30/01/2020
Berikut pengalaman Respati Maulina Hidayati (δΈζ γͺγ), seorang guru privat, yang dituturkan di id.quora.com
Saya punya satu pengalaman tentang satu anak perempuan. Maaf saya pakai Anon. Nama saya bisa ketemu di Medsos. Dan kami berteman disana. Saya tidak mau membuatnya malu.
Saya adalah guru matematika. Suatu hari ada tetangga minta untuk kasih privat les anaknya. Kata Ayahnya nilai matematika anaknya ini jelek sekali.
Ketika pertemuan pertama, saya kaget sekali. Anak ini Imajinasinya, penalarannya, dasar matematikanya, pemahamannya semua lambat sekali. Saya speechles! Ada satu soal, trus saya tanya. Ini ada dua sudut, sudut mana yang lebih besar. Ada 90 derajat. Satu lagi 120 derajat. Dan dia cuma bengong. "Maaf belum paham bu...", Hanya sekedar logika dasar seperti itu saja sulit dipahami.
Ada momen beberapa kali dia mungkin terlalu cape dari sekolah atau bagaimana, penjumlahan sederhana saja dia sudah gak mampu mikir. Pernah juga ada bagian yang kita ulang entah sudah berapa kali, dia masih belum paham. Saya lihat dia sampai sudah mau menangis.
Sebulan setengah saya habiskan hanya untuk ajarkan hal-hal dasar. Konsep dasar seperti "negatif dikalikan negatif hasilnya positif" itu saja dia sulit dipahami. Sebulan setengah sudah lewat tapi masih bergelut dengan hal hal dasar. Trus bagaimana mau belajar yang tingkat di atas itu. Saya pikir ini rada mustahil. Ini pertama kalinya dalam 10 tahun saya hampir patah semangat mengajari anak murid.
Sedikit harapan yang bikin saya gak menyerah adalah, anak ini memiliki semangat dan daya juang tinggi. Bahkan ketika bingung seperti gimanapun dia tetap semangat. Jam les biasa sore jam 5. Tiap saya datang ke rumahnya jam 04.30 dia sudah siap, bahkan dia s**a menyiapkan saya makanan kecil dan minuman. Ayahnya pernah bilang. Riska belajar tiap hari sering sampai sampai jam 1β2 malam. Bagi saya sungguh luarbiasa anak sekolah mau bayar harga sekeras itu.
Pernah ada satu pertemuan, mungkin saya terlihat sudah hopeless, Ia bertanya kembali hal yang sudah saya ajarkan berapa kali. Saya meresponi dengan hanya diam dan menarik napas. Ia juga ikut terdiam. Ia menyadari apa yang sedang terjadi. Kemudian Ia memegang tangan saya dan menatap saya.
"Bu, aku tahu ibu sudah lelah, tapi tolong jangan nyerah ajarin aku. Aku akan berusaha lebih keras lagi. Lebih baik lagi."
Mendengar itu saya tersentuh. Dalam hati kecil saya muncul keyakinan kalau Ia pasti akan berhasil. Saat itu saya berjanji sama dia, kalau dia ga menyerah, sayapun ga akan mundur. Kita akan sama-sama fight!
Akhirnya Ia lulus mata pelajaran matematika dengan nilai B semester itu. Ga bisa diungkapkan bagaimana saya bangganya dengan perjuangan dan pencapaiannya.
Selang setahun Riska pindah sekolah mengikuti ayahnya ke Bandung. Terakhir dengar kabar, dia sedang kuliah di ITB ambil jurusan kimia. Ya saya gak heran. Anak sekuat itu jangankan Kimia ITB, dimanapun yang dia mau pasti berhasil.
Saya mengajari Riska matematika, tapi Riska mengajari saya satu hal dalam hidup yang lebih berarti. "Never give up".