Nusantara Culture Academy

Nusantara Culture Academy

Share

TANAH AIR, sebagai pijakan dan tempat untuk kembali. Mengajak seluruh elemen bangsa ini utk mengenali (kembali), merawat, mengelola, dan memanfaatkan.

Nusantara Culture Academy (NCA) menyadari pentingnya tugas dan kewajiban terhadap penggalian, pelestarian, pengembangan, pembinaan, dan pemanfaatan budaya Nusantara, untuk pembangunan peradaban bangsa Indonesia di masa kini dan masa depan yang berkepribadian Nusantara. Bahwa potensi sosio, budaya dan lingkungan yang berlimpah, namun belum sepenuhnya telah dieksplorasi. Potensi yang ada juga belum

09/05/2024

Hal kecil yang cukup memberi kesan indah pada dunia tentang kehalusan budi.. 🙏
(Dok: BPK Wilayah XI Jatim)

07/04/2024

Aksara yang telah ditinggalkan..
Meski demikian masih banyak yang mempelajari, mendalami, serta melestarikannya. Sehingga mampu mengerti sekaligus mengagumi, betapa luhur budaya nenek moyangnya. (Bagian dari lempeng tamra prasasti Kancana/860M)

16/04/2022

Orang yang s**a membuat masalah akan selalu dipertemukan dengan masalah. Orang yang s**a memberi solusi akan selalu menemukan inspirasi dan orang-orang inspiratif yang solutif. Indahnya kolaborasi yang diwarnai kebaikan dan kebermaslahatan bersama.. Salam Damai dan maju bersama untuk kita Indonesia ❤️🇮🇩🇮🇩

06/02/2022

Bersama NCA dan 4-H Indonesia menyiapkan pemimpin masa depan dan pemuda pengusaha dari komunitas menjadi industri hulu-hilir di bidang agriculture, sosiobudaya, dan pendidikan yang tangguh dan mandiri untuk Indonesia

20/11/2021

Grimm Brothers’ Tales
Meluruskan sejarah

Grimm Brothers, Jacob dan Wilhelm, adalah dua bersaudara berkebangsaan Jerman yang mengumpulkan dongeng-dongeng yang tersebar saat itu. Terjadi salah kaprah ketika beberapa orang menganggap mereka merupakan pembuat cerita itu sendiri, padahal mereka hanya mengumpulkan cerita-cerita yang tersebar secara turun menurun tanpa manuskrip yang tertulis jelas.

Jacob lahir pada tahun 1785, dan Wilhelm lahir satu tahun setelahnya. Mereka adalah cendikiawan yang menghabiskan waktunya untuk melakukan penelitian. Ayah mereka, Philipp Wilhelm Grimm, adalah seorang pengacara yang sudah meninggal ketika mereka masih anak-anak. Ibu mereka, Dorothea Grimm meninginakan kedua anaknya mengikuti jejak sang ayah sehingga menyekolahkannya di University of Marburg.

Tahun 1806, mereka mulai mengumpulkan dongeng-dongeng rakyat Jerman. Pada tahun 1810, Grimm menyusun manuskrip cerita-cerita tersebut dan menerbitkan kump**an cerita pertamanya tahun 1812. Kump**an cerita pertama terdiri dari 86 cerita dengan judul Kinder- und Hausmarchen atau Dongeng-Dongeng Anak-Anak dan Rumah Tangga. Tahun 1814, mereka menerbitkan kumpulkan cerita kedua dengan 70 cerita tambahan di dalamnya. Pada tahun 1857, revisi volume ke-7 berisi 210 cerita.

Volume pertama kump**an cerita tersebut sempat mendapatkan kritik karena isi ceritanya tidak sesuai untuk anak-anak. Kalau dilihat dari tujuan awal, memang Grimm brothers mengumpulkan cerita-cerita ini semata-mata untuk merekam sejarah. Catatan kaki dari setiap kisah yang ada terkadang jauh lebih panjang dibandingkan dengan cerita itu sendiri.

Sejarah Eropa di awal tahun 1800-an memang cukup kelam. Seperti Hasel dan Gratel, banyak anak-anak yang diabaikan dan ditinggalkan. Para perempuan yang dituduh sebagai penyihir dibakar atau digantung. Kekejaman dalam dongeng Grimm bukanlah fatansi, tetapi penggambaran dari keadaan yang sesungguhnya.

Mereka menamakan diri patriot folklore, bukan pendongeng cerita anak. Hal ini dikarenakan mereka mulai mengumpulkan cerita saat Jerman dijajah oleh Perancis di bawah pimpinan Napoleon. Mereka ingin menekan budaya local agar tidak mengemuka, dan Grimm berusaha untuk menyelamatkan tradisi lisan Jerman.

Disney membuat cerita Grimm menjadi jauh lebih ‘beradab’. Karena kalau kisah aslinya, cerita-cerita yang ada terkadang terkesan sangat kejam atau bahkan tidak bermolal. Dalam versi Snow White misalnya, ibu tiri yang jahat dipaksa untuk menari dengan sepatu besi yang panas sampai mati. Atau Sleeping Beauty yang versi aslinya sang putri ‘dijamah’ sampai memiliki 2 anak sebelum akhirnya terbangun. Versi asli lainnya? Silahkan cek sendiri :).

Fairy Tale sekarang ini sedang kembali ‘menggeliat’. Biasanya Disney membuat cerita dalam bentuk kartunnya, tapi sekarang sudah ada beberapa cerita yang diangkat menjadi cerita televisi. Once Upon A Time merupakan salah satu contoh karya cerdas bagaimana cerita-cerita dongeng berhubungan menjadi satu kesatuan utuh yang berkaitan. Grimm pun menjadi serial TV yang mengambil background kehidupan keturunan Grimm yang dikemas layaknya serial Supernatural.

Cerita-cerita Grimm sudah banyak diadaptasi ke beberapa bentuk pertunjukan. Tidak ada salahnya kita mengetahui akar ceritanya bukan?

That’s why, for today Reading Comprehension 1 Subject, every students need to read at least 2 stories from the list, and 1 favorite story not list-based. The list and the stories can be find here

http://www.grimmstories.com/en/grimm_fairy-tales/list

01/11/2021

Arsiteknya salah satu pendiri NCA. Meneer Budi Fatoni. Kereeen, beautiful, menakjubkan, Indonesia banget. Cocok untuk merefrest kepenatan jiwa raga..
❤🇮🇩🇮🇩
https://youtu.be/vlMGh6D2BEI

Santosaba 17/09/2021

UNIVERSITAS TERTUA DUNIA ADA DI NUSANTARA

Universitas Nalanda di Bihar India itu adalah cabang dari Universitas yang ada di Svarnadvipa Nusantara,bernama DHĀRMĀ PĀLĀ inilah pusat pembelajaran dan pengajaran ajaran "Dharmic Original" yang di kemudian hari mendasari lahirnya Buddhism,Hinduism dan Jainsm di india

Perhatikan ini :
Peziarah Tiongkok l-Tshing(635-713),pergi meninggalkan negrinya menuju daerah yang bernama "Kin-tcheou"/Kin-Ti/Tanah Emas/Svarnadvipa ,Indonesia terdahulu menyebut Śrīvijaya dengan "Fo che"/ Boja/Bhoga
atau "Che li fo che" versi Tiongkok

Kota "Bhoga" adalah "Kota Suci" pusat pembelajaran "Dharmic" di masa jauh sebelum abad 5 SM dengan landmark nya "Situs Muara Takus" yang dilalui "Equinox",titik "Tanpa Bayangan" ini membuktikan bahwa kata"Ceylon" yang di temukan pada buku buku di antaranya kitab "Mahavamsa" adalah bukan "Srilangka" saat ini,tapi berada di kampar Riau Sumatra Indonesia,kompleks area pendidikan pengajaran pembelajaran "Dharmic awal" ...

Bukti lain :
Pada tahun 399-414 M Fa-Huan dalam perjalanan di svarnadvipa mencatat...mengikuti sungai Po-Nai (adalah sungai Pana'i,kampar)...di tempat "di mana para pelajar pernah tinggal di situ dan melakukan gerakan... "berjalan berputar"... mengelilingi "Tope"/Stupa juga 4 guru duduk di 4 sudut, di tempat ini "Menara"...telah didirikan...( Pradaksina/Prasawiya/Tawaf di "Muara Takus")

Sung Yun 518-521 M mencatat adanya kekuasaan yang di sebut nya "Śaka kṣatrapas" dari indentifikasi koin di duga telah ada sekitar tahun 225 M dengan gambar "Tope" atau stupa Muara Takus

Pada tahun 602 - 664 M,Hieun-Tsang,mencatat apa yang di lihat nya di svarnadvipa....di sampingnya ada stupa yang dibangun oleh rāja, sekitar 200 kaki tingginya...di dekat ini ada tanda di mana Tathāgata berjalan ke sana kemari....

Fa-hian (337 - 422 M)me-mulai perjalanan 399 s/d 412 M berangkat dari Ch'ang-an,menyeberangi Lung....

...setelah melintasi Indus....jarak melintasi laut selatan India adalah 4 hingga 5 juta li,sampai berlabuh di tempat yang tanahnya rata tanpa lembah,ada sungai.....pergi ke arah tenggara kurang dari 80 yojana ,kami melewati banyak kuil dengan sejumlah imam di dalamnya,setelah melewati tempat ini, kami tiba yang disebut "Mo-tu-lo"...

..mengikuti sungai "Pu-na" ,kanan dan kiri ada dua puluh sangharamas dengan 3000 imam,Iklim disini hangat merata tanpa salju,Orang-orang nya sangat kaya,tidak ada pungutan pajak atau pembatasan resmi...

..di seluruh negeri orang-orang tidak membunuh unggas/merpati tidak minum anggur,mereka juga tidak makan bawang putih,tidak memelihara babi tidak minum anggur para kepala suku membangun " Sangharama" untuk para imam...

..pergi ke barat tiba di desa "Na-lo",Ini adalah tempat Kelahiran "Sariputra",oleh karena itu sebuah menara telah didirikan...

..desa Upatissa,dikenal sebagai "Nālaka",hidup seorang pemuda yang sangat cerdas bernama Sāriputta ibunya "Sarikha/Rupasari",Karena nama ibunya itulah ia disebut "Sari-Putra"...

..ayah nya "Māṭhara",seorang Brāhmin bermarga Dīrghanakha Karena ia anak pemimpin desa, ia juga kadang dipanggil "Upatissa"...
.di tempat para imam,Ada "Sangharama" yang dibangun,di sini mereka membuat menara untuk menghormati "Sariputra" , Mudgalaputra, juga untuk menghormati Abhidharma ,Vinaya dan Sutra..

..dari selatan kota melanjutkan ke selatan 4 li, kami memasuki sebuah lembah yang terletak di antara 5 bukit, melingkari sepenuhnya seperti tembok,Ini adalah situs kota lama Raja "P'in-p'o-so-lo"....

Bimbisāra menurut kitab Mahāprajñāpāramitāśāstra bab XL.1.4 .
Raja Bimbisāra/P'in-p'o-so-lo,adalah salah satu Raja dari Raja-raja besar di "Jambudvīpa"....karena itulah, “seratus ribu Che-tseu/Śākya,semuanya menjadi muridnya”,belajar di tempat ini...

Catatan Fa-Huan abad 4 menunjukan ini adalah Nusantara Indonesia :
"Mo-tu-lo" adalah Melayu
"Nālaka" adalah Melaka
"P'in-p'o-so-lo" adalah Salo/5 koto (tertulis Bimbisāra dalam kitab kitab)
"Pu-na" ,adalah Pumai kanan dan kiri /Sungai Kampar kanan dan kiri
"Śākya" adalah Çakā/Çakyā/Saka/Soko Saka adalah Bangsa besar yang menandai kejadian penting dengan Prasasti ber tahun "Saka" (terekam dalam sistim adat Soko Pisoko Limbago)Kata Çakyā terekam di relief dasar Borobudur dengan literasi kata "Mahe-Çakyā
...terletak di antara 5 bukit, melingkari sepenuhnya seperti tembok...sebutan lokal adalah "Pagar tanah 1,5 mtr tanggul kuno area pusat puja"
"Jambudvīpa" di Kampar masih ada Pulau Jambu(Kini terucap menjadi Jan-Bu-Lupo,dialek lokal) tidak ada bahasa di india literasi kata "Jambu"
Membunuh/Me-motong "Merpati" masyarakat di Svarnadvipa juga Bali masih ada yang ber-pantangan
"Sari dan Putra" jelas Kata & Nama Nusantara Indonesia
"Menara" adalah situs "Muara Takus"
"Upatissa" adalah nama desa "Upanissa/Panissan" 4km arah selatan situs
"Na-lo" adalah Nu/Nuo/Na lelo/Nuoa - lelo/Gng Lelo,Arah barat 10 km dari situs
"Sangharama" adalah Asrama,komplek pusat belajar "Dharma" di svarnadvipa bernama "Dharma Pala" masyarakat lokal menyebut "Nan-Landa" atau Padepokan "Dewa-Dewi", nama "Nan-Landa" ini kemudian menjadi nama universitas cabang di india "Nalanda"
Para Peziarah Tiongkok dari Fa-Huan 337 - 422 M hingga I-Tshing abad 7 M mengunjungi Nusantara maju terdahulu untuk "Belajar" Menyalin banyak catatan tentang "Dharma/Dhamma" di bawa ke-negrinya,Bukan membawa ajaran dari negrinya di sebarkan ke Nusantara

Area kota suci di Muara Takus,pagar luar 2 lapis ..adalah komplek utama tempat tinggal para guru “Shangha Kirti” /Pengajar dan Bagian lain nya :
Timur Laut Gerbang Utama komplex
Timur, 400 langkah ada bangunan terbuat dari kayu pelatihan Mantra
Barat tempat belajar ada “Kolam Sakti “/Tobek Sati
Tenggara,Tempat belajar tingkat ke 2
Barat Daya tempat tinggal pelajar tingkat ke 3
Barat Laut tempat Pertapa/Tapo/Can-Yago/Upasena/Kammala

Utara Komplek di luar tanggul seberang sungai,di sebut "Paodhaman" oleh dialek lokal,ini adalah "Pendharmaan" terbagi atas :
1.Yang tidak di bakar api
2.Yang Api tidak menyala pada jasad
3.Kediaman para pembesar di 8 penjuru dari koordinat kota suci,radius 4 km2 yang di pagar 9 lapis benteng tanggul ,dinding besar sebagai batas komplek sekolah,untuk menampung para pelajar atau "Brahmin" di perkirakan 6000 orang dalam setiap angkatan

Rshi Mārkaṇḍeya dan Rshi Agatsya adalah Tokoh Putra Nusantara dari Svarnadvipa diantara nama leluhur nya terdahulu adalah :
Dharmadasa 700-620 SM
Dharmapala 670-580 SM
Suvarnadvipa Dharmakirti 610 SM - 520 SM
Kumarila Bhatta I 618-540 SM
Adi Sankara 569-537 SM
Çhri Janaýasã abad 6 Masehi

.Çhri Janaýasã / "Dapuntha Hyang" abad ke 6 tahun ke 4 hari ke 11 melakukan "Siddhayatra"/Perjalanan suci membawa "Dharma" juga Para alumni wisudawan Universitas "Dharmapala",ini lokasi yang di lihat Fa- Huan dan I-Thsing....pergi menyebar kearah Utara juga ke Barat 2.213 orang ....hal ini p**a yang di lakukan Rshi Mārkaṇḍeya sampai ke Bali....Bali menyimpan sempurna ajaran leluhur bangsa Nusantara "Dharma/Dhamma"

"Nalanda" di Bihar India didirikan pada thn 427 M di bangun setelah Fa-Huan 337 - 422 M ke Nusantara,Nalanda adalah cabang pengembangan belajar dari Svarnadvipa yang di prakarsai Syailendra

Di situs Kuil no.3 disebut dengan nama "Stupa Sariputta" panel relief terpahat di atas menara,ini adalah bangunan Nalanda yang paling ikonik dengan beberapa anak tangga yang mengarah ke puncak, yang di beri nama "Sariputra"..

..Śāriputta juga disebut Upatiṣya adalah putra dari ibunya Śārī/Rupasari,karena nama ibunya itulah ia disebut Sariputra Ayah nya Māṭhara,Nalaka/Nālada adalah nama desanya....Nama ibu dan anak nya jelas nama Nusantara,bukan india

Nalanda di Bihar India itu adalah cabang dari Universitas yang ada di Svarnadvipa Nusantara,bernama DHĀRMĀ PĀLĀ inilah pusat pembelajaran dan pengajaran ajaran "Dharmic Original" yang di kemudian hari mendasari lahirnya Buddhism,Hinduism dan Jainsm di india....

Svarnadvipa" Indonesia,bukan india ...adalah tempat awal sumber belajar Palsafah Utama Dasar "Dharma/Dhamma" inilah "Dharmic Original" yang tergambar di "Borobudur" tersimpan sempurna di Bali,...

Keduanya bukan dan tidak berdasar pada 2 ajaran yang lahir di india...tapi yang tergambar di "Borobudur" dan tersimpan sempurna di Bali di pelajari di Universitas yang guru/master nya baru tercatat oleh sejarah adalah Dharmadasa 700-620 SM sebelum nya tidak terdeteksi atau di sembunyikan oleh sejarah ....

Bukti fisik artefak dan lainnya yang mendukung ini semua dapat dilihat,disaksikan,dibuktikan di komplek besar yang di kelilingi tanggul kuno yang telah di teliti oleh :
Corn de Groot tahun 1858
G. du Rij van Beest Holle 1879
WP. Groeneveldt, pada tahun 1879-1880
R.D.M Verbeck dan E. TH.Van Delden 1881
J.W. IJzerman 1889-1893
N.J. Krom 1912,1923
J.L. Moens di tahun 1924
F.D.K. Bosch 1925,1930,1946
F.M. Schnitger April 1935

...jangan percaya sejarah yang di tulis penjajah, mari berfikir kritis dan logis akademik terhadap pencatatan yang ada selama ini ....

INDONËSIARYĀ
True Back History of Indonesia
Exploration & Research
By :
(Revicionist History )
Chat on : bit.ly/3xmsE37
https://santosaba.catalog.to
https://anchor.fm/santo-saba
http://msha.ke/santosaba

Gabung ke WAG :
1.Peserta 🌏TrueBackHistory🇮🇩
is.gd/DRP1HX
2.Kuliah Umum "Dharmic Original"
is.gd/287pxy

Santosaba Business Account

09/09/2021

KESEJARAHAN JEMBER

UNGKAPAN MAKNA TOPONIMI "SEMBORO", TINGGALAN ARKEOLOGIS DAN BABAD SEMBAR BAGI KESEJARAHAN BLAMBANGAN

Olah : M. Dwi Cahyono

A. Etimologi "Semboro"

Semboro adalah nama salah satu kecamatan di Kabupaten Jember, sebagai pemekaran dari Kecamatan Tanggul pada tahun 1961. Pusat kecamatan berada di Desa Semboro, yaitu satu diantara enam desa pada Kecamatan Semboro. Semenjak tanggal 2 Maret 1989 Desa Semboro dimekarkan menjadi (1) Desa Semboro, dan (2) Desa Sidomekar. Kedua desa ini dipisahkan Sungai Bondoyudo, yang mengalir panjang dari Lumajang menuju Jember. Sidomekar kini ter- diri tiga dusun (dukuh), yaitu : (a) Babadan, (b) Beteng, dan (c) Besuki. Demikianlah, bisa dibu- lang Sidomekar adalah Semoboro di masa lalu, sehingga sejarah Sidomekar tidak terpisahkan dengan kesejarahan Semiboro.

Nama "semboro" adalah istilah dalam Bahasa Jawa Baru yang diadaptasi dari bahasa Jawa yang lebih tua, yaitu Bahasa Jawa Tengahan dan Jawa Kuna. Vokal "o" dari kata "sembOrO" dalam bahasa Jawa Kuna dan Tengahan ditulis dan diujar dengan "a" menjadi "sembArA". Ada- pun vokal "e" di dalam kata "sEmboro" adalah pengganti bagi vokal "a" dalam bahasa Jawa yang lebih tua. Dengan demikian, sangatlah mungkin sebutan "semboro" sebagai nama desa dan kecamatan itu merupakan adaptasi dari istilah yang lebih tua, yakni "SAMBARA". Kemungkinan lain adalah terdapat visargha "h" setelah huruf "b" menjadi "bh" (b visargha), sehingga dituliskan "SAMBHARA".

Apabila benar kata "semboro" berasal dari kata arkhais (lama) "sambara", maka secara harafiah berarti : persiapan, keperluan, kebutuhan, per- lengkapan, material (khususnya untuk upacara ritual). Kata ini dapat dipadu atau ditempatkan mengikuti kata lain seperti perkataan "abhiseka sambhara, dana-sambhara, dwaya-sambhara, jnana-sambhara, puja-sambhara, punya- sam- bhara, sarwa-sambhara, yajna-sambhara, dsb.".
(Zoetmulder, 1995: 1000). Istilah itu terbilang tua, paling tidak telah ada semenjaj abad X-XI Masehi, karena terdapat dalam pustaka kuno Adiparwa (134), Udyogaparwa (125), Brahman- dapurana (80), dan Sang Hyang Kamahayani- kam (37). Istilah "sambara" mengingatkan kita pada pendapat J.G. de Casparis bahwa nama "Borobudur" adalah paduan kata-kata "bhumi- sambhara-buddhara".

Apabila kata "semboro" diasalkan dari kata arkhais "sambara", maka bertemulah kita dengan kata "sambar" -- ada kebiasaan melesapkan vokal "a" di penghujung kata dari kata "sambara" menjadi "sambar", sebagaimana pada "Ganesya" menjadi "Ganesy", juga "Arjuna" menjadi "Arjun", begitu p**a "Pu Bharada" menjadi "Pu Bharad", dan sejenisnya. Kata "sambar" yang disebut- sebut di dalam sejumlah prasasti, yang secara harafiah berarti: iuran wajib untuk pemujaan di suatu bangunan suci, yang disebut juga dengan kata "sambah" (Zoetmulder, 1995: 1000). Kata jadian "masambar" berarti: ikut serta di dalam pemujaan, adapun kata ulang "sambar- sambaran" menunjuk kepada: tempat pemujaan.

Kedua kata arkhais itu, baik "sambhara" ataupun "sambar" berkenaan dengan pemujaan. Tercakup di dalamnya beragam ritus upacara maupun tempat upacara. Dengan demikian, konteksnya adalah religis. Bisa jadi berkenaan dengan iuran wajib, persiapan, kebutuhan atau perlengkapan upacara religis. Dalamn kaitan itu, tentulah tak jauh darinya terdapat bangunan keagamaan, semisal candi. Kemungkin arti yang demikian pada paparan berikut akan dipergunakan untuk menelisik tinggalan arkeologi yang tersisa dan berhasil dijumpai di wilayah Semboro dan sekitarnya.

B. Jejak Arkeologis-Historis di Semboro dan Sekitarnys
1. Jejak Arkeologis Situs Beteng dan Candi Deres
1 1. Situs Benteng di Desa Sidomekar

Paling tidak terdapat tiga areal di Semboro dan sekitarnya padamana dijumpai jejak arkeologis dan disebut dalam sumber data hustoris, yaitu (1) Situs Beteng di Desa Sidomekar Kecamatan Semboro, (2) Situs Kutho Dawung di Dusun Kutho Dawung (kini maduk Dusun Karangrejo, sempat mengalami penggantian sebutan menjadi "Kuthoharjo",) pada Desa Paleran Kecamatan Umbulsari, (3) Situs Penggungan Desa Klatakan Kecamatan Tanggul. Meski berbeda desa dan lsin kecamatan, namun desa-desa dimana situs-situs tersebut berada adalah desa-desa yang bertetangga, dengan radiius kurang dari 2 Km. Situs Kutho Dawung misanya, hanya terpisah oleh persawahan sejauh 1,5 s d. 2 km denganb Situs Beteng, yang berada di sebelah Barat Daya-nya. Pada masa sekarang peninggalan akeologis lebih banyak didapati di Situs Beteng bila dibandibg dua situs lainnya.

Toponimi "beteng" mengindikasikan adanya bangunan kokoh, yakni benteng, yang dibangun untuk melindungi suatu areal perrnukimam. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), secara harafiah kata "benteng" antara lain berarti: (a) bangunan tempat berrlindung atau bertahan (dari serangan musuh); (b) dinding (tembok) untuk menahan serangan; arau (c) sesuatu yang dipakai untuk menperkuat suatu kedudukan, dsb. Kata dalam bahasa Sansketa yang berarti demikian adalah "pura" arau bisa juga "kutha", yang berarti permukiman di dalam lingkungan benteng (Bahasa Jawa Baru "jron benteng") atau serupa "castile" dalam bahasa Inggris. Varian penyebutannya dalam bahasa Madura adalah "biting", seperti tergambar pada sebutan "Situs Biting" pada Kutho Renon (konon dinamai "Arenon") di Lumajang.

Informasi lokal menyatakan bahwa Situs Beteng mulai diketahui secara tidak sengaja pada rahun 1908 oleh Mat Salam di Desa Semboro (ketika itu Desa Semboro beum dimekarkan menjadi Semoboro dan Sidomekar). Sebenarnya, dalam sumber-sumber data asing keberadaan reruntuhan petmukiman berlindung benteng dan keraton Kedawung itu telah diberitakan pada awal abad XIX dan XX. Sejak tersingkap keberadaannya di lapangan (site), tahun demi tahun didapati ragam tinggalan artefaktual, antara lain : (a) tombak pada tahun 1956 oleh Sukadi, (b) lumpang batu oleh Mat Salam tahun 1958, (c) lumpang batu tahun 1991, 1992, dan 1994, (d) batu akik tahun 1985, (e) lumpang batu di Bumisoro tahun 1981, (f) uang keleng, (g) pipisan batub tahun 1871, (h) pipsan dan batu gandik tahun 1982, (i) pipisan dan batu gandik tahun 1991, (j) kapak Neolitik, (k) fragmen gerabah dan keramik, ,(l) struktur pagar dan gapura, ,(m) sumur kuno, dsb. Sebagian duantara temua-temuan tu kini disimpan dalam "mini museum" di Sius Benteng Boto Mulyo.

Sayang sekali, sejauh ini riset yang dilakukan terhadap situs- situs itu masih pada tahap permulaan. Ekskavasi arkeologis belum pernah dilakukan pada areal yang terindikasi adanya tinggalan arkeoligis seluas kurang-lebih 2,5 ha. Sebaliknya, perusakan demi perusakan terhadapnya beberapa kali terjadi, utamanya pada tahun 1968. Kalaupun kimi masih tersisa, keberadaannya di bawah pertmuaan tanah. Yang ada diatas permukaan tanah tekah banyak yang raub atau terserak di sejumlah tempat. Sementara ingatan warga akan tinggalan itu di masa lalu tinggal sanar-samar, bahkan nyaris tidak diketahui oleh generasi yang lahir di atas tuhun 1980-an.

Potensi sumber air terbilang melimpah di.Desa Sidomekar dan Semboro yang pemukaantanahnya datar (flat) pada 25 m DPL di lembah sisi srlatar Gunung Argoputo. Selain dilintasi Kali Bondoyudo beserta sudetan-sudetannya yang dijadikan sarana irigasi, juga ditemukan kali- kali alamiah, sseperti Kali Rowo di Desa Semboro lor, sumber air seperti "Umbul Thunthung" atau "Umbul Waru" di belakang Ballai Desa Sidomekar, serta sumur- sumur kuno yang masih asli atau telah direnovasi. Sumber air tanah yang dimanfaatkan untuk sumur gali pun terbilang tidak dalam. Oleh karena itu, kegiatan pertanian dan perkebunan dapat dilakukan secara intensifikasi.

2. Candi Deres dan Reruntuhan Candi Lain sekitar Semboro

Sialah satu situs sekitar Semboro padamana didapati jejak percandian adalah di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari, tepatnya di Dusun Krajan Lor, Jaraknya dengan Situs Beteng sekitar 7 Km. Temuan yang didapati hingga tahun 1990-an berupa dua buah arca (Nandi dan sebuah fragmen arca batu, kini disimpan di tempat pengump**an arca-arca di Jember), stuktur bata kono, lumpang batu, dsb. Dengan adanya arca Nandi tersebut,, jelaslah bahwa reruntuhan candi ini berlatar agama Hindu-Siwa. Jejak percandian juga didapati di Desa Gunungsari Kecanatan Umbulsari, sekitar 5 Km dari Situs Beteng. Pada situs ini pernah terdapat beberapa arca, yang sayang telah raib. Selain itu terdapat bata-bata kuno sebagai rerruntuhan candi.

Reruntuhan candi yang terbilang besar adalah Candi Deres di Dusun Deres Desa Purwosari Kecamatan Gumukmas, sekitar 10 Km ke arah selataan dari Situs Beteng. Disekitar situs ini, di hamparan persawahan terdapat sejumlah gumuk (gundukan tanah) yang bervegetasi cukup lebat, yang diantaranya terdapat tinggalan arkeologis. Sejauh telah diketemukan, Candi Deres yang berbahan bata kuna ini adalah tinggalan dalam bentuk candi yang terbesar di wilayah Jember. Pada situs ini terdapat dua buah cand induk yangi berjajar, yang di bagian muka dari masing-masing candi induk ditempatkan atau berhadapan dengannya platfera berbentuk empat persegi panjang, yang konon diatasnya berdiri tiga buah candi perwara. Candi di bagian selatan, yang tepat dibagian tengah (garbhagreha)-nya ditumbuhi pohon beringin besar, terdapat sebuah fragmem arca Siwa Mahakala. Jika candinya utuh, arca ini berada di dalam relung depan-kanan. Pada relung depan-kiri semula ditempatkan arca Siwa Nandiswara. Arca ini bersama arca- wrca lain seperti arca Nandi, Durga, dan fragmen arca yang diprakirakan Agastya kini disimpan di gedung penyelamatan arca dari wilayah Jember. Selain itu, pada foto dukumen yang dibuat oleh Oudhkungige Dienst (OD, Jawatan Purbakala masa Hindia- Belalnda) pada awal absd XX terlihat adanya Yonii yang cukup besar.

Teergambar jelas bahwa Candi Deres yang diketemukan pada awal tahun 1900-an berlatar agama Hindu- Siwa. Konon pada garbhagreha diempatkan Lingga-Yoni. Adapun arca Durga Mahisasumardhini ditempatkan di relung candi sisi utara, Arca Agastya di di rlung sisi selatan. Arca Ganesya yang masih belum ditemukan mustinya berada dibrelung belakang (barat). Jelasl bahwa keagamaan Candi Deres adalah Hindu-Saiwa. Ada kemungkinan, dahulu pada garbhagreha candi induk bagian utara ditempatkan arca Dewi Parwati (Uma), yaknii sakti (istri) Dewa Siwa. Prakiraan demikian serupa dengan yyang terdapat di Candi Bocok di Kasembon Malang pada lereng barat Gunung Kampud (Kelud). Candi Deres menghadap ke timur (arah Gunung Raung) dan berkiblat (berorientasi) ke arah gunung suci Mahameru (Semeru) jauh di sebelah baratnya.

Selain itu ada berita bahwa di Situs Beteng pernah terdapat arca Suwa (belum jelas akurasinya), yang pada tahun 1968 dibuang ke Sungai Menampu. Ada p**a kabar bahwa di areal PG. Sembiro juga pernah diketemukan arca batu. Berita iini kian mempetkuat bahwa di Sembiro dan sekitarnya konon pernah terdapat tempat-tempat peribadatan (candi) dari Masa Hundu-Buddha, yang utamanya berlatar agama Hindu-Saiwa. Apabila ustilah "sambhara" dan *sambar" yang sangat dekat dengan istilah "semboro" diartikan sebagai perlengkapan, keperluan, kebutuhan, penyiapan, material ataupun iuran wajib (danapunia) untuk keperluan penyelenggaraan upacara di bangunan suci,, maka boleh jadi pada candi-candi itulah -- utamanya Candi Deres --- derma warga di Semboro masa lalu dikontribusikan.

3. Kandungan Data Hustoris dalam "Babad Sembar"
3.1. Kadatwan Blambangan Mula di Sambara

Salah satu smnber data tekstual yang berkait erat dengan kesejarahan Sembar-Kedawung adalah "Babad Sembar", yang naskahnya diedisikan oleh Winarsih Partaningrat Arifin (1995). Susastra berbentuk "babad" ini disurat oleh Kertajaya, yakni Patih Prabalingga pada tahun 1800-an. Sebelum disuratkan (literalusasi), kisah yang terdapat di dalamnya hinga kurun waktu dua hingga tiga abad berada dalam bentuk tradisi lisan (oral tradition). Pada telaah ini data tekstual pada Babad Sembar dijadikan sebagai bahan eksplorasi, khususnya Pupuh Dandhang Gulo, yang terdiri atas 11 bait.

Nama "Sembar" sebagai sebutan bagi susastra ini duambil dari sebutan salah seorang tokoh yang dikisahkan di dalamnya, yaitu "Mas Sembar", yakni salah seorang anak dari Lembu Miruda. Adiknya yang cantik bernama "Mas Ayu Singasari" (bait ke-3). Adapun Lembu Miruda adalah putra Brawijaya dari Majapahit. Setelah Majapahit mengalami kehancuran (rusake Majalengka), ia mengungsi ke timur, masuk hutan, mendaki gunung, hingga sampailah di hutan dalan wilayah Blambangan (bait ke-1). Kemudian tiba di Batu Putih (Watu Putih) dan mendirikan asrama. Ia memohon kepada Hyang Agung agar dikaruniai kerurunan yang kelak diharapkan bakal menjadi raja-raja di Jawi Wetan (bait ke-2) -- tepatnya Jawi Wetan bagian wetan (timur), yakni dibkawasan yang kini lazim disebut "Daerah Tapal Kuda (DTK)".

Pada teks tersebut, meski tokoh yang disebut pertama adalah Lembu Miuruda, namun yang dijadikan sebagai judul naskah justru "Mas Sembar", yang dibdalam baris terkhir bait ke-3 dinyatakan sebagai ".......... menjadi raja di Blambangan (ditulis "Blangbangan"), berkuasa di timur (nyakrawati ing wetan). Tergambar bahwa yang diposisikan sabagai cikal-bakal atau vamsakreta (vamsakara) bagi raja-raja di Blambangan adalah Mas Sembar, bukan ayahnya (Lembu Miruda). Dalam teks ini, Miruda lebih digambarkan sebagai seorang rokhaniawan yang tinggal di srama (asrams) Batu Putih. Kerajaan padamana Mas Sembar mengawali kekuasaannya dinamai dengan "Kerajaan Blambangan" yang terletak di sebelah timur lokasi srama Lembu Miruda, yang amat boleh jadi berada di lereng gunung Tengger-Semeru.

Nama "Batu Putih" mengingatkan kita kepada nama "Rabut Macan Petak (Bukit "suci' Macan Putih)" yang disebut dalam salah satu prasasti pendek (short inscription) di Pasrujambe dalam wiilayah Kabupaaten Lumajang pada lereng selatan Semeru. Bisa jadi, srama Watu Petak itu berada di dalam hutan (wanasrama) Pasrujambe, yang di dalam babad ini dinyatakan sebagai "wana Blambangan". Adapun lokasi dari Kerajaan Blambangan yang didirikan kali pertama oleh Mas Sembar berada di sebelah timur dari srama Watu Putih, yang berarti di selah timur Lumajang. Jika demikian, dimana lokasi ibukota Kerajaan "Blambangan Mula" itu?

Indikator pelokasiannya adalah unsur nama "Sembar" dan "Mas Sembar". Nama dibelakang honirifix prefix "Mas" itu bakanlah nana diri, melainkan nama tempat yang menjadi daerah lungguh (apabage)-nya. Jadi, Sembar adalah nama tempat apanage -- sepertu juga unsur nama "Singosari" dari sebutan "Mas Ayu Singosari", yakni adik Mas Sembar. Menilik kedekatan namanya, sangatlah mungkin tanah lungguh Sembar itu berada di wilayah Semboro sekarang, yakni nama kuno (archaic mame) dari apa yang kini dinanai dengan "Sembioro" . Nama"Sambara" ataupun "Sambhara", mengalami gejala bahasa yang berupa pengantian vokal "a" dan istilah Jawa Kuna atau Jawa Tengahan menjadi vokal "o" dalam bahasa Jawa Baru, yaitu dari nama "SambArA" atau "SambhArA" menjadi "SambOrO". Gejala bahasa yang berikut adalah pelesapan vokal "a" diujung kata, yakni dari "SambarA" menjadi "Sambar (tanpa vokal "a"). Terakhir gejala bahasa berupa penggantian vokal "a" menjadi "e", yaitu dari "SAmbar" menjadi "SEmbar". Demikianlah, Mas Sembar sebagai vamsakreta (vamsakara) para raja Blambangan lah yang mendirikan kadatwan (kedaton) Blambangan (diistilahi dengan "Blambangan Mula") di daerah Sambara (Sembhara), yang kini dinamai "Semboro".

Biila benar demikian, maka ibukota (kadatwan, kedaton) dari kerajaan Blambangan di era pemerintahan raja Mas Sembar adalah di daerah Semoboro, bukan di Puger sebagaimana pendapat yang sejauh ini dilansir. Atau dengan perkataan lain, Semboro adalah lokasi "Blambagan Mula". Tinggalan arkeoligis di Situs Beteng pada Desa Sudomekar (sebelum tahun 1989 masuk dalam wilayah Desa Semboro lama) anat mungkin sebaguan berasal dari kerajaan Blambangan Mula pada era pemerintahan Mas Sembar. Hal ini sesuai dengan peberitaan "Babad Sembar", yang menyatakan bahwa putra sulung Lembu Miruda bernma Mas Sembar nendirikan kerajaan Blambangan di sebelah timur wanasrama Watu Putih pada lereng selatan Semuru di Pasrijambe dalam wilayah Lumajang. Semboro berada di wilayah Jember bagian barat, yang nota benene terletak di sebelah timur daerah Lumajang. Bersama dengan Kecamatan Tanggul, Kecamatan Sembiro adalah sub-area di Kabupaten Jember yang terdekat jaraknya dengan Kabupaten Lumajang. Diantaranya terkoneksi dengan jalan poros yang menghubungkan Lumajang-Jember-Banyuwangi.

Pilihan lokasi kadatwan Blambangan Mula di daerah Semboro (Sambara, Sambhara) dengan demikian adalah: (a) kedekatan jaraknyav dengan Lamajang (kini"Lumajang"), (b) bertanah subur -- lantaran berada di lembah sisi selatan Argopuro (Hyang) yang konon merupakan gunung berapi dan berkekupan air, sehibgga potensial untuk pilar perekonomian agraris, (c) topografinya berada di dataran rendah (25 m DPL) dan relatif rata (flat), (d) telah terdapat sistem sosial-budaya yang rekatif teratur, sebab Semboro telah menjadi hunian manusia sejak Masa Bercocok Tanam di Zaman Prasejarah, terbukti dengan adanya temusn beberapa kapak batu dari tradisi Neolitik.

3.2. Era Pemeintahan Mas Sembar hingga Menak Lampor

Ada kemikian pada masa pemerintahan putra bungsu Mas Sembar, yang menurut "Babad Sembar" (bait ke,-4) bernama Bima Koncar (sumber data lain menyebut "Minak Koncar"), kadatwan Blambangan direlokasi ke Lamajang. Dalam sumber sejarah tradisional, Menak Koncar disebut berkedudukan di Lumajang, meski sesungguhnya kata "Koncar" lebih dekat (serupa) dengan "Muncar" di Banyuwangi, yakni ka+uncar = koncar, yant dekat dengan "ma+uncar (muncar)". Keduanya sama- sama berkata dasar (lingga) "uncar". Boleh jadi, pada mulanya Bima Koncar merelokasi kadatwan Blambangan ke timur, yaitu di Uncar (kini "Muncar"). Oleh karena suatu sebab, lantas direliokasikab lagi ke barat, yaikni di Lamajang. Apabila benar tetjadi relokasi, entah ke Muncar atau ke Lumajang, ada kemukinan semenjak itu di Sembara hanya ditempati oleh saudara Bima Koncar, yaitu Gede Puner Cinde Amoh atau mungkin Bimanabrang Wijaya sebagai penguasa vasal (nagari, kerjaan bawahan) dari Blsmbangan. Demikian p**a, tatkala Blambangan diperintah oleh putra sulung dari Bima Koncar, yakni Menak Pentor", kadatwan Blambangan bisa jadi masih di Lamajang dan Sambara hanya sebagai vasalnya. Ketika masa perintahan Menak Pentor inilah Kerajaan Blambangan tengah mencapai "Masa Keemasan (Golden Petiode)".

Menurut catatan Tome Pires dalam "The Duma Orental" (1528 Masehi), Blambangan di era penerintahan "Pate Pintor (translir dalam bahasa Portugis untuk "Menak Pentor" dalam sebutan "Babad Sembar") berhasil merebut Gamda (SO. Robson menyatakan sebagai penulisan yang salah atas "Garuda"), dilokasikan di daerah Pasuruan sekarang, bisa jadi antara Rembang-Bangil), Pajarakan hingga Panarukan di Pantura Jawa, yang dikuasaunya kisaran ahun 1505-1513 Masehi). Selain itu, Bambangan juga berkuasa di Prabalingga, Cijtan (?) dan tentu Lamajang sendiri. Kekuasaan Blambangan juga necakup Prasada (mungkin sama dengan Depresda yang tertera pada oeta Kompeni tahun 1600-an, dekat Bajulmati di Baluran) dan daerah Babadan (?), yang dikuasakan buat adiknya, yaitu Menak Gadru. Selain itu, kekuasaan Blambangan juga meliputi Candi Bang (mungkin menujuk kepada Candi Jabung dari bata merah di Sajabung), yang diperintah oleh adiknya yang lain, yaitu Menak Cucu. Tergambar bahwa kala itu ada sejumlah daerah-aerah di Pantura Jawa yang berhasil dikuasai Blambangan. Pada Masa Keemasan ini kekuasaan kerajaan Blambangan meliputi seluruh DTK.

Tahun 1505-1513 Masehi adalah suatu kurun waktu manakala Blambangan dibawah pemerintahan Menak Pentor (Pate Pintor). Kala itu daerah Gamda, Pajarakan hingga Panarukan berhasil ditempatkan dalam naungan Blambsngan. Atas dasar kurun waktu ini, dapati diprakirakan masa pemerintahan Mas Sembar. Antara Mas Sembar dan Menak Pentor berharak dua generasi. Tentulah masa pemetrintahannya terjadi setelah tahun 1478, mengingat ayahnya (Lembu Miruda) mengungsi ke timur setelah "rusake Majalengka (Majapahit)"" pada sekitar tahun 1478. Pada sisi lain, pastilah masa pemerintahan Mas Sembar sebelum tahun 1505-1513 -- kurun wakyu ini adalah masa pemerintan Menak Pentor. Berarti, musti dicari antara tahun 1478 dengan 1505-1513. Dengan prakiraan rata-rata satu generasi pemerintahan antara 15-30 tahun, berarti era pemerintahan Mas Sembar di Sambara adalah sekitar tahun 1480-1490an Masegi, yang sezaman dengan masa permulaan dinasti Girindrvmwarddhna di Majapahit.

Raja Blambangan pengganti Menak Pentor adalah Menak Pengseng, yang boleh jadi kala itu kadatwan Blambangan masih di Lamajang. Putra sulungnya, yang sekeligus putra mahkota, bernama Menak Pati Dalam certa Bali, ia disebut "Sri Juru", yang ditewaskan oleh Dalem Watu Renggong di Kerajaan Grlgel. Kesempstan adanya "vakum suksesi" pada pemerintahan pusat Blambangan di Lamajang dimanfaatkan okeh anak Menak Gadru bernama Menak Lampor untuk mengambil alih tahta pada Perintahan pusat Blambangan di Lamjang. Hal ini dipucu oleh adanya ekspansi Demak dibawah penerintahan Sultan Tranggono untuk mengusai daerah-daerah Pantura Jawa pada DTK. Pada tahun 1531 Panarukan jatuh dalam serangan Denak. Ada kemungkinan, pengambilalihan iekuasaan pada pemerintahan pusat di Lamajang oleh Menak Lampor itu berlangsung pada sekitar tahun 1531. Demikianlah, senenjak itu pemerintahan pusat Blambangan di Lamajang beralih dari garis keturunan Menak Pentor ke keturunsn Menak Gadru. Nantinya, tahta dioperkan oleh Menak Lampor kepada putranya, yaitu Menak Lumpat (disebut juga dengan "Pangeran Singasari").

3.3. Penyatuan Kerajaan Blambangan-Kedawung di Sembara

Menak Lampor semula berkuasa di Panarukan dan terhitung sejak tahun 1531 mengambil alih kekuasaan pada pemerintan pusat di Lamajang. Pemimpin pemerintahan vasal Blambangan di Panarukan digantikan oleh sanak keluarga Blambangan yang lain hingga akhirnya dikuasai oleh tokoh yang dalam tulisan C. Leckerkerker -- dijutip oleh H.J. de Graff (1989) -- disebut dengan "Cariaen'. Sebutan ini adalah nama jabatan yang disandang olehnya, yang dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan adalah "Rakryan" atau bisa disingkat dengan "Kryan" atau "Kiyen" dalam translir Cina. Rakryan adalah penguasa di tingkat warak (watek). Menurut Winarsih (1995:312) tokoh ini adalah "Mas Kriyan" yang berkuasa di Kedawung. Sayang sekali belum dapat dipastikan bikamana mula berkuasanya.

Lokasi kedaton Kedawung, yang toponimi lokalnya adalah dengan "Kuta Dawung", hanya berjarak sekitar 1,5 Km sebekah barat-laut Situs Beteng, yang merupakan Kedaton Blambangan di Sembara yang didirikan oleh Mas Sembar. Pada masa lalu, Kuta Dawung tentu berada di daerah Sembara, yang berarti sedaerah dengan lokasi kedaton yang didirikan oleh Mas Sembar pada sekitar tahun 1480-1990an. besar kemungkinan Mas Kriyan adalah anggota kekuarga luas Blambangan, yang berketurunan jauh dengan Mas Sembar, yakni generasi ke-4 (cicit) dari Mas Sembar. Yang patut untuk dicermati, keduanya sama-sama memakai honorifix prefix "Mas" dan kedua kedaton beda masa itu (Situs Beteng dan Situs Kuta Dawung) sama- sama berada di Sembara.

Berkat hubungan baik Mas Kriyan dengan penguasa Kerajaan Gegel di Bali, maka Kerajaan Gelgel seolah menjadi "pelindung" terhadap Kriyan. Kerajaan Kedawung yang semula hanya vasal Blambangan di Sembara pada bagian selatan DTK kemudian berhasil memperluas kekuasaannya hingga ke Panarukan di Pantura DTK. Caranya dengan membunuh ibusuri, yakni janda Santaguna. Kompeni Belanda pun acap dibikin repot olehnya, lantaran penerapan "hak rawan karang" kepada orang-orang Belanda yang melaksanakan kegiatan dagang di Panarukan. Bahkan, pada puncaknya Kriyan mendeklarasikan diri sebagai raja Blambangan. Dengan demikian bagai ada "dua matahari" di Blambangan, yaitu Nenak Lumpat pada pemetibtahan pusat Blambangan di Lamajang dan Mas Kriyan yang medeklarasikan diri srbagai raja Blambsngan di Kedawung. Oleh karena itu, Menak Lumpat segera bertindak 'untuk apa yant dalam Babad Sembar diistilahi dengab "merebut payung (mengambil alih kejyasaan)" atas kerajaan Kedawung pada tahun 1633. Kriyan dapat iusir dari keratonnya. Lantas dirinya bersama dengan sanak keturunan dibinasakan.

Semenjak itu, Kedawung ditempatkan kembali di bawah panji Kerajaan Blambangan. Bahkan, kadatwan Blambangan yang semula berada di Lamajang direkokawikan ke Kekedawung di daerah Sembara. Pada tanggal 25 Mei 1633 raja Gelge dari Bali mentabuskan Menak Lumpat sebagai raja untuk seluruh daerah kekuasaan Blambangan. Seolah "senjrah berulang", Blambangan yang didikan oleh Mas Sembar di Sambara pada sekitar tahun 1480-1490an, setelah hampir 1,5 abad lamanya "balik p**ang" ke Sambara. Posisi kadatwan Blambangan di Kuta Dawung berakhir pada tahun 1630, setelah Kasultanan Mataram di bawah penerintahan Sultan Agung menyerang pusat pemerintahan Blambangan di Kuta Dawung, yang amat mungkin disertai dengan pengrusakkan yang serius. Akibatnya kedaton Blambangan di Kuta Dawang tak layak lagi dijadikan ibukota pereintahan, sehingga perlu direlokasikan ke daerah lain, yaitu ke Macan Putih di Sraten Banyuwangi. Relokasi ini dilaksanakan oleh putra dari Menak Lumpat, yaitu Pangeran Tawangalun.

C. Kemungkinan Asal-Usul Nama "Jember"
1. Sambara menjadi Sambar dan Sembar berganti Jember

Dalam bahasa Jawa Baru, kata "jember" berarti: kotor dan basah, becek. Kata ulang "jejenber" berarti: kotoran, dan arti kata jadian "ajemberi": mengotori (Mangunsuwito, 2013: 310). Kata "jember" acap p**a dijadikan kata ungkap bagi perasaan, misalnya "jember aku', yang berarti: rasa marah, jengjel, bosan. Istilah lain yang seupa danvbsekaligus bersinonim arti adalah "jembek". Unsur kata "ber" dalam "jember" bisa juga berjenaan dengan air, baik sumber ataupun genangan air. Apakah nama "Jember" yang kini menjadu sebutan bagi salah satu kabupaten di DTK ini benar mengandung arti yang "kurang mengenakkan" seperti itu? Ataukah artinya berkait dengan air, yang menjadi petunjuk bahwa kiinon ada areal luas dalam wilayah Jember yang konon beripa areal genangan air. Jika memang demikian, dimanakah real genangan air itu berada.

Tidak tertutup kemungkinan bahwa nama "Jember" berelasi dengan "semboro", yang istilah arkhaisnya adalah "sambar (sambara)" atau "sambhara". Kata kuno "sambar" ataupun "sambhar (vokal "a" di penghujung kata lesap)" dekat dengan toponimi "jember", dengan catatan terjadi gejala bahasa yang lazim dari bahasa Jawa Kuna/Tengahan ke bslwhasa Jawa Baru, yaitu penggantian (1) vokal "a" dengan "e", dan (2) konsonan awal "s" dengan "j". Pertukaran "s" dengan "j" antara lain tergambar pada kata "sundul" menjadi "jundul", kata "sumbul" menjadi " jumbul", kata "susul" menjadi "jujul", kata "sumput" menjadi "jumput", dsb. Jika benar demikian", maka proses perubahannyav: sambar/sambhar --> sember --> jember.

Apabila topinimi "jember" berasal dari kata "sambar" atau "sambhar", yang merupakan topinimi arkhais dari apa yang kini dinamai "Semboro", maka bisa jadi lokasi awal pusat wilayah Jember ada di daerah Semboro. Daerah ini tak dapat disangkal merupakan (a) daerah bersejarah sejak Masa Hindu-Buddha, bahakan ada indikasi telah menjadi areal permukiman sejak zaman Prasejarah pada Masa Bercocok Tanam (tradisi Neolitik), (b) daerah subur, lantaran berada di lembah sisi selatan Gunung Argopuro dan memiliki potensi air yang besar

Jejak sejarah maupun arkeologis yang diketemukan di Desa Sudomekar -- khususnya di Dusun Beteng" dan pads dua desa tetangganya, yang mengarah pada artefak Masa Hindu-Buddha dan awal perkembangan Islam, menjadi petunjuk bahwasanya kesejarahan di Semboro dan sekitarnya berlanjut dari zaman Prasejarah ke Masa Hindu Buddha, utamanya kesejarahannya yang sezaman dengan Akhir Majapahit (XV-XVI Masehi). Tinggalan arkeologis tersebut dapat direlasikan dengan apa yang tersurat dalam sumber data teadisi (babad) tentang kerajaan Blambangan di periode awal (Blambangan Mula)', ysitu pendirian kerajaan Blsmbangan oleh Mas Semar pada sekitar tahun 1480-1480an.

Sebagai daerah yang subur, yang pada masa Hindu-Buddha menjadi daerah produsen padi, dan sekalugus aglomerasi petmukiman agraris, hasil pajak dan iuaran wajib dari daerah ini dimanfaatkan untuk menopang kebutuhan bagi kegiatan keagamaan pada bagunan suci (candi) yang ada di sekitarnya. Tanaman budidaya yang pada mulanya dominan padi-padian, dalam perkembangan berikutnya dibudidayakan p**a tananan tebu, untuk dipasokkan ke Pabrik Gula (PG) Semboro, yang dibangun dan dioperasikan sejak tahun 1922. Barulah pada waktu kemudian Semboro hadir sebagai produsen jeruk yang utama di Jawa. Produksi tananan yang surplus di Sembiro dari waktu ke waktu adalah berkat kesuburan tanah dan kerja giat para petaninya. Pertanian karenya adalah kekayaan alam yang dijadikan sebagai pilar ekonomi kerajaan Kedawung dan juga Blambangan. Cukup alasan untuk menyatakan bahwa dalam kurun waktu amat pajang di masa lampau hingga kini Semboro dan sekitarnya mennjadi daerah produsen pertanian, yang hasilnya bukan hanya untuk dikonsumsi sendiri (domistikasi), namun sebagian dijual serta didermakan (dhana-sambhara atau punya- sambhara).

Lantaran surplus pertanian itu, maka warganya memungkinkan untuk memenuhi iuran wajib (sambar, sambah) bagi pelaksaan upcara religis. Pada Masa Hindu- Buddha, desa-desa surplus pertanian yang tiak jauh dari bangunan suci ditetapkan sebagai "desa sima (perdikan atau swatantra)" bagi bagunan suci bersangkutan. Boleh jadi, konon Semboro mempetoleh status "desa sima' untuk kepentingan upacara kegamaan. Sayang sekali prasast yang memberitakan tentang kemungkinan itu masih belum diketemukan.

2. Peninjauan Ulang tethadap Peranda "Hari Jadi Jember"

Menilik peran dan kontribusi sejarah Semboro dan sekitarnya, serta adanya kemungkinan nams "Jember" bermuasal dari "Sembar (Sembara, Sembara)", maka oatut untuk mernjadikan Semboro sebagai "asal-usul daerah Jembar". Ada baiknya Hari Jadi Jember yang diperingati tiap tanggal 1 Januari, yang latar kesejarahannya "kolonial sentris (zenosentris)", untuk ditinjau ualang, divalsifikadikan, dan diganti dengan petanda Hari Jadi baru yang lebih "nasional sentris". Dalam kaitan itu, kesejahan Blambangan dan Kedawung di daerah Sembori dan sekitarnya layak diperimbabgkan untuk dijadikan musal daerah Jember. Hari Jadi yang kini diperingati, mendasrkan pada penetapan Regent (Kaboepaten) Jember. Jika dar penenuan Hari Jadinya demilian, seakan kelahiran Jember dibidani dan ditetapkan legal-formalnya oleh Pemerintah Hindia-Belanda. Apa Jermber tidak punya momentum hustoris lain yang lebih layak untuk dijadikan petanda Hari Jadinya selai 1Jsnuari 2929. Tentulah jawab,nya "PUNYA".

Demikian tulisan bersahaja ini dibuat, sebagai bahan diskusi dalam semuna "Sejarah Benteng Majapahit" di Desa Siromekar Kecamatan Semboro Kabupaten Jember pada haribMinggu, 9 Desember 2018. Unsur kata "Benteng" dijadikan kaiimat judul seminar, lantaran desa ini memiliki situs "Beteng Boto Mulyo" yang historis. Nuwun.

Semboro, 8-9 Desember 2018
Patembayan CITRAKEKHA

Want your school to be the top-listed School/college in Malang?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Website

Address


Malang
65146