Guru Ngaji Blogger

Guru Ngaji Blogger

Share

Seorang abi, suami, murabbi, sekaligus santri yang sedang membranding diri sebagai Guru Ngaji Blogger.

Sandal Tai 12/09/2025

....
Mendengar cerita itu, dada saya terasa sesak. Ada haru, ada doa, untuk semua anak-anak itu. Baik yang memilih shalat, maupun yang masih betah bermain di luar.

Fenomena kecil ini sesungguhnya menggambarkan dunia anak-anak usia sekolah dasar. Mereka sudah mulai tahu mana yang benar, mana yang salah. Namun, sering kali komitmen itu kalah oleh pengaruh teman sebaya. Kesenangan sesaat terasa lebih menggoda daripada disiplin ibadah.

Anak yang memilih shalat berjamaah sebenarnya menunjukkan keberanian moral. Ia berani melawan arus mayoritas. Ia mengikuti fitrah yang sedang tumbuh. Sementara teman-temannya masih asyik dengan dunianya. Bagi mereka, menunda shalat terasa lebih seru ketimbang masuk masjid.

Selengkapnya

Sandal Tai Maghrib tadi (12/9/25), saat menemani anak-anak mengaji, saya mendapati sebuah laporan persitiwa tentang seorang anak. Laporannya datang buk...

Salah Posisi 14/03/2024

.:: SALAH POSISI ::.

Saya jadi ingat. Di suatu kesempatan, guru saya ustadz Sholeh Utsman pernah menyampaikan pentingnya penempatan dalil. Dan bagaimana mengaitkannya dengan diri kita dan orang lain.

Guru Arabiyah Linnasyiin saya itu lalu memberi contoh. Mendatangkan dua kondisi posisi seseorang. Yaitu antara tamu dan tuan rumah.

Dalam masalah tamu dan yang di-tamu-i, ada beberapa ayat yang bisa dijadikan sebagai rujukan dalil. Misalnya dalam surat An-Nur, dan surat al-Ahzab.

Dalam ayat ke 28 dari surat an-Nur, Allah Ta’ala berfirman, “dan jika dikatakan kepadamu; p**anglah!, maka p**anglah kamu.”

Menurut ustadz Sholeh, yang paling tepat, ayat ini dipegang oleh tamu. Sehingga jika ada kode-kode tertentu dari tuan rumah, hendaknya dia sadar diri dan pamit untuk p**ang.

Bukan sebaliknya, malah digunakan sebagai senjata oleh tuan rumah. Dengan dalil itu, akhirnya dia mengusir tamu yang datang ke rumahnya.

Selengkapnya klik

Salah Posisi Blog ini berisi catatan harian, pemikiran, perjalanan, pengalaman, dan sebagainya dari seorang guru ngaji, murrobi, abi, suami dan santri.

02/04/2022

.:: KEMBALI KE PANGKUAN IBU ::.

Selalu ada hikmah dibalik suatu kejadian. Seperti yang saya alami kemarin siang, Jum'at 1/4/2022, ketika menghadiri undangan. Memberi pengajian di salah satu majelis taklim ibu-ibu. Di daerah Kou, yang saya baru dengar dua kali namanya.

Semula, pengajian itu harusnya diisi ustadz dari Parepare. Sudah dijadwal sejak sepekan yang lalu, dan beliau sanggupi. Tapi, ketentuan Allah berkata lain. Beliau berhalangan untuk safar ke Enrekang.

Kamis malam, saya akhirnya ditelpon. Beliau meminta saya menggantikan. Awalnya saya ragu bisa mengisi. Karena informasi dari beliau, waktunya bada Jum'at.

Berhubung saya ada jadwal khatib di Poros Baroko, dan lokasi pengajian di daerah yang jauh dan belum pernah didatangi, maka saya merasa keberatan. Tapi setelah dikonfirmasi ulang, ternyata jadwlnya jam 2 siang, tidak langsung setelah Jum'at.

"Kalau demikian, insya Allah bisa," kata saya akhirnya menyanggupi.

Esoknya, setelah makan siang singkat, saya pun berangkat. Bersama MX King milik pesantren, saya meluncur ke Dusun Kou, di Kec. Curio berdua, ditemani santri asal kampung Bumbun, desa Curio.

Setelah melalui jalan yang ekstrem, berkelok, dan menurun-menanjak, kami akhirnya tiba di Kou. Dalam perjalanan, setelah selesai melewati tanjakan-turunan, saya berulang kali bertanya kepada penunjuk jalan, "masih jauhkah?"

Jawaban si santri selalunya, "Dekatmi, ustadz." Padahal, rasa-rasanya, masih begitu jauh. Mungkin efek baru kali pertama ke sana.

Oleh panitia, kami dijemput untuk sampai di rumah warga. Lokasi pengajian. Dari jalan poros Sudu - Parombean via Curio itu, kami masih harus keluar masuk lorong. Rupanya, menurut keterangan, titik kumpul itu sudah masuk Dusun Buntu Randan.

Disebut Buntu Randan, saya mulai curiga dalam hati. "Wah, jangan-jangan ...." Walaupun ini kali pertama saya ke Buntu Randan, tapi nama kampung ini sudah terlalu sering saya dengarkan.

Benar saja. Kecurigaan saya akhirnya terjawab. Setelah perkenalan singkat, termasuk menyebut asal bapak-ibu saya, beberapa akhirnya menyahut.

"Oh, cucunna Indo Darisa te'e," sebut seseorang.
"Bukan pale orang lain ini," sahut yang lain.
"Pantasan mirip Tito kuliat-liat tadi," kata yang lain menyebut salah satu ponakan saya.
"Anakkureku pe'na," sahut yang lain.

Ternyata, saya mendatangi kampung nenek saya. Dan saya berceramah di hadapan mereka, yang sebagian adalah keluarga. Jadinya, setelah sesi ceramah, yang terjadi adalah sesi ramah tamah.

Berdatanganlah satu-persatu dari jamaah, mengenalkan diri dan hubungannya dengan Indo Darisa. Nenek saya, yang kini tinggal menetap di Bolang. Saya, karena tidak mengenal, hanya bisa, "oh, iye. Oh, iye. Oh, iye."

Setelah bubaran, salah satu panitia nyelutuk, "ada hikmahnya kita datang gantikan ustadz dari Parepare, ustadz. Bisa ki ketemu keluarga ta'."

Di saat ngobrol-ngobrol setelah bubaran itu, terkuak juga sebuah fakta lucu. Rupanya, santri yang saya bawa sebagai penunjuk jalan punya silsilah dengan nenek saya. Menurut keterangan, kakeknya dia --bernama Pole alias Ambe Sari-- adalah saudara sepupu (sekali) dengan nenek saya.

Dan informasi itu dibenarkan p**a neneknya, suami Ambe Sari. Keterangan dari beliau, almarhum suaminya merupakan sepupu sekali dengan Indo Darisa. Keduanya berasal dari Dusun Limbong, yang bertetanggaan dengan Kou dan Buntu Randan.

Maha Benar Allah dengan Firman-Nya, "... boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal itu baik buatmu. Dan ...."

Saya yang awalnya hampir menolak tawaran ceramah itu, hanya bisa bersyukur dan mengambil ibroh. Ternyata, ada hikmah dibalik itu semua: saya akhirnya bisa bersilaturahim dengan keluarga besar nenek.

*_Sudu, 30 Syaban 1443 H._

24/02/2021

.:: MEWARISKAN SISTEM ::.

Awal-awal di Sudu, saya mengamati ada pola unik di para santri. Saya yakin, ada orang yang menciptakan pola ini. Atau, tim yang terdiri dari beberapa orang. Sehingga pola tersebut menjadi sistem yang berjalan secara auto.

Misalnya. Selepas adzan, saya naik ke masjid. Masjidnya di lantai dua. Di bawahnya area perkantoran.

Tiba di masjid, tersaji pemandangan luar biasa. Santri bershaf rapi. Sambil murajaah hafalan. Ada yang, mungkin, berzikir sampai tersungkur. Sebagian ada yang masih shalat sunnah.

Bada zikir usai shalat, tanpa dikomando semua berdiri. Shalat sunnah badiyah. Yang terdepan, shalat dengan dinding sebagai sutrah. Kemudian, yang di belakangnya, menjadikan orang di depan menjadi sutrah. Begitu seterusnya, sampai tiga-empat susun sutrah. Rapi.

Yang dijadikan sutrah, gak berdiri sampai orang di belakannya menuntaskan shalat sunnahnya.

Sesaat kemudian, bergeser ke halaqoh masing-masing. Ada tiga halaqoh saya lihat. Katanya, halaqoh dibagi berdasarkan kemampuan membaca Alquran.

Itu waktu shalat zhuhur.

Masuk ashar, juga begitu. Maghrib, pun demikian. Bedanya, maghrib-isya ada kegiatan KBM diniyah.

Yang agak unik di waktu shubuh. Bada shalat, santri berdiri semua. Rupanya persiapan, mau olahraga. Mulai menarik tangan dan kaki, mirip kucing bangun tidur. Juga ada push up,dan ada sit up.

Setelah itu, dengan berbaris rapi, semua ngantri mengambil mushaf. Gak ada dorongan dan saling desakan. Mereka kemudian duduk bershaf kembali untuk belajar alquran secara kolosal.

Setelahnya ada wirid pagi, yang dibaca secara terpimpin. Lalu kembali ke halaqoh masing-masing.

Usai halaqoh, tanpa dikomando, semua shalat sunnah syuruq -shalat dhuha di awal waktu dhuha-.

Semua kegiatan ini, saya perhatikan berjalan otomatis. By system.

Saya kemudian menengok ke belakang. Bertanya pada diri sendiri. Apa yang sudah diri ini wariskan di tempat sebelumnya, berupa pola dan sistem yang baik, yang terus bertahan setelah ditinggal pergi?

03/09/2020

.:: PERDANA JADI GURU BAHASA INDONESIA ::.

Hari ini, Kamis (3/9/2020), akan menjadi catatan sendiri dalam perjalanan mengajar saya. Untuk pertama kalinya, saya akhirnya didapuk menjadi menjadi pengajar Bahasa Indonesia. Bidang studi yang tidak pernah terpikir dalam benak akan saya ampu.

Sebuah SMK swasta di Masamba, Luwu Utara mengaku kekurangan guru. Mungkin karena dilihatnya saya kadang menulis, saya dinilai cocok menjadi pengajar Bahasa Indonesia. Gayung bersambut, lamaran itu saya terima.

Salah satu “keluhan” sekolah Islam berbasis pesantren yang memisahkan antara putra dan putri adalah kurangnya guru.

Bayangkan kondisinya begini. Rombel aslinya hanya ada satu. Tapi karena tuntutan syariat, kelas harus dipisah antara putra dan putri. Pada akhirnya, rombel yang aslinya butuh satu guru itu, harus mencari tambahan guru lagi untuk kelas yang dipisah tadi. Maka wajar, kekurangan guru menjadi keluhan tersendiri.

Dan SMK dengan program keahlian komputer itu juga demikian. Statusnya yang berada di yayasan sebuah pesantren, mengharuskan para pengelola mencari guru tambahan. Hingga sayalah yang menjadi “korban”.

Bagi saya, ini adalah tantangan sekaligus peluang. Tantangan mencoba hal baru, mengajar yang tidak biasa diajarkan. Juga adalah peluang mencari bibit-bibit penulis.

Saya jadi ingat bertahun silam di Malang. Ketika mengajar di salah satu sekolah berasrama di sana, saya membuka kelas menulis. Itu juga atas permintaan beberapa santri. Fokus utamanya adalah agar mading yang selama ini ada, tidak hanya mengambil sumber-sumber internet.

Harapannya, para awak redaksi mampu menyajikan tulisan sendiri khas ala santri. Walhamdulillah, dengan latihan dan praktek langsung, sajian tulisan di mading terasa lebih hidup. Sebab ditulis oleh santri, dan disajikan untuk santri. Kini, salah satun alumni mading itu ada yang telah menerbitkan sebuah buku. Keren. Saya malu jadi gurunya.

Itulah yang ada dibenak saya ketika menerima lamaran dari SMK itu. Peluang mendidik santri-santri untuk bisa menulis dengan baik. Menulis dengan hati yang telah tercelup dengan ilmu-ilmu agama.

Menulis sebenarnya hanyalah satu di antara kemahiran berbahasa yang perlu dikuasai. Itu jika dilihat dari Bahasa Arab. Entah kalau Bahasa Indonesia, karena saya “orang baru”. Tiga lainnya adalah kemampuan berbicara, mendengar dan membaca.

Empat kecakapan berbahasa (Arab, dan mungkin Indonesia) ini, harus dikuasai oleh seorang pelajar bahasa. Sebab itulah inti dari pelajaran tersebut. Jika tidak dikuasai keselurahnnya, maka kemampuan bahasanya akan timpang. Berat sebelah. Tidak berimbang.

Banyak orang mampu menulis dengan baik, tapi tidak mampu berbicara di depan publik. Ada yang bisa berbicara di depan publik, tapi belum mampu menjadi pendengar yang apik. Pun ada banyak yang menguasai ketiganya, sayangnya bukan pembaca yang baik.

Itulah mengapa, empat kecakapan berbahasa itu harus dikuasai. Minimal dengan kemampuan paling standar. Agar bahasanya tidak timpang.

Demikian yang saya pahami.

Semoga saya dan kita semua para guru bahasa, dimudahkan olehNya mencetak para santri yang menguasai 4 kecakapan berbahasa tersebut.

16/05/2019

::: SUMBER KEBINASAAN KETIGA :::

Di dua edisi sebelumnya, kita telah tahu dua golongan orang yang didoakan kebinasaan oleh malaikat Jibril alayhissalam. Yaitu yang mendapati Ramadhan, tapi dosanya tidak diampuni. Kemudian, golongan orang yang mendengar nama nabi Muhammad disebut, tapi tidak berselawat. Adapun golongan ketiga adalah seperti berikut.

Yaitu, mereka yang mendapati orang tuanya; salah satu, atau keduanya, hidup di masa tua, lalu itu tidak membuatnya terhantar masuk surga. Maka, Allah menjauhkan Rahmat Nya dari orang seperti ini.

Jibril berdoa: "Semoga Rahmat Allah jauh bagi orang yang menemukan kedua orang tuanya di waktu tua atau salah satunya, lalu ia tidak memasukkannya ke dalam Surga." Rasul pun menyahut doa tersebut, "aamiin. "

Memuliakan kedua orang tua berarti memuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karenanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menghubungkan berbuat baik kepada keduanya dengan bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia berkatai dalam firman-Nya.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.

Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkan-lah kepada mereka perkataan yang mulia.” [Al-Israa’: 23]

Orang yang diberikan kesempatan untuk berbuat baik kepada keduanya, terutama di waktu tua (lanjut usia), sesungguhnya mereka berdua di rumahnya bagaikan daging di atas kayu potongan, dan tidak ada yang meladeninya kecuali ia, jika anak itu tidak menggunakan kesempatan ini, maka pantaslah jika dia dihinakan dan direndahkan kedudukannya.



15/05/2019

::: JUGA,, INI JUGA SUMBER KEBINASAAN :::

Di edisi sebelumnya, telah terang golongan yang didoakan kebinasaan. Yaitu mereka yang tidak berselawat, ketika nama Rasul Muhammad shallallahu alayhi wasallam disebut. Nah, golongan kedua yang didoakan kebinasaan oleh Jibril alaihissalam adalah, seperti berikut ini.

Yaitu, mereka yang berjumpa Ramadhan, tapi puasanya tidak mampu mengantarkannya mendapat ampunan Allah. Bahkan amalan-amalan lainnya pun sama. Tidak ada yang bisa menjadi wasilah mendapat ampunan Allah.

Ramadhan adalah momen isitimewa bagi para hamba Allah. Di tiap malamnya, ada pembebasan dari api neraka. Dan banyak keutamaan lainnya. Di antaranya adalah ampunan Allah. Jika seorang hamba mendapati bulan mulia ini, lalu tak dapat ampunan, celaka dia.

Maka Jibril alaihissalam mendoakan laknat bagi orang-orang seperti ini. Dan baginda Nabi shallallahu alayhi wasallam tentu saja mengaminkan doa tersebut.

Nah, bagaimana agar ampunan Allah bisa kita di syahrul Maghfirah ini? Berikut diringkas dari berbagai sumber.

Pertama, ikhlas karena Allah. Puasa adalah ibadah agung. Agar ia bisa diterima Allah, berikut keutamaannya kita dapatkan, maka harus dilandasi keikhlasan. Dan ikhlas bisa dilakukan ketika kita bertauhid kepada Allah. Yaitu, menjadikan Allah satu-satunya tujuan seluruh ibadah kita, tidak hanya puasa.

Orang yang tidak ikhlas, ibarat orang yang menulis secarik surat. Ia tulis surat dengan tutur bahasa yang indah, tinta yang berkualitas lagi harum semerbak. Namun di akhir usahanya untuk mengirim surat ia salah menuliskan alamat. Maka usahanya akan berujung pada kegagalan, surat tidak sampai, padahal ia telah bersusah payah dalam membuat surat. Begitulah amal kita, sebaik apapun puasa yang kita kerjakan hingga membuat badan kurus seperti senar gitar tetap tak akan sampai kepada Allah dan Allah menolak segala amal yang dilakukan bukan karena-Nya.

Kedua, doa penuh harap.

Ketiga, tidak mempuasakan hati.

Keempat, puasa tapi malas-malasan.







14/05/2019

::: KEBINASAAN BAGIMU :::

Suatu kali, Malaikat Jibril alaihissalam mendatangi baginda Nabi shallallalahu alayhi wasallam. Ketika itu, tapak kaki Nabi sedang ada di tangga pertama mimbar. Jibril lalu berdoa untuk tiga hal yang membinasakan. Dan doa tersebut diamini langsung Baginda Nabi, di setiap anak-anak tangga mimbar.

Bayangkan. Malaikat paling mulia berdoa. Lalu nabi sekaligus manusia termulai mengamini doa tersebut. Apakah ada alasan Allah Yang Maha Mulia untuk menolak mengijabah doa tersebut?

Penasaran apa doanya?

Doa tersebut terangkum dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari beberapa jalur. Ada yang dari jalur sahabat Abu Hurairah. Kemudian, Imam Ibnu Hibban meriwayatkannya dari melalui jalur sahabat Malik bin alHuwairits radhiyallahu anhu. Ada p**a jalur lain dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh Imam atTabhrani.

Doa tersebut mencakup tiga hal. Semoga kita semua terhindar dari golongan orang-orang yang didoakan Jibril alaihissalam tersebut.

Di day ke 9 ini, saya mencoba membahasnya satu-persatu dalam tiga edisi. Insya Allah.

Pertama, orang yang tidak berselawat kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Ketika nama beliau disebutkan dan orang tersebut mendengarnya.

Selawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah bentuk pengagungan kepada beliau. Sebagai manusia sekalius manusia termulia yang pernah ada, kita tentu harus menempatkannya pada kedudukannya. Salah bentuknya adalah dengan berselawat kepadanya.

Bahkan dalam sebuah hadits lain, digambarkan bahwa orang yang tidak berselawat ketika mendengar namanya disebut, adalah sekikir-kikir manusia.

Di lain hadits, juga dijelaskan keutamaan berselawat. Misal, siapa yang berselawat kepada Nabi sekali, maka Allah berselawat kepadanya 10 kali.

Nah, momen Ramadhan ini kiranya menjadi ajang terbaik untuk membuktikan cinta kita kepada baginda Nabi. Mengagungkannya, berarti mencintainya.

Allahumma shalli ala muhammad....







13/05/2019

::: BEGITULAH KALAU SUDAH CINTA :::

Hari ini saya pengen cerita. Tentang seorang kawan. Saya dan dia pernah satu kelas. Dulu sekali. Masa-masa indah di kampung halaman.

Saya dan dia ketemu lagi setelah jadi "orang". Ternyata, kami sama. Sama-sama menjadi pamong. Bagi para santri di asrama. Kami juga satu passion dalam menulis. Ya, kami sama-sama senang menulis. Hanya saja, saya duluan branding diri dengan Guru Ngaji Blogger.

Nah, cerita saya dengan dia tentang Ramadhan. Saya memang terbiasa ngorek-ngorek. Tapi ngorek cerita, hehehe. Dan informasi, tentunya.

Satu yang saya tangkap dari ceritanya adalah keinginan kuatnya untuk selalu berada di masjid. "Seandainya tidak ada amanah lain di asrama dan kantor, saya pengennya di masjid aja terus."

Sebagai pawang santri, dia memang harus terus berada dekat santri. Istilah pawang santri itu bersinonim dengan pengasuh. Atau bahasa pesantrennya biasa disebut musyrif, atau murabbi.

Kalau di tempat saya ngajar dulu di Malang, istioah itu disebut wali asrama. Untuk membedakan tugasnya dengan wali kelas. Sebab, ruang hidup santri biasanya hanya beputar di sekolah, asrama, masjid dan dapur.

Beda dengan istri, yang beputar di dapur, kasur dan sumur. Eh.

Lanjut. Menurutnya, selama 7 hari Ramadhan berlalu, ia hanya berada di tempat saja. "Cuman masjid, rumah, dan asrama," katanya.

"Belanja buat buka dan sahur, gimana?" Saya penasaran.

"Oh, kalau itu, dimenej, bro." Untuk urusan belanja dapur, ia sudah persiapkan untuk beberapa hari. H-1 Ramadhan, ia belanja untuk keperluan 10 hari.

Sejak awal dia memang sudah buat komitmen dengan istrinya. "Pokoknya, Ramadhan ini kita maksimalkan ibadah." Begitu dia pesan ke istrinya.

Sehingga, menurutnya, itu semacam warning buat istri. Agar tidak banyak tuntutan untuk keluar, belanja ini-itu, jalan-jalan, dan lain sebagainya.

"Saya itu mas, kalau urusan buka, maunya itu sederhana aja. Yang sunnah, lah. Air putih, kalau gak ada kurma. Terus ke masjid lagi, lanjut tadarrus." Saya dipanggilnya mas. Dia tahu, saya memang pernah jadi orang Jawa beberapa tahun.

Sejak ba'da sahur, ia sudah di masjid. Dan terus di sana sepanjang pagi. Lebih sedikit dari jam 7, ia balik kandang. Persiapan ngantor.

Zhuhur sampe ashar, di masjid lagi. I'tikaf, katanya. Bahkan kadang hingga jelang buka. Begitu rata-rata siklus hariannya.

Perhari, target berapa juz? Saya coba-coba tanya. "Alhamdulillah, saya target khatam setiap 4 hari." Artinya, setiap hari dia harus mampu membaca 7 sampai 8 juz. Wah, mantul juga.

Benarlah pepatah; man jadda, wa jada. Mau sukses, ya harus ada kesungguhan. Kesungguhan butuh pengorbanan. Juga tekad dan perjuangan.

Ah, iri rasanya bisa demikian. Begitulah kalau sudah cinta. Pada Sang Kuasa. Zat yang semua ibadah harus ditujukan kepadaNya.


Kantor, lembur. 22.10 WITA.







12/05/2019

::: TERASI DAN JATI DIRI :::

Menjelang deadline, sebenarnya belum ada ide di kepala saya. Sejak awal hingga detik-detik akhir ini, saya begitu kesulitan menghubungkan antara puasa dengan keyword . Sepintas, memang tidak ada hubungan antara puasa dengan "terasi".

Tapi, bismillah. Terus saja menulis hingga ide mengalir dan mengular.

Bismillah, nulis apa, ya.

Bismillah.

Bismillah.

Bismillah.

Bismillah.

Oh, oke. Begini.

Bisa saja, dalam interaksi kita dengan orang lain, ada yang disembunyikan dari keburukan. Atau juga bisa jadi ada kebaikan yang ditampakkan. Dalam istilah anak muda sekarang jaim. Istilah yang tepat bagi orang yang sok berlaku baik di depan orang tertentu. Dan berlaku sebaliknya bersama yang lain. Diterjemahkan sebagai "jaga image".

Jaga image atau menjaga citra baik. Tentu saja citra diri sendiri. Ketemu si A, baik betul kelakuannya. Kebetulan A adalah orang yang dituakan. Bisa saja guru, dosen, atau sesiapa saja.

Lalu, datang B. Kawan sepermainan. Mulai TK ia sejalan. Kepada dia, tidak ada istilah jaim. Pokoknya, aslinya keliatan. Toh, alasannya, sudah sama-sama saling tahu.

Begitulah.

Nah, puasa datang. Ramadhan menyapa. Sebagai salah satu amalan pondasi keislaman, puasa mengajarkan banyak hal. Juga menyimpan banyak keutamaan. Salah satu yang diajarkan puasa adalah jati diri.

Jika sebelumnya, orang bisa saja jaim, maka di puasa tidak bisa lagi. Khususnya dalam hal ibadah. Puasa akan menampilkan dan menampakkan citra aslinya seseorang. Apakah ia hamba Allah, ataukah penghamba hawa nafsunya.

Contoh. Ada orang di luar Ramadhan berat untuk berjamaah ke masjid. Ia pun beralasan, "Aduh, kayaknya syaitan yang dikirim menggoda saya terlalu besar." Sehingga, ia takluk oleh godaan syaitan.

Nah, di Ramadhan, tidak ada lagi cerita demikian. Syaitan telah diikat. Neraka ditutup. Sehingga, ia sendiri yang menentukan. Apakah ia hamba Allah. Ataukah dia penghamba hawa nafsu. Sebab dia hanya berurusan dengan nafsunya saja. Tidak lagi dengan syaitan.

Di sinilah akan nampak. Keluar aslinya. Sebab ia tidak bisa lagi berlindung di balik syaithan. Tidak bisa lagi dia beralasan ada syaithan yang menggoda. Tinggal nafsunya saja menjadi penentu. Yang membuat jati dirinya nampak.

Akan kelihatan, apakah dia hamba Allah atau penurut hawa nafsu. Karena, jangankan yang wajib, yang sunnah saja, akan ada kekuatan berbeda selama Ramadhan yang mendorong untuk bisa mengerjakannya. Lihatlah. Betapa ramainya masjid di awal-awal puasa ini.

Tapi, itu di awal. Pada akhirnya, akan nampak yang asli.

Mari berdoa kepada Allah. Agar kita dikuatkan menundukkan hawa nafsu. Dan mampu mengarahkan nafsu di jalan kebenaran.







11/05/2019

::: MENGGANDA :::

Ramadhan datang menawarkan beragam promosi menggiurkan. Amal-amal didiskon besar-besaran. Pahala dilelang habis-habisan. Bukan siapa cepat dia dapat. Tapi siapapun bisa dapat. Asal mau dan mampu.

Sebagai pendosa, sudah tentu membutuhkan semua itu. Penurut hawa nafsu, pasti punya hajat ke sana. Sayang, banyak yang abai. Banyak yang tak peduli. Merasa belum butuh. Atau bahkan merasa tidak butuh.

Bagi yang sadar diri penuh dosa, ia tentu akan bergegas. Bahkan sejak awal sudah tancap gas. Begitu terus hingga tiba digaris finish.

Nah, salah satu cara meraih banyak bonus dengan "sedikit" usaha adalah dengan "bermain" niat. Apa itu? Bagaimana itu?

Niat adalah sesuatu yang melandasi orang berbuat sesuatu. Apapun yang terbetik dalam hati, dengan maksud ingin dilakukan, maka itulah niat. Walaupun urung dilakukan.

Bagaimana bermain niat?

Setelah sahur dan berwudu, bergegaslah ke masjid untuk shalat subuh. Jangan lupa berdoa keluar rumah. Ketika keluar, niatan untuk melakukan banyak kebajikan.

Di jalan, berdoa agar diberi cahaya di mana saja. Kapan saja. Dari mana saja. Masuk masjid dengan kaki kanan. Dan berdoa agar diberi kasih sayang sama Allah.

Nah, ketika masuk masjid, jangan lupa niatan p**a untuk beri'tikaf selama berada di masjid. Dengan begitu, kita dapat pahala shalat, tilawah, dan seluruh amalan lainnya. Dan juga mendapat pahala ganda, yaitu pahala i'tikaf.

Atau begini.

Berwudu, kemudian masuk masjid. Berdiri untuk shalat dengan niat ganda; shalat sunnah wudu, dan shalat tahiyatul masjid. Satu amalan, dua niat, banyak pahala.

Dan masih banyak lagi cara lain.

Dengan begini, kita bisa menggandakan pahala kita dengan satu amalan yang sama. Tentu dengan dua niat sekaligus.

Demikianlah cara bermain niat. Agar mampu meraih pahala ganda.







10/05/2019

::: RUMUS COMEBACK :::

Menarik dan masih hangat dibicarakan bagaimana Tottenham Hotspur membalikkan kekalahan 2-0 (agregat 3-0). Pun demikian dengan Liverpool FC di hari sebelumnya. Juga mampu melakukan comeback bersejarah setelah tertahan 3-0 di leg pertama. Lebih menarik lagi, kalau kita membawanya ke puasa.

Kita, sebagai manusia biasa, tentu banyak salah dan dosa. Sebelas bulan lamanya, kita bergumul dengan maksiat. Menuhankan hawa nafsu. Mengikuti jejak iblis dan syaitan. Mungkin saja, kita kalah lebih banyak dari Tottenham dan Liverpool.

Kini, Allah hadirkan momen tepat. Khusus untuk para hamba Nya yang beriman. Tapi kadang terjerumus ke dalam lembah hina. Bersebab nafsu yang tidak bisa ia tundukkan. Momen itu bernama Ramadhan.

30 hari bersama Ramadhan, Allah inginkan para pendosa dan penurut hawa nafsu untuk segera kembali. Melakukan kudeta atas nafsunya sendiri. Agar bisa melakukan comeback fantastis.

Kelak, sepeninggal Ramadhan, syaitan akan menjerit menangis penuh sesal. Sebab usahanya 11 bulan, tak berarti apa-apa. Allah telah beri maaf kepada seluruh hamba yang berdosa. Diberinya ampun kepada pelaku maksiat. Sehingga bersih dari segala salah.

Di antara sebab, Allah beri pengampunan dosa adalah dengan tarawih. Nabi berkata dalam ujarannya yang penuh kedamaian: Siapa saja yang berdiri menegakkan tarawih karena panggilan iman dalam dadanya dan mengerjakannya penuh harap akan pahala, maka dosa-dosa nya yang telah lalu akan diampuni.

Masya Allah. Subhanallah. Begitu mudahnya kita melakukan comeback. Tidak seperti kedua tim tadi. Hanya modal dua itu; iman dan harap pahala, kita tegakkan tarawih, maka bersihkan kita dari segala dosa.

Tapi, melakukan tarawih butuh perjuangan dan tekad baja. Persis seperti yang dilakukan Tottenham kemarin. Berjuang untuk bisa ikut berjamaah. Penuh tekad untuk bisa tuntas 30 malam.

Mau comeback atas dosa setinggi Semeru? Mudah saja.







Want your school to be the top-listed School/college in Malang?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Malang
65151