23/12/2019
Propaganda Teknologi
Tulisan ini merupakan curahan hati.
Saya orang yang paling tidak terima dengan berbagai pernyataan "miring" tentang dunia pendidikan kita saat ini. Sebagian orang memandang pendidikan kita tertinggal dengan negara lain karena pola pendidikan yang tradisional yang sebenarnya tidak jelas tolak ukurnya tradisional itu seperta apa.
Mari kita analisis pola pendidikan yang katanya tradisional, zaman saya sekolah di tahun 80an, guru-guru saya mengajari siswanya aktif untuk bertanya, bekerjasama dalam kelompok, mengajari siswanya kreatif dengan membuat a***k dari tanah liat, anyaman dari bambu, topeng dari bubur kertas/koran, lampion dari kertas kado bahkan ujian praktik ipa menyangkok tanaman. Apakah pola pendidikan sepertu itu tetap dikatakan tradisional? Saya pikir tidak, buktinya siswa juga berkarya.
Mari kita mundur beberapa tahun bahkan abad sebelumnya, RA. Kartini mampu membuat karya yang luar biasa. Apakah tidak memanfaatkan teknologi? Beliaupun memanfaatkan teknologi yang berkembang saat itu yaitu pengiriman surat melalui pos, bahkan dari teknik pengiriman surat seperti saat itu memunculkan komunitas baru, Filateli.
dr Soetomo dengan kecerdasannya mampu mendirikan Budi Utomo,
Para pemuda di th 28 an mempunyai ide sumpah pemuda untuk menyatukan mereka (bangsa indonesia) yang belum merdeka, apakah tidak memanfaatkan kemajuan teknologi? Merekapun ternyata memanfaat teknik telegram yang berkembang saat itu.
Menurut saya itu bukti guru-guru saat itu hebat, mampu mengenalkan kemajuan teknologi dan membuka pikiran siswanya untuk peka lingkungan untuk kreatif dan maju.
Kemajuan teknologi saat ini ternyata banyak anak bangsa yang mampu mencipta dengan membuat berbagai aplikasi. Tentunya mereka juga produk dari pola pendidikan masa lalu (era 2000an). Oleh karena itu seharusnya kita lebih arif membijaki dan menyikapi agar pendidikan kita tidak terpropaganda teknologi, kemajuan teknologi untuk memfasilitasi pembelajaran bukan mendiskreditkan pendidikan masa lalu.
Jurang Mangu, akhir Desember 2019
(jurang yang termangu-mangu)