.
وَفِي الحَدِيثِ: الحَثُّ على التَّوكُّلِ على اللَّهِ، والصَّبْرِ على المَصَائِبِ، وَأَنَّ الخَير والشَّرَّ جَمِيعًا بِتَقْدِيرِ اللَّهِ تعالى .

Elang adalah siswa sebuah SMP di Sragen. Pada bulan September 2020, Orang tuanya terpanggil untuk memondokkan putranya. ...
05/12/2021

Elang adalah siswa sebuah SMP di Sragen. Pada bulan September 2020, Orang tuanya terpanggil untuk memondokkan putranya. Rencananya setelah tamat SMP akan dipondokkan. oleh karena itu mulai bulan itu p**a ikut serta bahasa arab secara privat di pesantren AASAB (Abu Abdillah Supardi Al Balikpapani). Namun qodarullah wa masyaa fa'al setelah beberapa bulan sampai saat ini keuangan keluarga orang tua Elang semakin memburuk sehingga tidak dapat membayar penuh bahkan sekarang sudah putus sama sekali pembelajarannya. Donasi dapat disampaikan melalui No rek BSI 7992260530
a.n SUPARDI (AASAB)

STOP!Sekarang, kursus cara membaca bahasa arab gundul (tanpa harokat) sangat mudah(*). Dapat dilakukan di mana saja tanp...
01/01/2021

STOP!
Sekarang, kursus cara membaca bahasa arab gundul (tanpa harokat) sangat mudah(*).
Dapat dilakukan di mana saja tanpa terhalang oleh jarak jauh, karena dilakukan via whatsapp, google classroom dan google meeting, sekaligus mengoptimalkan gadget, untuk dunia dan akherat.

Dengan ringkasan dari buku/kitab yang sudah sangat terkenal dan sudah menghasilkan alumni yang berjumlah ribuan orang dari dahulu sampai sekarang: Al Ajurumiyah.

Diajar oleh pengajar berpengalaman, lulusan pesantren dan juga tenaga pengajar pesantren.

Siapa pengajarnya?
Supardi Abu Abdillah Al Balikpapani, Lc.
Riwayat Pendidikan :
- SD - SMA di Balikpapan, Kalimantan Timur
- Pesantren Umar bin Khottob Paciran, Jawa Timur
- S1 Syariah Kuliah Jarak Jauh Universitas Imam Ibnu Su'ud Saudi Arabia

Pengalaman Mengajar :
- Mengajar di Pesantren Ibnu As Salafy Sragen, Jawa Tengah, tahun 2010 - sekarang.

Daftar Segera!
Kelas Donasi 10 hari
Mulai belajar 15 Januari 2021
Kuota 50 peserta (pa/pi)
Segera ditutup setelah kuota terpenuhi

Informasi Pendaftaran 085290301540
atau langsung transfer donasi dan kemudian mengisi formulir
https://forms.gle/42rPrgxqHgHBkazx5

(*) syarat dan ketentuan berlaku

BINGUNG MULAI BELAJAR BAHASA ARAB DARIMANA?TIDAK ADA USTADZ TEMPAT BERTANYA?TERKENDALA TIDAK BISA BELAJAR DI PONDOK?KESU...
12/12/2020

BINGUNG MULAI BELAJAR BAHASA ARAB DARIMANA?
TIDAK ADA USTADZ TEMPAT BERTANYA?
TERKENDALA TIDAK BISA BELAJAR DI PONDOK?
KESULITAN MEMBACA KITAB GUNDUL‼️
___
Anda belum bisa membaca kitab gundul? Atau ingin memahami kitab-kitab para ulama?

Ingin belajar dari nol?
Sudah belajar dengan berbagai metode tapi belum ada hasil?
Usia yang sudah tidak lagi muda?

Kelas reguler dan donasi merupakan suatu metode pembelajaran yang dirancang khusus untuk remaja dan dewasa. Di kelas ini anggapan sulit membaca kitab gundul seketika hilang, yang Insya Allah hanya dengan 30x dan 9x pertemuan selama kurang lebih 3 bulan Anda sudah mahir membaca teks sederhana tentunya sesuai kaidah ilmu nahwu dan shorof.

Kabar baiknya...
Saat ini sedang dibuka kelas kelas reguler dan donasi untuk Anda semua yang serius(*) ingin belajar dan bisa membaca kitab gundul dengan buku panduan yang sudah sangat masyhur dan terkenal serta telah menghasilkan alumni yang ribuan yaitu Al Ajurumiyah.

Siapa pengajarnya?
Supardi Abu Abdillah Al Balikpapani, Lc.
Riwayat Pendidikan :
- SD - SMA di Balikpapan, Kalimantan Timur
- Pesantren Umar bin Khottob Paciran, Jawa Timur
- S1 Syariah Kuliah Jarak Jauh Universitas Imam Ibnu Su'ud Saudi Arabia
Pengalaman Mengajar :
- Mengajar di Pesantren Ibnu As Salafy Sragen, Jawa Tengah, tahun 2010 - sekarang.

Mau? Penasaran?
Daftar dan Ikuti Kelasnya!!!
1. Kelas reguler: Rp. 3 juta rupiah, 30x pertemuan google meet dalam 3 bulan, materi di google classroom dapat diakses setiap waktu, konsultasi/pertanyaan melalui Whatsapp setiap saat. Kontrol pencapaian kompetensi setiap hari via google form dan wapri. Insyaallah mulai bulan Januari 2021.
2. Kelas donasi: Rp. sesanggupnya, 9x pertemuan google meet dalam 3 bulan, materi di google classroom dapat diakses setiap waktu, konsultasi/pertanyaan melalui Whatsapp setiap pekan. Insyaallah mulai bulan Januari 2021.
Informasi dan Pendaftaran WhatsApp text only: 0852-9030-1540
(*) serius artinya siap menghapal dan mengikuti jadwal belajar yang ketat dan mandiri

Address

Masaran Kel. , Sragen
Masaran
57282

Telephone

+6285290301540

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Abu Abdillah Supardi Al Balikpapani posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Abu Abdillah Supardi Al Balikpapani:

Shortcuts

Share