Menjadi "manusia" dihadapan mereka
Man 'arofa nafsahu, fa qod arofa robbahu.
Adagium diatas adalah sepenggal kalimat dari sahabat Nabi Muhammad yakni Ali bin Abi Thalib. Adagium diatas kurang lebih berarti "Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya". Lantas apakah sedemikian susahnya mengenali diri sendiri? Memang sungguh teramat susah. Jangankan untuk mengenal diri, jujur pada kondisi, kesalahan dan keterbatasan diri saja tak banyak manusia mampu untuk melakukannya. Maka tak salah p**a pepatah mengatakan, "Gajah di pelupuk mata tak nampak, semut di seberang lautan jelas terlihat".
Menjadi orang tua adalah bukan hal yang mudah, namun juga bukan hal yang sulit. Sebagai orang tua-entah itu berwujud orang tua kandung, orang tua asuh, guru, dsb-hematnya kita dituntut hanya dua hal saja. Pertama jujur. Kedua mau mendengar. Ketiga mau mengerti. Tak perlu menjadi superhero berperilaku nabi dihadapan seorang anak, lantas baru dianggap seorang sebagai orang tua yang baik.
Pernah saya melihat sebuah kisah dari serial Jepang yang sangat inspiratif dan kemudian ditulis oleh seorang kawan di dunia maya. Cerita tersebut menceritakan tentang robot bernama wasimo. Wasimo adalah robot ciptaan seorang insinyur jepang yang sengaja ia ciptakan untuk menemani anak insinyur tersebut. Anak insinyur tersebut bernama Hiyori. Saban hari Hiyori dimarahi ayahnya karena malas membuat PR dan menyuruhnya agar tertib sekolah. Karena kesal dengan sang ayah, Hiyori meminta wasimo untuk menelusuri masa kecil sang ayah. Hasilnya mengejutkan. Sang ayah ketika masih kecil, perilakunya jauh lebih parah daripada Hiyori. Sang ayah saat kecil adalah anak yang s**a berbohong, teramat bandel dan malas membuat PR. Ayahnya lebih s**a membuat eksperimennya sendiri dan hal tersebut mengantarkannya menjadi seorang pembuat robot. Diam-diam hiyori bangga, namun juga memprotes keras perilaku sang ayah yang seakan selalu menjadi "anak baik" saat kecil akan tetapi selalu saja memarahinya untuk membuat PR.
Kadang orang tua lupa bahwa dirinya adalah manusia dan anak-anaknya adalah juga manusia. Mereka kadang terlalu berlebihan menampilkan sosoknya adalah manifestasi kebenaran dan anaknya adalah sumber kesalahan. Ini berbahaya. Setidaknya akan berdampak pada dua hal. Pertama, anak merasa inferior dan kurang percaya diri. Memandang orang tua yang kadang selalu menempatkan kebenaran mutlak pada dirinya, justru terkadang akan membunuh motivasi seorang anak. Bukan tak mungkin seorang anak akan berpikir, "apapun kebaikan yang aku lakukan, toh tak akan melebihi kebaikan yang telah dilakukan oleh orang tuaku". Namun orang tua bukan juga harus menampilkan sosok "rusak-rusakkan". Setidaknya mengakui bahwa ia memiliki kekurangan dan pernah berbuat kesalahan. Pun menceritakan efek dari kekurangan dan kesalahan tersebut, sehingga seorang anak mampu menyerap hikmah dari sebuah pengalaman akan kesalahan yang pernah diperbuat orang tua.
Kedua, ketika orang tua terbiasa menampilkan diri selalu benar di hadapan anak, bukan tak mungkin jika pada suatu ketika ia mendengar bahwa masa lalu orang tua yang memiliki kesalahan fatal akan membuatnya tak lagi mempercayai nasihat dan saran orang tua. Bukan tak mungkin bukan? Ketika hal itu terjadi, apapun yang dilakukan orang tua akan selalu nampak salah. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Karena menampilkan kebaikan tak tahu batas maka ketika seorang anak tahu setitik cela orang tua maka tak ada lagi kebaikan dimatanya.
Langkah pertama yang harus dilakukan untuk memelihara kepercayaan seorang manusia adalah membiasakan jujur dan apa adanya. Ketika orang tua sudah jujur terhadap dirinya sendiri, maka tak sulit ia untuk dekat dengan seorang anak, mendengar keluhannya, berusaha mengerti kegelisahannya dan mencari solusi bersama. Bagaimanapun untuk mendidik seorang manusia, maka ia harus menampilkan sosok manusia dan ke-manusia-annya. Jika hal tersebut sudah dilakukan, kiranya tak perlu lagi ada seorang anak bunuh diri, terjerat pergaulan bebas ataupun terperosok pada obat-obatan karena kecewa pada lingkungannya.
Oleh Fuad Ramadhan
Embun Perubahan
Sebuah upaya melanjutkan generasi yang terus berpikir dan berkarya
Want your school to be the top-listed School/college in Malang?
Click here to claim your Sponsored Listing.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Telephone
Website
Address
Malang
65153