28/07/2016
Our recent work in TOSP
July 13, 2016 marks The Orange Sun Project 3rd Anniversary. For that, we wanted to share our happiness with children. As the city of Makassar consists of many islands, we did our project in an island near Makassar, called Kodingareng Lompo island.
We had some troubles in making this event such as not getting permission from the school in the island. Luckily, the local government and the people supported us. The subsdistrict head even permitted us to use his place to hold the event.
Kids and the local people were so excited. Some students and parents wanted to skip school for this event but we said 'school is more important!'
Like the event before, we invited kids to play and learn some art. We encouraged them to start having their a dream. Some students said they wanted to be a doctor, a police, or even a teacher. We were surprised by one of the student, Aflah. He said that he wanted to be a garbage man. At the young age, he already knows that garbage is the main problem in his neighbourhood and the island where he lives. We were so proud of him and the other kids too.
---
13 Juli 2016 kemarin merupakan ulang tahun The Orange Sun Project yang ketiga. Untuk itu, kami ingin berbagi kebahagiaan dengan anak-anak. Makassar memiliki beberapa p**au, oleh karenanya, proyek sosial ini dlakukan sedikit berbeda, yakni di p**au Kodingareng Lompo.
Kami menghadapi banyak masalah ketika melaksanakan acara ini, seperti masalah perizinan dari sekolah yang tidak diperoleh. Untungnya, pemerintah lokal dan masyarakat disana mendukung kami. Bapak lurahnya bahkan mengizinkan kami untuk menggunakan baruga untuk acara ini.
Anak-anak dan masyarakat disana sangat tertarik dengan acara sosial ini. Bahkan ada siswa dan orang tua yang tidak ingin ke sekolah demi ikut acara ini. Namun, kami memberi tahu mereka kalau sekolah lebih penting.
Seperti acara sebelumnya, kami mengundang anak-anak untuk bermain dan belajar seni. Kami ingin mengetahui cita-cita ketika mereka sudah besar. Beberapa anak ingin menjadi dokter, polisi, atau bahkan guru. Kami tersentuh ketika salah satu dari mereka, Aflah, bercita-cita menjadi seorang tukang sampah. Di umur yang masih muda, dia sudah mengerti kalau sampah merupakan salah satu permasalahan di lingkungan dan p**a tempat dia tinggal. Kami sangat bangga dengannya dan anak-anak lain.