Special Needs Boarding School Ray's of Life Malang

Special Needs Boarding School Ray's of Life Malang

Share

Sekolah Khusus Autis dan ABK terletak di kota Malang Jawa Timur dengan konsep sekloah Berasrama

Special Needs Boarding School Ray's of Life Malang merupakan sekolah untuk anak autis dan ABK yang di lengkapi dengan Asrama, Sekolah ini bertujuan untuk mendidik dan mengembangkan bakat dan minat serta menggali lebih dalam potensi anak autis dan ABK. Sekolah ini terletak di kota Malang Jawa Timur, dengan lokasi yang sejuk dan aman maka sekolah ini diharapkan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki setiap individu

03/08/2016

Kiat Terapi Anak Autis Saat Tantrum

1. Pada saat anak dengan spektrum autis tantrum, ciptakan ‘safety area’. Pastikan tidak ada anak kecil lain di dekat anak, tidak ada benda tajam ataupun tumpul yang dapat digunakan anak untuk membahayakan orang lain maupun dirinya sendiri.

2. Observasi anak dari jarak aman. Biarkan anak sendiri terlebih dahulu untuk memberikan waktu anak menenangkan dirinya sendiri. Hal ini berlaku jika anak sedang berada di rumah, jika sedang di keramaian atau di tempat umum, segera tarik anak ke area yang sepi dan pastikan anak tidak lepas dari Anda.

3. Netralkan emosi Anda. Ingatlah anak yang sedang Anda hadapi adalah anak dengan spektrum autis. Mereka diberikan keistimewaan untuk berkomunikasi dengan cara yang unik. Kesabaran merupakan kunci utama saat berhadapan dengan anak dengan spektrum autis. Dengan menetralkan emosi, kita juga dapat terhindar dari dampak negatif yang kemungkinan besar terjadi saat menangani anak dengan spektrum autis yang sedang tantrum, seperti jantung berdebar-debar, kepala pening dan sebagainya. Tariklah napas dalam-dalam, berdoa lalu dekatilah anak dengan sikap atau bahasa tubuh yang bersahabat.

4. Tatap mata anak meskipun anak mungkin tidak membalas tatapan mata Anda. Tanyakan keinginannya dalam bahasa yang sederhana, misalnya ‘kamu kenapa?’ ‘kamu mau apa?’ Setelah memberikan pertanyaan, tunggulah beberapa saat untuk menunggu respon anak. Untuk anak dengan spektrum autis yang memiliki kemampuan verbal, mereka mungkin akan mengungkapkan keinginannya dengan sepatah kata ataupun sepotong kalimat, seperti ‘mau makan’, ‘mau jalan-jalan’, ‘mau menggambar’ dan sebagainya. Untuk anak dengan spektrum autis yang belum memiliki kemampuan verbal, Anda dapat menyediakan simbol-simbol yang mewakili aktivitas tertentu, seperti piring untuk makan, gelas untuk minum dan sebagainya. Anak dibiasakan untuk menunjuk simbol tertentu untuk mengungkapkan keinginannya.

5. Untuk membentuk perilaku positif pada anak, sebaiknya Anda jangan langsung memenuhi keinginan anak. Untuk tahap perkenalan awal pada peraturan (rules), minimal anak menenangkan dirinya terlebih dahulu baru kemudian berikan apa yang ia inginkan.

6. Jika anak tantrum karena menolak untuk diberikan instruksi tertentu, misalnya belajar membaca atau menulis, ikuti langkah-langkah 1-5 di atas dan saat ditanyakan keinginannya anak misalnya mengungkapkan ia ingin menggambar, mintalah anak untuk menenangkan dirinya, selanjutnya bimbing ia melakukan instruksi yang kita berikan terlebih dahulu dan jelaskan setelah itu baru ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Untuk pembentukan perilaku awal, durasi waktu pelaksanaan instruksi, misalnya membaca, sebaiknya tidak terlalu lama dan selanjutnya dapat ditingkatkan seiring dengan berjalannya waktu dengan mengamati perkembangan anak. Pastikan juga sebelum kegiatan atau pemberian instruksi dimulai, kebutuhan dasar anak sudah terpenuhi (makan, minum, kondisi tidak sedang lelah dan sebagainya).

7. Adakalanya kontak fisik dibutuhkan untuk menenangkan anak dengan spektrum autis yang sedang tantrum. Ini terjadi saat anak tantrum dalam keadaan yang sangat hebat sehingga Anda kesulitan mengendalikan mereka dan khawatir anak akan membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain. Teknik yang biasanya digunakan adalah teknik sandwich, dengan cara menggulung anak menggunakan kasur lipat atau matras. Pastikan keselamatan anak tetap diperhatikan selama teknik dilakukan; posisi kedua tangan di sisi tubuh, kaki tidak tertekuk dan area kepala sampai mulut tidak tertutup kasur lipat atau matras agar anak tidak mengalami kesulitan untuk bernapas.

Sebagai orangtua mungkin ada perasaan tidak tega melihat anak menangis. Manusiawi memang, namun hidup harus memilih dan pilihan dalam hal ini adalah apakah Anda ingin membiarkan anak selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan karena tidak tega melihat mereka menangis untuk selanjutnya mungkin Anda akan berharap untuk dapat memperbaiki hal tersebut atau biarkan anak menangis saat ini karena penerapan disiplin dan manajemen perilaku yang Anda lakukan dan selanjutnya Anda serta anak Anda tersenyum bahagia di masa yang akan datang

17/11/2015

Patofisiologi Autisme

Penelitian menunjukkan, sebagian besar anak autis di Indonesia mengalami keracunan logam berat, seperti timbal (Pb), merkuri / raksa (Hg), kadmium (Cd), dan stibium (Sb). Kontaminasi logam ini bisa berasal dari polusi udara (dari asap kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar yang mengandung timbal), tambalan gigi yang menggunakan amalgam, vaksin (yang menggunakan merkuri sebagai pengawet), serta jika mengkonsumsi ikan dari perairan yang sudah tercemar.

Terutama ikan yang berasal dari perairan dangkal, semisal teri dan kerang-kerangan. (Kurniasih, dkk., 2002). Logam berat yang masuk ke dalam tubuh, menimbulkan akibat dekstruktif yang sangat dahsyat. Misalnya, sel otak yang sedang berkembang bila ditetesi merkuri akan langsung rusak. Merkuri terutama merusak myelin, yaitu selaput pelindung saraf-saraf otak. Akibatnya, selsel saraf otak tampak seperti kabel-kabel listrik yang terbuka dan rusak, tidak bisa lagi berfungsi dengan baik.

Selain itu, merkuri juga menyebabkan enzim DPP-4 tidak berfungsi. Enzim ini berfungsi sebagai pemecah gluten dan kasein. Hal inilah yang menyebabkan gluten dan kasein tidak bisa tercerna dengan baik di dalam usus. Dampak lainnya adalah turunnya daya kekebalan tubuh. Akibatnya, anak penyandang autis menjadi gampang sakit karena sel-sel pertahanan tubuhnya menurun drastis, sehingga tidak cukup jumlahnya untuk melawan bibit penyakit yang masuk. (Kurniasih, dkk., 2002). Biasanya bila anak sakit, orangtua akan langsung membawanya ke dokter dan oleh dokter akan diberi antibiotika. Padahal, antibiotika tak saja membunuh kuman-kuman penyakit, tetapi juga bakteri-bakteri baik di dalam perut, yaitu Lactobacillus.

Dengan terbunuhnya Lactobacillus, keseimbangan yang ada di dalam usus menjadi berubah. Jamur yang pertumbuhannya selama ini dikontrol oleh Lactobacillus, bisa berkembang biak dengan bebas di dalam usus alias tak terkendali. Jamur ini beranakpinak sembari menempelkan diri ke dinding usus dan mengeluarkan enzim pencernaannya sendiri. Akibatnya, dinding mukosa usus menjadi berlubang-lubang kecil. Lubang-lubang kecil ini meningkatkan permeabilitas usus, yaitu kemampuan usus untuk menyerap partikelpartikel makanan. Karena dinding usus penuh dengan jamur yang tumbuh seperti tanaman merambat pada dinding usus, enzim pencernaan pun terhalang. Jadi, kurangnya enzim pencernaan pada penyandang autisme ini selain disebabkan tidak berfungsinya enzim DPP-4 sehingga tidak bisa memecah gluten dan casein, juga akibat kurangnya enzim pencernaan yang lain.

Akibat kurangnya enzim pencernaan yang berfungsi untuk memecah gluten dan kasein, maka gluten dan kasein tidak dipecah menjadi asam amino (struktur terkecil dari protein). Pada orang normal, protein yang bisa diserap oleh tubuh hanya yang berbentuk asam amino. Nah, bila ada gangguan pencernaan, sebagian gluten dan kasein tadi belum dipecah menjadi asam amino, melainkan masih terdiri dari rangkaian beberapa asam amino yang disebut peptide dan yang tak bisa diserap tubuh karena ukurannya yang besar.

Namun, karena keadaan mukosa usus lebih bisa ditembus air, peptide sanggup menyelinap melalui lubang-lubang kecil pada mukosa, lalu terserap oleh usus dan dibawa aliran darah hingga ke otak. Di sini, jika peptide bersatu dengan sel-sel reseptor opiod, mereka akan bereaksi seperti morfin. Peptide yang berasal dari gluten akan menjadi gluteomorphin, sedangkan peptide yang berasal dari kasein akan menjadi caseomorphin.

Dinding usus yang lebih bisa ditembus air ini, juga mendasari keadaan multiple food allergy (alergi terhadap berbagai jenis makanan) pada penyandang autisme. Makanan-makanan yang belum tercerna dengan sempurna akan menyelinap melewati lubang-lubang kecil pada dinding usus. Di luar dinding usus, sudah menunggu sel-sel pembuat sel-sel pembuat antibodi.. Oleh sel-sel antibodi, makanan yang belum tercerna sempurna tadi dianggap sebagai zat asing dalam tubuh. Bila kebetulan yang belum tercerna ini adalah telur, maka telur akan disergap sel-sel pembuat antibodi selanjutnya akan dibuatkan antibodi untuk telur. Akibatnya, tubuh si penyandang autisme menjadi alergi terhadap telur. Hal sama terjadi untuk bahan-bahan makanan lainnya. Jika keadaan dinding usus ini tidak cepat-cepat diperbaiki, daftar makanan yang dapat menyebabkan reaksi alergi pada anak pun bisa bertambah panjang.

17/11/2015

Terapi Diet pada Penderita Autisme

Sampai saat ini belum ada obat atau diet khusus yang dapat memperbaiki struktur otak atau jaringan syaraf yang kelihatannya mendasari gangguan autisme. Seperti diketahui gejala yang timbul pada anak dengan gangguan autisme sangat bervariasi, oleh karena itu terapinya sangat individual tergantung keadaan dan gejala yang timbul, tidak bisa diseragamkan. Namun akan sulit sekali membuat pedoman diet yang sifatnya sangat individual. Perlu diperhatikan bahwa anak dengan gangguan autisme umumnya sangat alergi terhadap beberapa makanan. Pengalaman dan perhatian orangtua dalam mengatur makanan dan mengamati gejala yang timbul akibat makanan tertentu sangat bermanfaat dalam terapi selanjutnya. Terapi diet disesuaikan dengan gejala utama yang timbul pada anak.

Berikut beberapa contoh diet anak autisme.

1. Diet tanpa gluten dan tanpa kasein

Berbagai diet sering direkomendasikan untuk anak dengan gangguan autisme. Pada umumnya, orangtua mulai dengan diet tanpa gluten dan kasein, yang berarti menghindari makanan dan minuman yang mengandung gluten dan kasein.

Gluten adalah protein yang secara alami terdapat dalam keluarga “rumput” seperti gandung/terigu, havermuth/oat, dan barley. Gluten memberi kekuatan dan kekenyalan pada tepung terigu dan tepung bahan sejenis, sedangkan kasein adalah protein susu. Pada orang sehat, mengonsumsi gluten dan kasein tidak akan menyebabkan masalah yang serius/memicu timbulnya gejala. Pada umumnya, diet ini tidak sulit dilaksanakan karena makanan pokok orang Indonesia adalah nasi yang tidak mengandung gluten. Beberapa contoh resep masakan yang terdapat pada situs Autis.info ini diutamakan pada menu diet tanpa gluten dan tanpa kasein. Bila anak ternyata ada gangguan lain, maka tinggal menyesuaikan resep masakan tersebut dengan mengganti bahan makanan yang dianjurkan.

Perbaikan / penurunan gejala autisme dengan diet khusus biasanya dapat dilihat dalam waktu antara 1-3 minggu. Apabila setelah beberapa bulan menjalankan diet tersebut tidak ada kemajuan, berarti diet tersebut tidak cocok dan anak dapat diberi makanan seperti sebelumnya.

Makanan yang dihindari adalah :

Makanan yang mengandung gluten, yaitu semua makanan dan minuman yang dibuat dari terigu, havermuth, dan oat misalnya roti, mie, kue-kue, cake, biscuit, kue kering, pizza, macaroni, spageti, tepung bumbu, dan sebagainya.
Produk-produk lain seperti soda kue, baking soda, kaldu instant, saus tomat dan saus lainnya, serta lada bubuk, mungkin juga menggunakan tepung terigu sebagai bahan campuran. Jadi, perlu hati-hati pemakaiannya. Cermati/baca label pada kemasannya.
Makanan sumber kasein, yaitu susu dan hasil olahnya misalnya, es krim, keju, mentega, yogurt, dan makanan yang menggunakan campuran susu.
Daging, ikan, atau ayam yang diawetkan dan diolah seperti sosis, kornet, nugget, hotdog, sarden, daging asap, ikan asap, dan sebagainya. Tempe juga tidak dianjurkan terutama bagi anak yang alergi terhadap jamur karena pembuatan tempe menggunakan fermentasi ragi.
Buah dan sayur yang diawetkan seperti buah dan sayur dalam kaleng.

Makanan yang dianjurkan adalah :

Makanan sumber karbohidrat dipilih yang tidak mengandung gluten, misalnya beras, singkong, ubi, talas, jagung, tepung beras, tapioca, ararut, maizena, bihun, soun, dan sebagainya.
Makanan sumber protein dipilih yang tidak mengandung kasein, misalnya susu kedelai, daging, dan ikan segar (tidak diawetkan), unggas, telur, udang, kerang, cumi, tahu, kacang hijau, kacang merah, kacang tolo, kacang mede, kacang kapri dan kacang-kacangan lainnya.
Sayuran segar seperti bayam, brokoli, labu siam, labu kuning, kangkung, tomat, wortel, timun, dan sebagainya.
Buah-buahan segar seperti anggur, apel, papaya, mangga, pisang, jambu, jeruk, semangka, dan sebagainya.

2. Diet anti-yeast / ragi / jamur

Diet ini diberikan kepada anak dengan gangguan infeksi jamur/yeast. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pertumbuhan jamur erat kaitannya dengan gula, maka makanan yang diberikan tanpa menggunakan gula, yeast, dan jamur.

Makanan yang perlu dihindari adalah :

Roti, pastry, biscuit, kue-kue dan makanan sejenis roti, yang menggunakan gula dan yeast.
Semua jenis keju.
Daging, ikan atau ayam olahan seperti daging asap, sosis, hotdog, kornet, dan lain-lain.
Macam-macam saus (saus tomat, saus cabai), bumbu/rempah, mustard, monosodium glutamate, macam-macam kecap, macam-macam acar (timun, bawang, zaitun) atau makanan yang menggunakan cuka, mayonnaise, atau salad dressing.
Semua jenis jamur segar maupun kering misalnya jamur kuping, jamur merang, dan lain-lain.
Buah yang dikeringkan misalnya kismis, aprokot, kurma, pisang, prune, dan lain-lain.
Fruit juice/sari buah yang diawetkan, minuman beralkohol, dan semua minuman yang manis.
Sisa makanan juga tidak boleh diberikan karena jamur dapat tumbuh dengan cepat pada sisa makanan tersebut, kecuali disimpan dalam lemari es.

Makanan tersebut dianjurkan untuk dihindari 1-2 minggu. Setelah itu, untuk mencobanya biasanya diberikan satu per satu. Bila tidak menimbulkan gejala, berarti dapat dikonsumsi.

Makanan yang dianjurkan adalah :

Makanan sumber karbohidrat: beras, tepung beras, kentang, ubi, singkong, jagung, dan tales. Roti atau biscuit dapat diberikan bila dibuat dari tepaung yang bukan tepung terigu.
Makanan sumber protein seperti daging, ikan, ayam, udang dan hasil laut lain yang segar.
Makanan sumber protein nabati seperti kacang-kacangan (almod, mete, kacang kedelai, kacang hijau, kacang polong, dan lainnya). Namun, kacang tanah tidak dianjurkan karena sering berjamur.
Semua sayuran segar terutama yang rendah karbohidrat seperti brokoli, kol, kembang kol, bit, wortel, timun, labu siam, bayam, terong, sawi, tomat, buncis, kacang panjang, kangkung, tomat, dan lain-lain.
Buah-buahan segar dalam jumlah terbatas.

3. Diet untuk alergi dan intoleransi makanan

Anak autis umumnya menderita alergi berat. Makanan yang sering menimbulkan alergi adalah ikan, udang, telur, susu, cokelat, gandum/terigu, dan bias lebih banyak lagi. Cara mengatur makanan untuk anak alergi dan intoleransi makanan, pertama-tama perlu diperhatikan sumber penyebabnya. Makanan yang diduga menyebabkan gejala alergi/intoleransi harus dihindarkan. Misalnya, jika anak alergi terhadap telur, maka semua makanan yang menggunakan telur harus dihindarkan. Makanan tersebut tidak harus dipantang seumur hidup. Dengan bertambahnya umur anak, makanan tersebut dapat diperkenalkan satu per satu, sedikit demi sedikit.

Cara mengatur makanan secara umum:

Berikan makanan seimbang untuk menjamin agar tubuh memperoleh semua zat gizi yang dibutuhkan untuk keperluan pertumbuhan, perbaikan sel-sel yang rusak dan kegiatan sehari-hari.
Gula sebaiknya dihindari, khususnya bagi yang hiperaktif dan ada infeksi jamur. Fruktosa dapat digunakan sebagai pengganti gula karena penyerapan fruktosa lebih lambat disbanding gula/sukrosa.
Minyak untuk memasak sebaiknya menggunakan minyak sayur, minyak jagung, minyak biji bunga matahari, minyak kacang tanah, minyak kedelai, atau minyak olive. Bila perlu menambah konsumsi lemak, makanan dapat digoreng.
Cukup mengonsumsi serat, khususnya serat yang berasal dari sayuran dan buah-buahan segar. Konsumsi sayur dan buah 3-5 porsi per hari.
Pilih makanan yang tidak menggunakan food additive (zat penambah rasa, zat pewarna, zat pengawet).
Bila keseimbangan zat gizi tidak dapat dipenuhi, pertimbangkan pemberian suplemen vitamin dan mineral (vitamin B6, vitmin C, seng, dan magnesium).
Membaca label makanan untuk mengetahui komposisi makanan secara lengkap dan tanggal kadaluwarsanya.
Berikan makanan yang cukup bervariasi. Bila makanan monoton, maka anak akan bosan.
Hindari junk food seperti yang saat ini banyak dijual, ganti dengan buah dan sayuran segar.

11/11/2015

Pestisida sebabkan autisme pada bayi?

Perempuan hamil yang berdomisili dekat lahan pertanian yang menggunakan pestisida amat berisiko melahirkan anak dengan autisme, menurut studi di Amerika Serikat.
Temuan sekelompok peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas California, Davis, didapat ketika mengkaji basis data penggunaan pestisida di Negara Bagian California dan alamat rumah 1.000 responden yang memiliki anak dengan autisme.
“Kami memetakan dimana responden kami bermukim selama periode kehamilan dan kelahiran,” kata Irva Hertz-Piccioto, peneliti utama.
Pemetaan itu dimungkinkan lantaran aturan hukum di California mengharuskan setiap pengguna pestisida menyerahkan laporan kepada aparat berwenang mengenai jenis, di mana, kapan, dan seberapa banyak pestisida digunakan.
“Kami melihat beberapa jenis pestisida umum digunakan dekat rumah-rumah tempat ibu yang memiliki anak penyandang autisme atau kelambanan kognitif,” kata Hertz-Piccioto.
Periode rentan
Berdasarkan data kajian, sekitar sepertiga dari seluruh responden bermukim dalam radius 1,25 hingga 1,75 kilometer dari lokasi pestisida digunakan.
Para peneliti kemudian mendapati bahwa risiko autisme pada janin berada pada puncak tatkala pestisida terpapar kepada kandungan dalam periode trimester kedua dan ketiga. Pembentukan otak pada janin, lanjut para peneliti, amat rentan tatkala terkena pestisida.
“Studi ini menegaskan hasil riset sebelumnya yang melaporkan keterkaitan antara anak dengan autisme dan paparan produk kimia pertanian terhadap janin di California. Pesannya amat jelas, perempuan hamil harus menghindari kontak dengan produk kimia pertanian,” kata Janie Shelton, peneliti Universitas California, Davis.
Autisme adalah suatu gangguan neurobiologis yang terjadi pada anak di bawah umur 3 tahun. Jenis dan keparahannya amat beragam pada setiap kasus.
Di AS, kasus autisme meningkat setiap tahun dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa pejabat Departemen Kesehatan AS mengatakan autisme kini terdapat pada satu anak dari setiap 68 anak. BBCINDONESIA

11/11/2015

Jarak kelahiran terlalu dekat tingkatkan risiko autis pada anak?

Rejeki berupa kehamilan memang tidak bisa ditolak. Terutama jika Anda memang sudah lama mengidam-idamkannya. Setelah kelahiran anak pertama, beberapa bulan kemudian Anda hamil lagi. Memang sepintas hal tersebut tidak menjadi masalah. Namun sebuah penelitian yang dilansir dari dailymail.co.uk menemukan hal yang mengejutkan. Dikatakan bahwa jarak kelahiran yang terlalu dekat bisa meningkatkan risiko autis pada buah hati Anda. Bagaimana bisa?

“Asam folat dan zat besi sangat mempengaruhi kesehatan janin yang dikandung. Namun ketika jarak kehamilan yang terjadi berdekatan, maka tubuh wanita kehabisan cadangan asam folat karena kehamilan sebelumnya. Sehingga di kehamilan berikutnya, dia pun akan kekurangan zat besi dan asam folat. Padahal nutrisi ini penting untuk perkembangan otak yang sehat,” terang Dr Lisa Croen dari Kaiser Permanente Division of Research.

Sebelum hasil ini, penelitian sebelumnya menemukan bahwa tingginya kelahiran bayi autis terjadi ketika si ibu mengandung di usia yang muda.

“Tak hanya faktor usia ibu yang mengandung, dekatnya interval kehamilan juga mempengaruhi. Kami menemukan bahwa risiko autisme meningkat dari 1,5 hingga 3 kali dengan interval jarak kurang dari 2 tahun.”

Entah penelitian ini benar atau tidak, namun tidak ada salahnya jika Anda memperhatikan asupan asam folat dan zat besi Anda selama masa kehamilan. Sebab hal ini dapat mencegah kemungkinan bayi lahir secara cacat atau mengidap autisme. MERDEKA

04/11/2015

Kurang Hormon Vasopressin Bisa Picu Anak Menjadi Autis

Rendahnya tingkat hormon Vasopressin berkaitan dengan risiko anak terserang autis, menurut studi terbaru dari Stanford University School of Medicine. Dalam sebuah studi terhadap 159 anak-anak, 57 di antaranya memiliki autisme, para peneliti menemukan bahwa anak-anak autis yang memiliki tingkat Vasopressin terendah dalam darah mereka juga memiliki gangguan sosial terbesar, seperti dilansir Fox News.

"Apa yang menarik dari studi ini adalah bahwa jika anak memiliki tingkat Vasopressin rendah, mungkin anak Anda perlu perawatan," kata peneliti senior, Karen Parker.

Vasopresin, secara struktural mirip dengan oksitosin dan berperan dalam perilaku sosial. Para peneliti mempelajari teori ini dari rentang usia anak 6 sampai 8 tahun. Dalam penelitian pada studi pertama, mereka diukur berdasarkan jumlah cairan serebrospinal yang berfungsi untuk menentukan apakah kadar vasopresin dalam darah mencerminkan tingkat hormon di otak.

"Autisme adalah gangguan otak," kata Parker. analisadaily

24/10/2015

Sekolah Inklusi, solusi untuk anak berkebutuhan khusus?

Apakah sekolah iklusi itu? Sekolah inklusi adalah sekolah regular tapi menerima Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan menyediakan sistem layanan pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan anak tanpa kebutuhan khusus (ATBK) dan ABK melalui adaptasi kurikulum, pembelajaran, penilaian, dan sarana prasarananya. Yang termasuk ABK ini adalah tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunagrahita, tuna daksa, tuna laras (anak dengan gangguan emosi, sosial dan perilaku), tuna ganda, lamban belajar, penyandang autis, dan termasuk p**a anak dengan potensi kecerdasan luar biasa (genius).

Dengan adanya sekolah inklusi ABK dapat bersekolah di sekolah regular yang ditunjuk sebagai sekolah inklusi. Di sekolah tersebut ABK mendapat pelayanan pendidikan dari guru pembimbing khusus dan sarana prasarananya. Prinsip mendasar dari pendidikan inklusi adalah selama memungkinkan, semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. Jadi disini setiap anak dapat diterima menjadi bagian dari kelas tersebut, dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya maupun anggota masyarakat lain sehingga kebutuhan individualnya dapat terpenuhi. Pelayananan pendidikan yang diberikan secara bersamaan, sehingga akan terjadi interaksi antara keduanya, saling memahami, mengerti adanya perbedaan, dan meningkatkan empati bagi anak-anak reguler. Untuk proses belajar mata ajaran tertentu bagi sebagian ABK dengan kategori autis, tunanetra, tunarungu, atau tuna grahita, ABK tersebut dimasukkan di dalam ruang khusus untuk ditangani guru khusus dengan kegiatan terapi sesuai kebutuhan. Anak-anak berkebutuhan khusus tersebut juga tetap bisa belajar di kelas regular dengan guru pendamping bersamanya selain guru kelas.

Model-model pembelajaran ABK yang dapat diterapkan di sekolah inklusi: (1).Kelas regular/ inklusi penuh yaitu ABK yang tidak mengalami gangguan intelektual mengikuti pelajaran di kelas biasa. (2). Cluster, para ABK dikelompokkan tapi masih dalam satu kelas regular dengan pendamping khusus, (3). Pull out, ABK ditarik ke ruang khusus untuk kesempatan dan pelajaran tertentu, didampingi guru khusus, (4). Cluster and pull out, kombinasi antara model cluster dan pull out, (5). Kelas khusus, sekolah menyediakan kelas khusus bagi ABK, namun untuk beberapa kegiatan pembelajaran tertentu siswa digabung dengan kelas regular, dan (6). Khusus penuh, sekolah menyediakan kelas khusus ABK, namun masih seatap dengan sekolah regular.

Berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jumlah sekolah inklusi di seluruh Indonesia mencapai 1.200 sekolah. Kelihatannya memang banyak, tetapi kalau dibandingkan dengan jumlah ABK yang mencapai 1.544.184 anak? Tentu saja jumlah ini sangat jauh dari cukup. Belum lagi rata-rata sekolah tersebut hanya menerima 5 orang murid berkebutuhan khusus per sekolahnya :( Saat ini pemerintah sedang merencanakan untuk memberikan alokasi dana untuk operasional sekolah sebesar RP 40 juta per sekolah inklusi. Semoga dalam tahun-tahun berikutnya rencana ini benar-benar ter-realisasi sehingga bisa ada lebih banyak lagi anak-anak berkebutuhan khusus yang mengenyam pendidikan dengan layak. icareautism

21/10/2015

Gen Baru Ditemukan Menyumbang Pada Autisme, Berkaitan dengan Penyakit Jiwa

“Dengan membariskan genom sekelompok anak dengan ketaknormalan perkembangan syaraf, termasuk autisme, yang juga dikenal sebagai ketaknormalan kromosom, kami menemukan titik pasti dimana untai DNA terganggu dan segmen tertukar di dalam atau antar kromosom. Sebagai hasilnya, kami mampu menemukan sederetan gen yang memiliki dampak individual kuat pada gangguan ini,” kata James Gusella, PhD, direktur Pusat Penelitian Genetika Manusia Rumah Sakit Umum Massachusetts (MGH CHGR) dan pengarang senior makalah Cell. “Kami juga menemukan kalau banyak gen ini berperan dalam berbagai situasi klinis – dari catat intelektual parah hingga schizofrenia muncul dewasa – membawa pada kesimp**an kalau gen-gen ini sangat sensitif bahkan pada gangguan kecil sekalipun.”

Dokter yang mengevaluasi anak dengan ketaknormalan perkembangan syaraf sering memesan uji untuk memeriksa kromosom mereka, namun walaupun uji ini dapat mendeteksi ketaknormalan yang signifikan dalam struktur kromosom, mereka tidak dapat menemukan gen tertentu yang terganggu. Varian struktur yang dikenal sebagai ketaknormalan kromosom seimbang (BCA) – dimana segmen DNA bergerak ke lokasi berbeda dalam kromosom yang sama atau tertukar dengan segmen lain di kromosom lain, menyisakan ukuran keseluruhan kromosom yang tidak berubah – dikenal lebih umum dalam individu dengan gangguan spektrum autisme daripada dalam pop**asi kontrol. Beberapa tahun lalu Gusella dan Cynthia Morton, PhD, dari Rumah Sakit Brigham dan Women memulai Proyek Anatomi Genom Perkembangan untuk menemukan gen-gen penting secara perkembangan dengan menyelidiki BCA, namun tugas menentukan patahan kromosom tertentu ini lambat dan membutuhkan kerja keras.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai dampak potensial BCA pada autisme, tim peneliti mengambil manfaat dari sebuah pendekatan baru yang dikembangkan oleh Michael Talkowski, PhD, dari MGH CHGR, kepala pengarang dalam makalah Cell, yang memungkinkan pembarisan genom keseluruhan individu dengan cara yang dapat mendeteksi patahan BCA. Seluruh prosedur dapat dicapai dalam kurang dari dua minggu dibandingkan berbulan-bulan seperti yang dilakukan sebelumnya. Pemindaian genom dari 38 individu yang didiagnosa menderita autisme atau gangguan perkembangan syaraf lainnya menemukan patahan kromosom dan penyusunan ulang dalam daerah penyandi non protein yang mengganggu 33 gen, hanya 11 yang sebelumnya telah diduga berkaitan dengan gangguan ini.

Saat mereka mengkompilasi hasil mereka, para peneliti tersendat pada berapa banyak gen terganggu BCA yang mereka temukan telah berasosiasi dengan gangguan jiwa dalam studi sebelumnya. Untuk menguji pengamatan mereka, mereka memeriksa data dari studi asosiasi genom terbesar dalam schizofrenia hingga saat ini – dengan bekerja sama dengan Mark Daly, PhD, juga dari MGH CHGR yang memimpin studi tersebut – dan menemukan kalau ada jumlah gen terganggu BCA yang signifikan ditemukan dalam studi sekarang berasosiasi dengan schizofrenia ketika diubah oleh varian yang lebih lembut yang umum dalam pop**asi.

“Teori kalau schizofrenia adalah gangguan perkembangan syaraf telah lama dihipotesiskan, namun kita baru sekarang mulai mengungkapkan sisi spesifik dari dasar genetika yang mendukung teori tersebut,” kata Talkowski. “Kami juga menemukan kalau berbagai variasi gen – delesi, duplikasi, atau inaktivasi – dapat menghasilkan efek yang sangat mirip, sementara dua perubahan yang sama dalam lokasi yang sama dapat memiliki manifestasi perkembangan syaraf yang sangat berbeda. Kami menduga kalau penyebab genetik dari autisme dan ketaknormalan perkembangan syaraf lainnya bersifat kompleks dan sepertinya melibatkan banyak gen, dan data kami mendukung hal tersebut.”

Tambahan dari Gusella, yang merupakan profesor neurogenetika di Sekolah Medis Harvard, “Hasil kami menunjukkan kalau banyak gen dan jalur penting bagi perkembangan otak normal dan gangguan tersebut dapat membawa keanekaragaman kondisi perkembangan atau jiwa, menjamin studi lebih jauh yang ekstensif. Kami berharap menyelidiki bagaimana gangguan gen ini mengubah gen dan jalur lain dan seberapa luas penyusunan ulang ini dalam pop**asi umum. Ini adalah langkah pertama dalam apa yang akan menjadi perjalanan besar menuju memahami gen yang ada dibalik patofisiologi gangguan perkembangan syaraf dan jiwa dan mengembangkan perlakukan klinis baru.”

Peneliti dari 15 lembaga di tiga negara – termasuk Rumah Sakit Umum Massachusetts, Lembaga Broad, Rumah Sakit Brigham dan Women, dan Sekolah Medis Harvard – bekerjasama dengan Talkowski, Gusella, Morton, dan Daly dalam penyelidikan ini. Dukungan untuk studi ini mencakup dana dari Lembaga Kesehatan Nasional, Inisiatif Penelitian Autisme Yayasan Simons, dan Autism Speaks.

Sumber berita: Massachusetts General Hospital. FAKTAILMIAH

20/10/2015

Di Buka Pendaftaran Terapi untuk anak Autis dan Kebutuhan khusus (Bisa di Asrama) informasi lebih lanjut silahkan datang ke Jl. Raya Tlogomas Perum Bukit Cemara Tujuh Blok F-25 Malang Jawa Timur CP: 085243466930

20/10/2015

Siapa yang Lebih Mungkin Memiliki Anak Autis?

Ibu remaja dan perempuan di atas usia 40 tahun lebih cenderung untuk memiliki anak dengan autisme, berdasarkan sebuah penelitian terbaru.

Selain itu, orang tua dengan kesenjangan usia yang relatif besar juga lebih mungkin membesarkan anak-anak dengan kondisi autisme.

Ini merupakan penelitian terbesar yang pernah meneliti hubungan antara usia orang tua dan autisme. Setidaknya lebih dari 5,7 juta anak di lima negara dilibatkan dalam penelitian ini.

Penelitian ini menegaskan, orang tua dengan usia yang lebih tua memiliki risiko anak dengan austime yang lebih tinggi.

Sementara itu, ayah di atas usia 50 tahun memiliki risiko terbesar memiliki anak dengan kondisi tersebut. Penelitian sebelumnya melaporkan, ayah yang usianya lebih tua mengalami mutasi genetik sperma yang menyebabkan gangguan spektrum autis (ASD).

Namun, para peneliti tidak dapat menjelaskan mengapa para ibu remaja, para ibu tua, dan pasangan dengan kesenjangan usia yang tinggi memiliki kecenderungan lebih besar untuki memiliki anak yang mengembangkan kondisi autisme.

Michael Rosanoff, penulis penelitian yang juga direktur Autisme Speaks, organisasi yang mensponsori penelitian dan peningkatan kesadaran autisme, mengatakan, “Meskipun telah ada penelitian tentang autisme dan usia orang tua sebelumnya, penelitian ini tidak seperti yang lain.”

Rosanoff melanjutkan, “Dengan menghubungkan pendaftar kesehatan nasional di lima negara, kami mengumpulkan data terbesar di dunia untuk meneliti faktor risiko autisme.”

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan, apakah peningkatan usia ayah atau ibu dapat meningkatkan risiko autisme secara independen, dan sejauh mana masing-masing faktor itu bekerja. Para peneliti melihat tingkat autisme di antara 5.766.794 anak, dan juga lebih dari 30 ribu anak dengan autisme di Denmark, Israel, Norwegia, Swedia, dan Australia Barat.

Peneliti menemukan, angka autisme yang lebih tinggi, yaitu 66 persen, terjadi di antara anak-anak yang lahir dari ayah berusia 50 tahun, dibandingkan mereka yang lahir dari ayah berusia 20-an. Untuk ayah berusia 40 tahun, risiko memiliki anak dengan autisme adalah 28 persen lebih tinggi, dibandingkan ayah yang berusia 20-an.

Ibu berusia di atas 40 memiliki peningkatan risiko sebesar 15 persen dengan sindrom ini, dibandingkan dengan mereka yang berusia 20-an. Sementara, anak yang lahir dari ibu remaja memiliki risiko 18 persen lebih besar untuk memiliki autisme.

Penelitian ini juga menunjukkan, tingkat autisme akan naik lebih tinggi ketika kedua orang tua berusia lebih tua. Tingkat risiko juga lebih tinggi dengan adanya jarak usia yang lebar antara orang tua.

Tingkat autisme tertinggi adalah ketika ayah berusia 35 dan 44 dan istri mereka berusia sepuluh tahun lebih muda. Sebaliknya, risiko memiliki anak dengan autisme juga akan lebih tinggi untuk ibu yang berada di usia 30-an dengan mitra mereka yang sepuluh tahun lebih muda. CCNIndonesisa

Want your school to be the top-listed School/college in Malang?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Address


Malang