TPQ Hijratul Qadri

TPQ Hijratul Qadri

Share

TPQ Hijratul Qadri

Unit 231 LPPTKA BKPRMI Makassar / Unit 047 LP3Q Wahdah Islamiyah Makassar

Photos from TPQ Hijratul Qadri's post 17/11/2015

Beberapa kegiatan PENSIL I (Pentas Seni Islami) TPQ Hijratul Qadri 👬👭⛺⚽🏆🎉

Mobile uploads 09/04/2015

Alhamdulillah, telah sukses kegiatan berolahraga untuk Tpq Hq | semoga Allah mnjadikan kegiatan tersebut mnjadi suatu langkah untuk kelancaran misi-misi lainnya. Lets say amiin together :)

Photos 06/04/2015

Suami Anda Pendiam, Ummi?

Wajar mungkin jika suami jadi malas bicara jika berbicara dengan isterinya tidak mendapat respon yang baik atau tidak nyambung sesuai harapannya.

Berdasarkan penelitian, laki-laki dengan wanita memang berbeda dalam pola pikir maupun penyelesaian masalah. Perempuan cenderung lebih s**a bicara jika sedang ada masalah, sedangkan laki-laki cenderung memilih sikap diam untuk memikirkan sendiri jalan keluar masalahnya. Jadi jika suami ibu lebih banyak diam ketika bermasalah memang karakter umum yang terdapat pada laki-laki.

Keadaan yang memengaruhi suami menjadi pendiam diantaranya karena ketidaktahuannya atas apa yang rasakan selama ini atas dirinya bisa juga diartikan diam memang pendiam atau diam disebabkan malu.

Namun sebagian wanita berpendapat bahwa lelaki pendiam itu lebih berbahaya. Psikologinya, lelaki pendiam lebih memendam rasa, justeru s**ar difahami berbanding lelaki bising selalunya meluahkan rasa dan ini memberikan kelegaan.

Ada cara untuk mendapatkan respon yang baik dari pasangan yang dingin. Di antaranya:

Anda perlu belajar mencintai hobi pasangan anda,dengan menceritakan hal memancing pasti suami akan bersemangat menceritakan kegilaannya itu. Jadikan diri anda teman yang hangat untuk berkongsi kegembiraan. Tentu komunikasi akan berjalan segar.
Jadilah pendengar yang bijak.

Suami pantang dinasihati secara terbuka. Kadang-kadang dia hanya mau isterinya mendengar kata hatinya tapi jangan sesekali mengarahkan atau mengawal begini dan begitu. Kalau Anda telah menjadi pendengar yang baik, suami akan merasa tenang jika dapat mencurhatkan permasalahannya kepada Anda. Tapi jika Anda terlalu memaksanya untuk mengikut nasihat Anda, apatah lagi dengan memandang rendah usahanya, sebenarnya Anda telah memutuskan hubungan komunikasi secara paksa.

Manfaatkan waktu sebaik mungkin, untuk bersenda gurau. Jangan jadikan anak sebagai alasan Anda dan suami tidak bisa bermesraan. Suami juga punya rasa cemburu kepada anaknya. Kalau isteri asyik mengurus anak saja, pasti suami bosan. Suami juga mau dibelai, diusik dan dimanja. Sebaiknya, setiap hari Anda mesti meluangkan waktu duduk bersamanya atau sekadar menemani membaca. Kalau bisa, buat aktivitas di luar rumah. Jangan asyik duduk terperangkap dalam rumah mendengar kebisingan anak-anak.

Sediakan waktu untuk suami kerana dia ingin bergembira bersama Anda. Dan sebaiknya tidak menuntutnya berlebihan dan kedepankan juga pengertian dan toleransi, karena meski di satu sisi ada karakter suami yang tidak dis**ai tentu banyak juga hal positifnya juga.

SELENGKAPNYA: https://www.islampos.com/suami-anda-pendiam-ummi-155913/

05/02/2015

# Memahami Kalimat Cinta Tertinggi #

Oleh Ustadz Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si.

Seperti telah disebutkan bahwa kita tak akan pernah mencapai manisnya kisah cinta dengan sang Rabb kecuali bila makna ‘La ilaha illallah’ benar-benar dipahami. Kalimat agung ini, jika saja diucapkan dengan penuh kesadaran dan perasaan, sesungguhnya adalah kalimat yang memiliki makna yang sangat dekat dengan hati kita. Kalimat ini adalah kalimat yang kutub putarannya pada segala kemahasempurnaan. Sebuah pengakuan hakiki akan segala kemahaagungan dan kemuliaan. Ia adalah sebuah ungkapan hati yang tunduk sempurna pada Allah.

Pernahkan kita mencoba memahaminya?

Tidak terhitung berapa banyak kita telah mengucapkan kalimat ini. Tapi di usia kita sekarang ini, pernahkah kita sekali saja menyempatkan diri untuk lebih dalam memasuki makna ‘laa ilaha illallah’ jauh lebih dalam? Mungkin tidak pernah. Paling jauh kita akan mengatakan, “Iya, saya pernah mengetahui artinya. Tiada Tuhan selain Allah kan?”. Dan sudah, hanya sampai di situ. Sehingga wajar saja bila keindahan cinta antara sang makhluk dengan Khaliknya tak kunjung terwujud.

Bila kita telah memahami bahwa pangkal utama hilangnya keindahan itu adalah bermula dari ketidakmengertian kita akan kandungan makna kalimat agung itu, maka sekarang marilah kita mencoba menelusuri secara singkat apa sesungguhnya yang tersembunyi di balik ‘La ilaha illallah’ itu.

Jika kita memperhatikan secara sekilas saja, maka akan kita temukan dua kata penting dalam kalimat ini. Dua kata yang merupakan ini perputaran semua keindahan Islam ini. Dua kata itu adalah Allah dan Ilah. Kata Ilah bila ditelusuri secara bahasa adalah sebuah kata yang bersifat qabliyah-wijdaniyah, artinya sebuah kata yang memiliki tautan dan kaitan yang sangat kuat dengan hati. Ia adalah kata yang menunjukkan keadaan-keadaan hati seperti cinta dan benci, gembira dan sedih, kerinduan, pengharapan, dan seterusnya. Dalam ungkapan bahasa Arab, bila dikatakan:
أَلِهَ الفَصِيْلُ ___ يَأْلَهُ

Makna itu berarti: anak unta itu meratap dan menangisi ibunya karena rindu. Kata Al-fashiil maknanya adalah seekor anak unta yang baru saja disapih oleh ibunya lalu ia dikurung dalam sebuah kandang dan ibunya meninggalkannya untuk pergi ke padang penggembalaan. Setelah lama menunggu, anak unta itu menangis karenanya. Maka dalam kasus ini, secara bahasa, sang ibu adalah ilah si anak unta itu.

Intinya bahwa Ilah adalah apa yang selalu dirindukan oleh hati, yang selalu membawa jiwa sampai pada tingkatan ketundukan dan kepatuhan pada yang dirindu. Itulah sebabnya ada yang mengatakan kata ini berakar dari al-Walah. Anda tahu apa itu al-Walah? Biarkan Ibn Mandzhur rahimahullah (penulis Lisan al ‘Arab) menjelaskannya: “Kata al-Walah itu maknanya adalah sebuah ‘kegilaan’ yang muncul disebabkan kecintaan yang sangat kuat atau kesedihan yang begitu mendalam.” (Lihat penjelasannya secara terperinci dalam Lisan al-‘Arab materi alif-lam-ha’ dan materi waw-lam-ha’. Lihat p**a al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an pada materi yang sama).

Dan kata Allah secara umum memiliki kaitan yang sangat erat dengan kata ilah tersebut. Hanya saja ia tidak lagi digunakan untuk selain Sang Pencipta dan Penguasa Alam semesta satu-satuNya. Ia adalah nama yang menunjukkan dzat ilahiyyah, sebuah nama yang mengumpulkan segala makna kesempurnaan dan kemuliaan mutlak tanpa ada yang menyaingi dan menandingi. Berbeda dengan kata ilah yang bisa digunakan dalam bentuk jamak –yang menunjukkan kenyataan (bukan membenarkan!) bahwa memang banyak ilah yang dicintai manusia selain Allah Ta’ala-, kata Allah tidak digunakan kecuali dalam bentuk tunggal (mufrad). Satu hal yang menunjukkan bahwa nama ini dan Pemiliknya hanya satu, yaitu Allah Ta’ala sendiri sang Rabbul ‘alamin.

Begitulah, akhirnya kita melihat bagaimana kedua kata ini, Ilah dan Allah ternyata memiliki kaitan yang sangat dalam dengan hati. Keduanya secara umum memberikan gambaran adanya hubungan kejiwaan yang dipenuhi dengan cinta. Sehingga ketika seorang mu’min mengatakan ‘La Ilaah illallah’, sesungguhnya (baca: seharusnya!) ia sedang mengungkapkan tautan hatinya pada sang Rabb. Bahwa tidak ada yang ia cintai selain-Nya, tidak ada yang ia takuti selain-Nya dan tidak ada yang berhak untuk ia sembah dan patuhi selain-Nya. Hatinya tidak dipenuhi dengan apapun selain kehendak yang murni pada Allah Ta’ala. Para ulama menyebutnya sebagai al-Ikhlas.

Jika demikian adanya, maka kalimat ini memang bukan kalimat mainan. Ini adalah kalimat yang agung. Dan tidak ada satupun yang mengetahui kejujuran sang pengucapnya, kecuali Allah Ta’ala kemudian sang pensyahadat itu sendiri. Sebab ini adalah tentang hati. Hati yang dipenuhi cinta, atau tidak sama sekali.

Ibn Qayyim al-Jauziyah rahimahullah mengatakan:

“Sesungguhnya cinta sang hamba pada Rabbnya itu berada di atas segala cinta apapun untuk diukur. Tidak dapat dibandingkan dengan kecintaan pada apapun. Dan inilah hakikat sesungguhnya dari ‘La ilaha illallah’.”

Hingga -masih dalam konteks yang sama- beliau menyatakan: “Jika saja masalah cinta ini dihapuskan (dari kalimat La ilaha illallah –pen) maka akan hilanglah semua derajat keimanan dan keihsanan. Akan terhentilah semua jalan-jalan menuju Allah, sebab (cinta itu) adalah ruh untuk setiap jalan, tangga dan amal (menuju Allah). Hubungan rasa cinta dengan amal adalah sama dengan hubungan keikhlasan dengannya. Bahkan cinta adalah hakikat keikhlasan yang sesungguhnya. Lebih dari itu, cinta Islam adalah Islam itu sendiri. Sebab Islam adalah penyerahan diri yang disertai ketundukan, kecintaan dan kepatuhan pada Allah.
Maka barang siapa yang tak memiliki rasa cinta (pada Allah-pen), maka ia tidak memiliki keislaman sedikit pun. Cinta ini adalah hakikat dari pernyataan Syahadat bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah. Karena “Ilah” adalah apa yang dipatuhi para hamba dengan rasa cinta dan rendah diri, dengan rasa takut dan harap, disertai sikap ta’zhim dan patuh…
Maka, -kesimp**annya- al Mahabbah (rasa cinta) itu adalah hakikat dari segalah penghambaan pada Allah.” (Lihat Madarij As Salikin 3/26).

Meluruskan “Cinta” pada Allah

Sampai di sini, mungkin sebagian dari kita lalu teringat akan sebuah ungkapan sebagian para tokoh sufi yang mengatakan: “Ya Allah, jika aku beribadah padaMu karena mengharapkan surgaMu, maka jauhkanlah aku darinya. Bila aku beribadah padaMu karena takut pada nerakaMu, maka masukkanlah aku ke dalamnya.” Untuk sebagian orang kalimat ini nampak begitu mulia. Beribadah tanpa mengharapkan balasan selain apa yang mereka sebut dengan cinta Allah. Mereka menganggap keikhlasan beribadah itu diukur dengan mengharap Surga atau tidak, takut pada neraka atau tidak. Jika Anda tidak mengharapkan apa-apa, maka itu adalah ikhlas. Entah apa yang mereka lakukan dengan ayat-ayat yang memerintahkan untuk memburu surga dan takut pada neraka… Entah apa yang mereka lakukan dengan do’a-do’a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meminta surga dan mohon perlindungan dari neraka.

Hakikat cinta pada Allah Azza Wa Jalla tidak akan pernah tegak tanpa dua sayap penghambaan, khauf (takut pada-Nya) dan raja’ (harap pada-Nya). Ayat-ayat Al-Qur’an dan pesan-pesan kenabian terlalu dipenuhi dengan penjelasan akan hal ini. Hanya orang bodoh atau berpura-pura bodoh yang tidak mengetahui ini.

Seorang pecinta yang hakiki pasti akan selalu takut mendapatkan siksa dari Yang dicintainya, di saat sama dimana hatinya dipenuhi harapan untuk mendapatkan karunia terbaik dari Yang dicintainya. Bila mahabbah pada Allah Ta’ala telah ditelanjangi dari khauf dan raja’, maka pengakuan cinta hanya menjelma menjadi sebuah kepalsuan. Allah menggambarkan tentang para manusia pilihan-Nya, para Nabi dan Rasul ‘alaihimu shalatu wa sallam:

“Sesungguhnya mereka bersegera menuju kebaikan-kebaikan, mereka berdoa pada Kami dengan penuh rasa harap dan takut, dan adalah mereka itu sangat khusyu’ pada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)

Dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasul penghulu seluruh manusia, telah menyatakan:

“Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan paling takwa pada Allah di antara kalian.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Akidah Cinta

Maka dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa akidah ‘La ilaha illallah’ adalah akidah yang ditegakkan di atas cinta. Ia bahkan menjadi ikatan kuat rasa cinta. Karena itulah ia memancarkan cahaya keindahan dan keagungan. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengharamkan neraka untuk orang-orang yang mengatakan “La ilaha illallah” karena mengharapkan wajah Allah” (Muttafaqun ‘alaihi), kita bertanya, apakah semudah itu?? Hanya dengan satu kalimat. Iya, semudah itu. Tapi ini adalah soal kemana hati kita terarah, terikat dan bergantung sepenuh-penuhnya. Ini adalah soal pautan-pautan cinta. Siapa yang mencintai Allah, niscaya Allah akan menunjukkan padanya jalan untuk menghamba dan taat pada-Nya.

Bukankah ini sebuah makna yang sangat indah dan agung? Ketika kita tidak lagi merasakan ini, maka disitulah titik awal persimpangan yang menyebabkan terjadinya penyimpangan dari kedalaman Ad-Din yang sesungguhnya. Dari jalan yang lurus, Ash Shiratal Mustaqim.[]

Rujukan:
“Jamaliyyah ad Din Fi Jamaliyyah at Tauhid” oleh DR. Farid al-Anshary,
“Ma’alim Asy Syakhsiyah al-Islamiyah” oleh DR. Umar al-Asyqar.

Sumber : Majalah Islamy, No. 2 tahun 1426 H

Photos 03/02/2015

- SUNNAH -

Photos 03/02/2015

7 Manfaat Do’a

Saudaraku … do’a itu memiliki banyak sekali fadhilah atau keutamaan. Berikut beberapa di antaranya:

Pertama: Do’a adalah ibadah dan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Do’a adalah ibadah.” (HR. Abu Daud no. 1479, At Tirmidzi no. 2969, Ibnu Majah no. 3828 dan Ahmad 4/267; dari An Nu’man bin Basyir)

Kedua: Do’a adalah sebab untuk mencegah bala’ bencana.

Ketiga: Do’a itu amat bermanfaat dengan izin Allah. Manfaat do’a ada dalam tiga keadaan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut,

« ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ « اللَّهُ أَكْثَرُ »

“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad 3/18, dari Abu Sa’id. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid)

Keempat: Do’a adalah sebab kuat dan semakin mendapatkan pertolongan menghadapi musuh.

Kelima: Do’a merupakan bukti benarnya iman dan pengenalan seseorang pada Allah baik dalam rububiyah, uluhiyah maupun nama dan sifat-Nya. Do’a seorang manusia kepada Rabbnya menunjukkan bahwa ia yakini Allah itu ada dan Allah itu Maha Ghoni (Maha Mencukupi), Maha Melihat, Maha Mulia, Maha Pengasih, Maha Mampu, Rabb yang berhak diibadahi semata tidak pada selainnya.

Keenam: Do’a menunjukkan bukti benarnya tawakkal seseorang kepada Allah Ta’ala. Karena seorang yang berdo’a ketika berdo’a, ia berarti meminta tolong pada Allah. Ia pun berarti menyerahkan urusannya kepada Allah semata tidak pada selain-Nya.

Ketujuh: Do’a adalah sebagai peredam murka Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang tidak meminta pada Allah, maka Allah akan murka padanya.” (HR. Tirmidzi no. 3373. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Semoga faedah ilmu ini memberikan kita motivasi untuk terus berdo’a dan banyak memohon pada Allah. Setiap do’a pasti bermanfaat. Setiap do’a pasti akan diberi yang terbaik oleh Allah menurut-Nya. Jadi jangan putus untuk terus memohon.

Semoga sajian singkat di malam ini bermanfaat.

Worth note during the journey in Riyadh with KSU’s student from mini book “Aktsar min 1000 Da’wah”, written by Kholid Al Husainan, page: 15-16.

Written at night, on 13 Dzulqo’dah 1431 H (22/10/2010), in KSU, Riyadh, KSA

By: Muhammad Abduh Tuasikal

www.rumaysho.com

Photos 03/02/2015

Doa adalah SENJATA org beriman, Jangan Lupakan kawan...

BACA! 10 Wasiat Rasulullah Kepada Fatimah Khas Untuk Wanita 13/12/2014

BACA! 10 Wasiat Rasulullah Kepada Fatimah Khas Untuk Wanita BACA! 10 Wasiat Rasulullah Kepada Fatimah Khas Untuk Wanita Add Comment Thursday, 11 December 2014 Fatimah merupakan salah seorang puteri Rasulullah yang amat di sayangi Rasulullah. 10 wasiat Rasulullah kepada puterinya Fatimah az-zahra juga khas untuk wanita di luar sana. 10 wasiat yang ditinggalka…

Photos 07/12/2014
Photos 06/12/2014

Mari bertaubat :)

Allah SWT sangat mencintai hambaNya yang bertaubat

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri."
(Qs Al-baqarah ayat : 222)

alhikmah
~mifk

Mobile uploads 06/12/2014

Tebar salam...

Photos 03/12/2014

DAHULUKAN ALLAH DIBANDING SYAHWAT

الامام القيم رحمه الله :
من أراد صفاء قلبه فليؤثر الله على شهوته

Siapa saja yang menginginkan kesucian hati maka hendaklah dia mendahulukan Allah di atas keinginan-keinginan syahwatnya.

-Imam Ibnul Qoyyim

Want your school to be the top-listed School/college in Makassar?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

https://twitter.com/MuhammadIqrana/, https://twitter.com/HijratulQadri

Address


Makassar
90234