04/10/2024
Konon..
Pesantren-pesantren sepuh yang bertahan sampai sekarang bermula dari ndalem kiai. Satu dua santri yang datang mengaji di ndalem kiai itu, lama-lama bertambah. Puluhan..
Kediaman kiai pun tidak lagi bisa menampung santri-santri yang bertambah banyak itu. Lalu dibangunlah musala. Jadilah santri yang sudah puluhan itu beraktifitas di musala. Kalau sebelumnya, mereka mengaji, salat dan makan tidur di ndalem kiai, sekarang pindah ke musala.. sama.. mengaji, salat, makan tidur di musala itu..
Santri pun, seiring waktu berjalan, bertambah p**a.. Musala menjadi tidak menampung mereka.. Lalu dibangunlah guthekan, asrama.. Musala yang dulu kecil, dibesarkan, menjadi masjid.. demikian dan demikian sehingga menjadi sangat berkembang.. luar dalam..
Ada yang mengatakan..
Pesantren itu, isinya dulu, wadahnya belakangan..
Kalau kalau isinya semakin banyak, wadahnya akan 'dengan sendirinya' ikut menjadi besar..
Pesantren rintisan Bapak, di mana saat ini saya berkhidmat, menurut saya, mengalami trend seperti cerita pesantren-pesantren sepuh itu.. Bermula dari rumah kecil tempat kelahiran saya dan mbakyu-mbakyu saya, lalu musala, guthekan dan kelas-kelas madrasah..
Kami sekarang sedang berikhtiar membesarkan wadah pesantren kami karena isinya bertambah..
Karena santri madrasah tsanawiyah sudah banyak, dan gedung yang ada sudah sesak, kami sedang memulai membangun gedung baru di tanah yang dibeli pesantren kami sekitar lima tahun yang lalu..
Semoga ini pertanda baik.. bahwa pesantren kami tetap berada pada tradisi mbah-mbah yai, para perintis pesantren-pesantren sepuh yang dahsyat itu..
anda tertarik..?
hubungi saya.. 😊
12/09/2024
25/12/2023