01/08/2017
5. Kapan bisa dikatakan reward tidak sesuai porsi?
Jika hadiah atau imbalannya kelewat besar dibanding apa yang dilakukan, itulah yang disebut tidak sesuai porsi. Bisa juga dikategorikan sebagai upaya "menyogok" anak. Misalnya, tidur siang dihadiahi sebuah sepeda. Disamping tidak wajar, juga tidak sehat.
Tidak sesuai porsi juga kerap terjadi jika hadiah itu sudah direncanakan. sebelumnya, dengan atau tanpa aktivitas yang bisa dipenuhi anak. Misalnya orang tua minta si kecil menghabiskan makanannya dengan cepat hari ini, dan sebagai hadiahnya besok ia akan diajak ke Puncak. Padahal dipenuhi atau tidak, orang tua tetap akan mengajak anaknya ke Puncak, karena hal ini memang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Ini juga dapat dikategorikan sebagai upaya membarter aktivitas dengan hadiah atau menyogok. Jika aktivitas kecil saja selalu diberi imbalan hadiah, bisa jadi nantinya anak tidak mau melakukan sesutu tanpa hadiah sama sekali.
Kalau pola asuh ini dibiarkan berlanjut, jelas menjadi pola yang tidak sehat buat anak dan orang tua.
6. Apa dampaknya bagi anak dan orang tua?
Dalam jangka pendek, yang jelas orang tua akan kerepotan. Ia harus terus-terusan menyiapkan hadiah, sebab tanpa itu anak tidak mau melakukan sesuatu yang diperintahkan padanya alias pamrih.
Jangka panjangnya, anak jadi kehilangan motivasi, semuanya harus serba instan tanpa memikirkan bahwa untuk mendapatkan sesuatu, ia harus melalui sebuah proses.
Motivasi dari dalam dirinya (intrinsic motivation) tidak akan tumbuh, atau semua tergantung pada motivasi dari luar (extrinsic motivation), yaitu hadiah. Daya juangnya juga menjadi rendah, keinginan untuk maju dan menjadi lebih juga kurang.
Bisa juga anak ini kemudian menjadi anak yang "semau gue" atau hanya mau melakukan sesuatu kalau ada yang dia dapat; kalau tidak, ya tidak akan dilakukan.
Pendek kata, dia hanya mau melakukan apa yang dia mau, yang tidak ya tidak. Belum lagi pemberian "sogokan" ini dalam jangka panjang harus bertambah besar nilai bendanya. Anak yang terbiasa mendapat es krim, misalnya, sampai di suatu masa pasti akan merasa bosan dengan hadiah itu. Ia pun lantas minta yang lebih, seperti mainan, dan seterusnya.
Dapat dibayangkan bila kebiasaan ini terus berlanjut sampai dewasa, apa lagi yang akan dimintanya sebagai sogokan? Anak-anak yang selalu pamrih pada apa yang dilakukannya, setelah memasuki dunia yang lebih luas seperti Playgroup, akan kehilangan rasa percaya dirinya. Dia menemukan kondisi yang diterimanya di rumah berbeda dari kondisi yang didapatinya di "sekolah". Dia harus melakukan sesuatu yang diminta gurunya, tanpa mendapatkan apa pun. Atau bisa juga ia meniru pola asuh orang tuanya, yaitu memberikan imbalan seperti permen atau cokelat kepada teman yang mau melakukan apa yang dimintanya.
Ikuti lanjutannya besok....
goo.gl/qsSAea