Penyelenggara Katolik Kemenag Manado

Penyelenggara Katolik Kemenag Manado Bimbingan dan Penyuluhan Masyarakat serta Pendidikan Kantor Kementerian Agama di wilayah Kota Manado

Kasih kepada Allah tidak pernah bisa dipisahkan dari kasih kepada sesama. Dalam Matius 22:34–40, Yesus merangkum seluruh...
21/08/2026

Kasih kepada Allah tidak pernah bisa dipisahkan dari kasih kepada sesama.

Dalam Matius 22:34–40, Yesus merangkum seluruh inti ajaran hukum Allah ke dalam satu pusat yang jernih: mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri. Kedua perintah ini bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan dua sisi dari satu mata uang yang sama.

Mengasihi Allah berarti meletakkan-Nya di atas segala prioritas, ambisi, dan kenyamanan kita. Namun, pengakuan kasih itu menjadi tidak utuh jika hati kita masih keras, menyimpan dendam, atau acuh tak acuh terhadap orang lain. Sebab, setiap manusia diciptakan menurut rupa Allah—menghormati dan mengasihi sesama adalah cara paling nyata untuk memuliakan Sang Pencipta.

Kasih Kristiani menuntut tindakan nyata: sabar saat menghadapi perbedaan, jujur dalam bekerja, siap mengampuni, dan peka terhadap mereka yang menderita.

Mari kita perbaharui niat hati kita hari ini agar hidup kita tidak hanya dipenuhi oleh kata-kata manis, tetapi oleh kasih yang sungguh mengubah tindakan sehari-hari! 🙏

Pertanyaan untuk direnungkan:
Apakah kasih kita kepada Tuhan sudah terwujud dalam sikap, tutur kata, dan kebaikan nyata bagi orang-orang di sekitar kita hari ini?

20/08/2026

Di tengah hiruk-pikuk media sosial dan berita sehari-hari, pernah gak sih kamu merasa capek sendiri lihat orang gampang banget diadu domba cuma gara-gara beda pandangan?

Sedikit beda keyakinan langsung saling menghakimi, beda pilihan politik langsung putus silaturahmi. Rasanya suasana di sekitar kita makin gampang "panas", padahal kita hidup di bawah langit yang sama dan menghirup udara yang sama.

Tapi jujur, biasanya kita cuma sebatas mengeluh atau malah ikut-ikutan emosi tanpa sadar kalau polarisasi ini sedang merusak benang-benang persaudaraan kita.

Beda itu wajar, tapi terbelah itu pilihan. Lewat prinsip Moderasi Beragama, kita diingatkan bahwa menjadi taat pada agama sendiri bukan berarti harus membenci keyakinan orang lain. Merangkul keberagaman bukan cuma urusan formalitas toleransi atau tugas tokoh masyarakat saja, melainkan bentuk kedewasaan, kepedulian, dan panggilan iman yang nyata bagi kita generasi muda!

Gimana sih caranya biar kita gak gampang terprovokasi, tetap teguh pada keyakinan sendiri, tapi beneran bisa jadi jembatan kedamaian di tengah perbedaan?

Yuk, bedah tuntas peran dan aksi nyata anak muda dalam merawat keharmonisan bangsa lewat judul:

"Berbeda Tetapi Tetap Sejalan: Merangkul Keberagaman Lewat Moderasi Beragama"

🎙️ Narasumber: Richard Axel C. J. Lumi / Penyuluh Agama Katolik

🎧 Hosted by: Monika

📅 Kamis, 20 Agustus 2026

🕒 Pukul: 15.00 - 16.00 WITA

📻 Radio Montini 106 FM

Stay tuned! Karena di tengah riuhnya perbedaan, kasih, empati, dan pemikiran sejuk anak muda beriman justru harus jadi pelindung utama kedamaian Indonesia!

Sudahkah kita memberi ruang terbaik bagi undangan Tuhan di tengah kesibukan rutinitas? Dalam Perumpamaan Perjamuan Kawin...
20/08/2026

Sudahkah kita memberi ruang terbaik bagi undangan Tuhan di tengah kesibukan rutinitas?

Dalam Perumpamaan Perjamuan Kawin (Matius 22:1–14), Yesus menggambarkan betapa besarnya kerinduan Allah untuk menyatukan kita dalam sukacita keselamatan-Nya. Namun, sering kali panggilan itu terabaikan bukan karena kejahatan besar, melainkan karena kita terlalu sibuk dan terikat pada urusan duniawi.

Tuhan mengundang semua orang tanpa terkecuali, tetapi Ia juga melihat hati kita. Mengenakan "pakaian pesta" berarti membiarkan hidup kita dibimbing oleh Roh Kudus—meninggalkan cara hidup lama dan mengenakan kasih, kerendahan hati, serta pengampunan dalam tindakan sehari-hari.

Mari kita jawab undangan kasih-Nya hari ini dengan komitmen penuh, menjaga agar pelita iman kita tetap menyala dan hidup kita memancarkan kebaikan-Nya bagi sesama!

Pertanyaan untuk direnungkan:
Apakah "pakaian pesta" batin kita hari ini sudah dihiasi dengan kasih dan kesetiaan, ataukah kita masih membawa kebiasaan lama yang menjauhkan kita dari-Nya?

Pernahkah kita terjebak membandingkan diri hingga lupa bersyukur? Renungan Matius 20:1–16a mengajak kita memahami cara p...
19/08/2026

Pernahkah kita terjebak membandingkan diri hingga lupa bersyukur?

Renungan Matius 20:1–16a mengajak kita memahami cara pandang Allah yang melampaui matematika manusia. Allah tidak bertindak berdasarkan hitung-hitungan jasa atau gengsi, melainkan atas dasar kemurahan hati yang tak terbatas.

Baik mereka yang sudah lama melayani maupun yang baru saja bertobat di akhir jalan, Allah menyapa dan memberikan kasih yang sama besarnya. Pelajaran penting bagi kita adalah menjaga hati agar tetap bersih dari rasa iri saat melihat orang lain menerima kebaikan Tuhan.

Mari jalani peran dan pekerjaan kita sehari-hari sebagai wujud syukur atas kesempatan bekerja di "kebun anggur" Tuhan—dengan jujur, rendah hati, dan penuh kasih kepada sesama! 🙏

Pertanyaan untuk direnungkan:
Apakah kita hari ini sudah melayani dan bekerja dengan penuh syukur, bebas dari keinginan untuk dipuji atau dibandingkan dengan orang lain?

Kerajaan Allah milik mereka yang menyambut rahmat-Nya dengan hati yang tulus dan rendah hati. 🤍Dalam Matius 19:13–15, Ye...
18/08/2026

Kerajaan Allah milik mereka yang menyambut rahmat-Nya dengan hati yang tulus dan rendah hati. 🤍

Dalam Matius 19:13–15, Yesus dengan penuh kasih menyambut anak-anak yang dibawa kepada-Nya. Tindakan ini bukan sekadar tentang perjumpaan fisik, melainkan sebuah pengajaran mendalam tentang sikap batin yang dicari Allah dalam diri kita.

Seorang anak kecil tidak mengandalkan pencapaian atau gengsi; ia percaya sepenuhnya, murni dalam mengasihi, dan mudah melepaskan dendam. Yesus mengundang kita untuk memiliki kualitas rohani seperti itu—menanggalkan kesombongan diri dan mengakui bahwa kita selalu membutuhkan rahmat Tuhan setiap hari.

Tugas kita sebagai orang beriman adalah menjadi jembatan yang ramah dan menyejukkan, membantu siapa pun—terutama yang lemah, kecil, atau baru belajar beriman—untuk menemukan jalan menuju Kristus.

Simpan dan bagikan pesan ini agar kita selalu diingatkan untuk merawat kesederhanaan batin dan kebaikan hati! 🙏✨

Pertanyaan untuk direnungkan:

Apakah hati kita hari ini masih polos dan terbuka menerima sabda Tuhan, ataukah sudah mengeras oleh rasa paling benar dan gengsi duniawi?

Iman sejati tidak pernah berdiam diri, melainkan selalu tergerak untuk mengasihi. Ketika Maria menerima Kabar Sukacita, ...
18/08/2026

Iman sejati tidak pernah berdiam diri, melainkan selalu tergerak untuk mengasihi.

Ketika Maria menerima Kabar Sukacita, langkah pertamanya bukanlah menuntut pujian atau kenyamanan, melainkan bergegas menuju daerah pegunungan Yudea untuk mendampingi Elisabet yang membutuhkan perhatian. Perjumpaan indah ini memperlihatkan bagaimana kasih yang tulus dan kerendahan hati sanggup menghadirkan sukacita Kristus bagi sesama.

Melalui kidung Magnificat, Maria mengajarkan kita bahwa Allah selalu memandang orang-orang yang rendah hati. Rahmat yang kita terima setiap hari bukanlah untuk disombongkan, melainkan untuk dikembalikan kepada Tuhan dalam bentuk ucapan syukur dan pelayanan nyata.

Mari meneladan sikap Maria: berani keluar dari kenyamanan diri, membawa kedamaian di setiap perjumpaan, dan memuliakan nama Tuhan lewat tindakan sederhana sehari-hari! 🙏

Pertanyaan untuk direnungkan:
Apakah rahmat dan kebaikan yang kita terima hari ini sudah kita ubah menjadi tindakan kasih yang nyata bagi orang-orang di sekitar kita?

Bagaimana kita menyeimbangkan peran sebagai warga masyarakat sekaligus murid Kristus? Dalam Matius 22:15–21, Yesus membe...
18/08/2026

Bagaimana kita menyeimbangkan peran sebagai warga masyarakat sekaligus murid Kristus?

Dalam Matius 22:15–21, Yesus memberikan panduan hidup yang sangat bijaksana. Beliau mengingatkan bahwa taat pada aturan yang adil dan bertanggung jawab di tengah masyarakat adalah kewajiban kita. Namun, ada hal yang jauh lebih mendalam: hati dan hidup kita sepenuhnya adalah milik Tuhan.

Koin yang kita gunakan mungkin memuat tanda kekuasaan duniawi, tetapi diri kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Karena itu, kejujuran, integritas, dan kasih yang kita tunjukkan sehari-hari adalah cara kita mempersembahkan hidup kepada-Nya.

Mari menjadi pribadi yang berintegritas tinggi—membawa dampak positif di lingkungan sosial sambil tetap menjadikan Tuhan sebagai pusat dari segala keputusan hidup kita! 🙏

Pertanyaan untuk direnungkan:
Apakah tindakan dan kejujuran kita sehari-hari sudah mencerminkan kasih Tuhan di tengah masyarakat?

Apakah harta yang kita miliki menjadi sarana berkat, atau justru menguasai hati kita? Renungan Matius 19:23–30 memberika...
18/08/2026

Apakah harta yang kita miliki menjadi sarana berkat, atau justru menguasai hati kita?

Renungan Matius 19:23–30 memberikan pengingat indah bahwa memiliki kekayaan bukanlah sebuah dosa. Yang perlu kita jaga adalah sikap hati: apakah kita menjadikan materi sebagai sumber utama rasa aman, atau tetap menaruh harapan sepenuhnya kepada Penyelenggaraan Allah?

Mengikuti Kristus berarti menempatkan Tuhan di atas segalanya—berani memilih kejujuran, rela berbagi dengan yang kekurangan, dan menjaga kerendahan hati di tengah keberhasilan.

Ketika merasa sulit melepaskan rasa cemas dan keegoisan, ingatlah janji Yesus: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin." Rahmat-Nya selalu sanggup mengubah hati kita menjadi lebih bebas dan penuh kasih.

Simpan dan bagikan pesan ini agar kita selalu diingatkan untuk mengelola setiap berkat dengan bijaksana! 🙏

Pertanyaan untuk direnungkan:
Hari ini, apakah kita sudah menggunakan apa yang kita miliki untuk menjadi saluran berkat bagi sesama?

Warna-warni busana adat, satu semangat untuk Indonesia! 🇮🇩✨Dengan mengenakan Pakaian Adat Tradisional, jajaran Penyeleng...
17/08/2026

Warna-warni busana adat, satu semangat untuk Indonesia! 🇮🇩✨

Dengan mengenakan Pakaian Adat Tradisional, jajaran Penyelenggara Katolik Kemenag Kota Manado turut memeriahkan Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman MAN Model 1 Plus Keterampilan Manado, Senin (17/08/2026).

Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Kabag TU Kanwil Kemenag Sulut H. Basri Saenong membacakan sambutan Menag RI sekaligus menyerahkan penghargaan Satyalancana Karya Satya didampingi Kasubag TU Pdt. Raymond Pietersz kepada ASN penerima penganugerahan.

Semangat Kemerdekaan, Merawat Kerukunan dalam Keberagaman!







Kehidupan sejati tidak diukur dari apa yang kita miliki, melainkan kepada siapa kita menyerahkan hidup. Dunia sering kal...
14/08/2026

Kehidupan sejati tidak diukur dari apa yang kita miliki, melainkan kepada siapa kita menyerahkan hidup.

Dunia sering kali mengajarkan kita untuk mengejar popularitas, kenyamanan, dan pencapaian tanpa batas. Namun, dalam Matius 16:24–28, Yesus mengingatkan kita akan sebuah nilai yang jauh lebih berharga: kedamaian dan keselamatan jiwa.

Mengikuti Kristus bukan berarti hidup tanpa tujuan, melainkan membebaskan diri dari jeratan ego dan dosa. Ketika kita berani memilih kejujuran di atas kecurangan, pengampunan di atas dendam, dan pelayanan di atas gengsi—di situlah kita sedang memikul salib dan menemukan arti hidup yang sesungguhnya.

Simpan dan bagikan inspirasi ini sebagai pengingat harian untuk terus berjalan bersama Kristus! 🙏✨

Pertanyaan untuk direnungkan:
Hari ini, hal kecil apa yang bisa kita lepaskan (ego/dendam/kesombongan) agar hati kita terasa lebih damai dan dekat dengan Tuhan?

Address

Jalan W. R. Supratman No. 8, Kec. Wenang, Kota Manado
Manado
95123

Opening Hours

Monday 07:30 - 16:00
Tuesday 07:30 - 16:00
Wednesday 07:30 - 16:00
Thursday 07:30 - 16:00
Friday 07:30 - 16:30

Telephone

+6282259922858

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Penyelenggara Katolik Kemenag Manado posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share