27/03/2025
Yad Bhaviṣyo Vinaśyati (Hancurnya Masa Depan)
Tiga ikan hidup di danau. Suatu malam mereka mendengar dua nelayan setuju untuk datang ke danau keesokan paginya untuk memancing. Dua ikan kemudian memutuskan untuk meninggalkan danau melalui saluran. Ikan ketiga adalah ikan yang hanya pasrah dan tinggal di danau, di mana ia ditangkap di jaring keesokan paginya dan dibunuh.
Nilai moral yang bisa dipetik dari cerita ini adalah kita tidak akan bisa mengubah nasib kita jika hanya diam berpangku tangan menunggu datangnya sang takdir.
゚
Yad Bhaviṣyo Vinaśyati (Hancurnya Masa Depan)
Tiga ikan hidup di danau. Suatu malam mereka mendengar dua nelayan setuju untuk datang ke danau keesokan paginya untuk memancing. Dua ikan kemudian memutuska...
01/08/2024
AYO RUNGKAT AGAR TIDAK RUNGKAD
Ayo Rungkat Agar Tidak Rungkad
Oleh: Miswanto (Ketua Kombel Nesaba) Masih ingat lirik lagu yang satu ini? “Rungkad, Entek Entek an, Kelangan Kowe Sing Paling Tak Sayang, Stop Mencintaimu, Gawe Aku Ngelu…”. Ya itulah lagu yang sempat dipopulerkan oleh Happy Asmara. Lagu berjudul Rungkad ini sempat ngehits dan sering dinyanyi...
24/07/2024
Buku "Wariga dan Primbon: Memahami Pertanda Kehid**an" (https://play.google.com/store/books/details?id=VOD1EAAAQBAJ&pli=1) sudah banyak yang baca dan ngutip. Salah satunya dalam artikel di Detik.Com berikut.
https://www.detik.com/jateng/budaya/d-7424063/tata-cara-menghitung-hari-baik-pindah-rumah-menurut-weton-jawa
Tata Cara Menghitung Hari Baik Pindah Rumah Menurut Weton Jawa
Simak tata cara menghitung hari baik pindah rumah menurut weton Jawa berikut ini agar rezeki lancar dan terhindar dari hal-hal buruk!
18/07/2024
PRASASTI SANGGURAN DAN CATUR NIWEDYA
Prasasti Sangguran merupakan prasasti pada batu berangka tahun 850 Saka (928 Masehi) yang ditemukan di wilayah Ngandat, Keluarahan Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur. Oleh karena itu, prasasti ini juga disebut sebagai Prasasti Ngandat. Dalam prasasti ini disebut nama penguasa daerah pada masa itu, yakni Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga (Dyah Wawa).
Prasasti berbentuk tablet ini disebut juga Prasasti Minto (Minto Stone) karena dihadiahkan oleh Raffles kepada atasannya, Lord Minto, yang menjadi wakil raja Inggris di India. Keduanya pernah memimpin Hindia Belanda ketika Britania Raya menguasai Belanda (sebagai taklukan Prancis di era Napoleon) pada dasawarsa kedua abad ke-19. Raffles sendiri memperolehnya sebagai hadiah dari Kolonel Colin Mackenzie, yang mengambilnya setelah melihat batu bertulis ini.
Prasasti dengan tinggi 2 meter dan berbobot 3,8 ton ini dianggap penting karena menyebut raja Medang, yang berpusat di Jawa Tengah, sebagai penguasa daerah Malang, di Jawa Timur. Meskipun angka tahunnya tidak bersepakat dengan prasasti lainnya, isinya dianggap dapat membantu memecahkan misteri pindahnya pusat kekuasaan dari Jawa Tengah ke wilayah timur Pulau Jawa. Prasasti ini menyebut Mpu Sindok sebagai "mapatih" bukan sebagai "maharaja". Setahun kemudian nampaknya terjadi peralihan kekuasaan, karena prasasti Gemekan (930 Masehi) sudah menyebut Mpu Sindok sebagai penguasa wilayah.
Dalam Prasasti Sangguran baris 8-9 disebutkan sebagai berikut.
i bhaṭāra i sang hyang prāsāda kabhaktyan ing sīma kajurugusalyan i manañjung paknānya sīmangun pa…umangakṣa…ing samadanā i sang hyang dharma ngkānani śiwa catur-niwedya i bhatara pratidina mangkana iṣṭa prayojana śrī mahārāja muang rakryān mapatiḥ rikanang wanua i sangguran inarpaṇnākan i bhaṭāra i sang hyang prāsāda kabhaktyan ing sīma kajurugusalyan ing manañjung ...mā i waharu parṇnahanya swatantra tan katamāna dening patiḥ wahuta muang saprakāra ning mangilala drawya baji ing dangū
Terjemahan:
..untuk Bhatara yang selalu bersemayam di bangunan suci peribadatan di daerah perdikan para brahmana di Mananjung, untuk digunakan... memelihara ...dan membiayai berbagai keperluan bangunan suci pedharman tempat Siwa bersemayam melalui empat macam cara pemujaan untuk Bhatara setiap hari. Demikianlah maksud dari Sri Maharaja dan Rakryan Mapatih pada waktu itu terhadap perdikan di Sangguran yang dipersembahkan untuk Bhatara yang bersemayam di bangunan suci kebaktian di daerah perdikan para brahmana di Mananjung. Daerah perdikan di Waharu tersebut kedudukannya menjadi daerah swatantra, yang tidak boleh dimasuki oleh patih, wahuta, dan semua abdi dalem raja sejak dahulu.
Pada prasasti tersebut, jelas sekali bahwa cara pemujaan yang dilakukan pada waktu itu adalah Catur Niwedya. Monnier-William (1899) mengartikan kata ‘niwedya (निवेद्य)’ sendiri dapat diartikan sebagai ‘an offering of food for an idol’. Dalam Siwa Purana 1.11.27 disebutkan “vastraṃ gaṃdhaṃ tathā puṣpaṃ dhūpaṃ dīpaṃ nivedanam” persembahan nivedya yang dapat diberikan adalah: kain/wastra, bunga, d**a, dan wewangian. Dalam Bhagawad Gita, Catur Niwedya itu bisa berupa: daun-daunan (patram), bunga (puspam), biji-bijian (phalam), dan air (toyam). Apakah itu yang dimaksud sebagai Catur Niwedya sebagaimana tertulis pada Prasasti Sangguran tersebut, tentu perlu kajian lebih lanjut.
Penemuan Candi di wilayah Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu Batu pada tahun 2019 lalu memunculkan spekulasi bahwa bangunan suci tersebut terkait dengan isi dari prasasti ini. Ada kemungkinan besar bahwa bangunan Candi tersebut merupakan tempat suci untuk memuja Dewa Siwa yang dilakukan dengan Catur Niwedya tersebut.
Apapun jenis Catur Niwedya yang dimaksud dalam Prasasti Sangguran tersebut, tentu itu merupakan kearifan lokal yang diajarkan oleh para leluhur kita. Barangkali kita perlu menggali kembali cara-cara pemujaan yang diwariskan oleh para leluhur kita berdasarkan prasasti-prasasti yang ada dan menghidupkannya kembali, tentu dengan penyesuaian di era kekinian. Dengan begitu energi positif dari para leluhur yang telah lama terpendam tersebut akan bangkit kembali dan menguatkan keyakinan kita akan kejayaan leluhur kita di masa lampau.
Bhumi Singhasari
Romi
05/06/2024
Sahabat Romi yang Baik Hati.
Dalam hidup ini kadang kita tidak sadar bahwa sesuatu yang kita kejar-kejar ternyata memiliki konsekuensi yang kita kejar. Mereka dibutakan oleh keinginan, bahkan harus kehilangan sesuatu yang berharga hanya karena mengejar sesuatu yang nyaris tidak ada manfaat untuknya.
Sebuah adagium klasik dalam masyarakat Jawa mengatakan, "mburu uceng kelangan deleg". Uceng adalah ikan wader (ikan kecil) dan deleg adalah ikan kutuk (ikan besar). Oleh karena dibutakan oleh nafsu keinginannya, manusia bisa saja kehilangan emas hanya untuk mencari bongkahan karang.
TikTok · Romo Miswanto Official
Check out Romo Miswanto Official’s video.
19/05/2024
NURANI
Ada salah satu ajaran Widura dalam Mahabharata yang kemudian dibukukan dalam kitab Widura Niti. Salah satu ajaran Widura tersebut adalah tentang kemampuan berpikir atau nurani. Salah satunya yang termuat dalam sloka berikut.
पापं प्रज्ञाम् नाशयति क्रियमाणं पुनः पुनः ।
नष्टप्राज्ञः पापमेव नित्यमारभते नरः ॥
pāpaṃ prajñām nāśayati kriyamāṇaṃ punaḥ punaḥ,
naṣṭaprājñaḥ pāpameva nityamārabhate naraḥ.
Terjemahan:
Seseorang akan kehilangan hati nuraninya (kemampuan berpikir) karena terus-menerus melakukan dosa. Dan orang yang kehilangan nuraninya akan terus melakukan dosa.
Nurani atau kesadaran adalah kemampuan berpikir yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia melalui akalnya. Selama manusia itu bisa menggunakan akal sehatnya tersebut, niscaaya dia tidak akan melakukan dosa. Akan tetapi ketika dia sudah kehilangan akal sehatnya maka dosa terbesar pun akan dicari-cari pembenarannya.
ROMI
09/05/2024
Dharma wacana yang berjudul "Pancasila dan Lingkungan: Lima Nilai Penting untuk Mempertahankan Hutan Tropis ini merupakan salah satu dari rekaman dari Buku Dharma Wacana tentang Perlindungan Hutan Tropis Berbasis Rumah Ibadah Hindu yang digagas oleh Interreligion Rainforest Initiative (IRI) Indonesia di mana saya menjadi salah satu penulisnya.
Buku ini nantinya akan menjadi panduan bagi para duta dharma untuk bisa menyuarakan pentingnya hutan tropis bagi kita.
PANCASILA DAN LINGKUNGAN: LIMA NILAI PENTING UNTUK MEMPERTAHANKAN HUTAN TROPIS
Dharma wacana yang berjudul "Pancasila dan Lingkungan: Lima Nilai Penting untuk Mempertahankan Hutan Tropis ini merupakan salah satu dari rekaman dari Buku D...
01/05/2024
Kembali ke aktivitas rutin, zoom dalam rangka penyelarasan buku
BUKU PANDUAN PERLINDUNGAN HUTAN TROPIS BERBASIS RUMAH IBADAH BAGI UMAT HINDU yang nantinya diterbitkan oleh Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia dan PHDI Pusat. Buku yang diharapkan bermanfaat untuk keberlanjutan dunia.
22/04/2024
Sebuah tutur tentang pentingnya hidup untuk tidak grusa-grusu dan tidak banyak gaya. Ini sebuah kolaborasi pemikiran yang diambil dari dari Yoga Sutra Patanjali 1.2 dan Hukum Newton II. Mau tau lebih jauh, silakan simak video berikut.
HIDUP ITU JANGAN GRUSA-GRUSU DAN JANGAN BANYAK GAYA
Hidup itu jangan grusa-grusu dan jangan banyak gaya. Ini sebuah kolaborasi pemikiran yang diambil dari dari Yoga Sutra Patanjali 1.2 dan Hukum Newton II.
21/04/2024
Silakan yang menginginkan pembelajaran Macapat, silakan buka link berikut berisi playlist pembelajaran Macapat.
Macapat
Share your videos with friends, family, and the world
14/04/2024
Boleh saja percaya diri (pd kecil), tapi jangan berlebih, karena bisa jadi PD (personality disorder) atau gangguan kepribadian.
13/04/2024
Kata para ahli, orang tua adalah role model yang sesungguhnya bagi anak-anaknya. Jika kita ingin anak cucu kita bisa melestarikan warisan budaya leluhur kita yang adi luhung, maka tidak ada jalan lain kecuali kita sendiri yang menjadi role model bagi mereka dalam upaya pelestarian budaya leluhur kita. Misalnya saja dalam nembang macapat, maka kita juga harus mengajari dan memberikan contoh kepada mereka. Bersama ini saya coba akan suguhkan bagaimana mengajari anak tembang Macapat sejak dini. Semoga bermanfaat. Jangan lupa like, komen, dan subscribe ya, biar anaknya (Mas Natan) tambah semangat untuk belajar Nembang).
Mengajari Anak Tembang Macapat Sejak Dini
Kata para ahli, orang tua adalah role model yang sesungguhnya bagi anak-anaknya. Jika kita ingin anak cucu kita bisa melestarikan warisan budaya leluhur kita...