14/08/2026
Perintah Sang Guru dan Penjual Tebon
Sekitar seabad silam, masyarakat Banjarejo masih minim agama. Atas perintah gurunya, Syaikh Ismail Ombul dari Sampang, Madura, Kiai Hasbullah datang ke Banjarejo untuk berdakwah dan menyebarkan Islam.
Di awal perjuangannya, beliau hidup sederhana dengan berjualan pakan ternak berupa tebon. Sore harinya, beliau merawat salah satu mushalla di Banjarejo. Dari tempat sederhana itu, dakwah beliau dimulai.
Akhlakul Karimah dan Sang Juru Damai
Kiai Hasbullah dikenal mengedepankan akhlak dan bahasa yang halus. Beliau mendatangi rumah-rumah warga satu per satu, bersilaturahmi, lalu mengajak mereka menjalankan shalat lima waktu dan meninggalkan kemaksiatan. Karena luhurnya budi pekerti, masyarakat mulai menerima, simpati, dan hormat kepada beliau.
Bahkan, tidak sedikit pelaku maksiat yang kemudian bertaubat setelah mendapatkan nasihat dengan cara yang lembut. Kiai Hasbullah juga dikenal sebagai tokoh yang menjadi juru damai ketika terjadi perselisihan di tengah masyarakat, sehingga kehadirannya membawa ketenangan dan meredakan konflik.
Pesantren Tertua di Malang
Setelah masyarakat Banjarejo terbiasa dengan syiar Islam dan kehidupan keagamaan semakin berkembang, Kiai Hasbullah kemudian merintis sebuah pesantren sebagai pusat pendidikan dan dakwah. Pesantren tersebut didirikan pada tahun 1920 M, ketika usia beliau sudah sepuh, sekitar 69 tahun.
Bila menilik catatan sejarah, pondok pesantren yang didirikan Kiai Hasbullah termasuk salah satu lembaga Islam tertua di Kabupaten Malang. Pesantren ini berdiri setelah Pondok Pesantren Miftahul Huda yang lebih dahulu didirikan oleh KH. Hasan Munadi pada tahun 1768 M.
Wafatnya Sang Teladan
Setelah puluhan tahun mengabdikan diri, Kiai Hasbullah wafat pada Senin, 1944 M, pukul 07.00 pagi, dalam usia sekitar 93 tahun. Beliau wafat setelah melaksanakan shalat Duha, dengan tasbih masih berada di tangan, di tempat yang biasa digunakan untuk beribadah.
Dari sebuah mushalla kecil dan tiga gotakan kayu, Kiai Hasbullah meninggalkan warisan yang jauh lebih besar: ilmu, akhlak, dan generasi yang meneruskan perjuangan beliau.