20/05/2014
KB-TK IQRO'
Bermain, Belajar dan Tumbuh Bersama Belajar dengan metode Fun Learning
20/05/2014
PENGEMBANGAN BAKAT
Menstimulasi Anak itu Bukan Memaksa, Bukan juga Membiarkan Anak.
Apa bedanya memaksa, membiarkan dan menstimulasi anak? Apa dampak ketiganya terhadap tumbuh kembang potensi anak?
Beberapa waktu belakangan, banyak pengguna media sosial membagikan tautan tulisan mengenai “Mengapa Anak TK Tak Boleh Diajari Calistung”. Inti dari tulisan itu, jangan memaksa anak TK belajar calistung. Ada banyak komentar dengan berbagai macam variasinya terhadap tulisan tersebut di media sosial. Tapi seperti halnya larangan yang lain, seperti jangan mengikutkan anak les dan yang lainnya, larangan mengajarkan calistung pada anak TK pun membuahkan respon yang reaksioner. Karena larangan tidak pernah menunjukkan perilaku yang harus dilakukan orang tua. Dengan hanya menunjukkan perilaku yang dilarang, seolah perilaku lain kemudian jadi benar.
Larangan mengajarkan calistung pada anak TK kemudian dimaknai beberapa orang tua untuk membiarkan anak. “Saya tidak ingin membebani anak, biarkan saja ia bebas bermain”, ungkap salah seorang orang tua. Tidak boleh memaksa anak TK calistung, bukan berarti membiarkan anak beraktivitas ses**anya. Tidak boleh memaksa anak TK buat ikut les, bukan berarti membolehkan anak beraktivitas semaunya.
Memaksa dan membiarkan adalah dua kutub yang berlawanan tapi keduanya sama, berdampak negatif ke tumbuh kembang anak. Ibarat berkebun, memaksa berarti kita menanam tanaman sekehendak hati kita. Kita tidak peduli pada sifat tanaman yang mau ditanam. Meski kaktus lebih s**a tempat kering, kita tetap ngotot menanamnya di tempat yang banyak airnya. Sebaliknya dengan membiarkan, kita sebarkan biji pada sebidang tanah, mau tumbuh subur, mau kering kerontang, biarkan saja.
Lalu apa yang perlu dilakukan orang tua? Menstimulasi anak. Berbeda dengan membiarkan, menstimulasi anak berarti memberi perhatian pada anak. Berbeda dengan memaksa anak, menstimulasi anak berarti memancing rasa ingin tahu dan keinginan anak untuk mencoba suatu aktivitas. ”Membiarkan” melahirkan sikap semaunya. “Memaksa” membuat anak tak punya sikap, hanya mengikuti kemauan orang tua dan orang lainnya. “Menstimulasi” melahirkan kemauan dari dalam diri anak, menumbuhkan kemauan anak sebagai pondasi kemandirian anak di kemudian hari.
Apa bedanya mengajarkan calistung pada anak TK sebagai sebuah paksaan atau stimulasi? Mengajarkan calistung pada anak jadi sebuah paksaan ketika:
Tidak sesuai kecerdasan majemuk anak. Hanya anak dengan kecerdasan aksara dan logika yang secara alami mudah dan butuh belajar calistung pada usia dini.
Waktu belajar calistung jadi lebih banyak dibandingkan waktu untuk melakukan aktivitas 6 kecerdasan majemuk lainnya. Artinya kesempatan anak untuk mencoba aktivitas terkait beragam kecerdasan yang lain jadi terpinggirkan.
Bertujuan agar anak mampu membaca, bukan gemar membaca. Tendensinya menanamkan kemampuan, bukan menumbuhkan kegemaran.
Ada target yang harus dicapai anak dalam jangka waktu tertentu. Senang tidak senang, anak harus mencapai target tersebut.
Ada konsekuensi dari pengajaran calistung. Konsekuensi bisa berupa hadiah, hukuman atau label-label tertentu pada anak.
Berdasar kelima alasan tersebut, TK memang tidak boleh mengajarkan calistung karena cenderung terjadi pemaksaan. Orang tua juga tidak boleh mengajarkan calistung pada anak sebagai sebuah aktivitas terstruktur seperti les membaca dan matematika. Tapi bukan berarti anak tidak boleh mengeksplorasi aktivitas calistung. Tapi bukan berarti orang tua tidak boleh menstimulasi anak untuk mengenal dan gemar calistung.
20/03/2014
Outing 022 Lanud. Abd. Saleh
10/03/2014
10/03/2014
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Website
Address
Jalan Semanggi Timur Kav. 15-17 Lowokwaru
Malang
65141
Opening Hours
| Monday | 07:00 - 16:00 |
| Tuesday | 07:00 - 16:00 |
| Wednesday | 07:00 - 16:00 |
| Thursday | 07:00 - 16:00 |
| Friday | 07:00 - 16:00 |
| Saturday | 07:00 - 16:00 |