Kala'birangta Institute

Kala'birangta Institute

Share

Kala'birangta Institute lahir untuk memberdayakan Kesenian dan Budaya

Visi dari lembaga ini adalah terciptanya tatanan masyarakat yang menghargai sejarah, budaya, adat istiadat dan kearifan – kearifan lokal Makassar sebagai akar dari pertumbuhan dan perkembangan mereka.

23/12/2024

Perintis "Angkatan Laut" Yang (sudah) Terlupakan

Diresmikan bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), 20 Mei 2002. Namun demikian, monumen yang ada di pojok sebuah lapangan di Galesong Baru, ibukota Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar tersebut, hingga hari ini belum banyak yang mengetahui jika sosok patung yang ditegakkan di situ adalah salah seorang putra asal Galesong, salah seorang perintis berdirinya Angkatan Laut Republik Indonesia.Dia adalah Kolonel Laut (Purn) A.Hamzah Tuppu, anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan keluarga Sayyid Dg Ngempo (ayah) dan I Tallasa Dg Rannu (ibu). Dilahirkan 20 Agustus 1920 di Borongcalla, Desa Bontosunggu, Galesong (sekarang masuk wilayah administratif Kecamatan Galesong Selatan), Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan.

Menurut pengakuan Pemangku Hadat Karaeng Galesong XVII (terakhir) yang juga adalah keturunan generasi ketujuh dari Syekh Yusuf Tajul Khalwatia Kaddasallahu Sirruhu, A.Hamzah Tuppu adalah bagian dari keluarganya. Justru di masa kecil tinggal dan dibina oleh Karaeng Galesong XVI, H. Larigau Dg Manginruru. Nama panggilan kesehariannya adalah Cakkua, menggunakan nama salah satu badik milik Syekh Yusuf. ‘’Badik Cakkua itu masih saya simpan sampai sekarang,’’ aku Haerumy Hamzah Tuppu, anak tertua A.Hamzah Tuppu, beberapa waktu lalu di Makassar.

Dalam buku Sejarah TNI Angkatan Laut (Periode Perang Kemerdekaan 1945 – 1950) terbitan Dinas Sejarah TNI AL tahun 2003, jelas disebut-sebut bagaimana peran A.Hamzah Tuppu bersama sejumlah pemuda Daisangka – pemuda yang pernah mendapat latihan kemiliteran dari Kaigun – Pemerintahan Militer (Angkatan Laut) Jepang, melakukan pergerakan sejak Juni 1945 di Surabaya, Jawa Timur, untuk membentuk semacam pas**an keamanan bersifat kelautan. Orang-orang Indonesia yang pernah bekerja di Angkatan Laut Jepang maupun sebagai pegawai pelayaran, direkrut masuk menjadi anggota pas**an pengawal keamanan tersebut di Surabaya.Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945, ternyata model pembetukan pas**an yang dilakukan A.Hamzah Tuppu dkk di Surabaya, menginspirasi dibentuknya pas**an penjaga keamanan dengan nama Badan Keamanan Rakyat (BKR), sebagaimana diperintahkan langsung oleh Presiden Soekarno dalam pidato radionya pada 23 Agustus 1945.
Pembentukan BKR Laut -- selain BKR Darat, dilakukan pada tanggal 10 September 1945 di Jakarta. Kegiatan itu pun lalu diikuti dengan pembentukan BKR Laut di Surabaya yang dipelopori oleh A.Hamzah Tuppu dan kawan-kawan.

Awalnya, BKR – bagian darat dan laut, yang kemudian dibentuk di sejumlah daerah di Indonesia merupakan kekuatan sipil tak bersenjata. Namun kemudian anggota BKR mempersenjatai diri setelah terlibat pertempuran langsung menghalau kedatangan tentara Sekutu yang mulai mendarat di Indonesia, 8 September 1945. Setelah melihat pentingnya kehadiran pas**an keamanan seperti BKR, Pemerintah Indonesia dengan Maklumat No.2/x tanggal 5 Oktober 1945 menyatakan secara resmi membentuk kekuatan bersenjata yang diberi nama Tentara Keamanan Nasional (TKR) bagian darat dan laut. Dari BKR/TKR inilah kemudian berkembang menjadi kekuatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Darat, Laut, dan Udara.

Sebagaimana anak-anak dari keturunan bangsawan, pada masa-masa sebelum kemerdekaan, A.Hamzah Tuppu mendapat kesempatan belajar di Kota Makassar. Bahkan pada tahun 1938 ia pernah bekerja sebagai Mantri di Kantor Pertanahan (Landrente) dalam masa pendudukan Belanda di Kota Makassar.

Tahun I941, A.Hamzah Tuppu bersama rekan-rekannya seperti Wahab Tarru, Andi Kanna, Karaeng Takalar Martua Bangsawang Dg Liwang mulai terlibat dalam pergerakan politik menentang pemerintahan kolonialis. Ia sampai ditangkap Belanda, dipenjarakan di Sengkang (Sekarang ibukota Kabupaten Wajo). Kemudian dipindahkan ke penjara Kamp Garut (Jawa Barat), dan baru dibebaskan tahun 1942.

Keluar dari penjara, dengan dukungan dari Adam Malik (mantan Wakil Presiden RI/alm), Chaerul Saleh dan Sukarni, Hamzah Tuppu kembali menggalang kekuatan pemuda-pemuda asal Sulawesi untuk terlibat dalam pergerakan membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia aktif dalam Djawa Hokokay dan PETA jurusan Angkatan Laut. Dengan pangkat sebagai Kolonel Pelaut (1945-1947), aktif dalam pembentukan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pertama di Surabaya. Dia juga memimpin KRU Barigade D-81 tahun 1947.

Dari perkawinan A.Hamzah Tuppu dengan Ny.Erna Doornik tahun 1945 di Jogya, dikaruniai 4 orang anak. Mantan Pemimpin Redaksi Majalah ‘Maega’ tahun 50-an di Surabaya ini meninggal dunia 30 Juni 1986 dan dimakamkan di TMP Kalibata Jakarta.

Disunting oleh Kala’birangta Institute
Foto Irsal Kasim.

05/12/2024

Dengan Mardigu WP – Saya berhasil masuk dalam daftar interaksi mingguan mereka dengan menjadi salah satu orang yang paling banyak berinteraksi! 🎉

10/07/2021

Catatan Belanda tentang POLONGBANGKENG (4)
(Sumber ADATRECHTBUNDELS SELEBES, 1929)

Pappa’ demikian wilayah ini dikenal tidak begitu penting saat ini karena hanya dihuni oleh 277 orang yang bersyarat sebagai wajib militer, wilayah ini diperintah oleh seorang pemimpin yang bergelar Karaeng, yang juga disebutkan sebagai wakil kepala distrik Polongbangkeng pada catatan resmi sebelumnya. Ia dipilih oleh masyarakat, kemudian diangkat oleh Gubernur Sulawesi. Karaeng Pappa dalam menjalankan administrasi wilayahnya, ia dibantu oleh seorang Punggawa dan seorang Suro yang diangkat dan diberhentikan olehnya tanpa campur tangan penduduk. Adapun wilayah yang dipimpinnya meliputi Kampung Pappa, Bontongape, Gusunga, Bilaija dan Taipa Tinggia.

Pappa’ sejak awal sebutannya memang demikian, awal mulanya dari Tau Badjeng, konon didirikan oleh seorang Tagang yang kharismatik putra dari Dampang Komara. Dia menggunakan gelar Kare dan mengakui dan tunduk terhadap otoritas Raja Gowa. Kemudian seorang putra dari Tagang bernama Daeng Mabella, diangkat oleh Raja Gowa sebagai Toemalompo di Polongbangkeng. Setelah kematiannya ia digantikan oleh putranya Daeng Manompo. Setelah Daeng Manompo turun dari kekuasaannya sebagai Tumalompo ri Polongbangkeng, tidak ada lagi yang menggantikannya (pada bagian lain disebutkan bahwa wilayah ini telah dikuasai oleh VOC dengan membentuk sistem pemerintahan baru yang disebut sebagai Karaeng Polongbangkeng).
Salah satu keturunannya berhasil membuat Pappa berpisah dari Polongbangkeng yang beberapa waktu kemudian diakui oleh Kompi O.1 sebagai Karaeng Pappa' yang diwariskan kepada keturunannya secara turun temurun.
Gaukang atau kalompoang Pappa’ terdiri dari bendera putih yang disebut "Kuwasaja", sebuah tombak yang disebut "Djaladjaka" dan sebuah poke pangka. Ada diantaranya yang oleh mantan Karaeng dijadikan sebagai hadiah dari Pappa’ kepada Gubernur (Selebes) di masa Kompeni.

Penyunting; Kala’birangta Institute




Gambar hanya penyejuk mata

10/07/2021

Catatan Belanda tentang POLONGBANGKENG (3)
(Sumber ADATRECHTBUNDELS SELEBES, 1929)

Sekarang akan muncul pertanyaan: bagaimana komposisi masyarakat Karaeng Polongbangkeng ketika kita (Pemerintah Hindia Belanda) menerimanya kembali dari Inggris pada tahun 1816 bersamaan dengan wilayah milik kita yang lain di Sulawesi? Wilayah Polongbangkeng terdiri dari beberapa gallarrang antara lain Malewang, Montjongkomba, Bontokadatto, Lassang dan Lantang dan dari kampoeng-kampoeng dengan kalompowang seperti Patalassang, Sompo, Bilatjadi, Pasoeleang, Salaka, Sabientang, Tamasongo, Sambila, Sajowang dan Ana-aoeng.

Malewang sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya diperintah oleh Batang Banoa pada masa pemerintahan Kerajaan Gowa, setelah Batang Banoa terakhir I Keboe daeng Mandjareki diangkat menjadi pemimpin atau Karaeng Polongbangkeng oleh Perusahaan Hindia Timur (VOC), maka diangkatlah seorang gallarrang sebagai pemimpin di Malewang. Dan yang dipilih adalah diantara kerabat terdekat dari Batang Banoa yang terakhir. Setelah Daeng Manompo digulingkan sebagai Toemalompo ri Polongbangkeng, kemudian salah seorang anggota keluarganya diangkat menjadi Gallarrang di Montjongkomba.

Kemudian Karaeng Loe Pangkalang pada masa pemerintahan Kerajaan Gowa digantikan oleh Gallarrang Bontokadatto, sebuah pemukiman yang muncul dari wilayah Pangkalang namun telah tumbuh dan bahkan melampauinya. Gallarang Bontokadatto yang diangkat adalah dari kerabat dekat Karaeng Loe Pangkalang).

Pada masa pemerintahan tersebut (masa Gowa), gelar Karaeng Loe Lassang juga diubah menjadi Galarang Lassang. Di antara pemukiman Lassang dan Montjongkomba, sebuah pemukiman baru muncul kemudian, yang mengambil nama Lantang dan yang pemimpin mereka juga menerima gelar Gallarrang dari Raja Gowa. Dalam perkembangannya Raja Gowa kemudian mengirimkan perintahnya kepada Gallarrang Lassang, Gallarrang Lantang, ke Batang Banua Malewang, dan ke Gallarrang Bontokadatto melalui Tumalompo Polongbangkeng. Dengan demikian secara bertahap Tumalompo Polongbangkeng memperoleh otoritas dan prestise dari para pemimpin wilayah tersebut sebagai tempat berkonsultasi hal-hal penting untuk menemukan solusi dari permasalahan dan kesulitan yang tidak dapat mereka putuskan. Begitupun sebaliknya, Tumalompo Polongbangkeng akan berkonsultasi dengan para pemimpin wilayah tersebut setiap kali dia tidak menemukan solusi dari beberapa permasalahan. Dengan demikian, federasi dari lima komunitas adat itu secara bertahap terbentuk, di mana Toemalompo Polongbangkeng dianggap sebagai ketuanya/pemimpinnya. Dan ketika kemudian dengan adanya penghapusan eksistensi Tumalompo Polongbangkeng dan dikuti dengan pembentukan Karaeng Polombangkeng, maka secara otomatis Karaeng Polongbangkeng menjadi kepala/pemimpin dari kesatuan wilayah-wilayah/federasi tersebut.

Kekuasaan Karaeng Polongbangkeng dibatasi oleh Dewan Hadat, anggota Dewan Hadat yang pertama/utama adalah Karaeng Polongbangkeng, kemudian Gallarrang Malewang, Gallarrang Montjongkomba, Gallarrang Bontokadatto, Gallarrang Lassang, dan Gallarrang Lantang. Untuk kepentingan bersama dan bila terjadi perselisihan di antara anggota federasi/wilayah-wilayah itu, maka akan ditangani sendiri oleh pihak-pihak yang bersangkutan yang berselisih, dan bila perselisihan itu harus mengambil keputusan yang melibatkan Dewan Hadat, maka Gallarrang Lassang dan Gallarrang Lantang secara bersama hanya memiliki satu suara, sedangkan tiga gallarrang lainnya yaitu Gallarang Malewang, Gallarang Montjongkomba dan Gallarrang Bontokadatto masing-masing memiliki satu suara. Itulah sebabnya mengapa hanya dikenal empat lompo bate (empat wilayah besar) dalam wilayah Polongbangkeng yaitu Gallarrang Malewang, Gallarrang Montjongkomba dan Gallarrang Bontokadatto, ditambah dengan gabungan Gallarrang Lassang dan Gallarrang Lantang. Ketika terjadi pergantian jabatan Karaeng Polongbangkeng, maka ke empat lompo bate ini berhak memilihkan penerus dari keturunan Gallarrang Malewang, Gallarrang Montjongkomba dan Gallarrang Bontokadatto. Namun kemudian karena seringnya terjadi perkawinan di antara mereka, maka akhirnya mereka menjadi satu keluarga/trah saja.

Dokumentasi Kala'birangta Institute




gambar hanya pemanis mata

10/07/2021

Catatan Belanda tentang POLONGBANGKENG (2)
(Sumber ADATRECHTBUNDELS SELEBES, 1929)

Dalam perjuangan membangun masa-masa awal Badjeng, Karaeng Loe ri Malewang di utara telah memberikan beberapa jasa kepada raja Gowa. Apalagi karena dia secara s**arela d. w. z tanpa perjuangan sebelumnya, ia tetap menjadi penguasa Malewang dan, seperti telah kita lihat di atas, juga bertanggung jawab atas administrasi wilayah yang pernah berada di bawah Karaeng Loe ri Badjeng. Namun, dia tidak diizinkan untuk mempertahankan gelar Karaeng Loe; selanjutnya dia dipanggil hanya “Batang Banowa ri Malewang.”

Dalam perang melawan Parigi dan Sapaja, lihat poin sebelumnya, dia membantu Raja Gowa dengan pas**an pembantu, dan bertempur dengan gagah berani sehingga raja Gowa dengan rasa terima kasih menghadiahkannya gaukang Parigi. Gaoekang itu, hiasan itu, disebut Lasikapa, dan tidak lain adalah sikapa (buah giling liar) dengan bentuk khusus; ini termasuk panji, kemudian juga diberi nama Lasikapa, yang telah hilang sejak gaoekang yang sebenarnya, dianggap sebagai hiasan utama pemimpin atau Karaeng Polombangkeng. Yang pertama menyandang gelar ini adalah I Keboe daeng Mandjareki, cicit dari Karaeng Loe Malewang, yang telah diangkat oleh Raja Gowa ke Batang Banua dari lanskap kecil itu. Keboe daeng Mandjareki ini adalah Batang Banua dari Malewang ketika dia dikirim ke Jawa bersama Daeng Manompo, putra dan penerus Toemalompo ri Polongbangkeng Daeng Mabella, untuk membantu Kompeni India Timur dengan pas**an pembantu dalam pertempuran melawan melawan orang Jawa. Daeng Manompo kemudian kembali ke Sulawesi tanpa izin Kompeni.

Di sisi lain, I Keboe daeng Mandjareki dan para pengikutnya dikatakan menonjol dalam pertempuran ini dan dialah yang pertama diangkat sebagai Karaeng atau penguasa Polombangkeng sebagai hadiah untuk ini. Pada saat yang sama, Daeng Manompo kehilangan martabat/jabatan sebagai Toemalompo Polombangkeng dan martabat/jabatan ini dihapuskan. Ini terjadi setelah tahun 1667, karena baru pada tahun itulah Polongbangkeng dan daerah lainnya seperti wilayah Karaeng Galesong ditaklukkan oleh pas**an Kompeni bersamaan.
Perusahaan Hindia Timur maupun Pemerintah Hindia Belanda tidak menikmati kepemilikan/penaklukan atas Polongbangkeng hingga setelah tahun 1816. Berulang kali mereka memberontak melawan otoritas yang sah; seperti pada tahun 1736, Polongbangkeng berpihak kepada pemberontakan/gerakan Karaeng Bontolangkasa (I Mappasempa Daeng Mamaro) terhadap Kerajaan Gowa dan VOC, kemudian pada tahun 1745, kemudian pada tahun 1828, dan pada tahun 1859, yang disebutkan hanya pemberontakan yang besar-besar. Sejumlah besar pemimpin/karaeng berturut-turut harus diberhentikan dari jabatannya karena melalaikan tugas, atau karena bandel, atau karena alasan tidak terhormat lainnya karena memberontak. Karaeng Polongbangkeng terakhir, Tikolla daeng Malleo, diasingkan ke Kutaradja pada tahun 1916 karena ikut serta secara rahasia dalam gerakan perampokan/pemberontakan, yang pada tahun sebelumnya telah merusak divisi Makassar dan Sunggoeminasa, demi ketentraman dan ketertiban umum di Pemerintahan Sulawesi.

Pustaka Kala'birangta Institute




gambar hanya pemanis mataI

10/07/2021

Catatan Belanda tentang POLONGBANGKENG (1)
(Sumber ADATRECHTBUNDELS SELEBES, 1929)

Wilayah distrik Polongbangkeng yang sekarang pada zaman dahulu ditempati oleh sejumlah masyarakat adat yang berdiri sendiri, yang 4 di antaranya kemudian dipimpin oleh Karaeng loe yaitu Bajeng, Malewang, Pangkalan dan Lassang. Di antara mereka, Bajeng adalah yang paling kuat sehingga pemimpinnya bergelar Karaeng Loe ri Bajeng. Luas wilayahnya meliputi wilayah gallarrang Montjongkomba sekarang di wilayah selatan distrik Polongbangkeng, wilayah distrik Pappa sekarang, wilayah gallarrang Bontokadatto dan Malewang inilah yang membentuk kesatuan wilayah Karaeng Loe Bajeng, yang ibukotanya juga berada di Bajeng, terletak di dekat kampung Biringbalang sekarang di wilayah gallarrang Montjongkomba.

Pada awal abad ke enambelas, berbagai upaya dilakukan oleh Raja Gowa Karaeng Tuma’parisika Kallongna untuk membuat Karaeng Loe ri Bajeng mengakui supremasinya namun selalu gagal. Beberapa kali perang terjadi, namun selalu berakhir dengan kekalahan Gowa. Hal ini sebagiannya disebabkan oleh keberanian para Jenderal Bajeng "Tanrassang Bodo Bodo" dan "Bangkasi Tjadi-Tjadi". Disamping itu, juga disebabkan oleh keberadaan gaukang atau ornamen dari Karaeng Loe ri Bajeng yang terdiri dari tombak (menurut orang lain peniup atau sumpitan) yang disebut I Boe’le, dan bendera disebut Djole-djoleja. Keduanya konon tidak dibuat oleh tangan manusia, tetapi turun dari surga.
Orang-orang Bajeng akan memperoleh keberanian dan kecakapan serta kebahagiaan dalam menghadapi pertempuran yang disebabkan oleh kepemilikan benda-benda ini. Hal inilah yang membuat Raja Gowa keheranan dan berusaha untuk mendapatkan ornamen/gaukang ini, atau setidaknya salah satu yang paling penting dari keduanya, yaitu tombak I Boe’le. Dia kemudian membujuk Karaeng Loe ri Galesong, yang mana telah menikah dengan putri dari Karaeng Loe ri Badjeng, untuk dapat beralih ke tangannya. Dan setelah itu Raja Gowa kembali menyatakan perang terhadap Raja Badjeng. Kali ini dia berhasil. Ibukota Badjeng diambil oleh pas**an Gowa dan dibakar habis. Rumah/istana Karaeng Loe ri Bajeng dan gudang, tempat raja menyimpan persediaannya, juga tak luput dari amukan/mangsa api. Timbal (logam) yang mencair karena terbakar kemudian menimbulkan luka parah pada kaki orang-orang Badjeng yang berlarian dan bergegas membantu menghalau pas**an Gowa. Karena itulah mereka disebut "Tu Polongbangkeng" (orang-orang yang menyerah dengan kaki patah) oleh pas**an Gowa yang memenangkan perang ini. Setelah itu daerah yang didiami mereka kemudian disebut Polongbangkeng. Pas**an Gowa gagal menemukan keberadaan Karaeng Loe. Di tengah sengitnya pertempuran, dia tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Banyak dari rakyatnya ditawan dalam perang ini dan dipindahkan ke wilayah Gowa, di mana mereka akan menetap di Limboeng, Painmate Ballo dan Mata-allo.

Karaeng Loe ri Malewang untuk sementara ditugasi oleh Raja Gowa mengurus administrasi wilayah yang berada di bawah Karaeng Loe Badjeng. Dia mengumpulkan semua yang tersisa dari bekas penduduk Badjeng dan memprakarsai pendirian kampung-kampung baru. Kemudian, atas perintah Raja Gowa, tawanan perang yang dibuat oleh gubernur itu dipindahkan ke Badjeng dalam perang yang dilancarkan melawan Parigi dan Sapaja, yang berakhir dengan penaklukan kawasan wilayah ini.
Percampuran yang akrab antara tawanan perang itu dan keturunan mereka dengan penduduk Badjeng yang tersisa berangsur-angsur terjadi. Sebagian besar menjadi pop**asi/penduduk wilayah gallarang Montjongkomba saat ini, yang perbatasannya kira-kira sama dengan wilayah bekas Toemalompo Polong bangkeng, berasal dari daerah ini. Yang pertama menyandang gelar ini adalah Daeng Mabella, putra dari Kare/Karaeng Pappa. Oleh Raja Gowa ia dipercayakan untuk mengelola masa-masa awal tumbuhnya Badjeng, yang telah diubah namanya menjadi Polongbangkeng.




gambar hanya lips

01/03/2021

Jejak Lengkese, 1929

Komunitas adat ini dulunya merupakan bagian dari wilayah kerajaan tua Kalimporo. Bersama dengan negeri-negeri Turatea (Laikang, Bangkala dan Binamu) dan Lakatong berada di bawah kekuasaan Gowa setelah Kalimporo melemah. Sebelum perjanjian Bongaya pada 1667, wilayah ini dikontrol oleh I Mammaliang Daeng Pole (putra dari Karaeng Tumailalang Matoaya Kerajaan Gowa, I Mallewai Daeng Ma’nassa) yang kemudian bergelar Karaengta Lengkese dan menetap di Lengkese serta mejadi ayah dari beberapa orang anak dari seorang istri yang tidak disebutkan namanya. Pada tahun 1664, I Mammaliang Daeng Pole Karaeng Lengkese menggantikan ayahnya sebagai Tumailalang Matowa di Kerajaan Gowa, namun beliau tetap berhubungan dengan Lengkese hingga tahun 1667 di mana tahun itu p**a wilayah-wilayah ini ditaklukkan oleh Kompeni Belanda bersama Lakatong, Takalara, Topejawa, Pappa, Galesong dan Polongbangkeng. Pada awal abad kedelapan belas, Lengkese dibawah penguasaan Karaeng Bontolangkasa (I Mannawari Sultan Abd Hadi) ketika Karaeng Bontolangkasa bertindak sebagai raja di Kerajaan Gowa. Pada tahun 1781, Lengkese diambil kembali oleh Kompeni dan sejak saat itulah selalu dipimpin oleh Gallarrang, adapun gallarrang yang pertama disebut bernama I Daeng Maccopa, seorang yang kaya. Pada tahun 1824 status Lengkese menjadi bagian dari Distrik Takalara bersama Lakatong yang merupakan bagian dari Divisi Distrik Selatan. Gallarrang Lengkese dibantu dalam pemerintahan oleh Jannang Bonto Ba’do, Jannang Timporongang dan Jannang Bontomanai. Para Jannang dalam mengkoordinir masyarakatnya dibantu oleh Suro yang diangkat dan diberhentikan oleh para Jannang. Dijelaskan p**a bahwa Lengkese tidak memiliki ornamen (regalia kalompoang) bahkan mereka tidak tahu, apakah benda-benda semacam itu pernah ada. (Diolah dari Adatrecht Bundels, Zuid Celebes Hal 324 - Gravenhage, Martinus Nijhoff 1929 oleh Kala’birangta Institute)

12/07/2020

Mengenal lebih dekat Karaeng Pattingalloang, Intelektual dari Kerajaan Gowa pada abad 17.

Karaeng Pattingalloang lahir pada tahun 1600 dan wafat pada tanggal 17 September 1654 di Kampung Bonto Biraeng. Menurut sumber lain, beliau wafat tanggal 15 September 1653. Beliau pernah menjadi Tumabbicara Butta Gowa yang pada saat itu antara Gowa dan Tallo menganut prinsip 1 rakyat 2 raja (se're ata rua karaeng).

I Mangadacina Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang, adalah salah satu raja cendekiawan di nusantara. Beliau menguasai banyak bahasa asing. Menggandrungi ilmu pengetahuan, yang di era itu melalui pelaut Eropa beliau memantau perkembangan teknologi di Eropa. Beliau juga memiliki visi pemerintahan dan politik luar negeri yang sangat baik.

Di eranya, kerajaan Makassar (Gowa-Tallo) mencapai zaman keemasan. Kerajaan Makassar menjadi kerajaan terkuat dinusantara dengan wilayah kekuasaan dan koordinasi yang luas. Di sisi ekonomi, dengan dijadikannya pelabuhan Makassar sebagai pusat perdagangan dan transit, maka Makassar berkembang menjadi kerajaan maritim yang sangat maju dizamannya.

Dalam Sejarah Sulawesi Selatan, dikenal nama Karaeng Pattingaloang, merupakan Karaeng Pabbicara Butta (Mangkubumi) Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Raja Gowa XV, Sultan Muhammad Said. Karaeng Pattingaloang merupakan satu contoh bangsawan yang modernis, menguasai Politik dan Hukum Tata Negara, mampu berkomunikasi dalam berbagai bahasa asing (Belanda, Inggris, Spanyol, Portugis, Arab dan Latin) di usianya yang masih sangat belia, 18 tahun. Ruangan kerjanya berupa perpustakaan pribadi dengan ribuan buku yang berasal dari Eropa Barat pada Abad XVII.

Karaeng Pattingalloang adalah seorang cendikiawan dan diplomat asal Makassar pada abad ke-17. Ia menguasai banyak bahasa asing diantaranya adalah bahasa Latin, Yunani, Italia, Perancis, Belanda, Portugis, Denmark, Arab, dan beberapa bahasa lainnya.

Karaeng Pattingalloang bernama lengkap I Mangadacinna Daeng Sitaba Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang, salah seorang putera dari Raja Tallo VI I Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Matoaya diantara 29 orang bersaudara. Karaeng Pattingalloang adalah seorang Mahasarjana tanpa gelar dan tittle karena pada saat itu belum ada sekolah maka ia belajar secara otodidak. Namun dibalik itu karena kercerdasannya ia menjadi salah seorang ilmuan yang sangat disegani dan dianggap sebagai Galileo Of Macassar.

Meskipun namanya tidak setenar Sultan Hasanuddin, Sultan Alauddin, dan juga Syekh Yusuf, namun pada masa kejayaan Kerajaan Gowa-Tallo tidak terlepas dari peranan yang dimainkan oleh Karaeng Patingalloang yang juga menjabat sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa yang berkuasa 1639-1654. Karaeng Pattingalloang sukses menjadikan Kerajaan Gowa-Tallo menjadi salah satu kerajaan yang besar di Nusantara lewat sains yang ia kuasai secara otomatis membawa Makassar tercatat sebagai kota/bandar terbesar sebagai pusat ibu kota saat itu, telah berkembang menjadi bandar niaga yang amat ramai di kunjungi, baik oleh pedagang-pedagang kerajaan lain di Nusantara maupun oleh bangsa-bangsa asing. Dan malahan dianggap Malaka kedua sesudah Portugis menduduki Malaka (1511).

Atas jasanya, Gowa mengalami puncak kejayaan dan mampu menjalin hubungan persahabatan dengan Raja Inggris, Raja Castilia di Spanyol, M***i Besar Saudi Arabia, Raja Portugis, Gubernur Spanyol di Manila, Raja Muda Portugis di Goa (India) dan Merchante di Masulipatan (India). Sebagaimana Ayahnya, Karaeng Matoaya, Karaeng Pattingaloang juga seorang ahli ibadah, dapat membaca kitab gundul dan menerangkan tafsirnya. Karaeng Pattingaloang adalah salah seorang putera dari Karaeng Matoaya dari ibunya bernama I Wara, Salah seorang saudara kandungnya adalah Sultan Abdul Gaffar, yang gugur dalam perjalanan setelah menaklukkan Timor dalam tahun 1641.
Kalau Karaeng Matoaya semasa menjabat Mangkubumi (1593 – 1636) dianggap telah meletakkan dasar perkembangan Kota Makassar sebagai Bandar internasional, maka puteranya Karaeng Pattingaloang mengantarkan Gowa ke puncak kejayaan sebagai kerajaan terkuat dan bandar niaga terbesar pada zamannya baik di nusantara maupun di luar negeri. Oleh karena mahir dalam beberapa bahasa Eropa, maka dia tampil sebagai tokoh pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan pada zamannya. Bahkan mungkin sampai kini belum ada yang dapat menandinginya dalam penguasaan bahasa asing.

Pada tahun 1646, Alexander Rhodes seorang misionaris Katholik pernah menulis tentang Karaeng Pattingalloang, antara lain sebagai berikut: “Karaeng Pattingalloang adalah orang yang menguasai semua rahasia ilmu barat, sejarah kerajaan-kerajaan Eropa dipelajarinya, tiap hari dan tiap malam ia membaca buku-buku ilmu pengetahuan Barat. Mendengarkan ia berbahasa Portugis tanpa melihat orangnya, maka orang akan menyangka, bahwa orang yang bercerita itu adalah orang Portugis totok dari Lisabon”

“…….The high governor of the whole kingdom…….is called Carim Pattengaloa, whom I found exceedingly wise and sensible……..a very honest man. He knew all our mystery very well, had read with curiosity all the cronicles of our European kings, He always had books of our is hand, especially those treating with mathematics, in which he was quite well versus. Indeed he had such at it day and night…..To hear him speak without seeing him one would take him for a native Portuguese for he spoke the language as fluently as people from Lisbon it self………”.

Sedang dalam catatan Fride Rhodes disebutkan kalau Karaeng Pattingaloang sangat menggilai inovasi teknik Eropa dan merupakan orang Asia Tenggara pertama yang menyadari pentingnya Matematika untuk Ilmu Terapan. Di ruang kerjanya terdapat globe, peta dunia dan atlas dengan deskripsi dalam Bahasa Spanyol, Portuigis dan Latin. Reid mengatakan p**a bahwa Di istana Makassar pada Abad XVII terdapat semangat yang besar untuk memahami dan meniru peta pelayaran Eropa dan barangkali kutipan Makassar itulah yang memberikan inspirasi tradisi peta pelayaran bangsa Bugis dan bangsa-bangsa lainnya pada periode setelahnya.

Karaeng Pattingaloang juga menyukai hadiah orang – orang asing, mulai berupa kuda, antelope, gajah sampai senjata api, dan sebagainya. Pada globe yang terbuat dari tembaga, yang dihadiahkan oleh VOC kepada Karaeng Pattingaloang, penyair terkenal Belanda, Jost van den Vondel pada masa itu, telah menaruh kalimat pujian kepada beliau sebagai seorang terpelajar dan seluruh dunia terlalu kecillah baginya. Pada tahun 1652 sebuah kapal Inggris mengantarkan teleskop Galilean Prosphective Glass ciptaan Galileo kepada Raja Gowa Sultan Malikuissaid, yang dipesan dan dibeli oleh Sultan Alauddin sebelumnya, tahun 1635. Ini membuktikan bahwa Kerajaan Makassar pada masa itu telah ikut berkecimpung dalam semangat Renaissance Sains Barat, dan mempengaruhi budaya Makassar masa itu. hal ini juga merupakan suatu penanda bahwa Kerajaan Gowa-Tallo di masa puncak kejayaannya adalah merupakan imperium Kesultanan Islam di belahan timur nusantara.

Dan konon katanya pernah didirikan sebuah Universitas Pattingalloang pada saat itu.

Karaeng Patingalloang adalah sosok cendikiawan yang dimiliki oleh Kerajaan Gowa-Tallo yang beretnik Makassar ketika itu. Karena itu pedulinya terhadap ilmu pengetahuan, sehingga seorang penyair berkebangsaan Belanda yang bersama Joost van den Vondel, sangat memuji kecendikiawannya dan membahasakannya dalam sebuah syair sebagai berikut:

“Wiens aldoor snuffelende brein Een gansche werelt valt te klein”
“Orang yang pikirannya selalu dan terus menerus mencari sehingga seluruh dunia rasanya terlalu sempit baginya”.

Karaeng Pattingalloang pada 1644 pernah meminta dikirimkan dua bola dunia terbuat dari kayu atau tembaga yang kelilingnya 157 hingga 160 inci, sebuah peta dunia yang besar dengan keterangan dalam bahasa Spanyol, Portugis atau Latin, sebuah atlas yang melukiskan seluruh dunia dengan peta-peta yang keterangannya ditulis juga dalam bahasa Latin, Spanyol atau Portugis, dua buah teropong berkualitas terbaik serta beberapa alat peraga lainnya.

Pada tanggal 15 November 1650, bola dunia yang dibuat oleh Blaeu baru tiba di Batavia dan dikirimkan ke Makassar pada 13 Februari tahun berikutnya.
Karaeng Pattingalloang terkenal karena ketinggian intelektualitasnya. Pada saat itu ia banyak membaca buku-buku ilmu pengetahuan terbitan Eropa. Minatnya pada ilmu pengetahuan cukup tinggi. Suatu hal yang bahkan jarang ditemukan pada generasi muda kita saat ini. Mengenai nasib globe itu selanjutnya tak ada yang tahu. Pada waktu terjadi perang dengan Belanda, globe itu turut lenyap. Tak jelas nasibnya.

Nama Pattingalloang sendiri lumayan begitu tenar hingga seorang penyair terkenal di Belanda, Joost van Vondel sengaja menulis lirik khusus untuknya.
“Dien Aardkloot zend’t Oostindisch huis,’
Den Grooten Patangoule t’huis,
Weins aldoossnuffelende brein,
Een gansche wereld valt te klein.”

(Parlemen Hindia Timur mengirim bola dunia pada Pattingaloang agung, yang benaknya selalu dipenuhi rasa ingin tahu, mendapatkan seluruh dunia ini terlalu kecil)

Bukan hanya buku-buku yang gemar dikumpulkannya, tetapi juga pelbagai macam benda-benda yang penting untuk ilmu pengetahuan seperti globe (bola dunia), peta dunia dengan deskripsi dalam bahasa Spanyol, Portugis dan bahasa Latin, buku ilmu bumi, atlas. Karaeng Pattingalloang juga menyukai hadiah orang-orang asing mulai yang berupa kuda, antelope, gajah sampai senjata api, dan sebagainya.

Pada globe yang terbuat dari tembaga, yang dihadiahkan oleh VOC kepada Karaeng Pattingalloang, penyair terkenal Belanda Jost Van Den Vondel pada masa itu, telah menaruh kalimat pujian bahwa beliau adalah “seorang yang otaknya selalu mencari-cari dan seluruh dunia terlalu kecil baginya”. Pada tahun 1652 sebuah perahu Inggris menyerahkan teleskop “Galilean Prospechtive Glass” ciptaan Galilea kepada Raja Gowa Sultan Malikussaid, yang dipesan dan dibeli oleh Raja Sultan Alauddin sebelumnya, tahun 1653.

Tidak sampai disitu dalam hal politik Karaeng Pattingalloang pernah bertutur seperti yang tercatat didalam Lontara Pa’pasanna Gowa, terdapat beberapa pesan Karaeng Pattingalloang yang walaupun usianya sudah mencapai ratusan tahun tetapi masih cocok diterapkan atau juga masih berlaku hingga saat ini.

Diantaranya adalah pesan mengenai “lima sebab hancurnya sebuah negeri ” yang terkenal itu, atau dalam bahasa Makassar “Lima Pammangjenganna Matena Butta Lompoa” yaitu antara lain:
1- Punna tenamo naero nipakainga karaeng mangguka (Jika raja yang memerintah tidak mau lagi dinasihati).
2- Punna tenamo tnmangngaseng ri lalang parasangnga (Jika tidak ada lagi kaum cerdik cendikia di dalam negeri).
3- Punna tenamo gan lompo ri lalang parasanganga (Jika sudah terlampau banyak kasus di dalam negeri).
4- Punna angngallengasemmi soso pab-bicaraya (Jika sudah banyak hakim dan pejabat kerajaan s**a makan sogok).
5- Punna tenamo nakamaseyangi atanna mangguka (Jika raja yang memerintah tidak lagi menyayangi rakyatnya).

Dapat dipahami bahwa, jika penguasa tak mau lagi dinasehati maka penguasa tersebut telah berbuat zalim yang melampaui batas. Otomatis hal tersebut akan memicu perlawanan masyarakat maupun perangkat negara dalam bentuk pemberontakan.

Adapun ketiadaan cendekiawan dalam sebuah negara menyebabkan kurangnya gagasan-gagasan visioner dalam pembangunan negara. Akibatnya, sebuah perkembangan negara akan stagnan dan akhirnya semakin lama semakin melemah.

Kejadian-kejadian besar dalam sebuah negara, misalnya wabah penyakit atau bencana alam, dapat mengurangi pop**asi penduduk secara drastis. Jika hal itu berlangsung terus menerus maka perekonomian negara akan merosot dan akhirnya jatuh.

Sementara, apabila hakim/pejabat negara menerima sogokan, menyebabkan keputusannya tidak obyektif. Sehingga melahirkan ketidakadilan pada masyarakat yang pada gilirannya menyebabkan ketidakpuasan dan pemberontakan.

Jika penguasa tak lagi menyayangi rakyatnya, maka penguasa akan menindas rakyatnya. Maka rakyat punya dua pilihan yaitu melawan atau meninggalkan daerahnya. Jika rakyat melawan, terjadi pemberontakan yang menyebabkan ketidakstabilan pengelolaan negara. Jika migrasi penduduk dalam jumlah besar terjadi sehingga pop**asi merosot drastis, maka roda pemerintahan tidak berjalan dengan baik.

Pesan Karaeng Pattingalloang beberapa ratus tahun lalu, masih relevan untuk dijadikan pelajaran untuk generasi kita saat ini. Demi upaya penguatan kebangsaan.

Juga pesan-pesan Karaeng Pattingalloang lainnya seperti halnya pesan mengenai KATOJENGANG : “NIKANAYA KATOJENGANG SANGRAPANGI BULO SIPAPPA, NIONJOKI POKO’NA AMMUMBAI CAPPA’NA, NIONJOKI CAPPA’NA GIOKI POKO’NA”. (Suatu kebenaran ibarat satu batang bambu, bila diinjak pangkalnya muncul pucuknya, demikian halnya bila diinjak pucuknya akan muncul pangkalnya). Sosok Karaeng Pattingalloang saat sekarang sudah tidak dapat ditemui lagi di republik ini.

Disadur dari berbagai sumber.

Want your school to be the top-listed School/college in Makassar?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Website

Address


Sultan Residence Jalan Sultan Alauddin II D/19
Makassar
90233