18/01/2026
Dulu, saya termasuk orang yang percaya bahwa dunia sedang diarahkan menuju New World Order.
Bahwa ada elite global, bekerja diam-diam, terorganisir rapi, mengatur negara, perang, ekonomi, bahkan pandemi. Nama-namanya familiar. Illuminati, Freemason, atau istilah lain yang intinya sama, kekuasaan global di balik layar.
Waktu itu, keyakinan itu terasa masuk akal.
Terlalu banyak kejadian besar yang seperti saling terhubung. Terlalu sering rakyat kecil jadi korban, sementara elite tampak selalu selamat.
Namun belakangan, setelah melihat geopolitik dunia hari ini dengan lebih dingin, saya mulai sadar bahwa dunia ini bukan rapi, melainkan justru kacau.
Amerika Serikat tidak lagi tampil sebagai pemimpin global yang konsisten.
Eropa sibuk menyelamatkan dirinya sendiri.
China naik, tapi penuh kehati-hatian dan perhitungan jangka panjang.
Rusia bertaruh besar, dengan risiko yang juga besar.
Jika benar ada satu elite global yang mengatur semuanya, seharusnya dunia terlihat lebih stabil, lebih sinkron, dan lebih terkendali. Faktanya justru sebaliknya. Perang berkepanjangan, konflik terbuka, sanksi saling balas, dan fragmentasi di mana-mana.
Yang ada bukan New World Order. Yang ada adalah New World Disorder.
Bukan satu kekuasaan global, tapi banyak kekuatan yang saling curiga. Bukan rencana jangka panjang yang rapi, tapi keputusan-keputusan pendek yang sering reaktif. Bukan elite tunggal yang kompak, tapi elite-elite yang saling bertabrakan kepentingannya.
Institusi global seperti PBB atau WTO terlihat lebih sering lumpuh daripada berkuasa. Aliansi tidak lagi ideologis, tapi transaksional. Hari ini teman, besok beban.
Saya akhirnya paham bahwa percaya pada NWO sebenarnya adalah cara manusia mencari kepastian. Lebih mudah membayangkan ada dalang tunggal, daripada menerima kenyataan bahwa dunia ini tidak sepenuhnya terkendali oleh siapa pun.
Ironisnya, dunia sekarang justru terlalu kompleks untuk dikuasai satu kelompok rahasia.
Ini bukan berarti elite tidak ada, atau kekuasaan tidak timpang. Tapi kekuasaan hari ini tersebar, saling tarik-menarik, dan sering kali saling menjatuhkan.
Di titik inilah saya melihat posisi Indonesia menjadi rentan. Indonesia bukan penentu arah dunia, tapi juga tidak sepenuhnya netral dalam arti aman. Dalam dunia yang terfragmentasi, Indonesia akan terus didekati, ditekan, dan ditarik oleh berbagai kepentingan besar.
Jika tidak memiliki strategi yang jernih, netralitas bisa berubah menjadi sekadar posisi pasif. Dunia tanpa tatanan jelas menuntut Indonesia lebih cerdas, lebih disiplin, dan lebih berani mendefinisikan kepentingannya sendiri, bukan sekadar mengikuti arus global yang sedang kacau.
Pandangan saya berubah. Bukan karena saya menjadi lebih naif, melainkan karena saya belajar melihat dunia apa adanya.
Lebih dingin, lebih egois, dan jauh dari kata terorganisir sempurna.
Adib Firman | Adib FH