"Lupa Kalau Sedang Ikhlas" (18)
Oleh: Wahyuddin Halim
Di satu grup WhatsApp (GWA), pernah terjadi perdebatan alot tentang makna kata 'ikhlas'. Debat itu dipantik oleh sentilan seorang anggota grup. Perbuatan baik, katanya, kalau selalu dipublikasikan secara lisan dan tulisan, misalnya lewat media sosial, bisa berakibat hampa pahala. Sebab, menurutnya, ia bisa berubah menjadi perbuatan riya' karena berharap pujian manusia, bukan keridaan Allah.
Dia rupanya sedang menyindir rentetan postingan beberapa anggota di GWA yang sama. Dalam postingannya, anggota yang dimaksud selalu menampilkan foto-foto kegiatannya di satu lembaga di mana para anggota GWA itu juga bekerja.
Dalam teks-teks agama, keikhlasan disebut sebagai syarat diterimanya suatu amalan oleh Allah. Ia juga menjadi buah dan intisari iman. Bahkan disebutkan, keikhlasan adalah tujuan akhir dan puncak pencapaian perjalanan keberagamaan seorang manusia.
Ribuan jilid kitab akhlak dan tasawuf telah mengulas tuntas konsep penting dalam agama ini. Sufi termasyhur, Abul Qasim al-Qusyairi (987-1073) mengatakan, “Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.” Secara bahasa, ikhlas berarti bersih dari kotoran. Secara istilah, ia bermakna memurnikan niat dari kotoran yang merusak suatu amal.
Dalam ilmu tasawuf, seorang yang benar-benar ikhlas itu lupa jika dia sedang ikhlas dalam perbuatan baiknya. Karena sudah keseringan dilakukan, maka perbuatan-perbuatan baik yang dilakoninya sudah menjadi kebiasaan, bersifat spontan dan otomatis, bahkan akhirnya menjadi karakternya.
Jangankan peduli mempublikasikan aktivitasnya demi mendapatkan apresiasi dan selebrasi sosial, dia bahkan tidak lagi sempat mengingat kebaikan yang telah dilakukannya. Lebih-lebih, mengiringinya dengan ucapan, "Saya ikhlas lho!", atau "Dengan ikhlas saya...."
Dalam ungkapan verbal "Saya ikhlas" itu pun sesungguhnya masih terbersit satu harapan untuk dipuji oleh orang lain sebagai orang ikhlas. Dengan kata lain, masih menyelinap kesadaran tentang waktu, wujud, dan tujuan suatu perbuatan. Dapat dikatakan bahwa keikhlasan yang sesungguhnya justru ditandai dengan ketidaksadaran tentang amal-amal baik dan bahkan tentang diri sendiri.
Dengan kata lain, seorang ikhlas tidak lagi memerlukan umpan dan imbal balik dari apa yang sudah diberikannya. Dia sudah selesai dengan dirinya sendiri. Dia tidak lagi butuh pujian dari orang lain atas perbuatan-perbuatan baik yang dilakukannya. Singkatnya, dia sudah lupa kalau dia ikhlas. Dia sudah mengikhlaskan keikhlasannya. Kesadarannya tentang keikhlasannya sudah luluh dan punah (fanā').
Dengan analogi lain, keikhlasan sejati ditandai dengan ketidaksadaran akan kuantitas dan durasi pelaksanaan suatu ibadah. Anda, misalnya, tidak lagi mengingat dengan jelas sudah berapa malam Anda melakukan salat tarawih atau salat tajahud. Atau sudah berapa juz Al-Qur'an yang telah Anda baca selama Ramadan. Atau bahkan sudah berapa kali tamat membacanya hingga hari ini. Begitu juga jumlah nominal dari sedekah yang telah Anda berikan. (Atau berapa orang yang sudah me-"like" postingan di FB hahaha).
Mengapa Anda bisa melupakan semua itu? Salah satunya, karena Anda melakukan semua itu memang di setiap waktu selama bertahun-tahun. Artinya, sudah bersifat spontan atau intutitif dan menjadi ritinitas atau habitus Anda. Dengan kata lain, nilai dan efek kebaikan dari semua tindakan itu telah terinternalisasi dalam diri Anda, sudah menjadi bagian dari (kebutuhan) diri sendiri.
Sebagai sekadar analogi, apa Anda masih bisa ingat berapa kali Anda mandi, menyisir rambut, juga --maaf-- buang air besar, atau lari pagi dalam seminggu? Susah mengingatnya bukan? Mengapa? Ya, karena semua itu sudah bertahun-tahun Anda lakukan. Semua itu sudah menjadi kebiasaan personal Anda. Tidak peduli ada yang melihat atau memerintahkannya, Anda terus melakukannya. Selain karena kebiasaan, Anda juga sudah merasakan manfaat melakukan semua itu.
Di atas sudah disebutkan, keikhlasan (semata berharap keridaan Allah) menjadi syarat diterimanya suatu ibadah. Faktanya, sekalipun suatu ibadah dilakukan secara tidak sempurna karena ketiadaan/kesalahan pemahaman tentangnya, atau kelupaan atas beberapa syarat dan rukunnya, asalkan dilakukan dengan ikhlas, ia tetap dapat diterima.
Sebaliknya, sekalipun seluruh syarat, rukun dan cara sebuah ibadah telah dipenuhi dengan sempurna, jika niatnya tidak ikhlas, misalnya demi reputasi dan prestise sosial, atau demi kepentingan pragmatis dan jangka pendek (pencitraan politik, keuntungan ekonomi dan sebagainya), maka ibadah itu tidak akan diperhitungkan.
Dengan kata lain, keberterimaan ibadah oleh Allah lebih ditentukan oleh niat atau esensinya, bukan giat atau performansinya. Semua amalan yang dilakukan tanpa keikhlasan akan menjadi tak bernilai sama sekali, kecuali sekadar mencapai tujuan-tujuan lain yang ditargetkan sejak semula. Sabda Nabi saw. “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya”.
Dalam perpektif demikian, keikhlasan suatu amal tidak dapat diukur berdasarkan sekadar faktor keterbukaan atau kerahasiaan informasi tentang pelaksanaan suatu amalan. Bagi seorang yang ikhlas, tidak ada perbedaan antara beramal secara terang-terangan dengan diam-diam. Dalam kedua cara itu, dia tetap ikhlas. Sebab, dia melakukannya tidak lagi berdasar kesadaran tentang hal-hal eksternal (misalnya karena pujian). Dia melakukan semua itu karena secara intrinsik sudah menjadi karakter dan identitas personalnya.
Matahari akan terus bersinar tanpa peduli apakah makhluk di tata surya memerlukan sinarnya atau tidak. Demikian juga, seorang yang ikhlas akan terus beramal baik, tidak peduli apakah ada yang memuji atau mencelanya. Derajat pujian dan celaan atas perbuatan baiknya sama sekali tidak mempengaruhi mentalitasnya. Dia akan tetap "mabbutantaru mapallaong deceng" (buta dan tuli dalam melakukan kebaikan).
Orang ikhlas bagai matahari. Puncak dan kesempurnaan penciptaannya adalah saat ia menjadi sekadar sarana ('abd, hamba, pelayan) bagi Allah dalam menyebarkan rahmat-Nya kepada para makhluk-Nya, walau ia sendiri harus berada dalam situasi gejolak kepanasan dan keterbakaran abadi.
Hanya yang sudah "fanā' fī nafsihī" yang dapat menjadi orang-orang mukhlis, lalu mukhlas. Wa Allah wa a'lam! []
-------
Diperluas dari Wahyuddin Halim, "Taat Ritual Tuna Sosial: Etnografi Reflektif atas Tradisi Ramadan Kaum Muslim Indonesia" (Makassar: Carabaca, 2021), Bagian 2, #18, h. 84-87.
Wahyuddin Halim
Membaca (adalah) Hidup (ku)
28/03/2024
27/03/2024
”Al-Qur’an, Kitab Mantra atau Buku Bacaan?” (17)
Oleh: Wahyuddin Halim
Sudah jadi tradisi dalam masyarakat Muslim Indonesia menjalani malam ke-17 dari bulan Ramadan dengan memperingati Nuzulul Qur’an. Atau malam turunnya Al-Qur'an untuk pertama kalinya kepada Nabi saw. Beragam acara atau seremoni untuk itu diadakan di masjid-masjid maupun dalam bentuk acara kenegaraan.
Bentuk peringatan Nuzulul Qur’an yang paling umum adalah di masjid-masjid sebelum pelaksanaan salat tarawih. Jamaah mendengarkan ceramah seorang ustaz tentang peristiwa malam turunnya Al-Qur’an dan tema-tema lain sekitar Al-Qur’an. Biasanya, setelah itu jemaah menyantap penganan ringan sebelum berlanjut bersalat tarawih.
Selama Ramadan, seperti halnya di negeri-negeri Muslim lainnya, masyarakat Muslim Indonesia terlihat lebih giat membaca Al-Qur’an. Banyak orang yang mampu menamatkan membacanya (30 juz) hingga minimal tiga kali selama Ramadan. Mereka tahu, membaca kitab suci ini termasuk amalan yang akan dilipatgandakan pahalanya jika dilakukan di bulan suci ini.
Karena hanya lebih intens dibaca di bulan Ramadan, Al-Qur’an nampak sebagai bacaan musiman saja, bukan bacaan harian. Tentunya itu tidak tepat dilekatkan bagi para pengkaji Al-Qur’an, pembaca (qari’), penghafal (hafiz), santri dan murid-murid di taman pengajian Al-Qur’an. Juga bagi orang-orang yang baginya membaca Al-Qur’an sudah bukan lagi sekadar kebiasaan, tapi kebutuhan. Sebagai bacaan musiman, tak jarang mushaf Al-Qur’an hanya sejenak keluar dari lemari penyimpanan di bulan Ramadan.
Bagi kaum Muslim Non-Arab, seperti orang Indonesia, membaca Al-Qur’an tanpa memahami artinya tentu saja bukan suatu hal yang sia-sia. Sebab, membacanya merupakan bagian dari ritual agama dan tetap mendapatkan pahala. Teks-teks agama dan karya-karya para ulama sudah menjelaskan itu secara eksplisit.
Menarik bahwa berbagai lembaga pengajaran Al-Qur’an di Indonesia umumnya hanya mengutamakan pengajaran kemampuan “membaca” kita suci itu bagi kalangan siswa. Bagaimana memahami isinya, baik dengan belajar bahasa Arab maupun dengan membaca terjemahannya, itu belum dipandang bagian dari pengajaran kitab suci itu.
Karena itu, dapat dikatakan, bagi banyak kaum Muslim, ayat-ayat Al-Qur’an masih lebih berfungsi sebagai bacaan ritual, hafalan, doa-doa penolak bala (azimat) atau pemurah rezeki. Tentu saja, ayat-ayat Al-Qur'an juga menjadi ornamen dalam bentuk lukisan atau ukiran kaligrafi yang digantung di dinding masjid, rumah dan kantor. Selain pembacaan (tilawah) dan penghafalannya (tahfiz) dilombakan dalam bentuk MTQ di tingkat lokal, nasional dan internasional.
Pembaca Al-Qur’an yang tidak (merasa perlu berusaha) memahami maknanya tetap berharap memperoleh pahala dari setiap huruf yang mereka baca. Dengan membacanya, mereka juga mengaku memeroleh ketenteraman jiwa. Tidak jarang, juga kesembuhan dari penyakit jasadi dan kesehatan badani.
Menggoda menanyakan, apa fungsi lain dari membaca Al-Qur’an bagi kaum Muslim yang tidak mampu memahami maknanya dalam bahasa Arab? Apakah ada jalan lain bagi mereka untuk memahami Al-Qur’an tanpa harus mempelajari bahasa Arab secara mendalam, seperti dilakukan para santri di pesantren?
Seorang ulama terkemuka di satu pesantren di Sulsel, pernah memberi saran tentang ini. Kata beliau, selain berupaya menamatkan membaca Al-Qur’an selama Ramadan, seseorang sebaiknya juga secara paralel berupaya menamatkan membaca kitab terjemahannya. Dengan begitu, kata beliau, ada peluang bagi orang seperti itu mendapatkan makna khusus dan kesan personal tentang pesan-pesan Al-Qur’an yang dibacanya.
Memang menjadi satu paradoks, banyak yang mengaku sangat menghormati dan mencintai kitab suci mereka tapi hanya melulu membacanya tanpa rasa penasaran untuk memahami isinya, termasuk lewat terjemahan. Padahal saat ini, selain terjemahan Kemenag, sudah banyak versi atau alternatif terjemahan di toko-toko buku maupun dalam format digital.
Jangan sampai, ada orang yang begitu bersemangat “membela Al-Qur’an” di saat dia sendiri belum dapat membacanya, apalagi memahaminya maknanya. Bisa saja terjadi, di satu sisi mereka getol ikut aksi yang diyakini bertujuan membela Al-Qur'an, tapi prilaku dan sikap mereka justru melanggar pesan-pesan terpenting dari kitab suci yang mereka bela, karena membacanya hingga tamat pun tidak pernah, apalagi membaca terjemahannya.
Memang, secara bahasa, Al-Qur’an berarti bacaan. Maka, jika tidak dibaca ia kehilangan relevansinya. Namun membaca Al-Qur’an seharusnya tidak seperti membaca sebuah formulasi mantra, yang perlu dilakukan dengan ritme cepat dan tanpa perlu memahami artinya. Peringatan Allah: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Quran karena hendak cepat-cepat (menguasainya)” (75:16), tapi “Bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil (pelan-pelan)” (73:4).
Namun, bahkan makna "membaca" di sini pun harus dipahami secara luas. Membaca bukan sekadar soal mengeja dan memahami rangkaian huruf, kata dan kalimat. Dalam ilmu hermeneutika, membaca teks bisa berarti dialog interpersonal antara pembaca dan pengarang. Begitulah cara benar membaca buku-buku yang serius.
Selain itu, aktivitas membaca itu tidak selalu terkait dengan usaha untuk mengingat atau menghafal setiap pesan dari teks yang dibaca. Jika begitu, bagaimana mungkin dapat menghafal buku-buku yang tebalnya hingga ratusan halaman. Membaca adalah proses menyerap makna dari realitas tekstual, trans-tekstual, dan kontekstual di luar diri kita yang membawa perubahan dalam diri pembaca secara mental, intelektual dan spiritual.
Dalam perspektif seperti itu, ketika seseorang sedang membaca Al-Qur’an, yang terjadi seharusnya adalah proses dialog antara dia dengan Allah, sebagai sumber pewahyuan Al-Qur'an (author). Membaca adalah salah satu proses taqarrub, mendekatkan diri pembaca dengan sang pengarang kitab suci.
Nabi saw diriwayatkan pernah berkata: "Siapa yang ingin berkomunikasi dengan Allah maka bacalah Al-Qur'an!” Ali bin Abi Thalib r.a. pernah berkata, _“Istanthiq Al-Qur’an!”_ (Ajaklah Al-Qur’an berbicara!). Penyair dan filsuf Muslim asa India-Pakistan, Dr. Muhammad Iqbal (1877-1938) pernah diberi pesan oleh ayahnya: “Bacalah Al-Qur’an seolah-olah ia diturunkan kepadamu!”
Oleh karena itu, tidak ada salahnya sesekali membaca Al-Qur’an seolah-olah membaca buku-buku sastra dan filsafat, di mana dibutuhkan waktu yang lama, perhatian yang intens, cermat, kritis sekaligus penuh gairah bergumul secara personal dan intelektual dengan Sang Pengarangnya []
----------
Diperluas dari Wahyuddin Halim, "Taat Ritual Tuna Sosial: Etnografi Reflektif atas Tradisi Ramadan Kaum Muslim Indonesia" (Makassar: Carabaca, 2021), Bagian 2, #17, h. 80-83.
Note: Foto adalah 2 halaman dari manuskrip (tulisan tangan) Al-Qur'an peninggalan leluhur di kampung
”Al-Qur’an, Kitab Mantra atau Buku Bacaan?” (17)
Oleh: Wahyuddin Halim
Sudah jadi tradisi dalam masyarakat Muslim Indonesia menjalani malam ke-17 dari bulan Ramadan dengan memperingati Nuzulul Qur’an. Atau malam turunnya Al-Qur'an untuk pertama kalinya kepada Nabi saw. Beragam acara atau seremoni untuk itu diadakan di masjid-masjid maupun dalam bentuk acara kenegaraan.
Bentuk peringatan Nuzulul Qur’an yang paling umum adalah di masjid-masjid sebelum pelaksanaan salat tarawih. Jamaah mendengarkan ceramah seorang ustaz tentang peristiwa malam turunnya Al-Qur’an dan tema-tema lain sekitar Al-Qur’an. Biasanya, setelah itu jemaah menyantap penganan ringan sebelum berlanjut bersalat tarawih.
Selama Ramadan, seperti halnya di negeri-negeri Muslim lainnya, masyarakat Muslim Indonesia terlihat lebih giat membaca Al-Qur’an. Banyak orang yang mampu menamatkan membacanya (30 juz) hingga minimal tiga kali selama Ramadan. Mereka tahu, membaca kitab suci ini termasuk amalan yang akan dilipatgandakan pahalanya jika dilakukan di bulan suci ini.
Karena hanya lebih intens dibaca di bulan Ramadan, Al-Qur’an nampak sebagai bacaan musiman saja, bukan bacaan harian. Tentunya itu tidak tepat dilekatkan bagi para pengkaji Al-Qur’an, pembaca (qari’), penghafal (hafiz), santri dan murid-murid di taman pengajian Al-Qur’an. Juga bagi orang-orang yang baginya membaca Al-Qur’an sudah bukan lagi sekadar kebiasaan, tapi kebutuhan. Sebagai bacaan musiman, tak jarang mushaf Al-Qur’an hanya sejenak keluar dari lemari penyimpanan di bulan Ramadan.
Bagi kaum Muslim Non-Arab, seperti orang Indonesia, membaca Al-Qur’an tanpa memahami artinya tentu saja bukan suatu hal yang sia-sia. Sebab, membacanya merupakan bagian dari ritual agama dan tetap mendapatkan pahala. Teks-teks agama dan karya-karya para ulama sudah menjelaskan itu secara eksplisit.
Menarik bahwa berbagai lembaga pengajaran Al-Qur’an di Indonesia umumnya hanya mengutamakan pengajaran kemampuan “membaca” kita suci itu bagi kalangan siswa. Bagaimana memahami isinya, baik dengan belajar bahasa Arab maupun dengan membaca terjemahannya, itu belum dipandang bagian dari pengajaran kitab suci itu.
Karena itu, dapat dikatakan, bagi banyak kaum Muslim, ayat-ayat Al-Qur’an masih lebih berfungsi sebagai bacaan ritual, hafalan, doa-doa penolak bala (azimat) atau pemurah rezeki. Tentu saja, ayat-ayat Al-Qur'an juga menjadi ornamen dalam bentuk lukisan atau ukiran kaligrafi yang digantung di dinding masjid, rumah dan kantor. Selain pembacaan (tilawah) dan penghafalannya (tahfiz) dilombakan dalam bentuk MTQ di tingkat lokal, nasional dan internasional.
Pembaca Al-Qur’an yang tidak (merasa perlu berusaha) memahami maknanya tetap berharap memperoleh pahala dari setiap huruf yang mereka baca. Dengan membacanya, mereka juga mengaku memeroleh ketenteraman jiwa. Tidak jarang, juga kesembuhan dari penyakit jasadi dan kesehatan badani.
Menarik menanyakan, apa fungsi lain dari membaca Al-Qur’an bagi kaum Muslim yang tidak mampu memahami maknanya dalam bahasa Arab? Apakah ada jalan lain bagi mereka untuk memahami Al-Qur’an tanpa harus mempelajari bahasa Arab secara mendalam, seperti dilakukan para santri di pesantren?
Seorang ulama terkemuka di satu pesantren di Sulsel, pernah memberi saran tentang ini. Kata beliau, selain berupaya menamatkan membaca Al-Qur’an selama Ramadan, seseorang sebaiknya juga secara paralel berupaya menamatkan membaca kitab terjemahannya. Dengan begitu, kata beliau, ada peluang bagi orang seperti itu mendapatkan makna khusus dan kesan personal tentang pesan-pesan Al-Qur’an yang dibacanya.
Memang menjadi satu paradoks, banyak yang mengaku sangat menghormati dan mencintai kitab suci mereka tapi hanya melulu membacanya tanpa rasa penasaran untuk memahami isinya, termasuk lewat terjemahan. Padahal saat ini, selain terjemahan Kemenag, sudah banyak versi atau alternatif terjemahan di toko-toko buku maupun dalam format digital.
Jangan sampai, ada orang yang begitu bersemangat “membela Al-Qur’an” di saat dia sendiri belum dapat membacanya, apalagi memahaminya maknanya. Bisa saja terjadi, di satu sisi mereka getol ikut aksi yang diyakini bertujuan membela Al-Qur'an, tapi prilaku dan sikap mereka justru melanggar pesan-pesan terpenting dari kitab suci yang mereka bela, karena membacanya hingga tamat pun tidak pernah, apalagi membaca terjemahannya.
Memang, secara bahasa, Al-Qur’an berarti bacaan. Maka, jika tidak dibaca ia kehilangan relevansinya. Namun membaca Al-Qur’an seharusnya tidak seperti membaca sebuah formulasi mantra, yang perlu dilakukan dengan ritme cepat dan tanpa perlu memahami artinya. Peringatan Allah: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Quran karena hendak cepat-cepat (menguasainya)” (75:16), tapi “Bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil (pelan-pelan)” (73:4).
Namun, bahkan makna "membaca" di sini pun harus dipahami secara luas. Membaca bukan sekadar soal mengeja dan memahami rangkaian huruf, kata dan kalimat. Dalam ilmu hermeneutika, membaca teks bisa berarti dialog interpersonal antara pembaca dan pengarang. Begitulah cara benar membaca buku-buku yang serius.
Selain itu, aktivitas membaca itu tidak selalu terkait dengan usaha untuk mengingat atau menghafal setiap pesan dari teks yang dibaca. Jika begitu, bagaimana mungkin dapat menghafal buku-buku yang tebalnya hingga ratusan halaman. Membaca adalah proses menyerap makna dari realitas tekstual, trans-tekstual, dan kontekstual di luar diri kita yang membawa perubahan dalam diri pembaca secara mental, intelektual dan spiritual.
Dalam perspektif seperti itu, ketika seseorang sedang membaca Al-Qur’an, yang terjadi seharusnya adalah proses dialog antara dia dengan Allah, sebagai sumber pewahyuan Al-Qur'an (author). Membaca adalah salah satu proses taqarrub, mendekatkan diri pembaca dengan sang pengarang kitab suci.
Nabi saw diriwayatkan pernah berkata: "Siapa yang ingin berkomunikasi dengan Allah maka bacalah Al-Qur'an!” Ali bin Abi Thalib r.a. pernah berkata, _“Istanthiq Al-Qur’an!”_ (Ajaklah Al-Qur’an berbicara!). Penyair dan filsuf Muslim asa India-Pakistan, Dr. Muhammad Iqbal (1877-1938) pernah diberi pesan oleh ayahnya: “Bacalah Al-Qur’an seolah-olah ia diturunkan kepadamu!”
Oleh karena itu, tidak ada salahnya sesekali membaca Al-Qur’an seolah-olah membaca buku-buku sastra dan filsafat, di mana dibutuhkan waktu yang lama, perhatian yang intens, cermat, kritis sekaligus penuh gairah bergumul secara personal dan intelektual dengan Sang Pengarangnya []
----------
Diperluas dari Wahyuddin Halim, "Taat Ritual Tuna Sosial: Etnografi Reflektif atas Tradisi Ramadan Kaum Muslim Indonesia" (Makassar: Carabaca, 2021), Bagian 2, #17, h. 80-83.
Note: Foto adalah 2 halaman dari manuskrip (tulisan tangan) Al-Qur'an peninggalan leluhur di kampung.
"Ramadan dan Jeda Pesta Makan Besar" (15)
Oleh: Wahyuddin Halim
Dalam satu hal, Ramadan menawarkan masa jeda duniawi bagi kaum Muslim. Di sebelas bulan sebelumnya, hidup kita mungkin lebih banyak berkisar dan berputar pada urusan duniawi.
Setiap hari kerja, dari pagi hingga sore, kita geluti profesi masing-masing demi keberlangsungan hidup kita sekeluarga. Karena sibuk bekerja, kerapkali kita abai pada tanggung jawab sosial di luar lingkungan kerja kita. Juga lalai dalam upaya meningkatkan kualitas spiritual kita.
Segelintir orang mungkin punya rutinitas harian yang hanya berkisar pada rumah dinas megah, ruang kantor yang nyaman dan executive lounge di setiap bandara. Hidup mereka juga berkisar pada penerbangan kelas bisnis, atau jet pribadi, mobil dinas mewah yang ke mana-mana diiringi patwal, hotel berbintang lima, restoran berkelas, protokoler penyambutan dan kursi VVIP di setiap acara.
Di hari libur, mereka piknik ke tempat-tempat yang sesuai dengan jabatan atau kelas sosial mereka. Di mana-mana, mereka hanya bertemu dengan orang-orang seprofesi atau dari kelas sosial-ekonomi yang sama.
Jika hidup hanya berkisar pada ritme dan ritual seperti itu, sangat mungkin kemampuan kita untuk berempati, apalagi bersimpati, pada derita orang lain akan semakin tumpul. Penglihatan kita terhadap tragedi dan nestapa kemanusiaan yang mengenaskan semakin buram.
Maka Ramadan datang menawarkan kepada kita waktu untuk rehat sejenak dari hiruk-pikuk lingkungan seperti itu. Yaitu, kondisi dan lingkungan yang kerap membuat kita lupa pada diri sendiri, lupa pada orang lain, dan akhirnya juga lupa pada Tuhan.
Ramadan membukakan kita peluang dan ruang untuk berjumpa secara lebih intensif, ekstensif, dan intim dengan orang-orang di luar profesi dan lingkaran kelas sosial kita selama ini.
Faktanya, hingga memasuki likur kedua Ramadan, nampak masih banyak orang yang enggan melakukan reses sejenak dari pergaulan dengan kawan-kawan seprofesi atau satu kelas sosial.
Sebaliknya, memasuki Ramadan, mereka malah lebih intens mengadakan berbagai kegiatan kumpul-kumpul dengan rekan sesama profesi atau kelas sosial saja. Misalnya, berbuka puasa bersama (bukber) dengan teman sekantor, seprofesi, se-ormas, dsb. Juga salat tarawih bergilir di rumah jabatan, di kantor, atau di hotel berbintang lima.
Entah bagaimana awalnya tradisi seperti ini muncul di Indonesia. Yang jelas, sejak belasan tahun silam, hampir semua instansi pemerintah dan swasta, termasuk kampus-kampus, mengadakan acara berbuka puasa bersama di unit masing-masing yang dihadiri para pimpinan dan pegawai instansi terkait.
Konon, anggaran untuk kegiatan semacam itu memang sudah disiapkan di tiap instansi. Pertanyaan yang menggona, mengapa, misalnya, anggaran itu tidak digunakan saja untuk membantu warga miskin, lemah dan terabaikan agar mereka dapat menjalani Ramadan tanpa harus berkerja keras seperti biasa demi sesuap nasi?
Ya benar. Beberapa anak panti asuhan memang hampir selalu juga diundang. Biasanya, mereka datang dengan mobil carteran dan dengan seragam panti masing-masing. Namun, kerapkali mereka nampak sebagai sekedar pelengkap saja. Didudukkan di pojok ruangan atau ruangan terpisah. Seakan mereka diundang sekadar untuk memberi justifikasi keagamaan bagi acara buka puasa tersebut. Jarang sekali mereka tampak berbaur atau dibaurkan dengan tetamu lainnya.
Setelah lebaran pun, biasanya orang-orang terus mengadakan acara kumpul-kumpul dengan kawan-kawan sesama profesi. Misalnya dengan mengadakan acara halal-bi-halal atau Syawalan dan sejenisnya. Atau melakukan piknik ke tempat-tempat wisata yang sama bersama dengan kawan-kawan sekantor.
Begitulah, profesi atau tempat kerja menjadi lapisan identitas baru yang semakin tebal dan kuat dalam masyarakat kita. Kesamaan profesi mulai menggeser faktor kesamaan identitas suku, agama atau ormas untuk melakukan tindakan bersama atau menjalin kebersamaan.
Dalam masyarakat modern dan plural, memang sudah jadi fakta bahwa profesi (bidang pekerjaan) menjadi identitas paling kuat daripada faktor etnisitas, kebangsaan, bahkan agama. Maka orang-orang dengan profesi yang sama lebih intens waktu dan kualitas pergaulannya, lebih kuat rasa solidaritas korps-nya, kebanggan kolektifnya, dan kesediaan mereka berkorban demi kolega seprofesi.
Saat berkunjung ke Amerika Serikat dalam rangka satu program akademik singkat di 2018, saya tanya seorang professor "bule" yang memandu kami selama pelaksanaan program. Dia dosen di Fakultas Ilmu Politik Universitas Massachusetts, Amherst. Saya tanya, kalau ada orang yang tanya Anda, "Who are you", apa jawab Anda? "I'am a political scientist", jawab dia (Saya seorang ilmuan politik).
Dia tidak menjawab, misalnya, saya orang Massachusetts! atau orang Amerika! atau seorang Protestant! Dengan kata lain, di sana, afiliasi profesional menjadi inti identitas personal seseorang daripada faktor-faktor yang di negara lain berwujud kesukuan, kebangsaan, agama, bahkan ormas keagamaan.
Nah, Ramadan sejatinya adalah kesempatan terbaik untuk mengenal, menyapa dan berbagi dengan kalangan orang-orang lintas-generasi, profesi, suku, agama dan kelas sosial berbeda. Untuk apa? Ya, dalam rangka menyemaikan dan memupuk sifat dan sikap ugahari, empati, solidaritas, toleransi dan rendah hati. Bukan sebaliknya, Ramadan malah lebih menjadi ajang penegasan, demonstrasi dan eksebisi identitas, status sosial dan properti duniawi seperti pada 11 bulan lainnya.
Dengan kata lain, bulan Ramadan dapat menjadi alasan atau kesempatan cuti atau jeda dari pesta makan-makan besar dan mewah dalam beragam bentuknya, yang di luar Ramadan sudah lumrah dan rutin dilakukan.
Beberapa hari lalu, saya menghadiri undangan diskusi (FGD) di satu hotel berbintang dan pertemuan khusus (dengan former academic supervisor dari Australia) di satu restoran berkelas di kawasan down town Makassar.
Tentu saja, saya harus berbuka di kedua tempat itu. Nampaknya, ruang makan di kedua tempat itu sangat ramai dan meriah dengan orang-orang yang datang khusus untuk berbuka puasa bersama keluarga dan kolega.
Seorang kawan pernah memberitahu saya. Hampir semua hotel dan restoran ternama di Makassar menawarkan paket buka puasa secara prasmanan dengan banyak pilihan menu.
Saya tertegun, rupanya selain fenomena buka puasa bersama di rumah-rumah dinas para pejabat atau pengusaha besar, kini ada tren baru di bulan Ramadan: berbuka di hotel dan restoran mewah. [Dan saya pun mulai tertarik mencoba tren itu dengan keluarga hehe].
Tapi, jika begitu, kapan jedanya acara makanG-makanG bersama dan sesama kita tongji? []
-------------
Diperluas dari Wahyuddin Halim, "Taat Ritual Tuna Sosial: Etnografi Reflektif atas Tradisi Ramadan Kaum Muslim Indonesia" (Makassar: Carabaca, 2021), Bagian 2, #15, h. 72-74.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Contact the school
Address
Makassar
90222