02/04/2022
.:: KEMBALI KE PANGKUAN IBU ::.
Selalu ada hikmah dibalik suatu kejadian. Seperti yang saya alami kemarin siang, Jum'at 1/4/2022, ketika menghadiri undangan. Memberi pengajian di salah satu majelis taklim ibu-ibu. Di daerah Kou, yang saya baru dengar dua kali namanya.
Semula, pengajian itu harusnya diisi ustadz dari Parepare. Sudah dijadwal sejak sepekan yang lalu, dan beliau sanggupi. Tapi, ketentuan Allah berkata lain. Beliau berhalangan untuk safar ke Enrekang.
Kamis malam, saya akhirnya ditelpon. Beliau meminta saya menggantikan. Awalnya saya ragu bisa mengisi. Karena informasi dari beliau, waktunya bada Jum'at.
Berhubung saya ada jadwal khatib di Poros Baroko, dan lokasi pengajian di daerah yang jauh dan belum pernah didatangi, maka saya merasa keberatan. Tapi setelah dikonfirmasi ulang, ternyata jadwlnya jam 2 siang, tidak langsung setelah Jum'at.
"Kalau demikian, insya Allah bisa," kata saya akhirnya menyanggupi.
Esoknya, setelah makan siang singkat, saya pun berangkat. Bersama MX King milik pesantren, saya meluncur ke Dusun Kou, di Kec. Curio berdua, ditemani santri asal kampung Bumbun, desa Curio.
Setelah melalui jalan yang ekstrem, berkelok, dan menurun-menanjak, kami akhirnya tiba di Kou. Dalam perjalanan, setelah selesai melewati tanjakan-turunan, saya berulang kali bertanya kepada penunjuk jalan, "masih jauhkah?"
Jawaban si santri selalunya, "Dekatmi, ustadz." Padahal, rasa-rasanya, masih begitu jauh. Mungkin efek baru kali pertama ke sana.
Oleh panitia, kami dijemput untuk sampai di rumah warga. Lokasi pengajian. Dari jalan poros Sudu - Parombean via Curio itu, kami masih harus keluar masuk lorong. Rupanya, menurut keterangan, titik kumpul itu sudah masuk Dusun Buntu Randan.
Disebut Buntu Randan, saya mulai curiga dalam hati. "Wah, jangan-jangan ...." Walaupun ini kali pertama saya ke Buntu Randan, tapi nama kampung ini sudah terlalu sering saya dengarkan.
Benar saja. Kecurigaan saya akhirnya terjawab. Setelah perkenalan singkat, termasuk menyebut asal bapak-ibu saya, beberapa akhirnya menyahut.
"Oh, cucunna Indo Darisa te'e," sebut seseorang.
"Bukan pale orang lain ini," sahut yang lain.
"Pantasan mirip Tito kuliat-liat tadi," kata yang lain menyebut salah satu ponakan saya.
"Anakkureku pe'na," sahut yang lain.
Ternyata, saya mendatangi kampung nenek saya. Dan saya berceramah di hadapan mereka, yang sebagian adalah keluarga. Jadinya, setelah sesi ceramah, yang terjadi adalah sesi ramah tamah.
Berdatanganlah satu-persatu dari jamaah, mengenalkan diri dan hubungannya dengan Indo Darisa. Nenek saya, yang kini tinggal menetap di Bolang. Saya, karena tidak mengenal, hanya bisa, "oh, iye. Oh, iye. Oh, iye."
Setelah bubaran, salah satu panitia nyelutuk, "ada hikmahnya kita datang gantikan ustadz dari Parepare, ustadz. Bisa ki ketemu keluarga ta'."
Di saat ngobrol-ngobrol setelah bubaran itu, terkuak juga sebuah fakta lucu. Rupanya, santri yang saya bawa sebagai penunjuk jalan punya silsilah dengan nenek saya. Menurut keterangan, kakeknya dia --bernama Pole alias Ambe Sari-- adalah saudara sepupu (sekali) dengan nenek saya.
Dan informasi itu dibenarkan p**a neneknya, suami Ambe Sari. Keterangan dari beliau, almarhum suaminya merupakan sepupu sekali dengan Indo Darisa. Keduanya berasal dari Dusun Limbong, yang bertetanggaan dengan Kou dan Buntu Randan.
Maha Benar Allah dengan Firman-Nya, "... boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal itu baik buatmu. Dan ...."
Saya yang awalnya hampir menolak tawaran ceramah itu, hanya bisa bersyukur dan mengambil ibroh. Ternyata, ada hikmah dibalik itu semua: saya akhirnya bisa bersilaturahim dengan keluarga besar nenek.
*_Sudu, 30 Syaban 1443 H._